26

bj-thumb
Hari ini aku bangun siang, kemarin dan semalam Bimo benar-benar ruarrr biasa! Menguras seluruh tenagaku hingga tak tersisa! Aku melirik ke samping, Bimo ternyata sudah terlebih dulu bangun. Aku berjinjit perlahan, membungkus tubuh telanjangku dengan selimut, mengintip dari pinggir pintu kamar yang terbuka.

Bimo sudah mandi, menyiapkan makanan di meja pantry, roti, selai, potongan daging, keju, mentega, dua cangkir susu coklat panas tertata rapi!

Bimo tampak santai sekali hari ini, celana canvas pendek warna krem dan kaos basket tanpa lengannya membuat penampilannya segar…Rambut ikal gondrongnya setengah basah...meninggalkan titik air di leher coklatnya...

Aku mengendap menghampiri dia dari belakang dan langsung memeluknya dengan satu tanganku, tanganku yang lain memastikan selimut penutupku tidak akan jatuh merosot.

Bimo tersenyum, tidak kaget, membelai tanganku dan menarik tubuhku kencang ke dalam pelukannya.

Bimo mencium bibirku mesra, kedua tanganku dipegangnya paksa, hingga selimutku jatuh ke lantai, menampakkan seluruh tubuh bugilku!

"Bimo!" aku menjerit minta tanganku dilepaskan. Bimo malah menarik pinggangku, menempelkan badanku erat di badannya…Tangannya sudah sibuk mengelus tubuhku dari tengkuk hingga paha telanjangku.

"Permohonanku dikabulkan, semalam aku memohon agar ini semua bukanlah mimpi Liana, aku memohon agar ketika aku terbangun, kamu masih ada di sisiku..." Bimo berbisik mesra...

Aku menengadah, melihat wajahnya yang penuh cinta, kuberikan Bimo kecupan dalam sebelum aku berlari ke kamar mandi...

###

Aku sedang membereskan barang-barangku ke dalam tas ransel kecilku ketika kudengar bel pintu berbunyi.

"Bimo, itu mungkin orang laundry, tolong bukakan dulu." aku berteriak kepada Bimo.

Bimo langsung ke pintu dan membuka pintu.

Seorang laki-laki.

Begitu aku keluar kamar, aku terperanjat!

Bimo dan Som bertemu! Mereka saling berhadapan, saling menatap dengan mata saling menilai dingin, masing-masing mengepalkan tangan...Hawa panas langsung terpancar dari mereka berdua.

Insting hewani penjantan mereka sedang bekerja!

Aku ternganga dan merinding, melihat mereka berdua yang terlihat seperti dua ekor harimau yang memperebutkan betinanya!

Aku mendekati mereka, Bimo menangkap lenganku cepat, menghentak badanku ke belakang tubuhnya. Seakan ingin menunjukkan kepada lawannya itu bahwa wanita yang sedang berdiri di belakang adalah perempuannya!

Aku mulai panik!

Mataku bertemu dengan mata Som sedetik.

Aku merasa sangat tegang, bibirku bergetar ingin menangis melihat mereka berdua...

Tiba-tiba Som tersenyum kepada Bimo.

"Hai, I am Som, from the laundry upstair. I just want to ask miss Liana whether she needs our service today."

Aku menatap Som kaget!

Som sedang menghindari konflik dan menghindarkanku dari masalah dengan Bimo! Aku pernah menunjukkan foto Bimo pada awal-awal perkenalanku dengan Som, dia menyadari laki-laki yang membuka pintu apartemen adalah Bimo, kekasihku...rivalnya!

Aku tidak sanggup berkata apapun.

"No, thank you. She will not need any services – forever. Thank you for the offering." Bimo mengangguk dan memberi senyum sekedarnya sebelum dia menutup pintu apartemenku...

Aku merasa lunglai tapi tanganku yang gemetar tetap dalam genggaman Bimo. Dia menarikku ke kamar.

