52

fsf-thumb
Hanya ada rasa sakit. Kepalaku, dadaku... rasa sakit membara. Tubuhku, lenganku. Sakit. Sakit dan suara teredam dalam kegelapan. Dimana aku? Meskipun mencoba, aku tak bisa membuka mataku. Bisikan kata-kata semakin jelas...seperti suar dalam kegelapan.

"Rusuknya memar, Mr. Grey, dan ia mengalami retak sebesar seutas rambut di tengkoraknya, tapi gejala vitalnya stabil dan kuat."

"Mengapa ia masih tak sadarkan diri?"

"Mrs. Grey mengalami luka memar yang cukup parah dikepalanya. Tapi aktifitas otaknya normal, dan ia tidak mengalami pembengkakkan otak. Dia akan bangun ketika ia siap. Berikan ia sedikit waktu."

"Dan bagaimana bayinya?" Kata-katanya penuh derita, terengah-engah.

"Bayinya baik-baik saja, Mr. Grey."

"Oh, terima kasih Tuhan." Kata-katanya adalah rangkaian...sebuah doa. "Oh, terima kasih Tuhan."

Oh my. Dia mengkhawatirkan bayinya...bayinya?...Blip Kecil. Tentu saja. Blip Kecilku. Aku mencoba untuk menggerakkan tangan ke perutku, namun sia-sia. Tak ada yang bergerak, tak ada yang merespon.

"Dan bayinya?...Oh, terima kasih Tuhan."

Blip kecil selamat.

"Dan bayinya?...Oh, terima kasih Tuhan."

Dia perduli akan bayi ini.

"Dan bayinya?...Oh, terima kasih Tuhan."

Dia menginginkan bayi ini. Oh terima kasih Tuhan. Aku rileks, dan ketidaksadaran menguasaiku sekali lagi, merenggutku menjauh dari rasa sakit.

Semuanya sangat berat dan nyeri: tungkai, kepala, kelopak mata, tak ada yang mau bergerak. Mata dan mulutku tertutup, tak ingin membuka, membuatku buta dan bisu dan kesakitan. Ketika aku muncul dari kabut, kesadaran mengambang, sirine yang menggiurkan namun jauh dari rengkuhan. Bunyi berubah menjadi suara.

"Aku tak akan meninggalkan dia."

Christian! Dia disini...Aku bertekad membuat diriku sendiri terbangun—suaranya begitu tegang, bisik penderitaan.

"Christian, kau harus tidur."

"Tidak, Dad. Aku ingin berada disini ketika ia terbangun."

"Aku akan duduk disampingnya. Itulah yang bisa kulakukan setelah ia menyelamatkan putriku."

Mia!

"Bagaimana keadaan Mia?"

"Dia masih pusing...ketakutan dan marah. Masih ada beberapa jam lagi sebelum Rohypnol habis dari sistem tubuhnya."

"Ya Tuhan."

"Ya aku tahu. Aku merasa sangat bodoh ketika mengendurkan penjagaan padanya. Kau memperingatkanku, tapi Mia begitu keras kepala. Jika bukan karena Ana..."

"Kita semua berpikir bahwa Hyde bukan yang di balik semua ini. Dan istriku yang gila dan bodoh—Mengapa ia tak memberitahuku?" Suara Christian dipenuhi dengan kesedihan.

"Christian, tenanglah. Ana adalah wanita yang luar biasa. Dia benar-benar pemberani."

"Pemberani dan kepala batu dan keras kepala dan bodoh." Suaranya pecah.

"Hey," Carrick menggumam, "jangan terlalu keras padanya, atau pada dirimu sendiri, nak...Aku lebih baik segera kembali pada ibumu. Ini sudah lewat pukul tiga dini hari, Christian. Kau benar-benar harus mencoba untuk tidur."

Kabut mulai menyelimuti.

Kabut mulai memudar namun aku tak memiliki orientasi waktu.

