14

the-edge-thumb
ANDREW

Hatiku selalu menang daripada pikiranku. Hati, meskipun nekat dan ingin bunuh diri dan masokis, selalu mendapat jalan. Pikiranku mungkin memberikan pilihan yang terbaik, tapi aku tak peduli apa yang pikiranku katakan kepadaku lagi. Saat ini, aku hanya ingin hidup di saat ini.

"Bangunlah, baby," kataku, sambil menepuk-nepuk pantat Camryn.

Dia tertidur dalam pelukanku lagi setelah kami bangun bersama-sama awal pagi ini. Kupikir mungkin terjadi juga padaku, tapi sejak semalam yang kupikirkan hanyalah dirinya dan apakah aku bisa tidur atau tidak, aku takkan pernah tahu.

Dia mengerang sebagai protes dan berguling menghadap wajahku, tubuhnya tertutup seprai putih yang kusut, rambut pirangnya berantakan, tapi masih seksi.

"Oh, ayolah, baby," katanya dan hatiku berdetak keras beberapa kali mendengar dia menyebut namaku dengan panggilan itu, "mari kita tidur sepanjang hari."

Aku mengenakan t-shirt dan celana pendekku dan duduk di tempat tidur di sampingnya, menaruh satu lengan di sisi tubuhnya.

Aku menunduk dan menempelkan bibirku di keningnya.

"Aku ingin melakukan semuanya denganmu," kataku, tersenyum begitu lebar sampai aku menyadari betapa canggung rasanya, tapi aku tak peduli. "Kita bisa pergi ke banyak tempat, melakukan apa pun ide yang muncul secara spontan."

Aku belum pernah sebahagia ini sebelumnya. Aku tak tahu jika kebahagiaan seperti ini memang ada.

Camryn tersenyum begitu manis ke arahku, mata birunya berkilauan masih dengan tatapan polos baru-saja-bangun. sepertinya dia sedang mempelajariku, mencoba memahamiku, tapi menikmati prosesnya.

Dia menjulurkan kedua lengannya.

"Aku khawatir kau harus menggendongku ke mana-mana," katanya.

Aku menyambut dan meraih tangannya dan dia bangkit untuk duduk tegak di tempat tidur.

"Yah, aku tak punya masalah dengan itu," Aku tertawa. "Aku benar-benar akan menggendongmu kemanapun—itu akan mendapatkan reaksi dari banyak orang, lalu kenapa—Tapi kenapa aku harus menggendongmu?"

Dia mencium hidungku.

"Karena kurasa aku tidak bisa berjalan."

Kenyataan ini mengubah senyumku menjadi seringai pahit.

Dia mulai bangkit dari tempat tidur, membiarkan kakinya jatuh ke sisi tempat tidur dan aku melihat ketidaknyamanan di wajahnya.

"Oh sial, baby, aku sangat menyesal." Aku memang sangat menyesal, tapi aku tidak bisa berhenti tersenyum.

Begitu juga dia, sepertinya.

"Aku tidak mengatakan ini untuk memuji ego seksualmu," katanya, "tapi aku belum pernah disetubuhi seperti ini sebelumnya."

Aku tertawa lepas, sambil melemparkan kepalaku ke belakang.

"Makian yang keluar dari mulutmu!" Kataku.

"Hei," dia menunjuk ke arahku, "ini semua salahmu. Kau telah mengubahku menjadi orang yang bermulut kotor, nymphomaniak mesum yang sepertinya akan melangkah dengan aneh selama satu atau dua hari." Dia menganggukkan kepalanya sekali untuk menggarisbawahi fakta-fakta ini.

Dengan hati-hati, aku mengangkat tubuhnya ke dalam pelukanku, mengangkat kedua kakinya dengan satu lengan bukannya mengangkangiku dalam 'kondisi' sekarang ini.

"Maaf sayang, tapi kau sudah bermulut kotor ketika aku bertemu denganmu," kataku, menyeringai ke arahnya dan Camryn menatapku dengan bibir atas yang cemberut. "Mesum? Mungkin saja. Tapi itu memang sudah ada di dalam dirimu, aku hanya membantu membebaskannya. nymphomaniak? Itu berarti kau ingin melakukannya sepanjang waktu, meskipun kau berjalan dengan aneh selama beberapa hari."

Matanya melebar dan makin lebar. "Tidak, aku tidak bisa diganggu dulu, setidaknya sampai besok pagi."

Aku mencium keningnya dan membawanya ke kamar mandi.

