45

ftsd-thumb
"Joshua sangat senang membaca buku, karena itu aku senang ketika siang itu kau memilih duduk di perpustakaan. Aku sangat senang, karena kau sangat mirip dengannya."

Mereka duduk sambil minum kopi dan kue yang disediakan di kebun belakang rumah. Darren sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mengajak Sharin duduk dan bercerita. Tentu saja Sharin tidak menolak, jantungnya berdegup kencang, menanti cerita tentang Joshua, ayah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Tetapi Darren mengenalnya. Dan lelaki itulah satu-satunya penghubung Sharin dengan ayahnya.

Lelaki itu menyesap kopinya, lalu menatap Sharin dengan alis diangkat, "Aku lupa menanyakannya. Kata Cathy kau bekerja di sebuah biro wisata... apakah mereka tahu kenapa kau tidak bisa masuk kerja?"

"Aku sudah menelepon mereka dan mengambil cuti besarku..  aku punya dua puluh hari cuti besar... tapi kalau lebih dari itu, tidak bisa... jadi beberapa hari lagi aku harus masuk kerja."

Mata Darren berkilat mendengarkan keterangan Sharin, tetapi Sharin tidak melihatnya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, matanya menatap ke arah album foto keluarga itu dengan sangat tertarik.

Darren begitu baik, dia menunjukkan album foto keluarga kepada Sharin, di sana ada foto Joshua dan dengan rinci Darren menjelaskan masing-masing kisahnya,

"Ini foto Joshua waktu wisuda..." Darren menunjukkan jarinya ke foto lelaki muda yang tampak begitu bahagia dan mengenakan toga yang terpasang rapi, senyumnya lebar, dan sangat mirip dengan Sharin. "Dia sangat gugup pagi itu.... karena di hari yang sama dia diwawancara oleh perusahaan besar yang sudah memesannya jauh-jauh hari. Kau tahu, Joshua mahasiswa jenius, jadi banyak yang mengejarnya ketika lulus. Dia memilih penghasilan terbesar meskipun dia harus bekerja keras. Lebih dari separuh gajinya dia kirimkan kepada kakek dan nenekmu, untuk membantu biaya perawatanmu."

Sharin membelalakkan matanya, "Ayahku melakukan itu?"

Darren menganggukkan kepalanya, "Keluarga angkatku tidak kaya dan ayah Joshua tidak tahu tentang dirimu, jadi Joshua harus bekerja keras demi bisa mengirimkan uang untukmu..... Mereka dulunya sahabat ayahku, ayah Joshua sempat satu sekolahan dengan ayahku di London. Mereka terus menjalin persahabatan ketika ayah Joshua ditugaskan ke salah satu cabang perusahaan di Yunani, di dekat rumah ayahku. Ketika kedua orangtuaku meninggal, ayahku menunjuk ayah Joshua sebagai waliku sampai aku berusia dua puluh satu tahun dan bisa menerima warisan sah secara hukum.

Dan kemudian ayah Joshua harus kembali ke negaranya, sehingga aku dibawanya. Dan disinilah aku sekarang. Aku cukup bahagia dengan keluarga angkatku, mereka menyayangiku dan tidak pernah menganggapku sebagai orang luar. Ketika usiaku dua puluh tahun, mereka semua meninggal karena kecelakaan dan itu merupakan pukulan yang sangat besar untukku. Karena masih kurang dari usia wajibku untuk menerima warisan, Aku mengajukan gugatan ke pengadilan dan dikabulkan, dan mereka akhirnya memberikanku warisanku. Yang ternyata sangat besar, ditambah dengan bunga dan pengembangan saham selama bertahun-tahun, membuatku luar biasa kaya. Aku akhirnya mengembangkan perusahaan dan di sinilah aku." Darren tersenyum menyesal, "Aku menyesal keluarga angkatku pergi begitu cepat karena aku belum membalas budi kepada mereka.. dan aku menyesal karena kau tidak sempat bertemu Joshua.."

Sharin mendengarkan kisah Darren dan termenung. Kisah lelaki ini hampir sama dengannya, mereka sama-sama kehilangan orangtuanya dan bertahan hidup dari kasih sayang orang lain yang mencintai mereka. Ada perasaan empati yang berkembang untuk Darren di hati Sharin, membuat dadanya terasa hangat.

