15

strangers-thumb
Pada saat Kate tiba di Galeri Bellingham, hampir jam tujuh. Sebuah insiden di kereta bawah tanah membuat jalur ditutup dan semua jadi kacau balau. Dia berharap akan mendapat tumpangan pulang ke Greenwich dengan Rachel dan Dan, tapi jika mereka tidak berencana untuk tutup jam sepuluh, Kate akan pulang sendiri. Dia tahu Charlie akan datang.

Tanda tutup masih terpasang, tapi pintu terbuka sedikit dan bel berdenting.

"Kunci setelah kau masuk," seru Rachel. Kate tidak bisa melihat siapa pun. "Bagaimana kau bisa tahu itu aku?"

"Lukisan terbaru Gustav Mazov. Ada sebuah lubang. Lihat."

Rachel menjulurkan kepalanya walaupun ada kanvas merah besar tergantung di tengah galeri dan memasang muka aneh. Kate pura-pura ngeri. Dan muncul dari kantor, memegang sebotol anggur. Dia menatap Rachel dan mendesah. "Aku berharap aku bisa mengatakan itu meningkatkan karya seniman itu, tapi aku tidak bisa. Ingin minum, Kate?"

"Gelas yang sangat besar saja."

"Kau sudah menduga apa kesenangan yang terbentang di depan, kan?" Dan memasang muka yang mirip dengan Rachel.

Kate mengambil gelas dari tangannya. "Kapan kalian berdua akan keluar lagi?"

"Pergi makan besok," kata Dan dengan senyum konyol.

"Nah, kau bisa pergi ke pub malam ini, jika kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat." Kate tidak menambahkan bahwa dia ingin mereka untuk memilih sebuah pub di Greenwich sehingga mereka bisa mengantarnya pulang.

Galeri Bellingham sebagian besar dipenuhi wisatawan London, namun Rachel menggunakan satu lampiran untuk menampilkan karya yang lebih inovatif. Pameran pertama dibuka beberapa minggu setelah mereka pindah ke apartemen di Greenwich. Rachel mengajak Lucy dan Kate untuk membantu membuat galeri terlihat sibuk dan berpura-pura untuk membeli lukisan. Dan berada di sana karena salah satu karyanya tergantung di dinding. Malam itu, ia menguping percakapan antara Kate dan Jack Bellingham kemudian Dan menyeret Kate melewati setiap lukisannya, menuntut pendapatnya. Lima belas menit kemudian, ia menuding Kate sebagai seorang kritikus seni profesional dan sering merecokinya untuk mengetahui bagaimana Kate tahu begitu banyak. Kate tidak memberitahunya.

"Nomor satu dalam daftar," kata Rachel, pena ditangan, clipboard siap. "Pelan-pelan agar aku bisa menuliskan setiap kata."

"Ini disebut Wall." Dan membaca dari label.

Kate melarikan matanya di atas lukisan itu. Sebuah kanvas minyak berukuran sedang, menunjukkan bagian dari dinding bata merah tua dengan langit biru cerah, tak berawan sebagai latar belakang. Kate mengambil napas dalam-dalam.

"Oke. Potongan gambar ini menawarkan kontradiksi, keseimbangan antara akrab dan abstrak secara klinis. Latar belakangnya salah satu energi statis dengan petunjuk dari disfungsi yang ditangguhkan dalam cara batu bata diselaraskan. Perasaan dislokasi, yang timbul dari ketidaklengkapan gambar, menimbulkan pertanyaan tentang fungsi objek itu sehari-hari."

Rachel menulis dengan tergesa-gesa. Dan melongo.

"Pasti kau seorang seniman."

"Aku sudah bilang padamu aku bahkan tak bisa menggambar lingkaran."

"Berhentilah mengganggu dia," kata Rachel. "Aku tak peduli bagaimana kau melakukannya. Teruskan."

"Apa kau suka lukisan itu?" Tanya Dan.

"Tidak, omong kosong sederhana." kata Kate dan pindah.

Yang berikutnya menampilkan anak kecil sedang melepas atau mengenakan pakaiannya. Kepala anak itu tertutup oleh pakaian.

"Ready for Bed," gumam Dan.

