19

tangled-thumb
Aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa berhubungan seks dapat memperpanjang umur manusia. Pada laju seperti ini, Kate dan aku akan hidup abadi. Aku sudah lupa berapa kali kami sudah melakukannya. Ini seperti gigitan nyamuk—semakin di garuk, maka semakin gatal.

Aku cukup senang karena aku sudah membeli kondom isi ekstra besar di toserba Costco.

Dan kalau saja kalian belum bisa memastikan dari reaksiku, aku hanya akan mengatakannya terus terang: Kate Brooks adalah pasangan seks yang fantastis. Seorang wanita yang spektakuler. Jika aku sebelumnya tidak yakin bahwa Billy Warren adalah orang tolol—setelah aku mencicipi apa yang dia campakkan—sekarang aku benar-benar yakin akan hal itu.

Kate suka bertualang, sangat menuntut, spontan, dan percaya diri. Sangat mirip denganku. Kami sangat cocok, dalam lebih dari satu aspek.

Ketika kami akhirnya beristirahat, langit malam di luar jendela apartemenku baru saja berubah menjadi kelabu. Kate berbaring dengan tenang, kepalanya bersandar di dadaku, jemarinya menelusuri lekuk di dadaku dan sesekali membelai bulu-bulu di sana.

Kuharap setelah semua yang kukatakan pada kalian ini tidak akan mengejutkan, tapi aku tidak "berpelukan". Biasanya, setelah seorang wanita dan aku selesai, tidak ada yang namanya bergelung, tidak ada yang namanya meringkuk, tidak ada percakapan intim di ranjang. Aku mungkin, dalam beberapa kesempatan, tidur sejenak karena kelelahan sebelum aku pergi. Tapi aku tidak tahan ketika seorang gadis menempelkan dirinya ke tubuhku seperti sejenis gurita mutan. Ini menyebalkan dan tidak nyaman.

Namun dengan Kate, aturan lama sepertinya tidak berlaku. Kulit kami yang hangat menyatu bersama, tubuh kami selaras, pergelangan kakinya di atas betisku, pahaku di bawah lututnya. Rasanya...damai. Menenangkan dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa aku gambarkan. Aku sama sekali tidak punya keinginan untuk pindah dari tempat ini.

Kecuali itu untuk berguling dan menyetubuhinya lagi.

Kate yang lebih dulu memecah keheningan. "Kapan kau kehilangan keperjakaanmu?"

Aku tertawa. "Apakah kita bermain game First and Ten lagi? Atau apa kau sekedar ingin tahu tentang riwayat seksualku? Karena kalau itu alasannya, kurasa kau sudah sedikit terlambat, Kate."

Dia tersenyum. "Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya ingin lebih...mengenalmu."

Aku mendesah saat aku mengingatnya lagi. "Oke. Pertama kalinya adalah...Janice Lewis. Ulang tahun kelima belas. Dia mengundang aku ke rumahnya untuk memberiku hadiah. Hadiahnya adalah dia."

Aku merasa senyumnya dadaku. "Apa dia perawan juga?"

"Tidak. Dia mendekati delapan belas tahun—kelas 3 SMA."

"Ah. Gadis yang lebih tua. Jadi dia mengajarimu semua yang kau tahu?"

Aku tersenyum dan mengangkat bahu. "Aku mengumpulkan beberapa trik selama bertahun-tahun."

Kami diam lagi selama beberapa menit, dan kemudian ia bertanya, "Tidakkah kau ingin tahu tentang masa laluku?"

Bahkan aku tidak perlu berpikir tentang yang satu ini.

"Tidak."

Aku tidak ingin merusak suasana, tapi kita akan berhenti di sini sebentar.

Ketika itu berhubungan dengan pengalaman seksual masa lalu seorang wanita, tak ada seorang pria pun yang mau mendengarnya. Aku tak peduli jika kalian berhubungan seks dengan satu atau ratusan orang—Simpanlah untuk dirimu sendiri.

Biar kujelaskan seperti ini: Ketika kalian datang ke restoran dan pelayannya membawakan makananmu, apa kalian ingin dia mengatakan padamu berapa orang yang telah menyentuh makanan itu sebelum kalian memakannya?

Tepat sekali.

