37


Perputaran dunia sungguh tidak dapat diduga. Begitupun perjalanan hidup manusia. Elena melirik cincin berlian elegan yang berkilau di jari manisnya. Dia datang ke perusahaan ini karena sebuah panggilan keberuntungan yang datang tak diduga. Dan hanya karena satu kejadian di malam pesta itu, tiba-tiba dia menjadi tunangan pemilik perusahaan ini. Siapa yang bisa mengira? Bahkan di dalam imajinasinya yang paling liarpun dia tidak pernah menduganya.

Semua ini terjadi terlalu cepat… terlalu tiba-tiba. Dia bahkan tidak mengenal jauh Mr. Alex….

Elena membatin dalam hati, dan tanpa sadar mengernyitkan dahinya. Yang dia ketahui tentang Mr. Alex hanyalah info dari majalah bisnis yang dibacanya ketika mencari tahu tentang perusahaan yang memanggilnya untuk interview itu, dan beberapa info dari Donita, yang sekarang sudah mengambil cuti hamilnya. Donita akan sangat terkejut kalau saja dia ada di kantor untuk menyaksikan semua drama ini. Elena tahu bahwa Mr. Alex adalah pendiri perusahaan yang jenius, berdarah Spanyol dari ibunya, dan mempunyai adik perempuan dengan masa lalu yang sungguh menimbulkan empati. Meskipun sekarang Victoria sudah menjadi wanita yang tegar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu alasan utama Elena menerima pertunangan ini adalah karena empatinya kepada Victoria, dan kekagumannya akan rasa bertanggungjawab Mr. Alex karena begitu memikirkan kesedihan yang pernah dialami Victoria. Mr. Alex pasti sangat menyayangi adiknya. Elena tidak pernah punya saudara kandung, dia anak tunggal, yang pada akhirnya harus berakhir sebatang kara. Karena tragedi itu... Tragedi yang sudah dilupakannya dan dikuburkannya dalam-dalam. Karena setiap dia mengingatnya akan muncul rasa marah terpendam, membuatnya ingin berteriak atas ketidakadilan kehidupan. Ingatan tentang kemarahan itu menjadi samar-samar seiring berjalannya waktu. Elena belajar menyimpan jauh-jauh. Tidak sepenuhnya melupakan. Tidak sepenuhnya memaafkan.

Elena mengerjapkan mata ketika mobil hitam yang elegan itu meluncur dengan mulus dan berhenti tepat di depannya. Mr. Alex sendiri yang menyetir mobilnya, dengan sopan, dia turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang di sebelahnya untuk Elena,

“Maafkan aku, aku sedikit tertahan di lobi tadi. Aku harap kau tidak menunggu lama.”

“Tidak. Aku baru beberapa menit di sini.” Elena melangkah masuk ke mobil dan lelaki itu menutupnya, lalu kembali ke balik kemudi dan menjalankan mobilnya. 

Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di benak Elena, bahwa dia bahkan tidak tahu nama lengkap lelaki ini.

“Bagaimana mungkin kita melanjutkan semua ini, kalau kita bahkan tidak saling mengenal sama sekali?” tanpa sadar Elena menyuarakan pemikirannya.

Rafael melirik sedikit ke arah Elena dan tersenyum, “Masih banyak waktu, dan dengan senang hati aku akan membuka diri sehingga kau bisa lebih dalam mengenalku.” Suaranya merendah lembut, “Dan aku harap kau juga membiarkanku mengenalmu lebih dalam.”

Elena menghela napas. Kenapa kata-kata Mr. Alex yang biasa saja bisa terdengar begitu sensual di telinganya? Apakah itu memang nyata atau dia selalu berkonotasi mesum sejak kejadian malam itu? Dengan tak kentara Elena menggelengkan kepalanya, mencoba berkonsentrasi kepada sesuatu yang logis.

“Siapa nama lengkapmu?”

Rafael mengerem dengan mendadak. Hampir membuat ban mobil berdecit dan tubuh Elena terdorong ke depan, untunglah mereka sedang berada di jalanan yang sepi. Elena menoleh ke arah Mr. Alex dan menatap bingung. Lelaki itu tampak kaget… karena pertanyaannya, ataukah karena sesuatu di jalan?

Tetapi Rafael dengan cepat menguasai diri, dia menatap Elena dan meminta maaf, “Maafkan aku, tadi ada kucing menyeberang.” gumamnya cepat sambil mengalihkan pandangan kembali ke arah jalan. 

Apakah hanya perasaannya saja…atau Mr. Alex sedang mencengkeram kemudinya erat-erat?

