17

the-edge-thumb

Camryn membangunkanku pagi harinya dengan menyesuaikan kepalanya di atas pangkuanku di kursi depan mobil.

"Dimana kita?" dia bertanya, sambil bangun, matahari bersinar melalui kaca mobil dan berkumpul di bagian dalam pintunya.

"Sekitar setengah jam dari New Orleans," kataku, menggapai bagian belakangku dan memijat otot kendor di punggungku.

Kami kembali ke jalan raya tadi malam setelah meninggalkan ladang dan bermaksud untuk mengemudi ke New Orleans, tapi aku sudah sangat lelah aku hampir tertidur di roda kemudi. Dia tertidur lebih dulu. Jadi, aku menepi ke sisi jalan, membaringkan bagian belakang kepalaku, dan tertidur. Aku bisa saja tidur lebih nyaman di kursi belakang sendirian, tapi aku lebih baik kaku di pagi hari jika itu berarti aku ada di sampingnya saat aku bangun.

Bicara tentang kaku...

Aku menggosok mataku dan bergerak untuk melenturkan beberapa otot. Dan untuk memastikan celana pendekku cukup longgar agar kejelasan kemaluan kerasku tidak terang-terangan berbicara.

Camryn menggeliat dan menguap kemudian menaikkan dan menyangga kaki telanjangnya di atas dashboard. Menyebabkan celana pendeknya naik jauh melewati pahanya.

Bukan sesuatu yang baik di pagi hari.

"Kau pasti benar-benar lelah." katanya, mendorong jemarinya melalui rambutnya untuk mengurai kepangannya.

"Ya, jika aku mencoba untuk mengemudi lebih lama kita pasti berakhir menabrak sebuah pohon."

"Kau harus mulai membiarkanku mengemudi, Andrew, atau—"

"Atau apa?" aku menyeringai padanya. "Kau akan merengek dan membaringkan kepalamu di pangkuanku dan bilang kumohon?"

"Semalam itu berhasil bukan?

Dia punya maksud.

"Dengar, aku tidak masalah jika kau mengemudi," aku memandangnya dan kemudian menyalakan mesin, "Aku janji, setelah New Orleans, kemanapun kita pergi, aku akan membiarkanmu mengemudi untuk sementara, OK?"

Senyum memaafkan manisnya menyinari wajahnya.

Aku kembali ke jalan raya setelah sebuah SUV lewat dengan cepat dan Camryn kembali mendorong  jemarinya melalui rambutnya. Kemudian dia mulai menjalin rambutnya kembali menjadi kepangan yang lebih rapi dengan sangat cepat dan tanpa harus melihat, yang aku tak habis pikir bagaimana sesuatu seperti itu berhasil di lakukan.

Mataku tetap menyusuri kaki telanjangnya.

Aku benar-benar perlu berhenti melakukan hal itu.

Aku berpaling dan memandang keluar kaca di sampingku, bolak-balik antara itu dan kaca depan mobil.

"Kita juga harus menemukan tempat laundry otomatis segera." Katanya, menjepitkan pita karet di sekitar bagian ujung rambutnya. "aku sudah kehabisan baju bersih."

Aku sedang menunggu sebuah kesempatan untuk 'menyesuaikan diriku' dan ketika dia melihat ke bawah ke tas kecilnya, aku mengambilnya.

"Apakah itu benar?" dia bertanya, melihat ke arahku dengan satu tangan di tas kecilnya.

Aku menjauhkan tanganku dari pangkuanku, berpikir bangun dengan penampakan seperti ini tidak ada apa-apanya daripada membuat celana pendekku lebih nyaman saat dia berkata, "Bahwa semua pria mendapat ereksi di pagi hari?"

Mataku membesar di wajahku. Aku hanya melihat keluar kaca depan mobil.

"Tidak setiap pagi." kataku, tetap mencoba untuk tidak melihat ke arahnya.

"Apa, hanya pada hari selasa dan jumat atau sesuatu seperti itu?"

