16

the-edge-thumb
Andrew

Saat kami melangkahkan kaki memasuki rumah sakit, tenggorokanku serasa kian menyempit. Dinding kegelapan yang datang entah dari mana seperti hendak menelanku. Aku berhenti sejenak di depan pintu masuk, hanya berdiri terdiam dengan lengan yang kini terasa berat di kedua sisi tubuhku. Bisa kurasakan Camryn menyentuh pergelangan tanganku. Aku melihat ke arahnya. Dia tersenyum padaku, senyumannya begitu hangat sehingga mampu melelehkan sedikit keteganganku. Rambut pirangnya di tarik ke satu sisi, lalu di jalin sekenanya menjadi kepangan yang berantakan, menjuntai melewati bahu kanannya.

Beberapa helai rambutnya yang tidak ikut terikat oleh karet  pengikat rambut, jatuh beristirahat di sisi wajahnya. Aku sangat ingin meraih dan merapikan rambutnya dengan lembut menggunakan jemariku, tapi aku tidak melakukannya. Aku tidak boleh melakukan hal seperti itu. Aku harus menyingkirkan rasa ketertarikan ini. Tetapi dia berbeda dengan gadis-gadis lain, kupikir itulah sebabnya mengapa aku mengalami masa sulit ini. Aku tidak membutuhkan hal ini sekarang.

"Kau akan baik-baik saja.'' Ucapnya.

Tangannya menjauh dariku saat dia tahu dia telah mendapatkan perhatian dariku. Aku tersenyum tipis padanya.

Kami berjalan menyusuri lorong menuju lift lalu naik ke lantai tiga. Di setiap langkah kakiku aku merasa ingin lari dan meninggalkan tempat ini. Ayahku tidak ingin aku menunjukkan emosi saat aku masuk ke dalam sana dan sekarang juga  emosiku serasa ingin meledak.

Mungkin seharusnya aku pergi keluar dan melampiaskan semuanya dengan meninju pepohonan di luar sana sebelum aku masuk ke dalam ruangan.

Kami berhenti di  ruang tunggu, terdapat beberapa orang duduk di sana sambil membaca majalah.

"Aku akan menunggumu di sini." Camryn berkata, membuatku melihat ke arahnya.

"Kenapa kau tidak ikut saja denganku?"

Aku tidak tahu mengapa, tapi aku sangat ingin dia menemaniku.

Camryn menggelengkan kepalanya, tanda penolakan.

"A..aku tidak bisa masuk ke sana." ucapnya, Dia terlihat gelisah. "Sungguh. A..aku hanya berpikir itu tidak pantas."

Aku mendekat dan dengan lembut mengambil tas selempang di bahunya lalu menyampirkannya di bahuku. Tasnya ringan, namun dia mulai terlihat tidak nyaman karena itu.

''Tenanglah," Ucapku. "Aku ingin kau menemaniku."

Kenapa aku mengatakan hal ini?

Dia menunduk, pandangannya tertuju ke lantai, lalu dengan hati-hati dia memandang ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya matanya yang biru menatapku. "Oke." Ucapnya sambil mengangguk.

Senyuman kecil langsung menyeruak di wajahku, dan secara refleks aku meraih tangannya. Dia tidak menolaknya.

Tidak ada lagi kata yang perlu di ucapkan, dia telah membuatku merasa nyaman dan aku rasa dia senang melakukannya. Tentu saja dia mengerti betapa beratnya situasi seperti ini bagi siapa saja yang mengalaminya.

Kami berjalan bergandengan tangan menuju ruangan ayahku.

Dia meremas tanganku dan menatapku seolah ingin memberiku kekuatan. Aku lalu mendorong pintu ruangan rumah sakit terbuka. Seorang suster mendongak ke arah kami saat kami melangkah masuk.

"Aku adalah putra dari Mr. Parrish."

Dia mengangguk hormat dan kembali menyesuaikan mesin dan selang yang terhubung pada tubuh ayahku. Ruangan ini tipikal ruangan yang membosankan, area steril dengan dinding berwana putih  bersih, lantai keramik yang berkilau bahkan mampu memantulkan cahaya dari panel lampu yang terdapat di langit-langit ruangan. Aku mendengar bunyi 'bip' yang sama dan teratur yang datang dari mesin monitor jantung yang terdapat di sebelah ranjang ayahku.

