17

wd-thumb

KEMATIAN YANG PERLAHAN

Shepley duduk di sampingku di atas bangku di dalam ruangan kecil namun memiliki penerangan yang baik. Itu adalah pertama kalinya aku tidak ingin berjalan keluar menuju basement untuk naik ke dalam ring pertarungan. Penontonnya akan terdiri dari orang-orang mengerikan yang berasal dari Vegas: orang lokal, mafia, pengedar obat-obatan terlarang, dan para wanita pendampingnya. Kerumunan di luar adalah pasukan kegelapan, eksponensial lebih keras, dan jauh lebih haus darah. Aku akan dikelilingi oleh kerangkeng bukannya oleh orang-orang.

"Aku masih berpikir kalau kau seharusnya tidak melakukan ini," kata America dari seberang ruangan.

"Jangan sekarang, sayang," kata Shepley. Dia sedang membantuku membalut tanganku.

"Apakah kau merasa gugup?" tanya America, yang tidak seperti biasanya menjadi pendiam.

"Tidak. Namun aku akan merasa lebih baik kalau Pidge ada di sini. Apakah kau sudah mendengar kabar darinya?"

"Aku akan mengirim SMS padanya. Dia akan datang."

"Apakah dia dulu mencintai Jesse?" tanyaku, ingin tahu apa yang mereka bicarakan pada saat makan malam. Dia jelas bukan pendeta sekarang, dan aku tidak tahu apa yang dia harapkan untuk membalas jasanya.

"Tidak," kata America. "Dia juga tidak pernah mengatakan itu. Mereka tumbuh bersama, Travis. Dia adalah satu-satunya pria yang dapat Abby andalkan pada saat itu."

Aku tidak tahu jika itu membuatku merasa lebih baik atau lebih buruk. "Apakah dia sudah membalas SMS mu?"

"Hey," kata Shepley, memukul pipiku. "hey! Ada Brock McMann yang sedang menunggumu. Pikiranmu harus konsentrasi seratus persen pada ini. Berhentilah bersikap penakut dan fokus!"

Aku mengangguk, berusaha mengingat pertarungan Brock yang aku lihat beberapa kali. Dia dilarang bermain di UFC1 karena memukul lawannya dari belakang dan sebuah rumor yang mengatakan kalau dia mendekati presiden UFC. Itu beberapa waktu yang lalu, namun dia terkenal sebagai petarung yang licik dan dengan terang-terangan mengeluarkan gerakan ilegal saat tidak terlihat oleh wasit. Kuncinya adalah untuk tidak berada dalam posisi itu. Jika dia mengunci kakinya di sekeliling tubuhku, itu akan menjadi buruk dengan cepat.

"Kau harus bermain aman, Trav. Biarkan dia menyerang lebih dulu. Sama seperti saat kau bertarung ketika kau berusaha memenangkan taruhan dengan Abby. Kau bukan bertarung melawan pegulat universitas yang buruk. Ini bukan the Circle, dan kau tidak sedang berusaha untuk menghibur penonton."

"Aku tidak peduli jika aku tidak menghibur."

"Kau harus menang, Travis. Kau bertarung demi Abby, jangan kau lupakan itu."

Aku mengangguk. Shepley benar. Jika aku kalah, Benny tidak akan mendapatkan uangnya, dan Abby akan tetap dalam bahaya.

Pria bertubuh tinggi besar yang memakai jas dengan rambut berminyak berjalan masuk. "Giliranmu. Pelatihmu dapat bergabung bersamamu di luar kerangkeng, sedangkan gadis-gadis…di mana yang satu lagi?"

Sebuah garis terbentuk diantara kedua alisku. "Dia akan datang."

"…Mereka mendapat kursi di ujung baris kedua di dekat sudutmu."

Shepley melihat ke arah America. "Aku akan mengantarmu ke sana." Shepley melihat ke arah pria berjas itu. "Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya. Aku akan membunuh orang pertama yang melakukannya."

Pria berjas itu memberikan senyuman kecil. "Benny sudah mengatakan tidak boleh ada gangguan. Kami akan mengawasinya sepanjang waktu."

Shepley mengangguk, lalu mengulurkan tangannya pada America. America memegang tangan Shepley, dan mereka mengikutiku tanpa bersuara melewati pintu.

Suara pembawa acara bergema dari speaker besar yang ditempatkan di setiap sudut ruangan yang luas. Itu terlihat seperti gedung konser kecil, mampu menampung ribuan orang, dan mereka semua berdiri, ada yang bersorak atau menatapku curiga saat aku berjalan keluar.

Pintu kerangkeng di buka, dan aku melangkah masuk.

