25

uh-thumb
Perkataan Edo itu membuat Elena terperanjat kaget, wajahnya memucat,

"Apa katamu?"

"Aku tidak asal bicara Elena, aku mempunyai bukti." Edo mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya. "Kau tentu punya beberapa pertanyaan, kenapa kau bisa dengan mudahnya masuk ke perusahaan milik Rafael, kenapa dia dengan mudahnya menikahimu....semuanya ada alasannya. Rafael adalah orang yang sama, yang mobilnya menabrak mobil ayahmu hingga tewas sepuluh tahun lalu."

"Apa?" Elena sebenarnya sudah bisa mencerna seluruh perkataan Edo. Benaknya sudah menemukan kesimpulan dari apa yang dikatakan Edo. Tetapi hatinya berteriak, menolak untuk percaya begitu saja.

"Kau ingat kan? Orang yang menabrak ayahmu itu juga bernama Rafael, anak pengusaha kaya yang lolos begitu saja karena mereka mempunyai banyak uang." Edo memberondong Elena dengan semua informasi, "Rafael yang kau nikahi itu adalah Rafael yang sama, anak kaya yang mabuk dan mengebut, lalu menerobos lampu merah dan menabrak ayahmu yang tidak bersalah."

"Tidak...tidak mungkin..."

"Aku sudah menyelidikinya untukmu." Edo membuka berkas-berkasnya dan menunjukkannya kepada Elena dengan bersemangat, "Lihat artikel koran ini. Ini beberapa artikel yang aku cetak dari data history di perpustakaan nasional, artikel-artikel ini membahas tentang kecelakaan yang dialami oleh ayahmu dan Rafael, lihat di sini, disebutkan, ‘Putra milyuner bernama Rafael Alexander’ Kau pikir ada berapa milyuner yang bernama Rafael Alexander di negara ini? Kau harus mengerti Elena, semua ini adalah rencana gila Rafael Alexander, dia mungkin ingin menguasaimu ke dalam pernikahan entah dengan tujuan apa. Yang pasti, selama ini dia membohongimu."

Ingatan Elena melayang ke masa samar sepuluh tahun lalu. Ketika dia sedang berduka luar biasa, atas kematian ayahnya yang tidak adil, disusul oleh kematian ibunya yang sakit sejak ditinggalkan ayahnya. Elena sebatang kara di dunia dan merasa benci kepada lelaki bernama Rafael, anak orang kaya yang telah menghancurkan hidup keluarga kecilnya. Kemudian lelaki itu datang dengan sombongnya ke rumahnya, membawa bunga. Dan Elena menyerangnya, dia tidak ingat masa itu, dia tidak memperhatikan wajah lelaki itu, yang diingatnya adalah dia melampiaskan seluruh kemarahan dan kebenciannya kepada lelaki yang membunuh ayahnya. Dan kemudian lelaki itu pergi. Tidak pernah muncul lagi di dalam kehidupannya. Rafael Alexander..... suaminya?

Jantungnya berdegup dengan kencang dan tangannya mulai gemetaran. Oh Astaga. Seharusnya dia menyadarinya. Nama mereka sama. Dan sikap Rafael seharusnya membuatnya curiga. Lelaki itu terburu-buru menikahinya, untuk apa? Rafael mengatakan mencintainya, dan sekarang Elena ragu. Elena meragukan semuanya. Karena semuanya hanyalah kebohongan.

"Rafael sudah mengatur semuanya Elena. Malam itu aku dijebak. Alice sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa Rafael menyuruhnya membuatku mabuk dan merayuku. Dia ingin memisahkan kita berdua." Suara Edo terdengar muak, "Sepertinya dia memiliki obsesi terpendam untuk memilikimu. Dan rupanya dia berhasil. Karena dia berhasil menikahimu Elena. Tetapi aku mencari tahu dan aku menemukan rahasia ini. Kau hanya diperalat Elena, dan lelaki itu membohongimu."

