65

Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Sharin sekarang selain rasa takut dan kegugupan yang menyesakkan dada. 

Ketika mobil mereka memasuki pintu gerbang yang megah itu, rasa gugup dan takutnya makin memuncak. Ibunya, yang menyetir di sebelahnya tampak tenang dan bahagia, tentu saja, kemewahan ini akan menjadi kehidupan barunya, hal yang diimpi-impikannya sejak dulu. Lagipula ibunya tidak perlu mencemaskan penampilannya, ia selalu terlihat cantik, muda, dan wangi, tidak pernah berubah sampai sekarang. 

Ibunya melahirkan Sharin saat berusia sangat muda, 16 tahun. Dan sekarang di usia Sharin yang sudah 20 tahun, selisih usia itu sama sekali tidak kelihatan, mereka terlihat seumuran. Apalagi Sharin selalu mengenakan pakaian konservatif yang cenderung kusam tapi nyaman digunakan, sedangkan ibunya memilih berpakaian seksi dan penuh gaya.

Yah, penampilannya sekarang tidak bisa dibilang baik, Sharin menarik napas sambil mengamati dirinya sendiri. Dia tadi berdiri lama di depan lemari pakaiannya mencoba menemukan gaunnya yang terbaik, tetapi ternyata dia tidak punya satu gaun pun yang baik. Gajinya sebagai staff administrasi biasa di sebuah biro wisata sama sekali tidak memungkinkannya membeli banyak pakaian. Dan ibunya sama sekali tidak bisa diharapkan. Cathy, ibunya melahirkannya karena kesalahan remaja di masa lalu, jadi dia tidak punya ayah yang mengakuinya. 

Cathy lalu meninggalkannya begitu saja, menitipkannya kepada kedua orangtuanya, lalu pergi merantau ke luar kota untuk melupakan masa lalu dan melanjutkan sekolah. Sejak saat itu Sharin dan Cathy hanya bertemu saat Cathy pulang liburan ke rumah. Sharin tidak pernah menganggap Cathy sebagai ibunya. Selain karena Cathy tidak mau dipanggil ibu, bagi Sharin orangtua sejatinya adalah kakek dan neneknya yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang sejak ia lahir sampai dia beranjak dewasa. 

Lalu setelah dua tahun lalu, kakeknya meninggal dunia, disusul neneknya setahun kemudian. Sharin tetap tidak menggantungkan diri kepada ibunya, toh Cathy juga tidak peduli.

Sharin menghidupi dirinya sendiri dan sama sekali tidak ingin terlibat dalam kehidupan ibunya yang saat itu sudah menjadi aktris ternama.

Sampai suatu ketika Cathy menghubunginya, mengatakan bahwa dia akan menikah dengan salah satu konglomerat paling kaya dan paling ternama. Seorang lelaki yang berusia 4 tahun lebih muda darinya, dan mengundang Sharin untuk turut serta dalam persiapan acara pernikahannya.

"Bagaimanapun juga, meski kau adalah sebuah kesalahan akibat kebodohanku di masa lalu, kau adalah anakku," gumam Cathy dengan logat seksinya. Sambil mengoleskan lipstik pada bibirnya yang indah pada pertemuan makan siang mereka setelah dua tahun lamanya tidak berjumpa.

"Lagipula, aku terlanjur menceritakan tentangmu pada Darren, tidak sengaja tentunya, tapi siapa yang bisa membohongi Darren? Dia tahu segalanya...," Cathy tersenyum menerawang seperti orang dimabuk kepayang, "Dan Darren ingin melihatmu."

Jadi karena calon suaminya yang kaya itu ingin melihatku? Bukan karena dia ingin bersamaku di saat-saat bahagianya? Sharin menyimpulkan dalam hati, dan seberkas rasa nyeri mengalir di dadanya. 

Memang dia sudah terlatih untuk tidak mengharapkan apapun dari Cathy, wanita itu terlalu egois untuk memikirkan siapapun selain dirinya sendiri. Tetapi kadangkala ada sedikit rasa di hatinya, yang ingin dicintai sebagai seorang anak.

Dan disinilah dia, datang dengan ibunya, yang begitu cantik dengan gaun sutra keemasan seperti sampanye, rambut tatanan salon, kulit selembut satin dan aroma minyak wangi mahal. Sedangkan dia hanya memakai sweater cokelat jeleknya serta rok selutut yang membuatnya seperti kutu buku yang tidak menarik, belum lagi rambutnya hanya dikuncir kuda, tanpa riasan.