Shepley memperhatikan pria berjas tadi mengantar America ke tempat duduknya, dan setelah Shepley merasa yakin kalau America baik-baik saja, dia mengalihkan perhatiannya padaku. "Ingat: bermain pintar. Biarkan dia menyerang terlebih dahulu, dan tujuannya adalah untuk menang demi Abby."

Aku mengangguk.

Tidak berapa lama kemudian, suara musik membahana dari speaker, dan baik itu gerakan ataupun suara dari para penonton yang berdiri menggila. Brock McMann keluar dari lorong saat lampu sorot yang berada di langit-langit menerangi ekspresi kejam di wajahnya. Dia mempunyai orang-orang yang menjaga agar para penonton tetap menjaga jarak sementara dia melompat ke atas ke bawah agar ototnya tetap lemas. Aku rasa dia sudah berlatih untuk pertarungan ini selama beberapa minggu jika tidak satu bulan.

Itu tidak apa-apa. Aku dipukuli oleh kakak-kakakku selama hidupku. Aku sudah berlatih cukup lama.

Aku berpaling untuk melihat America. Dia mengangkat bahunya, dan aku merengut. Pertarungan terbesar dalam hidupku tinggal beberapa menit lagi dimulai, dan Abby tidak berada di sini.

Pada saat aku berbalik untuk melihat Brock memasuki kerangkeng, aku mendengar suara Shepley.

"Travis! Travis! Dia sudah datang!"

Aku berpaling, berusaha mencari-cari Abby, untuk melihatnya berlari menuruni tangga dengan kecepatan penuh. Dia berhenti tidak jauh dari kerangkeng, dan menghempaskan tangannya ke rantai kerangkeng untuk menghentikannya.

"Aku di sini! Aku di sini," dia terengah.

Kami berciuman melalui celah di antara pagar, dan dia mengangkat wajahku menggunakan beberapa jarinya yang muat ke dalam celah itu. "aku mencintaimu." Dia menggelengkan kepalanya. "kau tidak harus melakukan ini, kau tahu."

Aku tersenyum. "Ya, aku harus melakukan ini."

"Ayo cepat, Romeo. Aku tidak punya waktu sepanjang malam," Brock berteriak dari seberang ring.

Aku tidak berpaling, namun Abby memandang ke arah belakang bahuku. Ketika dia melihat Brock, pipinya memerah karena rasa marah, dan ekspresinya berubah dingin. Beberapa saat kemudian, matanya kembali melihat padaku, hangat kembali. Dia tersenyum nakal.

"Beri bajingan itu pelajaran."

Aku mengedipkan satu mataku padanya dan tersenyum. "Apapun untukmu, sayang."

Aku dan Brock bertemu di tengah ring, berhadap-hadapan.

"Bersikap pintar!" teriak Shepley.

Aku mendekat untuk berbisik di telinganya. "Aku hanya ingin kau tahu kalau aku adalah fans beratmu, meskipun kau brengsek dan curang. Maka dari itu, jangan di ambil hati saat kau di KTFO (Knocked the Fuck Out) malam ini."

Rahang kotak Brock menggeretak, dan matanya menyala—bukan karena marah, namun karena tercengang bingung.

Bel berbunyi, dan aku langsung menyerang. Dengan sekuat tenaga, aku membebaskan kemarahan yang sama yang aku keluarkan saat melawan tukang pukulnya Benny.

Brock terhuyung ke belakang, berusaha memposisikan dirinya untuk menahan atau menendangku, namun aku tidak memberinya kesempatan, menggunakan kedua tinjuku untuk menjatuhkannya ke bawah.

Benar-benar menyenangkan untuk tidak menahan diri. Menikmati adrenalin murni yang mengalir di tubuhku, aku lupa diri, dan Brock menghindari pukulanku, bangkit lagi sambil memukul dengan hook kanan. Pukulannya ternyata lebih menggigit dari para amatir yang aku hadapi di kampus—dan itu menyenangkan. Bertarung melawan Brock membawa kembali kenangan tentang perselisihan serius antara diriku dan semua kakakku, saat kata-kata berubah menjadi pukulan.

Aku merasa seperti di rumah saat saling memukul dengan Brock; pada saat itu, kemarahanku memiliki tujuan dan tempat untuk menyalurkannya.

Setiap kali Brock memukul, itu hanya membuat adrenalinku meningkat, dan aku dapat merasakan pukulanku yang sudah bertenaga bertambah kuat.

Dia berusaha menjatuhkanku ke tanah, namun aku dalam posisi sedikit berjongkok, menyeimbangkan diriku dalam menahan gerakan putus asanya untuk menjatuhkanku. Saat dia bergerak tidak terkontrol, kepalan tanganku mengenai kepala, telinga, dan dahinya beberapa kali.

