12

strangers-thumb
Pada Senin pagi, Kate berjalan ke Crispies melewati pintu yang dibukakan Dan untuknya. Kate melirik jam. Tepat waktu. Tapi senyum lebar Mel menyebabkan senyum Kate lenyap seperti es krim di atas trotoar panas. Ada sesuatu yang tidak beres.

"Bagaimana perasaanmu, Kate?" Tanya seseorang yang mirip Mel.

Dan meletakkan telapak tangannya di dahi kakaknya.

"Kau tidak demam." Ia menyelipkan tangannya ke hidung Mel dan meremasnya. "Ah, ini hangat. Bukan pertanda baik." Dan mengedipkan mata pada Kate. "Oh tidak, aku salah. Itu hidung anjing yang seharusnya dingin. Kukira kau sehat, Mel."

"Pergilah, Dan." bentak Mel.

Dan tertawa. "Harusnya seperti itu. Kupikir kau benar-benar sakit." Kate melepas jaketnya dan menggantungkannya di ruang istirahat staf. Lois berjalan melewati, mulut dan matanya terbuka lebar saat ia menatap Kate dengan sesuatu yang mendekati kagum. Dua dari para pelayan lainnya meringkuk di pojokan, berbisik-bisik.

Ini akan menjadi hari yang panjang.

Kate berjalan menuju dapur, berharap Tony akan menghiburnya, tapi bukannya menggoda seperti yang biasa Kate nikmati, Tony terus memotong wortel dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Kate merasa jengkel, sadar diri dan khawatir, semua pada waktu yang sama. Dia kembali ke ruang makan untuk mencari Mel yang masih bicara dengan Dan.

"Kita akan menjadi sangat sibuk hari ini," kata Mel. "Aku harus ikut melayani kemarin karena seseorang tidak datang dan membantu." Mel melototi kearah adiknya.

"Aku sudah bilang aku sedang sibuk. Aku punya pekerjaanku sendiri." Mel memutar matanya dan berpaling pada Kate. "Mengalami akhir pekan yang menyenangkan?" Mulut Kate langsung terbuka. Dia mengatupkan bibirnya. Mel tak pernah tertarik pada urusan apa pun yang staf lakukan di luar.

"Apa yang kau lakukan bersama Charlie?" Tanya Mel.

Mendengar nama Charlie disebut, suara gemericik memenuhi udara karena setiap orang di sekeliling tertuju pada percakapan itu. Lois beringsut dan membersihkan debu kursi di belakang mereka.

"Dia mengajakku untuk bertemu dengan orangtuanya." Tangan Kate langsung membekap mulutnya. Sial, apa dia benar-benar idiot?

"Oh. Tuhan. Ku. Dia pasti serius. Apa dia akan datang hari ini? Please, bisakah dia datang hari ini?" Tangan Mel menari-nari dengan kegembiraan.

"Dia di Irlandia. Jangan bilang siapa-siapa kami pergi untuk melihat orang tuanya," Kate memohon.

Mel mengerutkan kening kemudian wajahnya cerah seolah-olah dia telah melihat Santa Claus turun ke cerobong asapnya membawa hadiah untuknya dan bukan untuk Dan.

"Oke, tapi fakta bahwa dia di Irlandia menjadi rahasia juga. Jika pelanggan bertanya, katakan kau menunggunya kapan saja."

"Tapi—" Kate berhenti saat melihat cara Mel menatapnya. Suatu perintah, bukan permintaan. "Hanya—" Kate membuat satu usaha lagi.

"Orang-orang akan berbondong-bondong ke sini jika mereka berpikir ada kemungkinan Charlie Storm akan muncul," bentak Mel.

"Tapi surat kabar tidak mengatakan secara tepat di mana aku bekerja. Ada banyak kafe di Greenwich."

"Aku yakin itu tidak akan butuh waktu lama bagi orang-orang untuk mencari tahu." Mel menghindari mata Kate.

"Toh, Charlie sudah berada di sini minggu lalu. Mereka akan berpikir dia langganan disini. Kita akan menarik kerumunan yang berbeda."

"Satu-satunya bintang yang akan berada di matamu," kata Dan dan tertawa.

Kate tahu dengan baik ekspresi wajah Mel. Marah dan dilecehkan.

"Apa kau menelepon dan memberitahu mereka?" tanya Dan.

Tatapan Mel bergeser ke langit-langit kaca.

Sialan, pikir Kate.

"Mel, bilang padaku kau tidak melakukan itu," kata Dan. "Tolong beritahu aku kau belum menggunakan nama Charlie dalam rangka untuk memenuhi tempat ini."

Tapi Kate tahu bahwa Mel melakukannya, karena menyebarkan berita bahwa Charlie mungkin masuk kesini kapan saja akan menjadi suatu yang bagus untuk bisnis.

"Tentu saja tidak."

Dan mendesah.