Elena mengalihkan pandangannya ke jalan dan akhirnya tersenyum, “Kucing memang sering menyeberang tiba-tiba, kadang kita baru melihat ketika mereka sudah di seberang mata, membuat kita kaget setengah mati.”

“Yah. Dan aku memang kaget setengah mati.” Lelaki itu melirik Elena, “Tadi kau bertanya apa?”

“Nama lengkapmu?”

“Oh…. Kau tidak tahu ya, padahal kau sudah beberapa lama bekerja sebagai bawahanku. Keterlaluan.” Rafael pura-pura mencela, padahal jauh di dalam hatinya dia tahu. Dialah yang mengusahakan agar Elena tidak tahu nama lengkapnya. Bahkan semua surat dan dokumen resmi diperusahaan itu selalu atas nama R. Alexander. Mungkin ini adalah saatnya mengambil resiko. Kalau Elena tidak bereaksi apapun atas nama lengkapnya, berarti Rafael bisa melangkah ke rencana ke depannya dengan aman. Karena bagaimanapun, kalau mereka menikah nanti, Elena harus tahu nama lengkapnya. Dia menghela napas sekali lagi, seakan hendak melepas sumbu granat, “Nama lengkapku tidak istimewa, Rafael Alexander.” 

Rafael mencoba tenang meskipun jauh di dalam hatinya dia ketakutan setengah mati. Selama ini dia menganggap nama itu tabu, karena takut akan membuat Elena langsung teringat kepada siapa dia sebenarnya. Dan sekarang setelah melepaskan nama itu. Rasanya seperti menanti sesuatu yang akan meledak, membuatnya berdebar.

Tetapi apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Elena memang sedikit mengernyitkan dahi, lalu perempuan itu mengangkat bahunya, “Nama lengkapku Elena Juliana.”

“Elena yang lahir di bulan Juli.” Rafael mencoba bercanda, menutupi rasa lega luar biasanya ketika menyadari Elena tidak menghubungkannya dengan pemuda yang telah membunuh ayahnya bertahun-tahun yang lalu. Tentu saja penampilan Rafael yang dulu dan sekarang berbeda. Rafael yang dulu kurus karena memakai obat dan minuman keras, perokok berat, ugal-ugalan dengan tindik telinga dan rambut yang di cat kuning menyala. Secara fisik sangat sulit menghubungkan dirinya yang sekarang dengan pemuda tak bertanggung jawab di masa lalu itu, tetapi Rafael memutuskan mengambil resiko sekali lagi, untuk melihat reaksi Elena, dengan hati-hati dia berucap,
“Kau bisa memanggilku Rafael kalau kau mau… keluargaku memanggilku begitu….”
“Tidak.” Jawaban Elena begitu cepat, hanya sepersekian detik dari Rafael, “Aku tidak mau. Aku akan memanggilmu dengan ‘Alex’ saja jika kau tidak keberatan.”

Tubuh Elena begitu tegang. Rafael membatin, lalu menarik napas dengan pedih, Elena masih mengingat jelas nama lelaki yang membunuh ayahnya. Dan menilik dari sikapnya yang menolak memanggil siapapun dengan nama ‘Rafael’, gadis itu jelas masih menyimpan kebencian kepada lelaki yang membunuh ayahnya. Rafael harus bisa membuat Elena melupakan “Rafael pembunuh ayahnya’ dan terbiasa mengasosiasikan nama ‘Rafael’ dengan lelaki baik yang akan menjadi suaminya. 

“Aku keberatan.” Rafael tersenyum lembut, dan mengarahkan pandangannya kembali ke jalan. Elena harus belajar memanggilnya dengan nama ‘Rafael’. Dengan begitu, mungkin saja dia bisa melunturkan kebenciannya kepada ‘Rafael’ di masa lalunya. “Sudah kubilang, keluargaku selalu memanggilku dengan nama ‘Rafael” dan kau akan menjadi keluargaku yg terdekat.”
“Tapi aku….”

“Cobalah Elena.” Panggil namaku. Rafael menahan erangan dalam hati. Ah, betapa inginnya dia mendengarnya, betapa inginnya dia mendengar namanya diucapkan oleh suara merdu dari bibir Elena…..

Elena menghela nafas, dan sejenak Rafael merasakan bahwa Elena ingin membantah, tetapi kemudian gadis itu memutuskan untuk tidak melakukannya.

“Rafael.”

Nama itu akhirnya terucapkan dari bibir Elena, dengan enggan, pendek, dan sederhana. Tetapi terdengar luar biasa di telinga Rafael, bagaikan alunan merdu menghembus telinganya. Mimpinya. Mimpinya selama ini telah terwujud. Rafael memejamkan matanya sekejap, berusaha menahan senyum lebarnya.