"Kedengarannya bagus," kataku, mengganti leluconnya dengan ekspresi lembut. "Lagipula aku tidak akan membiarkanmu. Hari ini, Camryn Bennett, kau akan dimanjakan. Dan jadwal pertamamu adalah mandi yang lama dan panas."

"Dengan gelembung?" Tanya dia dengan wajah cemberut dan pandangan seperti Bambi.

Aku tersenyum ke arahnya. "Ya, dengan gelembung."

Aku menghidupkan keran air mandi sementara ia duduk di konter tempat aku menurunkannya, sepenuhnya telanjang.

"Gelembung mungkin menjadi masalah, babe," kataku, meremas apa yang tersisa dari botol sampo dari botol berukuran sampel yang disediakan hotel.

"Kau tahu?" Katanya, mengayunkan kakinya dengan tangannya bersandar di tepi meja. "Aku hampir kehabisan semuanya—pasta gigiku kosong dan aku bisa menggunakan body wash atau yang lainnya." Dia meraba ke bawah dan menyentuh kaki telanjangnya. "Aku seperti memiliki sisik." Dia meringis.

Sambil tersenyum aku berkata, "Aku akan pergi ke toko." Membiarkan bak mandi terisi di belakangku aku berpaling kearahnya dan memeriksa barang-barang yang dia taruh di konter. Lalu aku kembali ke kamar dan kembali dengan pensil hotel kecil dan buku catatan seukuran telapak tangan. "Apa yang kau butuhkan?"

Sementara dia berpikir tentang hal itu aku menuliskan apa yang telah dia sebutkan.

"Pasta gigi, body wash—" Aku melihat ke arahnya, "Ini cuma sabun cair, kan?"

"Well, tidak juga," katanya dan aku mencoba untuk tidak memperhatikan payudaranya. "Ini bukan sabun cuci tangan, ini—well, kau akan tahu sendiri."

Aku menuliskan: bukan sabun tangan cair

Aku menatap kembali kearahnya. "OK, apa lagi yang bisa kau pikirkan?"

Dia mengerutkan bibir sambil merenung. "Sampo dan kondisioner, aku lebih memilih L'Oréal, botol merah muda, tapi sebenarnya itu tidak masalah, tapi bukan yang sampo ditambah konditioner—aku meninggalkan botol yang aku baru saja kubeli di motel terakhir. Oh! Iya, belikan juga aku sebotol kecil baby oil."

Aku mengangkat alis karena sangat tertarik. "Baby Oil? kau memikirkan sesuatu dalam otakmu? "

"Tidak!" Dia memukul pelan lenganku dengan punggung jarinya, tapi yang kuperhatikan hanyalah bagaimana payudaranya bergoyang-goyang saat dia melakukannya. "Jelas tidak! Aku hanya suka memakainya di kamar mandi."

Aku menuliskan: sebotol besar baby oil (untuk jaga-jaga).

"Dan mungkin beberapa makanan ringan dan air kemasan isi 6 atau non-lemon tea—sesuatu selain soda—dan, oh!" Dia menunjukkan jarinya ke atas. "Beberapa dendeng sapi!"

Aku tersenyum dan menuliskannya juga.

"Itu saja?"

"Ya, aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi."

"Baiklah," kataku, menarik ponselku dari saku kaki celana pendek kargoku, "telepon dan beritahu aku—Berapa nomormu?"

Dia tersenyum dan dengan senang hati memberitahuku sementara aku meneleponnya dari ponselku. Voice mail nya yang menyambut dan aku berkata: Hei, sayang, ini aku. Aku akan kembali beberapa saat, sekarang aku sedikit sibuk menatap gadis pirang yang luar biasa seksi duduk telanjang di atas konter.

Camryn menyeringai dan merona kemudian menarikku di antara kedua kakinya yang menggantung dan menciumku dengan keras.

"Oh sial! Airnya!" katanya, memperhatikan bak mandi yang hampir meluap.

Aku mematikan air dengan cepat.

Aku menaruh ponsel dan daftar belanjaanku di meja dan mengangkatnya ke dalam pelukanku.

"Andrew, aku tidak lumpuh." Tapi dia juga tidak menolakku.

Aku membantunya masuk ke dalam bak mandi dan dia bersandar merasakan kehangatan airnya, membiarkan rambutnya jatuh di sekitar bahunya dan ke dalam air.

"Aku akan kembali dalam beberapa menit," kataku saat aku pergi untuk meninggalkannya.

"Kau berjanji kali ini?"

Pertanyaan itu menghentikan langkahku. Aku berbalk menatap ke arahnya dan kali ini dia tidak bercanda. Ini membuatku merasa tidak enak bahwa ia bahkan harus bertanya, bukan karena menyinggungku, tapi karena aku yang telah memberikannya alasan untuk bertanya pada awalnya.