"Maukah kau menjadi saudara yang baik bukannya menjadi saudara yang kejam dan mengatur pengiriman anggur?" Tanya Mel.

Kate tahu mengapa dia menyingkirkan Dan. Saat Dan keluar dari pandangan, Mel mengikuti Kate seperti anak anjing yang bersemangat untuk mendapat setiap remah makanan.

"Jadi apa yang disukai Charlie?" Tanya Mel.

Kate membersihkan meja dengan kain dan menekan bibirnya.

"Bagaimana kau bertemu dengannya?" Kate pindah ke meja berikutnya.

"Kau bisa bilang padaku. Kita berteman."

Kate berbalik dan menyilangkan lengannya. "Siapa kau dan apa yang telah kau lakukan dengan bosku?"

"Oh, sangat lucu. Ayolah, Kate. Beberkan rahasianya."

"Aku tidak bisa bicara tentang dia." jelas Kate. "Pers akan memutar balikkan segalanya."

"Kita bukan pers." Mel berusaha memberikan tatapan tulus berseri dan gagal.

Kate tersentak saat sapu menghantam kakinya. Lois menyapu lantai di belakangnya, membungkuk dengan antena yang bergerak-gerak.

"Bagaimana kau bertemu dengannya?" Tanya Mel. "Apa kemaluannya benar-benar—"

"Mel," Tony berteriak dari dapur. "Kemarilah." Kate menarik napas lega. Mel selalu melompat untuk Tony.

"Apa dia menyanyikan Just One Look untukmu? Aku suka yang satu itu." gumam Lois dengan suara melamun di bahu Kate.

"Aku punya semua albumnya. Apa kau pikir kau bisa membuatnya untuk menandatanganinya untukku?"

"Aku tidak tahu," kata Kate, hampir berharap Mel memecatnya.

Kate mendengar ketukan di jendela depan. Matanya terangkat. Dia tidak bisa percaya. Sepuluh menit sebelum kafe dibuka dan satu baris orang berdiri menunggu di trotoar.

Dan melesat lewat. "Aku harus pergi ke grosir. Sampai jumpa nanti." Mel muncul dari dapur, melirik bersalah pada Kate dan mulai mengelap cermin. Pertama kalinya—Mel bekerja.

Kekacauan tentang Charlie mulai saat pintu terbuka. Tatapan penasaran dan pertanyaan yang kurang sopan membuat Kate sakit kepala yang berdenyut-denyut. Keirian yang blak-blakan masih bisa Kate atasi, tapi kebencian yang mendalam membuatnya segera ingin melarikan diri.

Waktu istirahat tidak bisa datang cukup cepat.

Kate bersembunyi di lemari toko, duduk di drum minyak goreng dan beralih pada ponsel nya. Charlie mengirimkan sms.

Memikirkanmu dan sekarang aku punya masalah yang sangat besar untuk dihadapi sebelum aku pergi untuk sarapan. Ingin kau ada di sini. xx Hippo

Kau juga telah memberiku masalah besar. Jutaan orang ada @ Crispies karena mereka pikir mungkin kau ada disini. xxx Mermaid

Baru saja "pesan terkirim" di layar muncul, telepon berdering. "Bagaimana aku bisa menghubungimu jika kau terus mematikan ponselmu?" Tuntut Charlie.

Kate tersenyum. "Selamat pagi juga untukmu."

"Aku menginginkan kau," bisik Charlie. "Aku ingin melanjutkan diskusi kita tadi malam." Kate merasa denyutan akrab di antara kedua kakinya hanya dari bunyi suara Charlie.

"Kau tidak membereskan masalah kecilmu?" tanya Kate.

"Itu bukan masalah kecil dan ya, aku sudah membereskannya. Aku sedang sarapan. Hei, jauhkan tanganmu dari roti panggangku." Kate mendengar wanita tertawa dan tiba-tiba merasa resah.

"Natalie?" Kate berharap dia tidak bertanya.

"Ya." Ada suara dari pergumulan dan kemudian seorang wanita bicara di telepon.

"Dia seperti penggoda, Kate. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tahan dengan dia." Kemudian telepon itu kembali ke tangan Charlie.

"Aku akan meneleponmu malam ini," kata Charlie. "Aku akan sibuk sepanjang hari." Kate mendengar Natalie terkikik.

"Dalam meeting," tambah Charlie.

"Oke, aku harus pergi sekarang," kata Kate dengan suara tenang.

"Bye, Mermaid."

Kate mendengar tawa lagi dan kemudian telepon terputus. Kate menutupnya dan memasukkan ke dalam sakunya, kakinya menendang drum. Suara cekikikan Natalie menggema dalam kepalanya. Kate ingin pulang dan mengubur kepalanya di bawah bantal namun dia memaksa diri melewati pintu.

