14

strangers-thumb
Charlie berbaring di tempat tidur di samping Kate, menonton tidurnya. Dia mempercayai Kate dan Kate percaya padanya dan itu adalah perasaan yang aneh, perasaan hangat seolah-olah ia membungkusnya dengan sesuatu yang aman dan nyaman. Charlie tidak bisa ingat kapan terakhir kali ia dipercaya seorang wanita. Kate lebih dari kekasihnya. Kate adalah temannya, mimpinya—hidupnya. Charlie telah melakukan sesuatu yang buruk padanya, tapi Kate memberinya kesempatan lagi. Kate tahu lebih banyak tentang Charlie daripada siapa pun, dan tidak lari menjauh. Dia mencoba untuk membantu. Ada banyak tentang diri Kate yang Charlie masih tidak ketahui, yang pertama siapa yang sudah menikamnya, dan masalah apa yang terjadi pada orang tuanya, tapi Charlie bisa menunggu.

Charlie meringkuk lebih dekat dan menelusuri garis bibir Kate dengan jarinya. Charlie berhasil memberitahu bahwa ia mencintai Kate, namun tidak bermaksud untuk menyembur keluar sementara mereka berbaring telanjang di lautan busa. Charlie bahkan tidak ingin mengatakan itu ketika mereka berada di tempat tidur, meskipun ketika Charlie menidurinya tanpa kondom, kata-kata itu melayang melalui bibirnya. Charlie ingin menjadikannya istimewa. Dia berpikir tentang membawa Kate ke Paris atau Roma, menemukan tempat paling romantis dengan bulan di atas kepala dan...Charlie mendesah. Berbaring dengan Kate yang beristirahat di dada Charlie di selimuti gelembung-gelembung itu, ketika Charlie masih disiksa dengan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya, bukan saat yang tepat sama sekali. Tapi kata-kata itu melonjak naik dari suatu tempat dan dia tidak bisa mendorongnya kembali.

Charlie berharap Kate telah mengatakan bahwa ia mencintainya. Orang lain telah mengatakan hal itu, tetapi mereka tidak mengenal Charlie. Charlie ingin Kate yang mengatakan itu, ingin dia bangun, menatap ke matanya dan mengatakan tiga kata yang ingin Charlie dengar.

Dia meniup lembut di bibirnya. Kate mengejang.

"Berhentilah melakukan itu."

Charlie menyeringai dan kemudian senyumnya meluncur pergi karena ketika ia berpikir tentang hal itu, "Kupikir aku mencintaimu" itu tidak sama dengan mengatakan bahwa ia mencintai Kate. Apa Charlie memikirkan itu atau mengetahui itu? Mengetahuinya. Charlie mencintainya. Jadi kenapa dia tidak mengatakan itu? Charlie mengerutkan kening. Untuk seseorang yang seharusnya bagus dalam menggunakan kata-kata, Charlie mengacaukan ini. Tapi Kate bilang dia milik Charlie dan Kate masih di sini, di tempat tidurnya, berbaring di samping Charlie. Kate seksi dan lucu dan saat Charlie selesai bercinta dengannya, Charlie sangat ingin untuk melakukannya lagi. Tapi Charlie suka bicara dengannya, berdebat dengannya—mengganggunya. Kate berbeda. Kate adalah orang yang ia inginkan.

Saat Charlie berbaring merenungkan cara yang cocok untuk membangunkannya, ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur. Charlie akan mengabaikannya, tapi itu Ethan.

"Aku ada di luar. Biarkan aku masuk."

"Aku sibuk."

Charlie meluncurkan tangannya yang bebas di antara payudara Kate sampai ke tenggorokannya. Kate membuka matanya.

"Kau harus melihat koran," kata Ethan. "Ini buruk."

Setelah Charlie pergi, Kate meluncur ke tempat hangat yang Charlie kosongkan. Kate meringkuk ke dalam lekukan di bantal, menghirup aromanya dan tersenyum. Tadi malam, Charlie mengatakan ia mencintainya. Well, hampir. Charlie pikir dia mencintainya. Kate menyukai itu sesuatu yang dia pikirkan. Kate bertanya-tanya berapa kali Charlie berkata, "Aku mencintaimu" dan jika ia pernah bersungguh-sungguh dengan itu. Berpikir Charlie mencintainya tidak apa-apa. Itu bukan sesuatu yang harus terburu-buru.

