35

ftds-thumb
Ketika Sharin terbangun di pagi harinya, dia dipenuhi perasaan yang tidak enak. Mimpi itu lagi, mimpi pertemuannya dengan Lucas, dan kemudian lelaki itu berbisik bahwa dia adalah milik Lucas...

Sharin bergidik ngeri. Kenapa dia memimpikan Lucas lagi? Apakah diam-diam lelaki itu menjadi kuat dan mengirimkan pesan melalui mimpinya? Sharin meraba samping ranjangnya dan menemukan ranjangnya kosong. Darren sudah tidak ada di sana. Dia bergegas bangun dan melangkah ke kamar mandi.

Perutnya terasa mual. Sharin melangkah ke arah wastafel dan menggosok gigi, tetapi tidak bisa menahan rasa mualnya dan muntah-muntah di sana. Setelah selesai dia menyalakan keran air keras-keras dan menyiramkan air ke mukanya. Sharin lalu membuka pakaiannya dan melangkah ke pancuran air hangat, dia menyalakan keran pancuran dan membiarkan hempasan air hangat menimpa tubuhnya, melemaskan otot-ototnya.

Tubuhnya terasa pegal. Pegal yang nikmat. Percintaannya dengan Darren begitu menggebu-gebu dan memuaskan. Darren seolah tidak ada puasnya menyentuh Sharin. Ketika mereka tertidur dan tanpa sengaja tubuh mereka bergesekanpun, lelaki itu akan terbangun dan menggoda Sharin dengan penuh gairah, membangunkannya dan mereka akan bercinta lagi. Sharin mengelus perutnya yang mulai membuncit. Di dalamnya ada bayinya, buah cintanya dengan Darren. Darren bilang dia akan menjaga Sharin dan bayinya, jauh dari jangkauan Lucas. Tetapi benarkah Lucas semudah itu dikalahkan?

Perasaan gelisah yang aneh menyergap Sharin, membuat dadanya terasa sesak. Mimpi itu, mimpi di mana Lucas mengatakan bahwa Sharin adalah miliknya terngiang-ngiang jelas di benaknya. Sharin merasa takut, takut kalau Lucas benar-benar melaksanakan apa yang dikatakannya.

***

Sharin turun menuju ruang makan dan menemukan Darren sedang berbicara dengan pria yang dipanggil Lucas dengan nama Ronald, sejebak wajah Sharin pucat pasi, masih segar di dalam ingatannya ketika Ronald waktu itu berdiri di rumah Ricky dan kemudian Lucas menyuruhnya membereskan mayat Ricky. Lelaki itu jelas biasa-biasa saja melihat Lucas membunuh seseorang, jadi dia pasti orang kepercayaan Lucas, bukan Darren. Kenapa Darren berbicara kepadanya?

Mata Darren melirik ke arahnya, lalu sedetik kemudian menatap ke arah Ronald dengan dingin,

"Kurasa sudah selesai Ronald, kau boleh pergi."

Ronald membalikkan badan dan langsung berhadapan dengan Sharin yang berdiri ragu ketakutan di ambang ruang makan. Ada sedikit sinar geli di mata Ronald melihat ketakutan Sharin, dia menunduk memberi hormat sedikit dengan sopan kepada Sharin, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Sharin masih berdiri ragu di ambang pintu dan menatap Darren dengan ragu. Apakah yang ada di depannya ini Darren...ataukah Lucas?

Darren tersenyum dan mengerutkan keningnya melihat Sharin hanya berdiri di situ, "Sharin? Kemarilah."

Sharin melangkah mendekat dengan takut, "Kenapa kau berbicara kepada Ronald?" matanya melirik ke arah kepergian Ronald.

Ekspresi Darren tampak biasa saja, "Dia kepala pengawalku Sharin, kenapa?"

