13

strangers-thumb
Hampir tengah malam ketika mereka kembali ke rumah Charlie.

"Dua kejutan lagi," kata Charlie saat mereka berjalan dari garasi.

"Apakah itu kejutan besar?" Kate menyeringai, lengannya penuh hadiah.

"Salah satu harus menunggu di luar, tapi kami sedikit lebih terlambat daripada yang kukira. Pergi dan lihatlah."

Kate pikir Charlie kelihatan terlalu senang dengan dirinya sendiri dan bertanya-tanya apa yang akan dia temukan, mudah-mudahan bukan anak anjing. Kate meletakkan hadiah di aula dan membuka pintu. Hatinya mencelos.

"Oh Charlie, apa yang telah kau lakukan?" Bisik Kate.

"Halo, Kate." Ayahnya berdiri di ambang pintu memegang buket bunga. Charlie muncul di belakangnya.

"Rachel memberiku nomor teleponnya. Aku menelepon dia sore ini. Kau perlu bicara dengannya, Kate. Dengarkan apa yang dia katakan. Aku merasa lebih baik sekarang setelah aku sudah bicara dengan Janet. Kau perlu untuk menyelesaikan masalah ini."

Charlie meraih tangan Kate dan Kate menarik diri.

"Kau tak punya hak untuk melakukan hal ini," kata Kate. Semuanya kabur. Titik-titik menari-nari di depan mata Kate seolah-olah dunia telah berubah menjadi sebuah lukisan Seurat. Sebelum Kate mengetahuinya, mereka bertiga sudah berdiri di ruang tamu. Charlie memegang lengan Kate, menariknya duduk di atas sofa. Pikirannya berpacu melewati labirin, dilempar ke jalan buntu, berbalik, mencari jalan lain untuk keluar, sepanjang waktu tahu tak akan ada jalan keluar. Ayahnya duduk di seberang sofa.

"Charlie cukup baik memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu malam ini, Kate. Yang aku minta adalah kau mendengarkanku."

Kate bagaikan mundur ke dalam cangkangnya, seperti kepiting pertapa ketakutan yang bergerak mundur ke dalam lengkungan paling rapat, mengetahui dia menjebak dirinya sendiri tapi tidak ada tempat lain untuk pergi.

Kate berhasil merenggut tangannya bebas dari cengkeraman Charlie dan memeluk tubuhnya sendiri. Ketika Charlie mencoba untuk menempatkan lengannya di sekeliling Kate, Kate menolaknya. Dia tahu Charlie akan terluka, tapi Kate tak peduli. Charlie membalik hari terbaik dalam hidup Kate menjadi terburuk kedua.

"Apa yang kau lihat malam itu, itu bukan apa yang kau pikirkan," kata ayah Kate.

"Ibumu sakit jiwa, sayang. Dia mendengar suara-suara menyuruhnya untuk melakukan sesuatu. Itu baik-baik saja ketika itu adalah sesuatu yang baik, seperti memanggang kue tapi sesuatu tidak begitu baik ketika itu seperti menggali rumput di tengah malam." Dia membungkuk ke depan. "Apakah kau ingat?"

Sebuah lubang muncul suatu malam di halaman belakang. Ibunya mengatakan ia menginginkan kebun bunga.

"Dia sangat menyayangimu, aku tak ingin membawanya pergi darimu. Karena aku bekerja di rumah, kupikir aku bisa menjaganya. Jika aku mengetahui dia bisa melakukan tindakan kekerasan, aku tak akan pernah membiarkan dia tinggal di rumah."

Kate ingin menempatkan jari-jarinya di telinganya, berceloteh omong kosong sehingga dia tidak bisa mendengar ini.

"Malam itu, aku berada di dapur minum kopi, membaca koran. Gina masuk, mengambil pisau dari laci dan menikamku. Tidak ada peringatan, tidak ada argumen, tidak ada apa-apa. Aku mencoba untuk mengambil pisau darinya. Ketika kau turun, itulah apa yang aku coba lakukan, tidak membunuhnya. Tapi kau menyerbu dan semuanya kacau. Entah bagaimana semua orang terluka."

Kate terguncang, menatap lantai pada suatu titik di antara kaki ayahnya, berharap setan-setan bermata liar akan melonjak keluar melalui celah di antara papan-papan dan menyeretnya kembali ke neraka.

