17

strangers-thumb
Kate keluar dari rumah untuk mencari Charlie yang berjalan mondar-mandir di samping mobil. Ketika Charlie melihat Kate, ia berhenti dan mengulurkan tangannya.

"Beri aku kunci sialan itu."

"Aku yang mengemudi," kata Kate.

Charlie bersandar di pintu untuk menghentikan Kate membukanya. "Kau tidak diasuransikan."

"Well, aku berjanji untuk tidak membunuhmu dalam perjalanan kembali." Wajah Charlie tetap membatu.

"Kau harus tenang, Charlie. Aku akan mengemudi untuk sementara waktu kemudian kau bisa mengambil alih. Oke?" Charlie mendesah, tapi pergi ke sisi lain dan menunggu Kate untuk membuka pintu.

"Untuk apa kau masuk kembali?"

"Aku lupa tasku." Kate berharap Charlie tidak melihat kebohongan. "Lihat kan, tidak semua keluarga dipenuhi kemanisan dan keceriaan," gumam Charlie, saat Kate mulai mengemudi.

"Aku suka ayahmu."

"Tapi ibuku tidak?"

"Tidak sekarang." Kate memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Dia seharusnya tidak mengatakan itu, tapi dia dibutakan oleh rasa sakit."

"Dan aku tidak?" Bentak Charlie.

"Charlie, jangan. Ini bukan hanya tentangmu."

Tak satu pun dari mereka berbicara lagi sampai Charlie mengatakan,

"Ini arah yang salah. Kita melewatkan jalannya. Temukan jalan untuk berbalik."

Kate melakukan seperti yang Charlhe katakan dan mengikuti petunjuk untuk kembali ke jalan utama.

Mereka terus dalam keheningan selama beberapa saat dan kemudian Charlie berkata,

"Aku sudah lupa ini adalah hari ulang tahunnya."

"Aku pikir bukan itu masalahnya." Charlie memutar-mutar tangannya di pangkuannya. "Aku merindukannya."

"Aku tahu."

"Seperti kau merindukan ibu dan ayahmu?" Mata Kate terus menatap ke jalan. Ini adalah kesempatan Kate untuk memberitahu Charlie kebenarannya, tapi setelah kejadian di rumah, dia tidak mau.

"Tentu saja kau merindukan mereka," gumam Charlie.

"Aku tidak ingat mereka," kata Kate. "Aku bahkan tak ingat ibuku seperti apa. Aku tak ingat seperti apa rasanya memiliki seseorang yang peduli padaku karena mereka ingin, bukan karena mereka dibayar untuk melakukannya."

"Aku...itu menyedihkan."

"Itulah hidup."

"Kau seharusnya menunjukkan kasih sayang pada beberapa orang yang merawatmu." Tidak, Kate tidak, karena tidak ada yang pernah berlangsung lama. Orang-orang atau Kate terus melangkah, jadi tak ada gunanya.

"Aku sudah bilang aku bukan anak yang gampang diatur," kata Kate. "Kupikir aku bertingkah karena aku sedang menguji orang, melihat apakah mereka bisa mencintaiku bahkan ketika aku berkelakuan buruk. Dan sementara aku mendorong mereka pergi, aku masih berharap seseorang akan mengatakan bahwa aku cantik dan pintar, bahwa aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan. Kau punya itu."

"Dan membuangnya."

"Tidak, kau makan di atasnya, berkembang di atasnya. Jill dan Paul yang membentukmu, Charlie, dan mereka mencintaimu. Mereka mencintaimu tak peduli apa yang kau lakukan. Itu sesuatu yang istimewa. Jadi, ketika kau mencari wanita yang melahirkanmu, ingat semua yang sudah dia lakukan, membiarkanmu tumbuh dalam dirinya. Ibu dan ayahmu yang sesungguhnya ada di belakang sana." Kate mendengar Charlie terisak.

Charlie menghela napas dengan gemetar.

"Kurasa orang tuamu tidak dimakan oleh piranha?"

"Tidak."

"Atau mati karena virus Ebola?"

"Tidak." Charlie menunggu dan Kate tahu Charlie berharap ia mengatakan lebih banyak lagi, tapi Kate tidak bisa. Mulutnya terasa seperti sedang memakan crackers kering. Kate tidak ingin mengingatnya. Bahkan berpikir tentang mengingat mengubah perutnya menjadi kumpulan cacing yang bergolak.