Calon suami Cathy pasti akan kecewa berat jika mengharapkan aku secantik Cathy, desah Sharin dalam hati.

Mungkin aku lebih mirip ayah, gumamnya menghibur diri, meski dia juga tidak tahu siapa ayahnya dan bagaimana wajahnya. Cathy tetap menyimpan rahasia itu sampai sekarang seolah itu aib masa lalu yang tidak boleh dibuka. Kakek neneknya juga tidak pernah membicarakannya.

Lagipula, Sharin tidak berani bertanya lagi sejak insiden pada saat dia berumur sepuluh tahun dan mulai bertanya pada neneknya siapa ayahnya. Waktu itu neneknya langsung masuk ke kamar dan menangis, sedang kakeknya hanya mengelus kepalanya dengan wajah muram. Kesedihan yang menggantung setelah insiden itu begitu menyesakkan dada sampai berhari-hari. Dan mulai saat itulah Sharin belajar untuk tidak pernah bertanya lagi. 

Rupanya calon suami ibunya ini sangat kaya, jarak pintu gerbang menuju rumah utama lumayan jauh dengan taman dan pepohonan yang indah di kiri kanan jalan. Ketika akhirnya mobil mereka berhenti, Sharin sempat ternganga, melihat rumah marmer putih bergaya ghotic dan renaissance yang megah di depannya.

Cathy rupanya sangat bersemangat karena dia segera melompat keluar dari mobil begitu mobil itu berhenti. Dan mau tak mau Sharin segera mengikutinya. 

Sepertinya mereka sudah ditunggu, atau ada kamera pengawas di depan pintu? Sharin mengedarkan pandangannya ke atas dengan curiga. Karena begitu mereka sampai di pintu di bawah kanopi dan pilar marmer yang indah, pintu itu langsung terbuka tanpa diketuk. Seorang pelayan pria setengah baya dengan penampilan yang sangat rapi sudah berdiri di sana.

"Miss Cathy?" tanya pelayan itu dengan muka ekspresi sedatar batu hingga Sharin bertanya-tanya apakah itu ekspresi asli atau hasil latihan bertahun-tahun.

Cathy mengangguk penuh percaya diri. Pelayan itu melihat ke belakang, ke arah Sharin dan mengangkat alisnya, tapi tidak berkata apa-apa. Mungkin dia mengira aku pembantu Cathy, desah Sharin dalam hati.

"Saya Thomas, kepala pelayan disini. Tuan Darren sudah menunggu di ruang utama, mari saya antar." gumam pelayan itu sopan sambil membalikkan tubuh dan membiarkan Cathy dan Sharin mengikutinya.

Di sepanjang lorong itu Sharin terlalu sibuk terkagum-kagum dengan kemewahan interior dan perabot rumah mewah ini. 

Ya, Cathy pasti akan sangat bahagia disini, dia selalu ingin menjadi nyonya rumah yang kaya raya, impiannya sebentar lagi terwujud. Dan sudah pasti Sharin tidak masuk ke dalam daftar impiannya itu. Sharin tahu dia hanya dibutuhkan karena calon suami Cathy yang kaya raya itu ingin mengenalnya. Setelah itu Sharin akan kembali ke kehidupan lamanya, dilupakan oleh ibunya.

Toh dia memang tak ingin terlibat,

Kenapa? Karena meskipun mewah dan mengagumkan, rumah ini terasa dingin dan kaku, begitu menekan jiwa. Berbeda dengan rumah neneknya yang diwariskan padanya, rumah itu kecil tapi hangat dan penuh ketentraman. Seberat apapun pekerjaannya, Sharin selalu merasa segala kelelahannya hilang ketika pulang ke rumah itu. Karena itulah meskipun kagum, Sharin sama sekali tidak tertarik untuk tinggal di rumah seperti ini.

Thomas membuka sebuah pintu yang sangat besar dan mempersilahkan mereka masuk. Cathy langsung melangkah masuk dengan bersemangat,

"Darling,” serunya mesra lalu menghambur ke pelukan pria bersetelan resmi yang berdiri di tengah ruangan.

Pria itu membalas pelukan Cathy, tapi matanya menatap tajam ke arah Sharin.

Dan Sharin ternganga melihat sosok calon suami Cathy untuk pertama kalinya, semula dia pikir laki-laki itu adalah lelaki botak berjenggot yang gendut, tidak tampan tetapi sangat kaya. Tetapi lelaki yang berdiri di depannya ini sama sekali tidak gendut, dia tinggi atletis bahkan sepertinya tidak ada lemak berlebih di tubuhnya, dan jas yang pastinya dijahit khusus itu menempel pas dan indah di tubuhnya yang berotot tetapi ramping itu. Hey.. Lagipula dia mengharapkan apa? Lelaki ini baru 32 tahun!

