32

wd-thumb
Meskipun dahinya berkeringat dan nafasnya sering tersendat, ibu tidak terlihat sakit. Kulitnya tidak lagi bersinar dengan indahnya, dan matanya tidak secerah biasanya, namun beliau tetap terlihat cantik. Wanita tercantik yang pernah kulihat.

Tangannya mencoba bergerak di atas tempat tidur, sehingga jari-jarinya berkedut. Mataku bergerak dari kukunya yang sudah mulai menguning dan mudah patah, ke atas ke arah lengannya yang kurus, melihat bahunya yang tinggal tulang, akhirnya berhenti di matanya. Ibu sedang melihat ke arahku, kedua kelopak matanya sedikit terbuka, cukup untuk memberitahuku kalau ibu tahu aku berada di sana. Itu yang kusuka darinya. Ketika memandangku ibu benar-benar memusatkan perhatiannya padaku. Ibu tidak melihat ke arah semua pekerjaan yang harus beliau kerjakan saat memperhatikanku, atau mengacuhkan cerita bodohku. Ibu mendengarkanku, dan itu membuatnya sangat senang. Semua orang hanya mengangguk tanpa mendengarkan, tapi ibu tidak. Ibu tidak pernah begitu.

"Travis," Ibu berkata, suaranya serak. Ibu berdehem, dan ujung bibirnya naik. "Kemari, sayang. Tidak apa-apa. Kemarilah."

Ayah menyentuh leherku lalu mendorongku ke depan sambil mendengarkan penjelasan suster. Ayah memanggilnya Becky. Dia datang untuk pertama kalinya ke rumah beberapa hari yang lalu. Suaranya lembut, dan dari matanya dia kelihatan orang yang baik, namun aku tidak menyukai Becky. Aku tak dapat menjelaskannya mengapa, namun keberadaannya membuatku takut. Aku tahu dia berada di sana untuk membantu, namun itu bukan hal yang bagus, meskipun ayah menerimanya.

Ayah mendorongku ke depan hingga beberapa langkah, cukup dekat sehingga ibu dapat menyentuhku. Ibu mengulurkan jari-jarinya yang panjang dan elegan itu, kemudian mengelus lenganku. "Tidak apa-apa, Travis," bisiknya. "Ibu ingin memberitahumu sesuatu."

Aku memasukan satu jariku ke mulut, dan menekan-nekan gusiku, gelisah. Anggukanku membuat senyum kecilnya menjadi lebih lebar, sehingga aku memastikan untuk menggangguk lebih kencang lagi saat aku berjalan mendekati wajahnya.

Ibu menggunakan semua tenaganya yang tersisa untuk bergeser agar lebih dekat padaku, lalu menarik nafas. "Apa yang akan ibu minta kau lakukan akan sangat sulit, nak. Tapi ibu tahu kau dapat melakukannya, karena kau sudah besar sekarang."

Aku mengangguk lagi, ikut tersenyum bersamanya, meskipun aku tidak bermaksud untuk tersenyum. Tersenyum saat ibu terlihat sangat lelah dan merasa tidak nyaman terasa tidak pantas, namun dengan aku bersikap berani membuatnya senang. Sehingga aku memberanikan diri.

"Travis, kau harus mendengarkan apa yang akan ibu katakan, dan yang lebih penting lagi, kau harus selalu mengingatnya. Ini akan sulit. Ibu sudah berusaha untuk mengingat segala hal dari waktu ibu berumur tiga tahun, dan ibu…" bicaranya terhenti, rasa sakitnya sejenak terlalu besar.

"Rasa sakitnya semakin tak dapat ditahan, Diane?" tanya Becky, sambil menyuntikkan jarum ke dalam infusan ibu.

Setelah beberapa saat, ibu mulai tenang. Ibu menarik nafas lagi, dan mencoba bicara lagi.

"Dapatkah kau melakukannya untuk ibu? Dapatkah kau mengingat apa yang akan ibu katakan?" Aku mengangguk lagi, dan ibu mengangkat tangannya untuk menyentuh pipiku. Kulitnya terasa sedikit dingin, dan ibu hanya dapat menyentuh pipiku selama beberapa detik sebelum tangannya mulai gemetar dan terjatuh ke atas tempat tidur. "Pertama-tama, tidak apa-apa untuk merasa sedih. Tidak apa-apa merasakan banyak hal. Ingat itu. Kedua, jadilah anak-anak selama mungkin. Bermainlah, Travis. Lakukan hal konyol"—matanya berkaca-kaca—"dan kau dan kakak-kakakmu harus saling menjaga, dan ayah. Meskipun ketika kau sudah jadi dewasa lalu pindah, tetap sangat penting untuk selalu pulang ke rumah. Mengerti?"