Ketika pembalut putih di telapak tanganku berubah warna menjadi merah tua, aku tidak merasakan sakit, hanya merasa sedikit senang karena dapat melepaskan semua perasaan negatif yang membebaniku sejak lama. Aku ingat betapa menenangkannya saat memukuli anak buahnya Benny. Menang atau kalah, aku ingin melihat akan menjadi orang seperti apa aku nanti setelah pertarungan ini.

Wasit, Shepley, dan pelatih Brock mengelilingiku, menarikku agar menjauh dari lawanku.

"Bel sudah berbunyi, Travis! Berhenti!" kata Shepley.

Shepley menyeretku ke satu sudut, dan Brock ditarik ke sudut yang lain. Aku berpaling untuk melihat ke arah Abby. Dia sedang meremas-remas tangannya, namun dia tersenyum lebar, dan dia meniupkan ciuman padaku. Gerakan itu membuatku kembali bersemangat, dan aku kembali ke tengah ring dengan kebulatan tekad yang baru.

Setelah bel berbunyi, aku menyerang lagi, kali ini lebih sering menghindar sesering aku memukul. Satu atau dua kali, Brock mengunci tubuhku, terengah-engah, dan berusaha untuk menggigit atau menendang kemaluanku dengan lututnya. Aku tinggal mendorongnya agar menjauh lalu memukulnya lebih keras.

Di ronde ke tiga, Brock terhuyung, mengayun atau menendang dan meleset. Dia kehabisan tenaga dengan cepat. Merasa kehabisan napas juga, ada jeda lebih lama dalam setiap ayunan pukulanku. Andrenalin yang tadinya mengalir deras di tubuhku sekarang terasa seperti tersendat, dan kepalaku mulai berdenyut.

Brock memukulku satu kali, lalu satu kali lagi. Aku menahan yang ketiga kalinya, merasa siap untuk mengakhirinya, menghabisinya. Dengan sisa tenagaku, aku menghindari pukulan menggunakan lutut dari Brock lalu berputar, memukulkan sikuku tepat di hidungnya. Kepalanya tersentak ke belakang, melihat lurus ke depan, dia maju beberapa langkah, lalu terjatuh ke tanah.

Suara dari penonton sangat memekakakan telinga, namun aku hanya dapat mendengar satu suara.

"Ya Tuhan! Bagus! Hebat, sayang!" teriak Abby.

Wasit memeriksa Brock, lalu berjalan menghampiriku, mengangkat tanganku. Shepley, America dan Abby diperbolehkan masuk ke dalam kerangkeng, dan mereka mengerumuniku. Aku mengangkat Abby dan menciumnya.

"Kau berhasil," dia berkata, sambil menyentuh wajahku dengan kedua tangannya.

Perayaan itu di akhiri oleh Benny dan penjaga barunya yang memasuki kerangkeng. Aku menurunkan Abby, lalu berdiri dengan posisi melindungi Abby.

Benny hanya tersenyum. "Bagus, Maddox. Kau menyelesaikan masalahnya. Jika kau memiliki waktu sebentar, aku ingin berbicara denganmu."

Aku melihat  ke belakang ke arah Abby, yang memegang tanganku. "Tidak apa-apa. Aku akan menemuimu di pintu keluar," kataku, menunjuk ke arah pintu keluar terdekat menggunakan kepalaku, "dalam sepuluh menit."

"Sepuluh menit?" tanyanya dengan tatapan cemas.

"Sepuluh menit," jawabku, mencium keningnya. Aku melihat ke arah Shepley. "jaga mereka."

"Aku pikir mungkin sebaiknya aku pergi bersamamu."

Aku mendekat ke telinga Shepley. "Jika mereka bermaksud membunuh kita, Shepley, tidak banyak yang dapat kita lakukan tentang itu. Aku pikir Benny mempunyai maksud lain di pikirannya." Aku menjauh dan memukul lengannya. "aku akan menemuimu sepuluh menit lagi."

"Bukan sebelas. Bukan lima belas. Tapi sepuluh menit," kata Shepley, sambil menarik pergi Abby yang merasa enggan.

Aku mengikuti Benny ke ruangan yang sama saat aku menunggu sebelum pertarungan. Membuatku sedikit terkejut, saat dia menyuruh anak buahnya menunggu di luar.

Dia mengangkat tangannya, menunjuk ke sekeliling ruangan. "Aku pikir ini akan lebih baik. Sehingga kau dapat melihat bahwa aku tidak selalu…menjadi orang jahat yang mungkin sudah menjadi takdirku."

Gerakan tubuhnya dan suaranya terdengar tenang, namun aku tetap waspada.

Benny tersenyum. "aku mempunyai proposisi untukmu, nak."

"Aku bukan anakmu."