"Jika kau tak menghukum wanita ini, aku akan dengan senang hati melakukannya. Memangnya apa sih yang Ana pikirkan?"

"Percayalah padaku, Ray, Aku akan melakukan hal itu."

Ayah! Dia disini. Aku melawan kabut ini...melawan...Tapi itu membawaku sekali lagi ke dalam ketidaksadaran. Tidak...

"Detektif, seperti yang bisa anda lihat, istri saya tidak sedang dalam kondisi dapat menjawab satupun pertanyaan anda." Christian marah.

"Dia adalah wanita yang keras kepala, Mr. Grey."

"Aku berharap dia membunuh bajingan itu."

"Itu akan memberiku lebih banyak berkas untuk ditangani, Mr. Grey..."

"Miss Morgan bernyanyi layaknya burung kenari. Hyde adalah bajingan yang sesungguhnya. Dia memiliki dendam yang dalam terhadap ayah anda dan diri anda sendiri..."

Kabut menyelimutiku sekali lagi, dan aku ditarik ke dalam...semakin dalam. Tidak!

"Apa yang kau maksud dengan kau tidak membicarakannya?" Itu Grace. Dia terdengar marah. Aku mencoba menggerakkan kepalaku, tapi aku malah merasakan gema, kebekuan tak berujung pada tubuhku.

"Apa yang kau lakukan?"

"Mom—"

"Christian! Apa yang kau lakukan?"

"Aku sangat marah." Itu hampir terdengar seperti isakkan...Tidak.

"Hey..."

Dunia mulai menghilang dan memudar dan aku tak sadarkan diri.

Aku mendengar suara-suara bisikan yang kacau.

"Kau bilang padaku bahwa kau akan memutus semua hubungan." Grace bicara. Suaranya begitu pelan, berisi teguran.

"Aku tahu." Christian terdengar kalah. "Tapi bertemu dengannya akhirnya membuatku memandang semuanya dengan jelas. Kau tahu...dengan anak. Untuk pertama kalinya aku merasa...apa yang sudah kami lakukan...merupakan kesalahan."

"Apa yang dia lakukan sayang...Anak-anak akan melakukan hal itu padamu. Mereka akan membuatmu melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda."

"Dia akhirnya mengerti maksudnya...dan begitu juga denganku...aku menyakiti Ana," Christian berbisik.

"Kita selalu menyakiti orang yang kita cintai, sayang. Kau harus mengatakan padanya bahwa kau merasa bersalah. Dan meyakininya dan memberinya waktu."

"Dia bilang dia akan meninggalkanku."

Tidak. Tidak. Tidak!

"Apa kau mempercayainya?"

"Awalnya, ya."

"Sayang, kau selalu mempercayai hal yang terburuk dari semua orang, termasuk dirimu sendiri. Kau selalu melakukannya. Ana sangat mencintaimu, dan jelas bahwa kau mencintainya."

"Dia marah padaku."

"Aku yakin dia pasti marah. Aku juga marah padamu sekarang. Kupikir kau akan bisa benar-benar marah pada seseorang yang benar-benar kau cintai."

"Aku memikirkan tentang itu, dan ia menunjukkan padaku berulang kali betapa ia mencintaiku...hingga ketitik dimana membahayakan dirinya sendiri."

"Ya, dia melakukannya, sayang."

"Oh, Mom, mengapa dia tak mau bangun?" Suara Christian pecah. "Aku hampir kehilangannya."

Christian! Ada suara isakan teredam. Tidak...

Oh...kegelapan hadir. Tidak—

"Butuh dua puluh empat tahun bagimu untuk membiarkanku memelukmu seperti ini..."

"Aku tahu, Mom...Aku senang kita bicara."

"Aku juga, sayang. Aku selalu disini. Aku tak percaya bahwa aku akan menjadi seorang nenek."

Nenek!

Kegelapan yang manis mulai menampakkan diri.

