8

sib-thumb
TEMAN SEAPARTEMEN

"Pilihlah cinta dengan kebenaran yang murni. Maka yakinlah, pilihanmu takkan pernah menjatuhkanmu." Arzeta C

Sudah 2 minggu berlalu sejak kejadian di Shadow Circle, kondisiku sudah lebih baik setelah melewati seminggu penuh bangun tengah malam dan menangis sesenggukan didalam pelukan Lars. Luka memar dibadan Lars juga telah pulih sepenuhnya, hidungnya sudah tidak lagi sakit, Haleluya! Karena tak patah sesuai prediksi awalku. Archie akhirnya memutuskan menyerah mengenai kasus penyerangku pada suatu pagi, karena aku bersikeras tak ingin memperpanjangnya dengan alasan traumatis. Terlebih lagi Detektif Martin masih belum menemukan bukti sama sekali (Terima kasih pada Derek).

Lars sudah tidak bertarung selama ini juga, dia memutuskan untuk menjaga kondisi emosionalku dan para sponsornya memaklumi mengingat dirinya juga sedang dalam tahap pemulihan. Meski sesungguhnya alasan Lars adalah persiapan ujian akhir tahun seniornya di Columbia, dibalik segala dunia kekerasan yang dia geluti Lars tetaplah ‘pemuda baik-baik dari Larry peraih nilai tertinggi Columbia’. Kakakku itu tak mau tahun terakhirnya di Universitas berantakan hanya karena bertarung, dan aku sangat menyetujui keputusan bijaknya.

Aku sendiri menghabiskan waktu 2 minggu terakhir untuk menyusun kelasku ditahun ajaran baru, dan lebih sering hang out bersama Trace Tipman, sahabat baikku sejak kelas 9, yang baru saja pulang berlibur bersama keluarganya dari Bali.

Aku juga sudah memutuskan untuk pindah ke apartemen Lars karena tahun ini masa juniorku telah selesai, secara otomatis keistimewaanku menempati kamar di asrama pastinya tak berlaku. Mereka mendukung ideku, merasa itu paling baik. Lars, tentu saja, terlihat sangat gembira ketika dia membantuku mengemasi barang. Berbanding terbalik dengan Derek yang terus memberengut mengingat kehadiranku ditempat mereka akan memberikan kekurangan ‘keleluasaan’ baginya.

Namun ketika Trace Tipman mampir pagi ini untuk menumpang menuju kampus dengan membawa segala permasalahannya, segala kejengkelan Derek berubah menjadi senyum-secerah-mentari.

"Dengar ya, aku tinggal di apartemen kalian hanya sampai aku berhasil mendapatkan kembali ‘hak-hakku’ dari si penyihir itu! Dan jangan harap aku mau melepaskan bajuku dan tidur denganmu!" kata Trace keras, menudingkan satu jarinya kepada Derek dengan mata menyipit, seakan bisa membaca pikiran pemuda itu, yah, yang memang lebih sering kotor jika sudah menyangkut perempuan. Kecuali aku, pastinya.

Aku dan Lars tertawa bersamaan, namun kekesalan Trace justru membuat Derek semakin senang. "Hei, aku tidak mengatakan apapun tahu. Setidaknya belum." sahutnya sambil menyeringai. Membuat Trace menggertakkan gigi.

Aku tak bisa menyalahkan Trace karena tuduhannya pada Derek, pada faktanya pemuda itu memang bejat. Dialah orang pertama yang mengajari Lars ‘bagaimana cara menjadi bajingan baik hati’ disaat mereka masih remaja. Derek pertama kali meniduri gadis ketika berumur 15 tahun, mulai minum bahkan sejak setahun sebelumnya. Aku bersyukur dua hal kelebihan mereka adalah, tidak merokok dan mengkonsumsi narkoba. Kata Derek "Bahkan bajingan sekalipun harus bisa menjaga tubuhnya." kalimat itu selalu membuatku tersenyum setiap kali melintas di kepalaku.

