13

strangers-thumb
Kate kira Charlie tidak terjaga, tapi saat Kate menutup pintu lemari pakaiannya, Charlie membuka mata.

"Apa yang kau lakukan?" Gumamnya.

"Aku harus bersiap-siap untuk bekerja." Mata Charlie terbuka.

"Menit ini?" Kate tersenyum.

"Well, jika aku melewatkan sarapan, tidak mengeringkan rambutku dan lari sepanjang perjalanan ke sana, kau bisa memelukku sedikit lebih lama."

"Kenapa kau harus pergi bekerja?" Charlie mengerang dan bergeser mencoba untuk meraihnya. Kate melangkah mundur.

"Well, mari kita lihat. Karena aku harus mencari uang, karena mereka mengharapkanku dan aku tidak bisa membiarkan orang lain kecewa, karena aku cukup suka bekerja meskipun salah satu bosku menjengkelkan, karena jika aku melakukan seks lagi denganmu, aku akan lumpuh seumur hidup."

"Tidak, jangan pergi. Kembalilah ke tempat tidur. Aku ingin menjilat seluruh tubuhmu."

"Kedengarannya bagus, tapi mandi di shower jadi lebih cepat dan aku harus pergi bekerja." Charlie bersandar pada sikunya dan melototi Kate. "Aku yang mencucimu."

"Charlie! Aku tidak bisa pergi bekerja dengan spermamu di seluruh dadaku."

"Mengapa tidak?"

Kate mendesah dan memutar matanya. "Oh baiklah," gerutunya."Kalau begitu beri aku ciuman."

"Berjanjilah kau akan membiarkanku pergi setelah itu."

"Tentu saja."

Kate menatap Charlie, yang tengkurap di tempat tidur, selimut melilit pinggulnya yang ramping, dan jantungnya tersentak.

"Charlie, aku tidak bisa hanya menciummu."

"Well, aku bisa hanya menciummu. Janji. Kemarilah." Kate bergerak ke tepi tempat tidur, Charlie menatapnya dan mengerang.

"Ya Tuhan, apa yang kamu kenakan? Rok hitam pendek, blus putih dan kacamata berbingkai hitam? Kau terlihat seperti anak sekolahan. Ini tidak akan butuh waktu lama."

"Kamu membuatnya terdengar sangat menggoda." Kate membungkuk dan menjilat bibirnya.

"Pasta gigi. Curang." bisik Charlie. Dia menggerakkan tangannya ke atas kaki Kate, di bawah roknya, sepanjang pahanya dan menyelipkan jari-jarinya di bawah bahan celana dalamnya, merenggutnya turun ke bawah kakinya.

"Oh, renda merah muda. Sekarang sudah pasti kau belum boleh pergi bekerja."

"Aku akan kembali dalam lima detik." Kate melangkah keluar dari celana dan menyelinap ke kamar mandi. Ketika ia kembali, Charlie bersandar di tumpukan bantal, matanya berbinar, tangannya dengan lembut membelai kemaluannya yang tegak. Kate sekilas mempertimbangkan ingin telanjang atau tidak, dan memutuskan bahwa dia tidak punya banyak waktu dan berlutut di kaki tempat tidur. Dia meletakkan satu tangan di sekitar dasar kemaluan Charlie supaya tetap tegak, membungkus bibirnya di sekitar ujungnya dan menyangga tubuhnya dengan tangan yang lain.

"Demi Tuhan!" Charlie tersentak dan hampir melemparkan Kate dari tempat tidur.

Kalau begitu obat kumur ternyata berhasil. Kate terkikik dan menelan secara tidak sengaja, meskipun sebagian besar cairan hijau menetes di kemaluannya dan di tempat tidur.

"Sangat cerdas, Kate. Aku akan membalas perbuatanmu." Charlie bergidik. "Oh sial. Kau tunggu dan lihat. Gila. Paling tidak ketika kau mengharapkannya. Oh Tuhan, ini nikmat sekali."

"Mau coba—?"

"Ya," kata Charlie.

Kate menahan seringainya. "Hidup tanpa seks selama sehari." Wajahnya redup dan kemudian tersenyum.

"Apa yang akan kau katakan?" Charlie menggeliat dan menjepit Kate telentang.

"Mencoba hidup tanpa seks selama seminggu, tapi itu terlalu kejam." Kate menghembuskan napas berat.