Kate berbalik telentang dan menatap langit-langit. Apa dirinya gila? Itu tidak baik sama sekali. Kehidupan macam apa yang bisa dia miliki dengan Charlie? Dunianya adalah satu juta mil dari dunia Kate. Charlie pintar dan berbakat. Kate meninggalkan sekolah pada usia enam belas, tapi dalam kenyataannya jauh sebelum itu mengingat jumlah waktu bolos yang Kate buat. Plus, Charlie benar-benar kacau. Mungkin lebih buruk dari Kate. Kate tidak butuh orang lain yang suatu waktu hampir memperkosanya dan berikutnya mengatakan mereka pikir mereka mencintainya. Tapi dia tidak seperti Dex.

Charlie telah melakukan segala yang dia bisa untuk mendorong Kate pergi dan Kate tidak pergi. Karena walaupun Charlie berpikir ia mencintai Kate atau tidak, Kate tahu ia mencintainya Charlie.

Sepuluh menit kemudian Kate turun mengenakan jubah mandi berbulu putih milik Charlie. Dia dan Ethan berada dalam diskusi yang mendalam. Ketika Kate melihat wajah khawatir Charlie, jatungnya seakan kram. Sekarang apa?

Ethan menyerahkan surat kabar. "Halaman dua. Ambil napas dalam-dalam." Napas dalam-dalam tidaklah membantu. Kate mengerang dengan ngeri.

Judulnya DIMILIKI OLEH STORM, foto itu sedikit kabur, tapi cukup jelas dari diri Kate dan Charlie berada kamarnya, pinggul dan bibir menyatu, telanjang bulat. Kate mengamati tulisan di samping gambar. Itu mencetak namanya dan bahwa ia bekerja di sebuah kafe di Greenwich. Charlie meremas jari-jarinya.

"Apakah legal untuk melakukan itu?" Tanya Charlie.

"Mengambil gambar melalui jendela?"

"Tidak, itu tidak legal. Kita bisa menuntut tapi kerusakan sudah terjadi," kata Ethan.

"Setidaknya hanya ada satu foto," gumam Kate.

Ethan meringis dan membalik halaman."Maaf."

Kate merasa seperti dia telah dipukul di perut. Ada jepretan dirinya dalam gaun pengantinnya, sebuah jepretan "sebelum" di mana Kate masih tersenyum dan beberapa lagi dari dirinya dan Charlie di apartemen, kali ini dengan payudaranya yang terpampang. Artikel ini menggambarkan Kate sebagai pengantin pelarian yang telah menicampakkan tunangannya untuk masuk ke tempat tidur dengan Charlie Storm. Kate membacanya dua kali untuk memastikan ia tidak melebih-lebihkan. Kate tidak. Mereka yang melakukannya.

"Aku tidak mengerti. Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto-foto itu? Siapa yang mengambil foto-fotoku dalam gaun pengantinku?" Walaupun begitu Kate pikir ia tahu jawabannya. Richard atau seseorang yang dia kenal. Fax.

Charlie meluncurkan lengannya di bahunya. "Jika si Dickhead melakukan itu untuk taruhan, ia mungkin menginginkan bukti bahwa kau akan muncul di kantor catatan sipil." hati Kate terpuruk, matanya terpaku pada jepretan dirinya dalam gaunnya, senyum di wajahnya, sukacita di matanya. Fax menyaksikan Kate pergi ke gedung, menunggu sampai Kate keluar, kemudian memberitahu Lucy. Empedu naik di tenggorokan Kate.

"Aku harus berjuang berjalan melewati sekawanan anjing pemburu Afrika untuk masuk ke sini," kata Ethan. "Ini hanyalah awalan saja. Mereka tak akan meninggalkanmu sendirian sekarang, Kate.

Segala sesuatu yang kau lakukan, ke mana pun kau pergi, mereka akan mengawasi. Ingat apa yang Putri Diana lalui? Setiap kesalahan yang kau buat akan datang kembali untuk menghantuimu. Segala sesuatu yang kau kenakan akan dikritik. Segala sesuatu yang kau katakan akan diputarbalikkan. Mereka akan mencoba untuk menghancurkanmu."

Charlie menarik Kate ke dalam pelukannya. "Tutup mulutmu, Ethan. Kau tidak membantu."

"Aku hanya memperingatkan apa yang harus dia hadapi jika dia terus bersamamu."

Charlie mencengkeram Kate erat. "Tidak ada jika."

"Hei, realistislah. Kate tidak dalam bisnis ini. Dia tidak tahu bagaimana rasanya. Jika dia memiliki rahasia, mesin ronsen berjalan yang ada di luar sana akan menemukannya. Apa kau memiliki rahasia, Kate? Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui tentangmu?" Kalau Charlie tidak memeluknya, Kate tahu ia sudah roboh.

"Sudah kukira kau memilikinya," kata Ethan.

Suaranya yang dingin terdengar jelas. Kate bertanya-tanya apa yang Ethan ketahui.

"Tidak, Kate tidak melakukannya," bentak Charlie.