Kate menyelinap melewati Tony, yang sibuk memasak ekstra dari segala sesuatunya, dan mengintip melalui lingkaran jendela kaca dari pintu ayun. Tempat ini dipenuhi dengan orang-orang yang mengobrol. Hebat, pikir Kate, Charlie sedang sarapan dengan seorang wanita cantik, yang masih cantik meskipun dia muntah di tubuh Charlie, sementara Kate harus melayani sarapan untuk beberapa pelanggan galak dan orang-orang yang selalu ingin tahu dan tampak bahagia tentang hal itu. Kate tidak cemburu. Tidak. Kate tidak pernah membiarkan dirinya menjadi cukup terikat dengan siapa pun untuk merasa seperti itu.

Meskipun hidupnya yang sulit, Kate tidak merasa tidak aman. Kate tidak memiliki dilema tentang penampilannya atau tubuhnya. Dia belajar untuk tidak pernah menunjukkan kelemahan semacam itu. Itu adalah undangan untuk di bully. Kate menempatkan diri dengan menerima pada apa yang dia punya, meskipun itu tidak berarti dia terkadang tidak iri pada orang lain. Bukan karena uang atau mobil atau rumah mereka, tapi untuk kasih sayang keluarga mereka, teman-teman mereka, fakta bahwa mereka memiliki orang-orang yang peduli tentang mereka. Kate tidak pernah merasa cemburu tentang seorang pria sebelumnya.

Kate berharap dia punya paspor.

***

Satu hal tentang menjadi sibuk—itu membuat Kate berhenti berpikir. Semua orang bergesa-gesa.

"Ya, kami mengharapkan dia nanti."

"Tidak, kau tidak melewatkannya. Bisa datang kapan saja sekarang."

"Oh ya, dia pelanggan di sini." Mel menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Kate abaikan. Pelanggan yang ingin berlama-lama dipaksa untuk tetap memesan dan jika mereka mencoba untuk tetap bertahan pada teh atau kopi, Mel menunjukkan ancaman pesanan minimum yang dia tancap di bagian bawah setiap menu pagi itu.

Kate mengantarkan sepiring lasagna ke meja dua belas dan tersenyum pada pria muda yang duduk di sana, pria berwajah bulat, berambut pirang dengan senyum yang manis. Tipe pria yang biasanya memberikan Kate tip besar.

"Apa selalu sesibuk ini?" Tanyanya.

"Crispies sangat populer."

"Bekerja di sini sudah lama?"

"Tidak. Apa ada hal lain yang bisa kubantu? "Kate tersenyum padanya.

"Aku ingin segelas anggur merah. Aku juga akan mentraktirmu satu."

"Sedikit terlalu  pagi untukku, terima kasih. Jadi, anda bekerja untuk koran apa?" Dia tertawa.

"The Star. Andy Swift. Ingin memberiku sebuah wawancara eksklusif, Kate? Bagaimana kau bertemu? Seperti apa dia di ranjang? Hal-hal semacam itu. Lima ribu pound?"

"Tidak."

"Sepuluh." Kate menelan ludah. "Tidak."

"Dua puluh," Andy menawarkan.

Kate berjalan pergi, jantungnya berdebar kencang. Setiap kali Kate lewat di dekat meja pria itu, ia menaikkan harganya beberapa ribu.

"Berikan aku beberapa ide jika aku menjadi semakin hangat," keluhnya.

"Max bilang padaku untuk tidak bicara dengan siapa pun." Wajah reporter itu redup. Kate tahu dia akan berpikir maksud Kate adalah ahli PR, Max Clifford. Kate berpaling dari meja, menyeringai, dan menemukan dirinya menghadapi seorang wanita pirang tinggi kira-kira seusia dengannya. Sebelum Kate bisa melangkah ke satu sisi, sebuah tangan melayang dan menamparnya keras di pipi. Kate tersentak dan tangannya sendiri naik dalam upaya terlambat untuk melindungi wajahnya.

"Pelacur," pekiknya pada Kate.

Kate melangkah mundur, mengusap pipinya yang kesemutan. Seluruh ruangan menjadi hening.

"Tinggalkan dia sendiri. Dia milikku."

"Benar." Kate berbalik.

Ini menjadi pedih. Kate bisa melihat apa yang Charlie terima dengan sabar. Orang gila yang bodoh. Sebelum Kate berjalan dua langkah, dia merasa pukulan di atas bahunya dan terhuyung-huyung ke depan.

"Astaga!" bentak Kate dan mengepalkan tinjunya.

Ada jeritan melengking dari suatu tempat, bukan dari Kate, dan kemudian tempat itu gempar. Kate berbalik dan melihat reporter dari The Star memegang pergelangan tangan wanita berambut pirang itu. Dia mengguncangkan pisau dari jari-jari si pirang. Kate menyaksikan pisau itu jatuh ke lantai dan berputar jauh di bawah meja. Gila, pikir Kate, hal yang baik dia berada di sini setelah semua itu.

Ketika kesadaran menghantam bahwa reporter itu sudah mendapatkan ceritanya, tidak hanya satu yang telah ia harapkan, Kate menghela napas berat.

