39

uh-thumb
Elena melangkahkan kakinya menuju asrama tempat dia tinggal dulu. Dia tidak tahu harus kemana. Asrama inilah satu-satunya rumahnya selama ini. Mungkin dia akan meminta tolong kepada Ibu Rahma untuk menampungnya selama beberapa saat. Sebelum dia bisa mengatur kehidupannya dan pergi ke tempat sejauh mungkin, yang tidak bisa ditemukan oleh Rafael. Dengan hati-hati dia mengetuk pintunya, berharap Ibu Rahma ada di rumah dan tidak sedang keluar.

Pintu itu terbuka, Ibu Rahma sendiri yang membukanya.

"Elena? Pagi sekali kau datang, ayo masuk nak..." Perempuan itu menoleh ke belakang Elena, "Di mana suamimu? Katanya kalian akan datang berdua?"

Air mata langsung mengalir deras dari sudut mata Elena ketika mendengar Ibu Rahma menyebut Rafael sebagai ‘suaminya’, dia menangis terisak-isak membuat ibu Rahma menatapnya kebingungan,

"Oh Astaga, Elena kau kenapa? Kau sakit sayang? Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi kepadamu?"

Elena mengusap air matanya, menatap Ibu Rahma dengan sedih,

"Saya telah dibohongi oleh Rafael ibu...semua yang dia lakukan, semuanya palsu. Dia...dia adalah lelaki yang membunuh ayah saya." Tangis Elena makin keras, membuat tubuhnya limbung dan Ibu Rahma langsung memeluknya, mengusap punggungnya menghibur.

"Astaga nak...sudah nak, jangan menangis...Jangan pikirkan semua hal dengan emosi, kau tidak akan menemukan jalan keluar." Hibur Ibu Rahma dengan lembut, menunggu sampai isakan histeris Elena berubah menjadi isakan pelan.

Setelah isakan Elena mereda dan sedikit tenang, Ibu Rahma menghela Elena ke kamar yang selama ini ditempatinya,

"Istirahatlah dulu. Tenangkan pikiranmu. Kamarmu masih sama seperti saat kau tinggalkan dulu. Tenangkan pikiranmu dulu ya nak. Pikirkan semuanya baik-baik." Ibu Rahma mengantarkan Elena masuk kamar dan membantunya berbaring. "Nanti ibu akan mengantarkan segelas teh panas ke kamarmu." gumamnya sebelum menyelimuti Elena dan melangkah pergi keluar kamar.

***

Rafael yang sedang menyetir tanpa arah, mencari Elena tidak bisa menemukannya. Dia teringat kepada asrama itu, dan menyadari bahwa Elena belum mengetahui hubungan Rafael dengan Ibu Rahma. Kemungkinan besar Elena pulang ke asramanya dulu. Rafael memutar balik arah mobilnya hendak menuju asrama ketika ponselnya berdering,

"Elena ada di sini." Suara Ibu Rahma yang lembut terdengar di seberang sana. Dan mata Rafael terpejam sejenak, merasakan kelegaan mengaliri tubuhnya mendengar informasi yang diterimanya. Tadi dia sudah cemas luar biasa. Pikirannya dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran negatif, takut kalau Elena nekad dan melakukan sesuatu di luar akal sehatnya. Mengetahui kalau Elena sudah aman di asrama sungguh melegakannya.

"Apakah dia baik-baik saja, ibu?"

"Dia datang dan menangis, ibu sudah menenangkannya dan sekarang dia beristirahat di kamarnya. Dia sudah tahu semuanya."

"Sebuah insiden membuatnya mengetahui semuanya, dan Elena salah paham, mengira saya menipunya, karena dia mengetahui semuanya bukan dari saya." Rafael menjelaskan dengan singkat kepada Ibu Rahma, lalu makin mempercepat laju mobilnya, "Saya akan segera datang untuk menjemputnya."

"Menurut ibu jangan dulu." Ibu Rahma berucap dengan hati-hati, "Dia masih sangat kalut dan emosional, ibu takut kalau nak Rafael datang menjemputnya sekarang, itu akan mendorong Elena untuk kabur lagi. Lebih baik kita biarkan dia tenang dulu. Setelah dia tenang ibu akan mencoba mengajaknya berbicara. Baru setelah itu nak Rafael bisa datang kemari untuk menjemputnya."