Hmm. Janggutnya menggores lembut di punggung tanganku ketika ia meremas jemariku.

"Oh, sayang, kumohon kembalilah padaku. Maafkan aku. Maafkan aku atas segalanya. Bangunlah. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu..."

Aku mencoba. Aku mencoba. Aku ingin melihatnya. Tapi tubuhku menentangku, dan aku tertidur sekali lagi.

Aku merasakan keinginan kuat untuk buang air kecil. Aku membuka mataku. Aku berada dalam lingkungan kamar di rumah sakit yang bersih dan steril. Ruangan ini gelap kecuali lampu tidur, dan semuanya hening. Kepalaku dan dadaku nyeri, tapi selain itu, kandung kemihku penuh. Aku harus buang air kecil. Aku mencoba anggota badanku. Lengan kananku merespon, dan aku menyadari IV yang terpasang di bagian dalam sikuku. Aku menutup mataku dengan cepat. Memutar kepalaku—aku bersyukur karena kepalaku merespon apa yang aku inginkan—aku membuka mataku lagi. Christian tertidur, duduk di sampingku dan bersandar pada tempat tidurku dengan kepalanya berada di atas lengannya yang terlipat. Aku meraihnya, bersyukur sekali lagi karena tubuhku merespon, dan menyapukan jemariku dirambutnya.

Dia terjaga dengan terkejut, mengangkat kepalanya dengan cepat sehingga tanganku terjatuh dengan lemah ke atas tempat tidur.

"Hai," suaraku parau.

"Oh, Ana." Suaranya tersedak dan lega. Dia menggenggam tanganku, meremasnya erat dan menaruh dipipinya yang kasar oleh janggut pendeknya.

"Aku perlu ke kamar mandi," aku berbisik.

Dia menganga kemudian membeku sesaat. "Okay."

Aku kesulitan duduk.

"Ana, tetaplah dalam posisi itu. Aku akan memanggil suster." Dia dengan cepat berdiri, siaga, dan meraih tombol peringatan di sisi tempat tidur.

"Kumohon," aku berbisik. Mengapa aku menyeri di sekujur tubuh? "Aku harus bangun." Astaga, aku merasa sangat lemah.

"Maukah kau melakukan seperti yang diperintahkan padamu sekali saja?" dia membentak, jengkel.

"Aku benar-benar harus buang air kecil," Aku bersuara serak. Tenggorokan dan mulutku sangat kering.

Seorang perawat masuk ke dalam kamar. Dia pasti berumur lima puluh tahunan, meskipun rambutnya sangat hitam. Ia mengenakan anting mutiara yang sangat besar.

"Mrs. Grey selamat datang kembali. Saya akan memberitahu Dr. Bartley bahwa anda sudah sadar." Ia bergerak ke arah tempat tidur. "Nama saya Nora. Apa anda tahu dimana anda berada?"

"Ya. Rumah sakit. Aku harus buang air kecil."

"Anda dipasangi kateter."

Apa? Oh ini menjijikkan. Aku melirik gelisah ke arah Christian kemudian kembali pada Suster itu.

"Kumohon. Aku ingin bangun."

"Mrs. Grey."

"Kumohon."

"Ana," Christian memperingatkan. Aku kesulitan duduk sekali lagi.

"Biarkan saya melepaskan kateter anda. Mr. Grey saya yakin Mrs. Grey ingin sedikit privasi." Dia menatap tajam ke arah Christian, mengusirnya.

"Aku tak akan pergi kemana-mana." Dia menantang suster itu.

"Christian, aku mohon," aku berbisik, merengkuh dan menyentuh tangannya. Sekejap ia meremas tanganku dan memberikanku tatapan kesal. "Kumohon," aku meminta.

"Baik!" dia membentak dan menyapukan tangan kerambutnya. "Kau punya waktu dua menit," dia mendesis pada suster, dan membungkuk untuk mencium keningku sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan.