"Aku baru saja membuka hati sialanku dan kau masih tak dapat berbicara denganku." Suara Charlie semakin keras. "Mungkin mereka bahkan tidak mati. Apakah mereka hidup bahagia berkecukupan di Milton Keynes? Mungkin mereka melemparmu keluar. Mungkin kau yang meninggalkan mereka. Apa kau sudah mengarang sejarahmu untuk membuatku merasa kasihan padamu."

Kate menggigit bibirnya.

"Apa kau tidur dengan banyak orang, Kate? hamil? Melakukan aborsi? Apa rahasia yang kau sembunyikan?"

Sebuah api amarah membakar dalam diri Kate. Bagaimana bisa Charlie membalikkan ini pada Kate? Kate juga tidak bisa menahan dirinya untuk menggertak. "Obat siapa, Charlie? Kunci mobil dicuri atau diberikan?"

"Bagaimana menurutmu?? Kau tahu aku seperti apa. Berhenti di sini." Kate menginjak rem, mematikan mesin dan berbalik menghadap Charlie. "Katakan yang sebenarnya."

"Obat milik Michael. Dia yang mencuri kuncinya." Mata Charlie terus menatap pada suatu titik yang jauh.

"Aku berusaha untuk membuatnya lebih mudah bagi mereka. Kupikir jika mereka bisa menyalahkanku, maka mereka bisa memaafkanku. Tapi itu kokain Michael. Dia yang membawanya, ia mencuri kunci dari sakuku." Dia berhenti.

"Tapi aku berbohong pada mereka." Ia berpaling kepada Kate, mata Charlie yang gelap penuh rasa sakit.

"Michael masih sadar ketika aku sampai ke mobil. Aku menyeret gadis itu keluar. Dia bernafas tapi tidak sadarkan diri. Michael memohon padaku untuk mengeluarkannya, berteriak padaku bahwa aku tidak menariknya cukup keras, tidak berusaha cukup keras. Aku akan benar-benar memotong kakinya jika aku bisa, tapi tidak ada cara untuk memindahkan dia dan api makin memanas dan aku tahu dia akan mati. Dia juga tahu. Dia memohon padaku untuk tidak meninggalkannya."

Kate mengulurkan tangan untuk mengambil tangan Charlie, jari-jarinya gemetar dalam tangan Kate.

"Tapi aku harus meninggalkannya. Aku tidak bisa bernapas. Aku harus meninggalkan dia. Oh, Tuhan. Dia menjerit. Kemudian, ia berhenti. Dia tidak sadar saat itu, tapi aku..."

Charlie menangis, merenggut tangannya dari tangan Kate dan melompat keluar dari mobil. Ketika ia berjalan cepat ke jalan, Kate mengejarnya. Charlie menuju ke tiang lampu terdekat dan menendangnya. Kate memegang lengannya dan mencoba menariknya menjauh.

"Charlie, jangan."

"Dewan mengirimi mereka tagihan untuk kerusakan tiang lampu. Bagaimana bisa mereka melakukan itu? Mengirim tagihan untuk tiang lampu sialan pada keluarga yang sedang berduka?"

Charlie menendang lagi kemudian membentur tiang dengan tinjunya. Darah menyembur dari buku-buku jarinya dan Kate menempel di lengannya.

"Please, Charlie."

Kate memeluknya saat Charlie berjuang untuk bebas, menodai mereka berdua dengan darah, tapi Kate tidak akan membiarkannya pergi dan pada akhirnya Charlie berhenti melawan. Untuk sesaat, Charlie membiarkan Kate menahannya. Kate memeluk pinggangnya dan menekan kepalanya ke bahunya. Lalu Charlie menarik kunci dari saku Kate dan lari.

"Aku ingin menyetir. Ini mobil sialanku!" teriak Charlie.

Charlie masuk ke sisi pengemudi, berniat untuk pergi tanpa Kate, takut akan keselamatan diri Kate jika dia kembali dengan Kate, tapi takut akan keselamatannya sendiri jika Kate tidak bersamanya. Kate membuka pintu penumpang dan duduk. Charlie menatapnya sejenak, menunggu sampai Kate mengikat sabuk pengaman dan kemudian menderu pergi ke kegelapan. Charlie melaju dengan cepat. Lampu berkelebat melewati. Menyalip setiap kendaraan yang datang dari belakang. Pengemudi lain membunyikan klaksonnya, suaranya tinggal di kepala Charlie lama setelah ia meninggalkan kendaraan di belakangnya. Dia sedang hiper dan sembrono, tertatih-tatih di tepi bencana.