Charlie mengangguk. "Kukira kau tidak akan bisa bertahan selama itu." Kate tertawa. Jari-jarinya membuka kancing bajunya.

"Oh, bra merah muda. Bagus. Aku hampir mengelak tapi tidak sama sekali. Coba apa?"

"Deep-throating. (oral seks yang dilakukan dengan cara kemaluan pria dalam mulut si wanita di tekan sedalam-dalamnya sampai ke tenggorokan)"

Charlie mengerang dan menarik bolanya kebawah. "Tidak di depan anak-anak."

"Aku belum pernah melakukannya tapi aku sudah membaca tentang hal itu. Telepon—"

"Seks?" Tanya Charlie.

Kate mengangguk. Lalu Kate meraih dan menyeret bantal ke bawah tempat tidur dan kemudian berbaring telentang sehingga kepalanya menggantung di atasnya. "Jangan terlalu antusias atau aku akan menggigit." Charlie mengeluarkan sebuah rengekan berdeguk. "Aku tidak akan bergerak."

"Lutut di sini. Kemaluan di sini, "kata Kate.

Mata Charlie melebar, Kate tiba-tiba merasa jantungnya tergeser. Ia pikir Charlie mungkin sering melakukan hal ini. Charlie menyelipkan tangannya ke dalam bra-nya dan bermain dengan putingnya, sementara Kate menjilat kemaluan Charlie. Semakin basah, semakin mudah. Charlie mulai bernapas lebih berat dan Kate menarik tangannya dari kemaluannya dan menempatkannya di pinggul Charlie. Charlie menatap lurus ke matanya saat Kate meluncurkan kemaluan Charlie ke dalam mulutnya.

"Ya Tuhan, Kate. Kau tidak tahu."

Kate tidak mencoba untuk memasukkannya terlalu jauh tapi berkonsentrasi mendorongnya masuk dan kemudian menariknya keluar, membiarkan lidahnya bergeser di sepanjang sisi bawahnya, membiarkan lekukan kemaluan Charlie disesuaikan dengan lekukan tenggorokannya. Ketika Kate menariknya keluar, jejak air liur masih menghubungkan mereka bersama dan Kate merasakan banjir cairan menyembur dari kewanitaannya.

"Manis, manis," Charlie terengah saat ia meluncur maju dan mundur.

Obat kumur membuat Kate sedikit peka tapi dia berkonsentrasi berusaha agar tidak terlalu keras, dan fakta bahwa dia yang memegang kendali dan bukan Charlie memungkinkannya rileks. Sesaat kemudian Charlie menekan habis wajah Kate. Menggeser lututnya sedikit dan kembali merebut sedikit kendali.

Jari-jari dari salah satu tangan Charlie mengelus lehernya dan meraih salah satu tangan Kate dan meletakkannya di sana.

"Rasakan aku...di tenggorokanmu," dia megap-megap. "Oh sial. Kate. Angel. Tak ada seorangpun yang pernah..." Kate menggoyangkan lidahnya sebanyak yang dia bisa. Bukan berarti ada banyak ruang, dan menelan. Dia tahu Charlie sudah dekat untuk klimaks. Kemaluannya terasa berbeda.

"S-sekarang," dia megap-megap.

Kate menelan ludah dan menarik pinggul Charlie ke wajahnya. Spermanya menembak langsung masuk ke tenggorokannya dan Kate hampir merasa berbuat curang. Charlie menggumam tak jelas. Charlie berusaha sebaik mungkin untuk tidak mendorong terlalu brutal dan Kate membelai punggungnya saat Charlie mendorong masuk dan keluar dari mulutnya, desah teriak kenikmatannya mengirimkan ledakan panas yang bergema di dalam tubuh Kate.

Ketika Charlie akhirnya menarik keluar, dia gemetar begitu keras, dia roboh telentang.

"Tak bisa berbicara," gumamnya.

Kate bangkit dari tempat tidur dan mengancingkan kembali bajunya. Dia minum setengah gelas air di samping tempat tidur dan memakai celana dalam merah mudanya. Charlie sudah cukup cepat, tetapi jika Kate tidak bergerak cepat, ia akan terlambat.

"Ucapan terima kasih sepertinya tidaklah cukup," kata Charlie. "Dan aku tidak membuatmu orgasme lima kali."

Kate mengerutkan dahi. "Hanya lima?"