Elena terpaku dengan wajah memucat. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Ditatapnya Edo tanpa ekspresi.

"Terima kasih Edo atas informasi yang kau berikan."

Reaksi tenang ini tentulah bukan yang diharapkan oleh Edo. Lelaki ini mengira Elena akan menangis kemudian dia bisa memeluknya dan menghiburnya, membuat Elena jatuh ke dalam jeratnya lagi. Tetapi Elena begitu tenang meski wajahnya pucat pasi dan matanya berkaca-kaca,

"Kau tidak apa-apa Elena sayang?" Edo berusaha meraih jemari Elena, tetapi Elena menghindarinya.

"Aku tidak apa-apa Edo, terima kasih atas informasi yang kau berikan kepadaku. Aku juga berterimakasih karena kau begitu perhatian dan mencemaskanku." Elena menghela napas panjang. "Setelah ini aku harap kita tidak akan bertemu lagi."

"Apa?" Edo terperanjat, setengah berdiri karena kaget, "Kenapa kau berkata begitu Elena? Tidak tahukah kau kalau aku sangat mencintai dan mencemaskanmu? Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan kembali kepada suamimu yang jelas-jelas sudah menipumu?"

Elena memasang wajah datar, "Urusanku dengan suamiku akan kami selesaikan nanti. Maafkan aku Edo."

"Kau bisa pergi bersamaku." Edo mengubah strateginya menjadi memohon, "Kumohon Elena, lelaki itu sudah menipumu. Kau bisa meninggalkannya dan pergi bersamaku. Aku akan menjagamu. Aku bersumpah."

Elena menggelengkan kepalanya dan tersenyum meminta maaf kepada Edo, "Perasaanku kepadamu sudah mati Edo... mungkin juga perasaan itu sebenarnya tidak pernah ada." Elena menatap Edo dengan pandangan sedih, "Maafkan aku Edo."

Edo terdiam lama dan menatap Elena dalam-dalam, mencoba mencari sesuatu yang bisa menunjukkan kalau Elena berubah pikiran. Tetapi wajah Elena tetap datar dan dia tidak menemukan apa-apa.

Akhirnya dia menghela napas panjang, "Kurasa aku harus menyerah."

Elena mengangguk, mengulangi permintaan maafnya, "Maafkan aku Edo, kau lelaki yang sungguh baik, dan aku yakin, kau akan menemukan orang yang tepat untukmu nanti."

Edo menghela napas lagi, sepertinya membawa beban yang sangat berat, "Aku hanya ingin kau bahagia Elena." Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, "Sebaiknya kutinggalkan berkas-berkas ini di sini, kalau-kalau kau ingin membacanya lebih lanjut. Selamat tinggal Elena."

Dengan langkah gontai, Edo melangkah meninggalkan Cafe itu. Meninggalkan Elena yang mulai merasakan pertahanannya runtuh, air mata mulai mengalir di pipinya, Tetapi dengan cepat dia mengusapnya, menyadari kalau dia berada di tempat umum.

Dengan cepat dia menelepon supir pribadinya, minta dijemput. Dia akan pulang, dan menghadapi Rafael.

***

Dalam perjalanan pulang Elena menangis, tertahan. Supir pribadinya berkali-kali melirik dari kaca spionnya, tetapi tidak berani mengganggu majikannya yang sedang menangis.

Elena menangis mengenang semuanya, mengenang segala kebaikan dan kelembutan Rafael, malam pertama mereka, percintaan-percintaan panasnya dengan Rafael sesudahnya. Semuanya ternyata berdasarkan atas kebohongan yang dibangun oleh Rafael.

Lelaki itu ternyata menyimpan rahasia mengerikan. Rahasia yang tak termaafkan. Elena mengingat malam itu. Ayahnya sebenarnya sedang sakit batuk, tetapi dia tetap berangkat membawa taksi karena butuh uang untuk membayar uang sekolah Elena, sementara sang ibu juga sedang demam di rumah.