Aku menatapnya dengan serius.

"Ya, aku janji, sayang. Kau sepertinya terjebak denganku, kau tahu itu, kan?"

Dia tersenyum manis, meskipun senyumnya diselimuti dengan kenakalan. "Persetan segala hal yang menjerumuskanku."

Aku mengedipkan mata kearahnya dan pergi.

***

CAMRYN

Seks selalu mengubah segalanya. Ini seperti kau tinggal dalam gelembung di mana semuanya aman dan main-main dan terkadang selalu gampang diprediksi. Daya tarik terhadap orang yang tepat bisa bertahan selamanya ketika misteri keintiman tetap terjaga, tapi saat kau tidur dengan seseorang, aman, main-main dan gampang diprediksi sering menjadi kebalikannya. Akankah daya tariknya memudar sekarang? Akankah kita masih saling menginginkan satu sama lain sebanyak seperti sebelum kita berhubungan seks? Apakah salah satu dari kita diam-diam berpikir bahwa kita membuat kesalahan besar dan harus sudah meninggalkan urusan iru seperti seharusnya? Tidak. Ya. Dan tidak. Aku tahu ini karena aku merasakannya. Ini bukan karena kepercayaan diri yang berlebihan atau impian dari seorang wanita muda yang tak berpengalaman dengan masalah ketidakyakinan. Ini adalah fakta yang jelas: Andrew Parrish dan aku ditakdirkan bertemu di bus itu saat di Kansas.

Kebetulan hanya konfirmasi aman dari takdir.

Aku berendam di bak mandi untuk sementara waktu, namun memutuskan untuk keluar sebelum aku mulai keriput. Aku merasa nyeri di bawah sana, tapi aku sangat mampu untuk berjalan. Aku hanya berpikir sangat manis bagaimana dia merasa perlu untuk mengurusku.

Aku menyelipkan celana pendek katun abu-abu yang aku beli di jalan dan tank-top hitam. Aku merapikan tempat tidur dan membereskan kamar sebentar sebelum meraih ponselku untuk memeriksa sms: pesan macam-macam dari Natalie. Belum ada kabar dari ibuku. Aku selalu meninggalkan ponselku bergetar. Aku tidak tahan mendengar dering telepon. Tidak masalah jika aku bisa punya berbagai jenis nada dering yang aku inginkan, bagiku sebuah dering telepon seperti suara paku digoreskan ke papan tulis. Aku menuju ke jendela dan menyingkap tirai lebar-lebar untuk membiarkan sinar terang matahari membanjiri kamar dan aku bersandar di jendela, menatap ke bawah kota New Orleans. Aku tidak akan pernah melupakan tempat ini.

Aku berpikir tentang Andrew dan ayahnya sebentar, namun menyngkirkannya dari pikiranku. Aku akan memberi Andrew waktu beberapa hari lagi sebelum aku mencoba bicara dengannya tentang hal itu lagi. Dia akan terluka untuk sementara waktu, tapi aku tidak ingin dia secara tidak sengaja memanfaatkanku sebagai alasan. Pada akhirnya dia harus berurusan dengan masalah itu.

Aku meletakkan ponselku di dekat jendela dan melihat daftar laguku. Sudah lama sejak aku mendengarkan salah satu koleksiku, yang mengejutkan adalah, aku tidak terlalu merindukannya. Lagu rock klasik milik Andrew telah membuatku terbiasa, dia membuatku menyukainya.

Barton Hollow oleh The Civil Wars. Aku berhenti pada yang itu—lagu favoritku selama dua bulan terakhir—dan menyalakan speaker, membiarkan musik masuk ke dalam ruangan dengan gaya folky-country yang membuatku merasa bersalah meskipun aku menikmatinya. Aku bukanlah seorang gadis penggemar musik country, tapi band ini adalah pengecualian. Aku bernyanyi bersama dengan John dan Joy, membiarkan diriku santai karena aku sendirian di kamarku dan aku bernyanyi sekeras mungkin. Aku menari kecil sambil berdiri di depan jendela. Dan ketika suara solo dari Joy mulai terdengar, aku bernyanyi bersama dengannya seperti yang selalu kulakukan, mencoba untuk membuat suaraku yang tak terlatih terdengar seperti suara beludru miliknya. Aku tidak pernah bisa terdengar seperti dia, tapi ini membuatku merasa senang bernyanyi bersama.

Bibirku terkatup rapat dan tubuhku yang sedang menari langsung membeku ketika aku melihat Andrew bersandar pada dinding di samping pintu, mengawasiku. Sambil menyeringai, tentu saja.

