24

fsf-thumb
Setelah mengenakan celana training dan T-shirt, aku duduk di antara kedua kaki Christian ketika ia mengeringkan rambutku.

"Jadi apa lagi yang diceritakan Clark kepadamu ketika aku tidak sadarkan diri?"

"Aku tidak ingat."

"Aku mendengar beberapa percakapanmu."

Sisirnya tiba-tiba diam tidak bergerak di rambutku.

"Apa kau benar-benar bisa mendengar?" Tanya dia, nadanya acuh tak acuh.

"Ya. Ayahku, ayahmu, Detektif Clark...ibumu."

"Dan Kate?"

"Kate ada di sana?"

"Ya, hanya sebentar. Dia marah padamu juga."

Aku berbalik di pangkuannya. "Hentikan segala omong kosong tetang semua orang marah pada Ana itu, oke?"

"Hanya mengatakan yang sebenarnya," kata Christian, bingung karena ledakan kemarahanku.

"Ya, memang itu perbuatan yang sangat nekat, tapi kau tahu, adikmu berada dalam bahaya."

Ekspresinya langsung sedih. "Ya. Memang." Mematikan pengering rambut, dia menempatkannya di atas tempat tidur di sampingnya. Dia memegang daguku.

"Terima kasih," katanya, mengejutkanku. "Tapi jangan ada lagi perbuatan nekat. Karena lain kali, aku akan memukul pantat sialanmu."

Aku terkesiap.

"Kau tidak akan melakukannya!"

"Ya, aku akan melakukan." Dia serius. Astaga. Benar-benar serius. "Aku sudah memiliki ijin dari ayah tirimu." Dia menyeringai. Dia menggodaku! Atau dia? Aku menubrukkan diriku ke arahnya, dan dia membalikkan aku hingga aku jatuh ke tempat tidur dan ke dalam pelukannya. Saat aku rebah, rasa sakit itu muncul melewati tulang rusukku dan aku langsung meringis.

Christian memucat. "Bersikaplah yang baik!" Ia memperingatkan, dan untuk sesaat dia terlihat marah.

"Maaf," gumamku, aku mengulurkan tanganku untuk membelai pipinya. Dia mengendus tanganku lalu menciumnya dengan lembut.

"Jujur, Ana, kau benar-benar tidak menghargai keselamatanmu sendiri." Dia menarik ujung T-shirt-ku keatas, kemudian menempatkan jari-jarinya di atas perutku. Aku berhenti bernapas. "Sekarang ini bukan hanya kau saja," bisiknya, sambil menjalankan ujung jarinya disepanjang pinggangku, membelai kulitku. Gairah meledak tanpa terduga, panas, dan berat di dalam darahku. Aku terkesiap dan Christian merasakan juga, lalu menghentikan gerakan jari-jarinya dan menatap ke arahku. Dia memindahkan tangannya lalu menyelipkan rambut liarku di belakang telingaku.

"Tidak," bisiknya.

Apa?

"Jangan menatapku seperti itu. Aku melihat luka memarmu. Dan jawabannya adalah tidak." Suaranya tegas, lalu ia mencium keningku.

Aku menggeliat. "Christian," aku mengeluh.

"Tidak. Naik ke tempat tidur." Dia berdiri.

"Tempat tidur?"

"Kau perlu istirahat."

"Aku membutuhkanmu."

Dia menutup matanya dan menggelengkan kepalanya, seolah-olah itu adalah usaha yang sangat besar untuk menekan keinginannya. Ketika ia membuka matanya lagi, matanya yang cerah dengan keteguhan hatinya.

"Lakukan apa yang sudah kukatakan, Ana."

Aku tergoda untuk melepas semua pakaianku, tapi kemudian aku ingat memar itu dan tahu kalau aku pasti tidak akan menang dengan cara seperti itu. Dengan enggan, aku mengangguk.

"Oke." Aku sengaja cemberut secara berlebihan kearahnya. Dia menyeringai, merasa geli. "Aku akan membawakanmu makan siang."