"Benar," dia membenarkan. "tapi setelah aku menawarkan padamu seratus lima puluh ribu dolar setiap kali bertarung, aku rasa kau mungkin ingin menjadi anakku."

"Pertarungan apa?" tanyaku. Aku pikir dia sedang berusaha mengatakan kalau Abby masih berhutang padanya. Aku tidak menyadari kalau dia sedang menawarkan pekerjaan padaku.

"Kau sangat hebat, pria yang sangat berbakat. Kau memang di takdirkan untuk berada di dalam kerangkeng. Aku dapat mewujudkan itu…dan aku juga dapat membuatmu menjadi pria yang sangat kaya."

"Aku mendengarkan."

Seringai Benny menjadi lebih lebar. "Aku akan menjadwalkan satu pertarungan satu bulannya."

"Aku masih kuliah."

Dia mengangkat bahu. "Kita akan menjadwalkannya agar tidak bentrok. Aku akan memberimu tiket pesawat, dengan Abby jika kau menginginkannya, kelas satu, pada akhir pekan, jika itu yang kau inginkan. Menghasilkan uang sebesar ini, kau mungkin ingin menunda pendidikan kuliahmu."

"Enam digit satu kali bertarung?" Aku menghitungnya, berusaha untuk tidak menunjukan rasa terkejutku. "untuk bertarung dan apa lagi?"

"Hanya itu, nak. Hanya bertarung. Menghasilkan uang untukku."

"Hanya bertarung…dan aku dapat berhenti kapanpun aku menginginkannya."

Dia tersenyum. "Well, tentu saja, tapi aku dapat melihat kalau itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Kau sangat menikmatinya. Aku melihatmu. Kau lupa diri karenanya, saat berada di dalam kerangkeng itu."

Aku berdiri terpaku beberapa saat, merenungkan penawarannya. "Aku akan memikirkannya. Aku akan membicarakannya dengan Abby."

"Cukup adil."

***

Aku meletakkan koper kami di atas tempat tidur lalu berbaring di sampingnya. Aku telah memberitahu Abby tentang penawaran Benny, namun dia tidak mau menerimanya sama sekali. Lalu perjalanan pulang di pesawat menjadi sedikit menegang, sehingga aku memutuskan untuk membiarkannya hingga kita tiba di rumah.

Abby sedang mengeringkan Toto setelah memandikannya. Toto tinggal bersama Brazil, dan Abby merasa tidak tahan pada baunya.

"Oh! Kau lebih wangi sekarang!" dia tertawa cekikikan saat Toto bergoyang, mencipratkan air ke arahnya dan lantai. Toto berdiri di atas kedua kaki belakangnya, mencium wajah Abby dengan ciuman kecil anak anjing. "aku merindukanmu, juga, anjing kecil."

"Pigeon?" tanyaku, dengan gugup memainkan jari-jariku.

"Ya?" jawabnya, sambil mengeringkan Toto dengan handuk kuning di tangannya.

"Aku ingin melakukannya. Aku ingin bertarung di Vegas."

"Tidak boleh," kata Abby, tersenyum pada Toto yang wajahnya terlihat bahagia.

"Kau tidak mendengarkanku. Aku akan melakukannya. Kau akan lihat dalam beberapa bulan ke depan kalau itu adalah keputusan yang tepat."

Dia melihat padaku. "Kau akan bekerja untuk Benny."

Aku mengangguk gugup lalu tersenyum. "Aku hanya ingin menyenangkanmu, Pidge."

Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak menginginkan apapun yang di beli dengan uang itu, Travis. Aku tidak ingin berurusan dengan Benny atau Vegas atau apapun yang berhubungan dengan itu."

"Kau tidak memiliki masalah dengan pemikiran untuk membeli mobil menggunakan uang dari pertarunganku di sini."

"Itu berbeda, dan kau tahu itu."

Aku merengut. "Semua akan baik-baik saja, Pidge. Kau akan melihatnya nanti."

Dia melihatku beberapa saat, lalu pipinya memerah. "Mengapa kau bertanya padaku, Travis? Kau akan bekerja untuk Benny tidak peduli apapun yang aku katakan."

"Aku ingin dukunganmu, tapi ini uang yang terlalu banyak untuk ditolak. Aku gila apabila menolaknya."

Dia terdiam cukup lama, bahunya menjadi terkulai lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu. Kau telah mengambil keputusan."

Bibirku tersenyum lebar. "Kau akan lihat, Pigeon. Semua akan menjadi menyenangkan." Aku bangkit dari tempat tidur, menghampiri Abby lalu mencium jari-jarinya. "Aku lapar. Kau lapar?"

Dia menggelengkan kepala.

