12

sib-thumb
MATAHARI TERBIT

"I Don't wanna close my eyes, I don't wanna fall asleep. Coz I'D miss u, babe. And I don't wanna miss a thing. Coz even when i dream of you. The sweetes dream will never do. I'd still miss you, babe. And I don't wanna miss a thing." Aerosmith

Ketika kelopakku terbuka, matahari menyinarkan cahaya terangnya, menyusup dibalik celah jendela. Semua keluargaku sudah berkumpul mengelilingiku, tak ketinggalan sahabat sejatiku, Trace, bahkan Derek meskipun harus digips dan memakai tongkat penyangga.Aku sadar betul sekarang berada dimana. Rumah sakit internasional milik keluargaku di pusat kota New York.

Vic duduk disamping kanan ranjangku, terus menerus memelukku dengan air mata menggenangi wajah cantiknya. Archie disisi satunya, menggengam tanganku seerat yang bisa dia lakukan sebab lenganku diberi selang infus, memberikan penguatan. Wajahnya tegar namun kedua mata hijau zamrudnya menyiratkan kehancuran.

Pandanganku jatuh pada Lars, ini pertama kalinya iris kami saling bertemu dan seakan berbicara satu sama lain. Ekspresinya tidak bisa dibaca, emosinya campur aduk, namun hal terjelas yang kudapat setelah membaca matanya adalah keputusasaan.

Trace duduk disamping Vic, tak berhenti berkaca-kaca, tangannya memijat lembut kakiku yang seakan mati rasa. Lebih tepatnya, seluruh tubuhku terasa kaku. Derek duduk dikursi didepan Trace, memberiku tatapan menegarkan. Dan aku tersenyum untuk pertamakalinya, meskipun wajahku terasa seperti baru ditampar ribuan orang, aku mencoba berbicara namun tenggorokanku seakan disayat oleh pisau kasat mata.

Lars menyadari maksudku. Dia menunduk tepat diwajahku dan berkata penuh kelembutan. "Pelan-pelan saja sunshine, Dokter bilang paru-parumu kemasukan udara kotor meski tak banyak, itu mempengaruhi saluran tenggorokanmu juga." ada getaran hebat saat dia berbicara.

Aku mengangguk, menyandarkan punggungku pada tumpukan bantal yang sudah di susun senyaman mungkin untukku. Memori kejadian semalam berputar secepat gasing dikepalaku, mengeluarkan gambarnya, nyaris tak ada satupun scene terlupakan.

Jesse yang tiba-tiba muncul kembali setelah 11 tahun terkurung didasar hatiku menjadi bagian terburuk yang ingin kukubur, adegan dimana aku terjebak didalam rumah tua bersamanya, kemarahanku telah membangunkan sosok monster itu dan kemudian pertarungan kami, hingga kebakaran itu…rasanya sesak dan sulit bernafas. Ketakutan kembali mencengkramku meskipun saat ini semuanya telah berakhir. Hingga satu nama terucap.

Thayer Thompson.

Aku tersentak diranjangku, membuat semua orang disekitarku terkejut. "Thhhyyyy…" aku berusaha keras mengucapkan ketiga kata itu meskipun lidahku terasa sebeku es dengan suara serak.

Semua orang tampak bingung kecuali Lars. Dia menggengam tanganku, tersenyum lembut sambil berkata. "Tenanglah sunshine, dia baik-baik saja. Sedang beristirahat di kamar sebelah."

Biasanya Lars paling bisa menenangkanku, tapi kali ini tidak. Kekeraskepalaanku bercampur kecemasan membuatku nekad akan melompat turun dari ranjang mencarinya. Trace memutar bola mata, bangkit berdiri dengan kedua tangan terangkat. "Baiklah, baiklah, akan kupanggilkan dia untukmu." memutar tubuh dan berjalan menuju pintu.

Trace baru sampai diambang pintu ketika suara Thy terdengar dari luar diikuti makian kencang, membuat Vic dan Archie mengernyit. Aku bisa melihat si mata coklatku berusaha keluar dari kekangan 2 orang suster yang menggumamkan sesuatu seperti peringatan akan kesehatannya. Untungnya ada Trace, dengan mudah dia berhasil merayu para perawat dan membiarkan Thy untuk menengokku.