*** 

Alice sedang berjalan santai menelusuri butik itu ketika sebuah tangan keras mencengkeram lengannya, dia setengah memekik dan menatap marah kepada pencengkeram lengannya, Edo yang sedang berdiri di dekatnya.

“Lepaskan aku Edo, kau kasar sekali.” Alice tersenyum berusaha tampak tenang.

Edo lama menatap Alice dengan tajam, lalu akhirnya melepaskan pegangan tangannya. Dengan sinis Alice mengusap-usap lengannya yang memerah bekas cengkeraman Edo. 

“Ini akan memar. Apa yang membuatmu mendatangiku dan tiba-tiba bertingkah sekasar ini?” Tatapannya berubah menggoda, “Apakah kau ingin melanjutkan yang tertunda waktu itu?”

Edo mendengus kesal, “Hentikan Alice, aku tahu pasti kau tidak tertarik kepadaku. Dulu aku mengejarmu dan kau menolakku mentah-mentah.” Tatapannya berubah tajam lagi, mengintimidasi, “Kenapa malam itu kau merayuku?”

Alice mengerling dan tersenyum, “Mungkin karena aku sedang ingin berubah pikiran.” Dia sengaja mengedipkan matanya menjengkelkan, “Kenapa Edo? Apakah kau tidak tersanjung dirayu olehku?”

Edo menyipitkan matanya, “Aku mencium bau busuk. Ada sesuatu yang tersembunyi di sini, dan aku menjadi korbannya, tapi ingat Alice, aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencari tahu.”

"Mencari tahu apa Edo? Kau aneh..” Alice tertawa, “Mungkin kau sedang patah hati ya jadi sibuk berhalusinasi.”

“Patah hati? Apa maksudmu?” suara Edo menajam, waspada.

“Wah, kukira kau sudah tahu.” Alice mengedipkan matanya lagi, “Perempuan yang kau kejar itu, si cantik yang sederhana, dia akan menikah dengan Alex.” Alice tersenyum, menikmati rona pucat yang langsung menguasai wajah Edo, membuat lelaki itu tertegun. Dia mengibaskan tangannya, “Sudah ya, aku sibuk. Lain kali kalau mau membuang waktuku, tolong lakukan untuk sesuatu yang lebih penting.”

Ditinggalkannya Edo yang masih membatu di sana

*** 

“Kau tidak akan memberitahu mama? Dia pasti akan langsung pulang dari Spanyol dengan bahagia mendengar kabar penikahanmu.” Victoria mengingatkan. Sang mama memang baru berkunjung ke Spanyol untuk menengok adiknya yang sakit.

“Tidak. Aku tidak mau dia pulang. Elena mungkin mengingatnya. Ketika ayahnya meninggal. Mama dan papa datang ke rumah mereka dan menyampaikan permintaan maaf dan uang santunan, Elena dan ibunya menolak mentah-mentah. Bersikeras supaya semua dijalankan di jalur hukum. Entah apa yang dilakukan papa kemudian sehingga semua berhenti.”

“Jadi kau akan melarang mama selamanya bertemu menantunya? Itu rencanamu?” Victoria mengernyit, “Itu sama saja mencegah matahari terbit kak, suatu saat kau akan ketahuan.”

“Tetapi tidak sekarang. Tidak sampai aku sudah benar-benar berhasil memiliki Elena.” Rafael bergerak ke bar, dan menuangkan brendi untuk dirinya sendiri. Tidak dihiraukannya dengusan sinis Victoria.

“Kau sepertinya menjadi sangat terobsesi kepada Elena. Dulu kau terobsesi mencukupi semua kebutuhannya, memastikan dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, sekarang di saat itu semua tercapai, kau terobsesi untuk memilikinya.” Victoria ikut menuangkan brendi dan meminumnya lalu mengernyit, “Mungkin kau harus menemui psikiater.”

“Psikiater hanya akan menemukan satu kesimpulan.” Rafael tersenyum simpul sambil menatap Victoria, membuat adiknya itu mengernyit bingung,

“Kesimpulan apa?”

“Bahwa aku sedang jatuh cinta.”

Victoria tertegun, benar-benar tertegun. “Kau… benar-benar jatuh cinta kepada Elena? Maksudku… semua ini bukan karena obsesi dan rasa bersalah?”

“Itu juga. Awalnya karena rasa bersalah, tetapi lambat laun, mengamatinya dalam diam, memperhatikannya, dan tanpa sadar… mencintainya. Karena itulah aku ingin memilikinya, dan tidak rela membiarkannya dimiliki lelaki lain.”

“Kau mempertaruhkan hatimu kak.” Victoria mengernyit, “Dia akan membuatmu hancur berkeping-keping kalau dia tahu siapa sebenarnya dirimu.”