Darren menyesap kopinya dan mengalihkan pandangannya kembali ke album foto, "Mari kita bahas lagi tentang Joshua, ini fotonya ketika dia merayakan ulang tahun ke dua puluh. Kau tahu apa doanya? Dia ingin waktu cepat berlalu dan kau segera berumur tujuh belas tahun..."

***

Sharin membawa album foto itu ke kamarnya. Ada kekosongan besar yang dirasakannya atas kematian Cathy. Kekosongan itu menciptakan palung yang dalam di hatinya. Karena ibunya telah tiada. Tetapi palung itu juga menyisakan goresan menyakitkan, karena dia tahu pasti ibunya tidak pernah mencintainya dan tidak pernah menyayanginya.

Perasaannya terhadap ayahnya berbeda. Dia hanya mengenal Joshua, Ayahnya, dari cerita-cerita Darren dan dari foto-foto keluarga yang sekarang dibukanya di atas ranjangnya. Tetapi hatinya terasa sedih, mengetahui bahwa ayahnya mencintainya, tetapi tidak pernah bisa menemuinya. Mengetahui bahwa kecelakaan itu telah merenggut ayahnya bahkan sebelum dia sempat mengetahui bahwa dia memiliki seorang ayah yang selalu menjaganya diam-diam. Rasanya seperti sesuatu direnggut dari jantung dan dihantamkan ke tanah.

Mata Sharin terasa panas, dan tanpa tertahankan air matanya menetes jatuh, mengenai wajah ayahnya yang sedang tersenyum di foto. Diusapnya air matanya dan tangisnya semakin terisak. Tangis yang terlambat, atas kematian ayahnya, atas kesempatan untuk bertemu yang tidak pernah tersampaikan, atas penyesalannya karena tidak pernah sempat mengatakan bahwa dia juga mencintai ayahnya dan selalu memikirkannya.

"Ayah..." Sharin mengusap foto itu sambil menangis, "Ayah..."  Air matanya tak terbendung. Dan dia terisak-isak di kamar itu.

Di luar kamarnya, Darren berdiri membeku. Meresapi kepedihan Sharin. Ada kepedihan yang sama di matanya. Sebuah penyesalan yang tak tertahankan.

"Maafkan aku Sharin." Darren menggumam dalam hati dan mengusap wajahnya dengan frustasi.. Kalau saja dia bisa menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya, mungkin dia masih bisa mengharapkan Sharin mengerti. Tetapi kekejaman Lucaslah yang menyebabkan Sharin tidak bisa bertemu dengan ayahnya, dan kehilangan seluruh keluarganya, dan Lucas melakukannya dengan tangan Darren.

***

"Bakar biro wisata itu nanti malam." Lucas memberikan instruksi dengan dingin di telepon, "Buat seperti kecelakaan."

Suara Ronald di sana menyahut dengan patuh, "Baik tuan. Saya akan laksanakan sebaik mungkin."

Lucas meletakkan gagang teleponnya dan tersenyum. Dia memang tak segan-segan mengotori tangannya dengan darah kalau perlu. Tetapi untuk hal-hal semacam ini, dia punya Ronald untuk melaksanakannya, pegawainya yang setia dan bersedia melakukan apapun demi dirinya.

Begitu biro wisata tempat Sharin bekerja terbakar habis. Sharin tidak punya alasan untuk masuk kerja karena cutinya sudah habis.

***

Berita di koran itu membuat mata Sharin terbelalak. Sebuah kawasan ruko terbakar habis dilalap api, tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian uangnya luar biasa. Ruko itu menampung banyak usaha niaga, seperti salon, bank perkreditan rakyat, toko elektronik, dan biro wisata tempat Sharin bekerja.

Sharin mencoba menelepon atasannya. Tetapi selalu terhubung dengan mailbox. Mungkin atasannya sedang sibuk ... siapa yang tidak sibuk kalau lahan bisnisnya terbakar habis seperti itu? Sharin membayangkan atasannya dengan sedih, atasannya lelaki setengah baya yang baik dengan keluarga besar dan anak-anak yang baik pula. Tidak terbayangkan betapa sedihnya mereka kehilangan bisnis keluarga seperti itu. Semoga semua sudah diasuransikan, Sharin membatin.

Dan sekarang dia harus memikirkan pekerjaan, karena sudah jelas dengan kejadian ini, dia tidak punya pekerjaan lagi.

***

"Kau bisa menjadi asistenku." Darren mengusulkan ketika Sharin menceritakan kebakaran yang menimpa biro hukum tempatnya bekerja.

Sharin mengernyitkan alisnya, "Tidak Darren... aku akan mencari pekerjaan lain, segera."

