8

fia-thumb
Aku terbangun pada Sabtu pagi, berbaring miring. Punggungku menempel didada Max, dan ia baru saja siap meluncur masuk ke dalam diriku. Aku menoleh ke arahnya. Dia sedang melihat ke bawah, melihat apa yang sedang ia lakukan. "Aku bisa bangun seperti ini setiap hari. Alarm jam yang luar biasa."

"Lucu. Tapi aku tidak bisa menahannya, Olivia."

"Aku serius," kataku, dan menundukkan kepalaku kembali sementara Max membawa kami berdua ke orgasme dipagi hari.

***

Setelah kami mandi Max mengendarai mobil ke Marina Del Rey, di mana kami akan naik kapalnya dan berangkat menuju Catalina Island. Aku pernah mendengar tempat itu dan mendapat kesan bahwa itu hanya untuk orang yang sangat kaya dan para wisatawan. Kurasa aku memenuhi syarat sebagai turis, dan karena aku bersama Max, bagian orang yang kaya adalah dirinya.

Max mengemudikan kapal sampai ke marina. Seorang Dockhand (buruh pelabuhan) ada disana dan memanggilnya. "Halo, Mr. Dalton." Orang itu naik ke kapal dan mengatakan ia akan mengurus untuk menyandarkan kapalnya di dermaga. Aku melihat Max menyelipkan uang seratus dolar pada orang itu sebelum kami turun dari kapal. Valet parkir di Marina. Siapa yang tahu?

Kami menghabiskan bagian yang terbaik saat menjelang siang sampai sore mengikuti tur mengelilingi pulau. Pemandangannya indah—pohonnya hijau subur dan masih banyak semak-semak, pemandangan samudera luar biasa indah dan pulau dengan hamparan lembah—seperti belum pernah aku lihat.

Dan pemandangan itu benar-benar semakin mempesona, saat pemandu wisata mengisyaratkan pada kami untuk melihat ke segala penjuru di sepanjang perjalanan, untuk melihat satwa liar luar biasa yang dimiliki pulau itu. Kami melihat kalkun liar dan babi, dua elang botak, dan bahkan kerbau.

"Aku menyukai tempat ini," kata Max.

Aku berpegangan pada lengannya ketika kami duduk di jip. Aku mencengkeramnya dengan erat ketika aku melihat ia mengagumi alam ini dengan caranya yang hampir kekanak-kanakan.

"Sangat indah," kataku, menyandarkan kepalaku kebahunya.

"Membuatmu tidak ingin kembali ke kota, kan?"

Aku menatap wajahnya dan melihat bahwa dia benar-benar serius. Sebenarnya, aku tidak peduli di mana kami berada. Aku hanya ingin bersamanya. Butuh bersamanya.

Kemudian di sore hari, kami melepas sepatu kami dan duduk di area pantai yang kecil. Di kejauhan, singa laut sedang duduk di bebatuan dermaga. Kami diberitahu, mereka bisa menjadi agresif, dan kami harus selalu mengawasi mereka. Mereka cukup jauh jadi tidak menimbulkan ancaman, lagi pula kami tidak membawa makanan.

Aku mulai merasa bersalah karena menyembunyikan kejadian dengan Kevin dari Max. Dia berhak tahu. Dia akan menemukannya dengan satu cara atau yang lainnya. Ide menyembunyikannya dari dia sehingga masalah itu tidak akan merusak akhir pekan kami, sama sekali bukan ide yang baik.

Sementara itu, aku menghindari dia untuk memikirkan masalah itu, menunda tidak mengatakan apa-apa dulu. Meskipun semua kesenangan terasa sampai sore ini, namun pemikiran untuk memberitahu Max tentang apa yang terjadi lama-lama semakin dekat, mengancam akan merusak hari yang indah ini.

Jadi di tempat kecil yang agak damai ini aku berkata, "Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu..."

Aku menceritakan semuanya, berakhir dengan permintaan maaf karena tidak segera memberitahunya.

"Aku tidak peduli tentang hal itu," katanya, memegang tanganku dengan erat-erat. "Dasar fuckwit (idiot)."

"Seorang apa?"

Max tertawa kecil. "Fuckwit. Seperti orang idiot, namun jauh lebih buruk. Salah satu kata-kata favoritku."

"Aku belum pernah mendengar kau menggunakan kata itu."

"Aku menyimpannya untuk kesempatan khusus, dan ini pasti salah satu dari kesempatan itu. Perjanjian dengan Jacqueline Mathers merupakan hal terbesar yang pernah terjadi padanya. Kukira dia tidak berpikir tentang hal itu."

"Apa kau akan memecat Jacqueline?"

Max menggelengkan kepalanya. "Tidak, aktingnya bagus. Sempurna untuk peran itu. Aku tidak akan memulai dari awal hanya karena Kevin membuat keputusan bodoh tentang siapa yang dia coba untuk berhubungan seks."

Rasanya lebih mudah daripada yang kupikirkan. Aku benar-benar mengharapkan dia marah—mungkin sedikit saja padaku karena tidak menceritakan padanya, dan tentu saja pada Kevin karena melakukan apa yang dia lakukan. "Kau tidak terdengar marah padanya."

"Tidak," katanya, tanpa ragu-ragu. "Dia begitu menyedihkan. Dan aku tidak berpikir satu menit pun kau akan tunduk padanya."

