8
strangers-thumb
Kisah Charlie

"Kupikir punyamu lebih baik dari Robbie Williams," bisik gadis itu di telinga Charlie.

Dia menggertakkan gigi. Dia memang jauh lebih baik dari Robbie Williams.

"Benarkah?" Charlie menatap ke arahnya. Tuhan, ia tidak bisa mengingat namanya. "Lalu apa kau pernah bercinta dengan Robbie?"

Dia terkikik. "Tidak, maksudku saat bernyanyi."

Charlie melempar selimut dan berdiri, telanjang bulat. "Aku tidak menyanyi lagi." Dia mencari celana pendeknya.

"Kau bisa menyanyi untukku. Kembalilah ke tempat tidur."

Charlie melirik padanya. Mengapa Charlie selalu berpikir dia akan bertemu wanita dengan watak berbeda, ketika ia terus pergi ke tempat yang sama? Dia melemparkan dirinya pada wanita dan mengatakan ya. Charlie terpaksa menjadi menarik dan seksi, pria yg diinginkan wanita di tempat tidur dan banyak laki-laki, juga. Tapi Charlie lelah bangun tidur dan bertanya-tanya siapa yang berbaring di sampingnya.

Yang satu ini sama seperti yang lain. Tubuh seksi, tapi tak punya otak. Charlie bahkan tidak bisa tidur dan tetap tak bisa mengingat namanya. Charlie berfokus pada dada gadis itu saat ia menggerakkan tangannya di sekitar payudaranya yg bulat sempurna, menunjukkan puting cokelat kecil ke arahnya, senjata pemusnah miliknya. Kemaluannya mengejang dan Charlie menjilat bibirnya.

"Tidakkah kau menginginkan aku, Charlie?"

Ya dan tidak. Dia melihat ke bawah tempat tidur. Tak ada pakaian dalam tapi banyak bekas bungkus kondom. Dia meringis. Charlie menyerah, meraih celana jins dan akan segera pergi, menarik risletingnya dengan hati-hati. Si jalang itu mungkin menyembunyikan celana pendeknya sehingga dia bisa menjualnya di eBay. Ini bukan yg pertama kalinya terjadi.

"Charlie?"

"Maaf, aku punya pekerjaan pagi-pagi besok," katanya berbohong.

"Punya kokain lagi?" Dia berbaring, mencubit putingnya yg sekeras berlian dengan jari gelisah.

Charlie bertanya-tanya apakah payudaranya palsu karena mereka begitu sempurna. Dia tidak melihat bekas luka, meskipun ia pernah mendengar ahli bedah bisa membuatnya di bawah ketiakmu. Charlie memiliki minat yang samar-samar untuk memeriksa, tapi tak ingin gadis itu berprasangka buruk, lagipula dia tampak terlalu muda untuk memiliki operasi semacam itu. Dia tampak sangat muda. Sial.

"Berapa umurmu lagi?"

"Enam belas. Apa kau pikir aku cukup besar?" Dia meremas payudaranya.

"Ya, kau hebat." kata Charlie. Ya Tuhan, enam belas!

Ia merogoh ke dalam kemejanya dan menarik bungkus foil dari sakunya. Dia melemparkannya ke perutnya yang rata, mencari sepatunya, dan teringat meninggalkannya di lantai bawah.

"Seks yg hebat, terima kasih banyak." katanya dan meninggalkannya tanpa menengok ke belakang.

Pesta di lantai bawah masih berlangsung meriah, diiringi oleh kata-kata yg dipakai oleh dua pria setengah telanjang dan satu wanita telanjang berpelukan di sofa, tapi Cherlie sudah cukup. Dia mencari sepatunya dan pergi.

Tidak sampai hari berikutnya, ketika Charlie mendengar pembaca berita di TV mengatakan, ia ingat namanya. India Westerby. Umur enam belas tahun. Dalam keadaan koma setelah pesta di rumah Justin Denton, vokalis dari "Blast". Pikiran pertama Charlie adalah, terima kasih Tuhan dia benar-benar enam belas, kemudian, untunglah itu terjadi setelah ia pergi, dan kemudian, astaga, apakah dia telah melakukan itu? Dia menatap bungkus kokain di jari-jarinya, berpikir tentang memakainya dan melemparkannya di toilet. Gadis malang, pikirnya, dan dia pun muntah.