"Apa kau tidak ingat seperti apa dia, Kate? Kita tak pernah tahu apakah ia akan bangun dari tempat tidur di pagi hari, kalau dia ingat untuk membawamu ke sekolah atau menjemputmu. Kadang-kadang, Gina berperilaku seperti wanita yang aku nikahi dan seorang ibu yang baik, tapi itu sebuah lotere pada apa yang akan kita hadapi. Ibumu atau orang asing. Apa kau ingat?"

Kate tidak bicara.

"Jika aku bisa memutar balik waktu, aku akan melakukannya. Ya Tuhan, jika aku tahu dia mungkin menyakitimu, aku akan menempatkan dia di rumah sakit dan merawatmu sendirian."

Kate tahu ayahnya tidak akan pernah berhenti melukis. Itu semua yang dia lakukan, sepanjang hari, sepanjang malam, diam di studio ketika inspirasi datang padanya. Mereka tidak diizinkan untuk mengganggunya. Kadang-kadang mereka bersenang-senang, tapi ayahnya pikir perjalanan ke Tate atau National Portrait Gallery adalah menghibur untuk anak lima tahun. Ayahnya tidak tahu. Ibunya adalah orang yang membuat hidup jadi menyenangkan.

"Tidak mungkin aku bisa tahu dia akan melakukan sejauh itu. Aku menyayangimu, Kate. Kau anakku, putriku. Aku telah kehilangan terlalu banyak dari hidupmu. Tidak bisakah kita mulai lagi? Apakah kau tidak akan membiarkan aku menjadi ayahmu?"

Kate meringkuk semakin rapat. Charlie mencoba untuk menempatkan jari-jarinya di atas bibir Kate, tapi ia menarik diri, meluncur jauh ke sisi lain sofa. Charlie merusak segalanya.

"Ada sesuatu yang harus aku beritahu padamu tentang malam itu," kata ayahnya. "Tapi sebelum aku mengatakannya, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak menyalahkanmu terhadap apa yang kau katakan dalam persidanganku. Aku tahu apa yang kau pikir kau lihat, tapi kau salah. Itu sebabnya aku mengaku tidak bersalah, mengapa aku harus menghabiskan lebih lama di penjara. Tapi aku tidak menusukmu. Itu ibumu." Jari-jari Kate memukul-mukul menjadi sebuah ketukan di samping sofa.

"Maafkan aku, sayang. Aku tahu itu bukan apa yang ingin kau dengar, tapi itu kebenarannya. Kau masuk ke dapur dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kau pikir aku menyerang ibumu dan mencoba untuk menyelamatkannya."

Kate menutup matanya. Melihat darah, mencium baunya, merasakannya di tangannya. Sebuah kekacauan yang hangat dan lengket yang ia ingin itu hilang. Itu menggenang di lantai, menyebar seperti gelombang merah cipratan cat.

"Dalam kebingungan, ibumu menyerang dan kau meraih pisau. Entah bagaimana, kau menancapkan pisau ke kaki ibumu. Itu memutuskan arteri femoralisnya. Pada saat ambulans tiba, dia pendarahan sampai meninggal." Kate mendengar Charlie terkesiap sampingnya. Kate tidak akan pernah bernapas lagi.

"Kau tidak memberitahu padaku soal itu!" Charlie berteriak pada ayah Kate. "Kau benar-benar tidak memberitahuku bahwa itu alasan kau ingin bicara dengannya! Untuk mengatakan padanya kau tidak membunuh ibunya, Kate yang membunuhnya. Kau benar-benar bajingan kejam."

"Maafkan aku, sayang, " kata ayahnya.

"Kenapa kau harus memberitahu itu padanya? Dia masih kecil. Maksudku, apa-apaan ini?" Ayah Kate bangun dan melangkah ke arahnya. "Kate."

Kate melompat berdiri dan mengapit tangannya di mulutnya. "Permisi," gumamnya melalui jari-jarinya. Dia berlari keluar ruangan, membanting pintu dan tidak berhenti. Keluar dari rumah, turun ke jalan, lalu turun ke jalan yang lain, Kate tidak berhenti sampai dia naik ke dalam taksi.

Ketika Kate tidak muncul, Charlie pergi untuk mencarinya. Kamar mandi di lantai bawah kosong. Dia berlari ke seluruh rumah, memeriksa setiap kamar sebelum menghempas kembali ke ruang tunggu.

