15

tangled-thumb
Ayahku tidak senang terhadap caraku menangani situasi dengan Anderson. Aku bertindak gegabah, tidak profesional, bla, bla, bla. Dan karena senioritasku, dia menganggap bahwa aku lebih bertanggung jawab atas kehilangan klien ini dibanding dengan Kate.

Tapi fakta bahwa aku masuk dalam daftar orang yang tidak disukai di kantor untuk sementara waktu tidak menghantamku sekeras yang kalian pikir. Terutama karena aku tidak menyesal terhadap bagaimana aku bereaksi. Jika aku mendapat kesempatan sekali lagi untuk melakukannya, aku tidak akan mengubah apa pun. Jadi, mungkin ayah kecewa terhadapku, tapi sejujurnya, pada saat ia selesai memarahiku, aku juga cukup kecewa terhadapnya.

Juga, dalam empat minggu setelah rapat yang membawa petaka itu, hubungan antara Kate dan aku terus berkembang. Kami masih saling bertukar pukulan di tempat kerja, tapi sekarang lebih menyerupai pukulan pendek ke dada, yang dimaksudkan sekedar untuk menyakiti, ketimbang pukulan hook kanan ke rahang, yang dirancang untuk merobohkan satu sama lain. Kami berbagi ide, saling membantu. Setidaknya ayahku benar tentang hal itu. Kate dan aku saling melengkapi, menyeimbangkan kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Pada suatu titik tertentu, Kate menjadi lebih berarti bagiku daripada sekedar sepasang kaki yang ingin aku naiki. Lebih berarti daripada sekedar celana yang sangat ingin aku lepaskan.

Sekarang dia adalah Kate—seorang teman. Seorang teman yang menyebabkan kejantananku berdiri tegak setiap kali dia masuk ruangan, tapi kurasa itu adalah keadaan yang harus diterima. Karena sebetapa besar aku masih menginginkannya, dan aku yakin sekali sebagian dari dirinya menginginkanku, Kate bukan tipe wanita yang mau berselingkuh.

Setidaknya bukan tipe wanita yang bisa menanggung rasa bersalah sesudahnya.

***

Sekarang, aku tahu apa yang kalian pikirkan: Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana seorang pria muda yang tampan, menawan dan percaya diri sepertiku menjadi orang yang terinfeksi flu dan mengurung diri saat pertama kali kalian bertemu denganku?

Kita sedang menuju ke sana—percayalah.

Untuk menunjukkan gambaran secara keseluruhannya, ada beberapa tokoh lain yang perlu kalian temui dalam sinetron yang sekarang kuperankan. Kalian sudah bertemu pria menjijikkan bernama Warren. Dia nanti akan muncul lagi, sayangnya.

Dan sekarang kalian akan bertemu Dee-Dee Warren. Dia sepupu si tolol itu. Tapi kalian tidak perlu membencinya. Dee-Dee juga sahabat baik Kate. Akan aku tunjukkan pada kalian.

***

"Aku melihatmu mengobrol dengan gadis berambut coklat dengan payudara besar. Kau pergi ke rumahnya?" tanya Matthew. Dia, Jack, dan aku sedang makan siang di sebuah restoran yang jaraknya beberapa blok dari kantor. Kami sedang mendiskusikan malam Minggu terakhir kami.

"Kami tidak berhasil sejauh itu."

"Apa maksudmu?"

Aku menyeringai, mengingat bagaimana ekshibisionisnya gadis itu. "Maksudku taksi itu tak akan pernah sama seperti dulu lagi. Dan kurasa kami membuat takut sopirnya seumur hidup."

Jack tertawa. "Kau seperti anjing (benar-benar badung), bro."

"Tidak, aku melakukan doggie-style setelah kami benar-benar berada di dalam apartemennya."

Jangan menatapku itu lagi. Kita sudah pernah membahas ini.

Cowok. Seks. Ngobrol.

Selain itu, meskipun antusiasme liar dari si Gadis Taxi, seksnya di bawah standar. Dia bahkan bukan pasta gigi Colgate. Dia lebih seperti suatu merek pasta gigi umum yang disediakan di kamar hotel murahan yang namanya bahkan tidak akan kalian ingat setelah memakainya.