Aku mencium garis rambutnya sebelum berjalan ke dapur. Bibirku menyenandungkan sebuah nada gembira dari sebuah lagu saat aku mengambil dua iris roti, salami, dan keju. Ya ampun, dia hampir melewatkannya, pikirku, sambil menekan botol mustard pedas ke atas irisan roti.

Hanya membutuhkan tiga gigitan bagiku untuk menghabiskannya, lalu aku mendorongnya dengan bir, mencari tahu ada apa lagi yang dapat dimakan. Aku tidak menyadari betapa terasa lelahnya tubuhku hingga kami tiba di rumah.  Di samping karena pertarungan, mungkin juga karena merasa gugup. Sekarang setelah Abby mengetahui rencanaku dan itu sudah pasti, rasa gugup itu menghilang hingga membuatku berselera makan lagi.

Abby berjalan dengan cepat menulusuri lorong lalu berbelok di tikungan, dengan koper di tangannya. Dia tidak melihat ke arahku saat dia melintasi ruang tamu menuju pintu.

"Pigeon?" panggilku.

Aku berjalan menuju pintu yang masih terbuka, melihat Abby yang mendekati mobil America.

Ketika dia tidak menjawab, aku berlari kecil menuruni tangga dan melintasi halaman rumput ke tempat Shepley, America dan Abby berdiri.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku, menunjuk ke arah koper.

Abby tersenyum canggung. Sangat terlihat jelas ada yang tidak beres.

"Pidge?"

"Aku membawa barang-barangku ke asrama. Di sana ada mesin cuci dan pengering dan aku memiliki bebrapa pakaian yang harus di cuci."

Aku merengut. "Kau akan pergi tanpa memberitahuku?"

"Dia akan kembali, Trav. Kau sangat paranoid," kata America.

"Oh," jawabku, masih merasa ragu. "Kau akan menginap di sini malam ini?"

"Aku tidak tahu. Aku rasa tergantung kapan cucianku selesai."

Meskipun aku tahu dia mungkin masih merasa tidak nyaman dengan keputusanku tentang Benny, aku membiarkannya, tersenyum, dan menariknya ke arahku. "Dalam tiga minggu, aku akan membayar seseorang untuk mencuci pakaianmu. Atau kau dapat membuang semua pakaian kotormu dan membeli yang baru."

"Kau akan bertarung untuk Benny lagi?" tanya America, terkejut.

"Dia memberikan tawaran yang tidak dapat aku tolak."

"Travis," Shepley memulai.

"Jangan kalian juga. Jika aku tidak merubah pikiranku demi Abby, aku juga tidak akan merubah pikiranku demi kalian."

America berpandang-pandangan dengan Abby. "Well, kalau begitu sebaiknya kita pergi, Abby. Pakaian kotor sebanyak itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk selesai."

Aku membungkuk untuk mencium bibir Abby. Dia menarikku lebih dekat dan menciumku dengan kuat, membuatku merasa sedikit lebih baik tentang ketidak nyamanannya. "Sampai bertemu nanti," kataku, menahan pintu mobil terbuka saat dia duduk di kursi penumpang. "aku mencintaimu."

Shepley mengangkat koper Abby ke dalam mobil America, dan America masuk ke mobilnya, meraih ke samping untuk menarik sabuk pengamannya.

Aku menutup pintu Abby, lalu melipat lenganku di atas dada.

Shepley berdiri di sampingku. "Kau tidak serius akan bertarung untuk Benny, kan?"

"Itu menyangkut uang yang banyak, Shepley. Enam digit sekali bertarung."

"Enam digit?"

"Dapatkah kau menolaknya?"

"Aku akan menolaknya jika aku pikir America akan mencampakkanku karenanya."

Aku tertawa satu kali. "Abby tidak akan mencampakanku karena ini."

America mundur keluar dari tempat parkir, dan aku melihat airmata menetes di pipi Abby.

Aku berlari ke arah jendelanya, mengetuk kacanya. "Ada apa, Pidge?"

"Cepat pergi, Mare," dia berkata dengan suara yang tidak terdengar olehku, sambil mengusap matanya.

Aku berlari mengikuti di samping mobil, memukulkan telapak tanganku di kaca. Abby tidak mau melihat ke arahku, dan rasa takut menusuk tulangku. "Pigeon? America! Hentikan mobilnya! Abby, jangan lakukan ini!"

America berbelok ke jalan raya dan menginjak pedal gas.

Aku berlari mengikuti mereka, namun ketika mobilnya hampir tidak kelihatan, aku berbalik dan berlari menuju motorku. Aku mengodokan tanganku ke dalam saku untuk mencari kuncinya sambil berlari, dan aku melompat ke atas motorku.

"Travis, jangan," Shepley memperingatkan."