"Kau akan memasak?" kataku hampir tersengal-sengal.

Dia tertawa dengan sopan. "Aku akan memanaskan sesuatu. Mrs Jones kelihatannya sibuk."

"Christian, aku yang akan melakukannya. Aku baik-baik saja. Astaga, Aku ingin seks—aku tentu saja bisa memasak." Aku duduk tegak dengan kikuk, berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit dari tulang rusukku yang terasa perih.

"Tidur!" Mata Christian berkedip lalu dia menunjuk bantal itu.

"Bergabunglah denganku," gumamku, berharap aku mengenakan sesuatu yang sedikit lebih memikat daripada celana dan T-shirt.

"Ana, naik ke tempat tidur. Sekarang."

Aku cemberut, berdiri, dan membiarkan celanaku jatuh begitu saja ke lantai, dan terus melotot ke arahnya. Mulutnya berkedut menahan tawa saat ia membuka selimut.

"Kau mendengar apa yang dikatakan Dr Singh. Dia mengatakan kau harus banyak istirahat." Suaranya lembut. Aku menyelinap masuk ke tempat tidur dan melipat tanganku dengan perasaan frustrasi. "Tetap diam disitu," katanya jelas menikmati dirinya sendiri.

Cemberutku semakin dalam.

Sup ayam Mrs. Jones sangat lezat, tidak diragukan lagi, salah satu hidangan favoritku. Christian makan bersamaku, duduk bersila di tengah tempat tidur. "Rasanya sangat enak jika panas." Aku nyengir dan dia menyeringai. Aku merasa kekenyangan dan mengantuk. Apakah ini bagian dari rencananya?

"Kau tampak lelah." Dia mengambil nampanku.

"Ya."

"Bagus. Tidur." Dia membungkuk dan menciumku. "Aku memiliki beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Aku akan melakukannya di sini jika kau tidak keberatan."

Aku mengangguk...merasa kalah saat bertempur melawan kelopak mataku. Aku tak tahu bagaimana sup ayam bisa menjadi begitu melelahkan.

***

Hari sudah senja ketika aku bangun. Cahaya merah muda pucat seakan membanjiri kamar ini. Christian sedang duduk di kursi, mengawasiku, mata abu-abunya berkilau diantara cahaya yang mengelilinginya. Dia memegang beberapa lembar kertas. Wajahnya pucat sekali. Astaga!

"Apa ada yang salah?" aku segera bertanya, langsung duduk dan mengabaikan tulang rusukku yang memprotes.

"Welch baru saja pulang."

Oh, sial. "Dan?"

"Aku pernah tinggal dengan si keparat itu," bisiknya.

"Tinggal? Dengan Jack?"

Dia mengangguk, matanya melebar.

"Kau ada hubungannya dengan dia?"

"Tidak. Ya Tuhan, tidak."

Aku mengacak-acak selimut keatas dan mendorong kebawah kakiku, mengundang dia ke tempat tidur di sampingku, dan aku terkejut ketika dia tanpa ragu-ragu mendatangiku. Dia melepaskan sepatunya dan bergeser di sisiku. Satu lengannya membungkus disekelilingku, dia meringkuk, kepalanya beristirahat di pangkuanku. Aku tertegun. Ada apa ini?

"Aku tidak mengerti," gumamku, menelusuri jemariku diantara rambutnya dan menatap ke arahnya. Christian menutup matanya dan alisnya mengkerut seolah-olah dia berusaha untuk mengingat sesuatu.

"Setelah aku ditemukan dengan pelacur pecandu itu, sebelum aku tinggal dengan Carrick dan Grace, aku dalam perawatan Michigan State. Aku tinggal di sebuah panti asuhan. Tapi aku tidak ingat apapun tentang semua kejadian waktu itu."

Pikiranku berputar-putar. Panti asuhan? Ini adalah berita baru bagi kami berdua.

"Berapa lama?" Bisikku.

"Dua bulan atau lebih. Aku benar-benar tidak ingat."

"Kau sudah bicara dengan ayah dan ibumu tentang hal ini?"