Thy menerobos masuk kedalam ruangan, tertatih-tatih, tanpa memperdulikan keberadaan semua orang dia bergegas menuju ranjangku. Vic yang tampaknya paham segera mundur dari atas ranjang beralih ketempat suaminya. Ketika sepasang tangan Thy berhasil meraihku kedalam pelukannya, air mataku kembali tumpah.

Aku menggumamkan beberapa kalimat permintaan maaf diikuti syukur kelegaan melihatnya selamat. Dan tanpa memikirkan hal lain, pendapat ataupun pemikiran orang disekitar kami. Aku mendongak untuk menyentuhkan bibirku kepada bibirnya. Kami berciuman dengan begitu lembut, kasih sayang Thy membangkitkan lagi semua keberanianku yang tadi terasa mati, menguburkan semua emosi dan kebencian. Untuk pertama kalinya aku merasa akhirnya matahari telah terbit diatas kepalaku.

Dehaman Archie segera mengembalikan kesadaran kami. Melepaskan pelukan bersamaan, wajah kami semerah kepiting rebus, sambil menunduk Thy meminta maaf atas segala kelakuan tak sopannya berkali-kali, begitu juga denganku. Trace memelototi kami, matanya seakan berkata 'yang benar saja' padaku. Derek terbahak cukup keras hingga terbatuk. Lars melakukan apapun agar tidak memandangi kami, ekspresinya mengeras. Reaksi aneh justru kudapat dari Vic dan Archie, alih-alih marah mereka malah tampak geli melihat kelakuan kami.

Semua kegembiraan ini terhenti ketika Dokter Tipman, Ayah Trace, masuk dan memberitahu mereka jika aku masih butuh banyak istirahat. Untuk pertamakalinya aku mengakui kebenaran Trace tentang betapa menyebalkan Ayahnya. Bersedekap, aku terpaksa membiarkan semua orang pergi dari ruanganku hingga ada Dokter, perawat, dan aku. Untuk kali pertama setelah berbulan-bulan lamanya aku mendapati Trace dan ayahnya bisa bercakap-cakap secara normal seperti keluarga pada umumnya tanpa perlu disertai teriakan, meskipun hanya singkat.

"Ini akan terasa sedikit sakit, tapi setelah itu semua otot serta sarafmu akan menjadi sangat rileks." ujar Dokter Tipman ramah. Sambil menyuntikkan serum berwarna bening dilengan kananku.

Ucapannya terbukti, hanya butuh beberapa menit hingga kantuk hebat menyerangku dan aku kembali terlelap.

***

Hari pertama menginap, kondisiku sudah lebih baik, tidak ada lagi mual atau sakit kepala, kabar bagusnya Thy sudah diijinkan keluar dari rumah sakit. Menurut Trace keadaan Thy tidak parah, hanya beberapa luka sobekan serta memar besar disekujur badannya. Thy memutuskan untuk tetap berada dirumah sakit menjagaku jadi dia membawa cukup banyak perlengkapan saat berjaga menemaniku, membuat pasangan Larry menjadi terharu.

Kaki Derek juga semakin membaik, Trace serta suara cemprengnya merupakan obat paling mujarab bagi pemuda itu. Aku tak berhenti meminta maaf kepadanya,akibat ulah Jesse lah, pemuda itu nyaris divonis cacat seumur hidup. Namun Derek hanya menjawabku dengan satu tatapan keras serta nada bercanda. "Sekali lagi kalimat itu keluar dari mulutmu akan kupastikan bibirku berada didalamnya untuk menahanmu." membuat Trace memukul keras dadanya, serta Lars menggertak melalui tatapan.

Detektif Martin datang dihari kedua, Ayah Derek itu membutuhkan keteranganku dan Thy sebagai saksi, ditemani Pasangan Larry serta Lars. Kami menceritakan segalanya dari awal, munculnya Jesse pertama didepanku, telpon ancamannya setelah kecelakaan Derek, pemerasan yang dia lakukan, hingga semua detail mengenai kondisi di dalam rumah itu sebelum hingga sesudah kebakaran. Semua nyaris kuungkapkan kecuali dibagian ucapan Jesse tentang masa lalu kami.

Vic terus memeluk bahuku dengan satu tangan, meskipun berkaca-kaca tapi dia tak berhenti memberikan tatapan berupa bentuk dukungan serta penguatan. Archie sesekali dia mengcup puncak dahiku ketika emosiku mulai naik, sementara Thy tak hentinya meremas lembut punggungku. Amarah mendidih muncul di muka Lars, dia bersandar pada tiang ranjang dibelakangku, kuperhatikan tangannya diatas pundakku mengepal kencang.

