19

fwm-thumb
Ayah? Apakah aku baru saja mendengar dia menyebut pria ini ayahnya?

Ku pasang senyum terbaikku dan mengulurkan tanganku, "senang bertemu dengan anda, tuan."

"Panggil aku Rich, begitulah biasanya orang lain memanggilku." Dia mengedipkan matanya padaku, dan saat itulah aku melihat kesamaan antara Nate dan Rich.

"Tolong, panggil aku Jules, begitulah biasanya orang memanggilku, kecuali putra anda yang keras kepala."

Aku tidak mengerti apa yang terjadi saat Nate dan Rich saling bertukar pandang, namun sesaat kemudian Rich tersenyum kepada Nate. "Dia telah memikatmu nak, apa yang akan kalian lakukan?"

"Aku akan menendang pantatnya." Aku menjawab sebelum Nate sempat menjawab pertanyaan ayahnya, ayah dan anak itu menatapku dan nampak terkejut namun sesaat kemudian mereka berdua langsung tertawa.

"Aku rasa dia ingin menghajarku, dad."

"Semoga beruntung." Rich mengedipkan mata kepadaku lalu pergi menuju ke ring dan berteriak memberikan instruksi kepada para petarung yang sedang berlatih di sana.

"Kau seharusnya memberi tahu aku sebelumnya jika aku akan bertemu dengan ayahmu," aku mengeluh pada Nate saat Nate mengambil tasku dan jaketku, kemudian dia menggangtungnya di gantungan yang terletak di dekat pintu masuk berserta jaketnya juga.

"Yup, tapi aku yakin kau pasti tidak akan mau ikut denganku jika aku mengatakannya." Nate berbalik menghadap kepadaku, berkacak pinggang, siap untuk melakukan latihan. Dan tiba-tiba saja aku mendapatkan mood ku kembali.

Mungkin saja ini karena pengaruh testosteron yang ada di sekelilingku.

"Aku tidak suka dengan kebohongan Nate."

"Oke, aku minta maaf, ayahku adalah pemilik tempat ini, dia adalah pelatih dan manajerku ketika aku masih menjadi petarung di UFC, dan aku ingin bersamamu hari ini, di tempat dimana aku biasa melakukan latihan. Ini pasti menyenangkan." Nate menarik nafas, terlihat agak menyesal. Kemudian melemparkan pandangannya ke sekeliling Gym.

Sejenak aku mengamati sosoknya, menikmati pemandangan tubuhnya yang indah. "Dari mana kau akan memulai?"

"Kau masih ingin berlatih?"

"Yup, kita sudah di sini. Ayo kita mulai."

"Oke, kita pemanasan dulu dengan melakukan lompat tali dan kita lihat apa yang bisa kau lakukan." Nate tersenyum menggoda, lalu membimbing ku matras yang terhampar di sana, kemudian dia memberikan tali untuk melakukan lompat tali.

Haruskah aku mengatakan padanya bahwa Will dulu selalu mengajakku berlatih bersamanya?

Tidak.  

Nate mengatur timernya untuk dua menit dan aku melompat dengan mudah, menggunakan teknik yang pernah diajarkan Will kepadaku. Nate melihatku, dia juga melompat dengan mudah. Dua menit berlalu dan aku mulai kehabisan nafas namun aku merasa bangga pada diriku. Kupasang ekspresi bosan di wajahku.

"Selanjutnya?" aku bertanya.

"Kau pernah melakukan ini sebelumnya," Nate bergumam.

Aku mengangkat bahu dan melemparkan tali ke matras "Selanjutnya apa, Ace?"

"Bisakah kau melakukan pull-up?" Dia bertanya, alis matanya terangkat.

"Aku bisa melakukannya, mungkin satu atau dua kali." Aku tersenyum.

Aku harus menelpon Will dan berterima kasih padanya nanti, karena telah melatihku dengan keras. Karena dia aku jadi suka berolah raga, dan tentu saja bentuk tubuhku menjadi sempurna karena sering berolah raga. Aku suka berkeringat.