"Belum."

"Mungkin kau harus bicara dengan mereka. Mungkin mereka bisa menceritakan sesuatu untuk mengisi ingatanmu yang kosong itu."

Dia memelukku erat. "Ini." Dia menyerahkan kertas padaku, yang ternyata itu adalah dua lembar foto. Tanganku menjangkau keatas dan menyalakan lampu disamping tempat tidur jadi aku bisa melihat foto itu secara detail. Foto pertama adalah gambar sebuah rumah kumuh dengan pintu depan warna kuning dan jendela besar yang meruncing ke atap. Sebuah teras dengan halaman depan yang sempit. Gambaran sebuah rumah yang biasa-biasa saja.

Foto kedua—tampak sekilas gambar sebuah keluarga, keluarga dari pekerja biasa pada umumnya—kurasa seorang pria dan istrinya, dan anak-anak mereka. Kedua orang dewasa itu mengenakan pakaian lusuh dan kuno, T-shirt warna biru yang telah pudar.

Mereka berusia sekitar empat puluhan. Wanita itu memiliki pirang disela-sela rambutnya dan di seluruh ujungnya, dan pria itu rambutnya berpotongan sangat cepak, tapi mereka berdua tersenyum hangat di depan kamera. Tangan Pria itu bersandar di bahu seorang gadis remaja yang tampak cemberut. Aku memandang dengan penuh perhatian pada setiap anak-anak itu: dua anak laki-laki—kembar identik, umurnya sekitar dua belas tahun—keduanya berambut pirang terang, tersenyum lebar didepan kamera; ada anak laki-laki yang lain, yang lebih kecil, pirang, serta cemberut, dan yang bersembunyi di belakangnya, seorang anak laki-laki kecil berambut tembaga dengan mata abu-abu. Matanya terbelalak sepertinya ketakutan, mengenakan pakaian yang tidak serasi, dan mencengkeram selimut anak-anak yang tampak kotor.

Sial. "Ini kau," bisikku, jantungku seakan meluncur masuk ke tenggorokanku. Aku tahu Christian berusia empat tahun saat ibunya meninggal. Tapi anak ini terlihat jauh lebih muda. Dia pasti sangat kekurangan gizi. Aku meredam isakan karena air mata akan menetes di mataku. Oh, Fifty-ku yang manis.

Christian mengangguk. "Itulah aku."

"Welch yang membawa foto-foto ini?"

"Ya. Aku tidak ingat semua ini." Suaranya datar dan tidak begairah.

"Haruskah mengingat ketika bersama orang tua asuh? Kenapa kau harus mengingat itu? Christian, kejadian itu sudah lama sekali. Apakah ini yang kau khawatirkan?"

"Aku ingat beberapa kejadian yang lain, dari sebelum dan sesudah. Ketika aku bertemu dengan ayah dan ibuku. Tapi ini...Ini seperti ada jurang yang sangat besar."

Jantungku berputar dan pemahaman datang menyingsing. Kekasihku yang gila kontrol yang menyukai segala sesuatu di tempatnya, dan sekarang dia mengetahui bagian teka-tekinya yang hilang itu.

"Apakah Jack yang di foto ini?"

"Ya, dia anak yang lebih tua." Christian masih memejamkan matanya yang kacau, dan dia menempel padaku seolah-olah aku perahu penyelamat. Aku menggerakkan jari-jariku disela-sela rambutnya saat aku menatap anak laki-laki yang lebih tua yang sedang melotot itu, seperti seorang pemberontak dan arogan, di depan kamera. Aku bisa melihat kalau itu Jack. Tapi dia hanya seorang anak kecil, berumur sekitar delapan atau sembilan tahun yang terlihat begitu menyedihkan, menyembunyikan ketakutannya dibalik sikap permusuhannya. Sebuah pemikiran muncul dalam benakku.

"Ketika Jack menelepon dan memberitahuku bahwa dia sudah menyandera Mia, dia berkata kalau keadaannya berbeda, bisa saja itu adalah dia."