Aku juga berpikir cukup aman untuk mengasumsikan bahwa Kate melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya dengan Warren—bahwa dia adalah pria satu-satunya. Dan Warren adalah orang terakhir yang ingin kubahas pada situasi sekarang ini.

Sekarang, mari kembali ke kamar tidurku.

Aku berbaring miring sehingga aku menghadap Kate. Wajah kami sangat dekat, kepala kami berbagi bantal yang sama. Tangan Kate terselip di bawah pipinya yang membuat dia terlihat polos.

"Namun ada sesuatu yang ingin kutahu," Kataku.

"Tanyakan saja."

"Kenapa kau terjun ke bidang investasi perbankan?"

Aku berasal dari keturunan profesional kerah putih. Alexandra dan aku tidak diharapkan untuk mengikuti jejak orang tua kami—itu hanya terjadi begitu saja. Orang-orang selalu cenderung tertarik pada apa yang mereka ketahui, apa yang sudah mereka kenal.

Seperti atlet profesional. Pernahkah kalian memperhatikan berapa banyak mahasiswa tingkat Junior yang ada di liga utama bisbol? Ini untuk mengenali mereka dengan ayah mereka yang masuk Hall of Fame. Sebagai contohnya Manning bersaudara. Tapi aku ingin tahu apa yang menarik Kate kedalam bidang investasi perbankan mengingat perilaku buruk saat masa remajanya.

"Uang. Aku ingin berkarir di mana aku tahu aku akan menghasilkan banyak uang."

Aku mengangkat alisku. "Benarkah?"

Dia menatapku seakan sudah tahu. "Kau mengharapkan sesuatu yang lebih luhur?"

"Ya, Aku mengira seperti itu."

Senyumnya memudar. "Yang benar adalah, orangtuaku menikah muda—melahirkanku juga di usia muda. Mereka membeli restoran di Greenville. Menggadaikannya secara insting. Kami tinggal di atasnya. Rumah itu...kecil...tapi nyaman."

Senyumnya semakin memudar. "Ayahku meninggal saat umurku tiga belas tahun. akibat ulah pengemudi mabuk. Setelah itu, ibuku selalu sibuk. Mencoba agar restorannya tetap berjalan, berusaha menjaga dirinya agar tidak hancur berantakan."

Ketika dia berhenti lagi, aku menarik tubuhnya kearahku hingga dahinya bersandar di dadaku. Dan kemudian dia melanjutkan:

"Dia berusaha agar kami tetap bisa bertahan. Aku tidak kekurangan atau semacamnya, tapi...keadaannya tidaklah mudah. Segalanya penuh perjuangan. Jadi, ketika mereka mengatakan padaku bahwa aku akan menjadi *Valedictorian, dan aku menerima beasiswa penuh dari universitas Wharton, aku berpikir—Oke—bidang investasi saja. Aku tak pernah ingin menjadi tidak berdaya atau bergantung pada orang lain. Meskipun aku punya Billy, sangat penting bagiku mengetahui bahwa aku mampu menghidupi diri sendiri, dengan usaha sendiri. Sekarang setelah aku mampu melakukannya, yang sangat ingin kulakukan adalah mengurus ibuku. Aku sudah pernah memintanya untuk pindah ke New York tapi sejauh ini dia menolak. Dia bekerja seumur hidupnya...aku hanya menginginkan dia untuk istirahat."

Aku tak tahu harus berkata apa. Meskipun segala komentar pedas tentang orangtuaku, aku cukup yakin aku akan kehilangan akalku jika sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka.

Aku mengangkat dagunya agar aku bisa menatap ke dalam matanya. Lalu aku menciumnya. Setelah beberapa menit, Kate berbalik. aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menarik tubuhnya menempel ke tubuhku. Aku menekan bibirku ke bahunya dan memposisikan wajahku di rambutnya. Dan meskipun secara teknis sekarang sudah pagi, itulah bagaimana posisi kami sampai kami berdua tertidur.

***

Setiap pria sehat di dunia bangun dengan tegang. Berdiri. Ereksi di pagi hari. Aku yakin ada beberapa penjelasan medis untuk fenomena ini, tapi aku hanya ingin menganggapnya sebagai karunia kecil dari Tuhan.