Nate mengajakku ke tempat dimana ada palang besi yang tergantung di sana.

"Apa kau butuh pijakan?" Tanyanya.

Aku melihat palang besi yang ada di atasku. Tingginya sekitar dua meter. "Aku rasa aku bisa," aku menjawabnya.

"Wanita lebih dahulu." Dengan gerakan tangannya, dia mempersilahkan aku untuk melakuan pull-up terlebih dahulu. Aku menggosok telapak tanganku di pantatku, lalu mengangkat kedua tanganku, meraih palang besi yang ada di atasku. Aku menggenggam palang itu dengan erat, perlahan namun pasti aku mengangkat tubuhku ke atas hingga daguku melewati palang besi itu. Dengan berbekal tehnik yand pernah di ajarkan Will padaku, ketika tubuhku turun ke bawah, aku tarik palang besi dengan menggunakan berat badanku sehingga palang itu sedikit melengkung agar tubuhku lebih mudah naik ke atas pada tarikan berikutnya.

Oh Tuhan! ini rasanya luar biasa! Aku berhasil melakukan dua puluh kali pull-up sebelum tanganku mulai gemetar dan aku nyaris tidak bisa bernafas lagi, akhirnya aku menyerah dan menjatuhkan tubuhku ke lantai.

"Giliranmu." sambil berkacak pinggang aku melihat ke arah Nate, Nate sedang menatapku dengan kagum, lengkap dengan senyuman lebar yang tersungging di wajahnya yang tampan.

"Kenapa?" Aku bertanya padanya kenapa dia menatapku seperti itu.

Walaupun dalam hati aku tahu alasannya. Aku baru saja membuat Nate terkejut setengah mati, begitu pula para pria di ruangan ini, mulut mereka ternganga melihat gadis seperti diriku bisa melakukan pull-up.

"Siapa yang melatihmu?"

"Kakakku." Jawabku sambil lalu, seolah-olah itu bukanlah sesuatu hal yang penting.

"Oke." Jawabnya, masih tersenyum padaku.

Nate melompat dan meraih palang besi itu, dengan mudah Nate menggerakkan badannya yang seksi itu naik turun bergelantungan pada palang besi itu. Ya Tuhan, tangan itu terlihat begitu indah saat otot tangannya bekerja, menyembul keluar, menegang dan mengendur secara teratur.

Sialan! andai saja dia membuka bajunya dan aku bisa melihat dadanya yang bidang. Dengan mudah Nate melakukan empat puluh pull-up.

"Lumayan." Seringaiku. Lalu aku melompat meraih palang besi. Aku menyukai saat otot tangan, bahu dan punggungku bekerja, mulai naik turun, dan akhirnya menyelasaikan dua puluh pull-up lagi.

Tanpa berkata apapun dengan mudah Nate melakukan empat puluh pulls-up.

"Sudah pemanasannya?" Nate bertanya, nafasnya terengah-engah dan keringat mengucur di tubuhnya, membuatku ingin menjilati kulitnya.

"Yup."

"Aku menginginkanmu di Ring."

Dahiku berkerut seolah tak percaya, "Nate, ada banyak orang di sini."

Nate tertawa, meraih tanganku dan menarikku ke ring "Aku juga ingin yang itu, tapi untuk sekarang, aku ingin bertanding denganmu."

Rich menemui kami di sisi ring, memberikan aku pelindung kepala,dan membantuku untuk memasangnya, sementara Nate mengurus dirinya sendiri.

"Tubuh ini mempunyai kekuatan yang tidak bisa diremehkan nona." Rich tersenyum padaku, aku bisa melihat ada pertanyaan yang tak terucap berkecamuk dalam kepalanya yang tampan itu.

"Kakakku bermain untuk Seahawk, dulu dia selalu mengajakku untuk berlatih bersamanya." aku tersenyum padanya saat dia membebat tanganku dengan plester putih.