Aku tahu dia tersenyum kepadaku, tapi menolak untuk menerimanya.

"Apa sekarang hari selasa atau Jumat?" dia menambahkan, mengejekku.

Akhirnya aku melihatnya.

"Ini jumat," aku berkata simpel.

Dia menghela napas.

"Aku bukan pelacur, atau apapun," katanya, menurunkan kakinya dari dashboard, "dan aku yakin kau tidak memikirkan itu saat kau adalah satu-satunya yang mendorongku untuk lebih terbuka dengan masalah seksualitasku dan yang aku inginkan," suaranya menggantung. Ini adalah jika dia menungguku untuk membenarkan apa yang baru dia bilang, sepertinya dia masih menghawatirkan apa yang aku pikirkan tentangnya.

Aku menatap tepat di matanya. "Tidak, aku tidak akan pernah menganggapmu pelacur meskipun kau sedang menyetubuhi segerombol laki-laki, yang kemudian aku harus di penjara karena aku akan menghajar mereka semua—tapi tidak, kenapa kau mengatakan hal ini?"

Dia merona dan aku bersumpah pundaknya hampir naik ke sekitar pipinya.

"Well, aku hanya berpikir..." dia tetap tidak yakin jika dia ingin mengatakan itu, apapun itu.

"Apa yang pernah aku katakan padamu, babe? katakan apa yang ada di pikiranmu."

Dia mengangkat dagunya dan melihat ke arahku, "Well, sejak kau melakukan sesuatu kepadaku, aku pikir aku dapat melakukan sesuatu untukmu." dia mengubah intonasinya lebih cepat setelah itu, seolah tetap mengkhawatirkan apa yang aku pikirkan.

"maksudku, tanpa pamrih, tentu saja. Ini akan seperti tidak pernah terjadi."

Ah, sialan! kenapa aku tidak melihat hal itu datang?

"Tidak." kataku spontan.

Dia mengernyit.

Aku melembutkan wajahku dan suaraku. "Aku tidak dapat membiarkanmu melakukan sesuatu seperti itu padaku, oke?

"Kenapa tidak?"

"Aku hanya tidak bisa—Oh Tuhan, aku ingin, kau tidak tahu, tapi aku hanya tidak bisa."

"Itu bodoh."

Dia semakin serius.

"Tunggu..." dia menatapku menyelidik dan mengubah wajahnya menjadi seorang malaikat, "kau punya beberapa jenis 'masalah' di bawah sana?"

Mulutku terbuka. "ummm, tidak?" kataku dengan mata lebar. "Sial, aku akan mengeluarkannya dan menunjukkannya padamu."

Dia melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa dan kemudian mulai serius lagi:

"Well kau tidak mau berhubungan seks denganku, kau tidak mau membiarkanku membuatmu klimaks dan aku harus memaksamu untuk menciumku."

"Kau tidak memaksaku."

"Kau benar." bentaknya. "Aku merayumu."

"Aku menciummu karena aku ingin." kataku. "Aku ingin melakukan semuanya denganmu, Camryn. Percayalah! dalam beberapa hari aku sudah membayangkan posisi denganmu lebih dari yang ada di kamasutra. Aku ingin—" aku menyadari buku jariku memutih di kemudi.

Dia terlihat terluka, tapi kali ini aku tidak menyerah.

"Aku beritahu padamu," kataku dengan hati-hati. "aku tidak bisa melakukan sesuatu seperti itu denganmu atau—"

"Atau aku harus membiarkanmu memilikiku." dia menyelesaikan kalimatku dengan marah, "Ya, aku ingat apa yang kau katakan, tapi apa maksudnya itu sebenarnya: membiarkanmu memilikiku?"

Aku kira Camryn tahu apa arti sebenarnya dari itu, tapi dia ingin memastikannya sendiri.

Tunggu dulu...dia bermain permainan denganku; salah satunya atau dia tetap tidak tahu apa yang diinginkan, secara seksual atau sebaliknya dan dia hanya bingung dan enggan sepertiku.