Justin tidak menjawab teleponnya sampai sore harinya.

"Apa yang terjadi semalam?" Hati Charlie berdetak begitu keras dan cepat, ia membayangkan bahwa itu adalah awal dari serangan jantung. Itu pantas dia dapatkan.

"Ya Tuhan, itu menjadi mimpi buruk. Aku naik ke lantai atas sekitar jam tiga pagi ini dan menemukannya di tempat tidur, kokain dan darah di seluruh wajahnya. Brian Jackson berada di sudut, meracau seperti bayi. Aku harus menelepon polisi. Brian mengaku ia yg memberinya kokain dan mereka menangkapnya. Ya Tuhan, aku sangat kacau. Rumahku." Ratap Justin.

Charlie berusaha menelan gumpalan di tenggorokannya dan gagal. "Apakah polisi ingin tahu yang ada di sana?"

Jeda itu mengatakan segalanya.

"Aku harus, sobat. Semua orang melihatmu. Kau dengan dia walaupun sebentar."

"Umm."

"Jangan berbelit tentang hal itu. Dia turun ke sini menari tanpa pakaian setelah kau pergi, mencelupkan payudaranya di Grand Marnier dan membiarkan setiap orang mengisapnya. Dasar jalang bodoh.

Manajerku sudah kembali. Aku harus pergi."

Tangan Charlie bergetar saat ia meletakkan gagang telepon. Brian Jackson, drummer dari "The Flakes" mungkin telah memberikan India kokain, tapi dia juga. Paket itu memiliki sidik jarinya di atasnya. Celana pendek terkutuknya masih di dalam ruangan itu. Mungkin. Apakah ia sudah membilas kondomnya? Charlie tidak bisa ingat. Dia ingin muntah. Dia orang yang menyedihkan. Dia bisa saja membunuh gadis itu dan semua yang bisa dia pikirkan hanya menyelamatkan diri sendiri. Isi perutnya naik ke mulutnya lagi dan ia bergegas ke kamar mandi.

Ketika ia melihat ke cermin, Charlie tidak mengenali orang yang balas menatapnya.

Semua orang terus bilang wajahnya luar biasa, tapi dia tampak seperti sampah. Lingkaran hitam membingkai matanya yang merah dan kulitnya pucat, meskipun berminggu-minggu menghabiskan syuting di gurun Arizona. Dia butuh bercukur. Napasnya akan membuat bunga layu.

Demi Tuhan, enam belas tahun? Charlie merasa seperti bencana yang hidup. Berapa banyak kehidupan lagi yang akan dia hancurkan?

Charlie berusaha untuk tersenyum pada sekretaris dari agennya, tapi ketika Alicia tidak akan melihat ke arahnya, ia tahu ia berada dalam masalah. Alicia menelepon untuk memberitahu bahwa Ethan ingin menemuinya—

sekarang—dan Charlie bertanya-tanya bagaimana Ethan tahu dia ada di pesta itu. Tapi kemudian Ethan seperti Dewa. Dia tahu segalanya. Dia telah menjadi agennya sejak awal dan teman yang paling dekat yang Charlie punya.

"Langsung masuk," kata Alicia.

Ethan Silver berdiri menatap keluar jendela ketika Charlie membuka pintu.

Agennya berusia empat puluhan, lebih tinggi dari dia, dengan rambut abu-abu pendek mulai menipis.

"Maaf," kata Charlie, cara terbaik untuk membuka percakapan dia dengan siapa pun.

Ethan berbalik dan Charlie menelan ludah. Rahang Ethan tegang, matanya menyipit hitam karena marah.

"Aku ingin membunuhmu, kau banci bodoh sialan." Suara Ethan awalnya lembut tapi pada akhir kalimatnya dia berteriak.

Dia melangkah melintasi ruangan dengan dasinya yang miring, wajahnya memerah. Dia berhenti di depan Charlie dan Charlie meringis.

"Apa-apaan yang terjadi denganmu? Apa kau punya otak? Jangan menjawab pertanyaan itu. Tahukah kau bahwa kau kehilangan sel-sel otak setiap kali kau bersetubuh? kau benar-benar membuat hidupmu berantakan!" teriak Ethan.

"Hitung sampai sepuluh perlahan-lahan. Kurasa itu membantu." kata Charlie.

Ethan mendengus jijik dan kembali ke mejanya merosot di kursinya. Dia menunjuk ke jok rendah kulit hitam diseberangnya. Charlie duduk.