"Hei, Kate," kata Matthew, menatap di belakangku. Aku tidak melihat Kate mendekati kami.

Kita akan berhenti di sini untuk sesaat. Ini penting.

Lihat ekspresi wajahnya? Bibirnya yang membentuk garis tipis? Sedikit kerut pada alisnya? Kate mendengar apa yang kukatakan. Dan dia terlihat tidak terlalu senang, benar, kan? Aku melewatkan petunjuk ini saat pertama kali bertemu dengannya, tapi kalian harus mengingatnya. Momen ini nantinya akan berakibat buruk padaku.

Aku berbalik untuk menatapnya. Ekspresinya kini kosong dan pasif.

"Kau mau bergabung dengan kami?" Tanyaku.

"Tidak, terima kasih. Sebenarnya aku baru saja selesai makan siang dengan seorang teman."

Dan temannya segera datang mendekat. Dia mengenakan sepatu bot tinggi berwarna hitam, celana hitam ketat yang robek pada tempat-tempat strategis di bagian atas dan bawah kakinya, rok mini, tank top warna pink tanpa tali bahu yang seksi, dan sweter abu-abu rajutan yang pendek. Rambutnya panjang, pirang stroberi, dan bergelombang, bibirnya merah berkilau, dan mata ambernya menatap kami di bawah bulu matanya yang tebal.

Dia...menarik. Aku tidak akan menyebut dia cantik, tapi menyolok dalam gaya fashion jalanan yang seksi.

"Matthew Fisher, Jack O'Shay, Drew Evans, ini adalah Dee-Dee Warren."

Mendengar namaku, mata Dee-Dee seketika berubah tajam menatap ke arahku. Rasanya seperti dia menganalisaku—seperti ketika seorang pria memeriksa mesin mobil tepat sebelum pria itu menyalakan mesinnya.

"Jadi, kau yang namanya Drew? Aku pernah mendengar tentangmu."

Kate bercerita pada temannya tentang diriku? Menarik.

"Oh yeah? Apa yang sudah kau dengar?"

Dia mengangkat bahu. "Aku bisa memberitahumu, tapi kemudian aku harus membunuhmu." Dia mengacungkan jarinya kearahku. "Kau harus terus bersikap baik pada Katie ini. Kau tahu, jika kau ingin bolamu tetap menempel pada kemaluanmu."

Meskipun nadanya ringan, aku mendapatkan kesan berbeda bahwa Dee-Dee tidaklah main-main.

Aku tersenyum. "Aku sudah berusaha untuk menunjukkan betapa baiknya aku. Dia terus menolakku."

Dee-Dee terkekeh. Kemudian Matthew dengan mulus menyela, "Jadi, Dee-Dee...kependekan dari apa? Donna, Deborah?"

Kate menyeringai dengan nakal. "Delores. Ini adalah nama keluarga—nama neneknya. Dia benci memakainya."

Delores memberi Kate pandangan tidak setuju.

Secara spontan Matthew membalas, "Delores adalah nama yang cantik, untuk gadis yang cantik, ditambah itu nama itu serima dengan clitoris...dan aku benar-benar tahu seluk-beluknya di sana. Penggemar berat."

Delores tersenyum perlahan kearah Matthew dan menggerakkan jarinya di atas bibir bawahnya. Lalu, dia menghadap kearah kami semua dan berkata, "Omong-omong, aku harus cepat pergi, kembali bekerja. Senang berkenalan dengan kalian semua, bung." Delores memeluk Kate dan melemparkan kerlingan kearah Matthew saat dia berjalan pergi.

"Dia harus kembali bekerja?" Tanyaku. "Kupikir klub striptis tidak buka sebelum jam empat sore."

Kate hanya tersenyum. "Dee bukan penari striptis. Dia hanya berdandan seperti itu untuk mengelabui orang. Jadi mereka terkejut saat tahu apa pekerjaan dia yang sebenarnya."

"Apa pekerjaannya?" Tanya Matthew.

"Dia ilmuwan roket."