Sharin menelan ludahnya dan mengamati Darren dengan cermat, berusaha mencari tanda-tanda, apa saja yang bisa memberitahunya siapakah yang sekarang ada di depannya.

"Dia ada di sana malam itu, ketika Lucas membunuh Ricky..." Sharin berbisik dengan pelan sambil tetap menatap Lucas. "Dia...dia biasa saja ketika melihat mayat itu, Lucas. Lucas bahkan menyuruhnya membereskan mayat itu dan dia melakukannya."

Darren meletakkan garpunya dan menatap Sharin dengan sedih, "Sharin... maafkan aku karena kau harus mengalami kejadian itu, sungguh. Tetapi Ronald masuk ke dalam rumah ini memang karena Lucas yang membawanya masuk...dan aku berpikir dia diperlukan di rumah ini, kau tahu." Darren menatap Sharin dengan pandangan menyesal, "untuk membereskan ‘masalah’ yang dibuat Lucas."

Sharin menatap Darren. Dia termenung dan kemudian ingatan itu datang. Ingatan akan kesedihannya, kehilangan seluruh keluarganya karena apa yang dilakukan Lucas, "Dia akan selalu datang bukan?" Airmata menetes dari sudut mata Sharin, mengalir ke pipinya, "Dia membunuh kakek dan nenekku dengan kejam...mereka memang sudah tua, tetapi mereka seharusnya bisa menghabiskan masa tua mereka dengan sehat, tetapi Lucas membuat mereka sakit, mereka sakit hingga meninggal...." Sharin menatap Darren, napasnya terengah, terisak karena air mata, "Lucas juga membuatku tidak pernah bertemu dengan ayah kandungku dan keluarganya.. ayah kandung yang mencintaiku....Dan aku.. aku memang tidak dekat dengan ibuku, tetapi aku menyayanginya...dan Lucas tetap merenggut itu semua dariku...." Tangisan Sharin makin keras, "Semuanya direnggut oleh Lucas....dia mengambil semuanya, dia mengambil semuanya dengan kejam...bahkan kaupun akan diambilnya..."

Darren mengamati Sharin dengan wajah tanpa ekspresi, dia berdiri dan mencoba memeluk Sharin, tetapi Sharin menjauh, dia memeluk dirinya sendiri dan membuat Darren berdiri dengan ragu di dekatnya,

"Sayang, kau tidak apa-apa? Maafkan aku sayang, maafkan aku atas apa yang dilakukan Lucas kepadamu." Kali ini Sharin tidak menolak ketika Darren berlutut di depannya dan memeluknya, "Kau tidak pernah mengatakan ini semua padaku, aku tahu kau sedih tapi aku selalu berpikir kau baik-baik saja."

Sharin menatap Darren yang berlutut didepannya, posisi kepala mereka sangat dekat dan mereka sejajar, lalu dia tersenyum ragu kepada Darren, "Aku tidak marah kepadamu, aku memendam kemarahan kepada Lucas, atas sikap kejamnya, atas hatinya yang dingin, membunuh orang-orang tanpa pandang bulu...." Sharin mencoba tersenyum kepada Darren. Dan Darren menghapus air matanya dengan lembut,

"Apa yang dilakukan Lucas dilakukan dengan tanganku juga. Karena itu, aku meminta maaf untuk kami berdua."

Sharin mengangguk, tetapi kemudian dia mengernyitkan matanya, membuat Darren memandangnya dengan cemas,

"Kenapa Sharin...?"

"Perutku sakit..." wajah Sharin pucat pasi, dia menatap Darren bingung dan panik, "Perutku...bayiku..."

Kepanikan langsung menyebar ke arah Darren, "Kita ke rumah sakit sekarang!"

Diangkatnya Sharin ke dalam gendongannya. Lelaki itu melangkah cepat menuju keluar rumah sambil meneriakkan beberapa instruksi kepada supir pribadinya.

