11

the-edge-thumb
Sejam dan 2 minuman kemudian, aku berada di 'Lantai Rob' dalam bangunan ini dengan Blake. Aku hanya sedikit pusing, masih bisa berjalan dan melihat lurus, jadi aku tahu aku tidak mabuk. Tapi aku sedikit terlalu bahagia dan itu menggangguku. Ketika Blake menyarankan kami 'keluar dari kebisingan sebentar', sirine peringatanku menggila di dalam kepalaku: kau jangan pergi sendiri dari klub malam setelah minum beberapa gelas dengan lelaki yang tak kau kenal ini. Jangan lakukan itu Cam. Kau bukan gadis bodoh, jadi jangan biarkan alkohol membuatmu bodoh.

Semua peringatan ini berkecamuk dalam otakku. Dan masih kudengarkan sampai suatu saat, senyuman Blake yang menular dan caranya membuatku merasa benar-benar tenang, suara-suara dan sirine makin memelan hingga aku tak bisa mendengarnya lagi.

"Inikah yang mereka sebut 'Lantai Rob'?" aku bertanya, melihat ke pemandangan kota dari atap gudang. Semua bangunan di kota diterangi oleh pijaran cahaya biru, putih, dan hijau. Jalanan tampak bermandikan dalam rona jingga yang berasal dari ratusan lampu jalan.

"Apa yang kau harapkan?" dia berkata, memegang tanganku dan aku tersentak oleh sikapnya tapi aku menerimanya. "Sebuah ruangan seks mewah dengan cermin di langit-langit?".

Tunggu sebentar...Itu sebenarnya yang aku pikirkan –kira-kira begitu- tapi mengapa aku malah kemari dengannya?

Oke, sekarang aku sedikit panik.

Aku rasa mungkin aku sedikit mabuk, kalau tidak penilaianku tidak akan sejauh ini. Dan itu mengagetkanku dan hampir menyadarkanku sepenuhnya untuk berfikir bahwa aku akan pernah sampai pada setiap 'ruangan seks' bahkan dalam keadaan mabuk sekalipun. Apakah alkohol benar-benar membuatku bodoh atau apakah itu mengeluarkan sesuatu dari dalam diriku yang tak ingin kupercayai bahwa itu ada?

Aku melihat sekilas ke arah pintu besi yang terdapat di dinding bata dan memperhatikan seberkas cahaya bersinar melalui pintu dan kusen pintu. Dia membiarkan pintu terbuka; itu pertanda bagus.

Dia berjalan bersamaku ke meja piknik kayu dan dengan gugup aku duduk disebelahnya di atas meja tersebut. Angin meniup rambutku, membuat beberapa helai masuk ke mulutku. Aku memegangnya dan menyelipkan jariku di belakangnya dan menyingkirkan helaian tersebut.


"Beruntunglah itu aku." dia berkata, melihat ke arah kota dengan kedua tangannya menggantung diantara lututnya; kakinya bersandar dibangku dibawahnya.

Aku menarik kakiku ke atas dan duduk dengan gaya India, melipat tanganku dipangkuanku. Aku menatapnya bertanya-tanya.

Dia tersenyum. "Beruntunglah aku yang membawamu ke sini," ia mengklarifikasi. "Gadis cantik sepertimu disana dengan semua lelaki itu." Ia memutar kepalanya untuk melihat kearahku; mata coklatnya tampak samar-samar bercahaya di kegelapan. "Jika aku sedang bersama orang lain, kau mungkin telah menjadi korban pemerkosaan dari Lifetime Movie (chanel tv kabel)."

Aku benar-benar sadar sekarang. Hanya seperti itu, dalam dua detik, itu terasa seperti aku tidak pernah meminum apapun. Punggungku menegak kaku dan aku menarik dalam-dalam nafas penuh kegugupan.

Sialan, apa yang telah aku pikirkan?

"Jangan khawatir," dia berkata, tersenyum dan mengangkat kedua tangannya, telapak tangannya menghadap keluar di depan dirinya, "aku tidak akan pernah melakukan apapun pada seorang gadis yang tidak dia inginkan, atau melakukan sesuatu pada seseorang yang sudah mabuk dan berpikir bahwa itu yang dia inginkan.

Aku pikir aku baru saja menghindari peluru yang sangat mematikan.