Aku belum sepenuhnya melihat ayahku. Aku baru menyadari bahwa aku telah melihat ke seluruh ruangan, namun aku belum melihatnya.

Jemari Camryn kembali meremas tanganku.

"Bagaimana keadaannya?" Tanyaku, aku menyadari itu adalah sebuah pertanyaan yang bodoh. Ayahku sekarat, itulah keadaannya sekarang. Aku hanya tidak tahu harus berkata apa.

Suster melihatku dengan wajah tanpa ekspresi. "Dia kadang sadar, kadang tidak, aku rasa anda mungkin telah mengetahuinya."

Tidak, sungguh, aku tidak mengetahuinya.

"Dan belum ada perubahan sampai sekarang, membaik atau memburuk." Suster itu lalu memeriksa infus yang tergantung di atas, terhubung oleh selang kecil diatas tangan ayahku yang kasar.

Lalu sang suster berjalan mengitari ranjang, mengambil papan klip dari atas meja yang berada di sisi ranjang dan menyelipkannya di bawah lengannya.

"Apakah sudah ada yang pernah ke sini sebelumnya?" Aku bertanya.

Suster mengangguk. ''Selama beberapa hari ini keluarganya datang dan pergi untuk menjenguknya. Beberapa orang baru pergi sekitar sejam yang lalu. Tapi aku rasa mereka akan segera kembali."

Mungkin saja itu Aidan, kakakku dan istrinya Michelle. Beserta adikku, Asher.

Suster itu lalu pergi meninggalkan ruangan.

Camryn melihat ke arahku, mengencangkan pegangan tangannya. Matanya tersenyum hati-hati padaku. "Aku akan duduk di sana dan memberimu waktu untuk melihat ayahmu, ok?"

Aku mengangguk. Walaupun segala sesuatu yang dia katakan hanya berkelebat di dalam kepalaku seperti memori samar-samar. Perlahan dia melepaskan tautan tangan kami, lalu duduk di atas kursi vinyl kosong di dekat dinding. Aku menarik napas dalam-dalam dan menjilat bibirku untuk membasahi bibirku yang kering.

Wajahnya membengkak. Selang  keluar dari lubang hidungnya, menyuplai oksigen untuknya. Aku terkejut ayahku masih belum menggunakan alat penunjang kehidupan. Hal ini memberikan sedikit harapan untukku, harapan yang sangat kecil. Aku menyadari  kondisinya tak mungkin membaik, aku tidak akan memungkirinya. Tidak ada lagi rambut yang tersisa di kepalanya, semuanya telah tercukur habis. Mereka pernah membicarakan akan melakukan sebuah operasi, namun setelah mengetahui operasi itu mungkin tidak bisa menyelamatkan hidupnya, tentu saja ayahku memprotes usulan itu.

"Kau tidak akan membelah kepalaku.'' Katanya waktu itu. "Kau ingin aku mengeluarkan uang ribuan dolar agar kau bisa membiarkan seorang dokter bodoh membelah tengkorak kepalaku? Persetan, nak! (Saat itu dia khusus berbicara pada Aidan) kau adalah pria gila yang memalukan!"

Aku dan saudaraku telah bersiap untuk melakukan apa saja yang di perlukan untuk menyelamatkan Ayah, namun dia lebih lihai, di belakang kami dia telah menandatangani sebuah ''Perjanjian", jika keadaannya semakin memburuk, tidak ada seorangpun dari kami yang berhak  mengambil keputusan atas tindakan medis untuk dirinya.

Ibuku-lah yang memberitahukan pihak rumah sakit mengenai keinginan ayahku beberapa hari sebelum operasi di lakukan dan mengurus segala dokumennya. Kami sangat kesal karena hal itu, namun ibuku adalah wanita yang pintar dan penyayang dan tidak ada satupun dari kami yang bisa marah padanya.