Sambil memberikan ekspresi simpati, akhirnya Detektif Martin mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada kami semua, merupakan kekhilafannya sampai tidak mengabarkan perihal pelarian Jesse yang kabur dari tahanannya dengan berpura-pura sakit sebulan lalu. Martin berpikir dengan mendiamkan kejadian ini serta memberikan penjagaan ekstra padaku maka masalah dapat dihindari, tapi pada akhirnya kami semua tahu hal itu menjadi kesalahan fatal.

Lars juga ikut memberikan laporan secara mendetail bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku malam itu dan langsung menelpon polisi. Sebetulnya aku tak terlalu terkejut. Dimulai dari Athan Croswell yang menelpon dirinya serta memiliki maksud tertentu karena menyindir mengenai uang pinjaman 500 ribu itu (untuk kali ini aku harus mengucapkan terima kasih pada ide briliannya) Pengakuan Trace, serta bukti rekaman suara selama kejadian berlangsung didalam ponsel pintar Trace kiriman dariku.

Vic dan Archie juga meminta Martin dengan tegas untuk segera menutup kasus ini, sesudah aku memberikan keterangan. Mereka terpaksa menciptakan kisah palsu dan menyebarkan ke publik karena masalah ini, kurasa berita 'Tuan putri kerajaan Larry di culik' bakal menjadi santapan lezat media untuk beberapa waktu kedepan. Aku juga tidak memprotes meskipun pada faktanya Thy telah banyak berjasa menolongku. Aku tahu usaha mereka hanya demi keamanan serta melindungi nama kami berdua juga.

Martin mengajukan satu lagi pertanyaan sebelum dia pergi, meskipun tampak berat mengucapkannya.

"Aku turut berduka atas segala kesedihan yang menimpamu, aku mengenal Ibumu sangat baik, kami." melirik pasangan Larry. "adalah sahabat dekat kecil. Selain itu pihak rumah sakit ingin segera tahu akan diapakan jasad Jesse setelah ini mengingat bagaimanapun juga kamu adalah satu-satunya keluarga yang tersisa."

Aku terkesiap mendengar penuturan Martin. Pasangan Larry memelototi sahabat mereka karena ucapannya. Otakku terasa kosong sesaat, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri sampai-sampai tak mengingat masalah ini. Ya, aku memang sangat membenci Jesse, tapi jauh didalam lubuk hatiku aku mengasihaninya. Kutolehkan leher ditempat Thy berdiri, dia mengangguk penuh makna padaku. Kututup mata sesaat, nafasku bergolak jadi harus kutenangkan terlebih dahulu.

"Kremasi saja, setelah itu buatkan makam layak untuknya." ujarku akhirnya, sembari membuka mata.

Semua orang minus Thy ternganga mendengar ucapanku. Vic memegangi tanganku, sorot matanya terasa begitu teduh,seperti yang selalu Mom melakukan bila sedang menenangkan. "Sunshine, kamu tidak harus melakukan ini, sayang. Dia, bukanlah tanggung jawabmu." terdengar emosi bercampur kemarahan di dalam nada bicaranya.

Aku menggeleng pelan. "Sebenci apapun padanya, Jesse tetaplah keluargaku. Tidak sepantasnya aku menelantarkan kewajiban memberikan penghormatan terakhir padanya. Aku tak mau terus membawa kenangan buruk akan dia sampai akhir, setelah berpikir lama kurasa satu-satunya cara menutup segala amarah serta traumaku padanya hanya dengan berbesar hati memaafkannya. Aku sadar jika dendam takkan bisa menyelesaikan sebuah permasalahan."

Vic memelukku haru, Lars memegang pundakku erat, sementara Archie memancarkan rona kebanggaan seakan berkata 'Itu baru putri seorang Larry sejati'.

Martin mengangguk penuh pemahaman, sebelum benar-benar keluar dari pintu dia memintaku untuk secepatnya pulih dengan sungguh-sungguh. Pasangan Larry mulai berbicara pada Thy. Mereka mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongannya, aku terkejut saat Vic menyebut-nyebut kembali tragedi 11 tahun lalu, kata mereka pengakuan Thy telah merubah segala keputusan Hakim yang awalnya ragu memasukkan Jesse kedalam tempat rehabilitasi anak nakal.