***

CAMRYN

Dia berhasil melewati ujianku. Aku berbohong jika aku bilang aku tidak  ingin berhubungan seks dengannya, atau memuaskannya dengan cara lain seperti yang dia lakukan untukku-aku sepenuhnya ingin melakukan semua hal itu dengannya. Tapi sebenarnya aku ingin melihat jika dia akan mengambil umpan itu. Dia tidak melakukannya.

Dan sekarang aku takut padanya.

Aku takut pada apa yang aku rasakan tentang dirinya. Aku tidak seharusnya merasakan hal itu dan aku membenci diriku untuk itu.

Aku bilang aku tak akan pernah melakukan itu. Aku berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan....

Mencoba untuk memperoleh kembali keceriaan yang normal dalam percakapan kami, aku tersenyum lembut padanya. Semua yang ingin aku lakukan adalah menarik kembali penawaran itu dan kembali ke bagaimana kami sebelumnya, sebelum aku mengungkitnya, kecuali dengan pengetahuan yang aku miliki sekarang: Andrew Parrish menghargai dan menginginkanku dengan cara yang kukira tidak bisa aku berikan padanya.

Aku membawa lututku mendekat padaku, menyangga telapak kakiku di atas kursi. Aku tidak ingin dia menjawab pertanyaan terakhirku: Apa maksudnya untuk membiarkan dia memilikiku? Aku berharap dia melupakan semua yang aku tanyakan.

Aku sudah tahu apa artinya, atau setidaknya aku pikir aku tahu: memilikiku berarti bersamanya, dengan cara aku bersama Ian. Kecuali dengan Andrew aku percaya di dalam hatiku bahwa aku dapat jatuh cinta dengannya, cinta sejati. Dengan mudahnya aku bisa. Aku tidak bisa tahan membayangkan berada jauh darinya. Semua wajah yang ada di mimpiku sehari-hari sudah di gantikan dengan wajahnya. Dan aku takut perjalanan kami akan berakhir, ketika dia kembali ke Galveston atau ke Wyoming dan meninggalkan aku.

Kenapa itu menakutiku? dan darimana perasaan sakit yang melubangi perutku ini datang secara tiba-tiba?

"Maafkan aku, babe, sungguh. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tidak dengan cara apapun."

Aku memandang ke atas kemudian ke arahnya dan kemudian menggelengkan kepalaku dengan keras. "Kau tidak pernah menyakitiku. tolong jangan berpikir kau menyakitiku."

Aku melanjutkan.

"Andrew, kebenarannya adalah..." aku menghirup napas yang sangat dalam. Dia kesulitan menjaga matanya tetap di jalan sekarang. "Kebenarannya adalah aku—well, pertama-tama, aku tidak ingin berbohong dan mengatakan bahwa menyenangkanmu bukanlah sesuatu yang tidak ingin aku lakukan, aku ingin melakukannya. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku senang kau menolakku."

Aku pikir dia mengerti. Aku dapat melihatnya di matanya.

Dia tersenyum lembut dan menggapaiku. Aku meraihnya dan berpindah ke sisinya dan dia membungkuskan lengannya di sekitar pundakku. Aku mengangkat daguku untuk melihatnya dan menyapukan jemariku di pahanya.

Dia sangat mempesona bagiku...

"Kau menakutiku." aku akhirnya berbicara.

Pengakuanku memunculkan reaksi samar di matanya.

"Aku bilang aku tidak akan pernah melakukan hal itu; kau harus mengerti. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah dekat dengan orang lain lagi."

Aku merasa lengannya menegang di sekitar pundakku dan denyut jantungnya bertambah kecepatannya; berdebar dengan cepat terhadap sisi tenggorokanku.

Kemudian sebuah seringaiaan meluncur melewati mulutnya dan dia berkata, "Apakah kau jatuh cinta denganku, Camryn Bennett?"

Aku super merona dan menekan bibirku menjadi garis keras, menekan mukaku lebih dalam terhadap otot dadanya yang keras.