Aku melangkah mendekat dan memperhatikan ayahku dengan seksama. Tanganku seperti memiliki pikirannya sendiri, hal berikutnya yg aku tahu, tanganku telah meluncur ke bawah telapak tangannya dan menggenggamnya. Bahkan ini terasa aneh. Seperti seharusnya aku tidak melakukannya. Aku tidak punya masalah jika orang yang ku genggam tangannya adalah orang lain. Tapi ini adalah Ayahku dan aku merasa telah melakukan suatu hal yang seharusnya tidak kulakukan. Aku bahkan seperti mendengar suara ayahku di kepalaku.

"Kau tidak boleh menggenggam tangan laki-laki lain Nak, apa yang ada di otakmu?"

Tiba-tiba ayahku membuka matanya dan secara insting aku menjauhkan tanganku darinya.

"Apakah itu kau Andrew?" Aku mengangguk, menatapnya.

"Dimana Linda?"

"Siapa?"

"Linda." Katanya.

Matanya mengerjap perlahan seolah tidak bisa memutuskan apakah matanya ingin terus terbuka seperti sekarang.

"Istriku Linda. Dimana dia?"

Aku menelan ludah dengan sulit, sekilas aku melemparkan pandanganku kearah Camryn yang sedang duduk dalam diam, menyaksikan kami.

Pandanganku kembali tertuju pada Ayahku. "Ayah, kau dan Linda sudah bercerai sejak setahun yang lalu, apa kau ingat?"

Mata hijau mudanya berkilau karena cairan, dia tidak menangis, matanya hanya  berkaca-kaca. Dia terlihat linglung sejenak, dia lalu mengatupkan bibirnya, berusaha membasahinya dengan lidahnya yang kering.

"Apakah kau ingin minum?" Tanyaku, lalu aku pergi untuk meraih sebuah meja makan pasien kecil beroda yang sudah di pindahkan dari ranjang. Diatasnya terletak sebuah termos berwarna pink pucat bersebelahan dengan sebuah mug  plastik tebal dengan tutup di atasnya, sebuah sedotan menyembul dari lubang di tengahnya.

Ayahku menggelengkan kepalanya.

"Apakah kau sudah memperbaiki Miss Nina?" Tanyanya.

Aku mengangguk, "Yeah, dia terlihat hebat sekarang, dengan cat dan pelek baru."

"Bagus, bagus." Katanya sambil menganguk lemah.

Situasi ini sangat canggung. Aku tahu semua itu tersirat jelas di wajahku ataupun bahasa tubuhku. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku katakan, apakah aku harus memaksa ayahku untuk minum sedikit air atau apakah aku seharusnya hanya duduk dan menunggu Aidan dan Asher kembali. Aku tidak ahli dalam hal ini, jika saja aku bisa memilih lebih baik mereka yang melakukan semua ini.

"Siapa mahluk cantik itu?" Tanyanya. Pandangannya tertuju kearah dinding. Aku penasaran, bagaimana bisa dia melihat Camryn yang duduk jauh dari tempatnya berada. Akhirnya aku menyadari dia melihat Camryn melalui kaca panjang di samping ranjangnya yang memantulkan bayangan sebagian ruangan.

Camryn sedikit membeku. Namun senyumannya yang manis mencerahkan wajahnya. Dia mengangkat tangannya, menggerakkan jemarinya, melambai melalui bayangan di kaca.

Bahkan dengan wajahnya yang bengkak aku masih bisa melihat seringai di bibir ayahku. "Apakah dia Eurydice-mu?"

Pertanyaannya membuat mataku melebar. Aku berharap Camryn tidak mendengar perkataannya, walau aku rasa itu tidak mungkin. Dengan gerakan yang lemah ayahku mengangkat tangannya, mengisyaratkan pada Camryn agar mendekat.

Camryn bangkit dari duduknya lalu dia berjalan menghampiri kami, dan berdiri di sampingku. Senyumnya yang begitu hangat untuk ayahku membuatku terkesan padanya. Dia sangat natural. Aku tahu dia gugup dan mungkin saja sekarang dia merasa tidak nyaman dari yang pernah dia alami, berdiri di dalam ruangan bersama pria sekarat yang tidak dia kenal sebelumnya, namun dia tidak menunjukkannya.

"Hai Mr. Parrish, Aku Camryn Bennet, teman Andrew." Ucapnya.