Sekarang setelah kami telah menyelesaikan bagian itu, aku merasa bebas untuk mengekspresikan bagaimana kekhawatiranku untuk diriku sendiri. "Aku benci dia melakukan itu, terutama karena aku harus memulai lagi sekarang, kau tahu?"

Kami bergeser sehingga Max duduk di belakangku, dan menahan punggungku dengan dadanya. Dia mencium diatas kepalaku, dan menahan bibirnya disana saat kami duduk dalam keheningan untuk sesaat. Akhirnya, ia memecah keheningan.

"Bekerjalah denganku."

Aku merasa begitu santai hingga mataku hampir tertutup. Akan tetapi langsung terbuka ketika aku mendengar kata-katanya.

"Apa?"

"Kau mendengarku."

"Ya, tapi..." Suaraku melemah. Aku terpana oleh sarannya.

Dia menciumku di atas kepalaku lagi sambil berkata, "Aku pernah berpikir tentang apa yang akan kulakukan saat berhenti menjadi produser. Kau tahu aku hanya ingin menulis. Itulah apa yang akan kulakukan. Tapi aku membutuhkan seorang asisten, seseorang yang akan membaca semua tulisanku dan tidak bicara omong kosong dengan segala pujian. Sama seperti yang kau lakukan pada waktu itu. Kamu brilian, Olivia. Idemu membuat cerita itu jadi jauh lebih baik."

Aku bergeser hingga aku bisa menghadap kearahnya. "Kau serius."

Dia mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipiku. "Jangan khawatir tentang apapun. Dan aku tahu kau sekarang—kau berpikir aku melakukan ini hanya untuk membantumu keluar dari masalahmu. Tapi aku tidak melakukannya. Kau mengesankan aku sejak meeting yang pertama. Aku mempekerjakanmu meskipun kau tidak tidur denganku."

Senyumku terlihat sangat jelas membentang di seluruh wajahku, dan Max kembali tersenyum sangat lebar, kemudian berkata, "Tentu saja, kita harus berhati-hati bagaimana kita menjalankan prosesnya."

"Apa maksudmu?"

"Aku akan membayarmu sebagai kontraktor independen, bukan sebagai karyawan langsung."

"Kenapa begitu?"

"Sebab kau tidak akan bisa berbalik dan menuntutku karena pelecehan seksual terhadapmu saat bekerja setiap harinya."

Aku tertawa dan membungkuk untuk menciumnya. "Setiap hari? Kau berjanji?"

"Cobalah untuk menghentikanku."

***

Dalam perjalanan pulang di kapal, aku mengatakan padanya kalau orang tuaku akan datang berkunjung. "Dan aku merasa khawatir."

"Tentang apa?"

Max mengemudikan kapal dan aku duduk di pangkuannya. Aku memakai salah satu topi baseball-nya dan menempatkan rambutku melalui lubang di belakang topi, membentuk ekor kuda agar tidak mengenai wajahnya.

"Kondisi disekeliling kehidupanku, untuk satu hal," kataku. "Mereka akan bertanya-tanya tentang Krystal. Ingat, dia teman kakakku waktu masih kecil?"

"Benar. Well, mungkin dia tidak akan tinggal di rumah jika dia mau menerima tawaran kita untuk membantunya dan masuk rehabilitasi. Kemudian kau dapat mengatakan pada keluargamu kalau dia keluar kota atau alasan yang lain."

"Benar." Dia memiliki satu titik penyelesaian. Itu hanya seperti satu kebohongan yang bisa dibenarkan. Aku akan melindungi kerahasiaan Krystal. Perutku melilit dengan gugup karena aku bingung bagaimana mengatakan padanya kalau aku merasa tidak yakin mengajaknya untuk bertemu dengan orang tuaku.

Kami telah berpacaran tapi belum terlalu lama, namun hanya beberapa kali menghabiskan waktu kami bersama-sama, tampaknya Max seakan tahu persis apa yang kupikirkan. Aku tahu dia benar-benar tidak bisa membaca pikiranku, tapi rasanya masih aneh setiap kalinya.

Sama seperti saat ini, tanpa harus mengatakan satu kata tentang hal itu, Max mengatakan, "kau khawatir memberitahu mereka tentang aku." Katanya dengan datar, seolah-olah dia tidak menyukai ide itu sama sekali.

"Keluargaku bisa sangat rumit. Ini bukan berarti bahwa aku tidak ingin kau bertemu dengan mereka. Hanya belum saatnya sekarang."

Max memperlambat kapalnya saat kami mendekati Marina Del Rey. "Terserah kamu. Aku akan merindukanmu ketika mereka di sini."

***

Penerjemah: +Saiya Henny
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

8 comments

makasih mb heny,pornov dan mas yudi.,

makasih mas yudi & m'bq heny, ternyata reaksi max G segaram yg aku byangkan tahu soal kevin ^^~

aahhh..makin suka deh ama si Maxie...
pliiis deh Maxiee...buruan nikahin si Oliv..

makasiih mbak Henny,,,mas Yudi & PortNov..

Ya udah Max,kamu, aq kenalin sama ortu q aja dech hehe.... :p

Olivia jgn gt dong..... km harus brani but kenalin max ke ortu. Max kan dah bk bgt m km

thank u Mb Hen and mas Yudi :)

My max hadirrrrrr

makasih mbak Henny & Mas Yudi :)

Makinnn suka ama max...
tks mb henny n mas yudii....

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top