"Mom, Dad, bisa kita bicara sebentar." kalimat itu terlontar begitu saja. Semua mata tertuju padaku, penuh rasa penasaran.

"Tentu saja." jawab Vic sambil tersenyum, mengelap air mata dari pipinya serta menurunkan tangannya dari atas pundak kiri Thy.

Archie menatap lama pada Thy dan putra sulungnya. Memberi isyarat agar mereka pergi namun aku segera menahannya. "Biarkan mereka disini. Thy sudah menjadi bagian hidupku dan tahu lebih banyak daripada yang bisa kalian bayangan, sementara Lars…" sepasang mata zamrud kami bertemu sekilas. "Dia yang paling berhak mendapat penjelasan atas semua kejadian ini."

Vic dan Archie saling berpandangan ragu sejenak, namun kemudian mereka mengangguk dan duduk bersamaan dikedua sisi ranjangku. Masing-masing tanganku mereka genggam erat, sementara Thy memilih mundur beberapa langkah dan berdiri disisi yang berseberangan dari Kakakku.

Aku sudah memikirkan ini jutaan kali, semua pertanyaan, segala keraguan ini harus kulenyapkan. Meskipun terbata-bata dan suaraku begitu serak karena tenggorokanku terasa sakit, akhirnya pertanyaanku mengenai kebenaran cerita Jesse dan aku tak sedarah berhasil terlontar.

Wajah Archie tak bisa dibaca, namun ekspresi terkejut Vic sampai dia harus menutup mulut dengan kedua tangannya telah menjawab semuanya. Aku hanya bisa menunduk pasrah, satu tarik isakan keluar dari mulutku. Hingga sepasang tangan kokoh memelukku dari belakang. Kalau bukan aroma green tea khas tidak menguar dari tubuhnya, aku bakal mengira itu Thy. Sebelah mataku melirik kekasihku, merasa lega dia tidak tampak marah atau terlalu pintar menyembunyikan perasaannya.

"Siapa yang memberitahumu, sunshine?" Archie bertanya dengan dingin.

"Jesse Sir, semalam…" Thy menjawab untukku. Dia bahkan menceritakan kembali setiap patah kata yang dia dengar keluar dari mulut Jesse untukku, sebab aku sudah kehabisan tenaga menggerakkan lidahku.

Vic tampak meletup emosinya setelah Thy menyelesaikan bicaranya. Tangannya terkepal erat diatas pahanya, saking marahnya sampai tak bisa berbicara kecuali wajahnya berubah menjadi semerah tomat.

Archie berkata tidak semua cerita Jesse bisa dipercaya. Kisahnya dimulai dari Greyson Tybalt, ayah kandung Jesse adalah bajingan penipu. Ibuku, Winona, sekaligus sahabat baik pasangan Larry menikahi Grey tanpa mengetahui statusnya yang sudah berkeluarga. Kelihaiannya memalsukan identitas membuat keluarga ibuku tertipu mentah-mentah. Untungnya segala kebusukan suami barunya segera terbongkar kurang dari 2 bulan masa perkawinan mereka. Pria brengsek itu kabur tepat sesudah penangguhan gugatan ceria Mom diterima. Dia pergi meninggalkan kota dan menghadiahkan tumpukan hutang pada Mom. Serta Jesse kecil.

Mom memutuskan untuk membesarkan Jesse serta mengatur segala urusan surat kelahirannya. Saat itulah Mom bertemu kembali dengan cinta pertamanya.Jason Flaming, salah satu agen terbaik FBI, Ayah kandungku. Mom memberitahu Dad mengenai identitas asli Jesse, dan Dad berjanji akan menyayangi Jesse seperti pada anak kandungnya sendiri.

Pada awalnya semua berjalan lancar, Jesse tumbuh menjadi anak cerdas dan berbakat, hingga kelahiranku merubah segalanya. Jesse cemburu padaku,dia sering membuat ulah hanya demi mendapatkan perhatian Orang tua kami. Hingga disuatu malam kelakuan Jesse yang memukuli anak tetangga hingga masuk rumah sakit, membuat Dad marah besar hingga mengucapkan hal-hal yang sudah dia pegang takkan pernah diungkap. Sejak saat itulah kenakalan Jesse semakin bertambah parah.