Dan setelah mendengar ceramah singkat Trace mengenai betapa bejatnya kelakuan Derek selama hampir setengah jam, akhirnya kami bisa pergi juga ke apartemen Lars. Sepanjang perjalanan Derek merubah topik tentang pertandingan terakhir Lars, yang membuat Trace melotot padaku dan memarahiku sepanjang perjalanan karena ikut terlibat didalam acara itu. Dia menuduhku sangat tidak bertanggung jawab, lalu Lars membelaku, dan argumentasi hebat pun terjadi.

"Terima kasih Derek. Pagiku kali ini 'sangat indah' karenamu." sindirku kesal, memberikannya tatapan mematikan dari bangku penumpang belakang.

Derek yang sedang mengemudi menatapku melalui kaca spion, dan nyengir lebar. "Sama-sama Tuan Putri. Anggap saja ini balasan atas tendanganmu waktu itu, jadi kurasa sekarang kita impas."

"Tunggu dulu? Kamu menendang Derek?" Trace melepaskan diri dari pertengkarannya dengan Lars. Bagus.

"Ya!" jawabku ketus, mulai merasa terganggu.

Tapi alih-alih mendapat teguran lagi, aku malah mendengar suara tawa kencang Trace menggema. "Ya Tuhan, andai saja aku disana. Pasti menyenangkan melihat seorang Derek Mc'knight jatuh terjengkang karena tendangan seorang gadis!" Trace bertepuk tangan di udara, membuat kejengkelan Lars pada Trace hilang diganti tawa.

Meskipun aku merasa malu, namun itu cukup karena melihat Derek tampak kesal setengah mati dibalik stir kemudi. "Ya! Itu karena dia menggunakan jurus Taekwondo-nya, dan aku tak bisa memukul perempuan tahu!" pemuda itu tampak membela diri.

"Sayang sekali, harusnya aku disana untuk merekam segalanya." Trace mengerlingkan satu matanya padaku dengan ceria. Tampaknya berita aku menghajar Derek Mc’knight telah membawa dampak positif bagi sahabatku, karena dia berubah menjadi lebih gembira hingga akhir perjalanan. Derek sendiri cukup pintar untuk tak membahas masalah di Shadow Circle lagi mengingat betapa bencinya Trace pada tempat itu.

Secara keseluruhan pemikiranku dan Trace nyaris sama, meski sikap kami berbeda. Itulah sebabnya kami bisa saling mengisi, dia adalah kontradiksiku yang berjalan, mampu mengemukakan segala pemikiranku disaat aku bahkan tak bisa mengucapkannya.

Mobil berdecit keras ketika Derek mengerem, "Ladies, welcome to our new kingdom." ujarnya menoleh pada kami seraya tersenyum.

Audi A4 kami berhenti disebuah townhouse mungil bergaya modern minimalis, yang terletak dijalur utama pintu masuk kampus. Kami bergegas turun dan mulai mengambil barang dari bagasi. Bawanku lebih sedikit dari Trace, sementara dia membawa 3 koper besar dan kuduga lebih berisi baju serta aksesoris ketimbang buku. Barangku cuma terdiri dari 1 ransel kecil dan 1 koper berukuran sedang. Sedangkan para pria tak membawa apapun mengingat semua kebutuhan mereka sudah tertata rapi didalam apartemen.

Lars membantuku membawakan koperku, sementara Trace harus berdebat lagi dengan Derek karena pemuda itu ingin bersikap gentle dengan membantunya. Pada akhirnya Trace menyerah karena kelelahan juga jika harus bolak-balik mengambil barang. Aku sempat menangkap ekspresi kekaguman pada sepasang mata abu-abu Trace sekilas, ketika dia melihat Derek dengan mudahnya bisa mengangkut dua koper sekaligus dalam satu kali jalan.