Christian masuk kembali ke kamar dua menit setelahnya ketika Suster Nora sedang membantuku turun dari tempat tidur. Aku memakai pakaian rumah sakit yang tipis. Aku tak ingat ketika aku di telanjangi dan di pakaikan pakaian ini.

"Biarkan aku membantunya," katanya dan berjalan ke arah kami.

"Mr. Grey, saya bisa menangani hal ini." Suster Nora memperingatkannya.

Christian memberikannya tatapan mata marah. "Sialan, dia istriku. Aku yang akan membantunya." Dia berkata melalui sela giginya ketika ia menggeser IV yang menutupi jalannya.

"Mr. Grey!" dia memprotes.

Christian mengabaikannya, membungkuk, dan dengan lembut mengangkat tubuhku dari tempat tidur. Aku mengalungkan lenganku di lehernya, tubuhku protes. Astaga, aku merasa nyeri dimana-mana. Dia membaku ke kamar mandi mewah ketika Suster Nora mengikuti kami, mendorong tiang IV.

"Mrs. Grey, kau terlalu ringan," dia menggerutu tak setuju ketika menurunkanku dengan lembut ke atas kedua kakiku sendiri. Aku bergoyang lemah. Kakiku terasa seperyi Jelly. Christian menyalakan lampu, dan aku sekejap merasa buta akibat lampu neon yang berkedip dan mengerjap menyala.

"Duduk sebelum kau terjatuh," ia membentak, masih memegangiku.

Seketika, aku duduk di toilet.

"Pergilah," aku mencoba untuk mengusirnya.

"Tidak. Lakukan saja, Ana."

Bisakah ini menjadi lebih memalukan lagi? "Aku tidak bisa, tidak bisa selama kau disini."

"Kau bisa saja terjatuh."

"Mr. Grey!"

Kami berdua mengabaikan teriakan suster.

"Kumohon," aku meminta.

Dia mengangkan kedua tangannya sebagai tanda kekalahan. "Aku akan berdiri di luar, pintu terbuka." Ia mengambil beberapa langkah hingga akhirnya berdiri tepat di luar pintu dengan suster yang sedang marah.

"Berbaliklah, kumohon," kataku. Mengapa aku merasa malu luar biasa pada pria ini? Dia memutar matanya tapi memutuskan untuk menuruti kemauanku. Dan ketika tubuhnya berbalik...aku buang air kecil, dan menikmati kelegaannya.

Aku menginventarisir semua lukaku. Kepalaku sakit, dadaku nyeri di bagian mana Jack menendangku, dan pinggangku berdenyut di tempat ia mendorongku ke lantai. Di tambah lagi aku merasa haus dan lapar. Astaga, benar-benar lapar. Aku selesai, bersyukur bahwa aku tak perlu bangun untuk mencuci tangan, karena wastfelnya dekat. Aku tak memiliki tenaga untuk bangkit.

"Aku selesai," aku memanggil, mengeringkan tanganku dengan handuk.

Christian berbalik dan masuk ke dalam dan sebelum aku menyadarinya, aku sudah berada dalam rengkuhannya lagi. Aku merindukan tangan ini. Dia berhenti sejenak dan menanamkan hidungnya di rambutku.

"Oh, Aku merindukanmu, Mrs. Grey," dia berbisik, dan dengan Suster Nora mengikuti di belakangnya, ia meletakkanku kembali ke atas tempat tidur dan melepaskan tubuhku—dengan enggan, kurasa.

"Jika anda sudah selesai, Mr. Grey, saya ingin memeriksa keadaan Mrs. Grey sekarang." Suster Nora benar-benar marah.

Chirstian mundur. "Dia milikmu," katanya dengan nada yang lebih terukur.

Suster Nora mendengus padanya kemudian mengalihkan perhatiannya kembali padaku.

Bukankah dia menjengkelkan?