"Sepertinya aku mati rasa di seluruh anggota badan. Ya Tuhan, Kate, itu luar biasa."

"Kalau begitu semua latihanku dengan pisang berhasil?"

Mata Charlie melebar. "Kau pasti bercanda."

"Eh...ya. Bagaimana jika pisang itu patah? Aku mungkin tersedak."

"Jadi, aku..."

Kate merasa butuh makanan sedikit. "Sudah kubilang begitu." Kate menuju pintu.

"Kate? Aku harus pergi ke suatu tempat malam ini, jadi aku akan meneleponmu, oke?" tanya Charlie.

Kate memakai sepatunya. Pada saat berbalik, dia tersenyum. "Oke. Pastikan kau menutup pintu ketika kau pergi."

***

Dan tidak menunggu di lantai bawah untuk menemaninya, sehingga Kate berlari sepanjang jalan untuk bekerja. Dia harus mengakui punya ketertarikan pribadi dalam melakukan deep-throating pada Charlie.

Untuk semua bantahan Charlie atas seberapa banyak dia memikirkan Kate, Kate tetap merasa seperti Cinderella. Charlie bisa menentukan pilihannya pada aktris muda. Mengapa dia menginginkan Kate? Well, mungkin jika melakukan seks dengan Kate menyenangkan itu mungkin membuat perbedaan. Kecuali jika tidak. Charlie pergi ke suatu tempat malam ini. Baik, kecuali mengapa ia tidak mengatakan ke mana ia pergi?

Kate benci menjadi cemburu tapi dia tidak bisa menahannya.

Kate berharap Mel tidak akan meramaikan kafe dengan kehadirannya, tapi bosnya berdiri di dalam pintu, melihat jam tangannya saat Kate bergegas masuk.

"Maaf," kata Kate, terengah-engah, berusaha mengabaikan rasa sesak didadanya.

"Sesuatu terjadi?" Bentak Mel.

"Ya, maaf." Kate menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan tawanya.

"Kau harus tinggal dua puluh menit di akhir shiftmu untuk mengganti waktu."

"Benar."

Kate bekerja keras, berusaha untuk tidak berpikir. Dia mengelap meja, mengisi ulang botol garam dan merica, melipat serbet, dan setelah pelanggan tiba, melayani mereka. Bahkan saat ia berjuang untuk mengosongkan pikiran, semua yang bisa dia pikirkan hanya tentang Charlie. Ini akan berakhir buruk. Bagaimana tidak? Mereka tinggal di dunia yang berbeda. Kate bukan tipenya. Charlie hanya memanfaatkannya. Kate mengerti paranoiad Charlie terhadap pers, tapi pasti mereka bisa pergi keluar bersama-sama ke suatu tempat kan? Sebuah kencan yang sesungguhnya. Pasti akan gelap di bioskop. Tidak akan ada yang mengenalinya.

Apa dia malu pada Kate? Oke untuk bercinta, tapi tidak untuk terlihat bersama. Tapi seksnya fantastis. Yang terbaik yang pernah Kate alami. Ada sesuatu tentang mereka yang cocok, terasa tepat, meskipun Kate tahu semua hubungan seperti itu pada awalnya. Tergila-gila, bergairah karena bercinta sampai keadaan tenang dan pria mulai kentut di tempat tidur, bersendawa di depan wajahmu, atau berguling dan langsung tertidur bukannya berpelukan. Apakah ia dan Charlie bahkan akan sampai sejauh itu?

Kate tak bisa menahan dan pikirannya terus kembali ke kenyataan bahwa Charlie tidak mengatakan ke mana ia akan pergi malam nanti. Perasaan sakit berubah menjadi menjengkelkan bahwa Kate tidak diundang. Kenapa Charlie tidak mengatakan padanya?

"Apa ada orang di sana?" Tony mengetuk kepala Kate dengan sendok kayu.

"Makanan sudah siap untuk meja lima."

"Maaf."

Mungkin Kate membangun ini semua menjadi suatu masalah besar, tapi dia tidak bisa mencegahnya. Apa Kate pikir dia bisa tidur dengan Charlie dan tidak terlibat secara emosional? Dia sudah mengeraskan hatinya jauh sebelum Richard dan masih membiarkannya masuk. Sekarang Charlie telah menyelinap masuk sementara pertahanan dirinya sedang lemah. Mereka telah memiliki hubungan entah itu berarti atau tidak.

