39
uh-thumb
“Lihat, Alfred menggila, dia memasak begitu banyak kue untuk sarapan.” Rafael mengoleskan mentega lembut ke permukaan muffin panas, membuatnya meleleh dan berkilauan dengan aroma manis yang harum ke seluruh penjuru dapur.

Alfred yang sedang mengaduk sesuatu di dalam panci  hanya tersenyum mencela dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Mereka sarapan di dapur yang menghadap ke timur, tempat sinar matahari pagi langsung masuk dan menghangatkan mereka. Menu sarapan mereka luar biasa. Muffin madu, biskuit kacang dan kelapa, telur orak-arik yang rasanya fantastis dan satu loyang besar pie apel hangat yang baru dikeluarkan dari oven. Memang benar kata Rafael, Alfted menggila dalam memasak. Sepertinya dia terlalu senang karena tuannya datang, dan akhirnya ada yang bisa dia buatkan masakan istimewa.
Pagi ini seindah pagi-pagi yang lain. Elena sampai tidak sadar bahwa mereka sudah melewatkan beberapa hari di pulau indah ini. Berbulan madu, begitu kata orang-orang. Dan memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar bersenang-senang sepanjang hari, makan, mengobrol, membaca, bercanda, dan bercinta dengan begitu panas di malam harinya.
Pipi Elena memerah, mengingat malam-malam panas mereka. Rafael benar-benar lelaki yang sangat bergairah. Di pagi hari, saat mereka sudah bercinta semalaman, lelaki itu masih bangun dengan kejantanan mengeras dan mereka bercinta lagi. Seperti kata Rafael kepadanya dulu, lelaki itu memang selalu bergairah kepadanya.
“Alfred tampaknya sedang memasak besar hari ini.” Elena berbisik pelan sambil melirik ke arah Alfred yang tampak sibuk.

Rafael tersenyum simpul, “Memang, aku memintanya untuk menyiapkan makanan kita untuk seharian.”

“Seharian?” Elena mengernyit. Alfred biasanya selalu ada setiap saat di rumah ini. Begitu juga dengan para pelayan lainnya. Mereka selalu ada untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan mereka, setiap saat.

“Aku meliburkan semua pelayan mulai nanti siang sampai besok pagi mereka baru kembali. Alfred juga. Karena itu Alfred memasakkan kita makan siang dan makan malam untuk dihangatkan nanti malam.”

“Kenapa kau meliburkan semua pelayan?”

Rafael tersenyum nakal, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Elena dan berbisik menggoda, “Karena aku ingin hari ini kita di rumah seharian, hanya berdua.”

PIpi Elena memerah. Apa sebenarnya yang direncanakan oleh Rafael?