Matanya cokelat gelap, begitu juga dengan rambutnya yang cokelat dengan sedikit warna keemasan. Tentu saja begitu, dari literatur bisnis yang memuat tentang jajaran pengusaha-pengusaha sukses, Darren Leonidas selalu dibahas. Pengusaha berusia 32 tahun, pria setengah Yunani yang sangat menarik. Tapi mereka tidak memasang fotonya di literatur itu, jadi Sharin tidak pernah bisa membayangkannya.

Lelaki ini tidak bisa dibilang tampan, sosoknya terlalu keras untuk digambarkan dengan kata 'tampan', tetapi ada kharisma tersendiri yang membuat semua orang pasti akan menoleh dua kali ketika berpapasan dengannya.

Lelaki itu melepaskan Cathy yang menggelendot dengan mesra di pelukannya, lalu melangkah mendekati Sharin.

"Dan ini pasti Sharin," bahkan aksen suaranya begitu mempesona. Sharin menyadari dia ternganga ketika Darren mengulurkan tangan untuk bersalaman, dengan gugup disambutnya jabatan itu. Tangan lelaki itu ramping, tapi menggenggam tangannya dengan mantap.

"Iya, ini Sharin, putri kecilku,” Cathy berkata seolah-olah mereka ibu dan anak yang sangat akrab, "Dan Sharin, perkenalkan ini calon ayah tirimu."

Sharin menganggukkan kepalanya, sedikit gugup ketika menyadari Darren menatapnya dengan sangat tajam, sangat meneliti, sampai dia salah tingkah. Adakah yang salah dengan rambutnya? Bajunya? Ataukah Darren sedang mencari kemiripannya dengan ibunya dan tidak berhasil menemukannya?

"Hmmm karena umurku hampir 32 tahun, kurasa aku pantas-pantas saja mempunyai putri seumuranmu, tapi kau boleh memanggilku dengan Darren saja."

Tentu saja, lelaki dengan vitalitas semacam ini pasti malu dipanggil 'papa' oleh gadis berusia 20 tahun seperti dirinya.

"Nah karena kalian sudah berkenalan bolehkah aku memintamu menemaniku berkeliling rumah ini? Kita akan tinggal di sini setelah menikah bukan? Dan wow, rumah ini indah sekali Darren."

Lelaki itu menatap Cathy tanpa ekspresi."Tentu saja sayang,” gumamnya lalu menggamit lengan Cathy. Darren memang  mengatakan sayang, tapi tampak begitu dingin.

Tiba-tiba Sharin merasa sedikit antipati kepada Darren, dia terlalu dingin dan tak berperasaan seperti suasana di rumah megah ini.

Cathy menoleh pada Sharin, "Kau ingin ikut, Sharinku?” suaranya begitu penuh kasih tapi matanya memperingatkan, dan Sharin mengerti isyarat itu. Ibunya ingin berduaan dengan kekasihnya dan tak ingin Sharin mengganggu. Lagipula Sharin juga tidak tertarik melihat-lihat isi rumah ini, 

"Tidak terima kasih, kalau boleh saya ingin menunggu di sini saja,” Sharin tadi sempat mengamat-amati ruangan dan menemukan rak buku yang penuh di dinding. Rasanya lebih menarik duduk dan membaca, sepertinya koleksi buku di rak itu sangat menarik, kalau dia diijinkan, dia ingin membacanya.

"Tapi kau akan tinggal di sini juga, jadi sebaiknya kau ikut agar lebih mengenal rumah ini,” sahut Darren tajam.

Kata-kata itu membuat Cathy dan Sharin sama-sama terkejut, rupanya Darren sudah menarik kesimpulan yang salah selama ini tentang hubungan Cathy dan Sharin.

Cathy dengan muka pucat segera menyahut, suaranya sedikit melengking karena gugup, "Darling, kau salah, Sharin tidak akan tinggal dengan kita setelah kita menikah nanti."

"Kenapa tidak?" lelaki itu mengernyitkan kening, tampak tidak senang, "Dia putrimu bukan?"

"Iya...tapi...tapi..." suara Cathy hilang karena kebingungan, "Tapi Sharin lebih suka hidup mandiri, dia sudah punya pekerjaan tetap kau tahu. Dan dia merasa nyaman tinggal di rumah warisan orangtuaku, bukan begitu Sharin???" sekali lagi Cathy menatapnya dengan tatapan memperingatkan. 