Benak Rafael menolak saran itu. Dia sudah tidak tahan ingin menemui Elena, menjelaskan kepadanya, kalau perlu mengguncang-guncangnya agar perempuan itu mau menerima penjelasannya. Dia tidak apa-apa dibenci Elena, dia tidak apa-apa kalau Elena tidak mau memaafkannya. Tetapi Rafael tidak mau kalau Elena tidak mempercayai bahwa Rafael sungguh-sungguh mencintainya. Untuk yang satu itu, Rafael harus menjelaskannya kepada Elena, membuat perempuan itu percaya kepadanya.

Tetapi logikanya tahu bahwa saran Ibu Rahma ada benarnya juga. Elena tidak akan mau menerima penjelasannya kalau dia sedang kalut dan emosi. Percuma saja, Rafael menjelaskan dengan cara apapun, Elena tidak akan mau mendengarnya. Dia harus menunggu Elena berkepala dingin, sehingga mereka bisa berdiskusi dan tidak saling melemparkan kemarahan dan perdebatan satu sama lain.

Rafael berharap dia masih punya kesempatan. Kesempatan menjelaskan kepada Elena, kesempatan untuk didengarkan. Dan untuk yang satu itu, Rafael rela menunggu.

"Baik Ibu Rahma, Saya akan menunggu. Tolong kabari saya kalau Elena sudah siap untuk saya jemput." Lelaki itu menghela napas panjang, lalu menegarkan hatinya, dan memutar balik kembali mobilnya. Pulang ke arah rumahnya. Dia akan menunggu. Dan semoga penantiannya ini berujung bahagia.

***

Elena duduk di dalam kamarnya dan menghitung-hitung. Tabungannya lebih daripada cukup untuk memulai hidup baru. Selama ini dia selalu menabung, sejak mahasiswa dan bekerja sambilan dia selalu menyimpan uangnya dengan hati-hati sedikit demi sedikit. Beruntung dia bisa mendapatkan beasiswa untuk sekolahnya, dan beberapa keberuntungan lainnya, sehingga pada akhirnya Elena bisa menabung sampai mencapai jumlah uang yang cukup.

Sudah mantapkah dia? Elena membatin dalam hatinya, menanyakan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. Sudah mantapkah dia melangkah menjauh dan tidak menoleh lagi? Meninggalkan semuanya?

Kenangan itu masih terpatri jelas di benaknya, silih berganti muncul meskipun Elena berusaha mengusirnya. Kenangan tentang Rafael. Senyumannya, kata-kata menggodanya, bisikan penuh gairahnya...semua tentang Rafael Alexander yang dicintainya. Bisakah dia hidup dengan pengetahuan bahwa dia telah membuang semua itu? Mampukah dia?

Tetapi Rafael Alexander bagaimanapun juga, adalah pembunuh ayahnya. Lelaki itu adalah lelaki yang pernah membuat Elena berjanji tidak akan pernah memaafkannya...

Kepalanya terasa pening dan dia memijat pelipisnya kebingungan. Ah. Ya Tuhan, kenapa cinta bisa menjadi begini rumit? Kenapa dia tidak bisa seperti orang-orang biasa, yang berpacaran, menikah lalu hidup bahagia?

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk pelan, suara Ibu Rahma memanggil di sana,

"Elena, kau sudah bangun?"

Elena sudah bangun sejak lama karena tidurnya dipenuhi mimpi buruk, dan dia sudah mandi.

"Sudah ibu." Elena membuka pintunya untuk Ibu Rahma dan tersenyum, "Maafkan kelakuan saya tadi ibu."

Ibu Rahma tersenyum pengertian, "Tidak apa-apa nak. Ibu mengerti perasaanmu. Mungkin nanti setelah kau lebih tenang, kita bisa berbicara...tapi sekarang ada tamu untukmu."

Elena langsung menegang. Rafael? Bodohnya dia. Rafael pasti tahu kalau dia kabur ke asrama ini, memangnya Elena mau kemana lagi? Tetapi Elena tidak siap bertemu Rafael. Dia masih marah, dia benci. Lagipula Elena sudah menyiapkan hati untuk meninggalkan Rafael dan tidak akan bertemu dengannya lagi.

"Kalau tamunya Rafael, aku tidak mau menemuinya." Elena berbisik lirik, panik. "Tolong ibu, aku tidak mau..."