Aku benar-benar meleleh karena wajahku yang merona.

Dia berjalan masuk ke kamar setelah aku melihatnya dan meletakkan dua kantong plastik di atas meja TV.

"Untuk seseorang yang oh-begitu-nyeri," dia mengolok-olok, lesung pipinya semakin dalam, "Kau terlihat yakin menggerakkan pinggul seksi itu."

Masih merona, aku mencoba untuk mengalihkan perhatian dari pertunjukan kecilku sesegera mungkin dengan berjalan menuju ke kantung belanja. "Well, kau seharusnya tidak menyelinap seperti itu saat denganku."

"Aku tidak menyelinap," katanya, "hanya sedang menikmatinya—kau benar-benar memiliki suara yang manis."

Aku lebih merona lagi, membelakanginya dan mengobrak-abrik salah satu kantung belanjaan.

"Terima kasih, baby, tapi kurasa kau agak bias." Aku melihat ke belakang cukup lama untuk menyeringai secara main-main kearahnya.

"Tidak, aku serius," katanya dan ia tampaknya serius, "Kau tidak seburuk yang kau pikirkan."

"Tidak buruk?" aku berputar, memegang botol besar baby oil. "Apa artinya tepatnya, bahwa kau pikir aku hanya terlalu buruk?" Aku mengejeknya dan memegang baby oil. "Aku bilang botol kecil."

"Yah, tokonya kehabisan stok botol kecil."

"Uh huh." Aku menyeringai lagi, meletakkan botol di meja TV.

"Well, tidak, kupikir kau tidak buruk sama sekali," katanya dan aku mendengar tempat tidur berderit saat ia duduk di tepinya.

Aku menatapnya melalui cermin di depanku.

"Well, kau pintar dalam memilih sampo dan kondisioner," kataku, mengeluarkan botolnya dan meletakkannya di sebelah Baby Oil. "Tapi body wash, tidak terlalu."

"Apa?" Dia terlihat benar-benar kecewa. "Kau bilang bukan sabun tangan cair. Itu jelas mengatakan body wash di bagian depan." Ia menunjukkan hal itu seolah-olah untuk membenarkan.

"Aku hanya bercanda," kataku, tersenyum lembut pada reaksinya. "Ini sempurna."

Dia tampak lega, membiarkan tangannya jatuh ke sisinya di tempat tidur.

"Kau harus melakukan pertunjukan. Setidaknya sekali. Hanya untuk melihat bagaimana rasanya."

Aku tidak suka momen lampu-menyala yang kelihatnya dia alami sekarang. Tidak sedikitpun.

"Ummm, ya...tidak." Aku menggeleng kerahnya melalui cermin. "Itu seperti makan serangga atau menjadi astronot selama sehari, yang mana tidak akan terjadi."

Aku merogoh tas dan mengeluarkan...oh tidak dia tidak...

"Kenapa tidak?" Tanyanya. "Ini akan menjadi pengalaman, sesuatu yang tidak pernah kau pikir akan lakukan, tapi setelah itu kau akan merasa gembira."

"Apa-apaan ini sebenarnya?" Aku bertanya sambil berbalik, memegang sebuah kotak Vagisil di antara jemariku.

Dia terlihat sangat tidak nyaman. "Ini...yah, kau tahu," ia mengernyit, "untuk...organ kewanitaan." Dia mengangguk gelisah pada 'organ kewanitaan'.

Mulutku menganga. "Kau pikir milikku bau? Pernahkah kau melihatku gatal-gatal." Aku berusaha untuk tidak tertawa.

Mata Andrew terbelalak. "Apa—Tidak! Aku hanya berpikir mungkin itu akan membantu mengurangi rasa nyeri." Aku belum pernah melihatnya begitu malu, dan terkejut pada saat bersamaan. "Hei, itu bukan hal yang nyaman berdiri di lorong khusus wanita membaca label dan menjadi satu-satunya pria." Dia mulai memberi isyarat dengan tangannya. "Aku membaca itu untuk masalah yang umum dan aku melemparkan di dalam keranjang."

Aku meletakkan Vagisil dan berjalan ke arahnya. "Well, barang itu tidak tepat membantu mengurangi rasa nyeri karena...," aku mengerutkan bibir, "...'gesekan berlebihan', tapi yang terpenting niatmu baik." Aku duduk di pangkuannya, mengangkangi pinggangnya dan menunduk untuk menciumnya.

Dia membungkus lengannya di punggungku.

"Jadi, kukira sekarang aman untuk menganggap kita tidak perlu kamar terpisah lagi," katanya, tersenyum ke arahku.

