12

sc-thumb
"Dua yang biasa, Fritz!" Vanessa memanggil pria tua beruban di ujung bar.

"Jangan sampai celana dalammu terpelintir (jangan panik), Red, aku akan mengambil minumanmu dalam satu menit!"

"Aku harus mengenakan celana dalam untuk menjaganya agar tidak terpelintir."

"Well, itu lebih baik daripada benang yang di selipkan di pantat (thong) yang gadis-gadis kenakan akhir-akhir ini."

"Bagaimana kau bisa tahu apa yang gadis-gadis kenakan? Film laga yang mungkin terakhir kali kau lihat adalah World War II, Tua Bangka."

"Ha! Aku punya cerita yang akan membuat rambutmu lebih keriting dari pada yang sekarang, nona, dan jangan kau lupakan itu."

Lucie tertawa mendengarkan percakapan yang biasa terjadi antara Vanessa dan pemilik bar yang sudah mereka kunjungi sejak kuliah. Fritz lebih seperti paman tersayang bagi mereka, tapi bukan berarti hal itu membuat humor yang dilemparkan diantara mereka tidak melintasi garis godaan genit dan lelucon kotor (tentang seks). Fritz adalah seorang pria tua yang genit, dan mereka berdua kagum padanya.

Setelah Fritz menyajikan bir dalam gelas bir besar, dia mencium jemari di kedua tangannya dan menempatkan masing-masing tangannya di pipi Lucie dan Vanessa. "Nah sudah. Sekarang tutup mulut kalian dan pergilah bersenang-senang malam ini, huh?"

"Tentu saja, Fritzy," Vanessa berjanji sebelum mereka berjalan ke ujung bar satunya dekat papan permainan lempar panah. Mereka menempati kursi bar yang mereka klaim sebagai kursi biasa yang mereka tempati dan menyenggolkan gelas mereka bersamaan dengan "Salut"  yang antusias dan menyesap untuk pertama kalinya di malam itu. Nessie menepukkan tangannya di meja bar tiga kali, yang mana itu merupakan caranya untuk menarik perhatian. "Keluarkan semua (ceritakan)."

Lucie mengangkat alis dibawah poni rambutnya saat mendengar suara tepukan meja dan menatap ke dalam beernya. "Aku akan lebih suka meminumnya jika jenis minumannya sama dengan yang kau minum." Lucie mungkin termasuk ke dalam orang yang tidak tahan mabuk jika tentang masalah minum wine, tapi dia bisa bertahan dengan cukup baik jika berhadapan dengan bir, karena bertahun-tahun praktik dengan Vanessa sejak masa kuliah mereka.

"Aku tak membicarakan masalah alkohol. Aku ingin kau memberitahuku apa yang terjadi denganmu dan si seksi yang tinggal di apartemenmu. Aku sudah menunggu dengan sabar sepanjang makan siang untukmu membicarakannya lebih dahulu, tapi sedihnya kau malah tutup mulut tentang tamu-mu. Jadi, bersiaplah untuk bersaksi."

Untuk kedua kalinya di hari itu Lucie tersedak minumannya. Oh, demi Tuhan. Kau lebih baik belajar untuk mengontrol dirimu sendiri atau kau akan memerlukan maneuver Heimlich jika kau berani untuk makan lagi. "Tak perlu melakukan interogasi atau apapun, Nessie. Tak ada yang terjadi dengannya. Dia adalah sahabat baik Jackson dan aku sedang membantunya, hanya itu."

"Apa dia sudah punya teman kencan?"

"Tidak." Tunggu sebentar. Dia masih belum tahu hal itu, kan? Reid tak pernah mengatakan tentang mengencani seseorang, tapi Lucie juga tak pernah bertanya. Tak ada alasan untuk menanyakan hal itu. Mereka hanya dua teman yang saling membantu. Tapi definisi dari "membantu" sudah berubah secara drastis dalam waktu seminggu. "Setidaknya, aku rasa ia tak punya teman kencan. Tapi lagipula dia bukan tipemu."

"Aku tak ada rencana untuk mengejarnya, tapi aku penasaran, mengapa dia bukan tipeku?"

"Peraturan nomor tiga."