Sharin termenung, menahan sakit di perutnya. Tetapi kemudian keadaan ini, dalam gendongan Darren ini membuatnya merasakan deja vu. Dia pernah mengalami hal ini, dibawa dalam gendongan Lucas pada malam percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Ricky. Cara menggendongnya sama. Semua terasa sama.

Darren masuk ke dalam mobil sambil memangku Sharin dan mobil itupun melaju ke luar, menuju rumah sakit. Sharin merasakan jantungnya berdebar. Inipun terasa sama.

Dengan ragu dan takut, dia mengangkat kepalanya dan menatap lelaki yang sedang memeluknya dalam pangkuannya.

"Lucas?"

Darren tampak membeku mendengar panggilannya. Lalu dia menurunkan matanya dan menatap Sharin datar. Seketika itu juga Sharin sadar. Yang ada di depannya ini bukan Darren melainkan Lucas. Kenapa dia tak menyadarinya? Apakah karena Lucas begitu pandai berakting sebagai Darren? Oh ya Tuhan. Sejak kapan Lucas berpura-pura sebagai Darren?

***

Dokter sudah memeriksanya, dan Sharin dibaringkan di atas ranjang ruangan privat Rumah Sakit itu. Lucas mendekati dokter itu kemudian bercakap-cakap dengannya. Dia sama sekali tidak mengajak Sharin berbicara ketika di mobil sampai dengan pemeriksaan di Rumah Sakit. Sementara itu Sharin berbaring, menahan nyeri di perut bagian bawahnya di atas ranjang dan ketakutan yang berkecamuk di dalam benaknya.

Dokter itu pergi dan Lucas lalu berbalik, melangkah mendekati ranjang pelan-pelan dan berdiri dengan tenang di ujung ranjang.

Sharin menatap Lucas dengan tatapan menuduh penuh kebencian dan ketakutan yang bercampur menjadi satu, "Sudah berapa lama?" dia bertanya dengan suara bergetar, batinnya ingin mendapatkan jawaban dengan segera. Sudah berapa lama Lucas menguasai tubuh ini dan berpura-pura sebagai Darren? Apakah selama ini dia bercinta dengan Darren? Atau dengan Lucas? Kepalanya terasa berdentam-dentam dan rasa sakit di perutnya semakin menjadi.

Lucas melirik ke arah Sharin yang memegang perutnya menahan sakit, tatapannya menajam meskipun ekspresinya masih datar, "Kau harus menahan emosimu Sharin, dokter bilang itu membuat rahimmu kontraksi dan bisa membahayakan janinmu."

"Sudah berapa lama?!" Sharin menjerit meneriakkan frustrasinya, tiba-tiba tidak merasa takut lagi kepada Lucas. Lelaki itu telah menghancurkan hidupnya, semua yang dicintainya, dan kalau sekarang dia ingin menghancurkan Sharin, Sharin merasa kalau sudah tidak ada lagi yang harus dia pertahankan.

Lucas menatap Sharin dan kemudian jawaban itu keluar dari mulutnya, pelan dan menakutkan, "Sudah lama sekali Sharin...jauh sebelum pernikahan kita."

Oh Tidak! Jadi Darren sudah menghilang selama itu? Jadi selama ini dia bercinta bukan dengan Darren tetapi dengan Lucas? Ingatan itu berkelebat di benaknya dan membuatnya muak,  bayangan dia bercinta dengan begitu berani, menunggangi suaminya, menggoda suaminya, membuka pahanya untuk suaminya, Tetapi ternyata dia bukan bercinta dengan suaminya, bukan dengan Darren melainkan dengan sisi gelap suaminya, Lucas.

Air mata mengalir lagi di mata Sharin, dia menutupkan tangan di mulutnya untuk menahan erangan putus asanya, "Apakah selama itu Darren tidak ada?"

Lucas menggelengkan kepalanya, menatap Sharin datar, "Dia ada di dalam sini dan tertidur."