***

Rumah benar-benar benar sepi ketika para pelayan tidak ada di rumah, biasanya setiap saat Elena akan berpapasan dengan para pelayan yang lalu lalang mengerjakan sesuatu di rumah ini. Sekarang suasana hening, tidak ada suara percakapan di lorong, kesibukan di dapur maupun suara langkah kaki orang-orang yang lewat.
Elena dan Rafael menghabiskan hari itu dengan di perpustakaan. Rafael mengatakan akan menyelesaikan beberapa perkerjaan sedangkan Elena memilih untuk membaca. Perpustakaan di rumah pantai itu cukup lengkap, dengan berbagai bacaan ringan di sana, koleksi milik ayah Rafael. Sepertinya ayah Rafael benar-benar berniat untuk bersantai ketika mengisi buku-buku untuk perpustakaan ini.
Tanpa sadar hari sudah siang ketika Rafael mengangkat kepalanya dan bergumam, mengalihkan Elena dari bacaannya yang menarik.
“Aku lapar.”
Elena menutup bukunya dan tersenyum lembut, “Aku akan menyiapkan makanan.”
Alfred telah menyiapkan semuanya dan memberitahu Elena cara menghangatkan makanannya. Elena mencampur salad dengan udang dan saus alpukat yang telah disediakan oleh Alfred, lalu menghangatkan daging saus manis yang sudah disiapkan Alfred di panci.
Ketika Elena sedang menuang kotak-kotak es batu ke dalam pitcher berisi es teh manis. Rafael datang ke dapur dan tersenyum. Dia mengendus ruangan dan mendekati Elena dengan menggoda,
“Aku bisa memperkerjakanmu sebagai koki pribadiku. Baunya harum, seharum masakan Alfred.”
Elena tertawa, “Alfred memang yang memasak semuanya, aku hanya mempersiapkannya.” Dengan cekatan dia mengaduk saus manis untuk daging di panci.
Rafael mendekat dan memeluknya dari belakang dengan mesra. Mengecup Elena dengan menggoda.
“Hentikan Rafael Alexander. Atau kau akan terciprat kuah yang sedang mendidih ini.” Elena mengingatkan Rafael, tetapi tidak ada penolakan dari tubuhnya. Rafael melingkarkan lengannya makin erat, jamarinya bergerak menggoda, mengusap puncak payudara Elena sambil lalu. Membuat Elena mengerang, Kuah itu telah mendidih, dan Elena mematikannya.
Rafael mengajak Elena mundur dari kompor, masih memeluknya, dia bersandar di meja dapur dan membawa Elena yang masih di peluknya dari belakang. “Kita bisa telanjang seharian di rumah, karena tidak ada orang lain di sini.:”
“Rafael!” Elena berseru dengan pipi memerah malu, membuat Rafael tertawa dan mengecupi  leher Elena penuh gairah.
“Atau kita bisa bercinta di atas meja dapur.” Rafael setengah menggigit leher Elena, meninggalkan bekas kecil kemerahan di sana. Seperti pejantan yang menandai betinanya. Jemarinya meraba lembut payudara Elena dan  meremasnya dari belakang. “Bagaimana menurutmu?”
“Jadi ini yang ada di benakmu ketika meliburkan semua pelayan?” Elena berbisik lirih, untuk kemudian membiarkan bibirnya dilumat oleh Rafael dengan penuh gairah.  Lelaki itu duduk di atas meja dapur, lalu mendongakkan kepala Elena ke belakang, dia lalu menunduk ke atas Elena dan melumat bibirnya, dengan cara terbalik. Menciptakan sensasi yang berbeda. Membuat dia bisa mencecap, dan merasakan bibir Elena dengan cara yang lebih sensual.
Tubuh Elena melemas akibat ciuman itu sehingga Rafael harus menopangnya, dia bersandar sepenuhnya di tubuh Rafael, dan merasakan kejantanan Rafael mulai mengeras, menekan tubuh belakangnya.  Dengan lembut, Rafael kemudian membalikkan tubuh Elena dan beranjak turun dari meja dapur. Dia mengangkat tubuh Elena hingga terduduk di atas meja dapur itu. Dikecupnya dahi Elena lembut, hidungnya, pipinya dan kemudian kembali ke bibirnya lagi. Setiap kecupan Rafael membuat tubuh Elena panas membara. Lelaki itu lalu membuka kemeja Elena dan menurunkannya, payudara Elena yang tidak terlindungi bra – karena Rafael melarangnya mengenakannya setelah para pelayan pergi tadi – terpampang indah di depan Rafael.
Lelaki itu memuja payudaranya. Mengelusnya lembut, mengusap ujung putingnya dengan penuh gairah hingga mengeras dan siap di tangannya. Lalu setelah puting itu memenuhi keinginannya, Rafael mengecupnya lembut, dan menjilatnya dengan menggoda. Membuat Elena mengerang, merindukan hisapan Rafael di putingnya yang membuatnya melayang. Lelaki itu tidak membuat Elena menunggu lama, disesapnya payudara Elena dengan penuh pemujaan, membuat tubuh Elena lemas dan terbaring di atas meja dapur itu, dengan kaki menjuntai ke bawah.
Posisi Rafael sangat pas, karena tubuhnya tinggi, meja dapur itu pas setinggi pinggangnya. Dan sekarang dihadapannya, isterinya terbaring dengan kaki menjuntai ke bawah, pahanya terbuka, siap menerimanya. Rafael menurunkan celana dalam Elena, dan membukanya. Lalu dengan penuh gairah, tanpa peringatan apapun, karena Rafael tahu Elena sudah sangat siap untuknya. Rafael segera melepaskan celananya dan menyatukan tubuhnya ke dalam kelembutan yang panas dan basah, yang sudah siap untuk menerimanya.
Kaki Elena langsung melingkar di pinggang Rafael. Kemudian, ketika gerakan Rafael makin cepat dan bergairah, dia berdiri dan menumpukan tangannya di tepi meja dapur, membuat Elena terbaring di sana penuh gairah, menerima desakan-desakan Rafael jauh di dalam tubuhnya yang menimbulkan gelenyar panas tak tertahankan. Rafael lalu mengangkat kaki Elena yang semula melingkari pinggangnya dan mengangkatnya ke pundaknya. Posisi itu membuatnya semakin mudah bergerak, menemukan titik-titik kenikmatan Elena yang ada jauh di dalam kelembutan kewanitaannya, dan membawa Elena langsung ke puncaknya.
“Kau sungguh nikmat Elena...” Rafael berucap di antara napasnya yang memburu, “Apakah aku nikmat untukmu Elena?”
Elena mencoba menjawab. Tetapi sensasi itu sungguh menguasai tubuhnya, membuatnya semakin tersengal dan larut dalam kenikmatannya.
“Jawab aku Elena....” Rafael tak mau menyerah, “Apakah aku nikmat untukmu?”
Elena mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Rafael yang membungkuk di dekatnya, “Kau... sangat....” suaranya tertelan oleh napas memburu dan erangan tertahan karena dorongan Rafael yang bergairah, susah payah dia mencoba berkata, “Kau.... sangat nikmat... untukku...”
Rafael menatap Elena dengan rasa memiliki yang dalam, “Kalau begitu, mari kita saling menikmati.” Gerakannya menjadi semakin cepat, semakin bergairah, semakin tak tertahankan, “Ayo Elena, nikmati aku... puaskan dirimu...” Rafael berbisik parau, membimbing Elena ke dalam pusaran gairah. Sehingga dia mencapai puncaknya dengan begitu cepat. Mencengkeram Rafael dalam kenikmatan orgasmenya, dan merasakan lelaki itu orgasme bersamanya, di dalamnya.