Christian menutup matanya sambil bergidik. "Bajingan itu!"

"Kau pikir dia melakukan semua ini karena Grey mengadopsimu bukan dia?"

"Siapa yang tahu?" Nada Christian lebih getir. "Aku tidak peduli dengan dia."

"Mungkin dia sudah tahu kalau kita sudah berhubungan ketika aku diwancarai untuk mendapatkan pekerjaan itu. Mungkin ia sudah merencanakan untuk merayuku selama ini." Cairan empedu naik ke tenggorokanku.

Kurasa tidak," gumam Christian, matanya sekarang terbuka. "Pencarian yang ia lakukan pada keluargaku baru mulai satu seminggu atau lebih setelah kau memulai pekerjaanmu di SIP. Barney yang tahu tanggal pastinya. Dan, Ana, dia menyetubuhi semua asistennya dan merekam mereka semuanya." Christian menutup matanya dan sekali lagi mengencangkan cengkeramannya padaku.

Seakan tertekan seperti ada gempa yang berjalan melalui diriku, Aku mencoba untuk mengingat berbagai percakapanku dengan Jack ketika aku mulai bekerja di SIP. Aku sudah tahu dari dalam hati, kabar buruk mengenai dirinya, namun aku mengabaikan semua naluriku. Christian benar—aku tidak pernah memperhatikan keselamatanku sendiri. Aku ingat pertengkaran yang kami lakukan tentang aku ingin pergi ke New York dengan Jack. Astaga—aku bisa saja berakhir dengan suatu rekaman seks yang menjijikkan. Pemikiran itu membuatku merasa muak. Dan pada saat itu aku ingat Christian menyimpan foto-foto submisif-nya.

Oh, sial. "Kami seperti dipotong dari kain yang sama." Tidak, Christian, kau tidak begitu, kau tidak seperti dirinya. Dia masih meringkuk di sekelilingku, seperti anak kecil.

"Christian, Kupikir kau seharusnya berbicara dengan ayah dan ibumu." Aku enggan membuatnya pindah, jadi aku bergeser dan meluncur kebawah di tempat tidur sampai kami bisa saling memandang.

Sebuah tatapan abu-abu tampak kebingungan bertemu dengan mataku, mengingatkan aku tentang anak kecil di dalam foto itu.

"Biarkan aku menelepon mereka," bisikku. Dia menggelengkan kepalanya. "Please." Aku memohon. Christian menatap ke arahku, rasa sakit dan keraguan pada dirinya tercermin di matanya saat ia menanggapi permintaanku. Oh, Christian, kumohon!

"Aku yang akan menelepon mereka," bisiknya.

"Bagus. Kita bisa pergi dan bertemu dengan mereka bersama-sama, atau kau bisa pergi sendiri. Mana yang lebih kau suka."

"Tidak Mereka bisa datang kemari."

"Kenapa?"

"Aku tak ingin kau pergi ke mana-mana."

"Christian, aku bisa bangun dan melakukan perjalanan dengan mobil."

"Tidak." Suaranya tegas, tapi dia memberiku senyum ironis. "Lagi pula, saat ini malam minggu, mereka mungkin memiliki acara."

"Telepon mereka. Berita ini jelas membuatmu kacau. Mereka mungkin bisa memberikan titik terang." Aku melirik pada jam alarm radio. Saat ini hampir jam tujuh malam. Dia memandangku sejenak dengan tatapan kosong.

"Oke," katanya, seolah-olah aku memberi dia sebuah tantangan. Duduk tegak, ia meraih telepon di samping tempat tidur.

Aku membungkuskan lenganku di sekeliling dirinya dan menyandarkan kepalaku di dadanya saat ia membuat panggilan itu.

"Dad?" aku menilai keterkejutannya karena Carrick yang menjawab telepon.

"Ana baik-baik saja. Kami berada dirumah. Welch baru saja meninggalkan rumah. Dia menemukan adanya koneksi di...panti asuhan di Detroit...aku tidak ingat semua itu." Suara Christian hampir tak terdengar saat ia bergumam pada kalimat terakhir itu. Jantungku mengkerut sekali lagi. Aku memeluknya, dan dia meremas bahuku.