Kami berdua terdiam, duduk berhadapan di kasur.

Mata Bimo bersinar tajam menembus mataku, garis mulutnya rata, tak ada senyuman sedikitpun.

Aku gelisah, belum pernah melihat Bimo seperti ini.

"Siapa dia?" tanyanya langsung.

Aku bingung.

"Dia..." aku ragu.

"Jangan bilang dia hanya tukang laundry Liana. Kamu pikir aku bisa dibohongi begitu saja?? Matanya melihat kamu seakan mau makan kamu mentah-mentah!" Bimo mulai berteriak kesal.

Aku memainkan tanganku gugup. Aku memang tidak pernah berbohong ke Bimo...sekarang aku benar-benar tidak tahu harus ngomong apa...

"Kamu ke Chiang Mai sama siapa??? DIA???" Bimo berteriak lebih kencang. Wajah Bimo merah padam, urat darah di pelipisnya menebal, tangannya terkepal keras di atas pahanya.

Aku terhenyak, kaget oleh emosinya!

Tidak ada jalan lain kecuali menceritakan yang sebenarnya...

Aku yakin wajahku pias saat ini.

"Namanya Somchair. Aku bertemu dia di minimarket seberang. Dia memang mengantar aku ke Chiang Mai...Dia pernah bilang mencintai aku...tapi aku sudah bilang kalau aku sudah memiliki kamu Bimo..." aku berusaha tenang, namun air mataku keluar juga.

"Kalian tidur dalam satu kamar di sana??" Bimo bertanya kesal.

Aku terisak.

"Iya...tapi kami pakai ranjang terpisah..." aku menjawab lemah.

"Kalian sudah tidur bersama??" Bimo bertanya dengan nada kering.

"Tidak. Aku bersumpah Bimo, aku hanya melakukan itu sama kamu...nggak pernah sama yang lain..." Aku menatap mata Bimo untuk meyakinkan.

Bimo mengetatkan rahangnya, matanya sudah merah...Dia langsung berdiri keluar kamar, mengambil rokoknya di meja, lalu keluar apartemen sambil membanting pintu!

Aku langsung merasa lemas, tangisanku makin mengencang...ini adalah pertengkaran pertamaku dengan Bimo. Aku tidak menyesali kemarahannya, karena aku menyadari, aku yang telah terlena untuk membuat kesalahan besar ini, bermain api...

Penyesalan memang selalu datang terlambat!

Lewat tengah hari Bimo belum pulang. Aku sudah tidak menangis lagi. Kedua mataku bengkak merah.

Lewat jam 3 sore, Bimo belum pulang juga, aku menangis lagi. Bimo sudah menghukumku dengan pas.

Jam 4 sore aku tertidur di meja pantry...air mataku masih menggenang di mataku ketika aku sudah pulas tertidur dalam kelelahan hati...

Aku terbangun ketika kurasakan ada yang menggoyangkan badanku...Aku merasa melayang...aku membuka mataku pelan...aku sedang digendong...Bimo!

Hatiku mengkerut tiba-tiba...

Bimo menidurkan badanku di kasur dengan lembut. Mataku dan mata Bimo bertemu. Aku tidak melihat sedikitpun kemarahan tertinggal di mata Bimo. Yang kulihat hanya rasa cintanya...

Bimo duduk di kasur di sampingku. Mengelus dahiku dengan tangannya...Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan sayang kekasihku...

"Maafkan aku tadi emosi Liana...aku terlalu cemburu...Seharusnya aku percaya kepadamu..." Bimo berbisik, diciuminya jemariku...

Aku langsung memeluk lehernya, terisak lagi di dadanya, terisak dalam kelegaan bahwa laki-lakiku sudah kembali!

"Aku minta maaf Bimo, aku nggak pakai otakku. Aku nggak mikirin bagaimana perasaan kamu...maafkan aku…" aku mencium dadanya dalam…menghafal aroma tubuhnya...