Jantung Sharin terasa diremas hingga terasa ngilu, ditatapnya Lucas dengan penuh kebencian, "Kenapa kau harus muncul? Aku tidak menginginkanmu! Aku ingin Darren! Kembalikan suamiku kepadaku!"

Dan Sharin tertegun melihat ekspresi kesedihan, kesedihan yang nyata, terpantul jelas di wajah itu. Lelaki itu menatapnya dengan kesedihan yang berasal dari palung hatinya yang paling dalam. Seakan topeng kejam yang selama ini menutupi wajah Lucas dipecahkan begitu saja, menampakkan wajah asli di dalamnya yang penuh dengan kesedihan, "Aku ini ada Sharin, aku ini nyata, sama seperti Darren. Tetapi tidak ada yang menginginkanku Sharin. Tidak pernah ada yang pernah menginginkanku."

Lalu lelaki itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Sharin dalam keheningan kamar rumah sakit.

***

"Para wartawan itu, mereka menunggu di luar." Ronald melaporkan sambil melirik ke jendela menatap para wartawan dan reporter yang sudah bergerombol di dekat area parkiran rumah sakit, "Ada yang mengawasi rumah ketika anda membawa Nyonya Sharin keluar tadi."

Lucas mengernyitkan keningnya. Dia yang salah. Biasanya dia berpikiran dingin. Tetapi tadi entah kenapa secara impulsif dia membawa Sharin tanpa pemikiran apapun. Dan dengan memakai salah satu mobilnya yang berkaca bening pula. Lucas selalu memakai mobilnya yang berkaca paling gelap dan pekat. Tetapi tadi mobil berkaca bening itu yang sedang diparkir di luar dan tanpa pikir panjang Lucas memasukinya. Dia memang impulsif, tetapi mengetahui Sharin kesakitan dan bayi mereka kemungkinan terancam membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

"Biarkan mereka mengendus tanpa henti. Kalau tidak ada konfirmasi apapun mereka akan mundur dengan sendirinya. Kau pastikan keamanan di sini terjaga. Tidak boleh ada orang luar yang memasuki area Sharin. Periksa dokter dan perawat yang memeriksa Sharin. Mereka harus orang-orang yang sudah terdaftar. Awasi mereka, jika kau menemukan mereka berani membuka mulut kepada pers, bereskan."

Ronald menganggukkan kepalanya, "Akan saya lakukan Tuan Lucas. Saya akan membereskan semuanya, anda bisa tenang." Dia lalu melangkah pergi.

Sementara itu Lucas masih termenung. Memikirkan kata-kata Sharin yang mengganggunya. Sharin membencinya. Dia tahu persis itu. Lucas telah merenggut seluruh keluarga Sharin dengan tangannya sendiri. Dan Lucas telah terbiasa dibenci. Semua orang menginginkan Darren dan menolak dirinya.

Tangannya menggenggam erat tanpa sadar. Menyadari hasrat terdalam di benaknya. Ternyata dia hanya ingin ada seseorang yang menginginkannya.

***

Hari ini Sharin sudah boleh pulang, dia tahu itu dari perawat yang mengganti infusnya. Tetapi dia menunggu seharian penuh dan tidak ada tanda-tanda Lucas akan membawanya pulang.

Sharin sudah tertidur pulas ketika menjelang tengah malam dan Lucas melangkah masuk, diikuti oleh beberapa pegawainya.

"Sharin. Bangun." Lucas sedikit mengguncang tubuh Sharin, membuat Sharin menggeliat dan membuka matanya. Dia langsung terkejut, terduduk dengan waspada sambil menatap Lucas yang membawa selimut tebal di tubuhnya.

"Apa...apakah kau akan membunuhku?" Sharin menatap ke arah selimut itu. Imajinasinya melayang, apakah Lucas membangunkannya tengah malam untuk menusuknya dan kemudian membungkus mayatnya dengan selimut tebal itu untuk kemudian dibuang?