"Benar—delapan, sembilan, sepuluh. Kau masih banci tolol. Seolah-olah pekerjaanku tidak cukup membuat stress tanpa berurusan dengan orang-orang bodoh."

Ethan mematahkan pensilnya jadi dua dan Charlie menekan dirinya ke kursi. Dia tahu Ethan telah memilih kursi semacam itu sehingga ia menjulang tinggi di atas siapa saja yang duduk di sana. Seolah-olah orang ini tidak cukup mengintimidasi. Ethan mengambil pensil lain dan mematahkan yang itu juga.

"Apa kau tahu mengapa aku mematahkan pensilku, Charlie?" Charlie menggelengkan kepalanya.

"Karena meskipun mematahkam lehermu akan memberiku rasa kepuasan yang lebih besar, aku akan dikirim ke penjara karenanya."

Charlie tetap tenang.

"Aku tak tahu apa yang salah denganmu. Itu adalah bagian tersialmu." Kabut hilang dalam sekejap. Dan Charlie agak lega. Ethan tak tahu tentang dia dan India. "Aku tidak memahaminya?"

Charlie tetap tenang.

"Aku tak tahu apa yang salah denganmu. Itu adalah bagian tersialmu." Kabut hilang dalam sekejap. Dan Charlie agak lega. Ethan tak tahu tentang dia dan India. "Aku tidak memahaminya?"

"Tentu saja kau tidak akan memahaminya," teriak Ethan.

"Oke."

"Apa cuma itu yang bisa kau katakan?"

"Apa yang kau ingin aku katakan?"

"Kau adalah idola, Charlie. Yang harus kau lakukan hanya berjalan ke ruangan dan pamerkan senyummu. Betapa sulitnya itu?" Charlie membuka mulutnya dan menutupnya lagi.

"Rupanya kau mabuk, teler dan kasar. Apakah ada yang terlewat?" Ethan bangkit dari kursinya dan mondar-mandir lagi.

Charlie merasa seperti tikus yang dimainkan oleh kucing. Setiap saat Ethan bisa mengunyah dan menelannya. Memori Charlie saat audisi agak kabur. Mabuk, sedang tinggi dan kasar menyelimutinya. "Tidak," katanya. "Kau tidak melewatkan apapun." Ethan menggeretakkan giginya.

"Kau akan merusak perawatan gigimu."

"Kau beruntung aku tidak merusak milikmu." Ethan menendang keranjang sampah kertas langsung ke pintu.

Charlie melompat karena suara berisik dan sakit kepalanya berkobar lagi.

Alicia bergegas masuk "Apa anda baik-baik saja, Mr. Silver?"

"Kau dipecat," kata Ethan.

Dagunya goyah, ia larut dalam air mata dan lari pergi.

"Untuk apa itu?" Tanya Charlie.

"Wanita itu tak berguna. Aku sudah muak dengan orang tidak berguna. Aku membutuhkan pekerjaan yang berbeda. Sebuah karir dengan perubahan besar. Tapi malah mencoba menemukan pekerjaan untuk banci sepertimu, mungkin aku harus mengambil pekerjaan yang tidak membuat stres, seperti bekerja sebagai asisten pribadi Naomi Campbell."

Charlie tidak berani tertawa. "Maaf." gumamnya.

"Berubahlah, Charlie, atau kau keluar. Aku bukan menjadi agen seorang pecundang."

"Aku bukan pecundang." Dia pikir ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Ethan tentang India.

Ethan duduk lagi, suaranya bersahabat. "Dengar, Charlie. Aku tak ingin kehilanganmu sebagai klien. Aku tahu kau adalah tambang emas pertama kali aku bertemu denganmu, tapi emas itu tenggelam lebih dalam dan dalam lagi dan lama-lama tidak akan bisa diakses." Charlie mengangguk, berusaha terlihat menyesal.

"Aku ingin kau kembali ke jalur yang benar, Charlie. Dan jika aku tidak bisa melakukannya dengan peran seumur hidup, bagaimana aku bisa melakukannya?"