Ibu Rahma menggeleng, tersenyum lembut kepada Elena, "Bukan Elena, tamunya perempuan."

***

"Begitu melihatnya Elena langsung tahu siapa perempuan itu. Perempuan Spanyol dengan tubuh yang indah dan kecantikan eksotis yang luar biasa, tetap cantik meskipun usianya sudah separuh baya. Bentuk bibirnya yang seksi berpadu dengan hidung mancung khasnya, dan mata lebar seperti kijang yang luar biasa cantik.

Perempuan ini adalah mama Rafael.

"Kita belum berkenalan." Nyonya Sophia Alexander berdiri dari kursi ruang tamu asrama, "Aku mama Rafael, kau bisa memanggilku mama, atau Sophia, apapun yang membuatmu nyaman." Dia menatap wajah Elena dengan lembut, "Sangat disayangkan kita tidak bisa bertemu sebelum pernikahan kalian. Tetapi aku memberikan restu untuk kalian berdua."

Apa yang dilakukan mama Rafael di sini? Apakah Rafael mengirimkan mamanya untuk membujuknya?

Elena masih terpaku di ambang pintu ruang tamu sehingga, Nyonya Sophia mempersilahkannya duduk, "Maukah engkau duduk, Elena? Aku harap kita bisa sedikit bercakap-cakap."

Bagai terhipnotis, Elena melangkah duduk di depan mama Rafael.

"Kalau kau bertanya-tanya, Rafael tidak tahu kalau aku datang kemari, dia bahkan mungkin tidak tahu kalau aku sudah pulang dari Spanyol. Victoria meneleponku dan aku langsung mengambil penerbangan pertama untuk menemuimu."

Senyum Nyonya Sophia mengingatkannya akan sebuah kenangan yang jauh di masa lalunya. Kenangan menyedihkan itu, sepuluh tahun yang lalu..

"Anda waktu itu datang ke pemakaman."

"Ya. Aku datang ke pemakaman, bersama suamiku. Kau mungkin membenci Rafael karena dia tidak datang dan baru datang setelah beberapa lama. Aku minta maaf untuknya Elena, Rafael waktu itu terluka parah dan harus menjalani operasi Limfa."

Rafael menjalani operasi? Itu informasi baru yang tidak pernah diketahuinya sebelumnya. Elena mengalihkan pandangan dan mencuri pandang ke arah wajah Nyonya Sophia, dia masih ingat wajah itu, meskipun sekarang sudah ada tambahan guratan usia selama sepuluh tahun. Wajah itu masih tetap sama, dengan kecantikan eksotis yang tak mudah dilupakan.

Nyonya Sophia datang bersama suaminya setelah pemakaman, menawarkan kepada Elena dan ibunya, apa yang mereka sebut sebagai uang permintaan maaf. Waktu itu ibunya menolaknya mentah-mentah dan melemparkan uang itu – dalam arti sebenarnya – kepada pasangan suami-istri itu. Pasangan itu akhirnya pergi dengan rasa malu.

"Kenangan kita di masa lalu tidak cukup menyenangkan ya Elena?" Nyonya Sophia tersenyum, memahami apa yang ada di benak Elena, "Dan bahkan sekarangpun ketika diingat, hal itu masih terasa menyesakkan dada." Nyonya Sophia menghela napas panjang, "Semua yang terjadi sebenarnya berawal dari kesalahan kami. Semua salahku dan papa Rafael yang membesarkan Rafael tanpa kasih sayang. Kami berdua terlalu sibuk dengan urusan bisnis masing-masing, hingga kami melupakan bahwa kami memiliki anak yang membutuhkan perhatian...." Mata Nyonya Sophia berkaca-kaca. "Kami berusaha menggantikan perhatian dan kasih sayang itu dengan uang. Merasa bahwa itu semua sudah cukup. Tetapi Rafael tumbuh menjadi seorang pemberontak, selalu membuat ulah...membuat masalah, yang pada akhirnya kami tahu, itu semua hanya untuk memancing perhatian kami..."