Ada bayangan geli di mata Lucas ketika melihat ketakutan di mata Sharin, "Bukan. Aku harus membawamu pergi, diam-diam di tengah malam. Kau sudah membaik dan sudah boleh pulang, tetapi aku tidak bisa membawamu begitu saja. Para wartawan itu, mereka mengendus keberadaan kita. Jadi kita harus sembunyi-sembunyi." Lucas membungkuskan selimut tebal itu ke tubuh Sharin, "Di luar akan dingin."

Benarkah Lucas menatapnya dengan lembut? Sharin mengamati lelaki itu dengan cermat, tetapi ekspresi Lucas begitu datar dan tidak terbaca, dia membiarkan Lucas mengangkat tubuhnya dan menggendongnya.

Mereka berjalan melalui koridor rumah sakit, menuruni lift khusus, dan melangkah keluar dengan hati-hati. Di luar sangat sepi, mereka memakai pintu samping rumah sakit yang paling jarang digunakan. Memang sepi, tetapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Mungkin saja para wartawan itu sedang bersembunyi di semak- semak.

Sebuah mobil sudah menunggu mereka di depan sana. Dan tiba-tiba jantung Sharin berdebar liar, kalau memang Lucas akan menguasai tubuh Sharin selamanya, maka Sharin harus melarikan diri. Dengan sekuat tenaga Sharin meronta, hingga Lucas yang tidak siap hampir menjatuhkannya. Merasa dirinya sudah lepas, Sharin mencoba lari. Tetapi Lucas mengejarnya dan meraih lengannya, mencengkeramnya erat-erat.

"Jangan bertindak bodoh, Sharin."

Sharin meronta dengan kuat, melihat bahwa jalan raya hanya beberapa ratus meter dari dirinya. Kalau dia bisa lari ke jalan raya itu, dia bisa meminta pertolongan seseorang. Memang sudah tengah malam, tetapi di dekat rumah sakit biasanya masih banyak orang yang berjaga. Sharin bisa meminta pertolongan siapapun yang ada di sana, polisi, bahkan mungkin wartawan. Lucas tidak akan berbuat apapun kalau ada wartawan di antara mereka.

Rontaan Sharin makin erat, diiringi rasa putus asa dan ketakutan yang luar biasa untuk melepaskan diri dari Lucas yang kejam. Tiba-tiba ada kilatan blitz lampu kamera wartawan yang memotret mereka. Ternyata memang ada wartawan yang bersembunyi di sana. Lucas menoleh dengan marah, silau oleh lampu blitz itu. Dia melirik dan melihat hanya ada satu orang yang sedang memotret di sana. Kurang ajar.

"Ronald!" dia memerintah dan pada saat yang bersamaan Ronald sudah mengejar wartawan yang hendak lari setelah mendapatkan foto bagus itu. Ronald menarik kamera wartawan amatiran itu dan menghancurkannya, dia menginjaknya sampai remuk. Dan entah ancaman apa yang diucapkannya kepada wartawan itu, karena sang wartawan langsung lari terbirit-birit.

Karena wartawan itu, Lucas menjadi lengah, pegangannya pada Sharin sedikit mengendor. Pada saat itulah Sharin menyentakkan pegangan Lucas sekuat tenaga, dia terlepas. Tanpa berani menoleh ke belakang dia lari  sekencang-kencangnya, sekuat tenaganya menuju arah jalan raya, dia tahu Lucas mengejarnya.

"Sharin! Awas!"

Karena berlari begitu kencang, Sharin tidak menyadari bahwa dia sudah menyeberang jalan raya. Di sisi lain ada mobil berkecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya dengan sangat kencang. Sharin menjerit, lampu mobill itu membuatnya silau dan dia yakin bahwa dalam beberapa detik dia akan mati.