"Belum." kataku dengan sebuah senyum di suaraku. " tapi aku mulai ke sana."

"Kau penuh dengan omong kosong." katanya, meremas lenganku sedikit lebih erat.

Dia mencium puncak kepalaku.

"Ya, aku tahu." kataku dengan nada bercanda yang sama dalam suaraku seperti suaranya dan kemudian suaraku memelan.

"Aku tahu..."

***

Aku mendapatkan pemandangan sekilas New Orleans yang pertama kali dari jauh: danau Pontchartrain dan akhirnya pemandangan yang luas dari cottages dan townhouse dan bungalows. Aku mengaguminya: mulai dari Superdome, yang selalu akan aku kenali setelah melihat seluruh berita selama musim Katrina, pepohonan ek raksasa yang luas dan menyeramkan dan indah dan tua, dan orang-orang yang berjalan di sepanjang perempatan jalan French, meskipun aku pikir kebanyakan dari mereka adalah turis.

Dan saat kami berkendara, aku terpesona oleh balkon yang familiar, yang menyelimuti di sekitar bangunan. Mereka terlihat mirip seperti di TV, kecuali bahwa Mardi Gras tidak terjadi dan tidak ada satupun yang mempertontonkan payudara mereka atau melempar manik-manik dari balkon.

Andrew tersenyum padaku, melihat bagaimana tertariknya aku berada di sini.

"Aku sudah menyukainya." kataku, meringkuk kembali di sampingnya setelah aku hampir menekan wajahku di jendela memandang segala sesuatu untuk beberapa menit terakhir.

"Ini adalah kota yang hebat." dia berseri-seri, bangga; aku memikirkan seberapa intim dia dengan tempat ini.

"Aku mencoba untuk datang setiap tahun," katanya "biasanya setiap Mardi Gras, tapi setiap waktu di sepanjang tahun juga bagus, kupikir."

"Oh, jadi kau biasanya datang ketika ada payudara." aku berkedip padanya.

"Aku mengaku!" katanya, memindahkan tangannya dari kemudi dan mengangkatnya ke atas tanda menyerah.

Kami mendapatkan dua kamar di Holiday Inn dalam jarak berjalan kaki dekat dengan Bourbon Street yang terkenal. Aku hampir bilang padanya untuk mengambil satu kamar saja dengan dua tempat tidur kali ini, tapi aku menghentikan diriku. Tidak Camryn, kau hanya termakan gairah. Jangan satu kamar dengannya. Hentikan ini saat kau masih bisa.

Dan untuk sesaat kami berdiri berdampingan di depan konter ketika staf reservasi bertanya bagaimana dia bisa 'membantu kami', Andrew diam sebentar dan aku merasakan perasaan aneh dari kediamannya itu. Tapi kami berakhir dengan kamar utama yang berdampingan, seperti biasanya.

Aku berjalan mendekati kamarku dan dia berjalan ke kamarnya. Kami melihat satu sama lain di lorong dengan kunci kami di tangan kami.

"Aku akan ada di kamar mandi," katanya, memegang gitar di satu tangan. "tapi kapanpun kau siap, masuklah dan beritahu aku."

Aku mengangguk dan kami saling tersenyum sebelum kami menghilang ke dalam ruangan kami.

Tidak sampai lima menit di dalam dan aku mendengar telponku berdering di dalam tas kecilku. Sangat yakin itu adalah ibuku, aku mengeluarkannya dan bersiap-siap untuk menjawabnya dan memberitahunya bahwa aku masih hidup dan mengalami waktu yang menyenangkan, tapi aku melihat itu bukan dia.

Itu Natalie.

Tanganku membeku di sekitar telponku saat aku melihat layar yang berkedip-kedip. Haruskah aku menjawabnya, atau tidak? well, lebih baik aku mencari tahu secepatnya.

"Halo?"

"Cam?" Natalie menjawab dengan suara hati-hati.

Aku belum bisa mengeluarkan kata-kata. Aku tidak yakin jika waktu cukup lama yang sudah berlalu aku harus berpura-pura memaafkan, atau harus bersikap baik.