Bahuku sedikit santai dan aku merasa aku bisa bernapas lagi. Aku yakin, dia bisa memenuhi kepalaku dengan kebohongan lain untuk membuatku mempercayainya, tapi naluriku mengatakan kalau ia sama sekali tidak berbahaya. Aku tetap waspada dan berhati-hati ketika aku berduaan dengan dia, tapi setidaknya aku bisa santai. Aku pikir jika ia bermaksud mengambil keuntungan dariku, dia tidak akan memberitahukan kemungkinan berbahayanya seperti itu.

Aku tertawa kecil dibawah napasku, memikirkan apa yang ia katakan.

"Apa yang lucu?" dia melihat kearahku, tersenyum dan menunggu.

"Referensi Lifetime Movie-mu," kataku, merasakan bibirku terbentuk sedikit, senyum malu-malu. "Kau menonton itu?"

Ia mengalihkan pandangan, membagi rasa maluku ke dia. "Tidak," ia berkata, "Aku rasa itu hanya membandingkan pengetahuan umum."

"Benarkah?" aku mencelanya. "Aku tak tahu, kau lelaki pertama yang pernah aku dengar menggunakan 'Lifetime Movie' dalam percakapan."

Ia merona sekarang dan aku menendang diriku karena bahagia melihat hal tersebut.

"Well, tapi jangan beritahu orang lain, oke?" Ia memberiku muka mencibir terbaiknya.

Aku tersenyum kearahnya dan melihat ke cahaya kota, berharap dapat mencegah sebuah harapan yang mungkin sudah timbul selama perjalanan singkat kami, pertukaran yang menyenangkan. Aku tidak peduli seberapa baik atau memesona atau seksinya dia, aku tidak mengalah padanya. Aku hanya tidak siap untuk apapun selain apa yang kami lakukan sekarang: memiliki sebuah percakapan tidak berdosa yang bersahabat dengan seseorang yang tidak terikat secara seksual atau hubungan. Itu merupakan hal yang sangat sulit dilakukan dengan lelaki karena mereka selalu berpikir bahwa seulas senyuman biasa, mengandung sesuatu yang lebih dari itu.

"Katakan padaku," ia berkata, "mengapa kau sendirian disini?"

"Oh, tidak..." aku menggelengkan wajah tersenyumku dan jariku kearahnya, "jangan bicarakan hal itu."

"Ayolah, beri aku petunjuk. Itu hanya sebuah percakapan." Pinggangnya memutar untuk menatapku dan meletakan satu kakinya di atas meja. "Aku benar-benar ingin tahu. Itu bukan sebuah taktik."

"Sebuah taktik?"

"Ya, seperti menggali masalahmu untuk menemukan sesuatu yang bisa pura-pura aku pedulikan supaya aku bisa memasuki celana dalammu—kalau aku mau berada didalam celana dalammu, aku akan berkata jujur dan memberitahumu."

"Oh, jadi kau tidak ingin berada didalam celana dalamku?" aku melihat ke arahnya dengan tatapan setengah tersenyum.

Sebuah kekalahan kecil, tapi tidak menghalanginya, ia melembutkan tatapannya dan berkata, "Sebenarnya iya. Aku gila kalau tidak mau tidur denganmu, tapi jika itu semua yang aku mau darimu dan itulah alasanku membawamu kemari, aku pasti sudah memberitahumu sebelum kau setuju untuk kemari."

Aku menghargai kejujurannya dan pastinya lebih menghormatinya, tapi senyumku terkunci saat ia mengatakan "jika itu semua" yang ia mau dariku? Apa lagi yang dia inginkan dariku? Sebuah kencan, yang akan mengarah ke sebuah hubungan? Ummm, tidak.

"Begini," aku berkata, sedikit mundur dan membiarkan ia tahu, "Aku sedang tidak mencari apapun, asal kau tahu."

"Apapun apa?" lalu ia menyadari 'apa' sedetik kemudian. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku bersamamu karena itu –aku benar-benar hanya membawamu kemari untuk mengobrol, walaupun itu sulit untuk dipercaya."

Sesuatu memberitahuku jika aku menginginkan, baik seks atau kencan, atau keduanya, Blake akan memberikannya kepadaku, tapi ia mundur dengan sopan tanpa membuat dirinya terlihat ditolak.

"Untuk menjawab pertanyaanmu," aku berkata, menyerah kepadanya untuk mengobrol, "Aku sendirian karena aku memiliki beberapa pengalaman buruk dan sekarang aku hanya tidak sedang mencari pelampiasan."