"Kau pasti bercanda." Jack berkata menyuarakan apa yang kami bertiga pikirkan.

"Sayangnya tidak. Delores seorang ahli kimia. Salah satu kliennya adalah NASA. Laboratoriumnya bekerja untuk meningkatkan efisiensi pada bahan bakar yang mereka gunakan pada pesawat luar angkasa." Dia bergidik. "Dee-Dee Warren dengan akses pada bahan peledak berkekuatan tinggi...itu adalah sesuatu yang tidak ingin aku pikirkan setiap harinya."

Setelah sesaat, Matthew bicara. "Brooks, kau harus membantuku. Aku cowok yang baik. Ijinkan aku mengajak kencan temanmu. Dia tidak akan menyesal."

Kate sejenak berpikir. "Oke. Tentu. Kau sepertinya tipe yang disukai Dee." Dia menyodorkan sebuah kartu nama kearah Matthew. "Tapi aku harus memperingatkanmu. Dia tipe gadis cintai-mereka-dan-tinggalkan-mereka-dengan-memar. Jika kau mencari kesenangan untuk satu atau dua malam, maka telpon dia. Kalau kau mencari sesuatu yang lebih mendalam dari itu, kau lebih baik menyingkir."

Kami semua bungkam. Kemudian Matthew bangkit dari kursinya, mendekat kearah Kate dan mencium pipinya. Aku tiba-tiba berhasrat menaruh tanganku di tenggorokan Matthew dan merenggut keluar amandelnya.

Apa itu salah?

"Kau...adalah sahabat baruku." Katanya pada Kate.

Kate salah mengartikan kerutan dahi di wajahku. "Jangan merajuk. Ini bukan salahku bahwa teman-temanmu lebih menyukai aku dibanding menyukai dirimu."

Maksud Kate Steven juga. Beberapa hari yang lalu Steven dengan kalut mencari tempat yang sempurna untuk membawa Si Menyebalkan merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Rupanya, tetangga Kate bekerja sebagai maƮtre d' di Chez, restoran paling eksklusif di kota ini. Kate berhasil mendapatkan sebuah meja untuk Steven malam itu.

Alexandra pasti sudah melakukan sesuatu pada Steven malam itu yang aku sendiri tidak mau memikirkannya. Karena sejak saat itu, Steven Reinhart dengan senang hati mau menerima peluru di dadanya untuk melindungi Kate Brooks.

"Itu karena payudara," Kataku pada Kate. "Kalau aku punya sepasang payudara seperti milikmu, mereka juga akan lebih menyukaiku."

Beberapa minggu yang lalu, komentar seperti ini akan membuatnya marah. Sekarang Kate hanya menggeleng dan tertawa.

***

Malam sebelum Thanksgiving secara resmi menjadi malam pergi ke bar terbesar sepanjang tahun. Semua orang pergi keluar. Semua orang mencari kesenangan. Biasanya, Matthew, Jack dan aku memulainya dengan pesta sehari-sebelum-Thanksgiving di kantor ayahku dan pergi ke klub setelah itu. Ini sudah tradisi.

Jadi kalian bisa bayangkan betapa terkejutnya aku ketika memasuki ruang konferensi yang luas dan melihat lengan Matthew melingkar pada seorang wanita yang kuasumsikan sebagai pasangan kencannya malam ini—Delores Warren. Sejak Matthew bertemu dengannya dua setengah minggu yang lalu, Matthew menghilang pada acara akhir pekan, dan aku mulai curiga kenapa. Besok aku harus bicara padanya.

Disamping mereka ada ayahku dan Kate.

Dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, Kate Brooks membuatku sesak napas. Dia memakai gaun warna burgundy tua yang memeluk tubuhnya di tempat yang tepat dan sepatu hak tinggi bertali yang mengirim imajinasiku berputar kedalam wilayah film triple X. Rambutnya jatuh disekitar pundaknya dalam gelombang lembut berkilau. Tanganku gatal untuk menyentuhnya ketika aku berjalan kearahnya.

Kemudian seseorang dari tengah ruangan bergerak—dan aku melihat bahwa Kate tidak sendirian.