"Tentu saja." jawab Sharin dengan cepat, selain karena dia tidak ingin tinggal di rumah ini, dia tak mau Cathy marah padanya karena mengacaukan seluruh rencana masa depannya.

Darren menatap Sharin dan Cathy dengan tajam dan penuh perhitungan, lalu bergumam,

"Well, kita bahas mengenai pengaturan itu nanti,” kata-katanya menunjukkan masalah itu sama sekali belum selesai. Yah, rupanya selain dingin dan kaku, lelaki ini juga arogan. 

"Baiklah Sharin, kalau kau ingin tetap disini, aku akan meminta pelayan mengantarkan segelas cokelat panas dan kue untukmu. Kau boleh membaca atau melihat televisi untuk mengisi waktumu.” Matanya menunjukkan ke arah televisi plasma yang menempel di dinding yang sama sekali tidak Sharin perhatikan karena perhatiannya terpusat pada rak buku yang penuh itu.

Sharin menatap Darren dengan gugup. "Kalau boleh.... Kalau boleh saya ingin membaca buku-buku di rak itu," pintanya pelan.

Cathy tertawa cekikikan seperti anak kecil. "Membaca?" gumamnya dalam tawa, "Begitu banyak hiburan di rumah ini dan kau memilih membaca?" Nada mencemooh terdengar jelas di suaranya hingga pipi Sharin memerah.

Tapi Darren hanya berdiri di situ dan menatapnya datar. "Setidaknya putrimu memilih hiburan yang paling bermutu di antara semuanya" kata-katanya diucapkan dengan nada biasa-biasa saja, tetapi arti yang tersirat di dalamnya membuat tawa Cathy terhenti dan wajahnya merona malu. Dalam rasa malunya itu, Cathy melirik Sharin dengan jengkel.

"Silahkan, baca saja semua buku yang kau inginkan,” senyum tipis muncul di bibir Darren, lalu menggandeng Cathy, membawanya pergi ke luar ruangan.

Sharin merasa sangat lega ketika ditinggalkan sendirian, dengan penuh rasa tertarik, ditelusurinya buku-buku di rak raksasa itu. Kebanyakan buku berbahasa asing, dan merupakan versi asli. Setelah meninggalkan buku-buku literatur bisnis, Sharin tertarik ke sederetan buku sastra lama. Diambilnya salah satu buku, dan tersenyum.

Well, kapan lagi dia bisa membaca buku-buku versi asli ini dengan gratis? Karena sudah pasti dia tidak akan mampu membelinya....

***

Ketika dia masuk, didapatinya pemandangan indah terpampang jelas di depannya. Sharin, gadis itu tertidur di kursi santai dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Sebelah lengannya lunglai di sandaran kursi dan kepalanya miring setengah tertunduk. Dia tidak dapat menahan keinginan untuk mengawasi lebih dekat. Dengan langkah pelan tak bersuara, seperti singa mengintai mangsa, didekatinya gadis itu. Dia berusaha sedekat mungkin, karena hasratnya mendorongnya untuk lebih mendekati gadis itu.

Ah, betapa cantiknya, wajahnya polos tanpa polesan apapun, tapi kulitnya begitu lembut, seperti bayi dengan semu kemerahan yang membuatnya tergoda untuk menyentuhnya, menyusurkan jemarinya di kulitnya yang bersemu kemerah-merahan itu. 

Dan bibirnya... Astaga bibir itu, begitu ranum, basah bagai kelopak mawar yang baru mekar. Tanpa polesan lipstik sedikitpun, tetapi tetap begitu indah.

Matanya menyusuri seluruh keindahan di depannya. Sudah berapa lama dia menunggu saat-saat ini? Menunggu saat-saat gadis ini berada begitu dekat dengannya?

Ya, gadis ini membuatnya terbangun setelah ditidurkan dengan paksa sekian lama.

Akhirnya dia tidak dapat menahan godaan, dibungkukkannya tubuhnya melingkupi gadis itu. Kemudian bibirnya menyentuh bibir lembut gadis itu dengan halus tapi penuh hasrat.

"Kau milikku Sharin, ingat itu."

***

"Kau milikku Sharin, ingat itu." 

Bisikan itu begitu lembut sekaligus tegas, seperti dibawa oleh tiupan angin ke telinganya. Sharin tergeragap, mengerjapkan matanya dan langsung terduduk tegak. Matanya memandang sekeliling dengan bingung. Dia masih sendirian di ruangan ini. Tapi tadi jelas-jelas ada yang berbisik di telinganya, dan kata-katanya itu masih terngiang jelas.