Blake mengangguk. "Aku mengerti." Ia berpaling dari mataku dan angin mengibarkan rambut pirangnya, mendorong poni setengah panjangnya menjauh dari dahinya. "Pelampiasan umumnya menyebalkan, paling tidak pada awalnya. Proses pembelajarannya merupakan sebuah mimpi buruk." Ia kembali melihat ke arahku untuk menjelaskannya "Ketika kau bersama seseorang cukup lama, kau jadi terbiasa olehnya, kau tahu? Itu merupakan zona nyaman. Dan ketika kita telah terbiasa dalam zona nyaman, untuk berusaha mendorong diri kita keluar dari sana meskipun segala sesuatu di dalamnya adalah neraka dan tidak sehat, seperti mencoba mendorong orang yang amat pemalas yang hobinya menonton tv berjam-jam keluar dari ruang keluarganya untuk mendapatkan penyegaran." Aku menyadari bahwa ia terlibat lebih dalam terlalu cepat, Blake mencerahkan suasana hati dengan menambahkan, "aku butuh 3 bulan dengan Jen sebelum aku nyaman membawa omong kosong tentangnya di dalam rumah."

Aku tertawa kencang dan ketika aku cukup berani untuk melihat ke arahnya, aku lihat ia tersenyum.

Aku mulai merasakan bahwa ia belum bisa melupakan mantan tunangannya sebanyak ia mencoba membuat dirinya percaya. Jadi aku mencoba untuk menolongnya dengan cara mengalihkan topik pembicaraan ke diriku sebelum ia tiba-tiba menemukan momen yang berujung dunianya kembali runtuh.

"Pacarku meninggal," aku berkata tanpa berpikir, sebagian  besar demi dia. "Kecelakaan mobil."

Wajahnya menurun dan ia melihat tepat ke arahku, matanya penuh dengan penyesalan. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud—"

Aku mengangkat tanganku. "Tidak, aku baik-baik saja. Kau tidak melakukan apapun." Setelah ia mengangguk halus dan menungguku melanjutkan, aku berkata "Saat itu satu minggu sebelum kelulusan." Ia meletakkan tangannya di lututku, tapi aku tahu itu bukan sesuatu selain untuk menenangkanku.

Aku mulai memberitahunya tentang apa yang terjadi ketika aku mendengar suara hantaman keras dan Blake terjatuh dari atas meja dan membentur lantai atap. Itu terjadi begitu cepat, aku tidak melihat Damon menyerbu dari samping, atau mendengar ketika ia menerobos pintu besi beberapa kaki dari sini.

"Damon!" aku menjerit saat ia menarik Blake sebelum ia bisa bangun dan mulai meninju mukanya dengan kepalan tangannya. "BERHENTI! DAMON! OH TUHAN!"

Rentetan pukulan lain terarah ke Blake sebelum kekagetanku hilang dan aku menubruk dan mencoba menarik Damon lepas dari tubuh Blake. Aku menerjang punggung Damon, menangkap tangannya yang memukul-mukul di pergelangan tangannya, tapi ia terlalu fokus memukuli Blake, aku merasa seperti berada di punggung salah satu banteng mekanik. Aku terlempar dan mendarat keras di beton pada bokong dan tanganku.

Blake akhirnya berdiri setelah mendaratkan satu pukulan bagus di sisi wajah Damon.

"Apa masalah sialanmu, man?" Blake berkata, tersandung oleh kakinya. Satu tangannya tidak pernah meninggalkan rahangnya dimana ia terus menggosoknya seakan mencoba untuk mengembalikannya ke keadaan sebelumnya. Hidungnya berdarah dari kedua lubangnya dan bibir atasnya robek dan bengkak. Semua darah itu terlihat menghitam di kegelapan.

"Kau tahu apa itu!" Damon meraung dan akan menyerang Blake lagi, tapi aku bergegas dan melakukan apa yang aku bisa untuk menahannya. Aku melangkah di depannya dan mendorong telapak tanganku pada dadanya yang sekeras batu.

"CUKUP, Damon! Kami hanya mengobrol! Ada apa denganmu?" aku berteriak begitu keras dan merasakan suaraku tidak wajar.

Aku berbalik menggunakan pinggangku, tetap menahan tanganku di dada Damon dan aku melihat tepat ke arah Blake. "Aku benar-benar minta maaf, Blake, aku-aku—"

"Jangan khawatir," dia berkata dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Aku pergi dari sini."

Ia berbalik dan berjalan menjauh melalui pintu besi. Sebuah suara yang keras bergema di udara saat ia membanting di belakangnya. Aku berbalik ke arah Damon dengan api di mataku dan aku mendorongnya sekuat yang aku bisa di dadanya. "Kau bajingan! Aku tidak percaya kau melakukan hal seperti itu." Aku benar-benar meneriakinya 3 inci dari mukanya.