"Dia akan meninggalkanku, Shep!" teriakku, aku baru saja menyalakan mesin motorku sebelum memutar gas seratus delapan puluh derajat, dan melesat di jalanan.

America baru saja menutup mobilnya saat aku tiba di tempat parkir asrama. Aku hampir menjungkalkan motorku saat berhenti karena tidak berhasil menurunkan standar motornya pada usaha pertama. Aku berlari menghampiri mobil America dan menarik pintu penumpang hingga terbuka. Gigi America menggeretak, bersiap untuk menerima apapun yang akan aku lakukan padanya.

Aku melihat ke arah asrama, mengetahui kalau Abby berada di suatu tempat di dalam sana. "Kau harus membiarkanku masuk, Mare," aku memohon.

"Maafkan aku," katanya. Dia memundurkan mobilnya lalu keluar dari tempat parkir.

Pada saat aku berlari menaiki tangga, melompati dua anak tangga sekaligus, seorang gadis yang tidak aku lihat sebelumnya sedang berjalan keluar. Aku menahan pintunya,namun dia menghalangi jalanku.

"Kau tidak boleh masuk kemari tanpa pendamping."

Aku mengeluarkan kunci motorku dan mengoyang-goyangkannya di depan wajahnya. "Kekasihku, Abby Abernathy, meninggalkan kunci mobilnya di apartmentku. Aku hanya mengantarkannya."

Melompati beberapa anak tangga sekaligus, akhirnya aku tiba di lantai Abby dan pintu kamar asramanya. Aku menarik napas dalam beberapa kali. "Pidge?" kataku, berusaha tetap tenang. "kau harus membiarkanku masuk, sayang. Kita akan membicarakan ini."

Dia tidak menjawab.

"Pigeon, aku mohon. Kau benar. Aku tidak mendengarkanmu. Kita dapat duduk dan mendiskusikan ini lebih lanjut, ok? Aku hanya…aku mohon buka pintunya. Kau menakutiku setengah mati."

"Pergilah, Travis," kata Kara dari balik pintu.

Aku menggedor pintu dengan bagian damping kepalan tanganku. "Pidge? Buka pintunya, sialan! Aku tidakakan pergi hingga kau berbicara padaku! Pigeon!"

"Apa?" Kata Kara geram, sambil membuka pintu. Dia mendorong kacamatanya ke atas, dan mendengus. Untuk ukuran gadis mungil, dia memiliki ekspresi wajah yang kejam.

Aku menhela napas, merasa lega karena setidaknya aku dapat bertemu dengan Abby. Melihat melewati bahu Kara, Abby tidak terlihat.

"Kara," kataku, berusaha tetap tenang. "Katakan pada Abby aku harus bertemu dengannya. Tolonglah."

"Dia tidak ada di sini."

"Dia ada di sini," kataku, dengan cepat kehilangan kesabaranku.

Kara bergeser. "Aku belum bertemu dengannya malam ini. Aku belum bertemu dengannya sejak beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya."

"Aku tahu dia di sini!" teriakku. "Pigeon?"

"Dia tidak…Hey!" kata Kara, memekik saat aku menabrak bahunya saat melewatinya.

Pintu membentur dinding. Aku menarik pegangan pintu dan melihat ke balik pintu, lalu ke dalam leamri, bahkan ke bawah tempat tidur. "Pigeon! Dimana dia?"

"Aku belum melihatnya!" Kara berteriak.

Aku berjalan kembali ke lorong, melihat ke kedua arah, dan Kara membanting pintu di belakangku, diikuti oleh suara klik kunci pintu.

Dinding terasa dingin di punggungku, dan aku menyadari aku tidak memakai mantel. Perlahan merosot ke bawah dari tembok balok beton ke bawah, aku menutup wajahku dengan tangan. Dia mungkin membenciku saat ini, namun dia akan pulang pada akhirnya.

Setelah dua puluh menit, aku mengeluarkan handphone ku dan mengirimkan satu sms padanya.

Pidge, aku mohon. Aku tahu kau merasa kesal, tapi kita masih dapat membicarakannya.

Lalu satu sms lagi.

Aku mohon pulanglah.

Lalu satu lagi.

Aku mohon. Aku mencintaimu.

Dia tidak membalasnya. Aku menunggu setengah jam, lalu mengirim sms lagi padanya.

Aku di asrama maukah kau setidaknya meneleponku untuk memberitahuku apakah kau akan pulang malam ini?

Pigeon aku benar-benar menyesal. Kumohon pulanglah. Aku ingin bertemu denganmu.