Ayahku menatapku, aku tahu arti pandangan itu; dia sedang membandingkan ucapan Camryn dengan mimik wajahku, mencoba untuk menguraikan makna ucapan Camryn tentang "teman".

Tiba-tiba ayahku melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lihat dia lakukan sebelumnya: tangannya meraih..tanganku.

Gerakannya membuat tubuhku mati rasa.

Hanya pada saat diam-diam Camryn melotot padaku untuk merespon gerakan ayahku, tubuhku terbebas dari mati rasa dan dengan gugup menyambut tangannya. Aku menggenggamnya untuk waktu yang lama, situasi yang aneh, sampai  akhirnya ayahku menutup matanya, kembali tertidur. Aku melepaskan tanganku darinya saat aku merasa genggaman tangannya yang lemah berubah menjadi benar-benar mengendur.

Pintu terbuka dan aku melihat kakakku Aidan melangkah masuk bersama istrinya Michelle.

Pada saat itu juga aku langsung menjauh dari ayahku, membawa Camryn bersamaku tanpa menyadari aku telah menggenggam tangannya kembali sampai pandangan Aidan bergerak kebawah ke arah tautan tangan kami.

"Aku senang kau datang." Kata Aidan. Walupun ada sedikit cibiran dalam nada suaranya, tak salah lagi.

Dia masih kesal padaku karena tidak menggunakan pesawat dan tiba di sini lebih cepat. Dia harus segera melupakannya, kami berdua mempunyai cara yang berbeda untuk menghadapi kesedihan.

Bagaimanapun juga, dia menarik tubuhku ke dalam pelukan, menjabat tanganku dan menempatkannya di antara tubuh kami, dan menepuk punggungku dengan tangannya yang lain.

"Ini Camryn," Ucapku, kembali melihat ke arahnya.

Tersenyum pada mereka, dia sudah kembali duduk di kursi kosong terhadap dinding.

"Ini kakak tertuaku Aidan dan istrinya Michelle," Dengan sopan aku menunjuk satu persatu dari mereka. "Dan ini anjing kecil, Asher."

"Otak mesum." Kata Asher.

"Aku tahu." Jawabku.

Aidan dan Michelle duduk di dua kursi lain di sebelah meja dan mulai membagikan Burger dan kentang goreng yang baru saja mereka beli.

"Pria tua itu masih belum sadar juga," Aidan berkata sambil memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya. "Aku benci mengatakannya, tapi aku rasa dia tidak akan bertahan."

Camryn langsung menatapku, beberapa saat yang lalu kami berdua baru saja berbicara dengan ayahku, aku tahu dia  menungguku untuk mengatakan hal itu pada mereka.

"Mungkin tidak." Ucapku, dan aku melihat mata Camryn berkerut dalam kebingungan.

"Berapa lama kau akan tinggal?" Tanya Aidan.

"Tidak lama."

"Mengapa itu tidak mengejutkanku?" Dia menggigit Burgernya.

"Jangan mulai denganku Aidan, aku sedang tidak mood untuk omong kosong mu, dan sekarang ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat."

"Terserah," Dia menggelengkan kepalanya, rahangnya mulai bekerja mengunyah makanannya. Dia mencolek kentangnya ke gundukan saus yang baru saja di sediakan Michelle di atas serbet.

"Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, tapi kau harus berada di sini saat pemakaman."

Tidak ada sedikitpun emosi di wajahnya, dia hanya melanjutkan menyantap makanannya.

Sekujur tubuhku menjadi kaku.

"Sialan kau Aidan," Asher berkata di belakangku. "Bisakah kau tidak melakukan hal ini sekarang? Serius bro, Andrew benar."

Asher selalu menjadi penengah antara aku dan Aidan. Dia adalah orang yang hampir selalu berpikiran jernih. Berbeda dengan aku dan Aidan, yang selalu berpikir dengan tinju kami. Saat masih kecil Aidan selalu memenangkan perkelahian di antara kami, namun dia sedikit menyadari saat dia memukuliku, saat itulah dia melatihku.

Sekarang kami imbang. Kami selalu mencoba menghindari kontak fisik dan aku mengakui bahwa aku tidak sebaik dia dalam menahan emosiku. Dia tahu akan hal itu. Itulah sebabnya mengapa dia mundur sekarang dan menggunakan Michelle sebagai pengalih perhatiannya. Dia mengelap saus yang ada di tepian bibir istrinya. Michelle terkekeh.