Bibir Damon mengerut dan ia masih bernapas tersengal-sengal akibat perkelahian. Mata gelapnya melebar dan tidak terkekang dan sedikit liar. Sebagian diriku mencurigainya, tapi sebagian diriku yang telah mengenalnya selama 12 tahun menghapus kecurigaan itu.

"Apa yang kau lakukan pergi dengan lelaki yang baru saja kau temui? Aku pikir kau lebih pintar dari itu, Cam, bahkan dengungan keluar dari pikiranmu!"

Aku melangkah mundur darinya dan menyilangkan lenganku di perut dengan penuh kegusaran. "Kau menyebutku bodoh? Kami hanya mengobrol!" Aku menjerit dan rambut pirangku jatuh disekitar mataku. "Aku sangat mampu mengenali bajingan serta orang baik dan sekarang aku menatap seorang bajingan sialan!"

Ia tampak menggertakan giginya dibalik bibir tertutupnya. "Sebut aku apapun yang kau mau, tapi aku hanya menjagamu." Ia berkata dengan ketenangan yang mengejutkan.

"Dari apa?" Aku berteriak. "Percakapan buruk? Seorang lelaki yang benar-benar hanya ingin mengobrol?"

Damon menyeringai. "Tidak ada lelaki yang hanya ingin mengobrol," ia berkata seolah-olah ia ahlinya. "Tidak ada seorang lelaki yang mengajak perempuan sepertimu keluar sendirian ke atap gudang sialan hanya untuk mengobrol. Sepuluh menit lagi dan ia akan melemparkan pantat kecilmu diatas meja itu dan menidurimu. Tidak ada seorangpun yang akan mendengar kau berteriak disini, Cam."

Aku menelan gumpalan di tenggorokanku, tapi satu lagi terbentuk disana. Mungkin Damon benar. Mungkin aku dibutakan oleh ketulusan dan pribadinya yang terluka sehingga aku terjatuh kedalam taktik yang tidak pernah aku pikirkan. Tentu saja, aku sudah membayangkan situasi semacam ini sebelumnya dan telah melihatnya di televisi, tapi mungkin Blake mencoba sesuatu yang lain denganku.. Tidak, aku tidak percaya itu. Ia akan melemparkanku diatas meja piknik kalau aku memintanya, tapi hatiku memberitahuku ia malah akan melakukan sebaliknya.

Aku berbalik dari Damon, tidak ingin ia melihat sesuatu yang tertinggal di wajahku yang mungkin memberitahukan bahwa dalam beberapa detik aku mempercayainya. Aku marah sekali untuk caranya menanganinya, tapi aku tidak bisa membencinya selamanya karena ia benar-benar hanya menjagaku. Kelebihan hormon testosterone pejantan alfa, sudah pasti, tapi tetap menjagaku.

"Cam, tatap aku kumohon."

Aku tunggu beberapa detik sebelum berbalik dengan lengan masih menyilang.

Damon menatapku dengan tatapan lebih lembut dari sebelumnya. "Aku minta maaf, aku hanya…" ia mendesah dan melihat ke arah lain sekarang seolah-olah apa yang akan ia katakan tidak bisa sambil menatapku, "…Camryn, aku tidak bisa tahan membayangkanmu bersama lelaki lain."

Aku merasa seolah-olah seseorang baru saja meninjuku. Aku bahkan membiarkan suara lengkingan aneh keluar dari tenggorokanku dan mataku melebar.

Aku melirik gugup kearah pintu besi kemudian kembali kearahnya. "Dimana Natalie?" aku harus mengalihkan pembicaraan ini. Apa yang baru saja ia katakan? Tidak, ia tidak bisa mengartikan seperti apa yang terdengar. Aku pasti salah dengar. Yeah, pusingku kembali dan aku tidak berpikir jernih.

Ia berjalan mendekatiku dan menangkupkan sikuku di tangannya. Segera, aku merasa perlu mundur darinya, tapi aku membeku di tempat yang sama, hampir tidak bisa menggerakkan apapun selain mataku.

"Aku bersungguh-sungguh," ia berkata, merendahkan suaranya menjadi bisikan putus asa. "Aku sudah menginginkanmu sejak kelas tujuh."

Hal itu meninjuku lagi.

Akhirnya, aku berhasil untuk mundur darinya. "Tidak. Tidak." Aku menggelengkan kepalaku bolak-balik, berusaha memahami ini. "Apakah kau mabuk Damon? Atau sakaw? Ada yang salah denganmu." Lenganku terlepas dan aku menaikkan tanganku. "Kita harus menemukan Natalie. Aku tidak akan mengatakan apapun kepadanya tentang apa yang kau katakan karena kau tidak akan ingat itu di pagi hari, tapi kita benar-benar harus pergi. Sekarang."