"Kate tidak memutuskan hubungan cinta dengan seseorang. Si Dickhead memperalatnya untuk taruhan dan dia menjebak Kate untuk ini. Aku ingin menuntut pelanggaran privasi."

"Dan membuat keadaan menjadi lebih buruk? Kau membangkitkan masalah itu sekarang dan mereka benar-benar akan mengejarmu. Biarkan itu mereda sendiri. Lagi pula kau harus meninggalkan negara ini, sehingga akan membantu."

"Apa? Ke mana aku harus pergi?"

"Kau dibutuhkan besok di Dublin. Pertemuan pra-produksi untuk The Green. Aku memesankan tiketmu pada penerbangan sore ini."

"Kate ikut denganku. Pesankan dia kursi juga."

"Aku tidak punya paspor." Nyeri kejang lain mencengkeram hati Kate. Kate sudah mengisi aplikasi pasport-nya dan Richard bilang padanya bahwa dia yang akan mengurusnya.

Charlie menatapnya tak percaya. "Kau belum pernah ke luar negeri?"

"Tidak." Charlie menekan wajahnya ke rambutnya.

"Kau bisa membuatkannya satu, ya kan, Ethan?"

"Tidak pada hari Minggu dan tidak secepat itu. Biarkan aku membawa Kate pulang. Ini akan menyingkirkan mereka."

"Mengapa aku ingin mereka disingkirkan? Mereka tahu kita bersama-sama sekarang. Kami bersama-sama," kata Charlie.

"Jadi, saat kau pergi, kau ingin mereka duduk di depan pintu rumahnya, mengganggu dirinya, mengambil foto dari gulungan toilet yg dia beli dan meniup hidungnya? Ini adalah cara kita akan menanganinya. Kita akan berpura-pura itu perselingkuhan. Beberapa kencan. Dengan cara itu mereka mungkin akan meninggalkannya sendirian. Hanya saja lebih berhati-hatilah ketika kau sudah kembali."

"Tidak. Aku tak akan pergi," kata Charlie.

"Aku tidak akan meninggalkan Kate."

"Kau benar-benar harus pergi," bentak Ethan.

"Kau tidak punya pilihan. Ini adalah karirmu. Tidak akan ada kesempatan lagi. Aku yang akan mengurus Kate."

Charlie mengambil tangan Kate. "Bagaimana menurutmu? Aku tidak ingin kau harus menangani ini sendirian."

"Aku tidak suka orang memberitahuku apa yang harus dilakukan."

Kate menatap Ethan, tahu Ethan ingin menyingkirkan dirinya, bertanya-tanya bagaimana Charlie tidak bisa melihatnya.

"Aku tidak akan pergi," ulang Charlie, mengangkat jari-jarinya ke pipi Kate.

Kate menaruh tangannya di tangan Charlie dan menatap matanya.

"Aku akan baik-baik saja, Charlie. Kau harus pergi."

Charlie menghela napas. "Isilah aplikasi paspor sementara aku pergi. Biarkan Ethan menanganinya." Langkahi dulu mayatnya.

"Kapan kau akan kembali?" Tanya Kate.

Charlie menatap Ethan.

"Rabu."

"Itu malam pameran di galeri Rachel," kata Kate.

"Aku akan datang dan kita akan pergi keluar untuk makan setelah itu."

Kate tersenyum. Ethan dan Kate keluar melalui belakang rumah, sementara Charlie pergi untuk mengalihkan perhatian para jurnalis di depan. Kate harus memakai pakaian Charlie—celana dan t-shirt putihnya, gaun Kate, masih basah, tergeletak di lantai kamar mandi.

"Ada apa dengan pakaian?" Tanya Ethan saat mereka duduk di dalam mobil.

"Charlie mencoba gaunku dan merobeknya."

"Benarkah?" Ethan berpaling untuk melirik ke arahnya.

"Tidak," kata Kate dengan tertawa dipaksakan.

"Aku terkejut menemukanmu di sana pagi ini setelah apa yang terjadi di Armageddon." Kate berbalik di kursinya untuk menatap Ethan.

"Tidak ada yang terjadi di Armageddon." Ethan tidak suka padanya dan Kate tidak yakin apa yang harus dilakukan tentang hal itu.

Ketika Ethan berbelok menuju Elm Gardens, sekelompok fotografer menunggu di luar pintu masuk ke blok Kate.

"Aku sudah bilang. Apa ini kehidupan yang kau inginkan, Kate? Diganggu oleh pers?"

"Aku menginginkan Charlie. Aku akan menghadapi apa pun yang akan datang bersamanya."

Suaranya tegas dan jelas. Ethan menatapnya sejenak sebelum ia bicara.