Sebuah kesempatan terbaik untuk memulai hari dengan kejantananmu mengacung ke depan.

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku tidur di samping seorang wanita. Bagaimanapun, bangun di samping seorang wanita pasti memiliki suatu manfaat. Dan aku siap untuk memanfaatkan sepenuhnya keadaan ini.

Dengan mata masih terpejam, aku berguling dan mencari Kate. Aku berencana untuk menggodanya agar terjaga sebelum memberikannya ucapan "selamat pagi" dari belakang. Ini satu-satunya alarm bangun pagi yang bisa diterima, dalam kamusku. Tapi ketika tanganku meluncur di atas seprei, aku hanya menemukan ruang kosong di mana dia seharusnya berada. Aku membuka mataku, duduk, dan melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

Hah?

Aku mendengarkan dengan cermat kalau saja ada gerakan di kamar mandi atau suara air mengalir dari shower. Tapi yang ada hanya keheningan. Sangat sunyi, benar kan?

Kemana dia pergi?

Detak jantungku meningkat memikirkan bahwa dia menyelinap pergi ketika aku tidur. Itu adalah tindakan yang pernah kulakukan sendiri—dalam beberapa kesempatan—namun aku tak pernah mengira mendapat perlakuan seperti ini dari Kate.

Aku hampir saja bangun dari tempat tidur ketika dia muncul di ambang pintu. Rambutnya diikat dengan karet yang wanita selalu dapatkan entah dari mana. Dia memakai T-shirt abu-abu dengan tulisan Columbia—T-shirt Columbia abu-abu milikku—sejenak aku terpukau oleh bagaimana payudaranya bergoyang di bawah tulisan itu saat ia berjalan.

Kate menaruh nampan yang ia bawa di meja samping ranjang. "Selamat pagi."

Aku cemberut. "Ini bisa saja sudah pagi. Kenapa kau bangun?"

Ia tertawa. "Aku kelaparan. Perutku berbunyi seperti binatang buas dalam kerangkeng. Aku sebenarnya akan memasak sarapan untuk kita, tapi yang bisa kutemukan di dapurmu hanyalah sereal."

Sereal adalah makanan yang sempurna. Aku bisa memakannya setiap hari. Dan bukannya jenis bran & oats yang biasa disediakan oleh orangtuamu. Aku hanya makan yang enak: Lucky Charms, Fruity Pebbles, Cookie Crisp. Lemariku penuh berisi segala macam sereal rasa madu.

Aku mengangkat bahu. "Aku lebih banyak memesan makanan."

Dia menyerahkan satu mangkok padaku. Apple Jacks—pilihan yang bagus. Sambil mengunyah, Kate berkata, "Aku pinjam T-shirt mu. Kuharap kau tidak keberatan."

Aku memakan sarapan sehatku. "Tidak masalah. Tapi aku benar-benar ingin kau tidak memakainya."

Lihat bagaimana dia menunduk malu? Bagaimana bibirnya tersungging senyuman? Rona yang muncul di pipinya? Demi Tuhan—Dia tersipu lagi. Setelah apa yang kita lakukan semalam? Setelah segala kutukan, jeritan, garukan? Sekarang dia tersipu?

Sungguh menggemaskan, bukan? Kurasa juga begitu.

"Kurasa memasak telanjang tidaklah higienis."

Aku menaruh mangkuk yang sekarang kosong kembali di atas nampan. "Apa kau suka memasak?" Selama berbulan-bulan kami bekerja bersama-sama, aku telah belajar banyak tentang Kate, tapi masih banyak lagi yang ingin kuketahui.

Dia mengangguk dan menghabiskan serealnya. "Jika kau tumbuh di sekitar restoran, itu akan menular padamu. Membuat kue adalah kesukaanku. Aku pembuat kue yang enak. Kalau nanti kita bisa mendapatkan bahan-bahannya, Aku akan membuatnya."

Aku tersenyum nakal. "Aku suka memakan 'kuemu', Kate."

Dia menggeleng padaku. "Kenapa aku punya perasaan bahwa kau sedang tidak membahas tentang berbagai jenis chocolate chip?"