Ingatannya melayang ke masa sepuluh tahun yang lalu,


"Ayah akan tetap berangkat?" Elena menyerahkan segelas teh panas kepada ayahnya, menatap cemas ayahnya yang terbatuk-batuk tanpa henti. Ayahnya sudah tua tetapi tidak bisa berhenti merokok. Sekarang paru-parunya yang ikut menua tidak bisa menanggung kalau harus berkubang asap setiap hari, sehingga membuat ayahnya batuk-batuk setiap saat.

Sang ayah tersenyum dan menatap Elena dengan lembut. Elena adalah puteri satu-satunya. Dan anaknya itu sungguh cemerlang di sekolahnya. Dia berjuang mati-matian untuk menyekolahkan anaknya itu, setidaknya Elena harus lulus SMU sehingga bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, masa depan yang lebih baik. Tidak seperti dirinya.

Uangnya sudah habis, kemarin untuk mengobatkan istrinya ke dokter dan membeli beberapa liter beras dan kebutuhan makanan di rumah. Dan besok Elena harus membayar uang sekolah. Mereka sudah terlambat membayar beberapa kali dan sekolah sudah mengeluarkan surat peringatan. Kalau sampai Elena tidak membayar lagi, dia akan dikeluarkan dari sekolahnya.

Ini malam minggu. Pasti ramai dan banyak yang akan menggunakan jasa taxinya. Uang pendapatannya bisa dia pinjam dulu untuk membayar uang sekolah Elena. Besok dia akan berputar seharian mencari pelanggan untuk mengganti uang setorannya itu kepada perusahaan Taksi.

"Uang ayah masih kurang untuk membayar sekolahmu, nak. Ayah akan mencari beberapa pelanggan malam ini. Malam ini pasti ramai. Badan ayah tidak apa-apa kok." Lelaki itu tersenyum lalu mengusap rambut Elena dengan penuh sayang, "Jagalah ibumu baik-baik ya."

Dan kemudian ayahnya pergi, Elena masih mengamati kepergian ayahnya waktu itu, melangkah melalui gang sempit di depan, menuju perusahaan taksi tempat taksinya diparkir.

Tubuh ayahnya sedikit bungkuk dan menua sebelum waktunya, karena beban hidup. Dan Elena mengamati punggung ayahnya yang makin jauh dan menghilang di ujung gang dengan menahan pedih. Betapa inginnya dia segera dewasa, bisa mencari uang sendiri sehingga bisa membantu kedua orang tuanya.

Tak diduganya itu adalah saat terakhir dia melihat ayahnya. Dini hari, pintunya diketuk oleh tetangga dan beberapa orang yang mengabarkan bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ditabrak oleh pengemudi mabuk tak bertanggung jawab yang menerobos lampu merah.

Ayahnya pulang sudah menjadi jenazah yang tak bernyawa. Dalam peti mati yang disegel rapat. Bahkan Elena tidak boleh melihat jenazah ayahnya di saat terakhirnya...

Dan saat itu ketika pemakaman ayahnya. Elena berjanji dalam hati. Dia tidak akan pernah memaafkan orang yang membunuh ayahnya....



Rafael Alexander adalah pembunuh ayahnya. Orang yang dia nikahi, yang dia kira dia cintai dan mencintainya adalah pembunuh ayahnya...

Lelaki itu merekayasa semuanya. Menjebak Elena ke dalam sebuah pernikahan yang entah dengan tujuan apa. Semua kebaikannya, semua kata-kata cintanya. Semua itu penuh kebohongan dan kepalsuan.

***

Rafael menyetir dalam perjalanan pulang, penuh tekad. Dia membawa seikat bunga mawar dan sekotak cokelat mahal berbungkus kertas keemasan dan berpita merah.

Malam ini dia akan mengaku kepada Elena.