"Aku akan mengalihkan perhatian mereka sementara kau masuk ke dalam. Jangan bicara dengan siapa pun. Bahkan jangan bilang no comment."

Kate melarikan diri ke dalam gedung. Dia berlari menaiki tangga, langsung melewati seorang pria yang duduk di tangga paling atas, terlalu lambat untuk menangkapnya, dan menarik napas lega setelah dia aman di dalam apartemennya. Saat Kate menutup pintu, telepon berdering. Kemudian pria itu menggedor pintu kamarnya. The Mirror yang menelepon. Kate memutuskan hubungan, namun saat ia mulai menelepon Charlie, telepon berdering lagi. Kali ini dari seorang reporter dari The Star. Kate mencabut sambungan kabel dan menghubungi Charlie lewat ponselnya.

"Aku baru saja masuk," kata Kate.

"Kembalilah," pinta Charlie.

"Bukankah kau akan segera pergi ke bandara?" Charlie mengerang.

"Kenapa kau tidak punya paspor?"

"Aku tidak pernah membutuhkannya."

"Aku ingin membawamu ke seluruh dunia dan aku bahkan tidak bisa membawamu untuk makan tanpa seseorang mengganggu kita. Dan siapa yang menggedor-gedor itu?"

"Seorang wartawan di pintu."

"Jangan membukanya." Kate melihat melalui lubang mata di pintu.

"Oh, tidak apa-apa. Itu Dan. Baik-baiklah, Charlie. Aku akan menemuimu hari Rabu. Kau ingin bertemu denganku di galeri? Kau ingat di mana itu?"

"Yep. Bellingham. Taman Holland. Sampai jumpa nanti." Charlie berhenti.

"Kate?"

"Ya?"

"Terima kasih untuk kemarin dengan Mom dan Dad, untuk...well, kau tahu."

"Terima kasih kembali. Bye, Charlie."

Kate membuka pintu dan membiarkan Dan masuk. Dia menawarkan Kate segenggam kertas.

"Pesan. Mereka telah memasukkannya dalam kotak surat semua orang mencoba untuk berhubungan denganmu. Aku sudah menyingkirkan orang di luar pintumu. Mengancamnya dengan polisi. Kami kabur ke atap."

"Oh Tuhan, maaf."

"Kau lebih baik datang. Aku harus memperingatkanmu, Rachel dan Lucy sedikit kesal. Well, sangat kesal. Mereka marah di samping pada diri mereka sendiri bahwa kau tidak memberitahu mereka kau keluar dengan Charlie Storm dan marah denganku karena mereka pikir aku seharusnya tahu setelah insiden di Crispies."

"Ah." Bahu Kate merosot.

"Meski begitu, pantat yang bagus."

Dan menyeringai.

"Siapa?"

"Tentu saja pantatmu, tapi jangan beritahu Rachel. Bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan miliknya," tambah Dan.

"Benar." Kate tertawa melihat ekspresi malunya.

"Dan, bisakah aku minta bantuanmu?"

"Kau bisa meminta."

Kate mengeluarkan foto Michael Storm dari tasnya.

"Ini adalah saudara Charlie."

"Dia sudah meninggal, kan? Itu ada di koran."

"Jika kau tidak terlalu sibuk, kau pikir kau bisa melukis dia dan Charlie seakan sedang bergumul bersama? Aku tidak memiliki foto Charlie, tapi kuharap ada satu di koran yang bisa kau gunakan. Hanya saja buat dia berpakaian." Dan tertawa.

"Aku harus membayarmu dengan cara mencicil."

"Kau tak perlu membayarku sama sekali, Kate. Aku akan melakukannya sebagai hadiah. Jika kau tidak mengatakan sesuatu pekan lalu, aku masih akan menatap putus asa pada Rachel."

"Aku asumsikan segalanya sudah berubah?" Dan menyeringai.

Kate mengirim Dan kembali ke atap. Mengganti baju dengan bikini, lega melihat bikininya menutupi bekas gigitan pada dadanya, dan menyelinap ke dalam t-shirt panjang. Charlie lebih marah tentang apa yang terjadi daripada Kate. Kate tahu dia tidak akan melakukannya lagi. Kate mendesah. Itu terdengar sedikit terlalu akrab.

Ketika Kate berjalan ke atap datar, tiba-tiba ia berhenti. Lucy, Dan dan Rachel berdiri bersandar di dinding tembok pembatas menatap jalan. Di sebelah Lucy berdiri Nick yang bertelanjang dada, dalam jeans yang dipakai rendah di pinggul, tangannya meremas pantat Lucy.