"Kate." Tony muncul di depannya dan mengambil lengannya, menariknya keluar dari kekacauan ruang makan dan masuk ke dapur. Hanya setelah Tony meletakkan jari-jarinya di punggung Kate dan menunjukkan darah, Kate menyadari dia telah ditusuk.

"Oh Tuhan," Kate tersentak dan bergetar. Tony menyeret bangku dengan kakinya, mendudukkan Kate dan melepaskan kemejanya. Mel datang mengamuk ke dapur dari kantornya.

"Sebenarnya ada kegaduhan apa ini?

Apa—Tony apa yang kau lakukan?"

Kate melirik, melihat kesedihan di wajah Mel dan tahu itu bukan untuknya.

"Sudah berapa lama ini terjadi?" Mulut Mel membentuk garis keras. "Demi Tuhan, Mel. Tak bisakah kau melihat darah? Seorang gila menikam Kate."

"Apa?"

"Dia menusukku?" Kate masih belum bisa percaya.

"Aku akan menelepon polisi. Bagaimana dengan ambulans?" tanya Mel.

"Tidak," kata Kate. "Tidak dua-duanya."

"Tapi dia menusukmu," teriak Mel.

"Please. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin kau menghubungi siapapun. Ini tidak terlalu parah, ya kan?"

"Jangan khawatir," Tony meyakinkan dirinya.

"Dia mengenai tulang belikatmu."

"Sial." Kate mengerang saat Tony memegang selembar handuk di atas lukanya.

"Pergilah ke luar sana dan lihat apa yang terjadi," kata Tony pada Mel.

"Seorang pria menangkap wanita yang melakukan itu dan membuatnya menjatuhkan pisau, tapi hati-hati. Jangan pergi ke mana pun di dekatnya." punggung Kate sakit sekarang. Berdenyut-denyut. Air mata mengalir di mata Kate dan dia berkedip. Apakah ini apa yang Kate dapatkan untuk mengencani Charlie?

"Aku tahu bahwa mata pelajaran kesehatan dan keselamatan tentu akan berguna. Tidak pernah terpikir aku harus melepas atasan seorang wanita sekalipun." Tony mengedipkan mata.

"Ini hanya membutuhkan beberapa strip kupu-kupu. Tanganmu tetap di sini." Tony menarik lengan Kate ke dadanya dan ke atas bahunya, dan kemudian mengangkat kotak pertolongan pertama dari dinding. "Apa kau sudah memperbarui suntik tetanusmu?"

"Ya."

"Tidak tertarik pada rumah sakit, kan?" Kate menggelengkan kepalanya.

Kate telah menolak untuk pergi ketika Mel meminta relawan. Kate melengkungkan tulang belikatnya saat Tony memberikan sapuan antiseptik di seluruh punggungnya.

"Kelihatannya ini bukan pertama kalinya seseorang melakukan itu padamu." Jari Tony menyentuh bekas luka Kate.

"Kecelakaan masa kecil," kata Kate.

"Ini tidak terlalu buruk. Aku hanya akan mengamankan tepi lukanya."

"Dan kenapa kau mengatakan itu?"

"Kita harus meyakinkan pasien. Kau salah satu pasien pertamaku. Aku tidak menghitung serpihan batu pada Lois."

"Aku yang mengeluarkannya."

"Oh ya. Untuk memastikan stripnya tetap di tempat, aku akan melekatkan lagi dua garis sejajar pada luka untuk tetap kering. Tidak boleh melakukan seks dengan penuh semangat, kecuali denganku." Kate mengerang.

"Jujur saja, itu tidak terlalu buruk."

Selain mencoba untuk menenangkan Kate, Tony sebenarnya mengkhawatirkan dirinya.

"Apa yang tidak terlalu buruk—seks denganmu?" Tanya Kate, berusaha untuk meringankan ketegangan.

"Tidak, itu brilian," kata Tony, tertawa.

"Kau sebaiknya pulang. Aku yang akan membayar taksinya."

"Aku baik-baik saja, Tony. Aku hanya terkejut."

Pintu terbuka dan keduanya berpaling untuk melihat wanita yang telah menikam Kate berdiri di samping reporter. Tony melangkah di depan Kate yang bertelanjang dada.

"Keluar dari dapurku," katanya.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Andy.

"Keluar."

"Ini adalah Tiffany Samuels," kata Andy. "Dia ingin meminta maaf dan menjelaskan."

"Baiklah," kata Kate. Permintaan maaf itu sia-sia tapi Kate ingin penjelasan.

"Kau yakin, Kate?" Tanya Tony. Kate mengangguk.

"Ayo, Tiffany," desak Andy.

"Sampai sebulan yang lalu, aku bertunangan dengan Charlie. Itu rahasia. Kami tidak ingin pers untuk mencari tahu. Hanya saja...dia memutuskannya dan aku patah hati." Air mata mulai bergulir di pipinya. Kate tidak terkesan.