"Bagaimana perasaan anda?" dia bertanya padaku suaranya terbalut rasa simpati dan masih terdengar kesal, yang mana aku curiga hal itu demi kebaikan Christian.

"Sakit dan haus. Sangat haus," aku berbisik.

"Saya akan mengambilkan anda air setelah saya selesai memeriksa beberapa bagian vital anda dan Dr. Bartley sudah memeriksa anda."

Suster Nora mengambil alat pemeriksa tekanan darah dan memasangnya di bagian atas lenganku. Aku melirik gugup pada Christian. Dia terlihat mengerikan—bahkan terkesan mati—seperti halnya ia belum tidur selama beberapa hari. Rambutnya berantakan, dia belum bercukur dalam jangka waktu yang lumayan lama, dan kemejanya kusut. Aku memberengut.

"Bagaimana perasaanmu?" Mengabaikan suster, ia duduk di pinggir tempat tidur namun jauh dari jangkauan.

"Bingung. Nyeri. Lapar."

"Lapar?" Dia terkejut.

Aku mengangguk.

"Apa yang ingin kau makan?"

"Apapun. Sup."

"Mr. Grey, anda butuh persetujuan dokter sebelum Mrs. Grey bisa makan."

Christian menatap suster dingin selama beberapa saat kemudian mengambil BlackBerry dari kantong celananya dan menekan tombol.

"Ana ingin sup ayam...Bagus...Terima kasih." Christian memutus telepon.

Aku melirik pada Nora yang menatap tajam pada Christian.

"Taylor?" aku segera bertanya.

Christian mengangguk.

"Tekanan darah anda normal, Mrs. Grey. Saya akan memanggil dokter." Suster Nora melepaskan alat itu dan, tanpa basa basi, berjalan keluar ruangan, memancarkan ketidaksetujuan.

"Aku rasa kau membuat Suster Nora marah."

"Aku punya efek itu pada wanita." Dia menyeringai.

Aku tertawa, dan kemudian segera berhenti ketika rasa sakit terasa di dadaku. "Ya, kau memilikinya."

"Oh, Ana, aku senang mendengarmu tertawa."

Nora kembali dengan seteko air. Kami berdua terdiam, saling menatap satu sama lain ketika suster menuangkan air ke dalam gelas dan menyerahkannya padaku.

"Tegukan kecil sekarang," dia memperingatkan.

"Ya, ma'am," aku menggerutu dan mulai menyesap air dingin itu. Oh my. Rasanya sempurna. Aku menyesap lagi, dan Christian menatapku intens.

"Mia?" aku bertaya.

"Dia aman. Berkat dirimu."

"Mereka menculiknya?"

"Ya."

Semua kemarahan kurasakan karena sebuah alasan. Rasa lega menyusup ke dalam tubuhku. Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan dia baik-baik saja. Aku mengerutkan dahi.

"Bagaimana mereka bisa menculiknya?"

"Elizabeth Morgan," katanya singkat.

"Tidak!"

Dia mengangguk. "Wanita itu menjemput Mia di gym."

Aku membeku, masih tidak mengerti.

"Ana, aku akan menceritakan detilnya padamu nanti. Mia baik-baik saja, semua sudah teratasi. Dia di beri obat. Masih merasa pusing dan terguncang, tapi dengan sedikit keajaiban ia tak tersakiti." Rahang Christian mengencang. "Apa yang kau lakukan"—ia menyapukan tangan kerambutnya—"luar biasa berani dan luar biasa bodoh. Kau bisa saja terbunuh." Matanya menyala abu-abu suram dan dingin, dan aku tahu ia sedang menahan kemarahannya.

"Aku tak tahu harus melakukan apa lagi," aku berbisik.

"Kau bisa mengatakannya padaku!" dia berkata dengan sungguh-sungguh, mengepalkan tangannya di pangkuan.

"Dia bilang dia akan membunuhnya jika aku memberitahu siapapun. Aku tak bisa mengambil resiko."