Kate menatap ke kejauhan. Ke kanan ia hanya bisa melihat penyangga emas dari Millennium Dome, ke kiri, blok bangunan gedung pencakar langit dari Canary Wharf yang menjulang ke langit berkabut. Kate berjalan melintasi dan menyelinap di samping Dan.

"Hei, apa kau gila? Jangan biarkan mereka melihatmu," kata Dan dan menariknya mundur. "Sini, minum segelas anggur."

Dia mengambil botol dari meja dan menuangnya ke gelas. Lucy dan Rachel melangkah di depannya. Lucy mengenakan bikini terkecil yang pernah Kate lihat. Tiga segitiga perak seukuran crackers keju.

"Charlie Storm," kata Rachel.

"Kau sudah berkencan dengan selebriti dan tidak memberi tahu kami? Kupikir kami adalah temanmu?"

"Kalian temanku." kata Kate dan melirik Nick. Tiga dari mereka yang teman Kate.

"Alasanku tidak memberitahumu adalah di jalan di bawah sana."

Nick duduk di kursi dan menarik Lucy ke pangkuannya.

"Foto yang bagus. Ingin memberiku sebuah penjelasan eksklusif bagaimana rasanya kencan dengan badboy Storm?"

"Tidak."

"Apa kau tahu apa yang kau lakukan, Kate?" Tanya Lucy. "

Maksudku—Charlie Storm? Dia akan mengunyahmu dan memuntahkanmu. Dia pasti sedang memanfaatkanmu."

Sebuah plat besi seakan mengetat di jantung Kate. Dia duduk di pinggiran beton gedung dengan anggurnya.

"Bagaimana kau bertemu dengannya?" Tanya Rachel. "Apa itu benar-benar di pantai?" Kate mengangguk.

"Dia akan mencampakkanmu," kata Lucy. "Dia memiliki reputasi buruk." Jari Kate menegang di sekitar gagang gelas.

"Kau bisa menghasilkan uang dari ini," kata Nick. "Kenapa kau tidak memberiku kisah dari sudut padangmu? Aku bisa membuatmu tampil di acara besok." Kate menyesal telah datang ke atap. Dia menelan seteguk anggur putih yang hangat.

"Kami akan membayarnya dengan uang yang banyak, Kate," kata Nick. "Toh,, kau adalah seorang teman." Tangannya menangkup payudara Lucy.

Kate membuka mulutnya dan kemudian menutupnya lagi.

"Apa dia sudah membawamu ke tempat yang bagus?" Tanya Rachel. "Seperti apa dia? Kau pernah ke rumahnya? Pernahkah kau bertemu seseorang yang terkenal? Dan yang paling penting, apa ia akan datang ke pembukaan pada hari Rabu?"

"Hei." Dan meletakkan tangannya di lengan Rachel.

"Kate datang ke sini untuk melarikan diri dari pertanyaan."

"Satu saja, kalau begitu," pinta Rachel.

"Apa dia akan datang ke pembukaan?" Kate membuang jawaban yang sudah ada di kepalanya sebelum ia bicara.

"Aku memintanya, tapi aku tak tahu apa dia akan datang." Kate bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan pada Nick.

Dia duduk mengawasi Kate dan di balik senyum ularnya itu, Kate tahu Nick bertanya-tanya apa Kate akan mengatakan sesuatu kepada Lucy.

"Bisakah dia membawa beberapa seleb lain untuk datang juga?" Tanya Rachel.

"Siapa yang dia kenal?"

"Aku tak tahu." Kate memalingkan wajahnya ke matahari, berharap pertanyaan akan berhenti. Mungkin ia harus memperingatkan Charlie supaya tidak datang.

"Nick bilang padaku apa yang terjadi di Armageddon," kata Lucy. Kate membuka matanya dan berbalik ke arahnya.

"Benarkah?" Nick menyampirkan lengannya di atas bahu Lucy, jari-jarinya menggoda segitiga yang menutupi putingnya.

"Maaf, Kate," katanya meminta maaf.

"Aku tahu aku menjerumuskanmu di dalamnya dengan Charlie. Aku panik karena Gemma. Aku tidak ingin dia tahu aku sudah membeli beberapa paket kokain untukku dan Lucy, jadi aku membuat sebuah kebohongan tentang seorang wanita berpakaian merah muda datang kepadaku. Aku tidak pernah melihat, apalagi mengenalimu mengenakan atasan merah muda. Hal berikutnya yang aku tahu, itu Gemma yang melemparkan minumannya di wajahmu. Tentu saja, sekarang dia membaca koran tentang kau dan Charlie Storm, dia tahu kau tak akan tertarik pada idiot menyedihkan sepertiku. Dia sangat ingin datang dan meminta maaf, terutama jika ada Charlie."

"Kau bukan idiot menyedihkan." Lucy berpaling untuk menciumnya di bibir.