***
“Tadi sungguh luar biasa.” Rafael tersenyum sambil menyuapkan suapan terakhir makan siangnya ke mulutnya.
Mereka akhirnya makan siang menjelang sore, karena Rafael memutuskan mereka harus melanjutkan beberapa lagi sesi bercinta di dapur sebelum makan. Lelaki itu sungguh memiliki fantasi yang gila dalam bercinta. Pipi Elena memerah mendengar godaan Rafael. Lelaki ini sudah berhasil mengubahnya dari perempuan pemalu yang tidak tahu apa-apa, menjadi perempuan sensual yang selalu merespon setiap rangsangan yang diberikan Rafael dengan luar biasa.
Tetapi Elena menikmatinya. Dia sangat beruntung. Ada pasangan-pasangan yang tidak diberkahi kenikmatan di atas tempat tidur. Dan Elena diberkahi suami yang luar biasa nikmat di atas tempat tidur. Rafael selalu memuaskan Elena, menunggu Elena siap menerimanya, dan mengantarkan Elena sampai ke titik terdekat orgasmenya sebelum kemudian mencapai orgasmenya sendiri.
“Ya Rafael. Tadi memang luar biasa.” Elena akhirnya mengakuinya kepada Rafael, membuat Rafael tersenyum bahagia.
Selesai makan, Rafael mengajak Elena berjalan-jalan ke pantai pribadi mereka. Malam sudah menjelang dan lelaki itu memakaikan salah satu jaketnya pada Elena, membuat Elena memakai jaket yang kebesaran di tubuhnya. Tetapi Elena berterimakasih kepada Rafael karena melakukannya. Udara malam cukup dingin malam ini.
Langit yang gelap memayungi mereka, bertaburan bintang berkelap-kelip yang indah. Rafael mengajak Elena berdiri di tepi pantai dan menatap ombak,
“Aku dulu bukan orang yang baik, aku menyakiti banyak orang dan membuat mereka kecewa.” Rafael bergumam pelan, tatapannya menerawang jauh, “Tetapi kemudian ada sebuah peristiwa yang menghantamku. Dan membuat aku berbalik arah.”
Peristiwa apa? Elena mengernyit dan menatap Rafael, ingin bertanya. Tetapi lelaki itu berdiri di sebelahnya dengan tatapan menerawang, seolah sedang larut ke dalam masa lalunya, sehingga Elena kembali diam, menatap laut dan mendengarkan.
“Aku berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi lebih baik. Dan aku benar-benar sudah menjadi baik ketika aku bertemu kau.” Rafael menghela tubuh Elena ke arahnya, dan mereka berhadap-hadapan, “Sejak aku mencintaimu.”
Dipeluknya Elena erat-erat. Beberapa hari ini dia sangat bahagia, Tertawa bersama Elena, menghabiskan setiap menit bersama perempuan itu, dan tidak pernah merasa bosan. Kebahagiaan itu menyelipkan seberkas rasa takut di benak Rafael, setiap dia menatap Elena yang tersenyum kepadanya, tanpa dapat ditahannya pertanyaan-pertanyaan selalu muncul di benaknya, Bagaimana kalau Elena tahu kenyataan yang sebenarnya? Apakah Elena mau tersenyum lagi kepadanya? Apakah Elena akan meninggalkannya?
Rafael takut menghadapi itu semua. Membayangkan kalau Elena pada akhirnya mengetahui semua itu secara tidak sengaja. Mungkin Elena melihat berita di masa lalu, atau bertemu dengan orang di masa lalu yang kebetulan tahu tentang kecelakaan itu dan masih mengingat Rafael, atau banyak kejadian lainnya yang bisa membuat Elena tahu. Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Rafael sangat ingin menahan Elena di pulau ini. Jauh dari kehidupan luar, berbahagia di dalam surga mereka sendiri tanpa ada gangguan dari pihak manapun.
Tetapi tentu saja itu tidak mungkin. Mereka mau tidak mau harus kembali ke dunia nyata. Dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Rafael harus bersiap menghadapi yang terburuk setiap saat. Apakah Elena akan menuduhnya sebagai pembohong besar? Membangun pernikahan mereka di atas sebuah kebohongan?
Apakah dia harus memberitahu Elena sekarang? Tidak. Ini bukan saat yang tepat. Mereka begitu berbahagia sekarang. Saat-saat ini terlalu berharga untuk dinodai oleh kebencian di masa lalu.