***

Charlie pergi dengan marah. Ethan sangat marah dengannya dan Charlie sangat marah dengan dirinya sendiri. Bukan seolah-olah ia ingin menghancurkan hidupnya. Setelah menyerah dengan karir yang sangat sukses sebagai penyanyi/penulis lagu, Charlie pernah ikut ambil bagian dalam beberapa film yang nyaris tidak berhasil untuk dirilis umum, sampai ia mendapat waktu istirahatnya. Dia baru saja menyelesaikan peran utama pertamanya dalam produksi Steven Spielberg dan ia telah berhasil. Steven bilang begitu. Film ini dijadwalkan keluar dalam beberapa bulan lagi, tapi rumor itu sudah beredar bahwa film ini bisa menang Oscar. Mungkin bukan untuk Charlie, tapi dikaitkan dengan sebuah film pemenang penghargaan akan melambungkan karirnya.

Di samping karya Charlie untuk Spielberg, Ethan mengatur audisi untuk sebuah film di mana ia akan jadi aktor utamanya. Itu adalah sebuah proyek dari salah satu studio besar di Amerika dan Charlie tidak cukup mampu untuk percaya. Film itu sementara berjudul The Green, tentang seorang pria yang istrinya telah dibawa ke dunia paralel. Setelah Charlie membaca naskah dia menginginkannya, dia pikir dia seperti itu dan dia akan mengacaukannya. Tak ada kejutan di sana.

Charlie memutuskan dia butuh hiburan, sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari masalahnya. Ponsel Jen dimatikan sehingga ia menelpon ke rumahnya, berharap bukan ibunya yg mengangkat.

Arabella, adik Jen, menjawab. "Jen sedang keluar, belanja. Tidak akan lama. Ingin datang dan menunggu?"

"Ya, baiklah," keluar dari mulutnya, saat ia seharusnya mengatakan tidak. Sudah menjadi kisah hidupnya.

***

Charlie menatap wanita yang berbaring telanjang disampingnya di tempat tidur. Arabella memancarkan seringai puas di wajahnya. Lalu ia melihat dua wanita berdiri di ambang pintu. Salah satunya adalah ibu Arabella, Veronica dan yang lain adalah adik Arabella, Jennifer. Sekarang dia sudah meniduri ketiganya.

"Kupikir sudah waktunya aku pergi." Charlie berdiri, tak peduli kalau ia telanjang dan masih keras. Ia meraih celana pendeknya.

Veronica memelototinya dan Jen menangis tanpa suara, air mata besar membasahi pipinya.

"Maaf, Jen." gumamnya, berpakaian secepat yang dia bisa.

"Kau akan menyesal, dasar kau bajingan kecil." desis Veronica. "Suamiku akan memastikan kau tak akan pernah—"

"Bekerja di kota ini lagi?" Charlie tidak bisa menahan seringainya. Ia melangkah dan mendekatkan wajahnya ke Veronica. "Mungkin dia akan mempertimbangkannya lagi, jika aku menawarkan untuk memberitahu koran Sunday tentang kinky sex yg dinikmati istrinya dan bagaimana tiga puluh menit yang lalu, tangan putri bungsunya terjebak di celanaku sementara aku berdiri di depan pintu. Mungkin tertangkap di kamera CCTV-mu. Jika kau melihatnya di The UK's Funniest Videos, gunakan bagianku untuk membeli sendiri beberapa krim penghilang keriput."

Charlie tersenyum meminta maaf pada Jen yang mulutnya menganga dan dia pun lari menghilang.

"Keluar," Veronica terengah.

Charlie melarikan diri selagi ia masih bisa.

Dia berbuat bodoh lagi. Dia menyukai Jen. Well, dia mulai menyukainya, sampai Jen menempel terus padanya, namun ayahnya bukanlah orang yang ia butuhkan untuk dibuat berang. Malcolm Ward memimpin perusahaan musik yang mengontrak Charlie. Dia tak akan senang jika ia mendapat kabar seberapa baik Charlie mengetahui semua wanita dalam rumah tangganya. Dan jika Ethan tahu, dia akan membunuhnya. Maksudnya ketika ia menemukannya, Charlie mengoreksi. Jadi dia sama saja sudah mati. Sial.

Charlie bahkan belum sampai ke apartemennya ketika Ethan meneleponnya.

"Apa kau tak mampu menjaga kemaluanmu tetap di celanamu? Kau baru saja menyelesaikan film yang akan membuatmu menjadi bintang besar dan kau membuangnya begitu saja. Apa yang terjadi denganmu? Apakah seseorang sudah menekan tombol penghancuran dirimu?" Charlie memutuskan telepon Ethan ditengah-tengah sumpah serapahnya dan menelpon Justin.