Jesse menjadi pemarah, pemurung, serta sulit diajak bicara. Orang tuaku mencoba berpikir positif jika semua itu hanyalah perilaku kebandelan anak kecil semata. Hingga hari naas yang merenggut nyawa Ayahku tiba. Penyelidikan tim forensik dengan sangat mengejutkan menemukan kaleng soda penuh sidik jari Jesse, dibagian belakang pijakan rem. Menurut penyelidikan, itulah faktor utama penyebab kecelakaan Dad. Jesse kecil tak mungkin menjadi tertuduh, pada akhirnya berkat bantuan Martin serta permohonan Ibuku, kasus ditutup menjadi kecelakaan biasa.

Kematian Jason seakan menjadi pemicu bagi Jesse untuk bertingkah lebih gila lagi, entah bagaimana caranya dia berhasil berkomunikasi dengan Ayah kandungnya. Atas perintah Ayahnya jugalah Jesse mulai berani menyakitiku. Kebenciannya padaku berubah menjadi kebrutalan sampai malam tragedi 11 tahun lalu terjadi.

Tangisku pecah saat diakhir cerita, Jesse mengakui semua kejahatannya 2 tahun setelah berada dipanti rehabilitasi anak nakal, hari dimana ayahnya ditemukan tewas akibat tertembak disebuah gang sempit pojokan Chicago.

Pasangan Larry tahu, betapa kejujuran ini akan sangat menghantamku jika mereka sampai mengungkapkannya begitu saja. Karena itu mereka terus menunggu hingga waktu bagiku tepat.

"Kami menyanyangimu sunshine, Ayah dan Ibumu adalah sepasang orang tua yang luar biasa. Dan aku percaya semua hal didunia ini memang telah memiliki jalannya masing-masing." tukas Vic.

Mataku dipenuhi air, kurentangkan kedua tanganku lebar untuk memeluknya dan dia menangkapku. "Aku menyanyangimu, Archie, kalian semua…kalianlah keluargaku saat ini…"

"Dan kami juga mencintaimu sayang." bisik Archie lembut di telingaku. Menarik kedua wanita paling cantik dalam keluarga Larry ini kedalam pelukannya.

Aku bisa merasakan juga kekuatan yang sudah dibagikan Lars dan Thy padaku melalui pegangan mereka pada masing-masing bahuku. Menatap langit-langit diatas kepalaku, kemudian dengan lirih mengulangi ucapan yang waktu kecil sering sekali Mom sampaikan padaku dan Jesse saat tengah memandang bintang bersama.

"Bintang memang indah, namun cahayanya berasal dari sinar Matahari. Dan ketika mentari kembali terbit, itulah pengharapan yang akan selalu ditunggu setiap manusia jauh dilubuk hati mereka."

Poskan Komentar

12 comments

Jesse,,, Jesse,,
ternyata sifat sang Ayah yg bejat n immoral menurun padax!!!

God! seperti itukah jesse?
tak apa, yg paling penting adalah semua kembali dalam kebaikan :)

Msh galu neh sm nsb lars nantinya....

Mudah2an Lars bisa terima yah kenyataan Thy pacaran sm Laurie jadi nggag perlu ada kejadian aneh2 lagi...apalagi menyangkut shadow circle....

entah harus kasihan atau mengutuk jesse...


Aaaaah...pokoknya mba Zeta masangin Lars dgn Lily #Maksa ,aku suka lars di pasangkan dgn lily, dia kan teman kelas Laurie apakah Lars kenal lily? (semoga) .... Habis lily cerdas sih,dan sepertinya bukan seorang wanita murahan dan sepertinya sifatnya rada2 mirip laurie ya... (pokoknya aku belum nyerah jodohin Lars-Lily)...hehehehehe

Thx God..
Everything gonna be alright since now.. Whew.. Ckckck
Poor Jesse

Turut berduka buat jesse !!! Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡

Thanks sist Zeta & masku :e

thank yu mbk zeta and mas yudi

wah jesse kasian,,tp kykny dia blm mati deh,,,"ngarep"
semoga lars ketemu jodohnya yang baik...hehehehe
ga sabar nunggu kisahnya derek''''sabar neng,,,,hehehehe

:g

thank yu mbk zeta and mas yudi

wah jesse kasian,,tp kykny dia blm mati deh,,,"ngarep"
semoga lars ketemu jodohnya yang baik...hehehehe
ga sabar nunggu kisahnya derek''''sabar neng,,,,hehehehe

:g

TQ buat Mbak zeta PN and Mas Yudi :e

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top