26

bj-thumb
Benny mengendarai mobilnya dengan kecepatan sangat rendah. Sebentar-sebentar dia melihat ke arahku, menyentuh wajah piasku, menggenggam tanganku...

Tidak ada seorang pun dari kami berucap kata. Otakku kosong. Mataku hanya menatap ke arah depan, sayu.

Kau jaga slalu hatimu, saat jauh dariku

Tunggu aku kembali

Kumencintaimu slalu, menyayangimu sampai

Akhir menutup mata


Ketika sampai di rumah, Mama memandang aku dan Benny bergantian tidak percaya ketika aku utarakan kami akan berpisah baik-baik.

"Kalian sudah berpikir masak-masak? Kalian benar-benar tidak saling mencintai lagi??" mama bertanya heran, terkejut dengan keputusan yang aku ambil, karena aku tidak pernah bercerita tentang masalah rumah tanggaku dengan Benny selama ini.

"Saya mencintai Liana dengan sepenuh hati saya, Ma...kalau Liana meminta perpisahan ini, saya akan mengikuti kemauan Liana asalkan dia merasa bahagia…"

Aku tidak tahan lagi melihat Benny...dengan terisak aku lari ke kamar mama.

Ketika kudengar suara mobil Benny berlalu pergi, ada sepotong hati yang patah dalam diriku...yang meninggalkan luka bernanah...

Mama mendekatiku, mengelus-elus rambutku….

"Benny secara jujur menceritakan masalah kalian tadi ke mama Li…ini hidup kamu….pikirkanlah lagi apakah memang jalan ini yang kamu ingin tempuh…hati nggak bisa bohong Li…renungkanlah...lakukan apa yang membuatmu bahagia…"

Aku memeluk mama erat.

Raungan tangisku makin kencang, emosi yang kutahan-tahan selama ini, meledak liar!

Mama tidak mengeluarkan sekecap kata pun lagi, menghiburku dengan senyumannya, dengan usapan hangatnya, dengan keringkihan dadanya menahan kepalaku yang terisak lemah.

Aku tertidur dalam pelukan mama…

###

Aku terbangun, memutar mataku ke seluruh ruangan, menyadarkan diriku sendiri bahwa aku sudah tidak di rumah Benny lagi.

Ada sekelumit rasa, yang mengharapkan ini semua hanyalah mimpi...yang mengharapkan kesedihan dan kepedihan ini adalah fana….

Aku melirik koperku, wajah Benny terbayang lagi.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mencoba melupakan Benny dan kenangan lima tahun bersamanya. Kenangan yang sulit aku lupakan.

Aku buka lemari baju mama, ingin merapikan isi lemarinya agar aku bisa menyimpan baju-bajuku disana.

Ketika aku buka koperku, kotak beludru merah terjatuh dekat kakiku….

Aku terperanjat, mengambil kotak itu dan membukanya. Ada secarik kertas kecil tulisan tangan Benny.


LIANA, TOLONG HORMATI AKU UNTUK TERAKHIR KALINYA, SEMUA PERHIASAN INI ADALAH MILIKMU SEPENUHNYA. AKU NGGAK PUNYA MAKSUD APA-APA.

AKU AKAN KIRIM MOBIL  DAN SURAT RUMAH YANG ATAS NAMA KAMU.

SEMUA ITU BUKAN MILIKKU, TAPI SUDAH MENJADI MILIKMU SEJAK LAMA.

LIANA, KAMU TAHU KEMANA HARUS MENCARI AKU KALAU KAMU MEMBUTUHKAN AKU.

AKU MENCINTAI KAMU. SELAMANYA. BENNY.


Aku mendekap erat surat Benny itu, aku lipat rapi dan kusimpan kembali ke dalam kotak perhiasan. Benny...andai cerita akhir kita tidak seperti ini...

Benny pasti memasukkan kotak itu ke dalam koperku ketika aku pamitan ke orang tuanya, pikiranku menerawang.

Aku berusaha tidak menangis lagi. Setelah membereskan bajuku ke lemari, aku keluar kamar, menghampiri mama yang sedang mengerjakan rutinitasnya. Aku langsung membantu mama tanpa banyak bicara.

###

Sebulan aku seperti kehilangan jiwaku, Benny dengan rutin selalu mengirim pesan singkat ke handphone ku. Tetapi aku tidak mau memberi Benny harapan palsu, aku tidak pernah membalas pesannya ataupun menjawab panggilan telponnya. Aku benar-benar memastikan kami putus hubungan, ini akan lebih baik bagi kami berdua.

Namun ketika pesannya sudah tidak pernah kuterima lagi, hatiku merasa sakit juga...