“Setidaknya aku sudah mencoba.” Rafael mengernyit, mencoba menghilangkan apa yang sudah pasti akan terjadi di depannya nanti. Kalaupun itu terjadi nanti, semoga cintanya kepada Elena cukup untuk mempertahankan perempuan itu.

Victoria menatap sedih kakaknya, kemudian dia teringat sesuatu dan nada suaranya berubah khawatir.

“Apakah kau sudah membereskan Luna?”

“Ada apa dengan dia?”

“Dia akan sangat marah ketika tahu kau akhirnya bersatu dengan Elena-mu.”

Rafael mendesah. Dia lupa sama sekali tentang Aluna, karena terlalu fokus pada Elena. Aluna atau cukup Luna, begitu ia ingin dipanggil adalah ‘pasangan tetapnya’ bisa dikatakan begitu, atau kalau mau secara lugas, Luna adalah ‘partner seks’nya. Hubungan mereka bebas dan tanpa komitmen, mereka saling memanfaatkan satu sama lain. Entah apa motif Luna, mungkin karena Rafael cukup tampan dan kaya untuk dijadikan kekasih. Tetapi motif Rafael adalah mencari pelarian ketika dia sangat menginginkan Elena, melihatnya dari kejauhan tetapi tidak bisa menyentuhnya. Victoria hanya tahu kalau Rafael berkencan dengan Luna, dia tidak tahu bahwa Rafael benar-benar menggunakan Luna, bahkan pada saat bercintapun, Rafael melakukannya dalam kegelapan, dan memanggil Luna, dengan nama Elena.  Sekali, Luna bertanya mengapa, tetapi Rafael menyuruhnya diam dan tidak bertanya lagi. Sejak itu Luna tidak pernah bertanya lagi, meskipun Rafael selalu memanggilnya dengan sebutan Elena ketika bercinta.

Sampai beberapa lama kemudian, Rafael merasakan kehampaan, bahwa dia tidak bisa menipu dirinya sendiri dengan memakai Luna sebagai pengganti Elena. Bahwa dia tidak bisa kalau bukan Elena. Maka ditinggalkannya Luna. Mengakhiri hubungan tanpa komitmen mereka baik-baik.

Seharusnya Luna tidak akan menjadi gangguan, kecuali kalau sampai dia mendengar bahwa Rafael pada akhirnya bersatu dengan perempuan bernama Elena. Radar ingin tahu Luna pasti akan berbunyi, dan siapa yang bisa menebak apa yang akan dilakukannya nanti.

“Aku harap dia akan terus berada di luar negeri. Setidaknya sampai aku berhasil membawa Elena ke dalam pernikahan.”

“Kau tidak seberuntung itu kak. Aku dengar dia akan pulang dalam waktu dekat. Kau harus menjauhkan Elena darinya. Luna memang menjalin hubungan tanpa komitmen padamu, tetapi dia selalu menganggap kau bebas dan bisa didatanginya kapan saja. Kalau dia sampai tahu kau sudah terikat, mungkin dia akan tergelitik untuk mengganggu.”

Dan seperti memilih waktu yang tepat, ponsel Rafael berbunyi, dia mengangkatnya ketika melihat nama Alice di layar.

“Ada apa Alice.”

Di seberang telepon Alice menjelaskan perihal insidennya dengan Edo di butik barusan. Membuat Rafael menghela napas sekali lagi. Setelah telepon ditutup, dia menatap Victoria penuh tekad.

“Pernikahan ini harus segera dilaksanakan.”

*** 

Dan untuk melaksanakan pernikahan dengan segera, Rafael membutuhkan bantuan Damian. Dia mendatangi Damian di kantornya,
“Apa? Pernikahan?” Damian sangat terkejut. Apalagi dia tidak pernah mendengar Rafael dekat dengan siapapun sebelumnya. “Jangan bilang kalau kau jatuh dalam jebakan perempuan licik yang berpura-pura hamil.”

Rafael terkekeh, “Bisa dibilang aku yang menjebak calon pengantinku.” Ditatapnya Damian serius, tahu bahwa sahabatnya itu tidak akan banyak bertanya kalau tidak dijelaskan, “Aku butuh bantuanmu agar pelaksanaannya berjalan sempurna.”

“Aku bisa mengurusnya. Kau bisa tinggal di hotelku di sana. Dan untuk pernikahan kau bisa menghubungi nomor ini. Dia yang dulu mengurus pernikahanku dengan Serena. Semoga dia bisa membantumu.” Damian menyerahkan sebuah kartu nama ke tangan Rafael.

Rafael menerimanya dan tersenyum, “Terima kasih Damian, kau tak tahu betapa berartinya ini untukku.”