Rafael menelan ludahnya dan mengangkat dagu Elena, agar menatapnya,
“Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, apapun yang akan terjadi nanti.”
Lelaki itu tampak bingung. Elena membatin. Kenapa Rafael tampak begitu bingung? Apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam hati lelaki itu?
“Berjanjilah Elena.” Suara Rafael mendesak, dipenuhi oleh kebutuhan.
Elena menyentuhkan jemarinya dengan lembut di alis Rafael yang berkerut, mencoba menenangkan suaminya,
“Aku berjanji Rafael.”
Suaminya mendesah lega, dan memeluknya era-erat. Mereka berpelukan diiringi deburan ombak dan taburan bintang.

***
“Kau harus mengatakan kepadaku.” Lagi-lagi Edo menghalangi jalan Alice di lobi apartemennya.
Alice menatap Edo dengan jengkel. Beberapa hari ini Edo sangat mengganggunya, Lelaki itu muncul di mana saja, berusaha mengorek-orek rahasia yang mungkin disembunyikan oleh Alice,
“Aku bisa menyuruh polisi menangkapmu kalau kau terus menguntit dan menggangguku seperti ini.”
“Tidak perlu sampai seperti itu.” Edo menarik napas frustasi, “Aku cuma butuh jawaban.”
“Bukankah aku sudah menjawabmu? Kau berkali-kali bertanya kenapa aku merayumu malam itu. Aku sudah menjawab, mungkin karena aku sedang ingin bercinta! Titik! Itu saja jawabanku. Tetapi kau masih terus-menerus menggangguku. Sebenarnya kau ingin jawaban apa?”
“Karena jawabanmu bohong.” Edo menatap Alice tajam, “Katakan padaku yang sebenarnya Alice, atau aku akan terus mengganggumu.”
“Baiklah!” Alice setengah menjerit, tak tahan lagi. “Aku merayumu karena Raf... maksudku Alex yang menyuruhku. Dia ingin membuat Elena memergokimu sedang bercinta denganku!”
“Kenapa Mr. Alex ingin kau melakukan itu Alice? Apa yang dia inginkan dari Elena?”
Alice mengerang. Edo tidak akan berhenti mengorek informasi, dan dia tanpa sengaja telah membocorkan informasi penting kepada lelaki ini. Ya ampun. Rafael akan amat sangat marah kepadanya.
“Aku tidak tahu. Dia memintaku dan aku melakukannya. Aku tidak bertanya apa tujuannya dan kenapa. Kalau kau memang ingin tahu, tanyakan pada Mr. Alex sendiri.” Alice mengibaskan rambutnya dan membalikkan tubuhnya, kemudian berhenti dan menatap Edo penuh peringatan, “Jangan menggangguku lagi Edo. Atau aku akan melaporkanmu kepada polisi atas perbuatan tidak menyenangkan, dan aku tidak main-main.” Serunya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Edo termenung di sana.
Dahi Edo berkerut memikirkan jawaban Alice. Jantungnya berdegup kencang. Jadi benar semua dugaannya. Semua ini sudah direncanakan oleh Mr. Alex. Lelaki itu dari awal mungkin sudah mengincar Elena dan berniat menyingkirkannya, meskipun dengan cara yang licik. Edo menggertakkan giginya. Dia telah dijebak dan dipermalukan di depan Elena, tanpa kesempatan untuk membela diri. Kemudian Elena mencampakkannya begitu saja untuk menikahi Mr. Alex.
Edo tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas, ketika waktunya sudah tepat nanti.