Bimo memelukku erat, menciumi seluruh kepalaku!

###

Ada satu hal yang Bimo belum pernah bercerita kepadaku, bahwa dia pernah tinggal di Bangkok selama dua tahun! Aku pikir hanya beberapa hari saja untuk suatu liputan.

Bimo bahkan masih bisa mengerti beberapa kalimat dan tulisan bahasa Thai!

Ketika Bimo keluar apartemen dalam kemarahan, ternyata dia ke rumah teman lamanya di Bangkok, sekalian mendinginkan hati dan kepalanya...

Saat ini aku dan Bimo berada di dalam angkutan umum, namanya Tuk-Tuk. Sebuah truk berukuran besar yang dialihfungsikan menjadi angkutan umum. Tempat duduknya sepanjang sisi bak terbukanya.

Bimo mengajakku ke sebuah tempat.

Mobil berhenti, Bimo turun terlebih dahulu. Lalu menahan tanganku agar aku tidak kehilangan keseimbangan pas turun dari injakan truk yang lumayan tinggi.

"Kemana kita Bim?" tanyaku.

"Lihat aja nanti." Bimo tersenyum, menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya.

Bimo membawaku ke sebuah pasar tradisional!

Aku menatap Bimo yang mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Bimo mengikat rambut gondrongnya asal, beberapa helai rambutnya berkibaran, jambang kumis dan janggutnya mulai terlihat tumbuh.

Aku memeluk lengan Bimo, menyandarkan kepalaku di lengan atasnya. Laki-lakiku memang tampan dan terlihat sangat macho!

"Banyak hal menarik di sini Liana. Lihat yang ini!" Bimo menunjuk sebuah meja, dari tempatku berdiri, aku melihat tumpukan sesuatu berwarna coklat dan hitam, dalam wadah besar.

Aku mengikuti langkah Bimo.

Ternyata yang kulihat bertumpuk-tumpuk tadi adalah hewan-hewan kecil yang sudah digoreng!

Aku bergidik!

Bimo tertawa, dia mendekati seorang penjual, mengambil sebuah-seekor-sebiji-whateverlah – belalang! Bimo memasukkan 'itu' ke mulutnya! Mengunyah pelan dan menyisakan sebatang-setangkai-sepotong-hihhh kaki belalang dan menyodorkannya padaku!

Aku melompat menghindar, Bimo tertawa. Aku cemberut, tanganku memberi kode agar Bimo membuang 'itu' dulu!

Aku merengut menghampiri Bimo yang akhirnya memakan kaki belalang itu dengan sadis!

"Kamu bisa tulis artikel tentang ini. Ambil saja beberapa foto." Bimo mengajariku.

Aku bidik dengan kameraku tumpukan itu satu persatu. Gorengan belalang, kalajengking, kumbang, jangkrik, ulat sutra, lebah, larva bambu!

Aku lihat Bimo mengambil kalajengking, diam-diam aku jepret Bimo berkali-kali, dari pertama dia mengambil kalajengking itu hingga kalajengking itu lenyap ditelannya!

Bimo mungkin akan marah dan memintaku menghapus gambarnya dari artikelku, tapi aku yakin seribu persen, Pak Imam akan memintaku mempertahankan gambar itu! Siapa yang tidak akan tergoda untuk membeli tabloid Wisata kalau cover depannya mempertontonkan seorang cowok macho tampan berasal dari Indonesia berani makan gorengan Kalajengking?

Aku tersenyum sendiri membayangkan kehebohan yang akan terjadi di kantor!

"Senyum-senyum sendirian di tengah-tengah pasar, dikira orgil baru tahu rasa…" Bimo menghampiriku. Mencium pipiku yang berkeringat.

Aku tersenyum lebar, lebar sekali! Bimo menatapku bingung.

Dari pasar tradisional, Bimo mengajakku ke sebuah restoran, restoran vegetarian ternyata.

"Sawaddi khrab…" Bimo menyapa penjaga restoran.