"Aku suka ini. Ini lucu," kata Rachel. Kate menelan ludah. "Benarkah?"

"Kau tidak berpikir begitu?" Rachel tampak bingung. Kate menggigit bibirnya selama beberapa saat sebelum ia bicara. "Sebuah gambar yang mengejutkan dan meresahkan, di mana sapuan kuas yang menyapu dengan berani digunakan untuk mengaburkan perbedaan antara kepolosan dan seksualitas. Perasaan bahwa malapetaka yang menunggu untuk terjadi, bergema dalam cara bagaimana warna digolongkan, sehingga lukisan itu tampak menuju kearah kerusakan disfungsional."

"Disfungsional yang lain?" tanya Dan. "Bukankah semua artis disfungsional? Ngomong-ngomong, aku suka kata itu." Kate menyeringai.

"Tapi tidak suka lukisannya?" Tanya Rachel lagi.

"Sedikit. Meskipun dilukis dengan baik. " Kate bergerak lagi.

"Kupikir aku tidak menyukainya lagi," kata Rachel.

Kate berbalik kearahnya. "Jangan katakan itu, Rachel. Jika kau melihatnya lucu, itu tidak apa-apa. Yang penting apa artinya bagimu. Kau tidak boleh terpengaruh oleh apa yang aku pikirkan."

"Jadi mengingatkanku mengapa kita di sini?" Dan bertanya. "Apa tujuannya dalam sebuah katalog?"

"Karena apa yang dikatakan Kate memberikan rasa keaslian pada lukisan-lukisan itu," kata Rachel.

"Maksudmu itu membuat mereka terdengar lebih baik dari yang sebenarnya?" Dan mengangkat alisnya.

"Dan kau dapat menjualnya lukisan-lukisan itu lebih mahal." Kate pindah ke lukisan berikutnya.

"Hati-hati pada apa yang kau katakan." kata Dan.

Kate berdiri di depan salah satu potret karya Dan. "Seorang seniman baru yang berbakat mengungkapkan kilauan dan gaya kurang sopan dalam kemegahan yang penuh dan meledak-ledak. Keadaan pikiran nakal subjek ini sebanding dengan putaran dari goresan kuas dan detaill indah yang diberikan kepada mata yang melihatnya. Bagaimana dengan itu?"

"Aku mencintaimu." kata Dan.

Kate menyeringai. "Siapa itu?"

Dan berpura-pura memukul Kate. Itu potret kakaknya, Mel.

"Aku belum selesai," kata Kate saat Rachel mulai bergerak lagi. "Tapi di bawah permukaan terletak individu yang bingung, yang wajahnya menakutkan dan memikat. Tanda-tanda kegilaan hadir dengan halus."

"Tuhan, jangan menulis itu, Rachel. Mel akan membunuhku."

"Oh, itu Mel? " Tanya Rachel. Dan berbalik ngeri, hanya untuk melihat Rachel tersenyum.

Kate mengejar sisanya, terutama mengagumi karya satu artis, yang dalam lukisannya adalah sebuah dapur yang sangat gelap, daerah tunggal cahaya yang keluar dari kulkas telah dibuat menggunakan massa benang sutra. Kecuali kau berdiri di dekatnya, itu terlihat seperti dicat.

"Apa itu?" Tanya Kate, melihat sepetak dinding yang kosong. "Atau ini adalah seni yang sangat modern?"

" Seniman itu berjanji lukisannya akan berada di sini malam ini, tapi tidak, sulit sekali. Terima kasih banyak untuk hal ini, Kate. Aku tahu aku yang harus melakukannya, tapi aku tidak bisa membuatnya dengan kata-kata yang tepat."

"Sejujurnya, tidak ada yang patut menulis tentang lukisan. Itulah inti dari lukisan, kan? Gambar, bukan kata-kata. Satu-satunya orang yang dapat mengatakan apa arti dari lukisan itu adalah orang yang menciptakannya. Dengan asumsi mereka tahu. Mungkin kau benar tentang seorang anak yang bersiap-siap untuk tidur. Mungkin itu memang seperti itu adanya, dilukis oleh seorang ayah atau ibu yang penuh kasih sayang. Tapi mungkin juga itu dilukis oleh seorang pedofil." Rachel memucat. "Ya ampun, aku harap bukan."