***
“Aku ingin kau segera hamil.” Rafael tersenyum sambil mengusap perut Elena. Mereka sedang berbaring di atas ranjang, bersiap untuk tidur setelah percintaan mereka yang panas dan bergelora. Tubuh mereka telanjang di balik selimut, saling memeluk erat.
Elena yang sudah setengah tertidur di pelukan Rafael langsung terjaga mendengarnya. Hamil, mengandung anak Rafael. Pikiran itu terasa begitu menyenangkan untuknya. Memiliki anak-anak dari Rafael, yang tampan dan eksotis dengan rambut gelap dan mata berkilauan, pasti amat sangat membahagiakan.
“Apakah kau mau mengandung anak-anakku?”
“Tentu saja Rafael.” Elena tersenyum dan mendongakkan kepalanya, menatap Rafael lembut, “Kau kan suamiku. Pikirmu aku akan mengandung anak siapa kalau bukan dirimu?”
Rafael tertawa, tawa yang dalam dan terdengar seksi di telinga, mengalun lembut, “Kalau begitu kita harus giat mengusahakannya.”
Elena mengangkat alisnya, “Kau melakukannya pagi, siang, sore, dan malam... kurang giat apalagi?”
Tawa Rafael memenuhi ruangan. Dia memeluk Elena dengan lembut, berdoa semoga kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.

***

Seluruh pelayan sudah kembali ke rumah pagi ini dan kegiatan berlangsung seperti biasa. Elena sedang di dapur belajar membuat kue kelapa bersama Alfred. Ketika suara ribut-ribut terdengar dari lorong, yang mau tak mau terdengar sampai ke dapur. Itu suara Rafael, lelaki itu sedang mengumpat-umpat di telepon. Mengumpat-umpat?
“Bagaimana mungkin dia bisa lolos? Ini pulau pribadi. Tidak sembarang orang bisa kemari.” Kemarahan tercermin jelas dalam suara laki-laki itu.
Suara di seberang telepon menjawab, tampak mencoba menjelaskan dengan panik. Tetapi kemudian Rafael memotongnya dengan tajam.
“Sudah. Kita bicarakan keteledoran yang dibuat anak buahmu nanti. Kau yang harus menanggung ini semua. Nanti. Begitu aku selesai membereskan masalah ini.” Lalu Rafael menutup telepon dengan kasar. Membuat Elena merasa kasihan pada siapapun yang menjadi lawan bicara Rafael di telepon.
Beberapa detik kemudian pintu dapur terbuka, dan Rafael masuk dengan wajah serius.
“Elena.” Rafael memanggil dari ujung dapur. Membuat Elena yang sedang bertaburan tepung dan membantu Alfred membentuk kue di cetakan menoleh,
“Ya Rafael?”
“Kemari, aku ingin bicara.”
Rafael tidak pernah sekaku ini ketika berbicara kepadanya, membuat Elena mengerutkan keningnya. Apakah lelaki itu sedang marah. Kepada siapa? Kepadanyakah?
Dengan hati-hati dia melangkah keluar dapur, mengikuti Rafael ke arah teras samping. Rafael berdiri di sana, mondar-mandir dengan wajah gusar.
“Ada apa Rafael?”
Lelaki itu melangkah mendekati Elena dan merengkuh kedua bahunya, membuat Elena dekat dengannya.
“Anak buahku mengacau. Kita akan kedatangan tamu. Bukan tamu yang menyenangkan, tetapi kita terpaksa menampungnya beberapa hari demi kesopanan. Aku harap kau mengerti.”
Elena menganggukkan kepala. Sedikit lega mendengar perkataan Rafael, Jadi hanya karena masalah itu? Seorang tamu, meskipun terasa aneh karena datang di bulan madu mereka, tampaknya tidak menjadi masalah besar. Elena pasti bisa menghadapinya. Kalau begitu kenapa Rafael masih tampak begitu gusar?
Rafael yang masih mencengkeram kedua bahu Elena mendesah kesal. “Dia bukan tamu biasa. Dia mungkin datang untuk mengacau, seperti yang Victoria ramalkan. Aku minta maaf Elena, aku tidak menyangka dia akan seberani itu, menyusulku kemari.”
“Siapa Rafael?” Elena berubah waspada, karena Rafael tampak begitu serius tentang tamu yang satu ini.
Rafael menatap Elena pahit. “Dia mantan kekasihku Elena. Anak buahku mengatakan dia tidak bisa mencegah kedatangannya kemari. Sekarang dia sedang dalam perjalanan dengan perahu boat kemari. Maafkan aku.”