Terakhir kali aku menelepon dia adalah ketika dia mengirimkan mobil dan surat rumah seperti yang dia pernah janjikan untukku, aku hanya mengucapkan terima kasih.

Hari ini akal sehatku bekerja dengan baik. Aku buka lagi pad ku yang sudah lama terbelangkalai. Ada 1 email dari Pak Imam, pemimpin redaksi tabloid Wisata.

Isi pesannya membuat aku merasa meraih lagi keping-keping hidupku yang hancur luluh lantak.

Dia menawari ku kontrak kerja lagi di tabloid Wisata!

Tanpa pikir panjang, aku membalas email dia  dan menerima tawarannya sebagai staff redaksi. Gajinya juga lumayan bagiku, bisa menghidupi kami sekeluarga.

Semangatku mulai terkumpul lagi, gairah hidupku mengalir perlahan namun pasti. Sosok positive thinkingku mulai keluar.

Walaupun aku hanya lulusan SMA, tapi aku punya bakat alam untuk menulis, dan punya kemampuan bahasa Inggris yang lumayan!

Mama tersenyum lega melihat aku bersenandung lagu riang seperti kebiasaanku sewaktu belum menikah. Aku ceritakan dengan antusias ke mama tentang pekerjaan baruku sebagai reporter.

Mama memelukku lagi, menciumi wajahku seperti aku baru saja pulang dari perjalanan yang panjang!

"Lakukan apapun yang menurut kamu adalah yang terbaik Liana. Mama sangat bahagia kamu sudah bisa bangkit lagi. Masa lalu adalah pelajaran agar kamu lebih kuat lagi menjalani kehidupan ini."

Aku mengangguk pada mama dengan perasaan senang.

Hal pertama yang aku lakukan setelah mendapatkan lagi kepositifanku adalah, meyakinkan mama untuk pindah ke rumah yang Benny sudah serahkan kepadaku.

Tidak mudah, namun dengan dalih jarak kantor tempatku bekerja nanti lebih dekat ke rumah baru, mama tidak bisa menolak lagi.

Aku melarang mama berjualan lagi, aku mengambil alih tugasnya sebagai kepala keluarga, termasuk membiayai kuliah kedua adikku. Sudah saatnya mama menikmati masa tuanya.

###

Kantor tabloid Wisata berada di lantai 7 suatu gedung di Casablanca. Dengan memakai setelan blazer abu-abu, rambut dikuncir satu, lipstick warna nude, aku masuk ke ruangan resepsionis. Memperkenalkan diriku dan menjelaskan bahwa ini hari pertamaku kerja disini.

"Ooo….mbak Liana ya? Pak Imam sudah menunggu mbak….mari masuk…nama saya Retno mbak…." Aku menjabat tangannya.

Memasuki ruang staff di balik pintu seperti memasuki planet lain, benar-benar asing bagiku. Ruang staff disekat kecil per meja. Suara printer dan mesin fax terdengar mendesis bersahut-sahutan.Teriakan suara wanita di telepon mengharmonisasikan irama bising yang ada. Suara pintu dibanting tidak mempengaruhi mereka. Bunyi dengungan kencang tiba-tiba terdengar, office boy menyalakan vacuum cleaner di sudut ruangan, tampak memaju mundurkan mesin itu dia atas karpet yang berwarna abu-abu….Suara tertawa cekikikan dari 2 orang cewek yang sedang mengaduk cangkir di tangan mereka menggambarkan suasana yang hangat.

Seorang laki-laki meniup-niup mi kuah yang ada di depannya, sementara matanya memandang ke selembar kertas di tangan kirinya…

"Kesini mbak…ini ruangan pak Imam." Retno menunjuk ke salah satu ruangan dan mengetuk pintunya.

"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam. Retno langsung membuka pintu dan kami berdua masuk.

Imam Wahyudi, pemimpin redaksi, laki-laki separuh baya dengan uban yang terlihat disana-sini, mengenakan kaos polo dan celana denim, bangkit berdiri dan menjabat tanganku.

"Well well well Liana, akhirnya kamu disini….setelah…hmmm...tiga tahun ya saya menunggu?" sebuah seyuman bijak terhias di wajahnya yang penuh keriput.

Aku tersipu malu, menerima jabat tangannya.

"Manusia bisa berubah, Pak Imam, kesadaran biasanya hadir belakangan…" jawabku merendah.

Pak Imam tertawa.

"Retno, apa meja yang saya instruksikan sudah disiapkan semuanya? Letakkan di dekat Bimo saja…saya akan bawa Liana berkeliling ke semua staff."

Retno mengangguk dan mengundurkan dirinya.

Pak Imam memulai office tournya.

Dimulai dengan seorang wanita berpenampilan rapi dengan kacamata minusnya, Ellen, sekretaris Redaksi. Aku menjabat tangannya dan membalas senyumannya.