"Benarkah? Apa pekerjaannya?"

"Dia adalah seorang petarung seperti Jackson."

Vanessa mengernyitkan hidungnya seperti seseorang yang baru saja mengendus kaos kaki bau di depan wajahnya. "Oh, salah satu dari pria itu. Ya Tuhan, betapa kasarnya, selain itu tidak bertanggung jawab untuk merencanakan masa depan. Tidak, terima kasih."

Lucie tidak ambil pusing untuk membela pilihan karir Reid dan kakak laki-lakinya di depan temannya. Tak akan ada yang berubah. Vanessa hidup dalam peraturan-peraturan yang sangat ketat dan menolak untuk menelikung peraturan itu untuk alasan apapun. Vanessa mendapatkan ide itu di satu malam di saat mereka masih anak baru semasa kuliah, mabuk, dan menonton drama di televisi, NCIS. Si tokoh utama dalam acara itu memiliki lebih dari tigapuluh peraturan yang ia jalani dalam hidupnya, dan Vanessa, dengan seluruh kebijaksanaan mabuknya, memutuskan bahwa ia membutuhkan strategi yang sama untuk menghindari jalan hidup aneh seperti kedua orang tuanya. Peraturan nomor tiga adalah "jangan pernah berkencan dengan seseorang yang tidak bekerja secara tetap dalam sebuah karir sukses yang berkepanjangan." Atlet dengan kemungkinan untuk menyakiti diri mereka sendiri di usia muda, secara efektif menghancurkan karir mereka, tidak termasuk ke dalam teman kencan yang berpotensi.

"Tapi mengapa tidak kau saja yang mengencaninya? Maksudku, kau tahu, pria itu benar-benar gumpalan daging manusia yang tampan dan menarik."

"Ew!" Kedua gadis itu tertawa secara serempak. Alkohol sudah mengendurkan otot mereka dari minggu panjang yang padat. "Apa maksudmu dengan gumpalan daging manusia? Tetap berpegangan pada jargon yang di perbolehkan karena jelas kau sangat buruk dalam mendeskripsikan pujian."

"Jangan menghindari pertanyaannya. Bagaimana dengan mengencaninya?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Bukan seperti itu."

"Bisa saja."

"Bisakah kita berhenti membicarakan ini, Ness?"

Bulu mata gelap Vanessa praktis menyatu saat ia menelaah wajah Lucie. Sial sial sial. "Mengapa kau tidak bercerita padaku, Lucinda Maris?"

Lucie selalu tersentuh hatinya saat sahabatnya menolak memanggil Lucie dengan nama pernikahannya. Vanessa mengatakan pada Lucie bahwa dia harus "memutuskan semua tali yang menyambungkannya dengan bajingan sial itu," tapi Lucie tak melakukannya. Dia membutuhkan hal itu sebagai pengingat untuk menjaga hatinya dengan lebih hati-hati lagi. Hubungan yang di dasari dengan gairah besar dan masa pacaran yang singkat akan hancur pada akhirnya. Apa yang Lucie butuhkan adalah kebalikan dari semua itu: sebuah pondasi yang berasal dari minat yang sama dan satu tujuan, di lengkapi dengan sedikit ketertarikan, dan setidaknya dua tahun masa pacaran dan diikuti dengan masa pertunangan yang panjang.

Lucie meminum setengah dari beernya dalam beberapa tegukan besar dan kemudian menaruh gelasnya di bar dengan desahan tanda menyerah. Setelah Vanessa mencurigai bahwa Lucie tidak mengatakan "yang sebenarnya, semua kebenarannya, dan tak ada yang lain selain kejujuran" Lucie merasa seperti anjing pitbull. "Reid harus segera sembuh dari cederanya dan kembali siap untuk pertandingan perebutan sabuknya dalam dua bulan."

"Dan?"

"Dan aku setuju untuk mengambil minggu liburanku untuk memberikannya perhatian spesial duapuluh empat jam penuh untuk membuatnya bisa kembali bertarung jika ia mau melakukan sesuatu untukku."

"Dan sesuatu itu adalaaaaaahhhh..."