Dia akan mengaku, lalu menyerahkan semua keputusan di tangan Elena. Dia akan menjelaskannya sejelas mungkin agar Elena tidak salah paham dan mengambil kesimpulan yang salah. Dia akan meyakinkan bahwa semua yang dilakukannya berasal dari rasa bersalah yang kemudian berkembang menjadi cinta. Pada akhirnya Elena akan menghargai kejujurannya, Rafael yakin itu. Rafael bergantung kepada keyakinan itu.

Sejujurnya dia ketakutan setengah mati, tidak tahan kalau harus menghadapi kebencian Elena. Kebencian yang menghancurkannya. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Membuat hatinya hancur lebur.

Ketika mobilnya diparkir di garasi, dia menatap ke arah rumah dan jantungnya berdegup kencang. Malam ini adalah malam penentuan. Diraihnya kotak cokelat dan bunga itu, lalu melangkah memasuki rumah.

Rumah sepi dan gelap. Rafael mengernyit. Biasanya Elena sudah menunggunya di ruang tamu, menyambutnya dengan ceria sambil bercerita tentang harinya lalu menodong Rafael untuk bercerita tentang harinya juga. Tetapi rumah terasa lengang dan sepi. Para pelayan pasti sudah tidur di bagian belakang rumah, di mana Elena?

Rafael melangkah menaiki tangga, membuka pintu kamarnya dengan pelan. Kamar itu gelap, dan setelah Rafael menyesuaikan matanya dengan kegelapan ruangan, dia menemukan Elena duduk di pinggir ranjang, menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.

"Elena? Kenapa?" Rafael melangkah masuk, dan seperti biasa berlutut di depan isterinya, disentuhnya dahi Elena dengan lembut, "Kau sakit?"

Elena memiringkan kepala, menghindari Rafael, sebuah gerakan refleks yang sama sekali tidak diduga oleh Rafael, isterinya menghindari sentuhannya? Kenapa? Apa yang terjadi?

"Elena?"

Ruangan itu gelap. Tetapi tatapan Elena yang ditimpakan kepada Rafael begitu tajam, penuh luka. Membuat jantung Rafael berdenyut cemas.

"Aku hanya menginginkan sebuh kebenaran. Jawab pertanyaanku Rafael..." Elena menghela nafas dalam-dalam, "Apakah kau orang yang menyebabkan kematian ayahku?"

Dunia seakan runtuh di bawah kakinya. Seketika itu juga. Seakan menelannya dan membuat rongga dadanya terasa sesak, sesak yang menyedihkan. Elena sudah tahu. Elena sudah tahu entah dari siapa, dan dia terlambat.

Apa yang harus dia lakukan? Istrinya ini pasti sekarang sangat membencinya, menolak sentuhannya. Muak kepadanya. Rafael menundukkan kepalanya, suaranya keluar penuh kepedihan.

"Ya Elena."

Jawaban singkat itu sudah cukup. Hati Elena hancur seketika itu juga. Air mata mengalir deras di pipinya, seluruh pertahanannya hancur, membuatnya luluh dan tidak berdaya. Jadi semuanya benar. Semua ini hanyalah kebohongan yang dibangun Rafael. Semua ini hanyalah kepalsuan.

"Kenapa kau membohongiku..." Elena terisak-isak dalam kepedihan, ‘Kau membohongiku, kau menipuku selama ini... dan aku.. dan aku bahkan mencintaimu! Oh Ya ampun! Betapa bodohnya aku!" Elena berdiri, menghindari kedekatan Rafael dan melangkah ke dekat jendela, "Teganya kau Rafael!"

Rafael merasakan kesakitan luar biasa melihat kesedihan Elena. Yah. Pada akhirnya yang dilakukannya hanyalah membuat Elena menangis sedih. Sama seperti sepuluh tahun lalu, yang bisa dilakukan Rafael hanyalah menghancurkan kehidupan Elena, membuat perempuan itu menangis. Dia memang jahat, dan sekuat apapun dia mencoba, dia memang tak termaafkan.