Damian mengamati Rafael dengan tenang, dan menganalisa. Ini hampir sama seperti Mikail yang tergesa-gesa menikahi Lana dulu. Tetapi Rafael tampaknya lebih terdesak dan panik. Seperti memegang bom yang akan meledak dalam hitungan waktu tertentu.

“Calon pengantin yang katamu kau jebak ini, apakah kau mencintainya?”

Rafael tersenyum lembut membayangkan Elena, “Ya Damian. Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku repot-repot menjebaknya ke dalam pernikahan ini.”

“Dan mengingat kau sampai perlu menjebaknya, berarti dia tidak memiliki perasaan yang sama?”

“Mungkin saat ini tidak, tetapi aku akan membuatnya berubah pikiran.”

Damian terkekeh, “Kita para lelaki yang semula merasa begitu sempurna dan bisa menaklukkan wanita manapun, pada akhirnya akan menyerah kepada perempuan yang membuat kita penasaran setengah mati. Membuat kita menebak-nebak, lalu tanpa disadari sudah terperosok ke dalam cinta yang begitu dalam.”

“Apakah itu yang kaurasakan kepada istrimu dulu?”

“Persis seperti itu.” Jawab Damian puas. “Dan itu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku.”

Rafael mengamati Damian dan tersenyum, “Kau beruntung.”

“Dan sepertinya kau juga, mengingat kau akan menikah dengan wanita yang kau cintai.”

“Yah. Aku beruntung… meskipun begitu banyak rahasia menyakitkan di masa lalu yang menghantui… aku masih berharap semuanya tidak akan membalik kepadaku nanti dan menghancurkanku.”

“Apa maksudmu Rafael.” Suara Damian berubah waspada.

Rafael tertawa. “Aku tidak sedang dalam bahaya Damian. Ini menyangkut masa lalu dan masa depanku yang berjalinan. Ceritanya panjang, dan aku akan menceritakan kepadamu suatu saat nanti.”

“Oke.” Damian menatap Rafael dan akhirnya menarik kesimpulan, “Gadis yang akan kau nikahi ini ya, yang membuatmu begitu dingin dan tak bisa didekati selama ini.”

Rafael tersenyum, tidak membantah.


***

“Mungkin ini bukan ide bagus.” Elena menatap Rafael bingung, “Apakah ini harus dilakukan?”

"Ya. Aku sudah bertekad. Dan kau tidak bisa mundur Elena, demi dirimu sendiri, demi Victoria, ingat?”

“Ta… tapi aku tidak menyangka akan secepat ini… maksudku… kau bilang kita punya kesempatan untuk saling mengenal dulu, katamu kita punya waktu untuk pertunangan yang panjang sehingga… sehingga….”

“Aku sudah memesan tiket, semua sudah disiapkan di sana. Victoria akan menyusul kita nanti. Tidak bisa dibatalkan. Dan sekarang kita sedang dalam perjalanan ke sana.”

Mereka menuju pulau itu, pulau yang sangat terkenal sebagai pulau impian, pulau tempat dewa-dewa pernah bersemayam. Tempat banyak pasangan menikah secara eksotis, dengan suasana yang eksotis pula. Dan Elena berangkat tanpa prasangka apapun.

Tadi pagi Rafael menyuruhnya bersiap-siap karena dia ada meeting mendadak dengan klien di pulau itu, dan Elena harus ikut. Elena sempat memprotes karena dia tidak mempersiapkan apapun. Tetapi Rafael bilang semua sudah disiapkan, bahkan lelaki itu berbaik hati memintakan izin langsung kepada ibu asramanya ketika mengantar Elena pulang untuk mengambil baju dan perlengkapannya. 

Dan baru di pesawat Rafael mengatakan bahwa mereka berangkat untuk menikah. Kejutan katanya tanpa rasa bersalah. Meskipun bukan kejutan yang baik untuk Elena. Dia panik, gemetaran, dan merasa terjebak luar biasa.

Di bawa ke sebuah pulau yang belum pernah didatanginya untuk dinikahi, tanpa rencana dan pemberitahuan sebelumnya. Ini  hampir seperti dia diculik oleh Rafael. Atau jangan-jangan memang ini rencana lelaki itu?

“Kau sengaja.” Tatapannya menuduh. Tetapi Rafael tampak tidak terpengaruh, lelaki itu memasang muka datar.

“Apanya?”

“Ini semua, kau merencanakannya, sengaja membuat aku tidak bisa mundur atau lari.”