Kau tahu bukan aku satu-satunya yang tidak masuk akal di sini. Kau setidaknya bisa membalas smsku. Aku tidak patut mendapatkan ini ok memang aku brengsek karena berpikir aku dapat menyelesaikan masalah kita dengan uang tapi setidaknya aku tidak pergi setiap kali kita mempunyai masalah.

Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu.

Apa yang kau ingin aku lakukan? Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan ok? Aku mohon bicaralah padaku.

Ini omong kosong

Aku jatuh cinta padamu. Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa pergi begitu saja.

Sesaat sebelum matahari terbit, ketika aku merasa yakin aku telah mempermalukan diriku sendiri dan Abby mungkin sekarang merasa yakin kalau aku gila, aku bangkit berdiri dari lantai. Fakta bahwa keamanan tidak pernah muncul untuk mengusirku keluar adalah luar biasa, namun jika aku masih duduk di lorong saat gadis-gadis mulai pergi kuliah, keburuntungan itu mungkin akan hilang.

Setelah aku berjalan dengan susah payah menuruni tangga dalam kekalahan, aku duduk di atas motorku, dan meskipun hanya sebuah kaos yang berada di antara kulitku dengan udara yang sangat dingin, aku mengacuhkannya. Berharap bertemu Abby di kelas sejarah, aku langsung pulang ke rumah untuk mencairkan kulitku yang beku di bawah pancuran air panas.

Shepley bediri di ambang pintu kamarku saat aku berpakaian.

"Apa yang kau inginkan, Shep?"

"Apakah kau berbicara dengannya?"

"Tidak."

"Sama sekali? SMS? Atau apapun?"

"Aku bilang tidak," bentakku.

"Trav." Shepley menghela napas. "dia mungkin tidak akan kuliah hari ini. Aku tidak ingin aku dan America berada di tengah-tengah ini, tapi itu yang dia katakan."

"Mungkin dia akan kuliah," jawabku, mengencangkan ikat pinggangku. Aku menyemprotkan cologne favorit Abby, lalu mengenakan mantelku sebelum mengambil tas ranselku.

"Tunggu, aku akan mengantarmu."

"Tidak usah, aku akan naik motor."

"Kenapa?"

"Siapa tahu dia akan setuju untuk kembali bersamaku ke apartment sehingga kami dapat membicarakannya."

"Travis, aku rasa sudah waktunya kau memikirkan kenyataan kalau mungkin dia tidak—"

"Tutup mulutmu, Shep," aku berkata, sambil menatapnya. "hanya untuk satu kali ini, jangan bersikap masuk akal. Jangan mencoba untuk menyelamatkanku. Cukup hanya menjadi temanku saja, ok?"

Shepley mengangguk satu kali. "Baiklah."

America keluar dari kamar Shepley, masih mengenakan piyamanya. "Travis, sudah waktunya untuk membiarkannya pergi. Dia sudah merasa cukup pada saat kau mengambil keputusan kau akan bekerja untuk Benny."

Ketika aku tidak menjawab, dia melanjutkan, "Travis…"

"Jangan. Jangan merasa tersinggung, Mare, tapi aku bahkan tidak ingin melihatmu saat ini."

Tanpa menunggu jawaban, aku membanting pintu di belakangku. Bersandiwara sepadan hanya untuk sedikit melampiaskan rasa cemas yang aku rasakan karena akan bertemu dengan Abby. Lebih baik dari pada bersujud dengan panik untuk memohon padanya agar kembali di tengah-tengah kelas. Bukan berarti aku tidak akan melakukan sejauh itu jika itu yang harus dilakukan untuk merubah pikirannya.

Berjalan dengan perlahan menuju kelas bahkan naik menggunakan tangga tidak mencegahku datang setengah jam lebih awal. Aku harap Abby akan datang, dan kami akan bicara sebelum masuk kelas, namun ketika kelas sebelumnya keluar, dia masih belum datang.

Aku duduk, di samping tempat duduknya yang kosong, dan memainkan gelang kulitku saat mahasiswa lain masuk ke dalam kelas san duduk di kursinya. Ini hanya hari biasa bagi mereka. Memperhatikan dunia mereka tetap berputar sementara duniaku berakhir sangatlah menggangguku.

Kecuali bagi beberapa orang lambat yang menyelinap di belakang Mr. Chaney, semua orang sudah di absen—semua orang kecuali Abby.Mr. Chaney membuka bukunya, menyapa semua yang ada di kelas, lalu memulai pelajarannya. Semua kata-katanya tidak terdengar jelas saat jantungku mengetuk-ngetuk dadaku, semakin membengkak pada setiap tarikan napas. Gigiku menggeretak dan mataku berkaca-kaca saat membayangkan Abby yang sedang berada di tempat lain, yang merasa lega karena berada jauh dariku, meningkatkan amarahku.

Aku bangkit berdiri dan menatap meja kosong Abby.