"Masalahnya adalah para seniman dalam separuh waktunya saat melukis tidak tahu apa yang mereka lukis. Bukankah itu benar, Dan?" tanya Kate.

"Aku selalu tahu."

"Itu karena kau melukis potret," kata Rachel.

"Sebuah lukisan harus menarik setiap kali kau melihatnya, bukan hanya pertama kali kau melihatnya, jika tidak, apa gunanya memilikinya di dindingmu?" Kata Kate.

"Bagaimana kau mendapatkan ide-idemu?" Tanya Dan. "Ketika kau masih kecil, apakah orangtuamu menyeretmu mengitari The Tate dan National Gallery?"

"Aku tak tahu di mana aku mendapatkan ide-ide itu. Aku membuka mulutku dan omong kosongku keluar. Apakah kita sudah selesai?"

Tidak sesederhana itu, tapi Kate tidak berniat mengatakan yang sebenarnya, bahwa minatnya pada seni adalah cara bagaimana dia mengawasi ayahnya.

***

"Kiriman untuk Nona Mermaid," Charlie bernyanyi lewat interkom.

Sambil menyeringai penuh antisipasi. Pintu depan terbuka dan ia masuk. Sekarang sudah jam 11.30. Terlambat, tapi tidak terlalu larut. Dia terjebak dalam sebuah rapat dengan penasihat keuangan, meskipun Charlie menangani sebagian urusan bisnisnya sendiri. Ijasah sarjana ekonominya seharusnya bisa digunakan untuk sesuatu.

"Kukira kau tak akan datang." Kate bersandar di pegangan tangga, mengawasi Charlie berlari naik.

"Aku tidak akan datang. Kau benar-benar licik, keluar malam ini. Aku tidak suka kau lagi." Charlie berniat menangkapnya dan Kate lari.

"Baik. Kalau begitu pergilah," teriak Kate.

Dia berusaha menutup pintu, tapi Charlie meletakkan kakinya di antara pintu dan memaksa membukanya. Charlie meraih Kate, mendorongnya ke dalam sambil membanting pintunya. Dia menempelkan bibirnya terhadap Kate, mengerang di dalam mulutnya. Mereka berciuman begitu lama ketika bibir mereka terpisah, mereka tersentak berbarengan, seakan mereka muncul ke permukaan setelah menyelam bebas di kedalaman. Charlie membelai pipinya.

"Ya Tuhan, Kate. Aku merindukanmu. Kau tidak benar-benar ingin aku pergi, kan?"

"Belum." Charlie berdiri tegak dan menatapnya.

"Jadi, bagaimana harimu?" "Sempurna sekarang."

Kate tersenyum lambat.

"Dan selain mendapatkan di peran sekali seumur hidupmu, bagaimana denganmu?"

"India keluar dari rumah sakit dan aku belum minum, rokok, sebaris coke atau seks."

"Dan yang mana yang ditawarkan padamu?"

" Hanya minum." Charlie mengambil tangan Kate dan berjalan ke dalam apartemen. "Sudah menyelesaikan salah satu jigsaw kita?"

"Tidak."

Dia mengambil potongan persegi dari atas meja dan mengangkat pandangannya kearah Kate.

"Apa kau memotong gaun pengantinmu?"

Mata Kate berbinar. "Mau lihat apa yang aku lakukan dengan itu?" Mungkin aku akan melihatnya, pikir Charlie.

"Anggap saja rumahmu sendiri." kata Kate dan mengulurkan tangannya seolah-olah dia sedang memegang nampan minuman di telapak tangannya.

Kate mengenakan rok denim kecil abu-abu dan t-shirt katun pink berleher V. Kakinya telanjang. Jari-jari Charlie melayang-layang.

Kate tertawa. "Buat keputusan."