Tetapi sebuah tangan yang kuat mendorongnya dengan keras hingga terguling ke aspal di seberang jalan yang sepi. Lalu terdengar suara rem berdecit dan tabrakan yang keras. Dan kemudian teriakan-teriakan panik orang-orang.

Sharin bangun dari posisi badannya yang telungkup. Lutut dan telapak tangannya tergores oleh aspal, tetapi dia baik-baik saja. Dan kemudian dia terperangah menatap pemandangan di depannya.

"Lucas?"

Lucas terbaring di sana bersimbah darah, kepalanya berdarah, juga darah lain yang mengalir entah di bagian mana tubuhnya. Lucas menyelamatkan nyawanya? Lelaki itu mendorong Sharin agar selamat dari tabrakan itu dan membiarkan dirinya tertabrak.

Sharin setengah merangkak mendekati Lucas. Sementara itu Ronald dan beberapa pegawai lainnya tertegun di sana, tetapi mereka segera memanggil bantuan dari Rumah Sakit,

"Lucas?"

Lelaki itu masih sadarkan diri, dia memalingkan kepalanya dan menatap Sharin, darah mengalir di kepalanya, membasahi pelipis dan mengalir turun ke rahangnya. "Ironis bukan? Aku, Lucas.... merelakan diriku untuk menyelamatkan nyawamu..." lelaki itu tersengal dan matanya tampak berkabut, akan kehilangan kesadarannya. Tetapi dia menatap Sharin dan melirik ke arah perutnya, "Apakah dia... bayi itu, baik-baik saja?"

Air mata mengalir di pipi Sharin. Lucas menyelamatkan nyawanya dan mencemaskan bayinya. Lelaki itu memang kejam, tetapi dia menyelamatkan Sharin.

Sharin menganggukkan kepalanya, mulai terisak-isak. Sementara Lucas tersenyum lega melihat anggukan kepala Sharin. Jemarinya yang berdarah menyentuh pipi Sharin, meninggalkan bekas darah di sana, "Bagus. Jaga anak kita baik-baik...." lalu jemari itu lunglai ke aspal

"Lucas? Lucas? Bertahanlah!.... Lucas?" Sharin menjerit mencoba memanggil-manggil Lucas

Paramedis berdatangan, mencoba membantu Sharin berdiri. Beberapa langsung memeriksa Lucas dan menjauhkan Sharin darinya.

Yang bisa dilakukan Sharin hanya memanggil-manggil nama Lucas dengan ketakutan yang amat sangat. Takut kalau lelaki itu pada akhirnya akan meninggal.


Poskan Komentar

35 comments

Mas yudi mw malming y post sore2,xixxiixi
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba n mamas

Pertama, thanks Mas Yudi n mbak Shanty...Makin penasaran dgn kelanjutannya.

hah? Lucas dan Darren, bertahan ya!? Jangan smpai mereka knpa2...
Thanks mbak santhy and mas mimin *lope*

jgn sampe lucas nya kenapa2..
sempat berkaca-kaca begitu lucas bilang klo dia ga pernah diinginkan siapapun..
kasihan lucas...

makasih mas yudii..
makasih mbak santhy..

makasih mas yudi...udah ditunggu2

wadaww, ga bsa tidur nh malming ck. Smga lucas bertahan dh.ga asik kan kalo sad end *eh wk.
Thanks mas yud mba san :D

Bru nyadar kalo lucas lebih nyesek dr siapapun
Huweee T.T

Tu kan lucas ampe rela menabrakkan dirinya biar sharin selamat, sharin sih pke acara kabur :(

Semoga lucas g knp2

Ga pengen Lucas kenapa 2, Sharin pasti nyesel tuh. Mksh Mb Santhy & Ms Yudi;-)

Kasian lucas,,,
Bertahanlah Lucas..

numpang treak yah... PART 15 PLIZZz!!!

yeay~ akhirnya FTDS bab 14 keluar juga
lumayan lah buat ngobatin rasa galau karna gak bisa nonton MUBANK ^o^

Waduhh...lucas gimana tu.? Baik2 aja kan.:'( lucaaaaaaas..bertahan ya demi sharin dan bayimu . Tenang aja lucas sharin kyanya udh menginginkan dirimu...