Dengan tanganku terkunci di belakang lehernya, aku merunduk dan menciumnya lagi. "Aku sudah pergi ke kamarmu untuk mengambil barang-barangmu saat kau pergi sampai aku sadar aku menjatuhkan kunci tambahanmu di lantai ketika aku bergegas keluar dari sana tadi malam."

Dia menjatuhkan tangannya yang besar ke bawah dan meremas pantatku, menarikku lebih dekat. Lalu ia menciumku di lekukan leherku dan berdiri, membawaku bersamanya.

"Aku akan mengambil barang-barangku sekarang," katanya, membiarkanku melorot dengan hati-hati keluar dari pelukannya. "Kupikir aku perlu beberapa hari untuk belajar menyanyikan lagu itu dan mempelajari liriknya—kau tampaknya sudah bisa."

Uh oh...

Aku menyipitkan mataku padanya dalam lirikan sinis. "Belajar itu untuk apa?"

Lesung pipinya menjadi lebih dalam lagi. "Seingatku, kau menyerahkan kebebasanmu setelah memenangkannya di permainan biliar."

Ekspresinya benar-benar jahat.

Aku menggeleng perlahan pada awalnya dan kemudian semakin keras setelah menyadari situasi ini mulai meresap ke dalam pikiranku.

"Kata-katamu adalah," ia mengangguk sekali, "dan aku mengutipnya: Aku tidak ingin kebebasan itu kecuali berurusan dengan makan serangga atau menggantung pantatku keluar jendela mobil—maaf, sayang, tapi kau harus belajar kapan harus menutup mulutmu."

"Tidak...Andrew," aku melangkah menjauh darinya, menyilangkan lenganku, "kau tidak bisa membuatku bernyanyi di depan orang banyak. Itu kejam."

"Untukmu sendiri atau penonton?"

Dia menyeringai.

Aku menginjak kakinya.

"Aku bercanda! Aku bercanda." Dia tertawa keras.

"Well, kau tidak bisa membuatku melakukannya."

Dia memiringkan kepala ke satu sisi, mata hijau bersinar dengan segala hal yang membuatnya tak bisa ditolak. "Tidak, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan sesuatu, tapi...," Oh, bagus, sekarang dia pura-pura cemberut. Tapi lebih buruk lagi, itu berhasil! "...Aku sangat, sangat, sangat berharap kau mau melakukannya." Dia menangkap sikuku dan menarikku lebih mendekat.

Aku menggeram padanya dan mengertakkan gigiku di belakang bibirku yang terkatup rapat.

Satu Mississippi. Dua Mississippi. Tiga Mississippi.

Aku mengambil napas dalam-dalam.

"Baiklah."

Wajahnya berseri.

"Tapi hanya sekali!" Aku menunjuk satu jari. "Dan kalau ada yang menertawakanku kau lebih baik tidak meninggalkanku di penjara!"

Dia meraih wajahku, memampatkan kedua pipiku dengan tangannya dan mencium bibirku yang mengerucut.

***

Penerjemah: +Ertika Sani
Editor: +portalnovel

Poskan Komentar

14 comments

OMG!!! Nie bener2 bab yang puaaanjaaaang dan sangat romantisssssss... :-*

Thankies Tikaaa, masYud.....PortNov...

:-*:-*:-*:-*:-*:-*:-*

yah keduluan d..*colek mbk riska ;s* makaci mbk tika..wah jd pengen rajin mandi he20x

mereka berubah jadi pasangan romantis... Thanks PN

Seneng deh, sm mereka yg udh romantis kyk gni...

Akhirnya andrew sama camryn udah kayak pasangan beneran.. tambah penasaran ke depnnya kayak apa..

Ehmm...semakin romantis aj nich...
Perhatian bgt beliin pencuci bagian wanita...hehee
Drew patut di contoh nich...
Thanks updatenya nextnya selalu di tunggu.

Ugh...Romaantisnyaaaaaaaa......

@riska nova chhiinnnn @ your emot smmoocchhhh nggak nguatii make me klepek-klepek :-* :-* :-* :-* :-* ketularan nih

Kasian neng Chamrin ya berjalan ampek tertatih-tatih getoo hehe.

thanks sist Tika & mas Yudi *nite semua_aku lom ngantux :e

Lagi...lagi....lagi.... ::D ... ga sabar nunggu bab berikutya !

Aduuuh,, kok bisa sampai begitu????
emg diapain aj tu si camryn
andrew puasa dulu dong :x :x :x

omg.. They're s cute together.. Can't decide which one is the cutest.

"With bubbles?"

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top