"Apa kau di sana?" dia bertanya ketika aku tidak mengatakan apa-apa.

"Iya, Nat, aku di sini."

Dia mendesah dan membuat rengekan aneh, suara yang selalu dia lakukan saat dia gugup tentang sesuatu yang akan di katakan atau lakukan.

"Aku benar-benar brengsek." katanya "Aku tahu itu dan aku adalah sahabat yang mengerikan dan aku harus menyembah di kakimu sekarang juga untuk ampunanmu, tapi..well, itulah rencananya, tapi ibumu bilang kau sedang di... Virginia? Apa yang kau lakukan di Virginia?"

Aku menjatuhkan tubuhku di tempat tidur dan melepaskan sandal jepitku.

"Aku bukan di Virginia," kataku, "tapi jangan beritahu ibuku atau siapapun."

"Jadi kalau begitu dimana kau? dan dimana kau berada dalam satu minggu ini?"

Wow, apakah ini hanya satu minggu? aku merasa seperti aku sudah berada di jalan dengan Andrew setidaknya selama sebulan.

"Aku di New Orleans, tapi ceritanya panjang."

"Ummm, jadi, hall-o?" dia berkata sarkastik. "Aku punya banyak waktu."

Aku langsung jengkel dengannya, aku mendesah dan berkata, "Natalie, kau yang meneleponku. Dan jika aku benar, kau yang memanggilku pembohong dan tidak mempercayaiku saat aku bilang padamu apa yang Damon lakukan. Maafkan aku, tapi aku tidak berpikir, kembali menjadi sahabat baik dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, adalah hal terbaik sekarang ini."

"Aku tahu, kau benar dan maafkan aku." dia berhenti untuk mengumpulkan pikirannya dan aku dapat mendengar kaleng minuman terbuka. Dia menyesapnya sedikit. "Aku bukannya tidak mempercayaimu, Cam, aku hanya benar-benar terluka. Damon adalah bajingan. Aku mencampakkannya."

"Kenapa? Karena kau menangkapnya berselingkuh dan bertindak sebaliknya daripada mempercayai sahabatmu sejak kelas dua ketika dia memberitahumu pria itu adalah bajingan?"

"Aku pantas mendapatkannya." katanya,

"Tapi tidak, aku tidak menangkapnya berselingkuh. Aku hanya menyadari aku merindukan sahabatku dan aku telah melakukan kejahatan terburuk yang melanggar Kode Sahabat. Aku akhirnya menghadapi dia, dan tentu saja dia berbohong, tapi aku terus mengomel padanya tentang itu karena aku ingin dia mengakuinya padaku. Bukan karena aku menginginkan validasi darinya, tapi aku hanya...Cam, aku hanya ingin dia memberitahuku yang sebenarnya. Aku ingin itu keluar dari mulutnya."

Aku mendengar rasa sakit dalam suaranya. Aku tahu maksud yang dia katakan dan aku berniat untuk sepenuhnya memaafkannya, tapi aku belum siap membiarkannya mengetahui aku cukup memaafkannya untuk memberitahunya tentang Andrew. Aku tidak tahu apa ini, tapi seakan-akan satu-satunya orang yang ada di duniaku sekarang ini adalah Andrew. Aku menyayangi Natalie sepenuh hati, tapi aku belum siap untuk dia mengetahuinya. Aku belum siap untuk berbaginya dengannya. Dia punya cara dalam...merendahkan pengalaman. Jika itu adil untuk dikatakan.

"Dengar Nat," kataku. "Aku tidak membencimu dan aku ingin memaafkanmu, tapi ini butuh waktu; kau benar-benar menyakitiku."

"Aku mengerti." katanya, tapi aku juga menemukan kekecewaan dalam suaranya. Natalie adalah jenis gadis tidak sabaran yang cepat-puas.

"Jadi, apakah kau baik-baik saja?" dia bertanya. "Aku tidak bisa membayangkan kenapa kau kabur ke New Orleans dari semua tempat yang ada—apakah ini musim badai?"

