30

fsf-thumb
Aku hampir tak bisa bernapas. Apakah aku ingin mendengar ini? Christian menutup matanya dan menelan ludah. Ketika ia membuka matanya lagi, tatapannya cerah tapi malu-malu, penuh kenangan yang mengganggu.

"Saat itu musim panas. Aku sedang bekerja keras." Dia mendengus dan menggelengkan kepalanya, tiba-tiba merasa lucu. "Memindahkan puing-puing itu adalah pekerjaan yang melelahkan. Aku sendirian pada saat itu, dan Ele—Mrs. Lincoln muncul entah dari mana dan membawakanku segelas limun. Kami saling mengobrol, dan aku mengeluarkan beberapa ucapan sok pintar...dan dia menamparku. Dia menamparku begitu keras." Secara tidak sadar tangannya bergerak ke wajahnya dan ia membelai pipinya, matanya merefleksikan memori itu. Astaga!

"Tapi kemudian dia menciumku. Dan ketika dia selesai, dia menamparku lagi." Dia berkedip, tampak masih bingung meskipun setelah sekian lama.

"Aku belum pernah dicium sebelumnya atau dipukul seperti itu."

Oh. Wanita itu menerkam. Pada anak-anak.

"Apakah Kau ingin mendengar ini?" Tanya Christian.

Ya...Tidak...

"Hanya jika kau mau memberitahuku." suaraku kecil saat aku berbaring menghadap ke arahnya, pikiranku berputar-putar.

"Aku mencoba untuk memberikan suatu konteks."

Aku mengangguk berharap aku bisa menunjukkan sikap gembira. Tapi kupikir aku mungkin terlihat seperti patung, beku dan mata terbelalak karena terkejut.

Dia mengerutkan kening, matanya mencari-cariku, mencoba untuk mengukur reaksiku. Lalu ia telentang dan menatap langit-langit.

"Well, tentu saja, aku bingung dan marah dan birahiku memuncak. Maksudku, wanita seksi yang lebih tua datang padamu seperti itu—" Dia menggelengkan kepalanya seolah-olah masih tidak bisa percaya.

Seksi? Aku merasa mual.

"Dia kembali ke rumah, meninggalkanku di halaman belakang. Dia bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku merasa benar-benar bingung. Jadi aku kembali ke pekerjaan, memuat puing-puing ke dalam tempat sampah. Ketika aku pergi malam itu, dia memintaku untuk datang kembali hari berikutnya. Dia tidak menyinggung apa yang telah terjadi. Jadi keesokan harinya aku kembali. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi," dia berbisik seolah-olah itu adalah pengakuan jahat...karena terus terang memang begitulah adanya.

"Dia tidak menyentuhku saat dia menciumku," gumamnya dan memutar kepalanya untuk menatapku. "Kau harus mengerti...hidupku sangat buruk. Aku adalah seseorang dengan libido tinggi, berumur lima belas tahun, berbadan tinggi untuk seumuranku, hormon yang mengamuk. Gadis-gadis di sekolah–" Dia berhenti, tapi aku bisa membayangkan: seorang remaja yang ketakutan, kesepian, tapi menarik. Hatiku bagai diremas.

"Aku marah, sangat marah pada semua orang, pada diri sendiri, pada keluargaku. Aku tidak punya teman. Terapis ku pada waktu itu adalah orang yang brengsek. Keluargaku, mereka mengekangku, mereka tidak mengerti." Ia menatap langit-langit lagi dan menyusupkan tangannya melalui rambutnya. Tanganku merasa gatal untuk menyentuh rambutnya juga, tapi aku tetap diam.

"Aku hanya tidak bisa tahan pada siapa pun yang menyentuhku. Aku tidak bisa. Tidak tahan orang berada di dekatku. Dulu aku berkelahi... sial, aku berkelahi. Aku terlibat dalam beberapa perkelahian yang mengerikan. Aku dikeluarkan dari beberapa sekolah. Tapi itu cara untuk melepaskan emosi. Untuk mentolerir suatu jenis kontak fisik." Dia berhenti lagi. "Well, bisa kau bayangkan. Dan ketika dia menciumku, dia hanya meraih wajahku. Dia tidak menyentuhku." Suaranya nyaris tak terdengar.