Masih ingat tentang karunia kecil dari Tuhan itu? Aku tidak bisa membiarkan ini terbuang sia-sia. Ini akan menjadi dosa—dan aku tak mampu menanggung dosa seperti itu lagi. Aku menyeretnya ke tempat tidur dan menarik T-shirt ke atas kepalanya.

"Karena aku tidak membahas itu. Sekarang, tentang 'kue' yang ini..."

***

"Menteri ke B7."

"Gajah ke G5."

Main game itu menyenangkan.

"Kuda ke C6."

"Skak."

Game tanpa busana? Itu lebih menyenangkan lagi.

Alis Kate berkerut sambil menatap papan catur. Ini adalah pertandingan ketiga kami. Siapa yang memenangkan dua game sebelumnya? Ayolah, seperti perlu kalian tanyakan saja.

Kami saling berbagi cerita sembari bermain. Aku bercerita waktu lenganku patah saat bermain skateboard ketika berumur dua belas tahun. Dia bercerita tentang dia dan Delores mengecat bulu hamsternya dengan warna merah muda. Kuceritakan padanya tentang julukan untuk Alexandra yang diberikan oleh Matthew dan aku. (Kate mencubit putingku setelah itu. Keras. Dia ingat saat aku memanggilnya "seperti Alexandra" di kantorku.)

Nyaman, santai, menyenangkan. Tidak senikmat seperti bercinta—tapi nomor dua. Kami berbaring miring di tempat tidur, kepala kami ditumpu oleh tangan, papan catur ada di tengah.

Oh—dan kalau saja kalian lupa, kami telanjang.

Sekarang, kutahu beberapa wanita memiliki masalah dengan tubuh mereka. Mungkin kalian punya lemak berlebih di tubuhmu? Lupakannya. Tidak masalah. Setiap saat ketelanjangan mengalahkan segala kesopanan. Pria adalah makhluk visual. Kami tidak akan bercinta denganmu jika tidak ingin melihat tubuhmu.

Kalian bisa menulisnya kalau mau.

Kate tidak masalah untuk telanjang. Dia pasti nyaman dengan dirinya sendiri. Dan itu seksi—sungguh seksi.

"Kau mau jalan atau mau membakar lubang di papan dengan menatapnya?"

"Jangan memaksaku."

Aku mendesah. "Baiklah. Gunakan waktu semaumu. Toh tak ada tempat pergi untukmu. Aku sudah memojokkanmu."

"Kurasa kau curang."

Mataku melotot. "Itu menyakitkan, Kate. Aku terluka. Aku tidak berbuat curang. Aku tak perlu melakukannya."

Dia mengangkat alisnya. "Apa kau harus begitu sombong?"

"Aku sungguh berharap begitu. Dan bicara kotor tidak akan berhasil. Berhentilah mengulur-ulur waktu."

Dia mendesah dan menerima kekalahannya. Aku melakukan langkah terakhirku. "Skak mat. Mau main lagi?"

Dia berguling telungkup dan menekuk lututnya hingga kakinya hampir menyentuh kepalanya. Kejantananku berkedut saat melihatnya.

"Ayo main sesuatu yang lain."

Twister1? *Hide the Salami? *Kama Sutra charades?

"Apa kau punya game Guitar Hero?"

Apa aku punya game Guitar Hero? Game kompetisi terbaik milenium ini? Game paling keren sepanjang masa? Tentu saja aku punya.

"Mungkin kau harus memilih game lainnya," Kataku. "Kalau aku terus mengalahkanmu seperti ini, aku akan merusak ego wanitamu yang rapuh."

Kate melotot padaku. "Ayo siapkan."

Kegigihan Kate seharusnya menjadi tanda bahaya. Itu pembantaian. Benar-benar brutal. Dia menendang pantatku dari ujung apartemen ke ujung lainnya.

Aku punya alasan, Kate tahu cara bermain gitar sungguhan. Dan...dia meminta kami berpakaian. Bagaimana kejamnya ini? Aku terus berusaha untuk melihat sekilas pantatnya yang indah mengintip keluar dari bawah T-shirtnya. Itu menggangguku.

Aku tak pernah punya kesempatan.

***

Jadi, sekarang mungkin kalian bertanya-tanya apa sih yang kulakukan, benar kan? Maksudku ini aku. Satu tunggangan per pelanggan—tak ada pengulangan. Jadi kenapa aku membuang waktu Sabtu soreku bermain Adam dan Hawa dengan Kate?