"Sawaddi khrab…" sahut penjaga itu.

"Chan thngkar ca sa ng sux slad dakml thud." Bimo mengatakan sesuatu kepada penjaga itu.

Belum sepuluh menit, seorang pelayan menghampiri mejaku, meletakkan sepiring...BUNGA! DIGORENG!  BUNGA GORENG!

Aku menatap Bimo.

Bimo terkekeh. Mengambil sekumtum dan mengunyahnya!

Dalam hati aku mengakui 'nyali' Bimo yang besar, sisi yang belum pernah aku lihat selama ini.

"Ini salad bunga goreng. Bunga segar digoreng dicampur dengan jagung manis, wortel, bawang merah, selada…"

Aku ikut mencoba makanan itu. Aneh, jadi ingat Suzanna yang suka makan melati...

Setelah jepret sana jepret sini kami pulang ke apartemen. Masih memakai Tuk-Tuk untuk pulang, Bimo turun di sebuah jalan.

"Kita jalan kaki sebentar...Kamu capek sayang?" tanya Bimo melihat aku sibuk mengelap keringat di wajahku.

Aku menggelengkan kepala, mengipasi leherku dengan tangan sembari mengangkat rambut panjangku dengan tangan satu lagi.

"Kamu nggak bawa karet rambut?" tanya Bimo.

"Lupa." jawabku singkat, menghemat energi.

Tiba-tiba Bimo menghentikan langkahnya, membuka ikatan rambut dia sendiri, membalik tubuhku hingga membelakanginya. Dengan cekatan Bimo mengepang rambutku menjadi satu dan mengikatnya dengan karet rambutnya!

Bimo terlihat tidak perduli dengan pandangan aneh warga sekitar yang lewat melintasi kami berdua.

"Nah, lebih adem kan?" kata Bimo.

Aku mengangguk. Tidak sampai lima menit, kami sampai ke sebuah rumah – warung lebih tepatnya. Beberapa orang duduk dan terlihat sedang makan.

Bimo mencarikanku meja kosong lalu dia ke tempat penjualnya, terlihat memesan sesuatu. Aku memandang kagum laki-lakiku...tampan...pintar...penuh tanggung jawab...sangat mencintaiku...dan begitu perkasa di ranjang! Wajahku terasa panas begitu mengingat Bimo sangat mampu memuaskanku berkali-kali...Sebersit ingatan melintas di kepalaku...aku harus bicara pada Bimo...

Bimo kembali ke meja dengan membawa 2 botol minuman seperti teh dengan perasa buah.

"Bim...ng…waktu kita begituan...kamu nggak pakai pengaman?"

Bimo menggelengkan kepalanya cuek.

"Kalau aku sampai hamil bagaimana? Aku juga nggak pernah minum pil KB, Bim..." aku mendesaknya.

"Itu yang aku harapkan Liana…aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku..." Bimo mengambil rokoknya dari saku. Menyelipkan sebatang ke bibirnya, namun begitu dia melihat wajahku lagi, dia membatalkan niat merokoknya.

Aku tersipu mendengar kata-katanya...

"Kalau kamu hamil, aku akan berhenti merokok Liana..." Sambung Bimo sembari menyimpan kembali rokoknya ke kantong celananya.

Seorang pelayan datang membawa pesanan Bimo.

Sepiring makanan seperti mangga yang diserut, dengan sedikit kuah yang terlihat seperti kuah asinan bogor.

"Ini namanya 'Som Tum' atau orang banyak juga menyebutnya Papaya Pokpok, Papaya Salad kata bule...cobalah!" Bimo menjelaskan.

Aku mengambil sesendok. Hmmmm ternyata benar, mirip asinan. Yang diris panjang tipis ini ternyata pepaya yang masih muda.

Tiba-tiba mataku melihat sesuatu diantara potongan pepaya itu...hah?? seperti kaki kepiting! Aku melirik Bimo.

Bimo terkekeh.