Kepalaku mengangguk naik turun, berusaha keras untuk menyenangkannya.

"Suatu hari nanti kau akan jatuh cinta, nak. Jangan salah pilih. Pilihlah gadis yang tidak mudah kau dapatkan, seseorang yang harus kau perjuangkan, dan jangan pernah berhenti memperjuangkannya. Jangan pernah"—ibu mengambil nafas panjang—"berhentilah memperjuangkan apa yang kau inginkan. Dan jangan pernah"—kedua alisnya mengernyit—"lupa kalau ibu mencintaimu. Meskipun kau tidak dapat melihat ibu." Setetes airmata turun di pipinya. "Ibu akan selalu, selalu mencintaimu."

Ibu menarik nafas dengan tersengal, lalu terbatuk.

"Oke," kata Becky, menempelkan sesuatu yang terlihat lucu ke dalam telinganya. Dia menaruh ujung lainnya di atas dada ibu. "Waktunya untuk beristirahat."

"Tidak ada waktu lagi," bisik ibu.

Becky melihat ke arah ayahku. "Sudah semakin dekat, Mr. Maddox. Mungkin sebaiknya kau menyuruh masuk semua anak-anakmu untuk mengucapkan selamat tinggal."

Bibir ayah terkatup rapat, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku belum siap," ayah tercekat.

"Kau tak akan pernah merasa siap untuk kehilangan istrimu, Jim. Tapi kau tidak ingin dia pergi tanpa anak-anak sempat mengucapkan selamat tinggal."

Ayah berpikir beberapa saat, mengelap hidung menggunakan lengan bajunya, lalu mengangguk. Ayah melangkah keluar dari kamar, seperti sedang marah.

Aku memperhatikan ibu, memperhatikannya yang berusaha untuk menarik nafas, dan memperhatikan Becky yang sedang memeriksa angka-angka di kotak yang berada di sampingnya. Aku menyentuh pergelangan tangan ibu. Mata Becky terlihat seperti dia mengetahui sesuatu yang aku tidak tahu, dan itu membuatku merasa mual.

"Kau tahu, Travis," kata Becky, sambil membungkuk sehingga dia dapat menatap mataku, "obat yang telah aku berikan pada ibumu akan membuat dia tertidur, tapi meskipun dia tertidur, dia tetap dapat mendengarmu. Kau masih dapat memberitahu ibu kalau kau mencintainya dan kau akan merindukannya, dan dia akan mendengarkan semua yang kau katakan."

Aku melihat ke arah ibu namun dengan cepat aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak ingin kehilangan ibu."

Becky menaruh tangannya yang hangat dan lembut di atas bahuku, seperti yang selalu ibu lakukan ketika aku merasa marah. "Ibumu ingin berada di sini bersamamu. Dia sangat menginginkannya. Tapi Tuhan ingin dia bersama dengannya sekarang."

Aku merengut. "Aku membutuhkan ibu lebih dari Tuhan membutuhkannya."

Becky tersenyum, lalu mencium  kepalaku.

Ayah mengetuk pintu, lalu membukanya. Semua kakakku bersama dengannya di lorong, dan Becky menuntunku untuk bergabung bersama mereka.

Mata Trenton terus menatap ke arah tempat tidur ibu, namun Taylor dan Tyler melihat ke segala arah kecuali ke tempat tidur. Itu membuatku merasa sedikit lebih baik karena mereka terlihat setakut diriku.

Thomas berdiri di sampingku, sedikit lebih di depan, sama seperti ketika dia melindungiku saat kami sedang bermain di halaman depan, dan anak-anak tetangga mencoba untuk menantang Tyler berkelahi. "Ibu terlihat tidak begitu baik," kata Thomas.

Ayah berdehem. "Ibu sudah sakit parah cukup lama, anak-anak, dan ini sudah saatnya untuk dia...saatnya dia…" dia berhenti bicara.