Sesuatu yang buruk, mengerikan, dan luar biasa adalah bahwa Kate tahu persis apa sebabnya.

Dia telah jatuh cinta. Itu seharusnya menjadi hal yang baik, tetapi tidak bagi Kate. Dia ketakutan. Membiarkan dirinya untuk mencintai berarti memberi orang lain kekuatan untuk menyakitinya. Dan Kate telah terluka begitu banyak, karena orang-orang selalu mengecewakannya. Mereka mengatakan mereka mencintainya dan kemudian mereka meninggalkannya. Atau memukulnya. Atau mengusirnya. Atau berjalan keluar. Atau mati.

Jadi itu lebih baik untuk tidak jatuh cinta. Lebih baik dan lebih aman. Hanya saja itu sudah terlambat. Terlambat untuk Kate. Orang-orang jatuh cinta dengan Charlie sepanjang waktu. Kate salah satu yang berada dalam antrean panjang. Ini tidak akan bertahan lama. Tapi oh bagaimana Kate begitu menginginkannya.

***

Charlie batal menelpon malam itu. Kate duduk menatap telepon, ponsel menempel di telinganya, tahu dia adalah seorang yang bodoh tapi tak dapat berbuat apapun. Kate berbaring di tempat tidur terjaga, menunggu bel berbunyi. Tapi tidak berbunyi. Ketika tak ada panggilan keesokan paginya, Kate mendapat pesan.

Kate tidak pernah mengejar siapa pun dalam hidupnya. Dia tidak bodoh. Tidak begitu bodoh. Dia berjuang dengan cukup banyak masalah tanpa membiarkan dirinya sendiri terbuka lebar untuk penolakan.

Kate mencabut kabel teleponnya, mematikan ponsel dan meninggalkannya di apartemen. Masalahnya adalah buang-buang waktu saja. Tidak ada yang akan meneleponnya. Dia tak punya seorangpun untuk ditelpon. Kalau bukan karena fakta bahwa itu adalah ponsel prabayar, Kate tidak akan terganggu dengan hal itu.

Kemudian, sore hari saat ia sedang bekerja, pikiran lain muncul di benaknya, salah satu yang membuatnya tersandung dan menjatuhkan semangkuk apel dan blackberry hingga hancur, mendatangkan omelan dari Mel. Bagaimana jika Charlie kembali ke pantai? Dia bilang dia mendapatkan pekerjaan itu, tapi dia adalah seorang aktor, bagaimana jika dia berbohong, bagaimana jika ada sesuatu yang salah? Perut Kate bergejolak. Sekarang ia putus asa untuk menelpon Charlie tapi ia tidak bisa. Tanpa ponsel, ia tidak punya nomor teleponnya.

Ketika Kate kembali ke dapur dengan lap pel, Lois bertengger di bangku dekat jendela membaca koran sementara Tony menatap kakinya.

"Phwooar," erang Lois.

"Memikirkan aku lagi?" Tanya Tony.

"Tidak, Charlie Storm. Dia begitu tampan sehingga ia seharusnya ditembak. Jadi aku bisa memasukkan dan menempelnya di dindingku."

Tony bergumam pelan dan kembali memukul-mukul adonan pizza. Kate beringsut ke arah ke Lois.

"Bagaimana menurutmu, Kate? Naksir dia?" tanya wanita itu.

"Siapa yang tidak?" Kate menatap gambar Charlie yang tersenyum, lengannya membungkus wanita cantik berambut merah.

"Dengan siapa dia?"

"Jody Morton, aktris Amerika. Mereka menghadiri beberapa acara amal. Katanya wanita itu baru-baru ini putus dengan pacarnya. Kupikir dia seharusnya menikahi pria yang keluar dari Lord of the Rings? Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan orang lain, ya kan? Bukankah mereka terlihat sempurna bersama-sama?"

Jantung Kate menderita pembengkak dan tergencet di bawah rusuknya.

"Namun, orang-orang seperti kita tak akan pernah mendapat kesempatan. Mereka menjaga diri mereka sendiri. Meskipun indah untuk dimimpikan."

Kate tahu gosip dan rumor membuat surat kabar terjual lebih banyak dari pada kebenaran. Tapi foto itu menyakitkan. Kemungkinan besar gambar tidak berarti apa-apa. Tapi tetap saja menyakitkan.