Lelaki itu tersenyum lembut, “Tidak sayang, sungguh aku tidak sengaja melakukan itu….” Tatapannya berubah menerawang, “Sebenarnya ini karena Victoria… dia yang mendesak pernikahan ini dilakukan segera, aku sudah menceritakan insiden malam pesta itu … dan dia menangis.. Dia teringat kejadian yang menimpa dirinya…. Dan dia mendesakku untuk menjadi lelaki yang bertanggungjawab atau dia akan memusuhiku….semoga kau mengerti Elena…”

Elena tercenung. Lalu tatapannya berubah melembut, “Oh… begitu…”

Rafael menganggukkan kepalanya, “Dia akan menyusul ke sana, merayakan pernikahan kita. Semoga kalian bisa akrab nantinya.” Lelaki itu menghela napas lega sambil meminta maaf dalam hati kepada Victoria, karena menggunakan nama adiknya itu lagi untuk memanipulasi Elena.

***

Penerbangannya tidak lama, hanya dalam waktu dua setengah jam mereka sudah sampai.  Rafael membimbing Elena melalui koridor bandara, menuju pintu keluar, dan seorang supir berpakaian rapi rupanya sudah menunggu, dan membawa mereka ke mobil hitam berkilat yang sudah disiapkan.

Perjalanannya sendiri singkat, dan mereka sudah tiba di jalan besar, dan berhenti di hotel yang penuh dengan lampu menyala yang elegan. Membuat Elena terpana. Meskipun dia menahan dirinya supaya tidak terlihat memalukan di depan Rafael. Lelaki itu menggandeng tangannya dengan mesra dan membawanya ke president suite di lantai paling atas hotel. Sepertinya para pegawai di hotel ini telah menunggu kedatangan mereka dan menyiapkan segalanya untuk mereka. 

Terima kasih untuk Damian dalam hal ini. Hotel ini adalah salah satu hotel besar milik lelaki itu. Damian sudah menyiapkan segalanya untuk mereka seperti janjinya.

Elena mengernyitkan keningnya ketika mereka mendapatkan kamar yang sama. Dia menahan Rafael di depan pintu.

“Kita satu kamar?”

Rafael mengangkat bahunya, “Kita akan menikah besok jam sepuluh pagi. Apa bedanya?”

“Ada bedanya. Aku tidak mau sekamar denganmu sebelum menikah.” Gumam Elena keras kepala.

“Kita sudah pernah melakukannya sebelumnya Elena, tidur sekamar. Seranjang malahan.” Lelaki itu tersenyum lembut melihat kecemasan di wajah Elena yang memerah malu, “Maafkan aku, aku hanya memikirkan kepraktisan saja tanpa memperhitungkan perasaanmu. Aku berpikir bahwa besok pagi toh kita sudah menikah, jadi tidak ada gunanya menyewa kamar terpisah….Aku tidak sadar hal ini akan membuatmu tidak nyaman…..” Dengan lembut Rafael menyentuh pipi Elena, “Mungkin kalau aku berjanji tidak akan berbuat tak senonoh padamu malam ini, kau bisa sedikit lebih tenang?”

Elena merasa tak yakin, “Apakah kita akan tidur seranjang?”

“Ada sofa besar di sana. Aku akan tidur di sofa jika itu maumu.”

Sejenak Elena berpikir, lalu menghela napas panjang. Sepertinya janji Rafael bisa dipercaya.

“Baiklah kalau begitu.”

Dan merekapun masuk ke kamar itu.

*** 

Ketika Rafael sedang mandi, Elena menyempatkan diri untuk menelepon ibu Rahma. Perempuan itu sudah dia anggap sebagai ibunya, dan tidak mungkin Elena melakukan pernikahan tanpa mengabari sosok pengganti ibunya itu. Dijelaskannya semuanya kepada Ibu Rahma, dengan suara terbata-bata bahwa dia akan menikah dengan bosnya, Mr. Alex. Elena dengan malu akhirnya menceritakan insiden di malam pesta itu, mengakui kepada Ibu Rahma bahwa dia berbohong mengatakan menginap di rumah temannya. Di luar dugaan, Ibu Rahma tidak mempermasalahkannya, dengan bijaksana Ibu Rahma menerima penjelasan Elena,