"Aku memang jahat Elena. Aku... aku tidak pernah bermaksud membohongimu. Aku .... aku hanya takut mengungkapkan semua kebenaran kepadamu, takut kau akan membenciku."

Rafael melangkah mendekati Elena, mencoba menyentuh dagu Elena, tetapi perempuan itu menepiskannya. Rafael tidak menyerah, dipegangnya kedua bahu Elena, cukup lembut tetapi kuat sehingga Elena tidak bisa melepaskan dirinya,

"Tatap aku sayang. Lihat aku. Biarpun semuanya hanya kebohongan. Tetapi cintaku padamu itu nyata. Tidak berartikah itu semua kepadamu? Aku membohongimu karena aku mencintaimu, karena aku sangat mencintaimu!"

"Aku tidak akan menerima cinta dari lelaki yang membunuh ayahku!" Elena berteriak, setengah menjerit, tidak tahan menerima pernyataan cinta Rafael yang bertubi-tubi, membuat hatinya lemah, "Pernikahan kita sudah berakhir Rafael, aku akan pergi."

"Jangan Elena!" Mata Rafael menyala, "Kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan meninggalkanku, seburuk apapun keadaan di antara kita. Kau sudah berjanji kepadaku!"

"Janji itu dibuat di atas kebohongan yang kau bangun!" Elena berteriak marah. "Kau pikir dengan melakukan semua ini aku akan memaafkanmu? Dengan menipuku? Berpura-pura mencintaiku? Kau pikir aku akan memaafkanmu karena telah membunuh ayahku?"

"Aku tidak berpura-pura mencintaimu!" suara Rafael meninggi. "Dan Demi Tuhan, aku tidak pernah menuntut maafmu atas dosaku kepadamu. Tidak Elena, aku tidak pernah menuntut maafmu karena aku tidak pantas, karena aku menyadari bahwa aku tak termaafkan!"

"Kau memang tidak termaafkan. Dan bagiku semua sudah selesai. Aku akan pergi." Elena melangkah hendak meninggalkan kamar itu. Tetapi Rafael menangkap tangannya dengan cepat, menahannya dengan keras.

"Lepaskan aku! Rafael! Kau menyakiti tanganku!" Elena menjerit berusaha meronta dari pegangan Rafael, tetapi lelaki itu menggenggam kedua lengannya dengan begitu kuat, pandangan lelaki itu tampak nyalang.

"Maafkan aku Elena. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau istriku! Kau tidak boleh meninggalkanku!" Rafael memegang lengan Elena dengan kencang, berusaha meredakan rontaannya.

"Pernikahan kita palsu, aku menganggapnya tidak pernah ada!"

"Teganya kau mengatakan itu!" Mata Rafael menyala marah, "Lalu kau anggap apa semua hal yang kita lalui kemarin? Malam pertama kita? Percintaan kita yang panas? Kasih sayang dan cinta yang kita bangun selama ini? Kau anggap apa itu semua?"

Elena merasa sakit mendengarkan perkataan Rafael itu, yang mengingatkannya akan saat-saat indah mereka. Rontaannya sudah berhenti. Tetapi Rafael masih mencekal kedua tangannya dengan kencang, takut dia melarikan diri. Air matanya masih mengalir, air mata sakit karena pengkhianatan sekaligus kepedihan yang dirasakannya.

"Semua itu sudah musnah Rafael. Aku membencimu. Amat sangat membencimu."

Elena melemparkan kata-kata itu hanya untuk menyakiti Rafael, dan efeknya sungguh luar biasa. Wajah Rafael pucat pasi. Ekspresinya seperti seseorang yang dihancurkan dari dalam. Lalu pandangan matanya menjadi kosong. Dia tersenyum pahit.