"Oh ayolah, kau bahkan belum bisa keluar dari rumah ini, Para wartawan masih berkerumun di sana, mengendus sana dan sini. Aku juga mengalami nasib sama, tidak bisa keluar, aku harus menjalankan perusahaanku dari rumah...akan sangat membantu kalau aku mempunyai asisten."

Sharin menatap Darren ragu. Jalan keluar yang diberikan oleh Darren memang membantu mereka berdua, tetapi Sharin merasa tidak enak, dia telah begitu banyak memanfaatkan kebaikan hati Darren. Dan sekarang bahkan lelaki itu memberinya pekerjaan.

"Terimalah. Dan jangan merasa tidak enak. Aku keluargamu bukan? Keluarga saling membantu." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.

Bagaimana Sharin bisa menolak kalau menerima penawaran seperti itu?

*** 

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah hampir satu bulan Sharin tinggal di rumah itu. Hubungannya dengan Darren berlangsung dengan baik karena mereka berinteraksi dengan intens hampir setiap hari.

Secara aktual. Hanya Darren yang ditemui oleh Sharin setiap harinya, hanya Darren teman bicara dan berbaginya, dan hanya Darren satu-satunya orang yang bisa diajaknya berkomunikasi.

Menjadi asisten Darren sangat rumit dan Sharin harus belajar banyak. Mengerjakan pekerjaan di perusahaan internasional tentu saja berbeda dengan mengerjakan pekerjaan administrasi di sebuah biro wisata. Tetapi Darren dengan sabar membantu dan membimbingnya sehingga dia lancar mengerjakan semua pekerjaannya.

Dan perasaan Sharin berkembang kepada Darren. Oh ya, lelaki itu sangat tampan bagaikan dewa Yunani di kisah-kisah para dewa. Dengan warna rambutnya yang unik, matanya yang dalam dan garis wajahnya yang keras. Penampilan fisik lelaki itu pastilah bisa menaklukkan wanita manapun, termasuk Sharin. Tetapi bukan itu yang utama, sikap Darren yang lembut dan perhatian kepadanyalah yang membuatnya terpesona. Darren selalu membantunya, menjadi teman bicaranya yang baik, lelaki itu mendengarkannya dan bersedia memberikan solusi yang baik. Sharin merasa nyaman bersama Darren, dan mulai merindukan lelaki itu ketika mereka tidak bersama.

Apakah dia mulai mencintai Darren Leonidas?

Pipi Sharin memerah. Oh Astaga, dia tidak boleh menumbuhkan perasaan itu. Lagipula Darren pasti tidak punya perasaan apapun kepadanya. Lelaki itu baik kepadanya karena dia adalah putri Joshua. Bahkan lelaki itu pernah mengatakan bahwa Sharin boleh menganggapnya sebagai pamannya, sebagai keluarganya. Sharin sangat bodoh jika mengharapkan lebih. Apalagi usia mereka terpaut jauh, dua belas tahun. Sharin yakin Darren akan mencari wanita berpengalaman seperti Cathy daripada melirik perempuan ingusan seperti dirinya.

Dengan tegas Sharin berusaha mematikan perasaan cinta yang mulai bertumbuh itu.

***

Lucas merasa bosan. Sangat bosan. Dia menuruti permintaan Darren, diam dan menunggu di sudut gelap dan mengamati. Seperti yang biasa dia lakukan. Dia bersedia menunggu bukan karena ingin menuruti permintaan Darren, tetapi lebih karena dia melihat bahwa usaha Darren dengan sikap halus dan lembutnya berhasil menahan Sharin di sini.

Tetapi lama kelamaan dia merasa gemas dan tak sabar. Darren terlalu lambat. Dia bersikap seperti keluarga, memperlakukan Sharin dengan penuh kasih sayang. Dan tak segera bertindak.

Kalau dia bisa keluar, dia akan segera memiliki Sharin, menguasai tubuh mungil itu dan menjadikannya miliknya. Lucas tidak sabar menanti semua itu terjadi.

Tetapi dia memang harus bersabar. Darren sedang kuat dan lelaki itu bisa menahan kemunculannya. Lucas hanya tinggal menunggu Darren lengah, lalu dia akan muncul dan bertindak.

Dengan rasa haus yang amat sangat untuk menguasai Sharin, lelaki itu menjilat bibirnya.

Tunngu Sharin, kau akan sangat menikmati ketika aku memilikimu.