Lucie melihat kesekitar saat ia menggigit pipi bagian dalamnya sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya untuk meyakini bahwa hanya temannya yang bisa mendengar hal ini. "Dia mengajariku bagaimana untuk merayu Stephen."

"Apa!"

"Shhhhh! Kecilkan suaramu, dasar aneh!"

"Aku si Aneh? Luce, kapan kau akan menyadari bahwa pria itu tak pantas mendapatkan dirimu? Apakah itu alasan semua penampilan barumu? Maksudku, kau terlihat luar biasa, tapi jika si bajingan itu tidak menyadari keberadaanmu sebelum semua pakaian dan pelajaran merayu itu maka itu kerugian baginya."

"Yeah, aku tahu, kau pernah menyebutkan itu satu atau dua kali sebelumnya," Lucie menjawab dengan masam. Kenyataan yang menjadi masalah adalah bahwa Vanessa tidak setuju pada rasa tertariknya ke dokter baik hanya karena pria itu gagal membuat langkah maju setelah mereka bekerja bersama selama satu tahun. "Dengar, bisakah kita berhenti membicarakan hal ini? Ini sangat mengganggu kesenanganku."

"Kesenanganku juga. Oke, topik ini resmi turun dari meja (tidak di ungkit lagi). Kyle dan Eric baru saja masuk jadi aku akan mengambil bir lagi untuk kita sebelum kita memulainya. Jaga kursiku."

Lucie mengangkat kakinya ke atas kursi Vanessa yang kosong dan melambai ke setengah anggota tim mereka yang lain. Setidaknya para pria akan menjadi penahan dari isu Reid-Stephen. Lucie sudah merasa seperti menaiki rollercoaster semenjak Stephen masuk ke dalam kantornya Jumat pagi yang lalu, diikuti dengan kunjungan mendadak dari Reid yang mengejutkannya dan bahkan tawaran Reid yang jauh lebih mengejutkan.

Sesi cumbuan panas mereka hanya bertujuan untuk mengajari Lucie bagaimana rasanya bercinta dengan keras dan bergairah setiap saat. Dan Lucie bahkan tak bisa menikmati makan siangnya dan film yang ia tonton dengan Vanessa karena Lucie mengantisipasi hal yang akan terjadi nanti. Sekarang hal itu sudah tak ia pikirkan lagi, Lucie memutuskan untuk menikmati beberapa jam ke depan yang menyenangkan dan bebas-drama.  Lucie mengirim pesan kepada Reid sebelumnya dan meminta maaf untuk lupa memberitahu Reid tentang malam pertandingan dan mengatakan padanya untuk tidak menunggunya pulang karena Lucie tahu bahwa Reid selalu tidur lebih cepat dengan jadwal yang latihan padat yang ia lakoni.

Saat Lucie ingat bahwa ia tak akan melihat Reid hingga besok pagi, Lucie menurunkan birnya dan bergerak tak nyaman di kusinya. Yep. Tak ada yang perlu di khawatirkan, tak ada yang perlu di takutkan. Hanya beberapa permainan lempar panah yang menyenangkan dan minum dengan teman-temannya. Lucie sangat membutuhkan hal ini.

***

Reid berjalan ke arah bar yang telah disarankan oleh Vanessa saat dia akan pergi keluar tadi pagi. Dia tak berencana untuk datang, tapi saat Lucie mengirim pesan yang memberitahunya untuk tidak menunggu, dia tahu bahwa Lucie menghindarinya dan menghindari hal yang Reid janjikan akan terjadi padanya sepulangnya ia ke rumah malam ini. Hal ini tidak seharusnya mengganggu Reid. Tapi hal itu mengganggunya. Dan ia tak tahu mengapa hal itu terjadi.

Apa yang ia tahu adalah saat Reid berbelanja bahan makanan sore itu adalah dia mencoba untuk memikirkan lebih banyak makanan yang Lucie mungkin sukai. Dan hal itu membawanya ke dalam pikiran yang menjurus ke gambaran bagaimana mengajari Lucie cara memasak makanan itu, lengkap dengan membiarkan Lucie mencicipi makanan dari jari Reid... dan kemudian dari lidahnya. Dan gambaran itu membuat Reid seperti sedang menyelundupkan sebuah ketimun di dalam celana pendeknya saat ia bergerak ke bagian sayur-sayuran.