"Ya...Kau akan kesini?...Bagus." Dia menutup telepon. "Mereka dalam perjalanan kemari." Kedengarannya dia terkejut, dan aku menyadari bahwa dia mungkin tidak pernah meminta bantuan pada mereka.

"Baik. Aku harus berpakaian."

Lengan Christian semakin ketat disekeliling tubuhku. "Jangan pergi."

"Oke." Aku meringkuk ke sisinya lagi, tertegun oleh fakta itu bahwa dia bercerita banyak tentang dirinya sendiri—sepenuhnya dengan sukarela.

Saat kami berdiri di ambang pintu ke ruang keluarga, Grace memelukku dengan lembut.

"Ana, Ana, Ana sayang," bisiknya. "Menyelamatkan kedua anakku. Bagaimana aku harus berterima kasih padamu?"

Aku tersipu, terharu dan merasa malu pada saat yang sama saat mendengar kata-katanya. Carrick memelukku, juga, mencium dahiku.

Kemudian Mia meraihku, meremas tulang rusukku. Aku meringis dan terkesiap, tapi dia tidak menyadarinya. "Terima kasih karena sudah menyelamatkanku dari bajingan itu."

Christian cemberut padanya. "Mia! Hati-hati! Dia kesakitan."

"Oh! Maaf."

"Aku baik-baik saja," gumamku, merasa lega ketika ia melepaskanku. Dia tampak baik-baik saja. Terlihat sempurna mengenakan celana jins hitam ketat dan blus berenda warna pink pucat. Aku senang aku mengenakan gaun yang membungkusku dengan nyaman dan sepatu datar. Setidaknya aku masih terlihat cukup rapi.

Berlari ke arah Christian, Mia melingkarkan lengannya di pinggang Christian. Tanpa bicara, dia menyerahkan foto itu pada Grace. Dia langsung terkesiap, tangannya melayang ke mulutnya menahan emosinya saat ia langsung mengenali Christian. Carrick membungkus lengannya di bahunya saat ia melihat foto itu juga.

"Oh, sayang." Grace membelai pipi Christian.

Taylor muncul. "Mr. Grey? Miss Kavanagh, kakaknya, dan saudara anda akan datang kemari, sir."

Christian mengerutkan keningnya. "Terima kasih, Taylor," gumamnya dengan bingung.

"Aku menelepon Elliot dan mengatakan padanya kalau kami akan kemari." Mia menyeringai. "Sebuah pesta penyambutan selamat datang dirumah."

Aku sekilas melirik dengan penuh simpatik kearah suamiku yang malang saat Grace dan Carrick menatap Mia dengan jengkel.

"Sebaiknya kita bersama-sama menyiapkan beberapa makanan," Kataku. "Mia, maukah kau membantuku?"

"Oh, Aku senang sekali membantumu."

Aku mengajaknya menuju area dapur saat Christian mengarahkan orang tuanya masuk ke ruang kerjanya.

Kate terlihat benar-benar sangat marah yang ditujukan padaku, Christian, tapi kebanyakan semuanya pada Jack dan Elizabeth.

"Apa yang kau pikirkan, Ana?" Teriaknya saat dia berhadapan denganku di dapur, menyebabkan semua mata di ruangan ini berbalik dan menatapnya.

"Kate, please. Aku sudah dikuliahi dengan topik yang sama dengan semua orang!" Aku membalasnya. Dia melotot padaku, dan selama satu menit kupikir aku akan menjadi sasaran Katherine Kavanagh yang akan menceramahi tentang, bagaimana-bisa-aku-mengalah pada-penculik, tapi sebaliknya ia malah menarikku ke dalam pelukannya.

"Astaga—Tterkadang kau tidak punya otak seperti yang kau punya ketika dilahirkan, Steele," katanya berbisik. Saat dia mencium pipiku, ada air mata yang menggenangi matanya. Kate! "Aku begitu mengkhawatirkanmu."