Elena bisa membayangkan itu semua. Anak-anak keluarga kaya yang tidak pernah menerima kasih sayang orang tuanya, melarikan diri pada kenakalan-kenakalan yang merusak. Dia tumbuh di keluarga miskin harta, tetapi penuh kasih sayang. Dan dia mensyukurinya. Tanpa sadar dia merasa kasihan kepada Rafael. Tumbuh dikelilingi harta tapi harus bebuat onar untuk mencari perhatian orang tuanya.

"Puncaknya malam itu, ketika polisi datang dan mengabari bahwa Rafael mengalami kecelakaan, kondisinya kritis dan kami hampir kehilangannya. Pada saat kalut itulah kami menyadari bahwa kecelakaan itu telah menelan korban, seorang lelaki yang mungkin juga mempunyai keluarga." Nyonya Sophia menatap Elena dengan sedih, "Kami semua menanggung rasa bersalah itu Elena, tetapi Rafael yang paling berat menanggungnya..."

Ketika Elena tidak berkata apa-apa, Nyonya Rafael melanjutkan. "Ketika hari itu kau mengusirnya, mengatakan membencinya, mengatakan bahwa dia manusia yang tidak ada harganya. Kau sudah mengetuk nuraninya yang paling dalam. Sejak itu Rafael berubah, dia menjadi pribadi yang bertanggungjawab, dia menjadi seseorang yang hidup dengan satu tujuan. Meskipun dia menjalani semuanya dengan penuh kepedihan." Mata Nyonya Sophia mengerjap, menahan air matanya yang akan tumpah, "Rafael telah menghukum dirinya sendiri setelah kejadian itu Elena, dia telah menerima hukumannya."

Elena memalingkan mukanya, tiba-tiba matanya terasa panas. Benarkah itu semua? Benarkah kejadian kecelakaan itu telah menggugah rasa bersalah Rafael?

"Aku pikir sebenarnya yang diinginkan Rafael adalah menjadi pahlawan untukmu...menebus semua kesalahannya. Aku tidak bisa menjelaskan apapun kepadamu. Tetapi kau harus yakin Elena, bahwa semua yang dilakukan Rafael kepadamu, itu karena dia mencintaimu." Nyonya Sophia menyusut air matanya, kemudian beranjak berdiri. Elena mengikutinya berdiri.

"Aku harap kau mau mempertimbangkan semua kata-kataku tadi."

Elena mengernyit, mencoba bersuara meskipun tertahan, "Saya...saya akan memikirkannya."

"Terima kasih Elena." Dengan gerakan spontan, Nyonya Sophia merengkuh Elena ke dalam pelukannya, "Aku sangat senang menerimamu sebagai menantuku."

Kemudian perempuan itu pergi. Meninggalkan aroma wangi vanilla yang sangat elegan di ruang tamu itu.

***

"Kau harus makan Elena." Ibu Rahma meletakkan sepiring makanan yang masih panas di depan Elena, "Ayo cobalah meskipun cuma beberapa suap saja."

Elena melirik makanan di piring itu. Makanan itu enak, dan kalau dia tidak sedang pusing. Aromanya yang wangi pasti akan bisa menerbitkan air liurnya. Tetapi saat itu Elena merasa pusing, dan tidak ingin makan. Tetapi dilihatnya Ibu Rahma menatapnya penuh harap, wanita yang sudah seperti ibunya ini tentunya sudah repot-repot memasakkan makanan ini untuknya. Elena tidak mau mengecewakannya.

Hanya demi menyenangkan Ibu Rahma, dia mengambil piring itu dan menyuap makanannya. Perutnya yang sudah seharian tidak diisi menyambutnya dengan rasa mual yang luar biasa. Tetapi Elena menahannya. Dia tetap menyantap makanan itu hingga empat suap, kemudian menyerah, menatap Ibu Rahma dengan tatapan menyesal,

"Maafkan saya, ibu."

Ibu Rahma tersenyum dan mengangguk penuh pengertian, "Tidak apa-apa, yang penting perutmu terisi." Ibu Rahma menatap Elena dan menarik kesimpulan, menilik dari sikap Elena dan pada kenyataannya Elena melarikan diri ke asrama ini, sepertinya Elena masih tidak tahu bahwa Ibu Rahma ada hubungannya dengan Rafael. Bahwa semuanya sudah diatur oleh Rafael. Ibu Rahma sebenarnya sudah menimbang-nimbang untuk berterus terang kepada Elena, tetapi kemudian mengurungkan niatnya. Sekarang ini permasalahan antara Rafael dan Elena sudah rumit, dia tidak mau menambahkan permasalahan baru di antara mereka. Lagipula mengenai hal ini, mungkin nanti Rafael sendiri yang akan menjelaskannya kepada Elena, "Bagaimana perasaanmu?"