"Apa kau percaya padaku, Kate?"

"Ya."

"Kau tidak percaya, tapi toh kau tidak harus."

Charlie melewati kendaraan yang lebih lambat dan tetap di sisi jalan yang salah, hanya membelok kembali ketika lampu mobil berkelebat mendekat padanya, disusul oleh simfoni saling beradu dari klakson mobil lain.

Dia melirik Kate, berharap untuk melihatnya mencengkeram sisi kursinya, tapi tangannya terlipat di pangkuannya. Dia ingin Kate berteriak padanya untuk pelan-pelan, untuk berhenti, untuk membiarkan Kate yang menyetir.

"Apa kau percaya padaku, Kate?" Tanya Charlie lagi.

"Aku percaya padamu dengan hidupku."

Kate menahan napas saat Charlie menyalip tiga kendaraan dan hanya berhasil mundur sebelum tikungan tajam.

"Kapan kau akan memberitahuku untuk pelan-pelan?"

"Aku tidak akan."

"Apa kau takut?"

"Ya."

"Jadi kenapa kau tidak berteriak padaku?"

"Apakah kau ingin aku teriak?" tanya Kate.

"Ya. Kau menyamaratakan aku. Kau satu-satunya orang yang menghentikanku menumpahkan air di gelas, menghentikanku menggigit kuku, menghentikanku menjadi pria brengsek, menghentikanku bunuh diri."

"Kau harus bertanggungjawab atas masa depanmu."

"Psikiater mana yang bilang itu padamu? Ini masa depanmu, juga. Jika aku mati, kau mati denganku." Jalan melebar menjadi jalan kereta ganda dan mobil melonjak ke depan.

"Katakan padaku untuk pelan-pelan," pinta Charlie.

"Pelan-pelan, Charlie."

"Aku akan pelan-pelan jika kau membuka risletingku dan membungkus mulutmu di sekitar kemaluanku." Charlie melirik dari jalan ke wajah Kate. Mata Kate menatap mata Charlie.

"Tidak," kata Kate. "Jika kita mati, itu bukan karena salahku." Charlie mendidih. Kemarahan dan rasa bersalah melonjak di aliran darahnya, menggeliat bersama-sama seperti memerangi ular sampai setiap bagian dari dirinya terluka sampai di titik kehancuran. Charlie membanting kakinya di rem dan minggir dari jalan ke tempat piknik. Mengemudi jauh ke parkiran kosong, ia berdecit berhenti di samping turunan sebelum mematikan mesin. Charlie berbalik menghadap Kate. Wajah Kate tampak pucat dalam kegelapan, matanya lebar.

Charlie bernapas pendek, terengah-engah dengan cepat. Dia ingin Kate menghentikannya. Kenapa Kate tidak melakukannya?

"Apa yang terjadi dengan orang tuamu? Yang sebenarnya," kata Charlie.

Kate ragu-ragu.

"Aku membuka hatiku untukmu dan kau tidak bisa memberiku satu hal sederhana." Charlie meraih kepala Kate dan menumbukkan bibirnya keras melawan bibir Kate. Menekan punggung Kate di kursi, Charlie menyematkannya di tempat. Satu tangan pindah ke dadanya, meremas melalui gaunnya, mencubit putingnya di antara jari-jarinya. Kate menggeliat-geliat kesakitan dan mencoba menciumnya kembali, tapi Charlie tidak akan membiarkannya. Charlie tidak menginginkan Kate bersikap baik.

Charlie menyentak punggung Kate ke tempat duduknya dan keluar dari mobil, membanting Kate melawan pintu.

"Bicaralah padaku," teriak Charlie.

Tangannya di seluruh tubuh Kate, bergelombang di balik gaunnya, mencabik gaunnya ke atas kepala Kate.

Charlie berhenti berpikir. Dia merobek bra-nya, menjatuhkan kepalanya ke dada Kate dan menggigitnya.

Kate melolong kesakitan. "Persetan, Charlie. Itu sakit." Kate mencoba mendorongnya, tapi Charlie mengibaskan lengan Kate ke samping, menangkap dan memegang pergelangan tangan Kate dan menahannya dengan satu tangan.

"Katakan padaku untuk berhenti," pinta Charlie.