Charlie melotot dan kemudian mengangkat bajunya melalui kepala Kate. Charlie merasa seolah-olah dia berbaring di kursi dokter gigi dengan semua cairan tubuhnya disedot keluar dari mulutnya. Dia bahkan dalam keadaan tidak nyaman, meskipun di daerah yang agak rendah dari mulutnya.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Kate. Charlie nyaris tidak mampu berpikir. Reaksinya terhadap Kate adalah murni refleks. Kejantanannya yang sudah tegak, menjadi lebih bersemangat. Detak jantungnya dua kali lipat dan kebutuhannya pada Kate menjadi empat kali lipat. Bra manik-manik tanpa tali berenda yang tampaknya benar-benar tidak menyembunyikan apa pun. Nyatanya malah terlihat menawarkan puting lezat Kate padanya. Jari-jarinya membuka ritsleting rok Kate dan menariknya ke bawah. Sebuah erangan yang mendalam bergemuruh dari suatu tempat dalam diri Charlie. Celana dalam Kate adalah secarik kain berbentuk hati dengan tiga tali satin tipis melingkar di kedua sisi melengkung di atas pinggulnya. Di tengah-tengah kain ada gambar kuda nil kecil.

Charlie membuka mulutnya tapi tidak ada kata yang keluar. Kate berdiri dengan tangan gelisah, rambutnya berantakan dan senyum gugup di bibirnya. Charlie mendesah.

"Katakan sesuatu yang bagus atau apapun," kata Kate. Charlie melucuti kemejanya melalui atas kepalanya dan menjatuhkannya.

"Bagus atau apapun. Kau begituuuu nakal. Kau sudah merusak kejutanku." Dia melepas sepatu dan membuka kancing celananya.

"Mau membuka risletingku?"

Jari-jari Kate meluncur ke bagian dalam atas celananya, menyentuh ujung kemaluan Charlie dan Kate tertawa.

"Apa yang terjadi dengan celana boxermu, Rambo?"

"Aku begitu bagus dan halus setelah dicukur olehmu, kupikir itu akan menarik untuk komando (tanpa celana dalam)."

"Dan benarkah itu?" Tangan Kate meluncur lebih dalam dan membungkus jari-jarinya di sekeliling kemaluan Charlie.

"Tidak sampai sekarang."

Kate menariknya ke kamar tidur sambil memegang kejantanannya.

"Aku selalu memikirkan tentangmu sepanjang hari," kata Charlie. "Aku dalam perilaku terbaikku. Kesner benar-benar menyukaiku. Aku bahkan ingat untuk mengucapkan terima kasih." Kate menarik celananya ke bawah dan Charlie melangkah keluar.

"Aku terus membayangkan kau berteriak padaku jika aku mengacaukan segalanya. Aku ingin..."

"Ingin apa?"

"Ingin membuatmu bangga padaku, " gumamnya. "Ingin menunjukkan padamu kalau aku sudah berubah."

Kate menangkup wajahnya dengan tangan Charlie. "Aku tidak tahu dirimu yang lama. Aku hanya tahu Charlie yang membuat hidungku berdarah, orang dengan mata sedih yang kukira adalah hiu, Charlie yang menyelamatkanku. Aku tak tahu Charlie yang merokok terlalu banyak, minum terlalu banyak dan memakai terlalu banyak obat, karena kau tidak melakukan hal-hal itu denganku.

"Dan aku cukup suka dengan Charlie yang melakukan seks terlalu banyak, asalkan ia hanya melakukan itu denganku."

"Aku begitu menginginkanmu hingga membuatku takut, " bisik Charlie.

"Aku takut aku begitu menginginkanmu," bisik Kate kembali.

Charlie menyelipkan jari-jarinya di bawah sisi celana dalam Kate dan meremas pantatnya, menarik tubuh Kate kearahnya, menggoyang kemaluannya pada Kate sebelum menekan tubuh Kate ke dinding. Charlie menekan bibirnya pada bibir Kate dan tenggelam di dalam mulutnya. Panas yang ia temukan disana menggelora melalui tubuhnya hingga jari-jari kakinya melengkung. Aroma Kate membuatnya liar, rasanya hampir lebih dari yang bisa ia tanggung. Charlie mencium menuruni sepanjang lehernya dan menjilat perlahan-lahan menuju putingnya sementara ia menggosok ibu jarinya di bawah half-cup branya. Dia menemukan kait tersembunyi yang ada di depan, menjentikkannya terbuka dan jatuh ke lantai.