"Tunggu dulu." Nate menyela. "Kakakmu adalah Will Montgomery, pemain football itu?"

"Yup," Aku menyeringai, "Dia adalah partner yang hebat dalam berlatih, meskipun dia agak brutal"

"Aku tidak tahu itu." Nate terkejut sampai dia berhenti memplester tangannya.

"Kau tidak tahu segalanya Ace. Apakah kau hanya akan berdiri di sana sepanjang hari dengan mulut terbuka, atau kau akan bertindak seperti lelaki sejati, dan membiarkan diriku menendang pantatmu?"

Gemuruh tawa tiba-tiba memenuhi ruangan gym, termasuk Nate. Dengan tidak terduga, Nate meraih bahuku, menarik tubuhku agar lebih dekat dan mencium bibirku dengan kasar. Lalu dia mendorongku, kemudian melanjutkan memplester tangannya.

"Semoga berhasil, Nak. Buat aku bangga." Rich tertawa, lalu keluar dari sisi ring dan melompat ke bawah. Siap untuk melihat pertarungan kami.

Terima kasih, kakak-kakakku, karena telah memaksaku mempelajari seni bela diri dan terima kasih juga karena selalu menghajarku ketika ibuku tidak ada di sekitar kami. Dan sekarang, semua latihan itu akan berguna.

Kami berdua siaga, saling mengamati gerakan lawan, tatapannya tampak mengejekku. Dia berpikir bahwa dirinya akan mengalahkan diriku dengan mudah.

Tentu saja dia akan mengalahkanku, badannya lebih besar dan lebih kuat dariku, Nate juga berlatih dengan baik, namun aku punya beberapa jurus pukulan dan aku yakin, aku pasti bisa mendaratkan beberapa pukulanku kepada dirinya sebelum akhirnya dia dapat merobohkanku.

Aku membiarkan Nate maju terlebih dahulu, aku tahu bahwa dia tidak akan benar-benar memukulku.

Nate mendekat mengayunkan tangannya kearahku, aku menangkis dan menarik tangannya, lalu aku menginjak kakinya, dan memukul perutnya menggunakan sikuku, kemudian mencoba mengunci dan menjatuhkannya, kami bedrua sama-sama terjatuh dengan posisiku berada di atasnya, dengan cepat aku berguling ke samping lalu berdiri.

Para pria yang mengelilingi Ring bersorak, dengan anggun Nate bangkit dari lantai dan berdiri.

"Usaha yang bagus." Dengusnya.

"Terima kasih." Seringaiku.

Beberapa menit telah berlalu dan keadaan masih tetap sama. Aku menggunakan semua jurusku untuk melawannya. Kami tidak saling memukul, hanya saling mencengkram, bergulat untuk saling menjatuhkan dan itulah mengapa ini terasa sangat menyenangkan dan menggairahkan.

Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, Nate menangkap tubuhku, mengcengkramnya dengan kuat, lalu mengangkat tubuhku, dan mendorongku ke sudut ring. Matanya bersinar penuh gairah dan kesenangan, dan kalau aku tidak salah menyimpulkan, aku juga dapat melihat ada sorot kekaguman di sana, ya Nate mengagumiku.

"Kau sangat menggairahkan." Dengan nafas terengah-engah dia berbisik pelan, sehingga hanya aku yang bisa mendengar apa yang dia ucapkan.

"Ayolah McKenna!" Teriak seorang pria berotot berkepala botak. "Berhenti bermain-main dengannya di sudut ring, dan biarkan dia menendang pantatmu yang jelek itu!!"

Aku tertawa dan melingkarkan tangan dan kakiku di tubuh Nate. "Yeah Mckenna," bisikku.

Dengan cepat Nate berputar, dan kamipun bergulat di lantai. Aku berusaha untuk melepaskan diriku darinya, namun Nate mengunci tubuhku, mengangkat panggul dan kakiku ke atas dan aku tahu, aku telah kalah darinya.