"Maaf aku melukaimu. Kumohon jangan menelepon polisi. Sesuatu dalam diriku tersentak ketika aku melihat koran kemarin. Kupikir Charlie putus denganku karena aku adalah orang biasa. Maksudku, aku bukan seorang bintang film atau penyanyi, tapi tidak ada yang spesial tentangmu.

Kau hanya seorang pelayan, jadi pasti bukan karena itu."

Aww thanks, pikir Kate. "Aku—" Tiffany mulai mengatakan dia tidak mengenal Charlie terlalu lama dan kemudian melihat mata reptil dari wartawan dan menutup mulutnya.

"Aku masih mencintainya," isak Tiffany. "Kurasa jika aku bisa membuatmu pergi, dia akan kembali padaku. Kuharap aku mempertahankan bayinya. Lalu aku masih punya sedikit bagian dari dirinya."

Oh Tuhan, wanita ini gila.

"Tapi dia tidak menginginkannya," bisiknya. "Dia bilang itu akan merusak karirnya. Dia memintaku untuk melakukan aborsi."

"Berapa lama kau sudah berkencan dengannya?" Tanya Andy. Kate bertanya-tanya apa ia sedang merekam semua ini.

"Tiga bulan."

"Apa reaksimu terhadap hal ini, Kate?" Andy berbalik ke Kate.

Kate berjalan keluar dari ruangan. Apa yang harus ia katakan? Mata pria itu berkilau. Dia tak peduli apakah itu benar atau tidak. Dia sudah punya ceritanya sendiri. Kate pergi ke toilet staf dan mengunci diri di bilik. Dia mengirim sms ke Charlie.

Apa kau kenal Tiffany Samuels?

xx Mermaid.

Kate bertekad untuk tidak bergerak sampai dia mendengar kabar dari Charlie. Kate tidak percaya wanita itu. Dia menduga ada segala macam orang aneh di luar sana, menunggu kesempatan melompat keluar dari suatu celah. Tapi Kate berharap Charlie belum pernah mendengar tentang yang satu ini. Teleponnya berbunyi tanda sms.

Tidak. Sedang berburu perhiasan?

xxx Hippo

"Kate, kau di sana?"

Itu Mel. Kate menyiram toilet yang tidak terpakai dan keluar.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Mel. "Ya."

"Kau terlihat sedikit pucat."

"Aku baik-baik saja."

"Aku membawa ini untuk kau pakai. Ngomong-ngomong bra yang bagus. Darimana kau mendapatkannya? Apa Charlie membelikannya untukmu?"

"Tidak." Mel menawarkan Kate salah satu dari atasannya, sesuatu yang mengerikan dengan bunga merah dan kuning. Kate menggigit bibirnya untuk menghentikannya ekspresi ngerinya.

"Terima kasih."

"Kau bisa pulang jika kau ingin."

"Kurasa aku lebih suka bekerja." Kate memakai atasan itu dan bersandar di bak pencuci untuk melihat wajahnya yang pucat. Seorang pelarian dari masa lalunya balas menatap.

Mel membuka pintu.

"Lagipula itu tidak akan berlangsung lama. Mereka akan berakhir dengan orang sepergaulan mereka sendiri. Orang-orang seperti kita adalah sensasi murahan."

Ejekan itu lebih menyakitkan daripada tusukan di punggung. Apakah itu Kate bagi Charlie? Sebuah sensasi murahan? Mungkin ini adalah sebuah ujian. Apa yang akan Charlie lakukan ketika ia mendengar apa yang terjadi?

Mengambil napas dalam-dalam, Kate masuk ke ruang makan. Ada lebih banyak pelanggan daripada sebelumnya. Setiap kursi terisi dan orang-orang masih berbaris di luar. Kate bertanya-tanya berapa lama lagi akan seperti ini sebelum Mel memutuskan penghasilan tambahan itu tidak layak diributkan. Crispies akan kehilangan pelanggannya dan orang-orang bermuka bodoh ini akan pergi setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dianggap di dalam fly-past* yang spektakuler oleh kontingen akting Inggris.

Kate terus melanjutkan pekerjaannya, tersenyum dan berkata sesedikit mungkin. Punggungnya terasa nyeri, tapi itu bukan masalah besar. "kau baik-baik saja?" yang terus-menerus jauh lebih mengganggunya.

Kate tidak suka ketika orang membuat kehebohan. Sisi positifnya, Kate mendapat tip yang besar.

Ketika dia melihat dua polisi berjalan masuk, Kate mengerang dalam hati. Tiffany sudah lama pergi, tidak diragukan lagi untuk mengungkapkan semuanya, termasuk payudaranya, dengan reporter dari The Star.

Kate bertanya-tanya apa dia harus menelepon Charlie dan memperingatkan dia, atau mungkin ia harus menelepon Ethan.

"Kate Snow?" Salah satu polisi bertanya pada Lois.