"Oh Tuhan, payudaramu," kata Charlie sambil mengerang.

"Tidak terlalu besar."

"Benar-benar sempurna—bentuk, berat, rasa dari rasa raspberry di ujung putingmu."

"Mengapa para pria sangat menyukai payudara?"

Charlie menatap Kate dengan mulutnya di sekitar puting Kate. Charlie membiarkan Kate melepasnya dengan suara pop lembut dan menjilat bibirnya.

"Kau memintaku untuk berpikir ketika setiap sel dalam tubuhku berusaha untuk mencapai momen tanpa berpikir yang indah?" Kate tertawa. "Ya."

"Ya Tuhan. Kau begitu menuntut." Charlie menggigit kecil menuruni tubuh Kate, menekan setiap kalimat dengan ciuman.

"Aku tak tahu mengapa pria menyukai payudara." Kiss.

"Karena mereka tidak punya?" Kiss.

"Karena kebanyakan wanita menyembunyikannya dan pria menginginkan apa yang tidak dapat mereka memiliki?" Kiss.

"Karena payudara terasa begitu menyenangkan?" Kiss.

"Karena itu membuat wanita bergairah pada saat pria menghisapnya?" Kiss.

Charlie mencapai pusar Kate. Charlie menarik celana dalam Kate saat dia memutar lidahnya di sekitar pusarnya yang kecil.

Ketika ia menggesekkan pipinya terhadap tubuh Kate, Kate mengerang. Dia menjatuhkan diri untuk mengendus ke sebelah dalam pahanya. Kate sudah basah. Dia bisa melihat lipatannya mengkilap.

Kewanitaannya tampak berkilau saat Charlie memandangnya. Kate mengerang saat ia mencium di antara kedua kakinya, lidahnya menyelinap melewati lembah seksnya sampai menemukan pelindung klitorisnya. Kemaluan Charlie berdenyut saat ia mengisap.

Charlie menempatkan lututnya lebih nyaman di lantai dan menempelkan Kate ke dinding, tangannya di pinggul Kate. Beberapa saat menggoyang-goyangkan lidahnya di atas tonjolan ketat klitorisnya membuat Kate orgasme di mulut Charlie dengan teriakan tenang dan banjir cairan. Charlie menjilat dan mengisap dan merasa orgasme Kate menggulung melaluinya, mulai dari mulutnya langsung menuju ke kemaluannya, yang melepas semburan pre-cum sebagai responnya. Dia mencium terus ke bawah, memeluknya sampai Kate berhenti gemetar dan kemudian mencium kembali ke atas tubuh Kate.

"Lagi," bisik Kate terhadap mulutnya.

Charlie tersenyum dan membalik Kate menghadapi dinding. Dia mengarahkan kemaluannya sehingga meluncur di antara kaki Kate, di sepanjang lipatan seksnya, terbungkus dalam panas basah seksnya sampai pinggulnya menempel rapat ke bagian belakang tubuh Kate. Kate menggeliat dan merapatkan pahanya dan Charlie mendesis.

"Jangan bergerak," kata Charlie. "Tetap diam dalam semenit."

Bukan berarti Charlie mengira Kate tetap diam akan membuat perbedaan apapun. Setiap bagian dari tubuhnya sakit menginginkan Kate. Dia menggerakkan tangannya di atas bahu Kate, menyukai nuansa sehalus satin dari kulitnya. Matanya berlama-lama di bekas luka itu, bertanya-tanya kapan Kate akan cukup percaya padanya untuk menceritakan bagaimana dia mendapatkan luka itu. Lalu Charlie menyelipkan jari ke atas bagian depan tubuhnya membelai payudaranya.

Charlie mengerang saat ujung putingnya mengeras di bawah sentuhannya. Bahkan saat ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak melakukannya, ia menggoyang pinggulnya terhadap tubuh Kate, membiarkan kemaluannya menyelip dan meluncur ke dalam seksnya yang licin.

"Oh kau terasa begitu nikmat," bisik Charlie.

Charlie berharap Kate menggunakan pil, berharap ia bisa mendorong dalam dirinya tanpa harus memakai pelindung. Kepala kemaluannya yang besar menyenggol pintu masuk Kate dan Charlie menemukan dirinya menekuk lututnya sehingga dia bisa mendorong dan meluncur dalam dirinya. Begitu mudah. Hanya mendorong.