Elena menghela napas panjang, "Saya baik-baik saja ibu."

"Tamumu tadi, dia ibu Rafael kan?"

Elena menganggukkan kepalanya. Ekspresinya tetap datar hingga Ibu Rahma harus bertanya lagi,

"Apakah dia berhasil mengubah pandanganmu?"

Elena merenung. Apakah Mamanya Rafael berhasil merubah pandangannya? Mungkin. Mama Rafael memberitahukan hal baru, bahwa Rafael hidup dengan rasa bersalah. Perempuan itu juga berusaha meyakinkan bahwa Rafael benar-benar mencintai Elena. Tetapi benarkah itu semua? Jauh di dalam hatinya, Elena menyadari masih ada perasaan hangat itu ketika mengingat Rafael. Tetapi ada juga kebencian yang muncul ketika mengingat bahwa laki-laki itulah yang telah menyebabkan kematian ayahnya. Hal itu membuat Elena bingung dan tak tahu harus bagaimana.

***

Dini hari Elena terbangun dengan rasa mual yang amat sangat. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Perutnya terasa sakit dan kepalanya pening.

Dengan napas terengah dia mencuci mukanya dan melangkah gontai ke kamar, lalu membaringkan dirinya di ranjang. Tamu bulanannya belum datang, entah sudah berapa lama. Elena menghitung dalam hati. Dan kemudian merasa cemas ketika menemukan bahwa dia sudah terlambat hampir satu minggu. Pusing dan mual-mual itu...apakah dia hamil?

Oh...Astaga. Elena mengusap perutnya dengan gugup. Bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Mengandung anak Rafael? Apa yang harus dia lakukan? Kalau dia memang benar-benar ingin kabur dan pergi menjauh, dia harus mengubah semua rencananya. Kehamilan ini merupakan pertimbangan yang sangat penting. Elena akan susah mencari pekerjaan kalau perutnya membesar. Dan siapa yang akan menjaganya ketika kandungannya sudah terlalu besar?

Matanya nyalang menatap ke arah langit-langit kamar. Dia harus membeli testpack besok pagi, dan memastikannya dulu. Baru setelah itu dia akan memikirkan langkah selanjutnya.

***

Rafael bersedekap dan menatap mamanya yang cantik,

"Mama menemui Elena?"

"Ya." Sang mama menatapnya meminta maaf, "Maafkan kalau mama tidak minta izin sebelumnya kepadamu. Mama memang impulsif. Tetapi setidaknya dia mau mendengarkan penjelasan dari sisi mama."

"Bagaimana keadaannya?" Rafael berbisik lirih, membayangkan Elena membuat jantungnya berdenyut. Dia merindukan perempuan itu, merindukan istrinya. Setiap malam dia terbangun, berusaha mencari tubuh hangat Elena untuk dia peluk, tetapi perempuan itu tidak ada. Kemudian dia merasakan kekosongan yang sangat dalam di dalam jiwanya, dan terjaga sepanjang malam.

"Dia baik-baik saja, matanya sembab karena banyak menangis." Sang mama menatap anaknya yang tampak menderita, "Kau sendiri, bagaimana keadaanmu?"

"Aku bisa bertahan." Rafael mencoba tersenyum, "Nanti kalau sudah waktunya, aku akan menjemput Elena."

"Semoga kau bisa melunakkan hatinya." Mama Rafael berucap setulus hatinya. Demi Rafael. Anaknya itu sudah hidup dengan menanggung perasaan bersalah yang semakin lama semakin berat dipikulnya. Dia, sebagai seorang ibu, tidak akan sanggup kalau harus melihat beban itu ditambahi lagi dengan ‘patah hati’.

***

Pagi-pagi sekali Elena sudah berjalan menuju apotek yang terletak beberapa meter dari kompleks asrama, untunglah apotek itu buka dua puluh empat jam. Jadi Elena tidak sia-sia berjalan. Sepulangnya, dengan hati-hati dia membuka alat itu dan mengikuti instruksinya.