"Sial." Aku berguman saat seseorang memasuki ring dan memukul lantai tanda bahwa aku telah kalah. Nate lalu berguling kesamping dan membantuku berdiri, lalu membawa tubuhku dalam pelukannya dan mencium bibirku dengan lembut.

Rich membantuku melepaskan pelindung kepalaku dan membuka plester di tanganku, "Tidak buruk, baby doll."

"Aku mempunyai empat saudara laki-laki. Aku harus belajar melawan mereka, karena ibuku tidak bisa selalu ada untuk menjadi wasit bagi kami." Aku tersenyum pada Rich, aku menyukainya.

Suasana menjadi tenang kembali, para pria sudah kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Tak lama kemudian Nate menghampiri kami "Siap untuk pergi?"

"Tentu saja."

"Kembalilah kapanpun kau mau." Rich memelukku – astaga dia memelukku – lalu dia tersenyum pada Nate "Kau juga boleh datang, jika kau merasa perlu."

"Astaga, terima kasih dad."

***

Perjalanan kami kembali ke apartemen tidak kalah menyenangkan dari perjalanan kami menuju gym. Tubuhku masih terasa lelah karena latihan kami yang cukup berat hari ini. Mesin motor yang bergetar di sela-sela pahahku memberikan kenikmatan tersendiri di area sensitifku. Kupeluk Nate dengan erat, payudaraku menempel di punggungnya dan kutekan pahanya dengan pahaku.

Nate menarik nafas panjang dan mengumpat. Dan aku pun tersenyum "Untung saja ini perjalanan yang singkat."

Sepeda motor Nate memasuki garasi menuju tempat parkir pribadinya. Di lantai basement ini keadaan cukup gelap, penerangan hanya datang dari lampu neon yang nampak terlantar menempel di langit-langit.

Aku turun dari sepeda motor, kami melepaskan helm kami. Dan sebelum Nate sempat menurunkan standar motornya, aku naik kembali, dan berada di pangkuannya.

"Hei." Matanya terbelalak dan Dia meraih pantatku untuk menjaga agar aku tidak jatuh.

"Hei juga." Kusandarkan tubuhku padanya dan menciumnya, kedua tanganku memegang kedua sisi wajahnya, dan nate menarik tubuh agar lebih mendekat, mengegesek bagian sensitifku dengan kejantanannya yang sudah ereksi di balik celana olahraganya.

"Aku menginginkanmu." Desahku di sela-sela ciuman kami.

"Di sini?"

"Tentu saja!"

"Ya Tuhan kau tak pernah berhenti membuatku terkejut babe." Dengan kedua kakinya yang kekar, Nate menopang berat sepeda motornya. Yeah dia memang belum sempat turun dari motor ketika aku menyergapnya tadi dan langsung melingkarkan kakiku di pangkuannya, dan dia juga menopang berat tubuhku. Dengan sekali tarik Nate merobek celana yogaku tepat di area sensitifku. Dan celana dalamku adalah korban berikutnya, sebelum aku tersadar Nate sudah menurunkan celananya dan mengisi rongga sensitifku dengan miliknya.

"Oh Tuhan yeahh." aku berbaring di atas tangki motornya,melebarkan kedua tanganku memegang stang motornya yang seksi. kulingkarkan kakiku di pinggulnya, kedua telapak tangannya yang menopang pantatku dari bawah membantuku untuk menggerakkan panggulku, naik-turun menelusuri kejantanannya yang memberikan kenikmatan luar bisa di rongga sensitifku.

"Sialan baby." Giginya bergemeretak. Dengan salah satu tangannya memberikan stimulus tambahan kepadaku, dengan ibu jarinya Nate memanjakan titik sensitifku dan akhirnya aku pun meledak, cairan kenikmatanku mengalir, tidak lama kemudian Nate meneriakkan namaku, tanda bahwa dia juga telah menemukan kenikmatannya sendiri.