***

"Maafkan aku, aku baru sadar, apakah kau merasa bosan? Kau hampir tidak pernah keluar dari rumah ini. Aku menyesal." Darren meletakkan serbet makannya dan menatap Sharin penuh permintaan maaf, "Wartawan-wartawan itu sudah tidak berkumpul di depan, tetapi mereka menyebarkan mata-mata untuk mengawasi diam-diam... Aku baru sadar kalau kita tidak pernah keluar dari rumah ini."

"Tidak apa-apa Darren, aku cukup sibuk di rumah ini." Sharin tersenyum, berusaha meredakan rasa bersalah yang ada di mata Darren, "Aku bekerja, aku membaca koleksi bukumu yang luar biasa, aku menonton televisi dan aku mendengarkan musik."

Darren terkekeh, "Sungguh Sharin, aku harus mengajakmu keluar dari rumah ini kapan-kapan." Lelaki itu mengangkat alisnya, "Omong-omong tentang musik, kita bisa berdansa." Lelaki itu berdiri lalu mendekati pemutar musik di rak samping meja makan. Setelah musik berputar, dia berdiri di dekat Sharin, mengulurkan tangan sambil setengah membungkuk elegan,

"Lady, maukah anda memberi kehormatan kepada saya untuk mengajak anda berdansa?"

Sharin terkekeh dan membalas uluran tangan Darren,

Darren melangkah mundur, mengajak Sharin ke area kosong di ruang makan yang besar itu. Diletakkannya sebelah tangan Sharin di pundaknya dan yang satunya lagi di genggamannya, dibimbingnya Sharin mengikuti langkah dansanya.

Sharin terkekeh lagi sambil dengan susah payah mengikuti gerakan kaki Darren, "Aku akan menginjak kakimu, aku tidak pernah berdansa sebelumnya."

Darren ikut terkekeh dan mereka tertawa bersama-sama. Lalu tiba-tiba saja mata mereka bertatapan dengan dalam, dan sesuatu terjadi begitu saja. Suasana penuh canda berubah menjadi sensual.

Dan ketika Darren menundukkan kepala untuk mencium bibir Sharin. Sharin memejamkan mata.

***

Bibir itu mulanya terasa dingin, menyentuh bibir Sharin yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Sharin, dan memagut bibir bawah Sharin. Darren menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Setelah yakin Sharin menerimanya, lelaki itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Sharin supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Sharin erat-erat dan melumat bibirnya.

Ciuman Darren sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu melumat bibir Sharin dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Sharin membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Sharin dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.

Ketika Darren melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Sharin, penuh gairah,

"Aku ingin memilikimu, Sharin." Bisiknya dengan suara parau. Logat asing terdengar kental di suaranya, membuktikan kalau lelaki itu sedang terbawa gairahnya.

Dan bagaimana mungkin Sharin menolak ajakan sensual itu? Mata Darren begitu dalam, menghipnotisnya, dan Sharin seolah tenggelam di sana, kehilangan daya dalam jebakan sensual yang luar biasa panas.

Darren mengangkat tubuh Sharin seolah Sharin sangat ringan, lalu membawanya menaiki tangga menuju kamarnya.

***

Kesan pertama Sharin atas kamar Darren adalah kamar itu begitu gelap. Nuansanya hitam, cokelat, dan abu-abu. Sangat lelaki. Tubuhnya dibaringkan dengan lembut di atas seprai sutra berwarna hitam pekat. Dan lelaki itu lalu berbaring di sebelahnya, memeluknya.

"Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau." Darren mengangkat dagu Sharin supaya menatap matanya yang dalam, "Kau bisa pergi kalau kau berubah pikiran. Tetapi kalau kau memutuskan iya. Maka kau tidak bisa mundur lagi."

Sharin menatap Darren dan berpikir. Darren begitu baik kepadanya selama ini. Hanya Darren yang ada dalam hidupnya sebulan terakhir ini, dan Sharin hampir yakin kalau dia mencintai lelaki ini. Suasana malam ini begitu mistis, dan Sharin ternggelam ke dalam godaan sensual. Dia siap. Meskipun mungkin dia akan menyesal keesokan harinya, tetapi malam ini dia siap.

Darren sepertinya membaca penerimaan dari mata Sharin, lelaki itu mengerang, lalu melumat bibir Sharin lagi dengan bergairah, lumatannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Sharin, menjilat dan memainkannya dengan lidahnya, mencecap rasanya.