"Memang makanan ini dicampur semacam kepiting kecil, dalam keadaan mentah dihancurkan ke dalam Som Tum ini..." jelasnya.

Aku melongo. Mentah?? Oh....

Piring kedua berisi seperti gorengan bakwan…atau dadar telor...

"Ini bayam, diiris tipis, digoreng pake telor, dimakan sambel terasi ini..." Bimo memberi contoh, mengambil satu gorengan itu, dicolek ke sambel, lalu langsung dimasukkannya ke mulut.

Aku mengikuti Bimo...dan rasanya memang seperti dadar telor dan sambel terasi biasa...aku tersenyum, aku suka rasanya! Seperti di rumah...

###

Tiba di apartemen badanku sudah merasa sangat capek. Bimo menghampiriku yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Meletakkan bantal sofa di ujung, menuntun kepalaku berbaring di sana. Lalu dia mengangkat kedua kakiku lurus setelah melepaskan sepatuku.

Perlahan Bimo memijat kakiku...

Aku tersenyum, memandang penuh terima kasih kepadanya...

"Merasa lebih enak?" tanya Bimo, sambil menekan ujung-ujung jari kakiku dengan jari tangannya.

Aku mengangguk sambil memejamkan mataku. Aku merasa agak segar.

"Mau yang lebih enak?" Bimo bertanya lagi dengan nada 'miring'

Aku membuka mataku, melihat mata Bimo sudah menyala panas! Bibirnya menyunggingkan senyum mesum!

Oh laki-lakiku...

Aku langsung mendekap Bimo, duduk mengangkang di pangkuannya...

"Mandiin aku Bimo..." aku merayunya, aku gigit cuping telinganya, aku jilat seluruh permukaan telinganya…

Bimo memejamkan matanya. Lalu berdiri dengan aku masih di pelukannya! Aku dibawanya ke kamar mandi!

Satu persatu Bimo melepas semua bajuku dan bajunya hingga kami berdua telanjang polos.

Kejantanan Bimo sudah sedemikian siapnya...aku menatap malu...

Bimo mengambil shower, mengatur suhu agar hangat, membasahi sekujur tubuhku dan tubuhnya dengan air. Bimo mengambil sabun cair, menaruh beberapa di telapak tangannya, menggosoknya hingga berbusa dan mulai menyabuni seluruh bagian tubuhku! Telapak tangannya yang kasar, memberiku sensasi nyaman, ketika bertemu dengan kulitku.

Tangannya memutar dengan perlahan ketika sampai ke daerah dadaku...matanya sudah membara!

Aku sudah merasakan pangkalku mengejang...

Bimo menyelipkan tangan kirinya ke dalam diriku, seakan hendak memastikan aku sudah siap menyambut dirinya…

"Letakkan tanganmu di dinding ini Liana, mundurkan pantatmu, menungging..." Bimo memerintahku dengan suara serak.

Aku menempelkan kedua telapak tanganku ke tembok kamar mandi, membungkuk dan memundurkan pantatku ke arah Bimo. Kubuka kakiku agak lebar.

Bimo mendekatiku, nafasnya keras menderu. Dia mengelus bukit pantatku perlahan, naik ke arah punggung atasku. Aku mengerang...

Tangan Bimo meraih dadaku yang menggantung, memilin kedua puncakku dengan kedua jarinya.

Pinggulnya menempel di pantatku, aku merasakan kejantanannya di sana! Aku menggerakkan pinggulku pelan, memberi isyarat agar Bimo segera melakukannya!

Bimo menggeram! Memegang pantatku dengan kedua tangannya dan menyodokkan batangnya ke dalam diriku sekaligus! Dia melakukan gerakan maju mundur dengan perlahan, aku merasakan rasa nikmat yang sangat. Aku mendesah, ketika tangan kanan Bimo menemukan intiku, aku menjerit!

Aku memutar pinggulku dan mendorongkannya penuh ke arah Bimo. Bimo semakin mempercepat sodokannya!