"Mau minum?"

***

Charlie sudah mabuk saat Justin sampai di sana. Sekelompok gadis berdiri di bar, menghasut satu sama lain saat Charlie menatap mereka. Justin membawa beberapa botol dan bergabung di mejanya.

"Jangan buang waktumu dengan mereka. Mereka semua tidak menarik." kata Justin.

"Karena mereka tidak memperhatikanmu?" Lanjut Charlie dengan mata menggoda ke salah satu gadis jelek untuk membuat panas yang lain.

Justin menggeleng. "Jika kau mengedipkan mata pada sebuah patung, patung itu tetap akan basah di antara pahanya."

Charlie tersenyum, lalu berbalik dan mengambil sendiri salah satu rokok Justin.

"Kupikir kau sudah berhenti?" Tanya Justin.

"Berhenti membelinya, bukan menghisapnya."

"Kau akan membuat kita diusir jika kau merokok di sini."

"Tidak sampai aku menyedot beberapa hisap."

Charlie melihat mata Justin fokus pada suatu tempat di atas bahunya dan berbalik untuk melihat salah satu gadis jelek menatapnya, matanya terbuka lebar dalam kegembiraan. Gadis itu hidungnya pesek, semua tergencet ke dalam wajahnya, dengan mata sipit kecil dan berkeriput.

"Bolehkah aku minta tanda tanganmu?" Gadis itu menawarkan alas bir.

"Enyahlah," kata Charlie.

Dia mendengar gadis itu terisak saat melarikan diri kembali ke teman-temannya.

"Buat apa yang kau lakukannya?" Justin menatapnya.

"Dia tidak bilang please."

"Kau benar-benar bajingan brengsek."

Dia memang brengsek. Dia tak peduli. Dia tak peduli tentang apa pun. Itulah masalahnya.

"Dengar-dengar India meninggal karena overdosis," kata Justin pelan. "Cukup banyak kokain dalam tubuhnya untuk membuat kau dan aku teler selama seminggu."

"Sial."

"Bagaimana kalau memberiku tanda tanganmu?"

Charlie berbalik lalu melihat salah satu teman si gadis jelek. Wajah cantik, berlesung pipi, mata sayu.

"Tentu." Dia tersenyum.

"Angkat rokmu."

Saat Charlie menulis di pahanya, gadis itu menjerit dengan gembira. Charlie menyerahkan kembali pena dan menepuk pantatnya.

Sesaat kemudian, ada raungan kemarahan.

"Apa yang kau tulis?" Tanya Justin.

"Robbie Williams."

"Dasar brengsek. Ingin pergi ke klub?"

"Kenapa tidak?"

Namun Charlie bisa memikirkan ratusan alasan bilang mengapa tidak. Yang terbesar adalah ia lelah karena tak mampu menjadi dirinya sendiri. Dia tidak semudah itu pergi ke klub kalau tidak direcoki. Semua orang ingin menjadi bagian dari dirinya. Mereka memiliki gambar Charlie Storm pada ponsel mereka, di dinding mereka, dalam hati mereka. Mereka tahu rincian tentang tubuhnya hampir lebih baik dari dirinya sendiri—tinggi, berat badan, kerah dan ukuran sepatu, golongan darah, lokasi yang tepat dari setiap bekas luka. Dia milik mereka. Dia kadang-kadang merasa dia hanya ada karena mereka dan Charlie membenci hidupnya dan membenci dirinya sendiri.

***

Charlie pulang naik taksi. Menjadi dewa seks sangatlah melelahkan. Dia tahu itu terdengar menyedihkan, tapi saat ia menyukai perempuan, senang pergi keluar dengan mereka, senang meniduri mereka, bagian dari dirinya bosan dengan itu semua. Wanita pemangsa berkerumun di sekelilingnya seperti lalat pada mayat dan itulah yang ia rasakan kadang-kadang, seperti mayat.

Dia memiliki begitu banyak surat dari wanita yang mengemis untuk tidur dengannya dan ia bisa melapisi seluruh rumah dengan surat itu dan bersetubuh dengan wanita yang berbeda setiap hari selama bertahun-tahun, mungkin selama sisa hidupnya. Banyak yang ingin memiliki bayi darinya. Charlie selalu membawa kondom dan membiarkan staf Ethan mengurusi surat-suratnya sekarang.