Inilah yang terjadi: aku telah berusaha selama berbulan-bulan untuk membawanya sampai pada kondisi sekarang. Aku telah menghabiskan malam demi malam tak berujung mendambakan, memimpikan, berfantasi tentang hal itu.

Misalkan kalian terdampar di sebuah pulau kosong dan tidak makan selama seminggu. Dan kemudian kapal penyelamatan akhirnya muncul dengan sepiring besar makanan. Maukah kalian mencicipi sedikit dan membuang sisanya?

Tentu saja tidak. Kalian memakan dengan cepat setiap gigitannya. Melahap setiap remahnya. Menjilat bersih piringnya.

Itulah yang kulakukan. Berkumpul dengan Kate sampai aku...kenyang. Jangan menilainya lebih jauh dari itu.

***

Apa aku pernah menyebutkan bahwa Kate punya tato? Oh ya. Sebuah label wanita gampangan. Sebuah stempel pelacur. Sebut saja apa pun yang kalian suka. Tatonya di gambar tepat di atas tonjolan pantatnya, di punggung bagian bawah. Berbentuk kupu-kupu kecil berwarna biru kehijauan.

Rasanya lezat. Sekarang aku sedang menelusurinya dengan lidahku.

"Oh Tuhan, Drew..."

Setelah penghinaan pada game Guitar Hero, Kate memutuskan dia ingin mandi. Dan mengatakan begini—dia bertanya apakah aku ingin mandi duluan.

Gadis bodoh. Seperti mandi sendirian masuk dalam pertimbanganku.

Aku berdiri dan menggodanya dari belakang. Dia lebih panas dari air yang menyemprot kami di semua sisi. Aku menyibak rambutnya ke samping saat aku menyantap lehernya yang nikmat. Suaraku serak saat aku katakan padanya, "Buka kakimu untukku, Kate."

Dia menurut.

"Lebih lebar."

Dia menurut lagi.

Aku menekuk lututku dan menggeser kejantananku masuk ke dalam. Oh Tuhan. Sudah dua jam sejak aku berada dalam dirinya seperti ini. Terlalu lama—seperti seumur hidup.

Kami mengerang bersama. Payudaranya licin oleh sabun saat aku menggeser jemariku ke putingnya dan memainkannya dengan cara yang kutahu akan membuatnya mendesah. Kepalanya mendongak jatuh di bahuku, dan menggoreskan kukunya di atas pahaku. Aku mendesis oleh sensasinya dan sedikit menambah kecepatan.

Lalu dia mencondongkan tubuhnya ke depan, membungkuk setinggi pinggang dan menyangga tangannya di dinding ubin. Aku membungkusnya dengan tanganku sendiri, menjalin jemari kami menjadi satu. Aku memompa masuk dan keluar tanpa tergesa-gesa. Aku mencium punggungnya, pundaknya, telinganya. "Kau terasa begitu nikmat, Kate."

Kepalanya berputar, dan dia merintih, "Oh Tuhan, milikmu terasa begitu...keras...begitu besar."

Kalimat itu? Mendengar kalimat itu adalah impian bagi setiap pria. Aku tak peduli jika kalian biksu, kalian tetap saja ingin mendengarnya.

Ya, aku pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. namun berasal dari bibir Kate—dengan suara manisnya—rasanya aku mendengar kalimat itu untuk pertama dan terakhir kalinya.

Dan kemudian dia memohon. "Lebih keras, Drew...ayolah."

Aku melakukan apa yang dia minta sambil mengerang. Aku meninggalkan satu tangan di dinding dan menggerakkan tanganku yang lain ke klitorisnya, jadi setiap kali aku mendorong ke depan, miliknya akan membentur jemariku. Dia merintih oleh sentuhanku.

Kemudian dia menuntut, "Lebih keras, Drew. setubuhi aku lebih keras."

Ketika perintahnya mencapai telingaku, aku tersentak, seperti atap yang roboh pada kebakaran yang sedang berkecamuk. Aku mendorong ke dalam dirinya sampai dia terjepit ke dinding, pipinya menempel pada ubin yang dingin. Aku mendorong dengan kasar dan cepat. Jeritan kepuasan Kate menggema di dinding, dan kami klimaks bersama.