Christian menutup matanya, ketakutan tergores diwajahnya.

"Aku sudah tersiksa sejak hari Kamis."

Kamis?

"Hari apa ini?"

"Ini sudah hampir hari Minggu," katanya, melirik jam tangannya. "Kau tak sadarkan diri lebih dari dua puluh empat jam."

Oh.

"Dan Jack dan Elizabeth?"

"Dalam tahanan polisi. Meskipun Hyde berada di sini di bawah pengawasan. Mereka harus mengambil peluru yang kau tembakkan padanya," Christian berkata dengan masam. "Aku tak tahu dia berada di bagian mana dari rumah sakit ini, untungnya, atau mungkin aku sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri." Wajahnya menjadi gelap.

Oh sial. Jack di sini.


"Itu untuk SIP kau wanita jalang!" aku memucat. Perut kosongku bergejolak, air mata membasahi mataku, dan rasa ngeri menggerayangi tubuhku.


"Hey." Christian maju, suaranya penuh dengan kekhawatiran. Mengambil gelas dari tanganku, dia dengan lembut membawaku ke dalam pelukannya. "Kau aman sekarang," dia menggumam dirambutku, suaranya serak.

"Christian, maafkan aku." Air mataku jatuh.

"Hush." Ia membelai rambutku, dan aku terisak dilehernya.

"Apa yang kukatakan. Aku tak akan pernah meninggalkanmu."

"Hush, sayang, aku tahu."

"Kau tahu?" pengakuannya menghentikan air mataku.

"Aku mencari tahu. Sejujurnya, Ana, apa yang kau pikirkan?" Nadanya tegas.

"Kau membuatku terkejut," aku menggerutu di krah kemejanya. "Ketika kita berbicara di bank. Berpikir bahwa aku meninggalkanmu. Kupikir kau mengenalku lebih baik dari itu. Aku sudah mengatakannya padamu berulang kali dan aku benar-benar tak akan meninggalkanmu."

"Tapi mengingat akan kelakuanku belakangan ini—" Suaranya tak terdengar jelas, dan lengannya mengencang ditubuhku. "Aku berpikir selama beberapa saat bahwa aku sudah kehilanganmu."

"Tidak, Chistian. Tidak akan. Aku tak ingin kau ikut campur, dan membahayakan nyawa Mia."

Dia mendesah, dan aku tak tahu apakah itu desahan marah, jengkel atau terluka.

"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Aku bertanya cepat untuk mengalihkannya dari pikiran buruknya.

Dia meletakkan rambut ke belakang telingaku. "Aku baru saja mendarat di Seattle ketika pihak bank menelepon. Terakhir aku dengar, kau sakit dan pulang ke rumah."

"Jadi kau di Portland ketika Sawyer menelponmu dari mobil?"

"Kami baru saja akan take off. Aku sangat khawatir akan dirimu," katanya lembut.

"Kau khawatir?"

Dia membeku. "Tentu saja aku khawatir." Dia mengusapkan jempol ke bibir bawahku. "Aku menghabiskan hidupku untuk mengkhawatirkanmu. Kau tahu itu."

Oh, Christian!

"Jack menelponku di kantor," aku menggumam. "Dia memberiku waktu dua jam untuk mengambil uangnya." Aku mengangkat bahu. "Aku harus pergi, dan itu sepertinya merupakan alasan terbaik."

Bibir Christian membentuk satu garis lurus yang kaku. "Dan kau membuat Sawyer lengah. Dia sama marahnya padamu."

"Sama marahnya?"

"Sama marahnya seperti diriku."

Aku langsung menyentuh wajahnya, melarikan jemariku dijanggutnya. Dia menutup mata, mendekat pada jemariku.

"Jangan marah padaku. Kumohon," aku berbisik.

"Aku sangat marah padamu. Apa yang kau lakukan sangatlah bodoh. Mendekati gila."