"Bimo!" aku memanggil namanya kencang ketika aku mendapatkan kepuasanku!

Bimo menepuk pantatku dan semakin mendesakkan dirinya! Dalam beberapa detik Bimo menyusulku, mengeluarkan cairannya di dalam!

Bimo mencium punggung belakangku, menarik tubuhku berdiri, mendekapku erat...

###

Aku membaringkan kepalaku di paha Bimo. Bimo membelai rambutku yang masih setengah kering.

Aku tersenyum, jariku memainkan rambut pendek yang tumbuh di betis Bimo.

"Liana, aku sudah mengganti tanggal kepulanganku ke Indonesia. Aku akan pulang 3 hari lagi, bersama kamu…"

Aku mendongak, memandang tak percaya pada Bimo. Aku duduk di depannya, membelalakkan mataku.

"Sudah cukup artikelmu Liana…Besok minta Ellen membelikan tiket untukmu, pakai penerbangan yang sama seperti aku. Aku sudah bicarakan ini dengan Pak Imam." ujar Bimo tegas.

Oh Bimo-ku! Aku yakin dia hanya mau memastikan aku tidak akan pernah berhubungan dengan Som lagi...

Aku ingin membantah, tapi melihat matanya yang tajam, aku membatalkan niatku.

"Iya Bimo..." Aku menuruti kemauannya, bagaimanapun Bimo sudah menjadi bagian dalam kehidupanku. Apapun yang dia rencanakan, aku yakin itu yang terbaik bagi kami berdua.

Bimo memandangku, merengkuh kedua tanganku dalam genggamannya.

"MAUKAH KAMU MENIKAH DENGANKU LIANA?"

Aku terkejut! Hanya memandang Bimo tidak percaya! Bimo melamarku! M-E-L-A-M-A-R-KU!!!

Aku menatap matanya...penuh cinta, harapan, gelora...aku mengangguk perlahan...dengan menahan malu yang tiba-tiba menjalar di mukaku.

"Aku mau Bimo, aku mencintaimu…" bisikku pelan...

Bimo tersenyum lebar.

"Aku akan mengaturnya cepat Liana…Aku sangat mencintaimu..." Bimo mencium tanganku...mencium bibirku dengan penuh kemesraan...

Bimo-kah belahan jiwaku?

###

"Bimo, aku mau minta ijinmu..." aku mendekati Bimo yang sedang merokok di balkon.

"Kenapa Liana?" tanyanya.

"Ijinkan aku menemui Som untuk terakhir kalinya, hanya untuk berpamitan...Aku harus mengakui sedikit banyak dia sudah membantuku selama aku di sini Bim..."

Bimo mengerling tajam – masih mencemburui Som.

"Tentu saja kamu harus mendampingi aku Bim, aku nggak akan ketemu sendirian kok…" lanjutku buru-buru.

"Kapan?"

"Nanti sore…di Seven Eleven seberang sana."

Bimo hanya diam, tapi aku tahu dari bahasa tubuhnya dia mau.

Jam empat sore aku sudah melihat Som. Wajahnya kuyu, sangat berbeda dengan yang terakhir aku lihat di apartemenku.

Bimo menggenggam tanganku erat.

"Bimo, satu menit, kasih aku sedikit privacy...please..." kataku. Bimo melepaskan genggamannya.

Aku menghampiri Som yang sedang berdiri dengan kedua tangan tersembunyi di kantong celananya.

Som  menyambutku, tersenyum tulus...seperti Benny

"Liana..." Som tercekat.

"Som...I am sorry…to make you upset...I will go back to Indonesia tomorrow with Bimo...I just want to say thank you for everything..." Aku tergagap memberitahu Som tentang kepulanganku ke Indonesia besok. Aku merasa sedih melihat Som yang biasanya penuh percaya diri, kini terlihat tidak bersemangat.