Saat kami semua masuk aku menyadari jika apartemen ini memang didesain sesuai selera Lars. Vic dan Archie membelikan tempat ini memang untuk keperluan kami selama berada di Universitas, aku sendiri sudah cukup sering kemari dan beberapa kali menginap disaat-saat Derek sedang tidak menggila dan mengadakan pesta.

Secara keseluruhan desain interiornya serba modern dengan dominasi warna merah tua, krem pada aneka barangnya. Sangat sedikit benda, menambahkan kesan simpel serta kemaskulinitasan yang menunjukkan siapa penghuninya. Terdiri dari 5 kamar dimana 2 sudah ditempati, satu dapur, satu ruang tamu, ruang keluarga berisi perapian, perpustakaan tapi sudah disulap Derek menjadi gudang pribadinya, 4 kamar mandi dalam dan 1 kamar mandi luar.

Lars menunjukkan lantai atas tempat aku dan Trace akan tidur. Menurutnya akan lebih adil jika kami mengambil masing-masing ruangan untuk diri sendiri mengingat Lars dan Derek tidak pernah berbagi ranjang. Yah, aku bisa paham keenganan Lars, meskipun persahabatan mereka seperti ikatan rantai jangkar namun kelakuan berantakan Derek terkadang sudah diluar batas kesabaran Lars yang rapi dan teratur.

Aku langsung terkagum-kagum pada kamar yang Lars tunjukkan untukku. Ruangan itu sudah disulapnya menjadi persis seperti di penthouse kami. Wallpaper ungu bergambar bintang perak menutupi keseluruhan dindingnya, ranjang berkanopi berbed cover ungu tua, bahkan Lars juga telah sengaja memilihkan semua pernak-perniknya dengan warna kesukaanku itu. Sebuah pengharum ruangan beraroma jasmine, bau favoritku telah digantungkan didekat air condition.

"Ini semua hasil kerjamu?" tanyaku tak percaya, membalikkan badan untuk menatapnya.

"Kuharap kamu suka." kata Lars terdengar malu-malu, menyandarkan punggung pada ambang pintu dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku depan celana jeans.

Aku tersenyum lebar. "Kamu bercanda. Ini luar biasa, terima kasih!" aku menghambur untuk memeluknya. Membuat Trace mengeluarkan suara 'Ew…' kecil.

"Sebaiknya aku segera 'mengklaim' kamarku dulu. Hanya keajaiban yang membuat seseorang mendesainkannya untukku." nadanya terdengar kesal. Dia berjalan menyusuri lorong lalu menghilang disebuah ruangan tepat disamping kamarku.

Diam-diam aku merasa prihatin pada Trace. Hidupnya nyaris menyerupai Cinderella setelah ibunya meninggal akibat kanker 7 tahun lalu. Dan ayahnya, Rudolf Tipman adalah kepala dokter di rumah sakit milik keluarga Larry, menikah lagi dengan model terkenal asal Rusia, Clementine Rosevski. Sebetulnya ibu tiri Trace berkpribadian baik, hanya saja sifat mereka sama-sama keras sehingga bentrokan dan pertengkaran tak bisa dihindari. Apalagi setelah adik tiri Trace, Roseline, lahir. Trace merasa seperti dianaktirikan oleh ayah kandungnya sendiri. Sejak itu karakter Trace berubah menjadi pemarah, labil, dan selalu bertindak tanpa berpikir panjang.

Untungnya otaknya cukup encer sehingga bisa membawanya masuk ke Columbia bersamaku. Setidaknya, Trace sekarang memiliki satu keuntungan karena berada disalah satu kampus Ivy League sesuai keinginan ayahnya.

Aku dan Lars baru saja akan membongkar barang ketika mendengar jeritan Trace dari dalam kamarnya. Trace keluar dari dalam ruangan itu menuju Lars. "Apa kamu yang mendesain kamarku?" tanyanya dengan mata penuh harap. Bukan kecemasan melainkan kegembiraan.