Berdiri di pintu masuk, Reid menyisir bar mencari Vanessa, berpikir bahwa Vanessa akan mudah di temukan karena tinggi tubuhnya dan rambutnya yang berwarna merah terang. Dua detik kemudian pandangan Reid seketika berhenti. Sial, dia sudah keliru.

Lucie berdiri diantara kerumunan yang sudah jelas merupakan pertandingan lempar panah yang ia ikuti. Reid mengenali Vanessa dan Eric, tapi mereka bahkan hanya menjadi pandangan kabur segera setelah ia menemukan Lucie. Lucie mengenakan celana jeans capris gelap yang fenomenal, ketat memeluk bokongnya dan rendah di bagian pinggulnya yang langsing, dipasangkan dengan baju kaos longgar berwarna jingga pucat dangan logo soda Crush yang klasik menghiasi bagian depan. Reid suka dengan logo yang mengikuti bentuk payudara Lucie saat ia mencoba kaos itu di toko. Sekarang ia ingin menghajar dirinya sendiri karena sudah menambahkan kaos itu ke dalam lemari pakaian Lucie, karena jelas pria-pria lain di bar ini juga mungkin menyukai kaos itu dengan alasan yang sama dengannya.

Lucie terlihat sangat berbeda dari apa yang Reid lihat minggu lalu. Tak hanya dari penampilannya, tapi juga semangatnya. Lucie memiliki aura yang bersinar dengan indah dari wajahnya. Reid berdiri diam, memutuskan untuk menonton Lucie di lingkungannya untuk sesaat. Senyumnya sangat lebar dan untuk pertama kalinya Reid melihat lesung pipi mungil di pipi kanan Lucie. Rambutnya panjang sewarna chestnutnya di tarik kebelakang membentuk sanggul serampangan yang terlihat terpasang dengan sebuah tongkat pengaduk dari bar. Lucie menyemangati Vanessa yang sedang melempar anak panah ke papan panah terdekat dimana ia dan dua orang pria berdiri. Saat anak panah terakhir Vanessa menancap di papan, ke empat orang itu bersorak gembira. Pria pirang di sebelah Lucie mengangkat tubuhnya dan memutarnya sebelum memberikan ciuman keras di bibir.

Dan Lucie bahkan tidak melawan.

Menyadari bahwa reaksinya tak beralasan, bahkan menggelikan, Reid berjalan melintasi ruangan, menggunakan berat tubuhnya dan bahunya yang lebar sebagai keuntungan dalam menerobos kerumunan orang. Lucie tidak melihat Reid berjalan kearahnya karena posisi Lucie membelakanginya, tapi Vanessa melemparkan senyuman yang berseri-seri saat ia menyadari pria itu berdiri di belakang Lucie.

"Hiya, Reid! Aku senang kau memutuskan untuk datang! Kau datang tepat pada saat kami sedang merayakan kemenangan pertama kami malam ini."

Lucie tidak berbalik selama lima detik, mungkin lebih dari lima detik. Tapi sesaat setelah Vanessa memanggil nama Reid, ketegangan terlihat meluruskan tulang belakangnya. Saat akhirnya Lucie menghadap kearahnya, senyumannya hanya sekedar lengkungan tipis di wajahnya. Lucie tak senang melihatnya. Pasti karena Reid menginterupsi kesenangannya dengan penggemar barunya. "Reid. Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku mengundangnya sebelum kita berangkat sore tadi," kata Vanessa. "Aku pikir ia bisa bergabung untuk minum-minum, atau setidaknya menonton kita minum jika itu bertentangan dengan diet superketatnya atau apalah."

Reid merunduk dan menurunkan suaranya jadi hanya Lucie yang bisa mendengarnya. "Aku memiliki dugaan gila bahwa mungkin kau menghindariku karena kau gugup tentang malam ini. Tapi hal itu sepertinya lebih dikarenakan kau tidak ingin aku menghalangi cumbuanmu dengan si Pirang yang berdiri di sana."