"Aku memang pantas untuk dibenci." Dengan tenang dia melepaskan cekalannya pada lengan Elena, "Dan kurasa tidak masalah kalau kau tambah membenciku. Toh kau sudah membenciku." Lelaki itu melangkah menuju pintu, dan menatap Elena dengan tajam, "Kau tidak akan kuizinkan meninggalkanku. Sampai kau tenang dan menuruti perkataanku. Aku terpaksa mengurungmu di kamar ini."

Lalu lelaki itu melangkah pergi meninggalkan kamar.

Elena masih tertegun di tengah ruangan mendengar perkataan Rafael ketika bunyi ‘klik’ terdengar dari pintu. Dia tersadar dan setengah berlari menuju pintu. Mencoba membuka pintu itu, tetapi tidak bisa. Pintunya dikunci dari luar, Rafael benar-benar mengurungnya!

"Buka pintunya!" Elena berteriak, menggedor-gedor pintu itu, "Buka pintunya Rafael! Kau jahat! Aku benci padamu!" Elena memukul dan menendang pintu itu sebagai pelampiasan rasa frustasinya. Pada akhirnya dia kelelahan dan jatuh terduduk, bersandar di pintu lalu menangis terisak-siak.

Kemarin kehidupannya terasa begitu sempurna dan indah. Kemarin sepertinya semuanya baik-baik saja. Dan dalam sekejap dia disadarkan bahwa semuanya tak seindah yang kelihatannya. Istana kebahagiaan itu perlahan-lahan runtuh dan hancur, hanya menyisakan puing-puingnya.

***

Rafael melangkah berderap meninggalkan kamar Elena, berusaha menulikan telinganya atas gedoran dan teriakan-teriakan Elena di pintu. Dia melangkah menuju ruang kerjanya. Duduk di sana dengan segala emosi memuncak di kepalanya.

Teriakan Elena terngiang-ngiang di telinganya. Pernyataan bahwa Elena membencinya. Sangat membencinya. Sama seperti sepuluh tahun lalu. Pada akhirnya Elena akan selalu membencinya.  Dengan frustasi Rafael memukul tembok ruang kerjanya sekuat tenaga, membuat buku-buku jarinya terluka, tetapi dia tidak mempedulikannya. Lelaki itu lalu jatuh terduduk di lantai. Dan menangis

Ini adalah kali kedua seorang Rafael Alexander menangis. Dan penyebabnya sama: Elena.

***

Rafael sebenarnya tidak ingin meninggalkan rumah, dia sudah bilang kepada Victoria untuk menggantikannya hari itu, karena dia ingin menjaga Elena. Dia tidak mungkin mengurung Elena terus-terusan. Mereka harus bicara. Nanti, setelah emosi Elena mereda. Tetapi pagi itu dia menemukan berkas-berkas di dalam map itu di meja ruang tamunya. Berkas itu berisi artikel-artikel yang memuat berita kecelakaan sepuluh tahun lalu.

Ada yang sengaja memberitahu Elena, untuk merusak pernikahan mereka. Dan Rafael tahu siapa orangnya. Di dalam map itu terlampir kartu anggota perpustakaan nasional atas nama Edo. Kurang ajar. Lelaki itu ternyata masih menjadi duri dalam daging dalam pernikahannya bersama Elena.

Dengan langkah berderap, Rafael turun dari mobilnya dan membiarkan supirnya memarkir mobilnya. Kemarahannya bergolak, seluruh emosi dan frustasinya bertumpuk, mencari pelampiasan. Langkahnya semakin cepat ketika dia mendekati ruangan IT Manager, tempat Edo seharusnya berada.