Aku mulai berjalan kearah pintu besi yang tertutup, tapi merasakan tangan Damon jatuh disekitar bisepku dan ia memutarku. Napasku memburu dan perasaan aneh tentangnya sebelumnya kembali sepenuhnya, benar-benar membalikan bertahun-tahun aku mengenalnya dan mempercayainya. Ia membelalak kearahku dengan tatapan lebih liar dari sebelumnya, tapi berhasil mempertahankan semacam kelembutan yang menakutkan didalamnya.

"Aku tidak mabuk dan aku tidak mengkonsumsi kokain sejak minggu lalu."

Fakta bahwa ia mengkonsumsi kokain lebih dari cukup untuk membuatnya tidak mungkin tertarik kepada Damon, tapi ia selalu menjadi salah satu teman dekatku jadi aku selalu memperhatikan penggunaan narkobanya. Tapi, sekarang ia berkata jujur dan menjadi seorang teman dekat membuatku mengetahui ini.

Untuk pertama kalinya, aku harap ia tidak sadar karena setelah itu kami benar-benar bisa melupakan hal ini pernah terjadi.

Aku melihat ke jarinya, menjepit di sekeliling tanganku dan akhirnya menyadari seberapa banyak tekanan yang ia gunakan dan itu membuatku takut.

"Lepaskan tanganku, Damon, kumohon."

Bukannya dilonggarkan, aku merasakan jari-jarinya mengetat dan aku mencoba menariknya. Ia menarikku ke arahnya dan sebelum aku bisa bereaksi, mulutnya menutupi mulutku, tangannya yang bebas memeluk bagian belakang leherku, menahan kepalaku. Ia mencoba memasukan lidahnya ke dalam mulutku, tapi aku berhasil mengangkat kepalaku ke belakang secukupnya untuk menubrukkan dahiku ke miliknya. Hal itu mengejutkannya –dan aku- dan secara naluriah ia melepaskanku.

"Cam! Tunggu!" Aku mendengar ia berteriak ke arahku ketika aku berlari dan membuka pintu logam itu.

Aku dengar langkahnya setelahku saat ia menuruni tangga besi di belakangku, tapi aku menggagalkannya segera saat aku berhasil memasuki lift barang, membanting gerbang tertutup dan menekan keras tombol LANTAI DASAR. Penjaga seram yang sama yang membiarkan kami masuk di klub berdiri ketika aku terburu-buru melewatinya, lebih tepatnya setengah mendorongnya ketika aku keluar.

"Santailah, sayang!" ia berteriak saat aku berlari ke sisi jalan dan menjauh dari gudang itu.

Aku berjalan hingga sampai di pom bensin Shell dan menelepon taksi untuk menjemputku.

***

Penerjemah: +Luh Sekar
Editor: +Irma Evelyn Natasha

Poskan Komentar

11 comments

Hahaha ... Lgsg baca lagi ahhhh
KLO boleh Mas Yudi mendingan tiap hari ya posting THE edge oF never nya ya hehhe *puhlisss :))

Weh... Mbak kembang setaman lagi mekar tow angelnya yihaaaaa :))
makasih juga bwt teteh Noni :)) peluk erat buat mbak Sekar setaman & teh noni :)) luph yu all

makasih Mas Yudi :)) hahasyyeekkk

Udah feeling seh kalo damon suka cam (︶︿︶)

Uugghh mulai heh cinta segitiganya....ntr lg jd segiempat.....

♒‘Ήм̣̣̥̇̊м̣̣̥̇̊‘♌⌣ .̮ ⌣♌Ήм̣̣̥̇̊м̣̣̥̇̊” ♒.. Gw suka nih
⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈мαkαsih✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣
All PorNov kru

bgus..di tunggu bab slnjutny:)

@Ashiiia : cyiiinn, kasian nama orang dganti-ganti...tapiiii..stelah dtilik bener juga deh artianny...lol

thankies Sekar. Mommy..mas Yudiii..
All TEON team, TL-Tors & Editors...THANKIES !!

akang travis blm nongol ya?????*clingak clinguk

akang travis blm nongol ya?????*clingak clinguk

Damon kan pacarx Nat??? Kok suka sama Cam???

Tabok2 Damon!!!! TT_TT

Makasih Sist Luh Sekar, Mommy Irma dan Mas Yud~~

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top