Setidaknya ia tahu Charlie tidak bunuh diri.

***

Kate tiba di rumah, kelelahan oleh usahanya untuk menekan pikiran tentang Charlie. Kate melihat Charlie tampak di mana-mana, dalam segala sesuatu yang disentuhnya. Wajahnya ketika dia menggodanya. Wajahnya ketika ia datang. Senyumnya yang menawan. Lonjakan kepedihan menyebar melalui tubuhnya seperti kebakaran rumput yang mengamuk. Kate memeriksa ponselnya, tapi Charlie tidak menelepon, meninggalkan pesan suara atau mengirim sms. Kate mematikannya lagi. Kate seharusnya menelponnya, tapi dia berpegang pada sisa-sisa terakhir harga dirinya, membiarkan hubungan telepon terputus dan mengklik off bel pintunya. Sekarang, dia tidak ingin berbicara dengan Charlie. Kate akan memadamkan api selagi masih bisa.

Dengan sepotong roti bakar keju di tangan, Kate pergi untuk duduk di balkonnya. Meskipun ia menerima kenyataan bahwa masa depannya tidak akan pernah bisa menjadi apa yang ia inginkan, mimpinya membuat kehidupan dapat ditahan, sebuah cara melarikan diri dari kenyataan yang kejam. Ketika ia dibawa masuk ke dalam kepedulian, Kate membuat kesalahan dengan mengungkapkan mimpinya kepada orang lain, tidak menyadari itu memberi mereka amunisi untuk menggoda dan menyakitinya. Kate belajar untuk menjaga segala hal untuk dirinya sendiri dan hidup di dunianya sendiri.

Belum begitu lama berlalu saat Kate mulai percaya apa yang dia pikir akan menjadi masa depan yang menyedihkan bisa berubah. Kate menerima uang yang sebelumnya telah dia tolak sehingga dia bisa membeli tempat tinggalnya sendiri. Dia telah menolak untuk waktu yang lama tetapi menyadari dia juga menghukum dirinya sendiri. Apa gunanya itu?

Dengan tempat tinggal sendiri dan teman-teman terdekat yang pernah dia temukan dengan Rachel, Lucy dan Dan, ditambah pekerjaan tetap, meskipun di kafe kecil, hidup telah terlihat cerah. Tapi ia mengizinkan Richard menyakitinya dan sekarang Charlie telah menyelam masuk ke dalam hidupnya. Salah satu fotonya berdansa dengan seorang wanita cantik telah menunjukkan bahwa Kate adalah individu yang masih tetap sama, rusak, tidak aman, menyedihkan. Sebuah potret dari momen waktu itu tidak harus berarti apa-apa.

Tapi itu berarti.

Kate kehilangan pegangannya pada dunia dengan Charlie karena itu adalah kabut ciptaan, ilusi hampa. Tidak akan ada yang pernah benar-benar mencintainya.

***

Charlie merasa kontrol hidupnya meluncur lepas melalui jari-jarinya dan dia tidak menyukainya. Dia menghabiskan waktu seharian duduk di sebuah kamar hotel steril diwawancarai oleh wartawan sukses dari seluruh dunia. Dia menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang.

Tidak, ia tidak berkencan dengan Jody Morton. Tidak, ia dan Jody Morton tidak memiliki hubungan. Tidak, Jody tidak tinggal bersamanya. Tidak, ia tak pernah bertemu mantan tunangan wanita itu.

Tidak ada yang percaya padanya. Semakin ia menyangkal hal itu, semakin puas senyum mereka. Tapi Charlie tersenyum juga dan memainkan peran pria yang mempesona, perhatian dan bijaksana yang telah Ethan katakan padanya. Ketika wartawan wanita penjilat terakhir dan fotografer gay yang selalu menempel padanya telah pergi, Charlie merosot di sofa dan kentut.

"Senang kau menahannya di dalam," kata Ethan.

"Dia bilang padaku itu adalah hal yang paling manis yang pernah ia cium. Gila, aku kira ia akan menawarkan untuk berhubungan seks denganku saat itu juga, denganmu dan fotografer di dalam ruangan." Ethan tertawa.

"Dan ketertarikannya padamu akan menjadi yang paling kejam."

"Aku tahu, tapi aku tak ingin mengajaknya keluar untuk makan malam."

"Lagipula kau tidak bisa, aku sudah mengaturmu untuk menemani Natalie Glass malam ini. Aku sudah memesan meja di Nobu."