"Ah ya Ampun, akhirnya aku memilikimu sayang." Darren mengerang parau. Jemarinya bergerak dan menurunkan gaun Sharin, terus menurunkannya sampai ke pinggang, melepaskan bra Sharin dengan cekatan sehingga buah dada Sharin yang ranum terpampang di depannya,

"Ah... indahnya.. Sharin yang indah.. aku akan memujamu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan sayang..." jemari Darren bergerak lembut dan menyentuh puting payudara Sharin, lalu bibirnya menyusul dan menyesapnya lembut. Sharin mengerang, merasakan keintiman baru yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

"Darren... jangan... jangan disitu." Sharin mengerang merasakan rasa panas menyerangnya, di putingnya yang sekarang menegak kaku dan payudaranya yang mengeras, rasa panas itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.

Darren mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Jangan di sini katamu?" senyumnya polos dan sensual. Lelaki itu menjilat puting Sharin sambil lalu kemudian meniupnya lembut, "Apa Sharin? Katakan lagi... kau bilang jangan di situ?"

"Oh.. ya Darren.. yaa... di situ Darren." Sharin mengerang putus asa, putingnya mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Darren yang panas dan lidahnya yang menggoda.

Dan Darren mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Sharin tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap puting Sharin dengan penuh gairah, memuja payudara Sharin bergantian, membuat tubuh Sharin menggeliat dan melengkungkan punggungnya mendamba.

Jemari Darren bergerak dan menuju pusat gairah Sharin, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika putingnya dihisap dengan penuh gairah oleh Darren. Jemari itu menelusup menyingkap gaunnya dan menyusup ke balik celana dalam berendanya, dan menyentuh kewanitaannya. Dengan ahlinya Darren menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling sensitif di tubuh Sharin.

Jemari Darren mengusapnya pelan dan tubuh Sharin seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerang.  Mata Darren mengamati setiap reaksi Sharin dengan penuh gairah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik sensitif Sharin dan kemudian melakukan usapan memutar. Erangan Sharin makin kencang, membuat mata Darren berkabut penuh gairah.

"Sharin yang tidak pernah disentuh sebelumnya…." Lelaki itu menunduk ke telinga Sharin dan berbisik parau, "Biarkan aku memuaskanmu." Dicumbunya telinga Sharin membuat gadis itu menggeliat penuh gairah. Dan kemudian dengan cekatan Darren menelanjangi Sharin, membuat Sharin terbaring tanpa busana di atas ranjang berseprai sutra hitamnya. Tampak siap dan menggairahkan bagaikan Dewi Amor yang dikirim dari khayangan untuk memuaskannya.

Darren tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gairah. Tapi dia tahu bahwa dia harus berhati-hari. Sharin masih perawan dan Darren harus menjaga supaya Sharin terus larut dalam godaan gairahnya. Darren akan terus menggoda Sharin sampai tiba saatnya tubuh perempuan itu tidak akan mampu menolaknya dan otaknya tidak mau bekerjasama lagi.

Dengan penuh gairah dan keahlian, Darren mencumbu Sharin, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Sharin, di lehernya, pundaknya, payudaranya, perutnya, pinggulnya, dan... Sharin menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh kewanitaannya.

Lelaki itu mencumbu kewanitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Sharin. Lidah Darren mengusap titik paling sensitif di kewanitaan Sharin dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Sharin memekik atas sensasi yang dirasakannya.

Ketika Darren memutuskan bahwa Sharin sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya hingga telanjang di depan Sharin. Sharin menatap Darren dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Darren tampak sangat.... jantan.... oh Astaga... Sharin tidak pernah melihat kejantanan lelaki sebelumnya dan dia.. perasaan di dalam dirinya tidak bisa dijelaskan... tiba-tiba Sharin merasa takut.

Darren rupanya melihat rasa takut di mata Sharin. Lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Sharin dengan lembut, kemudian bergantian mengecup mata, dahi, dan pucuk hidung Sharin dengan tak kalah lembutnya,

"Jangan takut sayang... aku... aku tahu ini pengalaman pertamamu dan aku mungkin akan menyakitimu.. tapi kau harus percaya kalau aku akan menjagamu."

Sharin percaya. Kelembutan di mata Darren membuatnya percaya, karena itu, ketika lelaki itu menempatkan diri di antara kedua pahanya, Sharin membuka dirinya untuk Darren, lelaki itu setengah menindihnya. Sharin bisa merasakan kejantanannya yang besar dan keras menggesek kewanitaannya, membuatnya menggeliat oleh sensasi asing yang aneh.