Lama, intens dan gemilang.

Ketika kenikmatannya memudar, ia berbalik, melingkarkan lengannya di leherku dan menciumku dengan perlahan. Kemudian kepalanya bersandar di dadaku, kami masih berdiri bersama di bawah semprotan. Aku tak bisa menjaga kekaguman keluar dari suaraku saat berkata, "Oh Tuhan, jadi semakin nikmat setiap kali kita melakukannya."

Dia tertawa. "Kau juga merasakannya? Kupikir aku satu-satunya yang merasakannya." Dia menatapku, menggigit bibir, dan menyibak rambut basah dari mataku. Ini adalah sikap sederhana. Tapi ada begitu banyak emosi di baliknya. Sentuhannya lembut, sorot matanya begitu menyayang, seperti aku adalah hal terindah yang pernah ia lihat. Seperti aku semacam...harta karun.

Biasanya, ekspresi seperti itu akan membuatku merunduk untuk mencari perlindungan—pergi menuju pintu keluar terdekat.

Tapi ketika aku menatap wajah Kate, satu tangan memegang pinggangnya, tangan yang lain menuju rambutnya, Aku tidak ingin lari. Aku bahkan tidak ingin berpaling. Dan aku tak pernah ingin melepaskannya.

"Tidak...aku juga merasakannya."

***

*Valedictorian: lulusan terbaik yang membacakan pidato kelulusan
*Hide the Salami: eufemisme untuk istilah berhubungan seks
*Kamasutra Charades: permainan menebak kata-kata dgn gerakan kamasutra

Poskan Komentar

19 comments

Kipas-kipas... Ada yg jualan kipas ga neh?? AC, juice, lewat.. Saking gerahnya!!

thanx u om mimin..

Bagian yang sakit "flu" bikin ketar-ketir ini... :s

Amazing bgt daahh drew and kate.... tiup tiup dah nii panasss

oh.... wekkend di habiskan hanya dengan making love dan bertelanjang pasangan yg benar " cocok thank's mas yudi

kate.. Udah kena candu drew.. Setiap detik pengen telanjang trus ama drew... Mirip gigitan nyamuk 'eperti kata drew' haha.. Mantap dah drew...

Semakin digaruk semakin gatel.... Ya di garuk wae hehe ;;)

wiken ama mas Drew ... Mantebz wes

Thanks mas Yudi tlnya, semangat !!

​​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ŧђąηk.{^⌣^}.¥ou•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶.

Gerah gerah

Well...gegara keywordnya si masYud...
ngebut dah baca nie buku,,,
Hasilnyaaaaaaaaa...saya ngakak ga habis2... :))

Thanks so much yaa.... :y

@riska novaudh tamat mb ris, lucu kan? biarpun drew lg sedih tetep aja bikin ketawa :v

Hebat-hebat siiip..
Pasangan yg Romantis..
Bikin ehhmm...kepanasa
Thanks updatenya @Mas Yudi
Nextnya di tunggu.

Tiap baca si drew ini perut pasti sakit kebanyakan ngakak..hhhahhahha
thanks PN and mas yuyudd. .Gga sabar nunggu nex chapter ><

:r

begitu unik pikiran seoarang cowok
tx all

astaga dreeeewww.. ga ada matinya ya kamu, lanjut teruuussss, pantang istirahat.. hahahaha..

ember, mass...
Aaahhhh... AKU PADAMU, Mas....!!!

panaassss ,kipas mana kipas :b

Hm, aku setuju dengan pemikiranmu drew.. “tak ada seorang pria pun yang mau mendengarkan pengalaman seksual masa lalu seorang wanita”. Tapi aku tidak yakin bahwa pria tidak peduli jika wanita itu telah berhubungan s** dengan satu atau ratusan orang.

Ini seperti: ketika kau akan membeli buah mangga. Tentunya kau akan memilih buah mangga yang masih segar, serta daging buah yang padat dan kenyal. Bukanlah mangga yang bonyok karena sudah dipegang-pegang oleh orang banyak.

pikirkan itu drew.. :@
eh, itu emot ngupil ya.. isssh, jorok banget.. hehe.. :))
makasih mas yudi.. :g

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top