Yang lucunya adalah dia tidak tidur dengan wanita sebanyak yang orang pikir. Misalnya, ia tidak meniduri Jody Morton, wanita pemeran utama di film Spielberg, meskipun rumornya bertentangan bahwa sudah jelas dia tertarik untuk memiliki Charlie, di luar atau di dalam trailernya. Gagasan digigit ular sudah cukup untuk menindihnya untuk terakhir kali. Jody memiliki tubuh yang luar biasa, tapi dia terlalu intens. Charlie telah berusaha membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri dengan tidak tidur dengannya, jadi ia melampiaskan hasratnya pada gadis juru riasnya dan salah satu asisten produksi.

Meskipun ia tahu ia brengsek, Charlie menolak desakan Ethan bahwa ia perlu mencari psikiater. Dia tak perlu bicara tentang hal itu karena Charlie tahu apa masalahnya. Dia tidak dicintai. Tentu, wanita mengatakan mereka mencintainya, tapi mereka mencintai ide tentangnya, wajahnya, Charlie dengan gitarnya menyanyikan lagu Angel Eyes, Just One Look atau Fade Away.

Itu yang mereka cintai dan Charlie di dalam layar. Bahkan ketika dia adalah seorang bajingan, bukan Charlie yang sebenarnya karena mereka sama sekali tidak mengenalnya. Jika tidak, mereka akan lari berteriak ke arah lain. Dia tidak layak untuk dicintai. Dia tidak layak untuk hidup.

Charlie hanya merasa lebih baik ketika ia mabuk atau teler atau dua-duanya karena itu membuatnya berhenti berpikir. Dia sangat membenci hidupnya sampai itu membuatnya takut.

Saat dia berjalan ke rumahnya, telepon berdering. Hati Charlie melonjak. Itu pasti jelas berita buruk.

"Kita selesai." kata Ethan.

"Apa?"

"Kau dengar aku. Semuanya sudah berakhir."

"Kau membuang aku?" Charlie mengamuk pada agennya.

"Aku tidak tahu siapa yg aku wakili lagi, Charlie. Kau bukan orang yang sama yang aku kenal."

"Kumohon, Ethan. Aku akan berusaha lebih keras."

"Ini tak akan berhasil. Setiap kali aku mencoba untuk membantumu, kau mengacaukannya. Bahkan psikiater tak bisa merubah kelakuanmu."

"Aku bukan maniak."

"Itu masalah opini," kata Ethan. "Jika kau ingin mencoba psikiater lain, aku akan merekomendasikan satu, tapi kau harus bicara dengan mereka, Charlie, bukannya duduk di sana menatap karpet."

"Itu seharusnya menjadi rahasia."

"Mengatakan padaku kau tak akan bicara bukanlah melanggar janji."

"Jika aku mencari psikiater lain, kau tidak akan mengeluarkanku?" Kata Charlie. "Komohon." Dia tahu dia terdengar putus asa dan ia membenci dirinya sendiri untuk itu, tapi ia benar-benar putus asa. Tanpa Ethan, dia kacau.

"Tidak." kata Ethan.

"Katakan kau akan memikirkannya lagi," tanya Charlie.

"Tidak."

Kemarahan bangkit dalam dirinya seperti gelombang pasang, merebus, meluap, memuntahkan dari mulutnya.

"Ethan, kau adalah, banci egois sialan."

"Persetan, Charlie. Aku sudah melakukan yang terbaik untukmu. Tapi Veronica Ward dan anak-anaknya? Demi Tuhan, apa yang kau pikirkan? benahi dirimu."

"Kau membutuhkan aku," kata Charlie putus asa. "Aku membayar hipotek rumah sialanmu di Mayfair. Aku yang membayar mobilmu. Aku sudah membelimu."

"Aku telah menciptakan seorang monster." Ethan tertawa.

"Ketika aku bunuh diri, aku akan menyebutmu dalam pesanku," teriak Charlie.

"Kau tak akan bunuh diri, Charlie."

"Kita lihat saja nanti."

Charlie mematikan teleponnya, melemparkannya ke seberang ruangan dan merosot di sofa.

Apakah Ethan benar? Bukankah ia bahkan tidak punya nyali untuk melakukan itu? Charlie tidak mengerti bagaimana segala sesuatu sudah tepat dan kemudian jadi begitu salah.