***
Memikirkan bahwa Rafael mempunyai mantan kekasih sebelumnya, yang tentunya juga berbagi hal-hal intim bersama lelaki itu sungguh membuat semuanya terasa aneh.
Seharusnya Elena siap. Donita dulu pernah mengatakan kepadanya bahwa Rafael pernah punya beberapa kekasih yang berhubungan dengannya tanpa status. Elena mungkin bisa melupakan itu semua kalau situasinya tidak seperti ini. Seorang mantan kekasih yang nekad tampaknya bertekad merebut Rafael kembali. Dan Elena harus menghadapinya.
Astaga. Kenapa dia ada di dalam situasi begini? Apa yang harus dia lakukan? Dengan bingung Elena memencet nomor ponsel Donita. Dalam deringan kedua ponsel itu diangkat,
“Ada apa Elena? Apakah kau sudah pulang dari bulan madumu?”
“Bukan Donita. Aku ingin menanyakan sesuatu.”
"Tentang apa?”
“Tentang mantan kekasih Rafael.”
Sejenak Donita tertegun di seberang sana, lalu bergumam ragu. “Well sayang, menurutku ketika kita sudah menikah dengan seseorang, tidak perlu mengungkit-ngungkit masa lalu, apalagi mencari informasi tentang mantan pacar pasangan kita...”
“Bukan begitu Donita. Aku bukannya ingin menyelidiki masa lalu Rafael. Aku hanya ingin tahu apa yang harus kuhadapi. Mantan kekasih Rafael.. entah yang mana tampaknya tidak terima dengan pernikahan ini, dan entah dengan jalan cerdik apa berhasil menyusul ke pulau ini... dia sedang dalam perjalanan kemari, dan sebentar lagi sampai.”
“Apa?” Donita memekik marah, “Siapa perempuan tidak tahu malu itu?”
“Kata Rafael, namanya Luna.”
“Luna.. oh Astaga.” Suara Donita tertelan di seberang sana.
Elena mengernyitkan kening, tiba-tiba diserang perasaan buruk karena kediaman Donita, “Ada apa Donita? Kenapa kau terdiam?”
“Karena mantan pacar yang kau hadapi adalah musuh yang paling berat.” Donita menghela napas panjang, “Luna bisa dikatakan kekasih permanen Mr. Alex, dia selalu kembali kepada perempuan itu. Luna adalah perempuan keras yang mandiri, tampak tidak butuh laki-laki, dan hubungannya dengan Mr. Alex  hanya demi kenikmatan semata. Tetapi sepertinya dia tidak rela Mr. Alex menjadi milik perempuan lain, karena dia terbiasa memiliki Mr. Alex untuk dirinya sendiri. “ Donita menghela napas panjang, “Dia sangat pandai mengintimidasi lawannya. Hati-hati Elena. Jangan sampai kau tertekan di bawah auranya.”

Elena mendesah ketika pembicaraannya dengan Donita berakhir. Ternyata mantan pacar Rafael yang akan datang kemari adalah yang paling hebat di antara semuanya. Jantung Elena berdetak penuh antisipasi. Menanti apa yang akan terjadi nanti.