Camryn menatap mataku, dia mungkin saja telah mencoba untuk mendapatkan perhatianku sejak beberapa menit yang lalu, untuk beberapa saat, aku mengira dia mencoba mengatakan bahwa dia telah siap untuk pergi, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya memintaku untuk tenang.

Saat itu juga emosiku pun sirna.

"Jadi," Asher mencoba untuk meredakan ketegangan di dalam ruangan. "Sudah berapa lama kalian bersama?" Dia bersandar di dinding dekat televisi, menyilangkan tangannya di dadanya.

Kami berdua hampir mirip, sama-sama mempunyai rambut coklat dan lesung pipi. Di antara kami bertiga Aidan adalah orang yang paling eksentrik, rambutnya lebih gelap, dia tidak punya lesung pipi, tapi dia memiliki tanda lahir kecil di pipi kirinya.

"Oh tidak, kami hanya teman." Jawabku.

Kupikir Camryn baru saja tersipu, namun aku tidak begitu yakin.

"Pastilah teman yang sangat baik hingga dia mau menemanimu ke Wyoming," Kata Aidan.

Syukurlah dia tidak bersikap kurang ajar. Jika dia  memutuskan untuk melampiaskan kemarahannya pada Camryn, aku akan menghancurkan wajahnya.

"Yeah," Camryn berkata dan seketika itu juga aku terpikat oleh suaranya yang merdu, "Aku tinggal di dekat Galveston, aku pikir harus ada seseorang yang menemaninya karena dia  memutuskan untuk naik bis."

Aku terkejut dia masih mengingat perkataanku tentang di kota mana aku tinggal. Aidan mengangguk sopan padanya, pipinya bergerak saat dia mengunyah makanannya.

"Dia seksi, bro." Aku mendengar Asher berbisik di belakangku.

Aku menoleh kebelakang, memelotinya agar dia menutup mulutnya. Dia tersenyum dan menutup mulutnya.

Pria tua itu sedikit menggerakkan badannya dan Asher mendekat ke sisi ranjang. Dia menekan dan memainkan hidung ayahku. "Bangun. Kami membelikanmu Burger."

Aidan menyodorkan Burgernya di wajah ayahku seolah dia bisa melihatnya. "Burger ini sangat enak, lebih baik kau bangun sekarang atau kau tidak akan kebagian."

Ayahku tidak bergerak.

Kami bertiga telah dilatih oleh ayahku. Kami tidak akan pernah berpikir untuk berdiri di sekitar ranjangnya dengan wajah depresi. Dan saat dia tiada, Aidan dan Asher mungkin hanya akan memesan pizza dan bir, mengobrol sambil mabuk hingga matahari bersinar keesokan harinya.

Aku tidak akan berada di sini untuk itu.

Kenyataannya, semakin lama aku berada  di sini semakin besar kesempatan dia meninggal sebelum aku bisa pergi dari sini.
 
Selama beberapa menit aku berbicara dengan saudaraku dan Michelle, lalu berjalan menghampiri Camryn.

"Apa kau sudah siap?"

Dia menyambut tanganku dan berdiri bersamaku.

"Sudah mau pergi?" Kata Aidan.

Sebelum aku membuka mulutku Camryn menjawab pertanyaan  Aidan sambil tersenyum, "Dia akan kembali, kami hanya keluar sebentar untuk mencari makanan."

Dia mencoba untuk meredakan pertengkaran sebelum itu di mulai. Dia menatapku dan aku menyetujui tindakannya, lalu menatap ke arah Asher dan mengatakan, "Hubungi aku jika ada perubahan."

Dia hanya mengangguk.

"Bye Andrew," Kata Michelle. "Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu lagi."

"Kau juga."

Asher berjalan mengiringi kami keluar menuju lorong.

"Kau tidak akan kembali, kan?" Katanya.

Camryn menjauh dari kami, berjalan melambat agar bisa memberikan beberapa menit untuk kami berbicara.

Aku menggelengkan kepalaku. "Maafkan aku Ash, aku tidak bisa menghadapi semua ini. Aku tidak bisa."