Thx smwnya.;D

Wah...baru kali ini aku salut sama Lucas, ternyata dia benar2 punya hati untuk Sharin :)

ah...nunggu endingnya gak sabar.

kapan lagi ya di post..:((

Aduuuh~ jadi kasian sama lucas
Hiks....
Makasih mas yudi
Mb saaaan, keren bgt iniiihhh
Bikin galau deh hihihi

Request bab 15 lgsung mlm ini dong mas yudi dan mbak sharin! Huaaaa Lucassss jgn pergiiiiii :'(

OM LUCASSSS!!!! TIDAAAKKKKK!!!!
#treak2gila
hikz hikz T___T

eh Lucas mati ni???
kalo lUcas mati berarti Darren juga mati dong....
ah ngak benr ini......

ini mah namanya nambah galau,,,
udah galau gara2 SJ du Mubank,,,
ditambah ini lucas kecelakaan,,,^^

Wah kayanya sharin bakalan galau nih.......

daren gmn?lucas mati ya.

Kok lama2 jd suka juga sama silukas ya....
Thanks mba santi n ms yudi.. Mat malming..

halo slm kenl, Q readers baru!
wah dah sampai part 14!

Ǧ̩ªќ sabar nunggu lanjutannya... Smga lucas bs berubah jd baik..

Lucaaaasss..hiksss....sediiiihhh...

jangan biarkan Lucas mati! :') saya sudah mulai suka sama Lucas! #soraksorai

aaaakkkk Lucas,,,wowwww... jangan2 Lucas akhrnya mati n Darren akhrnya berhasil menguasai tbuh mereka?? huaaaa,,,
makasih Mba Santhy n Mas Yudi...

Lucassssss, sayank,,, jangan tinggalkan aq.... *_* #peluk lucas#
Thanks mba santhy n mas yudi

LUCAAAAAAAAASSSSS~ TIDAAAAAAAAAKKKKK*sinetronattack* thanks all :3

Kyaaaa.. Histeris histeris..
Om Lucaass.. Jangan meninggal,sharin membutuhkan kamu..
*lucaslover

Seandainya Lucas bisa berubah, aku bakalan suka sama Lucas. Tapi apa mungkin? Mengingat berapa nyawa yang sudah Lucas hilangkan -_-
Kayaknya Sharin udh mulai punya perasaan deh sama Lucas. Bab ini sudah mulai muncul nyesek-nyeseknya. Komplit dah kalo bareng sama Unforgiven Hero (˘̩̩̩.˘̩ƪ) Plisss, Lucas jangan matiiiii. Darrennya gimana ntar? Biar gimana pun, Darren itu cinta pertamaku -____- Dan Lucas itu cinta keduaku *eeh

Ditunggu kelanjutannya ya kak....Penasaran banget nih!!!
Semangat! (•ˆ⌣ˆ•)

mba shanty lucas jangan meninggal donk,aahhh knp jadi bikin penasaran....
aiihhh mba shanty kalo lucas tiada darren kan juga ikutan hiks...
makasih mbak shanty dan om mimin dah update

mba jgan biarin lucas mninggal ...ksian sharin mba ..
mo lucas or daren yang nntinya hidup asal jgan sampai mati mba !!

akhirnya si devil lucas bisa juga baik hati sama sharin, tapi apakah sharin akaun jatuh cinta dengan lucas? ckckckckkc tambah penasaran aku, mbak mimin, thanks ya

Oh...tidak....
Lucassss...ternyata mau berubah juga jd baik!
Tp klo lucas baik,daren baik...
Yg jahat sapa dong!

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top