***

Ketika perempuan itu memasuki rumah, dengan koper-kopernya dibawa oleh para pelayan, Elena yang berdiri di belakang Rafael merasa bahwa mimpi buruknya benar-benar datang. Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi perempuan ini? Dia bagaikan dewi yang datang dari surga. Keseluruhan dirinya sangat sempurna. Dari caranya berpakaian yang berkelas, tubuh sempurnanya yang indah, bentuk wajahnya yang klasik dan sensual, dibingkai oleh rambut panjang indah berkilauan. Bahkan bentuk alisnyapun sempurna. Elena mengamati diam-diam dan merasa letih tiba-tiba.
“Kenapa kau datang kemari Luna?” Rafael yang menyapa Luna duluan, sikapnya waspada dan tidak bersahabat.
Luna menatap Rafael dan tersenyum manis, “Kenapa kau tidak kemari dan memelukku seperti biasanya Rafael? Aku rindu pelukanmu.” Suara Luna terdengar rendah dan seksi. ‘Dan kenapa aku kemari? Itu karena aku merindukanmu. Aku pulang dari luar negeri dan menunggu panggilanmu. Biasanya kau akan menghubungi dan menemuiku, aku sudah tak sabar melewatkan waktu berdua denganmu. Tetapi kau tidak mengunjungiku. Lalu kudengar kau sedang ada di pulau ini, jadi aku menyusulmu kemari.”
Luna sudah jelas menyadari kehadiran Elena di belakang Rafael, tetapi hal itu tidak membuatnya menahan kata-kata vulgar dan penuh rayuannya kepada Rafael. Apakah Luna tidak tahu bahwa Rafael dan Elena sudah menikah? Elena menghela napas dan mengalihkan pandangan kepada Rafael. Suaminya itu tampak tidak suka dengan kata-kata Luna. Lelaki itu mundur, seolah menjaga Elena dari sambaran Luna,
“Aku sedang berbulan madu, Luna. Dengan istriku.”
“Oh?” Luna tampak tidak kaget. Berarti perempuan itu sudah tahu bahwa Elena adalah isteri Rafael, betapa kejamnya dia mengucapkan kalimat penuh rayuan tadi kalau begitu. “Tidak masalah untukku.” Suara Luna terdengar manis, “Aku ingin bertemu denganmu Rafael, bukan dengan istrimu.” Dengan langkah anggun dia mendekat dan berdiri di depan Rafael dan Elena. Matanya dengan sengaja menelusuri Elena dari atas ke bawah. Elena tentu saja tidak sama dengan Luna, dia tidak mengenakan baju rancangan desainer ternama, hanya mengenakan kemeja longgar berwarna putih dan celana jeans yang sudah memudar warnanya.
Senyum Luna kemudian lebih seperti senyuman mencemooh, “Elena bukan nama isterimu.” Luna tersenyum manis kepada Rafael, seolah tidak menganggap Elena ada, “Aku ingat saat-saat manisku ketika aku mendengar nama Elena.” Senyum Luna tampak penuh arti dan tatapannya menggoda penuh rahasia, yang seketika itu juga membuat wajah Rafael merah padam karena marah.
Luna tertawa ketika melihat reaksi kemarahan Rafael yang diharapkannya karena sindirannya, dia mengedikkan bahunya ke arah tangga, “Kuharap pelayan bisa menunjukkan di mana kamar tamunya, aku lelah karena perjalanan ini. Mungkin aku akan istirahat dan tidur sejenak.” Dengan nakal dikedipkannya matanya kepada Rafael, “Meskipun aku tidak akan menolak kunjungan singkat di siang hari seperti yang biasanya kau lakukan dulu Rafael.” Luna membalikkan tubuhnya dan melangkah anggun. Meninggalkan Rafael dan Elena yang membeku di dalam keheningan. Keheningan tidak mengenakkan yang menyesakkan dada.

Poskan Komentar

39 comments

Olala.... Mimpi buruk sudah mulai berdatangan, konflik mulai memanas.... Trims mb San, mb cherry...

Leave footstep dulu ya mbak santhy...

wuaaah mulai ada masalah niee... tq mba shan... cherry cantik.... peluk ciyuuuumm.... :)

maksih min...udah di posting...

Aish~ si luna ganggu aja ni ah
Batu sandungan pertama
Fiuuh~ semoga elena kuat
Keren mb santhy :D
Makasih mb cherry :))

Oh yaaaa ampyuuunnnnnnn Medusa dataaangggggg....
Ggggrrrrrr pengacau tmbhn sdh mlncarkan aksinya.. Aahhhh,,mkin deg2n..
Mksh Cherry,,Mba Santhy n Mas Yudi

Luna & Edo siap menyerang, thanks Cherry, Mba Santhy & Ms Yudi;-)

pengacau datang, ambil pisau lucas...

Iiissshh knp g d usir aj si luna itu, sruh plg lgi, mengacaukan suasana aj, #cari emot bom lempar luna
Thks smuanya..

Waduuuuhhhh...masalah mulai datang bertubi2...bikin bacax sambil deg-degan :)

haduh, semoga elena bisa menghadapi si luna

Ow, luna g tau malu nich... Masa' suami org msh aja d kejar2? Mana edo udh ancang2 mw ngacau lgi, ugh! Hilang sdh bulang madu yg indah ~_~

pengen getok kepala Luna..

Elena tetep semangat...

thx mas Yudi,mbak Santhy n Cherry :-*

apa apaan tuh luna .. untung bkan kenyataan sabar sabar. klo kenyataan abis tuh dikeroyokin sama pelayannya rafael..

thx mb santhy.mb cherry . om yudi jga..:)

apa apaan tuh luna .. untung bkan kenyataan sabar sabar. klo kenyataan abis tuh dikeroyokin sama pelayannya rafael..

thx mb santhy.mb cherry . om yudi jga..:)

saingan elena.. lumayan berat nih.
tp, tetap yg bertahan hnya cinta yg nyata*ber-puitis2 ria*

tengkyu buat mba shanty dan admin ya.. ^^

aih si pengganggu, Aluna muncul.. G' da kerjaan bgt ya dtengin org yg lg honeymoon!
Enyah jauh2 dch Luna..!
*esmoni

Mba San.. Thanks
Cherry.. Thanks
PN.. Thanks

konflik dimulai,thx mba santhy,mas mimin :)

haduuhh.. Luna si semangka besaar tukang ganggu dataang
Elena, tunjukkan taringmu, jgn mau diintimidasi sama si semangka gede..

makasih mbak santhyy..
makasih mas yudii..