Merasa penasaran, aku segera menuju kamar Trace, seluruhnya telah didesain serba hijau dengan sebuah lukisan cat mural 2D pemandangan pegununang disalah satu sisi dindingnya. Meski tak seluas kamarku tapi tempat ini terasa nyaman dan begitu sarat akan seni. "Siapa yang melakukan ini?" tanyaku pada Lars. Menunjuk kamar Trace.

Mengacak rambut, Lars menjawab. "Sayangnya itu bukan aku."

Dan dengan segera kami mengetahui jawabannya. Aku menatap Trace yang dia balas dalam gaya menantang. Mendesah panjang, aku berkata. "Setidaknya, ucapkanlah terima kasih padanya."

Trace tampak bimbang sesaat, dia mengangguk setuju lalu menuruni anak tangga marmer onyx krem menuju lantai bawah. Dari atas tempatku aku bisa mendengar suara pintu dibuka diikuti suara Trace, terasa damai beberapa saat sebelum akhirnya kebisingan kembali terjadi. Trace berteriak pada Derek, membanting pintu kamarnya lalu terdengar kekeh tawa pemuda itu. Saat sahabatku naik kembali dan bertemu kami, dia hanya memandang tajam mataku sambil berkata. "Memangnya kenapa? Lukisannya jelek tahu!" setelah itu Trace masuk kedalam kamarnya lalu membanting pintunya sekeras dia bisa.

Menghela nafas, Lars berkata. "Sepertinya hidup kita bakal ramai disini."

Aku tertawa diikuti anggukan setuju. "Yang jelas, kamu harus membeli banyak cadangan daun pintu."


Poskan Komentar

8 comments

Wow makin seru nih...

nompang promo ya mas.

Reader tersayang baca hold me tight part 4 di blog ku ya, klik aj link di bawah ini:
http://siecezyerna.blogspot.com/2013/07/hold-me-tight-part-4.html

trus bagi kamu yang tergila-gila dengan Christian grey download meet fifty shades (Chistiann side), lebih seru ceritanya. dan kamu bisa lihat cuplikan2 film disana dan para pemerannya.

Penasarankan langsung aj klik link di bawah ni jg
http://siecezyerna.blogspot.com/2013/07/meet-fifty-shades-book-1-christian-side.html

tanks all & hope u like it :)

Trace,
aku suka.
Ini ko berasa baca BD ya?
Haha

gmn klo daun telinga ajah mba zeta? hahahaha :v
mksh mba zeta, mas yudi, angels pornov ^^

Ga sabar nunggu kelanjutannyaaa
Makasih mba zeta mas yudi

Wow.. Tmbh seru nih..;;)
Mkasih mbak Zeta.:D

ya ampun.. nyepam dimana-mana.. -__-
@yang komen no.1 : plisss deh.. PN bukan tempat pasang iklan. kalo kamu mau cerita kamu dibaca oleh orang seharusnya mulai lah pertemana, dengan begitu mereka dengan senang hati akan mengunjingi blog kamu.
meet fifty shades udah lama diterjemahin di PN.. ngapain juga download sana-sini, kalo udah di lampirkan di belakang ebooknya. haduh, udah ah kok aku jadi ikutan nyepam.. maap ya mas.. :(

aku jadi lupa, tadi mau komen apa.. fiuh.. -__-
makasih mas yudi.. makasih mbak zeta..

Hmmmm,, ternyata cinta terpendam a.k.a love birds antara Derek vs Trace nie??
hehehehehe, ga sabar nunggu kelanjutanx ^_^

thanx u mb zeta, om mimin..

Hoaahahahaha baru nyadar aku klw PN skrg ada iklannya. Wkwkwk
Maklum.... kebiasaan!!! klw ntn tivi kan iklannya di ganti ama channel lain yg g ada iklan. Hihihi
Ups!
Kaburrrrr.......

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top