Darren menatap Sharin lembut, tapi ada api di sana, api yang penuh gairah, nafasnya sedikit terengah, sementara pinggulnya bergerak lembut, memperkenalkan bagian dirinya yang keras dan bergairah kepada Sharin.

"Rasanya akan sakit.." Darren berbisik parau, "Kau boleh mencakarku atau mengigitku untuk melampiaskan sakitmu, tetapi kau harus tahu, betapapun sakitnya itu, aku tidak akan berhenti... bukan karena aku ingin menyakitimu, tetapi karena aku harus melakukannya... kau mengerti Sharin?"

Sharin menganggukkan kepalanya, menatap Darren percaya. Lelaki itu lalu mendesakkan pinggulnya pelan-pelan, berusaha membuka pintu untuk memasuki kewanitaan Sharin. Tetapi Sharin terasa sangat sempit sehingga Darren harus mendesakkan dirinya berkali-kali dengan kewalahan. Sampai kemudian dengan menggertakkan giginya, Darren menekankan dirinya dengan kuat, membuat Sharin merasakan rasa nyeri yang amat sangat di kewanitaannya.

Sharin menjerit, mencakar lengan Darren meminta lelaki itu berhenti. Tetapi Darren tidak bisa berhenti. Dia menemukan penghalang itu, dan dia harus menembusnya. Akhirnya dengan satu tekanan kuat, penghalang itu terkoyak, diiringi erangan kesakitan Sharin.

Mereka berbaring bersama dalam diam. Darren sudah membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Sharin, menyatu sepenuhnya, tetapi lelaki itu tidak bergerak, memberi kesempatan Sharin untuk menyesuaikan diri dengan tubuhnya. Dikecupnya air mata yang keluar dari sudut mata Sharin,

"Maafkan aku... aku tidak bermaksud menyakitimu." Darren berbisik pelan sambil mengecup bibir Sharin lembut.

Sharin membuka matanya dan menatap Darren, menemukan kelembutan dan penyesalan di sana. Air matanya turun dan Darren mengecupnya lagi.

"Aku akan bergerak lagi." Suara Darren serak, "Mungkin pada awalnya akan tidak nyaman.." lelaki itu menggerakkan pinggulnya, membuat Sharin mengernyit.

"Sakit sayang?" Darren memandang Sharin cemas. Tetapi Sharin sudah tidak begitu merasakan sakit lagi, tubuhnya menerima tubuh Darren di dalamnya, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan panas, dia menggelengkan kepalanya.

Darren tersenyum menerima jawaban Sharin, dia menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan gairah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal,

"Oh ya ampun, kau rapat sekali Sharin... kau membungkusku dengan begitu rapat..." Darren berbisik parau penuh gairah, ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Pinggul Sharin bergerak mengikuti Darren membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Sensasi gerakan tubuh Darren pada penyatuan tubuh mereka luar biasa nikmatnya. Sharin akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan samar dia mendengar Darren mengerang, lelaki itu meledak di dalam tubuhnya dan memeluknya erat-erat.

Setelahnya mereka berbaring berpelukan, dipengaruhi oleh sensasi euforia dan orgasme yang luar biasa dasyat. Darren memeluk Sharin erat-erat, jemarinya menelusuri punggung Sharin yang telanjang, merapatkan tubuh perempuan itu ke dalam lindungan dada bidangnya.

Sharin menenggelamkan kepalanya ke dalam rengkuhan dada Darren, menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Orgasme membuatnya mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, dia mendongakkan kepalanya dan menatap Darren penuh cinta,

"Aku mencintaimu Darren Leonidas."

Tatapan Darren kepadanya tampak lembut dan penuh haru, "Aku juga Sharin, aku mencintaimu."

Dan mereka tertidur bersama, dalam pelukan penuh cinta,

***

Sharin terbangun ketika merasakan pundaknya dikecupi dengan penuh gairah. Payudaranya diremas dengan lembut tetapi menggoda. Suasana kamar itu gelap karena lampu-lampu sudah dimatikan, hanya cahaya bulan yang menembus jendela kaca yang belum ditutup memancarkan cahaya temaram memasuki kamar.

Pria yang mencumbunya ini sangat bergairah. Jemarinya menggoda Sharin, dari dada turun ke kewanitaannya dan memakinkannya di sana dengan sangat ahli, dengan sangat bergelora. Bibirnya yang panas mencumbui sisi telinga dan leher Sharin. Membuat Sharin makin terjaga, dan kemudian tersadar bahwa dia sedang bersama Darren yang dicintainya.