Becky tersenyum kecil, memberikan senyum simpati. "Ibu kalian sudah tidak makan maupun minum. Tubuhnya sudah menyerah. Ini akan sangat sulit, tapi ini saatnya kalian memberitahu ibu kalian bahwa kalian mencintainya, dan akan merindukannya, katakan padanya kalau kalian tidak apa-apa bila dia pergi. Dia perlu tahu kalau itu tidak apa-apa."

Semua kakakku menganggukkan kepalanya bersamaan. Mereka semua kecuali aku. Aku keberatan. Aku tidak ingin dia pergi. Aku tidak peduli jika Tuhan menginginkannya atau tidak. Dia adalah ibuku. Tuhan dapat mengambil ibu lain yang sudah tua. Seseorang yang tidak memiliki anak kecil untuk dirawat. Aku berusaha untuk mengingat semua yang dikatakannya padaku. Aku berusaha untuk menempelkannya ke dalam kepalaku: Bermain. Mengunjungi Ayah. Berjuang untuk mempertahankan yang aku cintai. Hal terakhir itu yang menggangguku. Aku mencintai ibuku, namun aku tak tahu bagaimana caranya berjuang untuk mempertahankannya.

Becky mendekat ke telinga ayah. Ayah menggelengkan kepalanya, lalu mengangguk ke arah kakak-kakakku. "Baiklah, anak-anak. Mari kita ucapkan selamat tinggal, lalu kau tidurkan adik-adikmu, Thomas. Mereka tidak harus berada di sini seterusnya."

"Ya, ayah." Kata Thomas. Aku tahu dia berpura-pura memasang wajah berani. Padahal matanya terlihat sesedih mataku.

Thomas bicara dengan ibu untuk beberapa saat, lalu Taylor dan Tyler masing-masing membisikan sesuatu di kedua telinga ibu. Trenton menangis dan memeluk ibu cukup lama. Semua orang memberitahunya bahwa tidak apa-apa bila ibu meninggalkan kami. Semua orang kecuali aku. Ibu tidak mengatakan apapun kali ini.

Thomas menarik tanganku, menuntunku keluar dari kamar ibu. Aku berjalan mundur hingga kami tiba di lorong. Aku mencoba untuk menganggap bahwa dia hanya sedang tertidur, namun kepalaku mulai pening. Thomas mengangkatku lalu menggendongku ke atas. Kakinya melangkah lebih cepat saat ratapan ayah terdengar menembus dinding.

"Apa yang ibu katakan padamu?" tanya Thomas, sambil menyalakan kran bathtub.

Aku tidak menjawab. Aku mendengar pertanyaannya, dan aku ingat semua yang ibu katakan padaku, namun air mataku tidak keluar, dan mulutku juga tidak bisa mengeluarkan suara.

Thomas melepas kaosku yang berlumuran tanah, dan celana pendekku lalu baju dalaman merk Underoos-ku yang bergambar Thomas The Train lalu menjatuhkannya ke lantai. "Waktunya untuk mandi, bubby." Dia mengangkatku dari lantai dan mendudukanku di dalam air hangat, membasahi lap, lalu memerasnya di atas kepalaku. Aku tidak berkedip. Aku bahkan tidak berusaha untuk mengelap air dari wajahku, meskipun aku tidak menyukainya.

"Kemarin, ibu mengatakan padaku untuk merawatmu dan si kembar, juga untuk merawat ayah." Thomas melipat tangannya di tepi bathtub dan menyandarkan dagu di atasnya, sambil melihat ke arahku. "Jadi itulah yang akan aku lakukan, Trav, ok? Aku akan merawatmu. Jadi kau tidak perlu khawatir. Kita akan merindukan ibu bersama-sama, tapi jangan takut. Aku akan memastikan semua baik-baik saja. Aku berjanji."

Aku ingin mengangguk, atau memeluknya, namun aku tidak bisa bergerak. Meskipun seharusnya aku berjuang untuk ibu, namun aku malah berada di lantai atas, di dalam bathtub penuh dengan air, terdiam seperti patung. Aku sudah mengecewakannya. Aku berjanji pada ibu di kepalaku bahwa aku akan melakukan semua yang telah ibu katakan padaku secepatnya setelah tubuhku dapat bergerak lagi. Ketika rasa sedih hilang, aku akan selalu bermain, dan aku akan selalu berjuang. Sekuat tenaga.