"Aku kan sudah bilang, aku tak tahu harus apa lagi."

"Kau sepertinya tidak khawatir akan keselamatan dirimu. Dan sekarang bukan hanya tentang dirimu saja," dia menambahkan dengan marah.

Bibirku bergetar. Dia memikirkan tentang Blip Kecil kami.

***

Penerjemah: +Helda Ayu
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

52 comments

Pertamax. Makasih mas admin :)

koment dl....

thanks helda n mas admin.

wue,, akhrx christian nerima bip kecil... Segala sesuatu selalu ada hikmahx :D
thanks mbak helda and mas mimin *lope*

Thanks semua, mas Yudi coba dimiring2in gitu kalimat pas Ana keingetan sama omongan Jack nya atau di kasih spasi lagi buat paragraf2 pendeknya biar reader lain ga bingung bacanya :)

fiuuuhh akhirnya ana sadar...n blip kecil g knp2...tks smuanya

Asiiiiik
Senangnyaaa
Semua baik2 sajah
Hihihihi

Bab favorit nih. Dari pertama dapet epubnya, baca bab ini selalu merinding..

°•♡·♥ τнäиκ чöü ♥·♡•° mas admin sdh posting :)

aaaaaaaakkkkkkkkkkk,,,, Abang Christiaaannnn *meleleh*
yeaaayyyy,,, mksh Heldaaaaa,,, akhrnyaaa Abang Christian muncul 'agk lamaan' dikit dbnding kmrn2.. yeayyy.. *loncat2*
mksh Helda n Mas Yudi....

Hahay..:D slamat dtg kmbali ana n blip.^^

Thx ms yudi n mb helda..^^

Oh .. Akhirnya ,,,,,.

Makasih mbak Helda n mas Yudi portalnovel :)

Blip.....blip...

bca dulu.. ,
ntar baru koment... ,

Tmbh seru critae... [τ̲̅н̲̅a̲̅и̲̅κ̲̅ ч̲̅o̲̅u̲̅] Ɣªª mbak mimin...n mas admin...

Tmbh seru critae... [τ̲̅н̲̅a̲̅и̲̅κ̲̅ ч̲̅o̲̅u̲̅] Ɣªª mbak mimin...n mas admin...

yeah,,,,
syukuraan dong om,
kan tante udah siuman.
hhohohoooh

trmaksh bngt bt mas admin n bak ayu, sukses terus!.

Dngn brt hti aku hrs sbr lg nunggu klnjutannya, tp keren bngt!

Akhir nya, merasa lega dengan bab yg ini

huaaaa,,,kuraangg..hehe
tks admin!!

Thank youu mbakk.. really hurtS and romantic

Makasih helda n mas admin

*cuma nambah info*

IV = singkatan dari "IntraVena", atau yg lebih populer kita kenal dg "infus".

Itu aja …
salam utk mas Yudi, all-TL-angels, dan dearest-readers …

@mutiara grey: saran diterima n udh aku update, thanks U. buat mas dwie sbnrnya aku jg mau ngedit gt tp biar singkat aja tls IV, makasih mas buat infonya.

Merinding dan terharu ampe nangis baca bab ini,, thanks bwt mas admin dan mbak helda :D

Hyaaaaaa....akhirnya Ana selamat. Itu luka'nya gak parah kan? -__-"

Huh, kayaknya Christian sudah mulai menerima kehadiran si Blip kecil deh. Semoga aja Christian bner2 mau nerima ana hamil ya. Selalu suka sm couple ini. Kalo marahannya cool, baikannya so sweet. Kyaaaa...pengen dipeluk jg sm christian *eeeh

Ditunggu kelanjutannya ya! (•ˆ⌣ˆ•)

makasih,,,makasih mas yudi dan helda...
g sbar nggu bab berikut'y..
^_^

"aku menghabiskan hidupku untuk mengkhawatirkanmu"-mr.grey.....uumm so sweet....