"Dia kabur. Kau keparat bodoh. Apa yang kau coba lakukan? Mendapatkan dirimu sendiri kembali tidak diakui olehnya? Aku mencoba untuk membantumu berbaikan dengannya. Bagaimana kau mengharapkan dia untuk bereaksi terhadap itu? Bagaimana kau tahu apa yang terjadi?"

"Dia menolak untuk bertemu denganku setelah aku keluar. Dia bahkan mengubah namanya."

"Jim, kau benar-benar seorang banci. Jika dia melakukan sesuatu yang bodoh, aku akan—"

"Bodoh semacam apa?"

Charlie langsung menutup mulutnya.

"Dia hanya kesal. Kau tahu bagaimana wanita. Dia akan kembali," kata Jim.

Charlie ternganga. "Aku tak percaya kau pikir kau bisa mengatakan padanya bahwa dia membunuh ibunya sendiri dan berharap untuk melenggang kembali ke dalam hidupnya. Maksudku, sekarang apa bedanya siapa yang melakukan apa? Ibunya sudah meninggal. Kate menghabiskan hampir seluruh hidupnya dalam panti asuhan karena apa yang terjadi. Dia tidak bisa disalahkan. Dia adalah seorang anak tujuh tahun, demi Tuhan."

"Tapi aku tidak membunuh siapa pun, " kata Jim. "Aku tidak ingin dia berpikir aku membunuh ibunya. Aku menghabiskan lima belas tahun penjara untuk sesuatu yang tidak aku lakukan."

"Dan Kate menghabiskan lima belas tahun di penjara juga."

"Dia mengambil uang yang aku tawarkan."

Charlie menatapnya. "Kau benar-benar tidak tahu, kan? Kau bahkan tidak bertanya padanya bagaimana keadaannya. Kau hanya ingin memindahkan rasa bersalahmu ke pundak Kate. Apa kau menulis surat padanya saat kau berada di dalam penjara? Pernah meminta untuk bertemu dengannya?" Charlie melihat jawabannya adalah tidak. Dia ingin memukul tinjunya ke wajah pria itu.

"Bisakah aku bantu mencarinya?"

"Bagaimana? Kau tak tahu apapun tentang dia—apa yang dia sukai, apa yang dia benci, apa yang dia takuti. Enyahlah. Keluar dari rumahku."

Setelah dia pergi, Charlie menemukan tas Kate di samping sofa. Dia membukanya, melihat kunci, dompet dan teleponnya dan tahu dia dalam kesulitan.

Charlie pergi ke apartemen Kate, tapi dia tidak ada dan sejauh yang bisa dia lihat, Kate tidak pernah pulang. Mobilnya ada di luar. Charlie kembali ke rumah, berharap Kate akan berada di sana. Dia tidak ada. Charlie duduk dan menunggu. Dan menunggu. Matahari terbit dan masih belum ada tanda-tanda keberadaan Kate.

***

Ethan mendengar ada yang menggedor-gedor di pintu dan mengabaikannya. Tapi siapa pun itu, dia tidak berniat untuk menyerah. Ethan bangkit dari tempat tidur, dan hanya untuk berjaga-jaga, dia melepas pakaian dalam yang dikenakannya semalam, sebelum memakai jubah putih. Ethan entah bagaimana tidak terkejut melihat Charlie berjalan mondar-mandir di luar. Ethan bertanya-tanya bantuan mana yang ia butuhkan kali ini—

ahli keuangan, tukang belanja pribadi, agen real estat, orang pengganggu atau penendang pantat.

"Ini sebaiknya berita bagus," bentak Ethan.

"Kate pergi."

Ethan dalam hati melakukan teriakan sukacita dan bergerak mundur untuk mempersilahkan Charlie yang berwajah pucat masuk.

"Apa yang terjadi?"

Charlie membiarkannya mengalir dan semakin ia mencurahkan, terangnya matahari bersinar untuk Ethan. Jadi lebih mudah untuk memasukkan Jody Morton ke dalam hidup Charlie dengan Kate yang sudah keluar dari jalan.

"Aku harus menemukannya," kata Charlie. "Aku butuh seorang detektif swasta."

"Aku tahu yang bagus," kata Ethan. Mencari batu dimana Kate telah merangkak di bawahnya bukan ide yang buruk, hanya perlu memastikan batu itu cukup berat.