"Liana...any..."  Som menghela nafas panjang. "Never mind..." desahnya pelan. Som membatalkan – apapun – yang barusan hendak diucapkannya.

"I pray for your happiness Liana...you know my feeling about you..." Som berusaha tersenyum.

Aku mengangguk dan memberinya senyuman terakhirku.

"Goodbye Som.."

"Goodbye Liana…"

Aku bergegas menghampiri Bimo, aku mengerjapkan mataku, agar air mataku tidak terjatuh...

"Sudah?" Bimo bertanya. Aku mengangguk.

"Tunggu di sini, aku mau ngomong sesuatu sama dia." Bimo bergegas mendekati Som. Aku terperanjat kaget.

Tampak Bimo menatap wajah Som, berkata dengan tenang kepada Som.

"Just keep that thing inside your pocket for other girl. Stay away from Liana. She is mine."

Wajah Som memerah, jari tangannya yang sedari tadi di dalam kantong sibuk memutar-mutar cincin berlian untuk melamar Liana, tiba-tiba berhenti.

Som bingung bagaimana Bimo bisa tahu yang dia pegang di dalam kantongnya adalah untuk Liana?

Bimo membalikkan badan menjauhi Som, dan tersenyum puas kepadaku!

Laki-lakiku...


Poskan Komentar

26 comments

Kasihan sekali kau som *puk puk*

Hahahaha
Aiish
Bimo ini jantan sekali huahahaha
*pukpuk som*
Makasih mas yudi,mb kaye :D

Wow...Bimo, tapi kok tambah bingung aq, Benny mana?

mmm ntah knp pengen liana ini ga bs hamil jadi bs ngerasain spt benny *berpikir jahat*

btw kasian som pdhl romantissssss bgt...

bentar lagi pulang ke indonesia kynya giring nidji bkl jadi the next target...hhaahahaaaahhahha

Kira2 kalo si bemo kehilangan "kemampuannya" bakal ditinggalin kaya benny ga ya...

Wah mw nikah?

Ga ada yg ama liana hrsnya :d

Msh blom yakin klo bimo belahan jiwa liana....
Msh penasaran sm benny dan bos liana yg ganteng.
Thks mas yudi

hmmm kayaknya sibimo belahan jiwanya liana taappiii perjalanan hidupnya liana masih panjang deh soalnya bab ceritanya masih banyak.. thanks mbak KY n mas mimin..

Aku lama2 ilfil sama Liana (no offense). Dia nggak sepositif yg dulu di mataku. Dan gaya berhubungannya Liana ama Bimo bebas bgt. Yaa ini emang novel erotis sih jd harus ada ya tiap bab hehe tapi kasusnya soal belahan jiwa jadi nggak ikhlas aja kalo Liana nyari belahan jiwa kayak nyoba2 barang. Maaf kalo kata2ku ga baik ya. Hanya meluapkan kekecewaan hehe.
Tapi aku terus menanti ending yg bahagia :):) Makasih Mbak KY & Mas Yudi

Waah cewek petualang.....

Ksian skali dirimu som..
Bimo kejam bgt! Ckckck
Slama janur kuning blm mlengkung, msih ad ksempatan bwt prebutin Liana!

Kalo gt som buat aku sajah lah kan d tolak liana.hehehe *ngayal*

beny ajaaa!! kangen beni.huhu.

Kayaknya sih BJ nya Liana nih si Benny..
Abis nikah, something happen sama Bimo si perkasa.. Trus Ktmu giring panci.. Nyambung juga sama panci yg mirip joe taslim (mirip joe taslim? Siapa yg nolaakk?? :D).. Tp tetep hatinya ga tenang.. Masih terselip Benny dlm hati Liana.. Dan pas akhirnya ktmu Benny, Benny dah sembuh dan ruaarrr biasa..