Can't wait for the next chapter

Wah...bab2nya udah tinggal dikit, jadi sedih mau pisah sama Mr and Mrs. Grey

Emang sih, klo urusan kamar mandi pasti butuh privasi, walau pun itu suami sdr.
#pelukMr.Grey
Tq helda n mas yudi...

terima kasih admin,, trus ini kapan post lanjutannya. dua hari lagi kah????? tolong mbak helda bantu jawab donk.. GAK SABAR.. terima kasihhhh

wow ana hebat nembak jack hyde yah ??akhirnya ... part2 yang mndbarkan tlah usai !!ksian mr grey klo ana msih koma ...
mksih mas yudi ..slalu mnunggu part slanjutnya !!!

lagi..lagi..lagi..

Aduh mw baca lanjutan'y nie..huwaaa..
Mbk helda,PN,mz yudi..

Muacihh yua

lagi..lagi..lagi..

Aduh mw baca lanjutan'y nie..huwaaa..
Mbk helda,PN,mz yudi..

Muacihh yua

lagi..lagi..lagi..

Aduh mw baca lanjutan'y nie..huwaaa..
Mbk helda,PN,mz yudi..

Muacihh yua

lagi..lagi..lagi..

Aduh mw baca lanjutan'y nie..huwaaa..
Mbk helda,PN,mz yudi..

Muacihh yua

lagi..lagi..lagi..

Aduh mw baca lanjutan'y nie..huwaaa..
Mbk helda,PN,mz yudi..

Muacihh yua

lagi..lagi..lagi..

Aduh mw baca lanjutan'y nie..huwaaa..
Mbk helda,PN,mz yudi..

Muacihh yua

lagi..lagi..lagi..

Aduh mw baca lanjutan'y nie..huwaaa..
Mbk helda,PN,mz yudi..

Muacihh yua

akhirnya ...blip kecil ada dihati christian.....lanjutannya kapan nich?

denger2 ini novel mau dibikin versi filmnya ya,,
kyaaa novelnya aja gini gmna filmanyaaa *tutupmata
blum cukup umur akuuu kwkwkwkkw
btw ditunggu lanjutannya g sabra nih hehe

mas ama mba admin thanks atas terjemahannya,btw ga sabar kelanjutannya kapan ya,mohon dengan segera.thanks

Ahhhhhg........ Rasanya lega baca bab ini,,,,, Mr. Grey rasanya aq jg ingin memilikimu *kedip-kedip mata*
#makasih ya mba, mas atas terjemahannya *senyumlebar*

Ahhhhhg........ Rasanya lega baca bab ini,,,,, Mr. Grey rasanya aq jg ingin memilikimu *kedip-kedip mata*
#makasih ya mba, mas atas terjemahannya *senyumlebar*

Ahhhhhg........ Rasanya lega baca bab ini,,,,, Mr. Grey rasanya aq jg ingin memilikimu *kedip-kedip mata*
#makasih ya mba, mas atas terjemahannya *senyumlebar*

Aah..akhirnya baikan juga..Ana cepet sembuh ya! Semoga kehamilannya lancar. Makasi banyak untuk penerjemah yg keren dan baik hati :-)

romantiiiiiiss...... >o<
Mr. Grey you're so gorgeous xxD
LOVE LOVE LOVE!!
makasiiii portalnovel mas yudi, admin" dan angel TL :* :* *cipok jauh*

Gasabar buat nanti mlm, jangan lupa buat ngepost bab selanjutnyaa yaa buat admin2 yg baik hati O:)

blip kecil mumumuaahhh :*

syukurlah ana baik-baik saja.. ^_^

sorry nih slama ini cuma jd silent reader... tp selalu membuka portal novel di setiap ada kesempatan..
thanks buat para penerjemah dan penulis jg... thanks buat semuanya... :)

oh my.. christian bener2 sosok suami idaman :)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top