Meskipun saat ini ia memiliki sel-sel otak yang hanya sedikit berfungsi, Charlie menarik dirinya menjauh. Kate menggodanya di luar jangkauan akal sehatnya. Kate membungkus jari-jarinya yang gemetar pada tangan Charlie dan membawanya ke kamar tidur. Lalu berbaring di satu sisi dan menyaksikan bagaimana Charlie merogoh lemari samping tempat tidur untuk mengambil kondom dan memasang di kemaluannya. "Aku selalu berpikir aku ingin bermain-main dulu selama berjam-jam tapi kemudian aku tidak bisa menahan diri," kata Charlie dengan erangan frustrasi. "Ini semua salahmu."

Kate tertawa. Charlie menggeram dan mendorong Kate hingga berbaring. Dia mengangkat kaki Kate ke udara dan mendorongnya ke arah dada Kate. Ketika Charlie menatapnya, dia mengerang.

"Oh Tuhan. Kau perlu dikunci." bisik Charlie.

Sambil tetap memegang pergelangan kakinya, Charlie melebarkan kaki Kate. Charlie tahu ukuran kemaluannya tetap sama, tapi tanpa rambut untuk mengaburkan pangkalnya, ia tampak lebih besar dan merasa lebih besar. Matanya ditutup meskipun berupaya untuk menjaganya terbuka saat ia meluncur langsung ke dalam diri Kate. Turun, turun, turun. Rasanya seperti menyelam ke dalam kolam yang dalam, rasa sensasi memabukkan yang benar-benar membuat kewalahan.

Kate mulai membuat suara mendesis kecil, dan semua harapan Charlie agar melakukannya dengan lambat mulai menguap. Dalam tiga kali dorongan panjang ke dalam diri Kate, ia tiba-tiba memburuk menjadi ledakan kalut, menarik kemaluannya masuk dan keluar dari alur Kate yang ketat. Jari-jarinya mencengkeram pergelangan kaki Kate saat ia mendorong. Charlie bisa merasakan kemaluan Kate mengetat di sekitar kejantanannya, menyedot miliknya ketika Charlie menarik mundur, dan seakan jari-jari terakhir Charlie yang memegang tepian tebing tergelincir. Charlie menghujam ke dalam diri Kate seperti bintang porno super-jantan yang pernah ia tonton dan telah memutuskan akan mempercepat gerakannya.

Mungkin tidak.

"Oh Tuhan," Charlie mengerang, "Aku tidak bisa berhenti. "

"Kau...pikir...aku ingin berhenti?"

Kekuatan klimaksnya yang akan memuncak membuatnya melayang-layang antara kenikmatan dan rasa sakit, tapi ia serius bahwa ia tak mampu memperlambat gerakannya. Charlie merasa Kate orgasme dan menggeliat ke dalamnya, kepalanya meronta-ronta dari sisi ke sisi. Hanya sedikit dari dirinya dia bisa bergerak.

"Charlieeee," ratapnya.

Bolanya seakan terbakar, Charlie jatuh ke dalam perhambaan dari gesekan tanpa belas kasihan, panas dan licin. Otot-ototnya mengencang dan denyut jantungnya melaju jauh melebihi skala. Charlie memiliki rasa takut sesaat dan tiba-tiba bahwa apa yang ia dan Kate alami terlalu baik, bahwa untuk menjadi sesempurna ini tidaklah diperbolehkan.

Sesuatu akan menjadi salah. Kemudian semuanya melaju bersama, mengisap Charlie di dalam pusaran fisik dan mental dan ia memancar deras ke dalam diri Kate dengan teriakan keras dari kenikmatan.

Setelah getaran nikmat yang terakhir telah terlepas dari tubuhnya, Charlie keluar dari Kate dan bergeser meluruskan kaki Kate. Ia mengurusi kondomnya dan kemudian menekan wajahnya di sebelah wajah Kate. Anggota badan Charlie masih gemetar dan napasnya tersengal.

"Apa aku menyakitimu?" Bisik Charlie. "Maaf."