"Jangan menangis. Kau akan membuatku ikut menangis."

Dia berdiri tegak lagi dan menyeka air matanya, merasa malu, kemudian mengambil napas dalam-dalam dan menenangkan dirinya sendiri. "Sebagai catatan yang lebih positif, kami telah menetapkan tanggal untuk pernikahan kami. Kami pikir bulan Mei mendatang? Dan tentu saja aku ingin kau menjadi pendampingku."

"Oh...Kate...Wow. Selamat!" Sial—Blip kecilku ...Juniorku!

"Ada apa?" Dia bertanya, salah mengartikan ketakutanku.

"Um...Aku hanya merasa sangat bahagia untukmu. Suatu kabar baik sebagai gantinya." Aku membungkus lenganku di tubuhnya dan menariknya ke dalam pelukan. Sial, sial, sial. Kapan Blip lahir? Dalam hati aku menghitung kapan saatnya aku melahirkan. Dr Greene mengatakan, aku hamil kurang lebih empat atau lima mingguan. Jadi sekitar bulan Mei—? Sial.

Elliot memberiku segelas sampanye.

Oh. Sial.

Christian muncul dari ruang kerjanya, terlihat pucat, dan diikuti kedua orang tuanya menuju ruang keluarga. Matanya melebar saat ia melihat gelas di tanganku.

"Kate," dia memberinya salam dengan dingin.

"Christian." Katanya sama-sama dingin. Aku mendesah.

"Ingat kesehatanmu, Mrs. Grey." Matanya memandang gelas yang ada di tanganku. Aku menyempitkan mataku. Sialan. Aku butuh minuman. Grace tersenyum saat ia bergabung denganku di dapur, mengambil satu gelas dari Elliot sambil berjalan.

"Seteguk tidak apa-apa," dia berbisik sambil mengedipkan mata penuh konspirasi kearahku, dan mengangkat gelasnya lalu mendentingkan ke gelasku. Christian cemberut pada kami berdua, sehingga Elliot ingin mengalihkan perhatiannya dengan berita terbaru mengenai pertandingan Mariners melawan Rangers.

Carrick bergabung dengan kami, meletakkan tangannya di sekeliling kami berdua, dan Grace mencium pipinya sebelum bergabung dengan Mia di sofa.

"Bagaimana keadaannya?" Aku berbisik pada Carrick saat ia dan aku berdiri di dapur mengawasi mereka duduk di sofa di ruang keluarga. Aku begitu  terkejut melihat Mia dan Ethan sedang berpegangan tangan.

"Terguncang," gumam Carrick padaku, alisnya berkerut, wajahnya tampak serius. "Dia ingat begitu banyak tentang kehidupannya dengan ibu kandungnya; begitu banyak hal yang aku berharap dia tidak mengingatnya. Tapi ini—" Dia berhenti. "Kuharap kami bisa membantunya. Aku senang dia memanggil kami. Dia bilang kau yang menyuruhnya." Tatapan Carrick melembut. Aku mengangkat bahu dan menyesap sampanye dengan terburu-buru.

"Kau pengaruh yang sangat baik baginya. Dia tidak pernah mau mendengarkan orang lain."

Aku mengerutkan kening. Kurasa itu tidak benar. Momok gelap yang tak diinginkan dari Pelacur sialan itu tampak membayangi dalam pikiranku. Aku tahu Christian sudah bicara dengan Grace mengenai hal ini juga. Aku mendengarnya. Sekali lagi aku merasa frustrasi pada momen ini ketika aku mencoba untuk memahami percakapan mereka di rumah sakit, tapi masalah itu masih luput dariku.

"Ayo dan duduklah, Ana. Kau tampak masih lelah. Aku yakin kau tidak mengharapkan kami semua disini malam ini."

"Aku sangat senang bertemu dengan kalian semua." Aku tersenyum. Karena itu memang benar, ternyata sangat menyenangkan. Aku anak tunggal yang sudah menikah dengan sebuah keluarga besar dan suka berkumpul, dan aku menyukainya. Aku meringkuk di samping Christian.