Oh Sial.

Semua orang membawa pasangannya untuk acara seperti ini. Aku seharusnya tidak terkejut bahwa si idiot itu ada di sini. Billy mengikat dasinya seperti anak umur 10 tahun, jelas terlihat tidak nyaman memakainya. Banci.

Aku mengancingkan jaket yang dijahit secara khusus dari Armani dan berjalan kearah mereka.

"Drew!" Sapa ayahku. Meskipun hubungan antara aku dan ayahku menjadi tegang selama beberapa hari, keadaan cepat kembali normal. Dia tidak bisa terus-terusan marah padaku dalam waktu lama.

Lihat ekspresi wajahnya. Bisa kah?

"Aku baru saja menceritakan pada Mr. Warren," kata ayahku, "Tentang kesepakatan yang di tutup oleh Kate mingggu lalu. Betapa beruntungnya kami memiliki dia."

Memiliki dia? Kata beruntung bahkan tidak mendekati sama sekali.

"Itu semua hanya akting," Goda Delores. "Dibalik setelan kerja dan karakter gadis baik-baik, berdetak jantung dari seorang pemberontak sejati. Aku dapat menceritakan padamu tentang Katie yang akan membuat tumbuh rambut di bola matamu."

Kate menatap temannya dengan tegas. "Terima kasih Dee. Tolong jangan."

Si brengsek tersenyum, menaruh lengannya di pinggang Kate, dan mengecup ujung kepalanya. Aku butuh minuman. Atau samsak. Sekarang!

Kata-kata meluncur dari mulutku layaknya peluru yang tepat sasaran: "Benar. Dulunya kau cukup badung, bukankah begitu Kate? Dad, apa kau tahu Kate dulu biasa bernyanyi dalam band? Itulah caramu membiayai diri sendiri selama kuliah bisnis, kan? Kukira penghasilan dari pekerjaan itu mengalahkan *pole dancing."

Kate tersedak oleh minumannya. Karena aku seorang gentleman, aku sodorkan sapu tangan kepadanya.

"Dan Billy ini, itulah pekerjaan yang masih dijalaninya. Kau seorang musisi, bukan?"

Dia menatap kearahku seakan aku seonggok kotoran anjing yang baru saja dia injak. "Itu benar."

"Jadi, ceritakan pada kami Billy, apa kau rocker seperti Bret Michaels atau lebih mirip rapper Vanilla Ice?"

Lihat bagaimana rahangnya terkatup? Bagaimana matanya menyipit? Tunjukkan padaku, monyet. Ayolah.

"Bukan keduanya."

"Kenapa tidak kau ambil accordion-mu, atau apapun alat musik yang kau mainkan, dan naik keatas panggung? Ada banyak sekali uang yang mengambang disekitar ruangan ini. Mungkin kau bisa mendapat job di resepsi pernikahan atau acara *bar mitzvah."

Hampir sampai.

"Aku tidak tampil di acara semacam itu."

Ini seharusnya mengenainya.

"Wow. Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, Aku tidak mengira orang miskin dan pengangguran bisa begitu pilih-pilih."

"Dengar, kau dasar breng—"

"Billy, sayang, bisakah kau ambilkan aku minuman lagi dari bar? Aku hampir selesai dengan yang satu ini." Kate menarik lengan Billy, memotong apa yang kuyakin akan menjadi balasan brilian darinya.

Apa kalian merasakan sarkasmenya?

Dan kemudian Kate berbalik ke arahku dan nada suaranya tidak terdengar ramah lagi. "Drew, aku baru ingat bahwa aku punya beberapa dokumen yang akan kuberikan padamu mengenai klien Genesis. Dokumennya di kantorku. Ayo kita pergi."

Aku tidak bergerak. Aku tidak menjawabnya. Mataku masih terkunci dalam kontes adu pandang dengan idiot ini.

"Ini adalah pesta, Kate," kata ayahku, masih tidak mengerti. "Kau harus menunda pekerjaan sampai hari Senin."

"Itu hanya akan memakan waktu satu menit," ia mengatakan pada ayahku sambil tersenyum—sebelum meraih lenganku dan menyeretku pergi.