"Lagi," bisik Kate dan meringkuk lebih dekat.

Charlie membungkus lengan dan kakinya di sekeliling Kate. Seiring dengan perasaan kepuasan seksual yang mendalam, Charlie takut. Dia takut akan mengacaukan ini karena itulah yang selalu ia lakukan. Tak peduli berapa banyak ia tidak ingin merusaknya, itulah yang akan terjadi. Charlie terus memeluk Kate lama setelah Kate jatuh tertidur.

***

Mata Kate tiba-tiba terbuka ketika Charlie mengguncang dirinya.

"Ada apa ini?"

"Tidak...aku mau," Charlie megap-megap.

"Apa?" Kate mengulurkan tangan untuk mengusap wajah Charlie.

"Aku bermimpi buruk," bisik Charlie. "Aku bermimpi aku akan kehilanganmu. Oh Tuhan, jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku."

Dia menarik Charlie ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, Hippo. Aku ada di sini."

"Kau milikku."

"Aku milikmu," kata Kate.

"Aku tidak ingin mengacaukan ini. Kau sangat berarti bagiku." Gumpalan di tenggorokan Kate sulit untuk ditelan. Kate pikir dia tidak akan pernah bisa mempercayai siapa pun lagi setelah Richard tapi Charlie tidak mungkin untuk ditolak.

Tangan Charlie menyelinap di antara kedua kaki Kate. Saat ia mulai menggosok klitorisnya di antara jari dan jempolnya, tubuh Kate merespon. Charlie menatapnya lekat-lekat, mengamati wajahnya saat ia membawanya orgasme. Kate merasa seperti ada sesuatu yang berkembang di dalam dirinya, badai petir pada hari di musim panas, kilat yang menjanjikan, awan gelap bergulir di atas kepala sampai beratnya udara membuat dirinya sulit untuk bernapas.

"Kau begitu panas dan basah dan manis," kata Charlie mengerang. "Aku suka membuatmu klimaks. Katakan padaku bagaimana rasanya."

"Oh Tuhan, aku tak tahu apa aku bisa."

"Cobalah."

"Itu dimulai dengan rasa hangat dan menenangkan tapi tepat pada awalnya, ada perasaan yang terbangun terhadap sesuatu." Kate menelan ludah. "Semacam pengetatan...yang intens di dalam perutku." Kata-kata mulai mengalir. "Jika kau mengubah apa yang kau lakukan, sudut, tekanan, itu merubah sesuatu dalam diriku juga, mungkin mempercepat, mungkin memperlambat tapi itu terus datang. Seperti awan berbentuk jamur dari sebuah ledakan atau gelombang besar bergegas menuju pantai. Tidak ada yang dapat menghentikannya dan kau tahu itu akan menenggelamkanmu, menelanmu dan kau menginginkannya, tapi belum saatnya, jadi kau lari dan lari hanya saja kau tidak dapat melakukan apa pun untuk membuatnya tidak terjadi."

Kate melepaskan erangan panjang saat jari-jari persuasif Charlie menariknya ke jantung kegelapan, hanya untuk dilemparkan kembali ke dalam cahaya, secepat sebuah panah.

"Oh Tuhan, Charlie, Charlie." Tubuh Kate kaku dan bergidik saat tubuhnya menegang dan santai dalam cengkeraman kuat orgasmenya. Lalu bibir Charlie ada di seluruh wajah Kate, mencium dan mencium dan Kate tahu dia akan mati ketika Charlie meninggalkannya karena dia tidak ingin hidup tanpa Charlie.

Charlie melempar selimut dan mengangkangi Kate, lututnya di kedua sisi pinggulnya, tangannya ada di kejantanannya yang tegak. Matanya tampak hitam dalam cahaya redup.

"Kate." Charlie menghembuskan namanya dalam desahan panjang.

"Ya."