Namaku bergema di tempat parkir, aku tersenyum puas dan menatap matanya yang menggairahkan.

"Aku tak pernah melakukan seks diatas motor sebelumnya." Aku bangkit, melingkarkan tanganku di lehernya dan menciumnya.

Kejantananya masih bersarang di rongga kewanitaanku,Tapi siapapun yang mungkin saja melihat kami, pasti akan berasumsi bahwa kami hanya bercumbu di atas motor.

"Aku juga." ia terkekeh di sela ciuman kami, dia mengangkat tubuhku dan mengeluarkan miliknya dari dalam tubuhku lalu menarik celananya ke atas. Aku sudah berdiri di samping sepeda motornya, aku melepaskan jaketku, dan mengikat lengan jaketku di pinggangku untuk menutupi celana yogaku yang telah dirobek oleh Nate.

"Aku harus belanja minggu ini, kau telah merobek semua pakaianku." Aku tertawa saat kami berjalan memasuki elevator. Nate menarik tubuhku ke pelukannya, dan memelukku erat.

"Akan aku ganti." Nate mengecup keningku.

"Tak perlu, aku tak keberatan."

"Apa kau membawa gaun?"

"Ya, kenapa?"

"Aku ingin mengajakmu keluar malam ini." Nate mengelus punggungku, membuatku merasa mengantuk.

"Okay."

"Bagus, ayo kita mandi."

***

Penerjemah: +Marry Sanders
Editor: +Luke

Poskan Komentar

19 comments

makasih bunbun ma mimin mmuahhh :-*

mauu diatas motor,,,ehh plax

Wow,,, keren!! GIRL POWER..
ini baru cewek metropolis, kaga kalah ma cowo n bsa fight n self defense ;-)

thanx mb marry

hoby nat merobek celana dlam jules ^^~ hehe.. sex di motor wow.. klau di mobil udh biasa kali ini di atas mobil #bolehdicoba kekeke....

Wowwww,, mami tutex... Kaga mo kalah ma yg muda..
*wink-wink bangga..

peace

wow..woww di atas montor...gak takut jatuh ya... :-q

nate... Nate... Tukang main robek celana orang.. Haha... Mana pake bercinta di atas motor. Ekstrim banget deh nih couple..

Weleh baca para komen wes heboh gene ... Ya udah aq baca ... :S

Thanks Bund-bund mas lukiiii *toss
Thanks mas Yudi .....

wow!suka karakter2 cewe mbk prosby!strongernisasi (halah,dikeplak ;s)
mkasi oppa,mas luki,en mbk merry a.k.a bun2 *boleh panggil gt y,smua pd panggil gt soalna ;D*

di atas Motor O.O *ternganga*

OMG !!!!!!!!!!!!....Peeengeeeeenn nyobaaaaaaaaaaa...#plaaaaaaaaaakkk

Thankies Bundbund, masLuk, masYud.... :-*:-*:-*:-*:-*:

awww,,
sesuatu ini nate ama jules

Uuggghhhhhh ya amplop .............

Buka lapak undies lagi ahh..cowoknya pd doyan sobek cd...

Metode baru nich...sexs di atas sepeda motor.
Ehm gimana ya?jd mbayangin nich..
Wah kalau Nate kebiasaannya robek cd sehari bisa merobek 20 biji hehee
Thanks updatenya..nextnya di tunggu

Wow...jd kagum jg neh ma jules; krn bgt sbg cwe...jd bs ngimbangin nate yg luar biasa tuh, ghehe

Gimana rasanya bercinta di atas motor ? :w ,besok coba deh wakakakak

wow gaya baru tuh.
xixixixi
makasih mba marry&bos portnov,
semangat smua,,

:)] :)] tempat baru buat ML !!
mksih mba Marry + Like +mas mimin

Wakkk..........mau dong kalau gitu ....coba ama siapa ya????? kwkwkwkw #plak

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top