Ya, kau idiot menyedihkan, pikir Kate. Kau sudah menikah dan mempermainkan Lucy dan menyetubuhi wanita lain di toilet ketika kau punya kesempatan.

"Aku akan mengirim Gemma. Dan yang akan melukis potretnya, jadi aku akan membawanya ke sini untuk duduk." Nick menggigiti tulang selangka  Lucy.

"Dan semakin lama ia melukisnya, semakin baik."

***

Charlie baru saja duduk di kursi kelas 1A dan mengulurkan kakinya yang panjang, ketika Natalie Glass muncul. Dia menundukkan kepala dan mencium pipi Charlie. Aroma musky yang dipakainya begitu menyengat, Charlie hanya bisa menekan keinginan untuk bersin. Dia bertanya-tanya tentang membelikan parfum untuk Kate dan menyadari bahwa Kate tak pernah mengenakan apapun. Tapi apakah itu karena Kate tidak suka atau tidak mampu membelinya? Sesuatu yang lain yang dia tidak tahu tentang Kate.

"Charlie! Kau tampak sehat."

"Hai, Natalie. Ingin duduk di sebelah jendela?"

"Tidak, aku baik-baik saja di lorong. Aku sedikit gugup naik pesawat."

Itu tidak terlintas dalam pikirannya bahwa Natalie akan datang ke pertemuan itu. Masuk akal, meskipun ia bertanya-tanya mengapa Ethan tidak memberitahunya.

"Aku benar-benar menantikan untuk bekerja sama denganmu." Natalie berseri-seri. "Kita akan bersenang-senang." Natalie mengangkat alis sedikit satu demi satu dan mengedipkan mata.

Kedipan mata ini cukup menjelaskan kepada Charlie jenis kesenangan apa yang ada dalam pikirannya dan ia tidak tertarik.

Natalie sangat cantik. Matanya yang besar berwarna gelap dengan bulu mata hitam tebal. Senyum yang menyilaukan. Gigi yang sempurna. Rambut gelapnya halus dan panjang. Payudara besar (operasi plastik). Dan Charlie tidak menginginkannya.

Charlie tersenyum.

Charlie bahkan tak ingin kencan semalam dengannya. Senyumnya melebar. Jika dia tidak menyadari itu karena Kate, Charlie mungkin berpikir ia sedang sakit. Charlie bersandar di kursinya dan memikirkan lekuk kecil di salah satu gigi bawah Kate, rambut spiky yang acak-acakan dengan tampilan habis-bangun-tidurnya, payudaranya yang pas di telapak tangan Charlie. Dan matanya. Oh Tuhan, ia sangat suka mata Kate, cara mereka berubah sesuai suasana hatinya. Charlie bahkan lebih menyukainya lagi ketika Kate sedang jengkel dengannya.

Pesawat meluncur dari landasan pacu dan Natalie menggeliat.

"Maukah kau memegang tanganku?" Bisiknya. Charlie mengambil lalu memegang jari-jarinya dan Natalie tersenyum terima kasih.

"Melihat kau di koran hari ini," katanya. "Pantat yang bagus."

"Ya, pantat dia memang bagus, ya kan?" Charlie senang melihat senyum menghilang dari wajah Natalie. Namun tidak berhasil menjauhkan dirinya.

"Aku punya perasaan aku akan menjadi berita utama minggu depan. Seorang pecundang dari 24/7 membujuk mantanku untuk mengungkapkan rincian intim tentang kehidupan seks kami." Natalie cemberut. "Awalnya bukan aku yang ingin pergi ke klub terkutuk itu."

Charlie ingin duduk di samping Kate saat pertama kalinya Kate naik ke dalam pesawat, ingin melihat ekspresi wajahnya ketika Kate melihat awan. Natalie mendekatkan mulutnya ke telinga Charlie.

"Klub Rascal. Pernahkah kau? Apa pun terjadi dan maksudku, apapun. Ethan mencoba untuk menghentikan mereka menerbitkannya, tapi dia tidak terlalu berharap."

"Kurasa edisi terbaru dari Hello! penuh dengan foto-foto rumah dan kebunmu." Charlie melepas genggaman tangannya karena sekarang mereka sudah mengudara.

"Apa kau membacanya? Mereka begitu baik. Mereka terus meminta pendapatku tentang tempat terbaik untuk mengambil foto. Mereka memberikan bunga dan pakaian dan mereka membiarkanku memiliki salinan dari setiap foto setelah aku setuju mana yang bisa mereka gunakan. Dan mereka membayar. Semacam itulah pers yang aku suka."