Jari-jarinya menerobos ke dalam pakaian dalam Kate dan beberapa saat kemudian celana dalamnya tercabik dan tergeletak di tanah dan jari-jarinya berada dalam diri Kate. Charlie menarik Kate ke depan mobil dan memutar tubuh Kate sehingga ia berbaring menelungkup di atas kap mesin, tergeletak telanjang di depannya. Ketika Charlie membiarkan pergelangan tangan Kate lepas, Kate mencoba untuk menaikkan tubuhnya, tapi Charlie terus menahannya di tempat.

"Katakan padaku untuk berhenti," pinta Charlie. "Kate, aku ingin kau katakan padaku untuk berhenti. Katakan padaku untuk enyah, pergi, meninggalkanmu sendirian. Please."

Charlie meraba-raba risletingnya dan membebaskan ereksinya. Kate adalah satu-satunya hal yang penting bagi Charlie, tapi ia tidak layak untuk Kate. Dia ingin Kate melihat seperti apa diri Charlie yang sebenarnya. Charlie bahkan tidak menurunkan celananya, hanya mendorong kemaluannya di antara kedua kaki Kate dan menyetubuhinya. Kate mengeluarkan isak keras dan kemudian terdiam.

Kate tidak bisa bergerak. Kap mobil itu panas, keras dan menyakitinya. Charlie bergidik terhadap Kate saat cairan putih menetes kebawah di paha Kate. Kate tahu persis mengapa Charlie melakukan ini. Dia ingin membuat Kate pergi. Charlie tidak tahu bagaimana akrabnya ini, dilecehkan, dicintai, kemudian dilecehkan lagi. Kate merasakan sesuatu yang basah, di atas punggungnya dan tubuh Charlie bergetar. Dia menangis. Ketika Charlie menarik diri dari tubuh Kate, Kate menarik napas panjang dan menggeser dirinya dari depan mobil.

"Maafkan aku," isak Charlie. "Maafkan aku."

Kate berbalik. Charlie berdiri dengan air mata bergulir di pipinya, matanya ditutup, kemaluannya menggantung keluar. Kate mengambil celana dalamnya yang robek dan menyeka dirinya sebelum memakai gaunnya kembali.

Charlie masih belum bergerak. Dia bahkan tidak tampak seolah-olah ia bernapas. Matanya tertutup erat, tinjunya mengepal seakan ia telah dibekukan oleh kengerian yang telah dilakukannya.

Kate melangkah kearahnya dan membiarkan jari-jarinya mengusap jari-jari Charlie.

"Buka matamu, Charlie. Aku masih di sini."

"Maaf," kata Charlie, suaranya nyaris tak terdengar.

"Aku sangat menyesal. Aku tidak percaya aku melakukan itu. Aku memaksamu, aku memperkosa-"

Kate menggenggam tangannya, tidak akan membiarkan Charlie menarik diri. "Buka matamu dan lihat aku." Kate menahan tatapannya terhadap Charlie. "Kau tidak memperkosaku."

"Aku menyakitimu," bisik Charlie. "Aku tak ingin menyakitimu. Mengapa aku melakukan itu padamu? Mengapa kau membiarkan aku? Kenapa kau tidak mengatakan untuk berhenti?" Charlie mulai gemetar. "Oh Tuhan, itu bukan salahmu. Maaf."

Kate melingkarkan lengannya di pinggang Charlie. "Aku akan baik-baik saja, Charlie. Tidak apa-apa." Tangan Charlie diam di sisi tubuhnya. Dia berdiri seperti patung yang sedih.

"Ini tidak baik-baik saja," kata Charlie. "Katakan padaku untuk meninggalkanmu sendirian. Katakan padaku untuk enyah."

"Tidak."

Charlie bernapas terengah-engah dengan berisik. "Aku tak ingin kau mencintaiku. Aku tidak layak." Kate memeluknya erat-erat.

"Ibuku tidak mencintaiku lagi," bisik Charlie, lebih terdengar seperti anak kecil yang membuat hati Kate melilit.

"Ya, dia mencintaimu. Dia bersedih atas kehilangannya. Dia terluka seperti yang kau alami. Ya Tuhan, Charlie, pikirkan apa yang akan kau rasakan jika kau kehilangan anakmu, seseorang yang kau cintai selama bertahun-tahun, semua yang kau inginkan untuknya, hilang dalam sekejap. Kehidupan mereka berubah selamanya malam itu. Itu membunuh sesuatu dalam diri mereka. Aku tahu kau terluka juga. Aku tahu kau mengalami sesuatu yang mengerikan hingga tak terkatakan, tapi ia anak mereka. Mereka menyaksikan dia tumbuh, memberinya makan, tertawa dengannya dan menjadi bangga padanya. Mereka memiliki mimpi untuknya dan semuanya hilang."