Gak sbr baca bab berikuty,
mudah2 elena kuat menghadapi si sundel luna
Thax mba shanty, mba cherry + mas bos yudi°°~~°°

hueeee... awas ya klu si luna mcem2... aq cekik tuh orang.. mrusak kbhgiaan org aj..

ehmmm..... rafael ma elena smga cpt dpt anak ^^

thankyu mas yudi, mbg santhy :*

Makaci buat ka santhy agatha. Your the best

Kyaaa om rafael... makin kesini makin romantis aja nih sama elena. dan adegan di dapur itu...wow banget deh mbak santhy. Niat bgt ya rafael smpek ngliburin pelayan2 kkk~

Oh...what the hell. Mak lampir udah mulai ngrusuh. Tenang elena...jangan sampai kalah sama mak lampir luna itu. Biar km lebih jelek *plak* tapi rafael lebih terangsang sama kamu kan =P

Can't wait next part mbak santhy...segera dong...

Bebeb cherry..thanks utk postingnya...

Mksih mb shanty n zia..

Aihhh mak lampir centil udh dtg..bikin stresss yg baca...elehhh

waaaaah..si luna nyebelin -_-

Hwaaaaa. Semakin menegangkan. Semoga Rafael dan Elena bisa menghadapi semua cobaan rumah tangga mereka ( ⌣ ́_ ⌣ ̀)
Semoga juga Elena'nya hamil. Jadi, ikatan pernikahan mereka jadi lebih kuat.
Makasih ya kak Cherry dan Kak Santhy. Ditunggu bab selanjutnya.
(´⌣`ʃƪ)♡

@all makasih yah yang udah baca hehehe semoga berikutnya tetep romantis yah biarkan Luna menggongong ELena berlalu hihii

*ngebayangin kalo Aluna baca komen2 readers di sini pasti dia udah kabur ketakutan hehehe*

*peluk sayang semuanya sampai megap2*

gak tau diri banget ya si luna.. perlu digetok pake pacul..

heheheh
ngekek :D baca komennya mbak marry jane@elena tunjukkan taringmu,,,ayoo semua reades tunjukkan taring biar si luna minggir,,,heheh

bner2 mimpi bruk !!pengeenn timpukin si luna ampe benjol rasa nya !!hish sbeeeell sumpah !!!moga next chpter elena bsa nglawan si luna !mksih mba shanty ..

Tenang elena U're the queen in the house, suruh aj si alfred bikin makanan yg super ajiib biar si luna diare trus hrus k kota nyari dokter
Lol

trims pn

go rafael.....
so sweet banget siih xD
jd bingung tetep damian apa pindah ke rafael >///<

aluna tebel muka banget dah ==" *tabok*

Makasii PN n mba shanty :) aku padamuh~~
kekekkekee =D

Rafael dg elena makin mesra aja
Ya ampuuun

Moga aja cpt dpt momongan.

Aduh
Itu aluna ud dtg lagi.

Penasaran bgt ama reaksinya elena, ngelawan apa g bsk.

Ditunggu lanjutannya mbak.

peluk sayang juga mbak cantik,,,


ahhh nenek sihir kenapa muncul sembarangan sihhhh benci dah,, edo juga, edo sama luna bersatu aja, tapi jangan hancurin hubungan rafena ya,,

Mba' shanty keren2 buanget novelnya, aq dah baca 3 kayaknya nyambung semua... " keren dech..!!! Cepat ya mba' bab brkut nya gak sbr loh... ;)

Mba' shanty keren2 buanget novelnya, aq dah baca 3 kayaknya nyambung semua... " keren dech..!!! Cepat ya mba' bab brkut nya gak sbr loh... ;)

iihhh... ga sukaaaa... napa hrs diijinin ssiihh?? kan kapalnya bisa disuruh puter balik ato si nenek sihir dilempar ke laut aja biar jd makanan paus... mana ntar ada edo lg...

mbak Santh,,,,makasih yaaa,,,--maaph,,bru baca aq,,,
Zia my dear,,,makasih bebebh,,
Makasih PortNov,,,

Bab selanjutnya mana????.
Hiks...
Tiap malam nungguuuuu

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top