***

Penerjemah: +Cuma Oseu
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

32 comments

Wow prolog yg menyentuh.jd mewek.mkih+cuma oesu n mas yudi.

oh travis.,,,,,
q padamuh.........

mksh mb oseu,pornov & mas yudi.,

Bayangin si kecil Travis yang kebingungan, jadi sedih :(

baca versinya travis sedih sesedih sedihnya...hikshiks makin lope lope ma kang travis..hoho *apa hubungannya cobaa*

nangis2 aku bacanya.. kasian sma ayang travis *nangis sambil guling2 di jalan tol

makasih yaa mas yudi n cuma oseu *sambil ngelap ingus pake tangan *sodorin tangan buat salaman

Trimakasih mba oseu, pornov, dan mas yudi
Lop you travis ...

pengen peluk Travis..... T_T

makasih updatenya, suka pesan mertuaku ke suamiku travis ^_^ , carilah seseorang yg mencintaimu dan perjuangankan dia jangan menyerah

Prolog nya sedih, travis i lop u pul

puk puk travis
thank u, and semangat trz mbak oseu, mas mimin and PN *lope*

Oh travis......kasihan..
Tks teteh oseu n mas yudii....

asli baca versi ayang Travis bikin sedih :'(

sabar dan keep stronger ya Travis Maddox :)

Kayaknya harus beli sebox tissue nih
Prolognya aja sudah sesedih ini :'( hati2 PortNov kebanjiran airmata reader
angel oseu & king yudi, thanks alot

touching..hiks....

is this what it feels like to really cry??
hm...prolognya aja udah begini apalagi chapternya, sedia tisue dan ember...


visit myblog for another love story
karyacinta-rita.blogspot.com

cerita dari sisi travis ini seru dan hidup,prolognya udah bikin nangis,sedih,apalagi pas thomas mandiin travis,thanks a bunch mbak oseu dan mas yudhi

huwaaaa bikin nangis sedih sangat iniiiii hikseuuuu
traviiis kecil pasti lucu
dan demen bgt karakter thomas... huwaaa
kakak yg baik

Makasih ce Oseu sama mas Yudiiiiiii..... ({})
Yeay! Akhirnya datang jugaaaaa~

Eummb.. Pov travis kaya nya akan kerasa bgt nih dihati sy.

Thanks mba oseu dan admin pornov.
Semangat slalu ^^

kalimat penutup nya.. Aku pada mu, travis.

Travis.. travis.. kasihan bgt.. makasih ya mba oseu n mas yudi.. ttp semangat.. selalu setia nunggu next chapter... L♡ve PN..

yeay yeay travis come back... miss him so much !! tq mb oseu n mas mimin... btw cb mr grey dibikin novel khusus pov nya dia... dr FSg smp FSf... hahaha ngimpi.com

nyesekkk.. see.. nyeseekkknya...
huuahhh.. prolog ny ja ud bkin nyesekk.. pa lg lanjutan bab ny.. bisa ngabisin 1 lusin tisiue nie.. T.T
mksh buat mz yudi n osue.. ;)

Bab pertamanya kenPa sedih bgt sih.....

hiks hiks hiks.. sedih banget.. hiks hiks hiks..
makasih teteh oseu dan mas yudi.. (T_T)

hiks hiks hiks..

@ARASHI RITA : Dear, kalo mw NYEPAM, pliis jangan disini yaa..
MENDING dirimu posting PROMO besar2an...

SALE apa kek gituuu...!!
kunjungi blog saya, ntar dapat LINGERIE satu2..pasti keren tuuhh...

MAAF yee kalo nda enak dihati, tapi MOHON DIPAHAMI !!!!

so sorry mas Yud..tapi gerah nie mata plus gatel nie tangan & jari pengen ngetik sesuatu.. lol

Wuah! Thomas keren!

Teteeeehh...SEMANGAT !!!!!!!!!!!!!!

mas Yudiii...makaasiihhh

maksih uda di posting..nungguin ini lama bangett..dan sekarang puasss bgt bgt..
i love uuuu travis...

huwaaa... Travis... travis yg malang, hiks..hikss..

Thankz. Mbk oseu, pn, mz yudi

trav. Sedihnya nsbmu, qw mau jadi bebysiternya dah.
Thanks PN dan semua kru2

prolog yg sediih, travis n christian grey yg malang

mewek guweh baca prolog nya T__T

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top