Setelah ia dan band-nya tampil di sebuah acara serikat buruh karena bantuan seorang pria dari EMI, mereka menjulang seperti roket. Ketika Charlie jatuh dengan yang lain, terutama Jed, drummer yang arogan, dan memutuskan untuk solo karir, Charlie menuju ke galaksi lain, sedangkan sisa temannya tetap tinggal di planet yang sama. Kemudian, begitu ia sampai di sana, ia kehilangan minat.

Charlie masih suka menulis lagu, tapi dia tak lagi ingin bernyanyi di depan penonton. Dia telah mengikuti festival besar seperti Glastonbury dan Reading. Dia mengisi acara di Pusat Pameran Nasional. Dia lebih sukses di Amerika dibandingkan Robbie dan tanpa melepas pakaiannya, tapi itu tak pernah cukup.

Charlie selalu menyukai akting. Dia berada di semua acara produksi sekolah. Dia suka berpura-pura menjadi orang lain. Mengingat kata-kata untuk bicara, ia bisa merasakan mereka, menggulung mereka di dalam mulutnya, mengeluarkannya, menari-nari, lalu meniup mereka keluar. Dia bisa menyihir, jijik atau merayu. Tiga menit sebagai pembunuh dalam film pertamanya sedikit berbeda dengan peran Romeo anak sekolahan, tapi Charlie ketagihan dan menemukan dia bagus berperan jahat. Tak ada kejutan di sana. Selanjutnya, ia dibayar untuk memperkosa, membunuh dan memutilasi—bukan berarti ia bisa memberitahukan itu pada seseorang, terutama pada psikiater Ethan. Mereka benar-benar akan berpikir dia gila.

Telepon rumah berdering dan ia melirik layar pemanggil. Ia berharap untuk Ethan, tapi itu bukan nomor yang ia tahu.

"Simon Baxter dari 24/7 mencari tahu reaksi anda terhadap klaim yang menyatakan bahwa anda menyuplai kokain untuk pesta Justin Denton."

"Apa?"

"Kau menyangkal?"

Charlie membanting telepon. Telepon itu berdering lagi hampir seketika. Kali ini seorang reporter dari The Sun.

"Ada komentar tentang gadis empat belas tahun, India Westerby? Sumber mengatakan—"

Charlie menyeret tali teleponnya dari dinding. Empat belas? Mereka bilang enam belas. Itu sudah cukup buruk, tapi empat belas? Bagaimana bisa gadis itu hanya berumur empat belas tahun? Dia berlari ke kamar mandi dan muntah sebelum ia mencapai toilet. Dia muntah-muntah dan menangis pada saat yang sama, berbaring di lantai ubin-marmernya yang indah, diselimuti air mata dan muntah dan merindukan ibunya, hanya saja dia tidak bisa mendapatkannya karena dia sudah mengacaukannya juga.

Lalu ia mendapati dirinya sedang mencari simpanan yang digunakan dalam konsisi "benar-benar darurat" dan kemudian melemparkannya ke dalam panci dan menyiramnya sebelum ia berubah pikiran. Polisi bisa datang dalam beberapa menit. Dia harus menggunakan otaknya, bukannya mengeluarkannya.

Semua sudah menjadi miliknya. Menurut Ethan, Charlie nyaris berada pada titik menjadi bintang pujaan paling digilai di belahan bumi barat dan dia membuang semuanya.

Pikirannya sakit karena stres mencoba untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan, cara untuk membuat segala sesuatunya jadi benar.

Pada akhir malam tanpa tidur, Charlie menyadari tak ada yang bisa ia lakukan untuk merubah keadaan dan hanya ada satu cara untuk melupakannya.

***

Penerjemah: +Putri Yuni
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

8 comments

thx ..min yudi mb putri..

aduuhh....charly.. charly..

Ga sabar buat baca bab selanjutnya, masalahx kompleks... :)

Buset dah, kompleks banget masalahnya si Charlie X.X
Makasih mas yudi, mb putri :D

Tq mba putri n mas yudi..
:-D

†ђąηk ўσυ mba putri n mas yudi

Mulaiii menarikkk heheheh maksih byk buat mr admin and mba putri

Makasih mas yudi buat editannya :)

wow.. Gila jga y crta'y
Tpi..Kasihan charly..
Thankz mbk putri n mz yudi

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top