Saat Reid meluruskan tubuhnya kalimatnya sendiri membakar tubuhnya seperti halnya cairan asam di siramkan ke gendang telinganya. Betapa bajingannya dia mengatakan hal itu pada Lucie. Gadis itu tak layak mendapatkannya, dan ekspresi terluka dan kebingungan melintas di wajah Lucie. Menggenggam tangannya, Reid membawa Lucie ke ruangan kecil dimana sebuah telepon umum terpasang di dinding.

"Sial, maafkan aku, Lu. Aku berkelakuan seperti seorang bajingan. Jika kau ingin bersenang-senang atau apapun dengan pria itu, maka..." Reid menyapukan tangannya di rambutnya dari belakang ke depan kemudian meluncur ke janggut tipisnya. "Maka itu hal yang bagus," akhirnya kalimat itu terpaksa ia keluarkan.

"Reid, itu manis sekaliaku pikirtapi apa yang sedang kau bicarakan? Tak ada pria yang sedang aku goda disini."

Reid menunjuk ke arah dimana mereka terlihat bersama tadi. "Aku melihatnya menciummu, Lucie, dan kau tak terlihat kaget saat ia melakukannya."

"Itu karena ia melakukannya hampir setiap saat."

Lucie mengatakan hal itu seperti seharusnya hanya itu saja penjelasan yang dia butuhkan. Tapi hal itu malah membuat situasi semakin tak masuk akal sekarang.

"Ayo." Sekarang saatnya Lucie untuk menggenggam tangan Reid dan membawanya kembali kemana mereka berasal. Lucie melambaikan tangannya ke arah pria pirang yang sudah mencium gadisnya tadi. Tunggu sebentar, siapa? Lucie. Pria ini mencium Lucie. "Reid, aku ingin memperkenalkanmu pada Kyle. Kyle, ini sahabat baik Jackson dan pasien garis miring tamu garis miring...um, pelatih pribadiku."

Dari ujung matanya Reid melihat senyuman licik terbentuk di wajah Lucie, yang mana sangat seksi. Lucie jelas sangat bangga terhadap permainan kata yang ia lakukan untuk menjelaskan hubungan unik diantara mereka, dan ia harus mengakuinya, bahwa hal itu sangat cerdas. Kyle menjulurkan tangannya dan Reid menjabatnya dengan sportif, tapi ia memastikan untuk memberikan sedikit penekanan dan pandangan tersirat antar sesama pria. Pandangan jangan-main-main-dengan-gadis-ini-atau-aku-akan-memakan-jantungmu-untuk-sarapan-dengan-sereal Wheaties-ku.

Pria itu sepertinya tak main-main dalam urusan otot, tapi itu bukan masalah bagi Reid. Dengan latihan yang Reid lakukan ia bisa menjatuhkan petarung jalan manapun, tak peduli seberapa besar tubuh mereka, jika hal itu akan terjadi.

"Dan kau sudah bertemu dengan Eric kemarin malam," tambahnya.

Reid berbalik dan menjabat tangan Eric. "Eric. Aku tak berpikir bahwa kita akan bertemu lagi secepat ini."

"Beruntungnya aku," kata Eric sambil tersenyum. "Sekarang kau bisa membelikanku bir untuk malam ini."

Lucie memotong dengan pandangan tajam ke arah Reid. "Kyle adalah partner Eric."

"Di rumah sakit?"

Kyle tersenyum di belakang birnya saat ia meminumnya dan Eric tertawa sembari menjawab, "Tidak, bung, kau melewatkannya. Lucie menekankan pada kata 'partner'. Dia menekannya dengan jelas meskipun tidak mengutip dengan jarinya untukmu."

"Mengutip dengan jari?"

Vanessa jelas tertawa terlalu keras, tapi kemudian berhenti sejenak untuk menjelaskan pada Reid. "Mereka kekasih, Reid. Eric dan Kyle pasangan gay."

Reid melirik ke arah Lucie untuk konfirmasi. Sial. Well, ini merubah segalanya. Menjulurkan tangan ke arah Kyle lagi, Reid mengatakan, "Maaf, bung. Aku berasumsi..."

"Bahwa aku bercumbu dengan Lucie? Tak perlu mengatakannya, bung, aku benar-benar mengerti. Kau hanya berdiri untuk menggantikan Jackson sebagai kakak laki-laki yang protektif. Tapi sebaiknya kau memiliki kemungkinan lebih besar untuk aku sukai daripada Lucie kita yang manis disini."