"Masih terlalu dini untuk menelepon sekarang. Aku akan membuatkanmu sarapan."

"Aku tidak lapar."

"Kau tampak mengerikan."

"Aku belum tidur," kata Charlie.

"Tidurlah beberapa jam di lantai atas."

"Aku harus berada di tempatku seandainya Kate kembali." Charlie gelisah.

"Aku akan mengirim Jake ke sana. Dia tidak sibuk hari ini. Berikan padaku kuncimu." Charlie menyerahkannya dan mulai berjalan ke lantai atas. Ethan pergi ke dapur. Dia akan memastikan Jake tahu siapapun tidak akan masuk ke tempat Charlie. Kate menjadi daftar paling atas. Ethan sejauh ini sedang memegang teko di bawah keran, sebelum dia menjatuhkannya ke bawah, memercikkan air ke mana-mana. Dia berlari ke lantai atas.

Pintu kamarnya terbuka. Ethan pikir dia aman, bahwa Charlie sudah masuk ke ruangan yang tepat. Dia melihat Charlie berdiri di samping tempat tidur, memegang salah satu bra yang Kate buat. Itu adalah bra terbaik yang Ethan suka—satin putih dengan mawar pink kecil. Charlie sudah tampak pucat sebelumnya, tapi sekarang wajahnya seperti hantu.

"Dimana dia?" Charlie menjatuhkan bra dan berjalan menghampiri kamar mandi Ethan. Ia langsung membuka pintu, kemudian melonjak kembali, tinjunya mengepal.

"Dia tidak ada di sini," kata Ethan, memegang tangannya di depannya. Ethan bingung untuk menemukan sebuah skenario yang cocok, satu yang bisa dia cocokkan.

"Ini adalah bra Kate," teriak Charlie, melemparkannya ke wajah Ethan.

"Dia yang membuatnya, benar," jawab Ethan. "Pakaian dalamnya." Ethan mencoba untuk mengambilnya sebelum Charlie menyadari betapa besarnya itu, bahwa itu hangat dan mungkin sedikit basah, tapi Charlie menarik tangannya.

"Kate!" Teriak Charlie. "Di mana kau sebenarnya?"

"Charlie, dia tidak ada di sini. Aku memintanya untuk membuat pakaian dalam untuk seorang teman."

Ethan merasa lega ketika Charlie mengempis seperti balon tua, tampak keriput kebingungan di wajahnya.

Lalu Charlie meluruskan. "Jadi, di mana temanmu?"

"Dia sudah pulang."

"Meninggalkan celana dalamnya?" Mata Charlie penuh dengan ketidakpercayaan.

"Charlie, kehidupan seksku tidak ada hubungannya denganmu."

Bahu Charlie merosot lagi. "Tidak, maaf."

"Kamar kosongnya di seberang tangga," kata Ethan. "Tidurlah. Pada saat kau bangun, aku akan sudah membereskan semuanya."

Ketika pintu ditutup, Ethan bernapas. Hampir saja.

***

Ketika Charlie muncul beberapa jam kemudian, ia masih tampak mengerikan. Ethan bertanya-tanya apakah ia bahkan pernah tidur.

"Aku harus pulang seandainya Kate sudah kembali," kata Charlie. "Apakah kau punya seorang detektif untuk mencarinya?"

"Aku sudah mempekerjakan dua orang untuk itu. Aku sudah menggunakan mereka sebelumnya. Mereka bagus." Ethan tidak mempekerjakan detektif. Dia memutuskan itu akan membuang-buang uang dan dia tidak mau membuang-buang uang. Ethan akan menunggu beberapa hari dan memberitahu Charlie bahwa Kate tampaknya telah menghilang tanpa jejak. Pada saat Kate muncul, jika dia muncul, Charlie sudah berpindah pada orang lain dan ia hanya ada dalam pikiran seseorang.

Ethan menuangkan Charlie kopi dan meletakkannya di depannya.

"Jadi, apa yang terjadi?" Tanyanya.

Charlie mengusap rambutnya. "Aku mengacaukannya. Kupikir aku sudah melakukan hal yang benar dan ternyata tidak."

"Apa yang kau lakukan?"

Ethan mendengarkan tanpa bicara, berpikir jika ia harus menggambarkan skenario kasus terburuk, ini akan berada di sana di suatu tempat. Wanita itu adalah bencana berjalan.