Wanita itu pasti tahu. Mungkin Grace mengatakan padanya. Oh, Fifty ku yang malang. Aku sampai harus melipat tangan di bawah bantal dan meletakkan kepalaku di atasnya agar meredam desakan untuk memeluknya.

"Nah, hari berikutnya aku kembali ke rumah itu, tidak tahu apa yang diharapkan. Dan aku akan membagi padamu rincian terparahnya, tapi kurang lebih sama saja. Dan itulah bagaimana hubungan kami di mulai."

Oh, sial, ini menyakitkan untuk di dengar.

Dia bergeser lagi ke samping sehingga dia menghadap padaku.

"Dan kau tahu sesuatu, Ana? Duniaku menjadi fokus. Tajam dan jernih. Semuanya. Itu lah yang aku butuhkan. Wanita itu bagaikan udara segar yang kuhirup. Aku membuat keputusan, membuang semua hal buruk dariku, dan membiarkanku bernapas."

Sialan.

"Dan bahkan ketika itu berakhir, duniaku tetap fokus karena dia. Dan tetap seperti itu sampai aku bertemu denganmu."

Apa yang seharusnya kukatakan tentang hal itu? Ragu-ragu, dia menyelipkan rambut liarku ke belakang telingaku.

"Kau mengubah duniaku kembali pada tempatnya." Dia menutup matanya, dan ketika ia membuka lagi,matanya liar. "Duniaku dulunya tertata, tenang dan terkendali, kemudian kau datang ke dalam hidupku bersama mulutmu yang cerdas, keluguanmu, kecantikanmu, dan keberanianmu yang besar...dan segala sesuatu sebelum kau hadir hanya berupa keadaan yang membosankan, kosong, biasa-biasa saja...tidak ada yang spesial."

Oh, my.

"Aku jatuh cinta," bisiknya.

Aku berhenti bernapas. Dia membelai pipiku.

"Begitupun aku," bisikku dengan sedikit nafas yang tersisa.

Matanya melunak. "Aku tahu," ucapnya.

"Kau tahu?"

"Ya."

Haleluya! Aku tersenyum malu-malu padanya. "Akhirnya," bisikku.

Dia mengangguk. "Dan itu meletakkan segala sesuatunya ke tempat yang benar bagiku. Ketika aku lebih muda, Elena adalah pusat duniaku. Tak ada yang tidak akan kulakukan untuknya. Dan dia melakukan banyak hal bagiku. Dia menghentikan kebiasaan minum-munimku. Membuatku bekerja keras disekolah...Kau tahu, dia memberiku sebuah mekanisme adaptasi yang tidak aku punya sebelumnya, memungkinkanku mengalami hal-hal yang kupikir tak pernah bisa melakukannya."

"Sentuhan," bisikku.

Dia mengangguk. "Dalam batas tertentu."

Aku mengerutkan kening, bertanya-tanya apa yang ia maksudkan.

Dia ragu-ragu pada reaksiku.

Katakan padaku! Aku menyemangatinya.

"Jika kau tumbuh dengan citra-diri yang sepenuhnya negatif, berpikir bahwa keberadanmu seperti ditolak, orang liar yang tidak menyenangkan, kau berpikir kau pantas untuk dipukuli."

Christian...Kau bukan orang seperti itu.

Dia berhenti dan menggerakkan tangannya melalui rambutnya. "Ana, jauh lebih mudah untuk menampakkan rasa sakitmu dari luar…" Sekali lagi, ini adalah sebuah pengakuan.

Oh.

"Dia menyalurkan kemarahanku." Mulutnya membentuk garis suram. "Sering kali di dalam hati—aku menyadarinya sekarang. Dr. Flynn selalu mengatakan hal ini terus menerus selama beberapa waktu. Baru belakangan ini saja aku melihat untuk apa hubungan kita. Kau tahu...pada hari ulang tahunku."