“Ibu mengerti Elena, kalian berdua sudah dewasa dan kalian bisa menentukan sendiri apa yang menurut kalian baik. Ibu juga salut dengan bosmu yang bertanggungjawab. Tidak semua lelaki mau menerima tanggungjawab begitu besar karena sebuah insiden yang diakibatkan oleh mabuk. Kebanyakan lelaki akan melarikan diri.” Ibu Rahma menghela napas panjang, “Ibu hanya bisa mendoakan dari sini nak. Ibu yakin segala sesuatu yang awalnya dilakukan untuk tujuan yang baik, akan berujung kebaikan pula.”
Elena menghembuskan napas lega, bersyukur karena Ibu Rahma merestui pernikahan buru-burunya, “Terima kasih Ibu, semoga.. semoga apa yang saya putuskan ini tidak salah...”, keraguan mewarnai suaranya.
“Kau harus yakin bahwa calon suamimu adalah suami yang baik...” Ada senyum dalam suara Ibu Rahma di seberang sana. “Menurut ibu dia orang baik. Lalu apa rencana kalian setelah menikah? Kalian akan langsung pulang?”
“Saya... saya masih belum tahu bu.”
“Kabari ibu kalau kalian pulang ya. Ibu akan mengerti kalau kau tidak langsung pulang ke asrama nantinya. Kau akan pulang sebagai perempuan yang sudah menikah, diskusikanlah semuanya dengan suamimu ya.”
Tanpa sadar Elena menganggukkan kepalanya, lupa kalau dia sedang berbicara di telepon, “Baik ibu, terima kasih ibu.”
“Kamarmu akan tetap tersedia seperti biasanya, dan pakaian-pakaianmu masih banyak di sini kan? Kalau pulang nanti dan memutuskan akan langsung ke tempat tinggal suamimu, ibu akan menjaga kamarmu seperti kalau kau masih tinggal di sini. Kau bisa mengambil pakaian-pakaianmu dan barang-barangmu kapan saja, jangan cemaskan hal itu. Pokoknya fokuskan dirimu pada pernikahanmu dulu ya.”
Elena tersenyum ketika percakapan itu selesai. Hatinya terasa tenang. Pendapat Ibu Rahma penting baginya, dan kalau Ibu Rahma sudah setuju, hatinya lebih tenang dan mantap.

***

Rafael menepati janjinya hingga Elena merasa tenang. Dia masih mencemaskan hari esok. Hari pernikahan yang datang begitu cepat sampai tidak bisa dipikirkannya. Membuat perutnya bergolak karena cemas.

Elena mandi bergantian dengan Rafael, lalu menyantap makanan yang diantarkan ke kamar. Setelah itu dia berpamitan untuk tidur. Lampu dimatikan. Dan setelah berbagi selimut dan bantal dengan Rafael, Elena naik ke ranjang untuk berbaring dan mencoba tidur. Dia sempat melirik, Rafael sedang menata bantal dan selimut dengan nyaman di sofa depan sambil menyalakan televisi dengan suara lirih.

Mau tak mau pikiran Elena melayang. Besok adalah hari pernikahannya. Meskipun bisa disebut hari pernikahan yang tak wajar. Pengantin wanita mana yang baru tahu bahwa dia akan menikah sehari sebelumnya? Tetapi kalau ditilik dari masa lalu, kehidupannya memang tidak wajar. Kalau dia hidup di keluarga yang wajar, malam ini dia pasti sudah disimpan di kamar, tidak boleh bertemu dengan pengantin laki-laki. Kemudian seluruh keluarganya akan berkumpul di rumah. Orangtuanya ada di depan, menyalami tamu yang datang, dan berbahagia dengan persiapan pernikahan putri mereka satu-satunya esok hari, sebuah acara yang dianggap sakral. Tetapi itu semua hanya mimpi. Elena sebatang kara di dunia ini. Ayah dan ibunya telah meninggal. Direnggut paksa darinya. Air mata menetes dan mengalir di pipinya. Seandarinya saja semua itu tidak terenggut darinya….. Elena sangat ingin memeluk orangtuanya sebelum hari pernikahannya. Amat sangat ingin…. Dia merindukan mereka berdua…

*** 

Rafael melangkah hati-hati ke arah ranjang, dan duduk di tepi ranjang. Elena tertidur dengan posisi meringkuk seperti janin dalam kandungan ibu. Ruangan itu temaram, dengan hanya satu lampu tidur yang menyala remang. Tetapi Rafael bisa melihat. Bekas air mata yang sudah mengering, dari sudut mata Elena, mengalir ke pipinya. Dengan lembut Rafael mengusapnya. Hati-hati agar Elena tidak terbangun.

“Setelah ini kau tidak akan menangis lagi Elena. Tuhan tahu aku akan mengusahakan segala cara…”


Poskan Komentar

37 comments

Save the spot.

Thanks mbak santhy, cherry, n mas yudi :)

Peluk erat semuannyaaa
mbk santhy, cherry, mbk meyke, om bos mimin yudi

Terimakasih n peluk erat mba santhy, cherry, mba meyke n mas yudi.....

Rafael smoga bahagia, elena smoga bs memaafkan, edo n aluna smoga bersatu ​​Нëнëdнëнëdнëнëd™

thanks semuanya, semoga pernikahannya lancar...