"Oh Tuhan. Aku ingin keluar di seluruh tubuhmu. Aku ingin bercinta dipusarmu, payudaramu, bercinta di mulut manismu. Aku ingin menembakkan spermaku ke seluruh perutmu. Aku ingin menggosokkannya ke kulitmu. Aku ingin kau merasakanku. Aku ingin merasakanmu." Kate meraih dan menangkap botol minyak yang dia pernah gunakan sebelumnya. Meneteskan beberapa di antara payudaranya, menggeser jauh botolnya dan kemudian menekan payudaranya bersamaan. Charlie mengerang. Dia bergerak agak naik ke atas dan meluncurkan kepala bulat kemaluannya ke lipatan yang telah dibuat Kate. Desahan napas panjang, gemetar saat Kate memegang payudaranya rapat di sekelilingnya, menandakan Kate telah melakukan dengan benar. Ini adalah kali pertama baginya, tindakan lain yang sudah diteliti untuk melakukan telepon seks. Banyak pria memiliki fantasi ini dan kali ini, dengan Charlie, ternyata membuat Kate bergairah juga.

"Oh sial,"  Charlie terengah.

Charlie adalah orang yang menggerakkan pinggulnya maju mundur namun Kate yang menguasai gerakan kemaluannya. Ketat, longgar, meremas, melepas dan Kate membiarkan Charlie melonjak ke depan sehingga bisa menjilat ujungnya.

"Sial, sial, sial."

Charlie menarik kembali dan berjongkok saat krim keperakan muncrat di atas tubuh Kate. Charlie melemparkan kepalanya ke belakang dan terkesiap oleh pelepasannya, memandikan perut Kate dengan sperma yang hangat dan kental. Charlie begitu tampan.

Charlie menggeser lututnya ke ranjang dan melayang di atas Kate. Memutar-putarkan jarinya dalam cairan mutiara dan mengolesinya di sekitar puting Kate. Kate meraup olesan itu dan menjilat jarinya perlahan-lahan.

"Aku berharap itu ada dalam dirimu. Aku berharap aku bisa keluar dalam dirimu."

Charlie mengoleskan tangannya di atas perut Kate.

"Jangan pernah mencucinya."

"Itu sangat tidak higienis." Charlie menunduk dan menjilat puting yang dia olesi.

"Apa romantisme sudah mati?" Tidak akan, pikir Kate. Apa yang dia dan Charlie alami tidak akan pernah mati.

***

Penerjemah: +Putri Yuni
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

15 comments

Asyik dah muncul lagi,,, cihuyyy bisa komen juga, Чªήğ pertama bukan yah?? Bodo deh,,,, Чªήğ ptg bs bilang º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º #mas yudi, #mba putri dh posting stranger,,,,

Big hug n kiss for #mas yudi and all te el tor, ​​​☂♓ÅNK•̃ Ɣ☺ΰ so much...

w0w charlie dn kate emang g ada matinya :D
thanks mbak yuni and mas mimin *lope*

(*)´¨) 
¸.•´ ¸.•*¨)
(¸¸.•´ =)) нΛ ​​нΛ ‎​​нΛ =)) .•*¨)
(¸¸.•´¸.•´
(¸¸.•(*). Charlie... Charlie... Ada2 aja :p

‎​​​(•͡˘˛˘ •͡)" Ħ​ęëємM♏◦°◦ºº‎ ◦°◦ºº
Makin hot z........

Makasih mbak Yuni n mas Yudi
Kerennnnnnn

mksh mas yudi n mb putri..
baca stranger emng butuh konsentrasi..
big hug buqt charlie yg dah berjuang keluar dr ketergantungan..

suka bgt stranger thanks mbk put dan mas yudi :) keren bgt ceritanya <3<3

thanks..mz yudi, mbk putri, mbk tika n mbk helda :)

Thanks mba Putri *hug and kisses

Obrolannya seru banget deh ahh mereka berdua ini dan mbak putri yuni kece bener translatinnya hihiii kiss kiss :*




Fuaaananaaasss. tx put n mas yud

Sukaaaa sama mereka! Charlie & Kate
mengobati kerinduanku pada Travis & Abby.
Thanks Portal Novel & Angel translater

hidihhh...
ternyata pemecah rekor komen pertama mbk +fathy toh... hehehe
*vieess mbk
mau ngucapin makasih mbk Putri dan mas Yudi..
^_^

Aihhhhhhl..
Seru banget mereka ini...
Tq mba putri n mas yudi..
#kiss

thanks all *kecup jauh :*

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top