Charlie mengerang. "Tidak, aku sibuk."

"Tidak, kau tidak, Charlie. Natalie sudah bilang dia mendapat peran utama wanita di The Green. Kalian berdua akan dapat bekerja sama. Aku mau gambarmu ada di koran."

"Tidak malam ini, Ethan, please. Aku ingin bertemu Kate."

"Aku tidak akan khawatir tentang pelayan kecilmu. Kukira dia sekarang akan menyadari kau terlalu bagus untuknya."

Charlie bangkit berdiri. "Apa maksudmu?"

Ethan melemparkan koran padanya. Ketika Charlie melihat foto pada halaman lima, ia mengumpat. Dia dan Jody Morton berangkulan dan Charlie tertawa. Dia tidak bisa ingat mengapa. Itu bisa jadi karena sesuatu yang Jody katakan. Jodi bisa mengebor untuk sebuah perusahaan minyak. Dia tidak melakukan apa-apa selain bicara tentang orang-orang yang dia kenal di Hollywood dan rumahnya besar itu. Mereka hanya berdansa, tapi kelihatannya tidak sesederhana itu. Artikel ditambah dengan foto tidak mengartikannya sesederhana itu. Tidak heran dia telah dihujani pertanyaan sepanjang hari. Dia tidak ingin pergi ke acara sialan itu, tapi Ethan bersikeras dan sekarang dia berhasil mendapatkan kembali kepercayaan Ethan, ia ingin tetap di sana.

Charlie tahu ia bisa meminta Kate untuk pergi ke acara amal dengannya. Mungkin dia harus, tapi dia tidak melakukannya karena Kate adalah miliknya dan ia tidak ingin berbagi. Charlie bertanya-tanya apa Kate sudah melihat foto itu. Lengannya mungkin di sekitar Jody, tapi Kate yang ada di hatinya. Apa Kate tahu itu?

Dia ingin meneleponnya, tapi ia tidak bisa menemukan ponselnya.

"Meja sudah dipesan untuk jam delapan. Sebuah mobil akan menjemputmu kemudian Natalie," kata Ethan.

"Haruskah aku pergi?"

"Kalian saling membutuhkan satu sama lain."

"Aku sudah punya rencana."

Mulut Ethan menegang. "Batalkan. Kau berutang padaku, Charlie. Kau berada di ujung tanduk di sini. Hidupmu bukan milikmu. Ini milikku setengahnya dan setengahnya milik orang lain. Harga seorang selebriti."

Charlie menaruh kuku jempolnya di antara giginya dan kemudian merenggut jarinya keluar dari mulutnya. Kate, pikirnya dan tersenyum.

***

Penerjemah: +Putri Yuni
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

13 comments

happy reading all, enjoy the chapter ^^
thx mas yudi editannya :))

Makasiiih...mas n mbak

kasian kate am charlie g bisa ktmu..
ternyata jd artis kagak enak ya, g bebas, d kekang idupnya..hiks hiks

Gw suka banget, mirip cerita cinderella gitu ya? Veersi modern
​​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ŧђąηk.{^⌣^}.¥ou•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶. Mas yudi
​​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ŧђąηk.{^⌣^}.¥ou•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶. Putri yuni ,

Wah...Charlie lucu bgt, kentut lagi (*)´¨) 
¸.•´ ¸.•*¨)
(¸¸.•´ =)) нΛ ​​нΛ ‎​​нΛ =)) .•*¨)
(¸¸.•´¸.•´
(¸¸.•(*).

suka bgt strangers thanks mbk put dan mas yudi :)

suka bgt strangers thanks mbk put dan mas yudi :)

Kok aku sedih bgt baca bab ini....bener2 bikin aku terharu :'(
Mba Put & mas Yud, thanks ya

Kasian kate
Fiuh jadi salah paham deh tar
Keren ceritanya
Makasih mb putri, mas yudi

Tambah seru novel ini,dan bab ini bisa bikin sedih gini yaa :(

Tengkyu mbak putri :) n mas Yudi

Slalu menarik stiap episod Πγª ... ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba putri Yuni dan mas Yudi.

(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) kasihan kate,,,,,,

Ethan jahat,,,, charlie jahat.....

Mba putri and mas mi2n º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º #sambil lap ingus di baju'a mba putri hihihi

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top