Aku mendengar pancuran mengalir dari kamar Andrew.

"Ya, aku sangat baik-baik saja." kataku, berpikir tentang Andrew. "Kukatakan yang sebenarnya, Nat, aku tidak pernah merasa sehidup dan sebahagia ini dari yang pernah aku alami selama satu minggu ini."

"Oh Tuhanku...pria! Kau bersama seorang pria bukan? Camryn Marybeth Barnnett, dasar kau sialan, kau sebaiknya tidak merahasiakan ini dariku!"

Itulah yang sebenarnya aku maksudkan dengan merendahkan pengalaman.

"Siapa namanya?" dia terengah dengan keras seperti sedang memikirkan jawaban dari misteri dunia yang baru jatuh ke pangkuannya."Kau bercinta! Apakah dia seksi?"

"Natalie, kumohon." aku menutup mataku dan berpura-pura dia adalah wanita dewasa berumur duapuluh-dua-tahun dan tidak sedang terjebak di perguruan tinggi. "Aku tidak akan membicarakan tentangnya denganmu sekarang ini ok? Berikan aku waktu beberapa hari dan aku akan meneleponmu dan membiarkanmu mengetahui hal yang terjadi, tapi tolong-"

"Aku akan menerimanya." katanya, setuju, tapi tidak mendapat isyarat bahwa dia harus menurunkan sedikit suara antusiasnya, "sejauh kau OK dan tidak membenciku, aku akan menerimanya."

"Terima kasih."

Akhirnya, dia tenang dari gairah bergosipnya yang besar:

"Aku benar-benar menyesal, Cam. Aku tidak bisa cukup untuk mengatakan hal itu."

"Aku tahu. Aku mempercayaimu. Dan ketika aku menelponmu nanti, kau juga bisa memberitahuku apa yang terjadi dengan Damon. Jika kau mau."

"Baiklah," katanya. "kedengarannya bagus."

"Aku akan berbicara denganmu nanti...dan Nat?"

"Ya?"

"Aku benar-benar senang kau menelpon. aku sangat kehilanganmu."

"Aku juga."

Kami mengakhirinya dan aku hanya memandang telpon untuk beberapa menit sampai pikiran tentang Natalie tergantikan oleh pikiran tentang Andrew. Seperti yang baru saja aku katakan: semua wajah di lamunanku sudah menjadi wajah Andrew.

Aku mandi dan memakai sepasang jins yang masih belum di cuci, tapi tidak bau jadi aku pikir itu OK untuk sekarang. Tapi jika aku tidak mencuci pakaianku segera aku akan ke toko untuk membeli sesuatu yang baru. Aku senang aku mengemas dua belas pasang pakaian dalam tas ranselku.

Aku mulai berias dan melakukan yang biasa, tapi kemudian aku meletakkan jariku di pinggiran wastafel kamar mandi dan melihat diriku di cermin, mencoba melihat apa yang Andrew lihat. Dia hampir melihatku saat sedang benar-benar buruk: tanpa riasan, lingkaran hitam di bawah mata setelah terjaga di perjalan yang panjang, napas bau, rambut berantakan yang lepek-aku tersenyum memikirkan itu dan kemudian menangkapnya berdiri di belakangku, sekarang, di cermin. Aku melihat mulutnya terkubur di lekukan leherku dan lengan kerasnya membungkus di sekitar tubuhku dari belakang, jemarinya menekan igaku.

Ada sebuah ketukan di kamarku, membawaku keluar dari lamunanku.

"Apa kau siap?" Andrew bertanya saat aku membuka pintu untuknya.

Dia masuk ke kamarku.

"Kemana kita akan pergi?" aku bertanya berjalan kembali ke kamar mandi dimana makeup-ku berada. "Dan aku butuh beberapa pakaian bersih, serius."