Eric menajamkan pandangannya pada kekasihnya dan Reid tak bisa menahan diri untuk tidak membalas.

"Tenang, amigo," kata Reid. "Taringmu terlihat."

"Yeah, aku tahu. Kyle pikir menyenangkan saat melihatku cemburu." Kemudian ia berbalik ke arah Kyle yang sedang menikmati pertunjukkan itu dengan tangan bersilang di dadanya. "Jaga sikapmu, K, atau kau akan membayar hal itu nanti. Itu janjiku."

Kyle mengejek, tak sedikitpun terintimidasi ancaman itu. "Kau harusnya tahu bahwa aku tak melakukan hal itu karena sebuah kecelakaan. Aku akan membuat satu ronde lagi untuk kita." Sebelum Eric memiliki kesempatan untuk membalasnya, Kyle berkedip ke arah Reidbukan kedipan genit, tapi sinyal bahwa ia senang membuat pasangannya cemburudan berjalan melewati Reid ke arah bar.

"Hey, Orange Crush!" Mereka berlima berbalik ke arah pria yang berteriak diantara kerumunan, tapi jelas siapa yang pria itu maksud. Reid memutuskan untuk menyembunyikan kaos itu sesampainya mereka di rumah. "Giliranmu!"

"Oh, sial, game ketiga sudah di mulai," kata Lucie sebelum menyelesaikan birnya. "Kami kalah di game pertama dan memenangkan game kedua, jadi tim manapun yang memenangkan game ini akan maju ke babak playoff. Doakan aku berhasil!"

Teman satu timnya mengangkat gelas mereka dan berteriak, "Semoga berhasil!" pada saat bersamaan. Sepertinya hal itu sudah sering mereka lakukan. Sekarang Reid tak lagi merasa marah, mereka jelas terlihat merupakan tim yang solid.

Reid membawa sebotol air mineral dan menaruhnya di atas meja untuk melihat Lucie memainkan anak panah. Setiap kali ia selesai melemparkan anak panah, Lucie akan berdiri di sebelahnya di bar saat mereka semua berbincang dan tertawa. Reid sudah mencoba menawarinya kursi yang ia duduki, namun Lucie menolaknya dan mengatakan bahwa ia akan sering berdiri. Sepertinya kebanyakan pemain lain juga tak duduk di kursi, memilih untuk berdiri di batas area permainan dan menyemangati teman mereka dan mencoba untuk mengganggu konsenterasi lawan.

Tak apa baginya karena duduk dengan meja bar di sebelah kanan dan papan panah di sebelah kirinya, Lucie secara tidak sengaja berdiri santai diantara kedua lututnya. Dan karena teman-teman Lucie berdiri di depannya, itu memberikan Reid kesempatan yang sempurna untuk menyentuh Lucie tanpa orang lain ketahui.

Pertama kali ia melakukan sesuatusebuah sentuhan ringan ke arah punggungnya dengan satu jariLucie langsung tersentak karena terkejut. Karena seseorang baru saja memasukkan begitu banyak koin ke jukebox, semua orang harus berteriak mengalahkan musik yang ribut atau berbicara langsung di telinga orang lain. Hal lain yang menguntungkannya. Mengarahkan mulutnya ke telinga Lucie, ia berkata, "Tenang, sayang. Tak ada yang bisa melihatku menyentuhmu. Turunkan rambutmu, Luce. Aku suka melihatnya tergerai."

Setelah menghabiskan segelas birnya, Lucie mengangkat satu tangannya dan menarik pengaduk plastik dari rambutnya, menaruhnya di meja bar. Rambut tebalnya jatuh ke bahu dan punggungnya dengan potongan yang lebih pendek di depan membingkai wajahnya. Lucie memiliki rambut seperti di iklan rambut Pantene, tapi sayangnya dia jarang menggerainya.