✗ί✗ί✗ί✗ί ngarang sendiri :D
°•♡·♥ τнäиκ чöü ♥·♡•° mbak KY, mas Yud..

hihihi.. @hyda, aku juga mau ikutan ngarang ah..

setelah pulang dari bangkok liana terjerat pesona giring dan berakhir di ranjang. setelah kejadian itu liana hamil. awalnya bimo senang dengan kehamilan liana dan mempercepat pernikahan mereka sampai suatu ketika bimo tahu bahwa liana pernah tidur dengan bos mereka. merasa tidak yakin bahwa ia ayah dari anak yang dikandung liana. bimo pun meninggalkan liana begitu saja. liana stres berat dan karena suatu kecelakaan liana keguguran dan dinyatakan tidak bisa punya anak lagi. liana sadar akan karma nya dan kembali pada benny yang dengan tulus menerimannya kembali. **END**

ahag.. hagg.. hagg.. :D
senangnya bisa bebas berimajinasi..

@ Mel & Hyda..ajjib karangannya,,
Smga drestui ma mbak Kaye garis besarny,,hehehehe

Nii si Li ntar jadiny sama sapa mbak KaYe???
Eyke jd pusing mikirinnya,,hehehe..
Makasiih mas Yudii...

moga liana gak bsa hamil.... bwr dy tw rasa gmn jd beni... ksian beni....bner2 dlupakn ma liana... trms mas yudi n mbak ky

Ah... Liana fhoto Bimo jgn dmasukkn di artikel dong... Kn ktahuan klo Bimo bohong pulang kampung pdhal nyusul kBangkok.. Heheh. Bimo cepetan nikah sma Liana ntar drebut pa Giring lgi lho ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Ky dn mas Yudi.

Kyaaaa...smua menghakimi liana,guys..smua orang pnya hak bwt bahagia,so..doain aja deh endingnya smua nemuin kebahagiaannya,\(ˆ▽ˆ)/ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮

Walah ketawa ngakak baca komen Mellisa n Hyda ... Wkwkwkkk

kasian Liana ini di benci sama para readers hehehe ... Padahal di dunia nyata ini Udah lumrah toh klo nikah suami juga berpikiran si Liana Udah janda ... Janda kembang lagi. Klo Udah pernah cerai dalam perkawinan jarang sekali orang mau menikah lagi, trauma bgt pasti , kebanyakan mereka hanya hidup bersama ,TP klo ketemu YG bnr2 baik maka diterima dech.

makasih mbak KY mas Yudi :)

aq sebellll sama liana........ gak suka karakter bimo !!!! kenapa diterima >.< Benny... benny,, benny *masih ngarep benny jadi BJ* i hope Giring next enemy bimo & Bimo KO lawan Giring *senyum Evil*

Ternyata bukan cuma aq yang gak suka liana yeaaahhhhhh *joge-joged*

dari kasian salut kecewa sampe sebel ama liana...

Lagi liana kenapa milih Bimo, dari sifatnya aja argggg udah sebel bgt dehhh >.< ... BENNY BENNY BENNY i miss him :( The Next Enemy pak giring moga2 menang lawan Bimo :)

Ohh,, kasian som, yang tabah ♡≈Ўªãª≈♡,,

Pukpuk Som (˘̩̩̩ . ˘̩̩̩ )\('́⌣'̀ ) - belum sempet icep2 Liana sdh layu sblm berkembang....
Poor brondong ;P

Tetap menanti si kuda hitam....
Yiiihaaaaaa....

Kalem, girls....
Don't take it too serious lah....
Real life emang gitu, don't be too naïve....
Just enjoy the story....
Apapun pilihan Liana, minumnya tetep teh botor SOSOR !!!
YEAH....
┐('⌣'┐) (┌'⌣')┌

A...ha..ha... Ikut ngakak baca komen" para readersnya...
Jd inget VE saking gemes pd ngarang sendiri"
Ni cerita paling antik masa pemeran utamanya g ad yg suka..

Berhubung ceritanya msh panjuang dan luama Aku nampung cowo" bekas liana aj deh buat d lelang sama yg mau d pakein cincin kawin

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top