"Darren?" Sharin mengelus punggung Darren yang sudah mulai menindihnya. Lelaki itu menempatkan dirinya di antara paha Sharin dan menyentuhkan kejantanannya yang sudah sangat keras ke sela paha Sharin.

Darren tampak terlindungi bayangan gelap dalam temaramnya kamar. Dalam pengelihatannya yang masih mengantuk, Sharin melihat Darren tersenyum samar. Tatapan lelaki itu tampak tajam, membuat Sharin ketakutan sekejap, tetapi ditepiskannya ketakutannya itu. Mungkin kegelapan yang meliputi Darren membuat lelaki itu tampak menakutkan, tetapi Sharin yakin Darren tidak akan menyakitinya. Darren mencintainya juga, dan lelaki itu akan menjaganya. Di pejamkannya matanya, dan dibukanya pahanya untuk Darren.

Lucas tersenyum dengan penuh gairah sambil menatap Sharin yang memejamkan matanya. Bayangan gelap melingkupi tubuhnya.

"Kau akan menikmatinya sayang.... dan kita baru saja mulai." Bisiknya parau, lalu menenggelamkan dirinya dalam-dalam di tubuh Sharin. Perempuan yang sangat diinginkannya.


Poskan Komentar

45 comments

Pertama...makasih ya min...

wow pertama darren kemudian lucas... thanks semuanya

Maturnuwun,mb Santhy,maturnuwun mas Yudi... Oiya,baru tau aku pas baca komen di blog mb Sansan,kalo ada readers setia PN dr Malaysia,bahasa Melayu kental euy. Congratulation ‎​Ɣª Mas Yudi...

hehehe tapi Darren yang dapat duluan *senyum2* eh Sharin ga nyadar kalo yang kedua itu Lucas ;D

ainiiii sama2 hehehehhe iyaaa yg komen di blog readers dari malay yang setia membaca PN heee :))

aihhhh Darren ama Lucas yaaaaa?? Duh..... dapat jatah masing2 nih hauhauaha.. makasi Mbak Santhy.. Mas Yudi n PN.. memang HAWTTTTT beudss!! ughhh..

@shin : hihihi iyaaa :) sharin beli satu dapat dua ;p hihihihi

Darren duluan yg dapet he.he walau jd yg kedua lucas pasti gak mau kalah, thanks Mb Santhy & Ms Yudi;-)

@mbak Santhy : wkwkwk itu mah gak beli mbak.. dapet Jackpott... asikkk...

ak suka bgt novel ini lanjutannya tiap hari dong.. thx mbk n mas

Ka santhy nanggung ahhh

hahaha lucas serem amat,, benar darren sungguh kasihan. aduh mbak santhy keren pake buanget dahh, akhirnya mas darren lah yang mengambil perawan tingting ya sharin,, kasihan deh lo lucas,


eh lucas jangan kasar ya sama mbak sharin jangan sampe mbak sharin dibunuh juga oleh lucas,,,

kyaaaa....untung darren yg duluan fiuhh...

bagian Lucasnya kok di potong :(

Aduuuuuuuuuuuuuuuh si Lucas pake dtg lagih....

kkk~ Sharin yang sabar yaa nak ngadepin 2 kepribadian di ranjang :p makasih mas Yudi makasih banget mbak santhy ayoo diposting lagi hehe :3

Finally sharin gol juga.
Horaay.Wkwkwk
makasi mbk santhy dan PN

Hooree...Darren duluan, Lucas kalah step hehe...Sharin sm Darren ajah :)

Uyeaah yes yes yes yang pertama Darren hahahaa
Si lucas kejam huh
Makasih ya mb santhy,kuereeen :D
Makasih mas yudi :D

Malemnya darren,paginya lucas
Tpi gak pa_palah kan mrka satu tubuh,tpi beda jiwa

mksih mba Shanty,mas mimin
Akn dengan setia menunggu bab2 berikuty tiap mlmy $$$$

Aiiihhhh gntian gt...
*geleng2 kepala jgn mpe kpkiran mpe mmpi*
Eemmm,,Sharin bkln marah g yg klo tw smwny??
Mksh Mba Santhy n Mas Yudi

Sharin...dikau sungguh beruntung!
Tp bagian lucas knapa awalnya doang...
Ah mbak shanty nambahh...
Jd g tau hot an mana yg pertama? Yg kedua?
^^????