Sekembalinya Lucie dari gilirannya bermain, ia sekali lagi menempatkan dirinya di antara kaki Reid dan mulai mengobrol dengan Eric dan Kyle saat Vanessa melakukan gilirannya di permainan itu. Saat ia mendengarkan Kyle bercerita tentang beberapa event dari tempat kerjanya dan merespon semuanya di saat yang tepat, Reid menyelipkan tangannya di balik kaos Lucie, berhati-hati dan tetap menjaga jaraknya dekat dengan Lucie jadi tak ada yang bisa melihat apa yang sedang ia lakukan. Reid ingin membuat Lucie lebih menyadari keberadaannya, bukannya ingin memberi seisi bar pertunjukkan gratis.

Dengan lembut Reid menyentuhnya, menyapukan jemarinya di belahan tulang belakang Lucie, menjalankan jempolnya di sepanjang garis pinggangnya dibawah ujung celana jinsnya. Di bawah bar, tangan Lucie yang di taruh di atas dengkul Reid kini mengencang, menanamkan kuku pendeknya ke celana jeans yang Reid kenakan.

Tanpa menghentikan gerakannya, Reid menjawab pertanyaan dari Kyle saat Vanessa kembali dan Eric pergi melakukan permainannya. Memegang pinggul Lucie, secara perlahan ia menarik tubuh gadis itu ke belakang beberapa inchi jadi Lucie bisa merasakan kemana jalan pikiran Reid. Getaran menjalar di tubuh Lucie saat tubuh mereka bersentuhan, dan hal itu jelas bukan karena dingin di bar yang sesak.

"Ayo, Eric, kau bisa melakukannya!" Vanessa berteriak. "Satu kali lagi. Semua yang kau butuhkan hanyalah tiga angka delapanbelas dan kita akan maju ke babak playoff, sayang!"

Reid merundukkan kepalanya untuk mendekat ke telinga Lucie. "Apa biasanya kau tetap tinggal dan merayakan setelah permainan berakhir?" Lucie mengangguk. "Malam ini aku ingin kau mengatakan pada mereka bahwa kau lelah, sakit, diculik oleh alien, apapun yang bisa kau katakan. Kau akan pulang denganku."

Dia berbalik di pelukannya dan bergerak mendekat untuk menjawab. "Vanessa akan tahu sesuatu yang aneh terjadi jika aku tidak pulang dengannya. Dan ia tak akan membiarkan semua hal ini semudah yang kau bayangkan."

Reid mencondongkan kepalanya dan berdiri. "Baiklah. Aku akan menunggumu. Jangan terlalu lama, Lucie. Aku pikir aku bukanlah pria yang sabar di saat seperti ini."

Reid mengatakan selamat tinggal, memberikan Lucie satu tatapan terakhir yang penuh arti, dan berjalan keluar bar. Dia memberikan Lucie waktu tigapuluh menit. Maksimal.

***

Penerjemah: +Helda Ayu
Editor: +Ertika Sani

Poskan Komentar

12 comments

Wuih.....Reid yg pns
mksh mba helda n mba tika, jg mas yuyud

dach gk sabar nunggu bab selnjutnya..thanks mas mimin kece

aww..aww...aww... Reidis on Fire !!

cuusss ke rumahku saiank~~aku SETIA menunggumu Hingga ini semua kan berakhir Indah...wkkwkw

danke Mochiii,,makasiih Mas Yud..

wow...si reid udah kagak tahan....tks mb helda n mb tika . tks jg to mas yudi..

upss lupaa..
Maapph..

Danke Tikaaa Kartika Chandra Kirana,,, :)

Aaaaa ga sabar kelanjutannyaaaaa
Huah
Makasih mas yudi, mb helda, mb tika :D

reid mantepppppp
gentle..dgn sensasi gairah yg menggebu
tampang keren dan lucy udah menyadarinya sejak awal....
hadeuhhh bikin bulu alis merindingggggg
next lg. dong

Kya Πγª Reid Ʊϑɑ̤̈̊ħ tdk mau mlepaskn Lucie .. Tkut Lucie diambil org lain ya... Heehe.

Hari ini kok belum ada postingan ya?hmmm...

reid ga sabaran ah..

yaampun crita'y bgus bgt..mndebarkan setiap bab'y..
Woooaaaa...
G sbr bab slnjt'y.
Reid bner2 hot hnya melihat lucie
Thankz mbk helda, mbk tika, mz yudi

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top