Aku bergidik saat memori yang tak diinginkan hadir dari Elena dan Christian yang blak-blakan secara lisan satu sama lain pada saat pesta ulang tahun Christian muncul tidak diundang kepermukaan didalam pikiranku.

"Baginya sisi hubungan kami adalah tentang seks dan kontrol dan wanita kesepian menemukan suatu jenis kenyamanan dengan pria muda mainannya."

"Tapi kau menyukai kontrol," bisikku.

"Ya. Memang. Akan selalu begitu, Ana. Ini lah aku. Aku menyerah beberapa saat untuk tidak memegang kontrol. Membiarkan orang lain membuat semua keputusan untuku. Aku tidak bisa melakukannya sendiri—aku tidak dalam keadaan yang tepat. Tapi melalui ketundukanku pada wanita itu, aku menemukan diriku dan menemukan kekuatan untuk mengambil alih hidupku... mengambil kendali dan membuat keputusan sendiri."

"Menjadi Dom?"

"Ya."

"Keputusanmu?"

"Ya."

"Keluar dari Harvard?"

"Keputusanku, dan itu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat. Sampai aku bertemu denganmu."

"Aku?"

"Ya." Bibirnya tersenyum lembut dengan khas. "Keputusan terbaik yang pernah kubuat adalah menikahimu."

Oh my. "Bukan memulai perusahaanmu?"

Dia menggeleng.

"Bukan belajar terbang?"

Dia menggeleng. "Kau," ucapnya. Dia membelai pipiku dengan buku-buku jarinya. "Wanita itu tahu," bisiknya. Aku mengerutkan kening. "Dia tahu apa?"

"Bahwa aku sepenuhnya benar-benar jatuh cinta denganmu. Dia mendorongku untuk pergi ke Georgia menemuimu, dan aku senang dia melakukan itu. Dia pikir kau panik dan pergi. Dan kau memang melakukannya."

Aku pucat. Aku lebih suka tidak berpikir tentang hal itu.

"Dia pikir aku butuh semua ornamen gaya hidup yang sudah aku nikmati itu."

"Menjadi Dom?" Bisikku.

Dia mengangguk. "Ini memungkinkanku untuk membuat semua orang tetap dalam jangkauanku, memberiku kontrol, dan membuatku dapat berdiri sendiri, atau seperti itulah pikirku. Aku yakin kau pernah mencari tahu mengapa," tambahnya lembut.

"Ibu kandungmu?"

"Aku tidak ingin disakiti lagi. Dan kemudian kau meninggalkanku." Kata-katanya hampir tidak terdengar. "Dan aku benar-benar kacau."

Oh, tidak.

"Begitu lama aku telah menghindari keintiman—aku tak tahu bagaimana melakukan ini."

"Kau melakukannya dengan baik," gumamku. Aku menelusuri bibirnya dengan jari telunjukku. Dan dia mencium jariku. Kau akan bicara padaku.

"Apa kau merindukannya?" Bisikku.

"Merindukannya?"

"Gaya hidup yang itu."

"Ya, aku merindukannya."

Oh!

"Tapi hanya sejauh aku rindu efek dari kontrolnya. Dan terus terang, aksi bodohmu."—ia berhenti—"yang menyelamatkan adikku," dia berbisik, kata-katanya penuh kelegaan, kekaguman, dan ketidakpercayaan. "Begitulah caraku mengetahuinya."

"Tahu?"

"Benar-benar tahu bahwa kau mencintaiku."

Aku mengerutkan kening. "Benarkah?"

"Ya. Karena kau mengambil risiko begitu besar...bagiku, untuk keluargaku."

Kerutan keningku semakin dalam. Dia meraih dan menyusuri area diantara kedua alisku dengan jarinya.

"Kau memiliki bentuk V di sini ketika kau mengerutkan keningmu." gumamnya. "Ini sangat lembut untuk dicium. Aku bisa berperilaku begitu buruk...tapi kau masih tetap di sini."