"Ehm…Mr. Maddox? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Mr. Chaney.

Aku menendang meja Abby lalu mejaku, tanpa menghiraukan pekikan dan rasa terkesiap semua mahasiswa yang melihat.

"SIALAN!" teriakku, menendang mejaku satu kali lagi.

"Mr. Maddox," Mr. Chaney berkata dengan nada yang anehnya tenang. "Aku rasa sebaiknya kau mencari udara segar."

Aku berdiri di atas yang terguling, terengah-engah.

"Keluar dari kelasku, Travis. Sekarang juga," kata Chaney, kali ini dengan suara yang lebih tegas.

Aku mengambil tas ranselku dari lantai dan mendorong pintu hingga terbuka, mendengar suara kayu membentur dinding di belakangnya.

"Travis!"

Satu-satunya detail yang aku tahu tentang suara itu adalah kalau itu suara perempuan. Aku berbalik, untuk sepersekian detik berharap kalau itu adalah Abby.

Megan berjalan dengan santai di lorong, berhenti di sampingku. "Aku pikir kau ada kelas?" dia tersenyum. "membuat seseorang merasa senang akhir pekan ini?"

"Apa yang kau inginkan?"

Dia mengangkat satu alisnya, matanya berbinar karena menyadari sesuatu. "Aku mengenalmu. Kau sedang merasa kesal. Semua tidak berjalan lancar dengan si biarawati itu?"

Aku tidak menjawab.

"aku sudah memperingatkanmu." Dia mengangkat bahunya, lalu maju satu langkah lebih dekat, berbisik begitu dekat di telingaku hingga bibir penuhnya menyentuh telingaku. "kita ini sama, Travis: tidak cocok untuk semua orang."

Mataku menatap tajam padanya, turun ke bibirnya, lalu kembali. Dia mendekat dengan senyum khasnya, senyum seksinya.

"Pergilah, Megan."

Senyumnya menghilang, dan aku berjalan pergi.

***

Penerjemah: +Cuma Oseu
Edit: +portalnovel 

Poskan Komentar

17 comments

Travis...mulai cari emosi lagi

huaaaa ud mulai ni kang travis bikin nangis darah..
makasiii teeh oseu,,aa yudi #tsaahh aa

Dapet 3 hari ini ​​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ŧђąηk.{^⌣^}.¥ou•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶.

mas Yud, tampilan web version skrg kinda weird yah menurut aku... terlalu too much, jadi semua cerita keliatan di awal, trus kalo gitu mah aku ga perlu dong buka tiap postingan? :w

but teteh thank you :m mas yud juga thanks~

mas yud, my bad hehe, I did sumthin wif my firefox so that was the effect. um.. don't worry anyway :t

teteh semangat :-p

@Helda Ayuhaduh, udh kalang kabut buru2 buka pc ternyata eh ternyata wkwk :r

Trimakasih mbk oesu, sudah aku tunggu2 .. Makasih mas yudi hehe

Dah mulai bkn nyesek neh...nextnya g pke lm yah, hehe...mksh...

Mendebarkan bacanya...

Mendebarkan bacanya...

kesel bgt ma abby,travis berbuat gt kan krn terlalu cinta ma dia,bener kt travis ,ada apa2 itu mbok di bicarain bgs2 to mbak abby...maen minggat aje

Wowww akhirnya travis lg, la lg lg yaaaa

Goooddddd morninggggggg :y
Makasih sist Oseu & masku :E

thanks sist oseu... Ada apa dg travis, kenapa postingan travis paling lama diupdate? Padahal pengen juga updateannya 2 malam sekali... Tpi sepertinya khusus untuk travis. Rasanya lamaaaaaa banget..
Apalagi nih dah masuk ke bab bab dimana galaunya travis ditinggal pigeon-nya.. Huwaaaa sempek nangis klo dibagian scene abby ninggalin travis kayak gt... Thanks mas yudi, thanks PN thanks angels

Ooo travis.makasih sista oesu n mas yudi

Ooo travis.makasih sista oesu n mas yudi

duh, aku telat banget bacanya.. kemana aja sih aku?.
baru2 ini aku pernah nonton acara di TV judulnya "ONE FC (Fighting Championship)". pertandingannya emang serem banget. aku takut salah-satunya ada yang mati. mereka tonjok2an sampe wajahnya berdarah-darah, boleh tendang pake kaki juga, terus gulat2an saling ngunci. kasihan.. gak tega ngeliatnya.. :-y
hm, mungkin seperti itulah ya gambaran pertandingan travis.
eh, sini deh trav, aku bisikin.. sebenarnya abby ada di kamar asrama america.. ;;)
makasih mas yudi.. makasih teteh oseu.. :e

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top