"Aku tahu bro. Ayah bahkan tidak akan peduli, kau tahu itu. Menurutnya akan lebih baik jika kau mencari gadis untuk bercinta, atau minum sampai benar-benar mabuk dari pada harus meratapi kepergiannya."

Asher benar, cukup aneh memang.

Setelah mengatakan itu, sekilas Asher memandang Camryn.

"Hanya teman? Benarkah?" Dia berbisik padaku dan tersenyum sinis.

"Yeah, kami hanya teman, jadi...tutup mulutmu."

Dia tertawa dan menepuk lenganku. "Saat aku membutuhkanmu aku akan menghubungimu, ok?"

Aku mengangguk setuju. Saat dia "membutuhkanku" dia akan menghubungiku. Maksud perkataannya adalah saat ayahku sudah tiada.

Asher mengangkat tangannya, melambai pada Camryn. "Senang bertemu denganmu."

Camryn tersenyum padanya, lalu Asher menghilang masuk ke dalam ruangan.

"Aku benar-benar berpikir seharusnya kau tinggal di sini Andrew. Sungguh."

Aku mulai mempercepat langkahku menyusuri lorong dan dia mencoba untuk mengikuti di sebelahku. Aku memasukkan tanganku ke saku celanaku. Aku selalu melakukan itu saat aku gugup.

"Aku tahu kau mungkin mengira aku adalah seorang bajingan yang tak berperasaan karena aku pergi dari sini, tapi kau tidak mengerti."

"Well, katakan padaku," Katanya, meraih siku lenganku dan kami masih terus berjalan. "Aku tidak berpikir kau bersikap tidak berperasaan, aku pikir kau hanya tidak tahu bagaimana seharusnya menghadapi kesedihan semacam ini."

Dia mencoba menatap mataku, namun aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku hanya ingin pergi menjauh dari kalimat kematian yang dibangun oleh batu bata merah ini.

Kami berhasil sampai di lift dan Camryn berhenti bicara saat dia menyadari ada dua orang lain di dalam bersama kami, namun saat kami berhenti di lantai dasar dan pintu metal terbuka, dia mulai kembali berbicara.

"Andrew, tolong berhenti!"

Aku berhenti saat mendengar nada suaranya, dia membalikkan tubuhku. Memandangku dengan pandangan penuh tekad di wajahnya, itu sedikit melukai hatiku. Kepangan pirangnya yang panjang masih terjuntai melewati bahu kanannya.

"Bicaralah padaku," Nada suaranya melembut saat dia tahu telah mendapatkan perhatianku. "Bicara tidak akan menyakitimu."

"Seperti bagaimana bicara tidak akan menyakitimu untuk mengatakan padaku kenapa Texas?"

Itu membuatnya terdiam.

***

Penerjemah: +Marry Sanders
Editor: +Sarah Quina

Poskan Komentar

16 comments

Wohoo~ lanjuuuut truuuus hehe :3

Tengkiuuuuuuu portal novel.... :* :*:*

Makasih bunmer,sarah dan mas yudi,,
camryn dan andrew lanjutt,,,,

Lagi..lagi...lagi
jgn lama lama dong updatenya! Ini ceritanya kalo dr tengah seru bgt! 2 hari sekali lah. Kqn banyak bab nya juga

mau lg....makasih pn

Makasih BunMer maksih sist Sarah & Mas Yudi

wow duet mauuttttt hehe

ciayooooooooo

HUG & kiss satu2

Wowwwww,, secara ga langsung ayahnya "setuju" dg camryn ^_^
batin seorang ayah ke anak,, ternyata benar2 terikat, walau hanya sentuhan!

Tambah lagi dunks, kuraang.. Trims pornov crew.

Tiap posting banyakin dunk :( please....

Big thanks for mimin and sarah yg mau ngedit and posting tetelanku yg ancur lebur, hat off ;)

bunda thanks (˘ ˘)ε˘`) mbak sarah thanks jugaaa♥

Koq aq sedih bacanya ya -_-

Tengkyu mas yuyud, mba marry, dan mba Sarah :)

Chimo :*
Mb Etha ak jg mewek *hiks

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top