Dia harus menunggu selama tiga menit untuk memperoleh hasilnya. Dengan jantung berdebar dipandanginya alat itu sambil menghitung angka satu sampai seratus delapan puluh.  Ketika sudah selesai, Elena mengintip alat itu.

Jantungnya berdenyut kencang. Oh Astaga. Dia benar-benar positif hamil. Mengandung anak Rafael Alexander.

***

"Ibu Rahma...aku...sepertinya aku hamil." Wajah Elena pucat pasi, dia mendatangi satu-satunya wanita yang bisa membantunya saat ini.

Ibu Rahma tampak terperanjat, tetapi dia lalu melihat hasil testpack yang ditunjukkan oleh Elena. Matanya bersinar lembut,

"Oh Elena. Selamat sayang, kau akan menjadi ibu."

Elena meringis mendengar ucapan selamat dari Ibu Rahma, dipeluknya tubuhnya dengan bingung,

"Ibu...saya bingung, saya harus bagaimana?"

"Kenapa kau bingung? Bayi itu mungkin suatu pertanda bahwa kau harus mempertimbangkan kembali hubunganmu dengan Rafael. Kalian akan mempunyai seorang anak, bukankah itu bisa menjadi pertimbangan penting?"

Elena mendesah, menatap ke sekeliling dengan gelisah, "Tetapi saya...saya berencana untuk pergi dan memulai hidup baru..."

"Pergi?" Ibu Rahma membelalakkan matanya, "Apa maksudmu Elena?"

"Saya berencana untuk pergi meninggalkan semua ini. Memutuskan hubungan dengan seluruh masa lalu saya."

"Astaga Elena, pikirkan dulu baik-baik sebelum memutuskan seperti itu. Kau sudah menikah dan bersuami. Bagaimana mungkin kau meninggalkan semuanya?"

"Saya takut ibu...Rafael telah memulai semua dengan kebohongan. Bagaimana mungkin saya melanjutkan pernikahan yang didasari dengan kebohongan?"

Ibu Rahma menghela napas panjang, "Elena. Entah itu didasari kebohongan atau tidak. Saat ini ada seorang anak yang akan hadir di antara kalian yang harus kau pikirkan. Kau akan menjadi seorang ibu, itu adalah tanggung jawab yang besar. Dan aku yakin, kalau kau mau memberi Rafael kesempatan, kalian bisa menyelesaikan permasalahan ini."

Tanpa sadar Elena mengelus perutnya, merasa bingung. Apakah dia seharusnya memberi Rafael kesempatan lagi untuk menjelaskan?

***

Elena bangun dari tidur siangnya dan mencari Ibu Rahma, dia hendak meminta Ibu Rahma mengantarkannya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dengan langkah pelan dia melangkah menuju kamar Ibu Rahma.

Asrama ini memang sedang sepi, karena menginjak liburan semester. Banyak penghuni asrama yang memanfaatkan liburan ini untuk pulang kampung ke rumah orang tua masing-masing.  Ada dua atau tiga mahasiswi yang masih tinggal karena sedang mengejar penyelesaian skripsi mereka. Jadi tidak banyak kegiatan di dalam asrama untuk beberapa waktu ke depannya.

Elena hendak mengetuk pintu kamar ibu Rahma yang setengah terbuka itu ketika dia mendengar suara Ibu Rahma yang cukup jelas, sedang bercakap-cakap ditelepon. Sebenarnya Elena ingin melangkah pergi dan akan kembali nanti kalau Ibu Rahma sudah selesai. Tetapi suara percakapan Ibu Rahma itu menahan langkahnya, membuatnya tertegun.

"Hasil testpacknya positif nak Rafael." Ibu Rahma bergumam kepada orang yang diajaknya bicara, "Elena menunjukkan kepada saya. Dia sudah hampir pasti hamil."

Ibu Rahma berbicara dengan Rafael?

Hening sejenak, tampak Ibu Rahma mendengarkan suara Rafael di seberang, lalu dia menjawab.