"Mengapa kau terkejut aku masih di sini? Aku bilang aku tidak akan meninggalkanmu."

"Karena caraku bersikap saat kau bilang kau sedang hamil."

Dia menjalankan jarinya ke pipiku. "Kau benar. Sikapku seperti seorang remaja."

Oh, sial...Aku mengatakan begitu. Bawah sadarku melotot padaku. Dokternya yang mengatakan itu!

"Christian, aku mengatakan hal-hal buruk." Dia menempatkan jari telunjuk di atas bibirku.

"Ssstt. Aku berhak untuk mendengarnya. Selain itu ini adalah cerita pengantar tidurku." Dia berguling untuk menelentangkan tubuhnya lagi.

"Ketika kau bilang kau sedang hamil—"  Dia berhenti. "Kupikir ini hanya akan ada kau dan aku untuk sementara waktu. Aku mengharapkan keturunan, tapi hanya secara abstrak. Aku memiliki gagasan yang masih kabur bahwa kita akan memiliki seorang anak suatu saat nanti."

Hanya satu? Tidak...Bukan anak tunggal. Jangan seperti aku. Mungkin sekarang bukan waktu yang terbaik untuk membahas ini.

"Kau masih sangat muda, dan aku tahu kau diam-diam ambisius."

Ambisius? Aku?

"Well, Lalu kau meninggalkanku tak berdaya. Ya Tuhan, ini sungguh tak terduga. Tak pernah terbayang dalam hidupku, ketika aku bertanya apa yang salah, aku mengira bahwa kau hamil." Dia mendesah. "Aku sangat marah. Marah padamu. Marah pada diriku sendiri. Marah pada semua orang. Dan itu membawaku kembali, perasaan tidak berada dalam kendaliku. Aku harus keluar. Aku pergi untuk menemui Flynn, tapi dia berada di acara orangtua murid di sekolah." Christian berhenti sejenak dan mengerutkan alis.

"Ironis," bisikku. Christian menyeringai setuju.

"Jadi aku berjalan dan berjalan dan berjalan, dan tiba-tiba...aku menemukan diriku sudah berada di salon. Elena akan pergi. Dia terkejut melihatku. Dan, jujur saja, aku terkejut mendapati diriku di sana. Dia tahu aku marah dan bertanya apakah aku ingin minum."

Oh, sial. Kita akan menyelesaikan teka-teki ini. Hatiku berpacu dua kali lebih cepat. Apakah aku benar-benar ingin mengetahui hal ini? Bawah sadarku melotot padaku, alisnya tertarik keatas memperingatkan.

"Kami pergi ke sebuah bar yang tenang yang kutahu dan memesan sebotol anggur. Dia meminta maaf atas cara bersikapnya saat terakhir kali ia bertemu kita. Dia terluka karena ibuku tidak mau berhubungan dengannya lagi—itu mempersempit lingkaran sosialnya—tapi dia mengerti. Kami membicarakan bisnis, yang sedang berjalan dengan baik, meskipun masih ada rasa kesal...Aku menyinggung tentang kau yang menginginkan anak."

Aku mengerutkan kening. "Kupikir kau memberitahunya bahwa aku hamil."

Dia menatapku, wajahnya polos. "Tidak, aku tidak melakukannya."

"Kenapa kau tidak memberitahuku?"

Dia mengangkat bahu. "Aku tidak pernah mendapat kesempatan."

"Ya, kau punya."

"Aku kehilangan dirimu keesokan harinya, Ana. Dan ketika aku menemukanmu, kau begitu marah padaku..."

Oh, ya. "Aku memang sangat marah."

"Pokoknya, saat sedang membahas beberapa masalah malam itu—sekitar setengah jalan menghabiskan botol minuman ke dua—dia membungkuk kearahku dan berusaha menyentuhku. Dan aku membeku," bisiknya, menutup matanya dengan tangannya.