Lalu Pak Imam menunjuk ruangan luas di depan ruangannya.

"Mereka semua staff redaksi, dibawah kepemimpinan saya. Empat meja berderet dekat jendela adalah redaktur pelaksana, dimana kamu akan berhubungan langsung dengannya, namanya Bimo. Disebelahnya bagian riset, lalu bagian artistik, dan bagian pracetak yang di pojok sendiri disana."

Aku melayangkan pandangan mengikuti penjelasan Pak Imam.

"Masing-masing memiliki staff tersendiri."

Satu per satu dia memperkenalkanku sebagai staff baru di bagian resporter ke semua orang tanpa terkecuali.

"Dilantai 8 atas, khusus untuk bagian usaha, jadi kalau kamu perlu berhubungan dengan bagian keuangan, pemasaran, sirkulasi ataupun personalia, kamu cari disana."

Aku mengangguk mengerti.

Kami berputar lagi sampai ke meja kepala divisiku, redaktur pelaksana yang bernama Bimo.

"Bimo, ini Liana, dia lah pembuat artikel-artikel lepas yang membuat readers kita ketagihan..."

Aku tertunduk malu mendengar sanjungannya.

Bimo, Bimo Setyadi nama lengkapnya, seorang pria jangkung, berkulit sawo matang, rambut ikal agak panjang, terbilang masih muda, 30 atau 31 tahun. Bajunya T-shirt putih dengan tulisan hitam, celana panjangnya berbahan denim biru tua. Semua karyawan disini berbusana kasual, Pak Imam membebaskan ekspresi semua bawahannya asalkan masih dalam tahap wajar dan sopan.

"Selamat datang Liana." Bimo berdiri menjabat tanganku. Senyumnya manis memperlihatkan gigi gingsul di taringnya.

"Baiklah, selamat bekerja Liana. Bimo, Liana duduk disini, tempat kita sudah terlalu sesak." Pak Imam menutup office tournya dan kembali ke ruangannya.

"Baik Pak." Bimo mengiyakan.

"Ternyata Liana si penulis misterius itu masih muda ya. Saya pikir sudah separuh baya, artikel yang kamu tulis selalu berbobot, tetapi sangat menyenangkan untuk dibaca." Bimo mengucapkan kalimatnya tanpa ekspresi apa apa di wajahnya, tapi gerakan tangannya gesit, mencari dan memasang sambungan listrik kabel komputer dan telepon di meja yang disediakan untukku.

"Apakah kamu sudah sanggup mulai langsung bekerja? O ya Liana, semua orang disini memanggil nama saya, Bimo, nggak usah pakai pak–pak an." 

Aku mengiyakan dan langsung duduk menghadap komputer di meja. Posisi mejaku sebenarnya agak aneh, dua meter di depan mejaku ada pintu salah satu ruangan yang terlihat kosong dan tidak ada keterangan nama ruangan di daun pintunya.

Sedikit menata ini itu di atas meja aku mulai berkonsentrasi dengan tugas pertama yang diserahkan Bimo.

Aku menyalakan pad ku, membuka internet untuk mengambil beberapa informasi pendukung.

Tak lama aku sudah tenggelam dalam pekerjaanku.

###

Bimo ternyata berotak encer, tidak salah kalau dalam usia yang relative muda, dia sudah menduduki posisi redaktur pelaksana di sini.

Ide-idenya cemerlang, dan mampu mengkoordinir perjalanan naskah dari para redaktur atau reporternya ke bagian layout hingga ke bagian percetakan, sekaligus menilai ataupun mengedit beberapa naskah dengan baik.

Hubungan dengan para staffnya juga terjalin dengan bagus.

Bimo menguasai bahasa Inggris juga, sangat mendukung apabila dia tiba-tiba harus keluar negeri untuk meliput berita, yang sering terjadi kalau sudah tidak ada reporter yang memiliki waktu untuk mengerjakannya.

Orangnya efisien, berbicara lugas, tegas, langsung tepat sasaran – straight to the point. Mata gelapnya yang tajam sudah banyak berbicara apabila dia ingin mengatakan ya atau tidak, setuju atau tidak, suka atau tidak.

Setiap kali Bimo melintas di depan mejaku, aku mencium bau rokok bercampur aroma maskulin parfum kopi di badannya.

Bibir hitamnya sudah menyatakan kesenangannya merokok, tidak heran dalam satu hari dia bisa bolak-balik ke tangga darurat hanya untuk merokok.

Menurut Ellen pada salah satu makan siang kami, Bimo terkenal sebagai High Quality Jomblo di gedung ini.

"Kamu sebenarnya sudah menikah belum sih Na?" Ellen bertanya penasaran.