Setelah kami berada di kantornya, Kate membanting pintu di belakang kami. Aku meluruskan lengan bajuku, kemudian tersenyum penuh kebajikan. "Kalau kau sangat ingin sendirian bersamaku, yang harus kau lakukan hanyalah meminta."

Dia tidak menghargai humorku. "Apa yang kau lakukan, Drew."

"Lakukan?"

"Kenapa kau menghina Billy? Kau tahu betapa sulitnya bagiku untuk mengajak dia datang kemari malam ini?"

Billy yang malang. Terjebak dalam satu ruangan dengan bankir besar yang sukses.

"Lalu kenapa kau membawa dia?"

"Dia tunanganku."

"Dia seorang bajingan."

Kate menatapku dengan tajam. "Billy dan aku sudah melalui banyak hal bersama. Kau tidak mengenalnya."

"Kutahu dia tidak cukup baik untukmu. Tidak dalam jangka panjang."

"Tolong jangan berusaha mempermalukan dia."

"Aku hanya menunjukkan fakta. Jika kenyataan itu membuat malu pacarmu, maka itu adalah masalahnya, bukan masalahku."

"Apa ini karena cemburu?"

Sebagai catatan. Aku belum pernah sekali pun merasa cemburu seumur hidup. Hanya karena ketika aku melihat mereka bersama aku tak mampu memutuskan apakah harus muntah atau menghajar wajah pacarnya—Kate menyebut ini cemburu?

"Jangan memuji diri sendiri."

"Kutahu kau punya sesuatu terhadapku, tapi—"

Tunggu dulu. Mari kita bicarakan apa yang terjadi sebelumnya, bisa kan?

"Aku punya sesuatu terhadapku? Maafkan aku, apakah itu saat tanganku memegang selangkanganmu di kantorku beberapa bulan yang lalu? Karena aku mengingatnya, begitu juga kau sebaliknya."

Dan sekarang dia marah. "Terkadang kau seperti bajingan."

"Well, maka kita sangatlah cocok, karena hampir sepanjang waktu kau adalah seorang jalang kelas satu."

Api menari-nari di matanya saat ia mengangkat gelas setengah penuh miliknya.

"Jangan coba-coba. Kau guyurkan minuman itu padaku, aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang nanti kulakukan."

Aku akan memberi kalian waktu satu menit untuk menebak apa yang dia lakukan...

Yup. Dia mengguyurkan minumannya ke arahku.

"Sialan!" Aku meraih tisu dari mejanya dan menyeka wajahku yang basah kuyup.

"Aku bukan salah satu dari pelacur sembaranganmu! Jangan pernah bicara padaku seperti itu lagi!"

Wajahku sudah kering, tapi kemeja dan jaketku masih basah. Aku melemparkan tisu ke lantai. "Tidak masalah. Aku juga mau pergi. Aku punya kencan."

Dia mencemooh, "Kencan? Bukankah berkencan melibatkan percakapan yang sebenarnya? Maksudmu kau punya seks kilat untuk kau lakukan?"

Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menariknya mendekat. Dengan suara rendah aku katakan padanya, "Hubungan seksku tidak pernah kilat—itu pasti lama dan menyeluruh. Dan kau harus hati-hati, Kate. Sekarang kau lah yang terdengar cemburu."

Telapak tangannya terbaring rata di dadaku, dan wajahku hanya beberapa inci dari wajahnya.

"Aku tidak suka kau."

"Perasaan kita timbal balik." Kataku cepat.

Dan kemudian kita melakukannya lagi—bibirku, bibirnya—bersatu dalam gairah panas membara. Tanganku tenggelam di rambutnya, mendekap kepalanya. Tangan Kate mencengkeram bagian depan bajuku, menahanku agar tetap dekat.

Kutahu apa yang kalian pikirkan. Dan, ya, tampaknya perdebatan antara Kate dan aku mirip dengan foreplay. Sepertinya perdebatan ini membuat kami berdua terangsang. Aku hanya berharap kami bisa selesai sebelum saling membunuh satu sama lain.