Polisi itu tidak perlu bertanya. Semua mata tertuju pada Kate. Setiap telinga berusaha mendengarkan.

"Apa ada tempat kita bisa bicara?" Kata polisi itu.

Mel membiarkan mereka menggunakan kantornya. Kate tidak berniat mengajukan tuntutan, tapi ia tahu itu tidak terserah padanya. Pada saat Kate selesai bicara, ia berharap telah meyakinkan mereka segala sesuatunya tidak layak untuk dihiraukan, tapi Kate meragukannya. Mereka ingin Kate pergi ke rumah sakit, namun Kate menolak. Saat polisi pergi, serombongan lain dari para wartawan dan fotografer tiba.

Kate tak tahu bagaimana Charlie bisa tahan. Kenapa orang-orang begitu terobsesi dengan selebriti? Mengapa mereka merasa berhak untuk tahu rincian setiap menit kehidupan mereka? Mereka menginginkan tur di rumah mereka, memeriksa toilet mereka, mengintip di lemari es mereka. Itu seolah-olah mereka merasa punya hak untuk tahu. Kate tahu dia telah membuat dirinya tidak populer dengan menolak untuk bicara dengan siapa pun.

"Berapa lama anda telah berkencan dengan Charlie?"

"Apa ini jebakan? Publisitas untuk film berikutnya?"

"Apa anda hamil?"

Ya Tuhan!

"Bicaralah kepada kami, Kate. Kami akan menulis tentang anda walaupun anda mau bicara dengan kami atau tidak. Tidakkah anda ingin memastikan bahwa kami telah melakukannya dengan benar?"

Kate tahu surat kabar akan mencetak kebenaran mereka, bukan kebenaran miliknya dan memutuskan cukup adalah cukup.

"Tony, bisakah aku pulang?" "Tentu saja bisa. Kau harusnya pulang lebih awal. Persetan kau harus pergi ke rumah sakit dan aku mengalami waktu yang sulit meyakinkan diriku sendiri bahwa aku melakukan hal yang benar dengan tidak membuatmu kesana. Ambil libur sebanyak yang kau butuhkan. Sebenarnya, ambil libur selama sisa minggu ini. Menyelinaplah lewat jalan belakang. Aku yang akan menyelesaikannya dengan Yang Mulia."

Setelah Kate mencapai Taman Greenwich dengan selamat dan tahu tak ada yang mengikuti, dia rileks meskipun ia memiliki kecurigaan yang mengerikan akan ada pers yang lebih banyak di luar apartemen. Kate berjalan di sepanjang jalan sampai ia menemukan bangku kosong, lalu duduk dan mengambil teleponnya. Nomor Charlie diluar jangkauan. Kate meletakkan telepon kembali ke dalam tasnya. Dia tidak punya orang lain untuk dihubungi.

Ini adalah apa yang seharusnya menjadi seperti Charlie, dikejar tanpa henti, tidak pernah diizinkan untuk menjadi dirinya sendiri kecuali di dalam rumahnya. Bahkan kemudian Charlie tidak aman. Kemungkinan lain Tiffany dalam bayang-bayang membuat Kate khawatir. Charlie selalu akan difoto, pada hari libur, di bioskop, di restoran, bahkan di supermarket. Saat ia menjadi tua, jika ia sedang sakit, jika ia kehilangan celananya, akan ada seseorang yang siap untuk mengabadikan momen tersebut. Jika Kate tinggal bersama Charlie, itu yang akan menjadi hidupnya, juga.

Kate memejamkan mata dan memiringkan wajahnya ke matahari. Kate bisa menghindar dari semua ini tapi Charlie tidak bisa. Mungkinkah keduanya berurusan dengan itu lebih baik daripada sendiri? Ponselnya berdering dan membuat Kate terkejut. Itu bukan Charlie.

"Di mana kau?" Tuntut Ethan. "Berjalan ke rumah lewat Taman Greenwich."

"Jangan bicara dengan siapa pun. Langsung kembali ke apartemenmu dan tunggu aku." Kate hendak bertanya mengapa, tapi Ethan menutup telepon. Ethan benar tentang pers. Ketika Kate berbelok di tikungan terakhir, dia melihat beberapa fotografer menunggu di luar pintu masuk. Mereka berdiri mengobrol sampai mereka melihatnya dan kemudian mengerumuninya seperti burung nasar. Kate menutup telinganya dan mendorong langsung melewati. Itu tidak ada gunanya mengkhawatirkan foto sekarang. Wajahnya sudah ada di koran. Jika Kate akan ditemukan, dia pasti ditemukan.