kasihan sharin, pasti pengen bgt ketemu ayahnya..
kira2 kenapa ya sebenarnya joshua meninggal..
seperti ada yg disembunyikan...

woaaaaaaaaaaaaahh..
sharin merasakan bgmn yg namanya cetar membahana badaaaaii..

makasih mbak saann..
makasih mas yudii..

josh gondoss sharin,mantab.mksh mba santhy n mas mimin :)

aw aw aw xD
untung yg dpt duluan darren xxD yayy..

mkasii mba shanty n PN :* :* :*

@eeeh siapa bilang om Lucas cuma awalnya aja? hihihii :) tunggu di bab selanjutnya yah :p...yeeep masih ada rahasia yang belum terungkapkan, banyak :))
*peluk sayang semuanya*

Ditunggu bab selanjutnya :)

Mba Santhy, aku selalu deg2 baca cerita ini.
ceritanya kerenn

muacihh mbk shanty n mz yudi,,dtunggu klnjutan'y y

Akhirnya jebol gawang jg sharin, xixixixi
Musti maen game jg d PN ni, biar darren ini tiap hari postingnya, hahahaa
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya smuanya

Jebol gawang jebol gawang hahaa
Makasih mas Yudi mbak Shanty .. :)

Sukaaaa sama Darren ataupun Lucas. Walaupun Lucas itu devil *eeh (‾⌣‾)♉
Kirain yang pertama itu si Lucas, ternyata itu Darren. Krn selama ini sifat Darren kan gak seagresif itu ke Sharin.
Halah, pokoknya TOP bgt dah cerita kak Santhy. Ditunggu kelanjutannya ya kak.
(•ˆ⌣ˆ•)

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Darren bnr2 lelaki idaman.
Dia yg dpt duluan kan ya
Haha
Lucas telat.

Ceritanya makin keren mbak.
Perasaan cemas, haru, bahagia nyampur jadi satu.

Ditunggu lanjutannya :)

aseekk yang jebol gawang darren dluan,, ahay,, tp kayk'y lucas gk mau kalah nii sm daren,, smoga gk nyakitin sharin yahh..

Maksih kak santhy, om yudi, kak cherry.. *peyuk2*

@all : hihihihi dari semua komen di sini aku menyimpulkan suara terbanyak buat bikin gol tetap pada Darren (fyuuuh syukurlah berarti naskahnya ga salah) hiihihihi.... yang Lucas masih berlanjut kok, si Lucas mah kalo pertama2 krn sudah lama menahan nafsu yang meluap yah agak2 gitu dimaklumin yah hihihihi :))

istirahat makan siang sambil baca FTDS.. hot banget tapi lebih hot rasa sambal ini.. haaaa.. :o
thanks mamas dan mbak santhy..

Kya Πγª Sharin Ʊϑɑ̤̈̊ħ susah mbedain Darren tau Lucas klo Ʊϑɑ̤̈̊ħ bgairah... Heheh.

ampuun deh sharin dpet 2 skaligus !!wow .. congrats yah buat daren akhirnya ...

Mba santhy, mw tanya dong *mungkin ga penting sih* tp sbnrnya sharin itu kerja di biro wisata atau biro hukum? Paragraf sblm kebakaran ditulis sharin kerja di biro wisata tp stelah kebakaran ketika sharin cerita ke darren disitu tertulis biro hukum.

makasih mb shanty n mas mimin...*br sempet baca PN lage*

Yeeee akhirnya Darren yang pertama eh tapi tapi kenapa si Lucas bengis juga minta jatah sih?!Aissshhhh!!!
Mudah-mudahan si Lucas gadapet deh!!amin
Kece juga si Sharin bisa ngelayani 2 cowok satu raga kaya oreo double.....hihihi
Cepetan dilanjut ya mbak Shanty dan mas Yudi saya fans berat karya anak cantik <3

wuih,,jebol gawang a.k.a belah duren nigh si Darren ???
Ckckckccckckckkc,,
Makasih Mbak Santh,,
Makasih Mas Yudi,,,

lupa satu,,makasih Tim Editor,,,
Mbak Mey & mbak Mendy,,

makasih buat mba santhy and mas mimin. hehehe
cieee cieee, akhirnya.. slamat yah om darren dapat jatah pertama, skarang gantian om lucas ^^

lucky banget sharin dapat 1 tapi isi 2... bagi donk lucas nya satu :P

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top