Ketika segala sesuatunya mulai menjadi nikmat, ada suara gedoran di pintu. Kate tidak mendengarnya, atau dia, seperti juga aku, tidak peduli.

"Kate? Kate, apa kau di dalam?"

Suara bajingan itu membelah nafsu yang mengikat kami bersama seperti lem. Kate menarik diri. Dia menatapku sebentar, matanya terpancar rasa bersalah, jemarinya menempel pada bibir yang baru saja kulumat.

Kalian tahu? Persetan dengan ini. Apa aku terlihat seperti yoyo bagi kalian? Aku tidak main-main dengan orang—aku tidak suka dipermainkan. Jika Kate tidak bisa memutuskan apa yang dia inginkan, aku yang akan memutuskan untuknya. Aku sudah lelah dengan ini, aku selesai.

Aku melangkah ke pintu dan membukanya dengan lebar, memberi ruang yang luas saat bedebah itu berjalan masuk.

Lalu aku tersenyum. "Kau dapat memiliki dia sekarang. Aku sudah selesai."

Dan aku bahkan tidak berpikir untuk menoleh ke belakang saat berjalan keluar.

***

*pole dance: suatu bentuk seni pertunjukan yang menggabungkan tari dan akrobat yang berpusat disekitar tiang vertikal.
*bar mitzvah: upacara inisiasi keagamaan seorang anak Yahudi yang telah mencapai usia 13 tahun dan dianggap telah siap untuk mematuhi ajaran agama.

Poskan Komentar

15 comments

Kayaknya bklan nyesel bgt tuh drew...ckckc

sex bagi Drew sudh jadi kebutuhan buat dia kaya manusia perlu mkan, smpai setiap melihat wanita yg di bayangkan selalu sex bersma orng itu,

Pertamaaaa....yeayyy
Masih penasarannnn.....oh kate and drew susah di tebakkkk...makasih admin

Pertamaaaa....yeayyy
Masih penasarannnn.....oh kate and drew susah di tebakkkk...makasih admin

drewww... Kata Apa yg cocok buat drew?? Sumpah kau.. Bajingan brengsek yg luar biasa keren.. Selalu bisa mengatakan hal serupa 'sama keras epala' dg kate padahal tubuh mengatakan hal sebaliknya.. Acungi jempol buat drew..

drewww... Kata Apa yg cocok buat drew?? Sumpah kau.. Bajingan brengsek yg luar biasa keren.. Selalu bisa mengatakan hal serupa 'sama keras epala' dg kate padahal tubuh mengatakan hal sebaliknya.. Acungi jempol buat drew..

*senyum jahat* selangkah demi selangkah kita semua akan menyaksikan penderitaan Drew...fufufu

Good job Drew :-q
ga pernah kecewe dah mah kamu :-*

"Kau dapat memiliki dia sekarang. Aku sudah selesai." Wah gawat klo orang suka ngambek, bisa2 piring gelas melayang tuh hihihi *nyengirrrr

Thanks & ttp semangat buat yg tl + editor & reader2 PN setia *termasuk ane wakakaka :))

Lanjuutttt !!

"Kau dapat memiliki dia sekarang. Aku sudah selesai." Wah gawat klo orang suka ngambek, bisa2 piring gelas melayang tuh hihihi *nyengirrrr

Thanks & ttp semangat buat yg tl + editor & reader2 PN setia *termasuk ane wakakaka :))

Lanjuutttt !!

drew drew :j
mksh pornov, mas yudi :)

Berharap billy mutusin hubungannya dgn kate stlh kejadian ini...plainnya drew okey bgt...

fiuh.. baru nyampe bab 10 bacanya, padahal mamas udah posting bab 20.. :|
awalnya dibuat cekikikan oleh kedatangan Dee-Dee (bukan Dede yusuf ya), Dee-Dee nama aslinya ternyata Delores, dan nama itu seirama dengan cli**ris (astaga..) :r

oh drew.. kupastikan kau akan menyesali perkataanmu itu. jadi berhentilah menjadi pria yang brengsek.. bukan seperti itu caranya mendapatkan kate.. b-(

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top