Edo ada di sana. Lelaki itu bahkan tidak sempat mengucapkan satu patah katapun karena Rafael langsung menerjangnya hingga terjengkang di lantai dan menghajarnya habis-habisan. Edo yang meskipun kaget pada awalnya, mencoba memberontak dan melawan, berhasil melemparkan satu atau dua pukulan ke bahu Rafael, yang kemudian dibalas dengan pukulan keras yang menohok mukanya, membuat kepalanya berdentam-dentam. Pada akhirnya, Edo bukan tandingan Rafael kalau harus bertarung satu lawan satu. Hasil akhirnya sudah bisa ditebak. Edo kalah, babak belur di lantai dengan wajah penuh lebam.

Rafael menarik kerah baju Edo dengan kasar, kemarahan menyala di matanya, membuat siapapun yang melihatnya takut. Begitupun Edo, Rafael seperti ingin membunuhnya, "Jangan pernah berani muncul lagi dalam kehidupanku dan Elena, aku akan mengawasimu mulai saat ini. Dan aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu.’ Rafael menggeram dengan nada mengerikan penuh ancaman kepada Edo, lalu membanting tubuh Edo yang terkulai ke lantai, dia melangkah dengan marah. Sebelum keluar, Rafael menoleh lagi dan menatap Edo dingin, "Oh ya. Ngomong-ngomong, kau dipecat."

Setelah itu Rafael meninggalkan ruangan Edo dengan pintu dibanting

***

"Kau bisa dituntut atas penganiayaan terhadap anak buah." Victoria menempelkan es batu di atas sudut bibir Rafael yang lebam, "Ya Tuhan kak, kau adalah lelaki paling berkepala dingin yang pernah kukenal, tak kusangka kau memilih menyelesaikan ini dengan cara barbar."

Rafael mengernyit dan memegang es batu di sudut bibirnya. Rasanya sakit. Lelaki sialan itu berhasil memukul bibirnya dalam usahanya membela diri tadi. Brengsek.

"Edo pantas menerimanya. Dia memberitahu Elena semuanya dengan tujuan jahat, dan entah racun apa lagi yang dia tanamkan ke dalam pikiran Elena." Rafael mendesis marah. "Sekarang isteriku membenciku."

"Kita kan sudah menduga ini akan terjadi Rafael." Victoria menarik napas panjang, "Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan pulang, dan menunggu sampai Elena sudah tenang. Semoga dia bisa menerima penjelasanku ketika dia sudah lebih berkepala dingin."

"Apakah menurutmu dia akan bisa memaafkanmu?"

Rafael mengernyit sedih, "Aku tidak tahu. Tetapi aku tidak bisa melepaskannya, Vicky. Aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya untuk melepaskannya." Rafael mengusap wajahnya dengan frustasi. "Kalau dia tidak bisa menerimaku, kalau dia tetap berusaha pergi dariku, aku akan membawanya ke pulau pribadiku dan menahannya di sana. Di sana dia tidak akan bisa pergi kemanapun." Gumam Rafael penuh tekad.

"Astaga kak." Victoria menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau tidak akan bisa mempertahankan pernikahan atas dasar pemaksaan."

"Aku tidak tahu harus bagaimana." Rafael menghela napas panjang, "Aku tidak tahu harus bagaimana Vicky. Dia bilang dia membenciku dan akan meninggalkanku."

Victoria mendekati Rafael dan menepuk pundaknya lembut untuk memberikan dukungan,

"Pulanglah kak. Mari kita berdoa semoga Elena bisa melupakan kemarahannya dan memikirkan semuanya dengan logika."

***

Ketika sampai ke pintu rumahnya, Rafael disambut oleh pelayannya yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan cemas.

"Tuan Rafael!"

Firasat buruk langsung memenuhi benak Rafael, "Ada apa?" suaranya menjadi parau.

"Nyonya Elena tuan, beliau pergi dari rumah. Kami sudah mencoba menahannya. Tetapi ketika salah satu pelayan mengantarkan makanan ke kamarnya, dia memaksa mengambil kunci kamar. Kemudian pergi meninggalkan rumah...!"

Poskan Komentar

25 comments

Ah Edo ni ngacauin deh.....
Rafael kan uda mau ngaku....
hehe

Pertama....makasih ya min... :)

edo kuranggg ajarrr.
rese...
om lucas... pinjemin pisaunya dunk.