***

Ethan tidaklah yakin apakah ini adalah kesempatan untuk membuang Kate menjauh dari Charlie. Ini belum menjadi apa yang ia rencanakan, jadi mungkin dia akan menjaganya untuk cadangan dan melihat bagaimana ini akan mengalir. Kate cukup menyenangkan, tapi tidak ada nilai untuk Charlie dan oleh sebab itu tidak ada nilai untuk Ethan. Ethan sudah bertanya lagi tentang penyelamatan-hidup Charlie, tetapi ia menolak untuk membicarakannya. Bahkan, ia lebih atau kurang mengancam bahwa jika Ethan menyebutnya lagi, Charlie akan mencari agen lain. Ethan tidak mampu kehilangan dia, tidak sekarang saat ia mendapat peran dalam The Green dan apalagi setelah percakapan Ethan baru-baru ini dengan Jody Morton. Ketika sekretarisnya mendapat panggilan telepon, Ethan tidak percaya itu Jody.

Pada saat mereka selesai berbicara, hidup yang baru terbuka di depan Ethan. Dia sudah menjalani menjadi agen yang sukses, tetapi memiliki Jody Morton dalam daftarnya akan memindahkannya menjadi big-time. Mega-time. Jody menginginkan Charlie dan jika Ethan bisa memberikan dia padanya, Jody akan meninggalkan agennya dan tanda tangan dengan Ethan. Mudah dan sederhana. Satu hadiah untuk hadiah yang lain.

Kecuali sejauh yang Charlie perhatikan, tidak ada yang pernah bisa mudah dan sederhana. Namun, Ethan berpikir, semua yang Charlie perlu lakukan adalah tinggal bersama Jody cukup lama baginya untuk ditarik ke dalam kontrak kedap air dan kemudian mereka bisa putus. Ethan agak terkejut melihat semua pers di luar blok Kate. Ethan pikir dia telah sepenuhnya waspada pada cerita Veronica Ward, tapi ia bisa melihat kata-kata telah menyebar. Dia sedikit kesal dengan Malcolm Ward karena Ethan mengira ia merahasiakan kebenaran setelah Charlie setuju untuk melakukan konser amal pada bulan September. Mengingat Charlie telah meniduri istri Malcolm dan kedua putrinya, Ethan mengira pria itu tidak memberi hukuman dengan enteng pada Charlie, namun Ethan tidak menduga Veronica Ward untuk membuat tsunami sendirian.

Apa nama pepatah tentang wanita yang mencemooh? Veronica Ward adalah bom waktu berjalan. Ethan menghubungi Kate untuk membuka gerbang elektrik sehingga ia bisa menyetir masuk dan kemudian kembali ke pagar. Bangkai tinggal di luar. Pers tahu tempat mereka. Ethan telah membuat beberapa panggilan telepon tentang pelanggaran privasi Charlie dan mencetak beberapa poin untuk tidak mengejar materi, tetapi membuatnya jelas melakukan pelanggaran lagi di properti pribadi berarti masalah yang serius. Itu adalah tindakan penyeimbangan. Ethan membutuhkan pers sebanyak  pers membutuhkannya.

"Hei, Ethan, bagaimana kalau wawancara eksklusif?" panggil seseorang.

"Untuk apa?" Tanya Ethan, berharap seorang idiot akan memberinya petunjuk. Dia berharap  itu tidak ada hubungannya dengan Veronica Ward, jika tidak, ia bisa mencium selamat tinggal pada kontrak Jody Morton.

"Apa dia benar-benar memiliki anak Charlie?" Salah satu wartawan berteriak. Sesuatu meringkuk di dalam dadanya, tapi wajah Ethan tidak menunjukkan apa-apa.

"Charlie sendiri masih anak-anak," kata Ethan sambil tertawa paksa pada upaya lemahnya pada lelucon itu saat ia bergegas ke dalam gedung.

"Sial," gumamnya melalui gigi terkatup saat ia melompat menaiki tangga.

"Sialan, sialan, sialan."

Kate membuka pintu.

"Apakah itu benar?" Desak Ethan.

"Apa?" Ethan melangkah masuk dan membanting pintu di belakangnya.

"Tentang bayi itu?" Ethan menatap mata Kate.

Kate memucat dan bergerak mundur.

"Charlie bilang dia tidak mengenalnya."

Sekarang Ethan adalah satu-satunya yang bingung.

"Siapa?"

"Tiffany Samuels." Ethan menempatkan kepingan puzzle bersama-sama dan mendapat jawaban yang benar, meskipun ia tidak terlalu yakin tentang pertanyaannya. Ethan tahu Tiffany.

Dia adalah salah satu penggemar Charlie yang paling setia. Terlalu setia. Dan penggemar, itu bukan kata yang tepat. Dia lebih seperti penguntit yang terobsesi. Tiffany sudah menjadi fuckwit paling gigih, menjengkelkan dan histeris yang pernah Ethan temui dan ia akan menemukan lebih dari bagiannya secara adil. Tiffany mencoba segalanya untuk mencari tahu di mana kegiatan Charlie  pada hari tertentu agar ia bisa muncul juga.