"Saya rasa anda harus menjemput Elena sekarang, menemuinya dan mencoba meluluhkan hatinya, ini waktu yang tepat, anak itu bisa menjadi pertimbangan penting bagi anda untuk meminta Elena kembali kepada anda." Ibu Rahma terdiam, mendengarkan, lalu ada senyum pada suaranya ketika berbicara, "Ya.. ya.. saya mengerti nak Rafael, tidak apa-apa. Nak Rafael tidak pernah merepotkan saya. Sejak awal ketika saya menyetujui untuk membantu nak Rafael menyediakan tempat tinggal bagi Elena, saya sudah berniat melakukannya dengan sepenuh hati. Salam untuk Nyonya Sophia, saya akan mampir akhir minggu ini untuk memberikan laporan keuangan tentang asrama ini dan beberapa asrama lainnya kepadanya."

Elena sudah tidak tahan lagi, dia melangkah pergi dengan gemetar. Ketika sampai di kamar, dia menutupnya dan bersandar bingung di pintu. Apa yang didengarnya tadi itu?

Jadi selama ini Ibu Rahma merupakan kenalan Rafael? Kaki tangannya? Jadi asrama ini tidak didapatkannya karena keberuntungan? Menilik kata-kata Ibu Rahma di telepon tadi, asrama ini adalah milik Mama Rafael....Apakah semua yang ada di hidupnya adalah hasil campur tangan Rafael?

Lelaki itu bertindak seolah-olah Tuhan, mengatur kehidupan Elena, mengarahkan Elena harus bagaimana dan ke mana sesuai dengan skenarionya. Sebuah kebohongan lagi, entah berapa kebohongan lagi yang dilakukan Rafael kepadanya?

Well, kali ini Rafael tidak akan mendapatkan mendapatkan apa yang dia mau. Elena akan menunjukkan bahwa dia bukan boneka yang bisa diarahkan semau Rafael, sesuai skenario dan keinginan laki laki itu.

Dengan cepat Elena berkemas. Dia akan meninggalkan semuanya. Rafael tidak akan pernah bisa menemukannya lagi, ataupun mencoba mengatur kehidupannya lagi.


Poskan Komentar

39 comments

yah elena,jgn gt.ada anak rafael,ksian anknya.elena :(( mksh mba santhy n mas mimin

Wew, bikin penasaran aza... Btw, thx tuk postingnya. En...., jempol buat Mbak Santy.

Oh..oh... elena..please jangan pergi
hiks.. hiks..

thanks PN

hah, kok malah tambah galau ya? Aduh, sabar ya rafael... Thank u mbak santhy and mas mimin *lope*

@all hayooo udah ditambahin bonus 1 part nih hihihihi kira2 mau minta part berikutnya lagi nggak yaah *sipin pisau om Lucas buat dilempar* hehehehe
semoga semua senang yaaaaah elena hamiilll ayooo pulang naaak *ikutin gaya ibu rahma*

Ya mbak santhy, kok makin galau..
Elena.. jangan pergi.. kan kasian anaknya rafael.
Sedihhh...
Thanks ya mbak santhy n mas admin yg baek hati n tidak sombong dah diposting..

Hiks..hiks..hiks

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

huaaaa mas admin tambah lg dund bwt UH nyaaa....penasaraaaaannn
keknya perlu ngulang baca nih biar makin ngena antara rafael n elena..hohoho
mba santhy keren abbizz ceritanya...mas yudi mksh bikin sy penasaran sore" gini..

Yaaaaahhh mkin penasaran mba san

Congratulation ELenaaaaa..
tp sayang, kasihan Rafael, pasti sedih bgt jauh dari Elena..
oh my goooddd.. Elena ngedenger pembicaraan bu Rahma..
pasti Elena kabur nih..
Rafaeeell.. buruan dataaang, jgn sampe ELena menghilang dan ga ketemu...

makasih mas yudiii..
and thank so much to our beloved author, mbak Santhy... *kecuuuppss

Huuwaaa....di lanjutin kok nalah makin penasaran sih..:'( elena jgn pergi ya.. Hikshiks..:'
mb shan sungguh teganya dirimu..'([
...
Thx mas yudi mb shan...

mbak Santhyyyyyyyyyyyyy..
klo aku mnta Next Part UH sama FTDS lgsg 2 bab malam ini, gmn mbak?? boleh bole boleh?? *pake gaya upin ipin...
hihihihihihi... *kedip2 centil

mau mau mau mau mau!? Mbak santhy FTDS khukhu penasaran tingkat akut jga ama lucas :D

yeaayyy thank youu udah di post :D
ga sabar nunggu bab selanjutnya hihi :3

maksih ya min...tumben nih cepet uploadnya...he..he...

waaahhh,,, makasih mbak santy n mimin PN,, gk nyangka dapat bonus hari ini,, hehehe
buat elena,,, aduhh jgn pergi dong,,,, kasian anak mu,,, hehehe

Mwu bangeeeet Mbak tpi jangan dilempar pake pisaunya om lucas dunk. Sadisss..
He..he..he..
Makasih mbak santhy cantikkk.
Peluk cium mbak santhy..