Sebuah bagian kecil dari diri Ethan berpikir sayang sekali Tiffany Samuels tidak menancapkan pisau sedikit lebih rendah dan lebih dalam. "Kekasih dibunuh oleh penggemar gila." kedengarannya menarik.

Ethan bisa melihat Charlie peduli pada Kate. Ethan tidak buta, tapi orang itu sedang dikuasai oleh kemaluannya. Dia perlu mengambil orang lain untuk ditiduri dan melupakan seorang pelayan. Ini adalah kesempatan yang ideal untuk Jody Morton untuk melangkah masuk.

"Apa ada yang bisa kulakukan untuk membantu orang-orang ini?" Tanya Charlie.

Ethan harus berpikir satu menit untuk mengetahui apa yang Charlie bicarakan.

"Tidak, mereka akan kembali pada kita jika mereka membutuhkan sesuatu."

"Sebuah foto? Mereka membutuhkan sebuah foto." Kepala Charlie tertunduk. "Aku tidak punya satupun."

"Ada banyak di koran," Ethan mengingatkannya dan Charlie layu seperti lansia.

"Aku harus kembali." Dia melompat berdiri. "Bisakah kau mengatur seorang pelukis? Aku butuh langit-langitku dicat."

Ethan menatap padanya. Bicara tentang perubahan arah pembicaraan. "Jake di sana. Dia akan mengurusinya. Dia bisa tinggal dan menemanimu."

Charlie tertawa singkat. "Takut aku akan mulai minum lagi? Memakai beberapa baris coke?"

"Apa kau melakukannya?"

Charlie mengangkat matanya ke mata Ethan dan Ethan bertemu tatapannya. "Tidak."

"Bagus." Jadi Kate telah melakukan suatu kebaikan padanya. "Jake memiliki salinan jadwalmu. Dia yang akan menjagamu."

"Aku tidak butuh seorang perawat sialan. Aku ingin Kate."

"Kau punya berkomitmen untuk dihargai. Ada semua jenis urusan yang terjadi seminggu ini. Kau harus ada di acara chat BBC sebagai awalan."

"Aku tidak merasa seperti itu."

"Kau dibayar untuk merasa seperti itu. Kau aktor, Charlie. Berpura-puralah."

***

Charlie menghabiskan seminggu dalam keadaan linglung. Jake mengantarnya ke mana-mana, memasak untuknya dan memindahkan minuman keras. Charlie tidak bisa menemukannya.

Selama beberapa hari pertama, apapun yang Charlie seharusnya lakukan, dia lakukan. Itu termasuk wawancara bersama dengan Jody Morton untuk majalah film. Ethan sudah mengatakan padanya Kate telah pergi dan alasannya, dan Jody selalu ada di sekitar Charlie, mencoba untuk bersikap baik. Dia ternyata lebih simpatik daripada yang Charlie harapkan. Dia mendengarkan sementara Charlie bicara dan bicara.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan tidak ada kabar dari Kate, Charlie hancur berantakan. Ketika Charlie sendirian, dia menangis untuk apa yg telah hilang darinya. Dia senang Jack memindahkan alkohol. Dia ingin membeli rokok, tapi berpikir tentang Kate dan apa yang dia katakan dan tidak pernah menyalakan rokok satu pun. Dua kali sehari Jake mengantarnya ke apartemen Kate.

Sementara Jake duduk di dalam mobil, Charlie berbaring di tempat tidur Kate, menghirup aroma samar yang tertinggal, menekan wajahnya ke bantal Kate, berharap padanya untuk kembali pada Charlie. Charlie menulis pesan pada catatan tempel, menutupi dinding di kamar tidurnya dengan gambar persegi kuning,

"Aku mencintaimu."

"Kembalilah."

"Aku membutuhkanmu."

Lalu Charlie marah. Apa yang Kate pikir telah lakukan? Kate harus tahu Charlie tidak bermaksud menyakitinya. Dia tidak memberi Charlie kesempatan untuk menjelaskan, hanya melarikan diri ke dalam malam. Charlie sudah mengatur pesta, lalu dia menghilang dari semua masalah itu. Tidakkah Kate berpikir Charlie akan khawatir? Tidakkah Kate peduli? Tidak, dia tidak. Kate tidak peduli.