"Sudah, tapi divorced." jawabku singkat. Aku elus jari manisku yang kosong, ada lekukan tipis bekas cincin kawin dari Benny. Aku memutuskan tidak memakai cincin itu lagi, yang hanya membuat hatiku terluka.

"Oh maaf ya Na, aku nggak bermaksud membuat kamu sedih." Ellen meminta maaf begitu melihat mataku tiba-tiba terlihat sendu.

"Ah, nggak apa-apa Len. Masa lalu."

"Sekarang lagi jalan sama yang baru?"

"Nggak. Belum kepikiran kesana. Aku pengen konsen di kerjaan dulu."

Aku harus berhati-hati sekarang untuk menjalin hubungan lagi. Aku tidak mau terperosok ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya!


Poskan Komentar

26 comments

Jgn2 si bimo BJnya si liana ni
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba kaye n mamas

Hmmmm si bimo. Baru muncul nih...

Ʊϑãђ posting sore2... Mksh mas yudi...

awalnya aku sangat yakin bahwa benny lah belahan jiwa liana. tapi setelah baca bab ini aku jadi ragu.. nanti aja ah kirim jawaban quiznya, mau cari titik terangnya dulu.. :)
makasih mamas dan mbak kaye..

Ttp harap liana bisa kembali lagi bersama benny...

Kasian benny, ak punya firasat liana bakal tidur atau jatuh cinta ama si bemo...mungkin pas scene di bangkok...mungkin gr2 maskulinitas si bemo...#mangkel ama liana
Ga rela euy...
Ak kok jd sebel ama si bemo+liana yak...

Masih sedih karna benny-liana pisah :(
Makasih mb kaye, mas yudi ;D

kayaknya mulai chap ini,,,
rasanya milih skip buat baca,,,,

bacanya entar aja,,,kalo ep 20 udah keluar,,,

Maaf banget buat author nya,,,#deepbow,,,

awal aq baca ini,,,aq berharap banyak ini bakal jadi sesuatu yang berbeda,,cinta yang beda,,,
cinta yang lahir gak hanya urusan sex,,,
tapi ada ketulusan memberi dan menerima kekurangan disana,,,

tapi kok liat chap ini,,,aq jadi terlalu takut buat baca,,,
takut kalo ternyata yang aq bayangin waktu baca ini pertama kali jadi berantakan,,,,

Setuju ama mbak erryta, ak jg ngerasanya kok ntar liana milih berdasarkan kemampuan sexnya...

sedih..liana ama benny benar2 pisah..kn kasian bennynya,,,liana jg pasti tersiksa..mudah2an bs baikan dan bersm lg..

Masih nangis,,,kepikiran Benny...kcian!!!

Kasian si Benny hiks...hiks...hiks... ;'(
Makasih M KY
Makasih Mas Yudi...

Aq lbih stuju liana balikan sm benny..

Bagi'q cuma benny seorang..
Huhuuhikzz..

sudah kuduga....pasti malam ini dan bimo hohoho....
makasih crew and mbak Ka-ye

jadi beneran liana pisah sm beny???ya ampuuunnn

sedih bngt...
makasihh mbk KY dan mas Yudi

yahhhhh cpa tuh bimo
kasihan bgt c benny..,,

Thankz mba KY n mas Yudi

sama skali ga kpikiran bakal bgini jalan critany. . . ruangan 2 meter didepan. . . hummmhh ruang siapa yah???

sama skali ga kpikiran bakal bgini jalan critany. . . ruangan 2 meter didepan. . . hummmhh ruang siapa yah???

Jd bingung aku..BJ NYA neng Liana sapa..?

Simak terus dech biar tau hehehe

makasih mbak KY n mas Yudi ... :)

Ahhhhh setuju sama erryta erry baca ini ngarep cinta gak hanya sex... kalo liana jadi sama Bimo gak rela... kayaknya benny udah paling pas buat BJnya Liana, ngarep yg dikantor kosong itu ruangan benny buat dia merhatiin Liana diem2 >.<

Tidak ada kah obt buat sembuhin benny?
Kasian bgt liat benny,
Tp kasian juga liana yg normal,pasti mengiginkan hubungan yg lebih baik lg

Masih berharap benny sama liana
Makasih mbak KY makasih PN
^_^

berharap banget benny sama liana.......
makasih mbak KY and makasih banyak mas yudi....love PN.

Masih melekat hubungan beni-liana.Pas tau ada orang baru bernama bimo,jadi takut ngelanjutin baca kalau ujungnya liana malah milih bimo.Gak relaaa!
Berharap mukjizat,smoga tiba2 DE nya beni sembuh total!

ihhhhhhhhhhhhhhh ,masa benny cerai ama liana ,ntar abang benny ama siapa

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top