"Hanya seteguk," dia mendesis padaku dan mengambil gelas dari tanganku.

"Ya, Sir." Aku mengedipkan bulu mataku, untuk menenangkan dia sepenuhnya. Dia melingkarkan lengannya di bahuku dan kembali meneruskan percakapan bisbolnya dengan Elliot dan Ethan.

***

"Orang tuaku berpikir kau seakan memiliki keajaiban bisa berjalan di atas air," gumam Christian saat ia melepaskan T-shirt-nya. Aku meringkuk di tempat tidur seakan menonton pertunjukan di klub malam.

"Bagus, kau tahu, kau berbeda." Aku mendengus.

"Oh, aku tak tahu." Dia menarik kakinya keluar dari celana jinsnya.

"Apa mereka mengisi kekosongan pada ingatanmu?"

"Sebagian. Aku pernah tinggal dengan keluarga Colliers selama dua bulan sementara ayah dan ibuku menunggu dokumennya jadi. Mereka sudah disetujui untuk mengadopsi Elliot, tapi masih menunggu yang disyaratkan oleh hukum untuk melihat apakah aku masih punya sanak saudara yang ingin memiliki aku."

Oh.

"Bagaimana perasaanmu tentang itu?" Bisikku.

Dia mengerutkan kening. "Tentang tidak memiliki sanak saudara? Persetan dengan itu. Jika mereka seperti pelacur pecandu itu..." Ia menggelengkan kepalanya dengan rasa jijik. Oh, Christian! Kau masih kecil, dan kau pasti mencintai ibumu.

Dia memakai piyamanya, naik ke tempat tidur, dan dengan lembut menarikku ke dalam pelukannya.

"Ingatan ini tiba-tiba datang kembali padaku. Aku ingat makanan itu. Aku pikir Mrs. Collier bisa memasak. Dan setidaknya kami tahu sekarang mengapa bajingan itu begitu terobsesi pada keluargaku." Dia menggerakkan tangannya yang bebas mengacak-acak rambutnya. "Sial!" Katanya tiba-tiba berpaling menganga ke arahku.

"Apa?"

"Masuk akal sekarang!" Matanya penuh dengan pengakuan.

"Apa?"

"Baby Bird. Mrs. Collier biasa memanggilku Baby Bird."

Aku mengerutkan kening. "Apa yang membuatnya itu jadi masuk akal?"

"Catatan itu," katanya menatapku. "Catatan tebusan yang ditinggalkan bajingan itu. Kata-katanya seperti 'Apa kau tahu siapa aku? Karena aku tahu siapa kamu, Baby Bird'."

Hal ini bukannya tidak masuk akal sama sekali bagiku.

"Awalnya dari buku cerita anak-anak. Sial. Aku baru ingat. Keluarga Colliers memiliki buku itu. Judulnya...'Apakah kau ibuku?' Sial." Matanya melebar. "Aku menyukai buku itu."

Oh. Aku tahu buku itu. Jantungku tiba-tiba berputar—Fifty!

"Mrs. Collier membacakan buku itu padaku."

Aku bingung harus berkata apa.

"Ya Tuhan. Dia tahu...bajingan itu tahu."

"Maukah kau menceritakannya pada polisi?"

"Ya. Aku akan melakukannya. Tuhan tahu apa yang akan dilakukan Clark dengan informasi itu." Christian menggelengkan kepalanya seakan mencoba menjernihkan pikirannya. "Pokoknya, terima kasih untuk malam ini."

Wow. Pergantian topik lagi.

"Untuk apa?"

"Menyiapkan makanan untuk keluargaku pada waktu yang singkat."

"Jangan berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada Mia dan Mrs. Jones. Dia menyimpan banyak makanan di dapur."

Dia menggelengkan kepalanya seolah-olah sedang putus asa. Kepadaku? Mengapa?

"Bagaimana perasaanmu, Mrs. Grey?"

"Baik. Bagaimana dengan perasaanmu?"