Wahh makin penasaraannn!!!!
Moderatorrr....
Mb Shantyyyy....
Upload lagi donk!!!! Hehehe gak puas2 nih

Huaaaaa,,,,mksh,,mksh,,mksh,,,mksh buanyaaakkkkk Mba Santhy,,,,
Ummm,,pgn lagi tp msh bs sabar deh(drpd kena piso Om Lucas) hehehe
Haduuhhh,,Elenaaaaaaa gmn sih crny biar sdar??hukz,,hukz...
Mksh banyaaakkkk yh Mba Santhy n Mas Yudi...

wow baca 2 part skligus .. tp bbkin esmosi bngeet mba !!trnyata elena bner2 kras kpla yah .. ampuun deh !!msti sbar nunggu part slanjutnya ..slamat yah rafael elena hamil ... jgan mnyerah yah ttap smangaatt

Congratz Elena atas kehamilan mu..

Jagn pergi donk.. Ksihan Rafael ;( ksih kesemptan lah uat rafael..!
di tunggu bgt next chap'y ;)

Mas yudi nambah dunk... hehehe...mak nyoosss.... makin penasaran!!!! trimakacihhh10000x

Hamillll.... Ana hamil, si elena juga hamill,,, waaaahhh mantap. Ceritanya makin bikin penasaran,,, makasih mba santy n ms adm,

mba snthy n mas admin postng chptr brkutx lg dnk. pnasarannnnn...trms

mba snthy n mas admin postng chptr brkutx lg dnk. pnasarannnnn...trms

Elena maapin rafael yahhh..jgn kabur lg tar rafael binun hrs cari kmn lg..:(
Mba santhy n mas yudi thanks yahh

wah hamil? semuanya pada hamil tapi pada galau... ayo darkest sidenya, tambah bab dong. penasarannnnn.....

thanks ya mba santy sama mas yudi..

duh Elena mau pergi kmn lagi tuh?? Kak Santhy Agatha, klo bisa besok update lg yah hehe

tuh kan padahal elena uda mau memberi kesempatan kedua sama rafael tapi gak jadi gara2 dengar percakapan telfon ibu rahma dan rafael.
next mba santhy

Kyaaaa!!!! Doaku terwujud! Elena hamil! Hyaaaaaaa, udah seneng2nya nambah lagi masalah -____-
Haduh bu Rahma, cerobohnya dirimu :(
Padahal Elena udh hampir mau balik lagi ke Rafael. Astagaaa, menguras emosi pembaca banget ya ini cerita. Jadi gak sabar nunggu bukunya nyampe rumah.

Semangat buat kak santhy! Good job and nice story. (•ˆ⌣ˆ•)

mksi postingan nya mbak.. ,
kayanya msalah ngak prnah brhenti, mdah2an elena bisa berubah pikiran.. ,

ihhhh,kesel dech aku ama elena kan kasihan rafaelnya, dia kan dah menghukum dirinya seumur hidup, elena maafkan ya abang rafael,ckckckckck pleases *jebaaaalllllllllllll*

jangan pergi donk elena, kasian rafael dia sangat mencintaimu...
mbg santy masih mau lagi lanjutannya,,,,*sembunyi dbalik pohon takut kena pisau lucas
thanks mba santy n mas mimin....

mudah"an rafael menemukan elena sebelum terlambat,,,
makasih mba santhy
makasih mas yudi

waduuuh

elena makin emosi

huhuhu u,u

rafael cepet datang doong
cegah elena dan anakmu pergi.

lanjut mabk
makin deg-degan bacanya.

yaahh kan ketauan jg akhirnyah~~ T___T
makin rumit dehh~~ heuheuheu..
makasii mba santhy n pn :*

nyesek...
huwaaa itu babynya kasihan T___T

chapter selanjutnya kapan ini.. hiks...
huweeee makin runyam

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top