Kate mengelus punggungnya, menciumnya. Charlie tidak menanggapi.

"Mereka tahu kau sedih dan mereka marah pada Michael untuk itu. Mereka marah karena jika ia lebih berhati-hati, itu tidak akan terjadi. Dan mereka merasa bersalah bahwa mereka marah. Kalian semua dibanjiri emosi. Ibumu mencintaimu, tapi dia butuh waktu dan lebih dari apa pun, dia membutuhkanmu untuk terus mencintainya."

Akhirnya Charlie melingkarkan lengannya di tubuh Kate. Kate memeluknya erat, mencium air mata asin dari pipinya.

"Ayahmu bilang dia ingin bertemu dengan ibu kandungmu. Ia ingin berterima kasih padanya karena menyerah untuk merawatmu. Katanya mereka adalah orang-orang beruntung, karena mereka memilikimu. Mereka takut kehilanganmu, Charlie."

"Aku sangat kacau. Maafkan aku," bisik Charlie. "Aku seharusnya tidak melakukan itu padamu. Aku tak akan pernah melakukannya lagi."

Kate mencium hidungnya..

"Aku sudah mengalami yang lebih buruk lagi."

"Oh Tuhan."

Kate meraih ke bawah, menyelipkan kemaluan Charlie kembali ke dalam celananya, dengan lembut menaikkan risletingnya, dan mengancingkannya.

"Kau ingin aku mengatakan tidak? Nah, tidak ada lagi mengemudi seperti remaja," kata Kate sambil masuk kembali ke mobil.

"Tuhan, maafkan aku."

"Dan tidak ada lagi kata kau minta maaf."

Saat Charlie menyetir kembali ke jalan, Kate pura-pura tidur. Kate lebih terluka daripada yang Charlie tahu. Kate sudah mengira Charlie berbeda, tapi ketika Charlie melampiaskan kemarahannya pada Kate, Kate bertanya-tanya apa Kate telah membuat kesalahan lain. Kate berharap Charlie tidak terluka, tapi membiarkan Charlie menyakiti dirinya adalah semua yang bisa Kate pikirkan, membuat Charlie menghadapi apa pun yang sedang menggerogotinya.

Apa yang Kate tahu tentang semua ini? Mungkin Kate telah membuatnya menjadi lebih buruk. Bagaimana jika itu tidak berhenti di sini? Bagaimana jika pelecehan terus berlanjut, seperti yang terjadi  dengan Dex.

Apa ada sesuatu tentang diri Kate yang mendorongnya untuk berhubungan dengan pria yang rusak? Kate ingin percaya Charlie akan menepati janjinya untuk tidak pernah menyakiti Kate lagi. Kate harus percaya karena dia tidak bisa meninggalkan Charlie.

***

Penerjemah: +Putri Yuni
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

17 comments

charliiiiiieee,,,,,
*lirik nene

galau.....
Thank mbak yuni and mas mimin *lope*

kasian charlie n kate..puk2 mereka b2
tks smuanya

Akhirnya..rindu ama charly n kate..*

Makaci min & mb putri;

sedih,,,,kasihan kate & charlie T_T thanks mbk put&mas yudi :)
apa nao...*sambil melotot

Jdi pnasaran ama latar blakang na kate,,,,
Maksih Ƴɑ̤̥̈̊ªªªª mas min dan mba putri,,, #peluk"

Thx for readers n mas yudi *kecup jauh dari Kate hihi*

Thx for readers n mas yudi *kecup jauh dari Kate hihi*

†ђąηk ўσυ mba putri yuni n mas yudi

Ouch charlie...what u think u doing!ckck...poor kate :(
⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈мαkαsih✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣ ms admin/mb putri

Sadly chapter :(

kasihan bngt kate,, sedihhhh.... :'(
mksh mbk putri dan mas yudi..

Pengen ky Kate Чªήğ bs tegar,,,,

Mba Putri n mas yudi º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º .... Peluk erat u kalian berdua

Dua pribadi yg hidupx rumit hmm...

Dex?? Siapa dex??
Bajingan kah??
Tq mba putri n mas yudi..

mba etha : Dex mantan pacarnya Kate :)

wahhh tambah seru, mba putri yuni dex mantannya kate, wahhh bikin penasaran....
thx mas yudi dan mbak putri strangers kerennnn....

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top