"Aku baik-baik saja." Dia mengerutkan kening...tidak memahami kepedulianku.

Oh...masalah itu. Aku menarik jemariku turun di perutnya menyusuri oh-happy trail-nya.

Dia tertawa dan meraih tanganku. "Oh tidak. Jangan memiliki ide seperti itu."

Aku cemberut, dan ia mendesah. "Ana, Ana, Ana, apa yang akan kulakukan denganmu?" Dia mencium rambutku.

"Aku punya beberapa ide." Aku menggeliat di sampingnya, dan meringis saat rasa sakit memancar melalui tubuh bagian atasku dari tulang rusukku yang memar.

"Sayang, kau sudah cukup kesakitan mengalami kejadian itu. Selain itu, Aku punya cerita pengantar tidur untukmu."

Oh?

"Kau ingin tahu..." Suaranya tiba-tiba menghilang, dia menutup mata dan menelan ludahnya. Semua rambut di tubuhku berdiri diujungnya. Sial. Dia mulai dengan suara lembut. "Bayangkan ini, mengenai seorang anak remaja yang ingin mendapatkan uang tambahan sehingga ia dapat melanjutkan kebiasaan rahasianya untuk minum."

Dia bergeser miring sehingga kami berbaring sambil berhadapan dan dia menatap mataku.

"Jadi aku berada di halaman belakang keluarga Lincoln, membersihkan puing-puing dan barang yg tidak berharga dari rumah Mr. Lincoln yang baru saja diperluas..."

Sialan...dia mau menceritakannya.

***

Penerjemah: +Saiya Henny
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

24 comments

Tengkyuuuu mbak Henny n mas Yudi

Woww,,cerita apah ituh??cerita apah itu??penasaaraaannnnn...
Hukz,,
Mksh Mba Henny n Mas Yudi

Penasaran......jgn diputus plis.plis
mksh mba heny n mas yudhi;-)

trnyta bner cristian ama jack saudaraan.. ,

mkin seru crtanya... ,

lusa...ooo lusaaaaa... :(

Christian membersihkan halaman Mr. Lincoln..?. oh, apakah ini tentang Elena lincoln?.. tapi kenapa "Lincoln"?. aku pikir "Robinson"..
wah, wah, wah..

WOW,,,,,, penasaran tingkat tinggi,,,,, makcihh mbak henny dan mas yudi :D

Ada kisah apa lagi tentang christia?

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

Christian ama Jack ga saudaraan kayaknya, mrk cuma dari panti asuhan yang sama .. Cuma yang diadopsi itu si Christian, Jack nya jadi gak terima :p
Thanks mbak Henny ama mas Yudi ^^

makasih mbk henny dan mas yudi.. :)

huh..
nafas..
nafas..
PN membuatku lupa bernafas..
kentang bangetttttt..
thank u co much...

puk-puk Ana...dimarahin ama Kate..hehehehehee

Makasiih mbak Henn,,,makasiih masYud...
Makasiih smuaa....

Pasti ttg elena!!!
Tq mba henny n mas yudi.

Aaaaaa please lanjutin ceritanya :"(

Makasih mb henny, mas yudi
Wuaaah~ penasaran banget
Apaan yak yg mau di ceritain
Ga sabar nunggu lanjutannya :D

Lho..itu Jack sama Christian saudaraan? Bukannya hanya ditampung bersama? Wah Christian mau nyritain ttg masa lalu BDSM nya ya :'( Sedih bentar lg tamat. Hiks

Makasiiih mas yudi n mba henny......duuuh sayaaang bentar lagi dah tamat, bisa kangen nih sama christian n ana............

seperti biasa gak sbr nunggu klnjutannya. Thank you semua...

Christian selalu penuh dg kejutan :)

telat baca >.< #plaakk
sweet family, ntah mau koment apa lagi ama pasangan ini, super duper kereeen dan ga ada duanya dehh.... 100 jempol >o<
makasih banyak banget portal novel dan angel TL, you're so gorgeous :* :*

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top