Dia berjalan di belakangku dan itu sedikit mengejutkanku karena hampir terasa seperti lamunanku beberapa saat yang lalu. Aku mulai menggunakan maskara, bersandar di wastafel mendekat ke depan cermin. Aku melirik dengan mata kiriku sambil menggunakan maskara di mata kananku saat Andrew memelototi pantatku. Dia tidak menutupinya sama sekali. Dia ingin aku untuk melihat dia yang buruk. Aku memutar mataku padanya dan kembali ke maskaraku, beralih ke mata yang satunya.

"Ada fasilitas laundry di lantai duapuluh," katanya.

Dia mengunci tangannya di pinggangku dan melihatku di cermin dengan seringaian licik dan bibir bawahnya terjepit di antara giginya.

Aku berbalik.

"Kalau begitu itu adalah tempat pertama yang kita datangi." kataku.

"Apa?" dia terlihat kecewa. "Tidak, aku ingin keluar, berjalan berkeliling kota, minum beberapa bir, melihat beberapa band tampil. Aku tidak ingin mencuci."

"Oh, berhentilah merengek." kataku dan kembali ke cermin mengeluarkan lipstikku dari tas. "Ini bahkan belum jam dua sore-kau bukan termasuk jenis pria bir-untuk-sarapan bukan?"

Dia mengernyit dan menekan telapaknya ke dadanya, berpura-pura terluka. "Tentu saja bukan! aku menunggu setidaknya sampai makan siang."

Aku menggelengkan kepalaku dan mendorongnya keluar dari kamar mandi: tersenyum lebar, dengan lesung pipi, dan kemudian menutup pintu dengan dia ada di sisi lainnya.

"Untuk apa itu?" dia bertanya melalui pintu.

"Aku ingin buang air kecil!"

"Well, aku tidak akan mengintip!"

"Ambil pakaian kotormu dari kamarmu, Andrew!"

"Tapi—"

"Sekarang, Andrew! atau, kita tidak akan keluar nanti!"

Aku bisa menggambarkan bibir bawahnya memberengut, berpikir jelas bahwa itu benar-benar bukan apa yang dia lakukan. Dia sedang menyeringai ke pintu sialan ini.

"Baik!" katanya dan kemudian aku mendengar pintu kamar terbuka dan kemudian tertutup di belakangnya.

Saat aku selesai di kamar mandi, aku mengumpulkan semua cucian kotor dan memasukkannya ke dalam tas selempangku dan memakai sandal jepit.

***

Penerjemah: +Simsimi
Editor: +Sarah Quina 

Poskan Komentar

17 comments

Laannjjjuutttt.......:-)

Makasih kakak2 angel...
Makasih om yudi...
Lanjut terus! :d

Penasaran,, apa andrew punya "penyakit" mirip mr.grey??

Terussssssssss?????? Penasaran setengah mampus nih..... ^_^

andrew bikin penasaran? Ada apa denganmu? Jd inget beny pas cam bilang andrew punya masalahkah dg yg ada di bawah sana.lol

Bagian bab ini, adem ayem aja ya... Hehhe :f

thanks love and kiss :D

mgkn andrew kenal ama mantannya camryn kl....apa mgkn mereka sodaraan y

ngawuuuurrr

suka banget ma cerita ini....
makasih mas yud, simsimi, sarah... I love you guys...:-*

Aaakkk lagi pleaseee kepo abis sama ini orang 2 ~x

aku sukaaa bgt ma mereka ...bikin gemes..lanjut,, :)

Udah baca versi english nya tp masih kangen versi translate nya.. and gak sabar nungggu sequel.. hmmn... thanks PN.

setiap hari bersama cinta tumbuh dgn sendirinya :f

makasiiiihhhh PN :-*

Mkn lama mkn suka ma crta in, hehe

Andrew Parrish aq pada mu :-*
Thanks PN :-p

Andrew gak mau cuman seks. Seks plus feeling. Yang intim. Tapi dia juga agak2 gak yakin, takut bikin camryn ngelanggar janjinya sndiri. Terlalu baik. Bikin gemes.
Aku suka diskusi "terbuka" mreka.
Lanjutttt...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top