"Aku tak yakin kau dapat memiliki kedua-duanya. Kami memilih untuk menempatkan diri di mata publik dan harus mengambil apa yang datang dengan itu. Kami cukup senang dengan publisitas yang baik dan uang. Kami hanya marah ketika kami pikir mereka tidak adil. Kita tidak bisa mendikte perhatian yang kita inginkan."

Itu sangat filosofis baginya. Charlie bertanya-tanya apakah ia terdengar seolah-olah ia bersungguh-sungguh. Dia sungguh-sungguh.

"Meskipun bukan hanya kita yang terluka, ya kan?" Kata Natalie.

"Tidak. Kadang-kadang mereka kelewatan. Hari ini adalah contoh kasus yang sangat jelas dan permintaan maaf yang mereka tidak akan ragu akhirnya akan dipermasalahkan tidak memperbaiki kerusakan yang telah mereka sebabkan, tapi pers tak akan pernah berubah."

***

Pada saat pesawat mendarat di Dublin, Charlie yakin akan dua hal—Natalie Glass sangat ingin masuk ke balik celananya dan Charlie sangat ingin menjaga dia tetap diluar. Ini bukan berarti bahwa Charlie tidak suka padanya. Setiap pria akan menyukainya. Well, setiap pria normal.

Tidak ada yang salah dengan berangan-angan, tapi Charlie tak akan melakukan lebih jauh dari itu. Charlie bertekad untuk membuktikan bahwa ia bisa setia. Kate percaya padanya dan ia tidak akan membiarkan Kate kecewa.

Tapi saat Natalie menekan tubuhnya ke tubuh Charlie di taksi dalam perjalanan ke hotel mereka, Charlie mengakui itu akan menjadi beberapa hari yang sulit.

Benar saja, permintaan untuk bertemu di kamar Natalie jam tujuh sehingga mereka bisa turun bersama-sama untuk makan malam, telah menyebabkan Charlie menemukan Natalie masih basah sehabis mandi. Handuk minim yang berada di antara Charlie dan tubuh Natalie yang telanjang dengan sengaja jatuh ke karpet saat Natalie berjalan kembali ke kamar mandi. Tentu saja, Natalie membungkuk untuk mengambilnya, memberikan Charlie pemandangan spektakuler dari pantat Natalie. Natalie membiarkan pintu kamar mandi terbuka. Charlie mengatupkan rahangnya.

"Tuangkan aku minuman, Charlie," seru Natalie.

Charlie membuka mini bar, memperhatikan segelnya yang sudah dibuak. "Kau mau apa?"

"Vodka dan jeruk."

Charlie menemukan dua botol kecil di tempat sampah. Dia punya perasaan setelah beberapa gelas vodka, bra Natalie dengan misterius akan terlepas sendiri kaitannya. Tapi, mungkin juga Natalie tidak akan memakai bra.

"Tarikkan gaunku, Sayang."

Yep, Charlie benar. Gaun itu terbuka di seluruh bagian punggung. Charlie menarik risletingnya dan Natalie berbalik dan meluncurkan tubuhnya ke arah Charlie. Charlie mencegat dengan pipinya. Menggigit bibir sehingga ia tidak tertawa. Gaun sutra biru berpotongan rendah di bagian depan, dengan dua bayangan di balik sutra dimana putingnya menonjol ke arah Charlie seperti moncong senapan.

Charlie melangkah mundur, meraih gelas dan mendorongnya ke tangan Natalie.

"Tidakkah kau ingin minum?" dengung Natalie dan menjilat bibirnya.

"Sedang detoksifikasi," kata Charlie.

Charlie membutuhkan semua akal sehatnya untuk menjaga agar kejujuran yang baru-baru ini diperolehnya tetap utuh.

Pada saat mereka sampai di putaran terakhir, Natalie mabuk dan Charlie sangat sadar.

Charlie mencoba untuk mengatur jumlah alkohol yang dikonsumsi Natalie, tapi dia makan terlalu sedikit, alkohol itu pasti berlari melalui aliran darahnya lebih cepat daripada ular yang memagut. Hal lain yang Natalie lakukan adalah makan secara perlahan, mengunyah setiap suap lama sekali. Hanya untuk melakukan sesuatu, Charlie mulai menghitung. Enam puluh lima detik untuk setiap potong kecil yang dia taruh di antara bibirnya. Hidangan itu pasti sudah benar-benar dingin pada saat Natalie akan menghabiskannya. Charlie tak pernah merasa begitu bosan dalam hidupnya.

Natalie mencoba untuk memaksa Charlie makan makanan penutup, tapi Charlie tahu benar ia akan menjadi satu-satunya yang memakan itu. Charlie menolak kopi. Charlie ingin pergi ke kamar dan menelpon Kate. Ketika Natalie berdiri, dia terhuyung.