Tapi bagaimana kalau Kate tidak akan kembali? Bagaimana jika dia sudah mati? Pikiran itu terjebak di tenggorokan Charlie, benjolan ganas yang menghentikannya makan. Charlie menelepon polisi, tapi mereka pikir dia gila. Polisi bilang padanya mengatakan jika itu karena bertengkar, dia akan kembali. Charlie ingin percaya itu. Detektif Ethan tidak menemukan apapun, tapi masih mencari. Lucy, Dan dan Rachel sama khawatirnya dengan Charlie. Dia memberi mereka nomornya, meminta mereka untuk menelepon jika mereka melihat Kate. Charlie tak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan.

Kemudian sedih, marah dan ketakutan bercampur aduk, memutar-mutarnya dalam angin puyuh penderitaan. Charlie mengunci diri di ruangan musiknya, menulis pada kecepatan yang gelisah, menangis sampai tidak ada air mata yang tersisa. Charlie meyakinkan dirinya Kate sudah mati, bahwa dia bunuh diri. Kate mengatakan padanya bahwa Charlie akan mengacaukan hidupnya dan Charlie sudah mengacaukannya.

***

Ethan khawatir. Dia tahu 24/7 merencanakan untuk memuat sebuah cerita tentang Charlie dan hal itu akan menjadi buruk, tapi dia tak tahu seberapa buruk. Sumbernya tidak memberinya petunjuk. Bagian kecil dari Ethan bertanya-tanya apakah Charlie telah melakukan sesuatu pada Kate, mungkin membunuhnya, tapi bagian yang masuk akal dari dirinya menyadari bahwa jika 24/7 mengetahuinya, maka Charlie akan berada dalam tahanan polisi. Ethan mengatakan pada Charlie para detektif telah melacak Kate ke Brighton dan dia tidak akan kembali. Ethan pikir itu akan menenangkannya, tetapi ternyata tidak. Ethan harus menyuruh Jake untuk secara fisik mencegah Charlie mengemudi ke pantai di selatan.

Ethan mempertimbangkan untuk memperingatkan Charlie bahwa masalah akan datang, tapi pada akhirnya memutuskan untuk tidak. Ethan mengkhawatirkan cash cow (bisnis yang menghasilkan uang banyak) mudanya. Sejak Kate lenyap, Charlie telah memburuk ke jurang kehancuran. Pers yang buruk bisa mendorongnya sampai ke tepian. Ethan memutuskan strategi yang berbeda, dengan menggunakan Jody. Jody senang luar biasa ketika minat cinta terbaru Charlie menghilang, namun Ethan mampu membujuk Jody untuk tidak langsung naik ke tempat tidur Charlie, tapi menjadi pendengar yang penuh perhatian dan simpatik. Jody bisa memungut kepingan-kepingan pada hari minggu setelah surat kabar telah melakukan yang terburuk. Ethan hanya berharap akan ada kepingan untuk dipungut.

***

Penerjemah: +Putri Yuni
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

13 comments

Pengen nonjok ethan...duit mulu yg dipikirin...

Kemana kemana kemana kate makasih putri yuni n mas yudi

Kate...where are you.....kacian charlie

Ah sialan banget si ethan ini
Huh!
Si kate kemana si :( kesian charlie
Makasih mas yudi, mb putri :D

ethan minta ditabok -,-
yaks, licik banget egois -____-
pecat ajah charlie~~~
kate dimanakah dirimu?
charlie semangat ~~

mkasii mba putri n pn :D *cium :*

@astrid setuju..tonjok aja smpai ba2k blur. .

Aduuuhh .charly jg frutasi ya.. Cari trus kate sampai ktemu.. Fighting.!!;)

thx mb putry mz yudi..^^

Kalo ini si Ethan depan mata pengen banget ngegebukin sampe mati bikin kesel aja sih

Kembalilah kate..
Tq mba putri n mas yudi...

Ethan mksdnya apa sech???bikin org marah aza..
†ђąηk ўσυ mba putri n mas yudi

Ethan pake bra kwkwkwkw

@#*!!@?#* «« lg gebukin iblis ethan

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈мαkαsih✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣
Mb'Putri + ms Yudi

Mudh2n Charlie tau btapa brengsek Πγª agen Πγª biar dtendang tuch pantat Ethan jelek..

Kasian Charlie T.T
Ayo bareng2 kita hajar ethan >:(
Thx mas yudi editannya, thx all readers

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top