Kulit kepalaku terasa gatal. Apa-apaan ini?

"Dia melihat bahwa aku tersentak karena sentuhannya. Ini mengejutkan kami berdua." Suaranya rendah, terlalu rendah.

Christian lihat aku! Aku menarik-narik lengannya dan dia menurunkannya, beralih menatap mataku. Sial. Wajahnya pucat, matanya melebar.

"Apa?" Aku menghembuskan napas.

Dia mengerutkan kening, dan menelan ludah.

Oh...apa yang tidak dia beritahu padaku? Apakah aku ingin tahu?

"Dia merayuku." Dia kaget, aku bisa melihatnya.

***

Penerjemah: +Aphrodite Cherie
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

30 comments

Tengkyu mbak cherie , PN n mas Yudi :)

Apaaaa??apaaa???jadiiii nenek sihir ntuh ngerayu Abang Christiaann???oh tidaaakkkkkk!!!!...
Mksh Mba Adys n Mas Yudi

Mba aphrodite, mas yudi n all te el tor º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º .....

CG n Anna (Y)....

Oh christian grey mau tamat berapa bab lagi !!!!
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mba +Aphrodite Cherie and mas +Yudi portalnovel

aih crta pengantar tdur yg bkin skit hati T.T tpi lega lah... :D
Smw terungkap..

Thanks mba Adys n Mas Yudi..

Astajim~
Deg2an + sambil nahan napas baca inih
Fiuuh~
Di potongnya pas ga enak banget ini :(
Makasih mas yudi, mb cherie

Mba chery ms yudi makasih..... Mlm minggu jd ceria....

Nenek lampir gak tahu diri,,
udah tahu tua msh gatel aj

mba ksh mba cherie mas yudi,,

kayaknya meski ngasih mendali kesetiaan buat mamas christian,,,
dalam kondisi tertekan,,karna gak siap istri hamil,,,
tetep kagak tergoda buat selingkuh,,,,#daebak,,,

tinggal dikit lagi,,blom rela buat pisahan ama pasangan ajaib ini,,,^^

buat admin ama yang udah translate,,makasih banget,,,

Penasarannnnnn
Abang christian jgn mau dirayu mak lampir
mksh mba chery n mas yuyud he...he.

What... Elena ky g da cwo.lain z. Laki orang mash drayu jg

Aku suka ending bab ini … mbak #Cherie {http://bit.ly/U928Am} emang cerdas… ☺☺
~ thanks juga buat masbro #Yudi {http://bit.ly/U928jW}

wow! Nunggu lg deh!!. Thanks...

grrrrr... udah nenek masih aja kanji gatal... ngaca donk nekkk..!!!

merayu???
makasih mbak adys dan mas yudi...

Kok...Elena gitu, dasar tante2 yang ga pernah ngaca...Ana kamu harus kuat and Christian kamu kok gitu?????

muaakaassiih Adys sweetie..
Mas Yudi..makasiih...

lanjuttttt. . . .

makasih semua

waaaaaaa mba adys ,,, secret finally revealed ,, *swallow hard curiosity mode: on

bentar lagi tamat...
makasih mbak cherie , makasih mas yudi....

haloow salam kenal, asli jatuh cinta banget sm Mr.Grey, makasih banyak buat admin dan smua crew translater nya..

wah..pngakuan,,slurrrpp..g sabar bca slnjt'y gmna..
Thankz. Mbk cherie
PN
Mz yudi

aduhhh..
motong nya pas saat2 tegang ihh..
keeeennnttaaaaannngggg...
btw thank u ya mba cherie...

Hoaa gasabar mlm ini dilanjutkan bab selanjutnya ya min? Jgn mlm yaa :) thx

oh no..setiap kurang 1 episode emsti deg2an.akhirnya spt apa..

penasaran akutttt..

Makasih all...n mas mimin...
Kentang kentang...hihihihi

Admin manaa nih bab slnjutnyaaaaaaa?

makasih >o<
lanjuuut~~~ kekekekeke~~~

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top