Thank u so much cherry, mba santhy, mba meyke, mas yudi *peluukk erat
Wah Rafael so sweet deh :*

ah.. Penasran ma next chap jdi menikah ato enggak.. Hmmmm

Thanks cherry udh ng'post..
N mba santhy, sperti biasa thanks for your great story..
*big hug :D

Wah...gak sabar baca bab selanjutnya, makasih PN :)

Ya Tuhan..ampuni dosa Rafael yg memfitnah Victoria. Kasian bener tuh adeknya, dijadikan kambing hitam terus2an, kekeke. But, Rafael has a great reflex at lying.

Nikah mendadak ceritanya. Elena pasti syok berat. Kapan sih Rafael g penuh kejutan.

Ditunggu postingan part selanjutnya :)

hua coba malam ini dua part,, aduh jangan sampai gagal deh pernikahannya

want to know next the story,, !!!

Huwaaaa Saya juga saya juga Rafael , kaga tenang buat pernikahan kalian besok hihihihi
Selamat ya Akang Rafa :333

aku mau siiih diajak nikah dadakan gituu... hihihi
*toyor kepala bebeb*
*lirik2 mba santy* sapa tau punya stok alpha male kayak Rafael, Damian, n Mikail lagi

makassi buat semuanya juga.. ^_^
enjoy yah...

wow nice .. ada damian juga jd kangen ama serena !!!mksih mba shanty crta nya mmuaskan wlaupun deg2an .. mksih mas mimin udah di posting !!

wahhh...wahhh selalu suka dengan karya mba shanty :*

thanks mba shanty, and ziaaaaaa *peyuukkk

Huaaa ga sabar nunggu chapter selanjutnya...
Thanks cherry, mb santhy :D

thank you all...
ga sabar nunggu wedding day-nya.... :)

Ww.... Aku sukaaaaaaaaaaa.....
Makasih makasih

duh, dah pengen baca yg selanjutnya

Gk sabar nunggu next chapter...mudah"an weddingnya lancar.. :)

huuuaaa,,,,, smoga pernikahan mereka berjalan lancar,,,, jadi ikutan deg-degan menjelang hari H,,, smoga mantan pasangan masing2 tidak mengganggu yaa,,,, hehehhe awas ajah kalo iyaa,,,,,

Thankiuuu mbak santy,,, dan Thankiuuu mbak n mas miminnya..... ^_^

LAH!!!!??? KOK KEPALA AKU YANG DI TOYOR BEB!!?
(O ‵-′)ノ”☆(>﹏<) bebeb

@mbak santhy: kenapa rafael ga nikahin aku aja siiihhhh???? *nangis di pojokan*

Wow mereka akn menikah
Seneng dengery
Tpi deg- deg juga sih, menanti apa y akn terjdi setlh mrka menikh

Wow mereka akn menikah
Seneng dengery
Tpi deg- deg juga sih, menanti apa y akn terjdi setlh mrka menikh

Oh ya ampuuunnn... Nikaaahhhhh???

Smg g d halangn,,smg g d halangn,,smg g d halangan...
Mksh Cherry,,Mba Santhy n Mas Yudi

huft antara kasian sama gmn gtu dgn elena..
wlopun tujuannya baik tapi kalo d boongin psti sebel bgd.ckck
bersiap2 lah dikau rafael..*deg degan*:D

thx mbk san n mimin..;)

Pendatang baru nich......
Waaaaahhhhhh....... Gak sabar crita slanjutnya *o*......

Love it so much..tengkyu mimin n' mba shanty...

wkwkwk rafael bertindak tak terduga orz orz XDD

Ga sabar nunggu pernikahan Rafael & Elena, thank Cherry, Mb Santhy & Ms Yudi.;-)

Makasih Zia, mbak Santh, mbak Mey, mas Yudi,,
Makasih Portal Novel,,,
Semoga jaya selalu di Dumay,,amiinn

Insya Allah Sakinah Mawaddah Warrahmah buat Rafa & Elena,,amiiin,,,

,,,,,
::‧(◦ˆ ⌣ ˆ◦)::‧(y)
Si!!! Cerita Πγª .... Siap2 nunggu undangn Rafael sma Elena aahh. Heheh. Makasi Mba Shanty & mba Cherry.

Smg sakinah mawaddah warohmah pernikahannya... amiiiiiiiiiiiiiiiiin

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

hehehehe baca2 komen di atas aku senyum2 sendiri
makasih yah all
semoga bab berikutnya memuaskan
muach
Santhy Agatha

moga aja aluna itu ngak cpt datang
trus semoga prnikahannya bs dilaksana.
amin


lanjut mas admin sm mbak santhy
penasaran bgt ini sm lanjutannya

mba shanty... jangan lama2 donk chapter selanjutnya.. penasaran banget nih ..

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top