"Ups," dia terkikik dan menangkap lengan Charlie.

Charlie tidak suka pandangan sok tahu orang-orang saat mereka meninggalkan restoran dan menuju ke lift. Natalie menempel pada dirinya seperti gurita.

"Ini salahmu aku mabuk. Aku seharusnya meminum sebagian anggurmu dengan baik."

"Maaf."

Padahal Charlie tidak menyesal sama sekali. Bahkan, ia berharap Natalie pingsan saat Charlie mengembalikannya ke kamarnya.

"Di mana kuncimu?" Tanya Charlie.

Setelah berusaha keras, Natalie berhasil mengambil dari tasnya.

"Aku merasa tidak enak badan," gumamnya. Charlie tidak terkejut. Charlie menyeret Natalie melewati pintu dan Natalie tiba-tiba melesat ke arah kamar mandi. Jatuhnya terlihat tidak dibuat-buat dan Charlie pergi untuk membantu.

"Aku mau muntah," ujar Natalie terengah.

Natalie muntah. Di seluruh lantai kamar mandi dan di seluruh tubuh Charlie. Di satu sisi, Charlie bersyukur karena sekarang tidak ada godaan sama sekali.

Ponsel berdering ketika Charlie mencoba untuk membersihkan muntahan itu.

"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Kate.

"Kau tidak ingin tahu." Charlie memandang handuk yang dia dilemparkan ke dalam bak mandi.

"Ya, aku ingin tahu," katanya."

Membersihkan muntahan. Dan sebelum kau bertanya, itu bukan muntahku. Aku berharap kau ada di sini."

"Kenapa? Jadi aku bisa membantumu?"

"Ya." Charlie tertawa.

Natalie mengerang dari tempat tidur dan berlari kembali ke kamar mandi.

"Siapa yang muntah?" Tanya Kate.

"Natalie."

"Campbell?"

"Natalie Glass. Dia punya peran dalam The Green."

"Yang memakai gaun setrip merah di Armageddon?" Charlie mendengar perubahan nada dalam suara Kate. Dan kebohongan.

"Aku tidak ingat."

"Charlie, kau berkata bohong. Apa kau di kamarnya?"

"Ya, tapi aku tidak melakukan apa-apa." Charlie berpaling saat Natalie muntah lagi.

"Hanya membersihkan muntahan," koreksi Kate.

"Ini tidak dalam deskripsi pekerjaanku."

"Biarkan orang lain yang melakukannya kalau begitu."

"Aku tidak berpikir ini adalah deskripsi pekerjaan untuk siapa pun. Tembakan yang bagus, Natalie. Setidaknya sebagian besar kau mengenai pinnya sekarang."

"Ketika kau sudah sendiri, telepon aku," kata Kate. "Dan kami akan memainkan sedikit permainan dokter dan pasien."

"Aku ingin mandi dulu."

"Apa ponselnya kedap air?" Tanya Kate.

Charlie langsung bersemangat. Dia akan menemukan kantong plastik dan membuatnya kedap air.

***

Penerjemah: +Putri Yuni
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

14 comments

Wehwehweh..

Thx mas yudi n mv putri.^^

Wehwehweh..

Thx mas yudi n mv putri.^^

Wehwehweh..

Thx mas yudi n mv putri.^^

Wah...susah juga pacaran sama artis yang lagi naik daun :)

Kasihan Kate,,,, Bertahan Ɣª Kate, hati n jiwa'a kate (Y), (Y)
Charlie jgn prnh ngecewain Kate,,,

Ethan, Natalie, Nick; tree musketers ƍäªk jelas, jahat msk k lubang tikus aja smua'a...

Ampe lupa,,,, º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º mas yudi n mba putri, big hug n kiss :*

Natalie si penggoda #toyor natalie
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya smuanya

Mksh mas yudi n mba putri....
Kate sabar ya....
Charlie jgn tergoda!Jaga kesetiaanmu..

(˘⌣˘)ε˘`) for all readers and mas yudi ;))

thx mba yuni dan mas yudi, charlicepetan autt dr kamar itu ato kujewer hehehe....

Charlie hebat! Digoda cew bening, artis pula, mana godain'y rada maksa gt! Bs nahan!
Keep fight,man :D (mpe kpn ya lo bakal kuat ;p) forever kate,˙˘˚°•⌣okε ;):D⌣•°˚˘˙
⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈мαkαsih✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣ mb'putri +mas yudi

charlie keren.....tahan godaan dan setia demi kate*co sweet thanks mbk put &mas yudi :)

mksh mb put n mas mimin..
charlie..ati2 yah nak..jgn sampe kena perangkap natalie n ethan..
kate..ttp semangat..

Semangat Kate..
Tq mba putri n mas yudi..

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top