Uuuuu.... 2hari lagi... Lamaaaas... Mba shan... Maz yud.... Pada mati penasaran deh....

waaaah kacau dah... Elena kabur. Edo qu bunuh kau pke piso Lucas nih, gangguin org ajah.. #kesel akut

Thanks mba Santhy..
Thanks mas Yudi..

bisa ga 1 chapter lg,hdeuh elena don't leave rafael.thx mba santhy n mas mimin

huaaaaa elena jgn pergi..ksian rafaelnya
beneran nangis ni

Ahhh akhinya di posting jg,biarpnun seminggu menunggu, kau tetap kunanti hehehe....TararenGkyuuu...

Huaaaaaaa,,,huaaaaa,,,
Edo jahaaaattttt,,Edooooo jahaaatttt...
*ambil piso bwt mutilasi idup2*
Hukz,,akhrny bom mledak jg,,Mba Santhy,,blh g 1 capter lg??kshn yg udh pd nangis sesenggukan msti nangis mpe 2hr lg.. #modus
Mksh Mba Santhy n Mas Yudi

1 bab lg dong buat mlm ini mas yudi
Please please please..
Ga kuat nunggu 2 hari lagi! Udah klimaks soalnya :(

Aduuh telat rafael, keduluan edo
Kabur deh elena
Hadeeh~ ayo kejar elena rafael
Huahahaha
Keren mb santhy, makasih mas yudi :D

huahahhhaha edo bonyokkkk di hajar rafaellll!!!!! aduh elena kemana kau pergiii... plg k panti asuhan kah???

Akhirnya datang jg elena dan rafael nya... tiap hari loh di cek... mks portal novel...!!!

Akhirnya datang jg elena dan rafael nya... tiap hari loh di cek... mks portal novel...!!!

Syukurin edo..†ђąηk ўσυ mbaaa santhy n mas yudi

rasain Edo, hancur kamu, babak belur, dipecat..
makanya ga usah sok jadi pahlawan..

aa.. Elenaa.. kemana diaa??

baca bab ini bkin dada sesak, sedih dan hiks, brkaca-kaca..

Sedih,,
kasihan Rafael,,kan dia cinta mati pda Elena,,
~00`` mas yudi +mba Santhy trims,,

aduh om Rafael~~~~~
cupcupcup,,,
kalau tante elena benar jodohmu, dia ngak bakal lari kok om, heheheh

Eh Elena yaampuuun kabur kemana-,,,,,-

Ayo cepet kejar Elena, Rafael! Dan jalankan sesuai rencana wkwkwkw....
Buat moderator & mb shanty, tak henti-hentinya aku mengatakan " upload lg donk!" :-D

Hwaaaaa!!!! Nyesekkkkk (˘̩̩̩.˘̩ƪ) Edo sialan! Rafael kan mau ngaku, kenapa hrs di duluin sih? Haaah!!! Pas Rafael mukulin Edo, pengen rasanya ikutan mukulin si Edo. Gehhhhrrrr (¬_¬˚)
Semoga Elena cepet ditemuin. Oia, klo perlu Elenanya diculik lagi aja gih ke pulaunya Rafael. Gpp, yang penting mereka gak pisah. Toh Elena udh cinta kok sm Rafael.

Selalu menegangkan! Bab ini sukses bikin aku nyesek. Ditunggu kelanjutannya ya kak Santhy (´⌣`ʃƪ)♡

Pergi untuk kembali :D

edo jahat bangeeeeeet, hadeeeuhhhhhhhhhhh elena pergi kira-kira dia pergi kemana ya?????

Makasih mbak Shanty n mas Yudi
Di tunggu lanjutannya , tengkyu :)

hiks hiks...
mba Santhy, kirim Elena krumah ku aja.. :)
Tq...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top