Begitu mereka menyadari Tiffany seperti apa, karyawan Ethan tahu lebih baik daripada untuk mengatakan apapun padanya. Tiffany tidak pernah berada di dekat Charlie. Ethan menduga ia melihat koran pada hari Minggu, membaca Kate bekerja di sebuah restoran di Greenwich dan menjadi proses penyisihan yang sederhana untuk melacak Kate.

"Apa yang dia inginkan?" Tanya Ethan. Dia mendengarkan cerita Kate.

"Apa kau bicara dengan siapa pun? Tidak mengatakan apapun kepada siapa pun sama sekali?"

"Aku sudah bilang apa yang terjadi. Aku tidak mengatakan apa-apa. Kalau begitu apa Charlie kenal dia?" tanya Kate.

Ethan tidak melewatkan fakta bahwa tingkat kecemasan Kate sudah naik satu atau dua derajat. "Ya, dia salah satu fans yang paling bersemangat, seorang gadis yang benar-benar baik."

"Apa Charlie keluar dengan dia?" Ethan memastikan Kate melihat kemerosotan bahunya.

"Kate, aku tahu kau tidak ingin mendengar ini, tetapi hubunganmu dengan Charlie akan berakhir dengan bencana. Semua hubungan itu berakhir dengan bencana dan kaulah yang akan terluka. Charlie tidur dengan wanita yang berbeda setiap minggu. Aku baru saja berbicara pada salah satu dari mereka di telepon memberitahuku bagaimana Charlie tidur dengan dia dan kedua putrinya."

"Charlie bilang padaku tentang itu."

Ethan terkejut. "Apa yang dia belum tahu adalah bahwa Veronica mengancam untuk pergi ke  surat kabar kecuali Charlie mau mengakui bahwa dia seorang pecandu."

"Dia sudah berhenti dari coke dan rokok. Dan dia tidak memiliki masalah dengan alkohol. Dia tidak minum," kata Kate.

Ethan tertawa. "Yang Veronica maksud adalah bahwa Charlie seorang pecandu seks."

"Oh."

"Charlie tidak bisa menahan dirinya sendiri, Kate. Dia tidak akan berubah."

"Dia bisa. Dia sudah berubah." Ethan memasang senyum pemahaman terbaik.

"Ini hanya affairnya yang lain yang singkat dan penuh gairah, Kate, tidak lebih. Kau sudah menjadi pengaruh yang baik pada dirinya, tetapi itu tidak akan bertahan. "

Ethan melihat mulut Kate menegang. "Hei, lihat sisi baiknya. Bersama dengan Charlie telah membuatmu sangat dikejar-kejar. Kau bisa memiliki kencan setiap malam minggu. " Ethan meringis..

Pandangan cemberut mengatakan kepada Ethan bahwa itu bukan hal yang tepat untuk dikatakan. Cepat ubah topik pembicaraan.

"Apa kau sudah membuat seleksi pakaian dalam untuk kutunjukkan pada temanku?" Kate membawanya keluar dari kamar tidur cadangan dan membungkusnya dalam beberapa plastik supermarket.

"Hebat, aku akan menghubungimu," kata Ethan. Ethan tertawa saat dia berjalan menuruni tangga. Hal ini seharusnya tidak bisa diselesaikan dengan lebih baik. Ada kebingungan yang menarik saat ia membuka pintu luar.

"Bukankah seharusnya Kate berada di rumah sakit?"

"Apakah Charlie datang untuk melihatnya?"

"Hei, Ethan. Bagaimana perasaan Kate?"

Itu hanya sesaat kemudian Ethan menyadari bahwa ia bahkan tidak menanyakannya pada Kate.

***

*penerbangan pada ketinggian rendah (biasanya dari pesawat militer) di atas para penonton yang ada di tanah


Penerjemah: +Putri Yuni 
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

12 comments

Yaampun kasian kate :(
Penggemar gila
Bakal banyak banget rintangannya nih fiuh~
Makasih mas yudi, mb yuni :D

Kate bertahan ya
Tenang kate,charly tercipta hanya untukmu....

Susah pacaran ama artis,,
palagi artis yg tampan

mba Putri yuni ~`~ mas Yudi tengkyu

@fira : *ngebayangin pacaran sm Robert Pattinson ahemm #plakk

thx dear readers n mas yudi :D

ribet punya cowok seleb hidup jadi ngk tenang...sabar ya kate...thanks mbk put & mas yudi :)

Kasihan Kate hrs nerima semua'a sendiri,,,
Hikssss :'(

Ethan egois, jahat bgt yah jd org...

Btw mba putri n mas mi2n º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º Ɣª,,,, peluk cium untuk kalian berdua

Ouch!Hate ethan soo very much #jambak-om-egois!
⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈мαkαsih✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣ mb'putry + ms'yudi
#aargh!

Yg semangat yah kate..
Tunjukan k semuanya klo hippo dah berubah..

MKasih mbak Yuni , PN n mas Yudi :)

Ethan jahat n licik, ada udang di balik bakwan ternyata si ethan hahaha
Kate sbar ya

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top