Apakah dia bermimpi ?

Sharin mengernyit. Lalu menyentuh bibirnya. Terasa hangat..... Seperti ada yang menyentuhnya sebelumnya. Jantung Sharin berdetak cepat. Apakah mimpi bisa terasa sejelas itu? Suara bisikan itu begitu nyata. Sentuhan di bibirnya pun masih terasa hangat.

Tapi.... Tidak mungkin kan ada orang masuk kemari dan menciumnya begitu saja? Dengan putus asa Sharin menatap buku di pangkuannya. Sebuah novel sastra romantis karya pengarang Rusia. Ah, aku pasti terbawa alur novel ini, gumam Sharin dalam hati, menarik napas lega. Sekali lagi dia memandang sekeliling, ruangan masih sepi. Tadi dia pasti tertidur cukup lama. Tapi Cathy dan Darren belum juga kembali.

Sharin mengangkat bahunya. Well mereka kan pasangan kekasih yang akan menikah, pasti akan lupa waktu jika sedang berduaan. Dengan pelan Sharin berdiri, berusaha melemaskan tangan dan kakinya yang kaku. Lalu dia berjalan mengitari ruangan yang luas itu.

Ruangan ini didesain untuk bersantai. Meskipun di sudut sana terdapat meja kerja yang sangat besar, tapi di sisi lain benar-benar penuh dengan perabotan dan fasilitas yang menunjang kenyamanan.

Dengan tertarik, Sharin mendekat ke arah meja kerja Darren. Ada sebuah bingkai foto yang di letakkan terbalik begitu saja. Sengaja? Atau memang terjatuh? Sharin mengambil bingkai foto itu dan menegakkannya lagi. Matanya mengamati bingkai foto di dalam sana, foto keluarga. Sepertinya itu gambar kedua orangtua Darren dan dua orang anak laki-laki berusia sepuluh tahunan, yang berambut cokelat itu pasti Darren dan .....kakak laki-lakinya? Sharin mengernyit. Tapi kenapa kedua orangtua Darren asli Indonesia? Dan kakak laki-lakinya juga terlihat seperti orang indonesia asli. Sedangkan jelas-jelas ada darah asing yang mengalir di tubuh lelaki itu, bahkan majalah-majalah bisnis itupun menyebutnya setengah Yunani.

"Itu orangtua dan kakak angkatku, mereka yang mengasuhku ketika kedua orangtuaku tewas karena kecelakaan pesawat."

Suara yang muncul tiba-tiba di belakangnya itu membuat Sharin terlonjak kaget, membalikkan badan, dan langsung menabrak tubuh kokoh yang berdiri di belakangnya.

Darren langsung memegang kedua pundak Sharin, menjaganya agar tidak terjatuh,

"Maaf aku mengejutkanmu", gumamnya datar.

Sharin mengangguk, mundur menjauh, melepaskan diri dari pegangan Darren, "Maaf... Saya ... saya lancang, saya melihat foto ini dan tertarik...."

Darren mengangkat bahu. "Tidak apa-apa, mereka adalah orangtua dan saudara yang kusayangi. Meskipun aku tetap menggunakan nama asli keluargaku, mereka sudah seperti orangtua kandung bagiku."

Sharin tersenyum getir, setidaknya Darren lebih bahagia darinya. Lelaki itu kehilangan kedua orangtuanya, tetapi tetap merasakan kasih sayang dari orangtua barunya. Sedangkan dia? Ibunya masih hidup, tetapi sang ibu sama sekali tidak mau repot-repot mengurusi kehidupannya.

Omong-omong tentang ibunya..... Di mana Cathy? Sharin mengedarkan pandangan ke balik punggung Darren, tetapi Darren memang datang sendirian.

"Cathy menunggu di ruang makan, aku memanggilmu untuk makan siang bersama", gumam Darren, menyadari kebingungan Sharin, lalu membalikkan tubuh. "Ayo, kita ke ruang makan."

Mau tak mau Sharin mengikuti Darren melangkah ke ruang makan, lelaki itu lalu melambatkan langkahnya sehingga bisa berjalan berjejeran dengan Sharin.

"Senang tadi?"

"Apa?" Sharin terlalu kaget mendengar pertanyaan Darren yang tiba-tiba sehingga tidak mencerna kata-kata Lelaki itu.

Daren tersenyum tipis. "Di antara buku-buku itu—“

"Oh iya." jawab Sharin buru-buru, "Saya menemukan banyak buku edisi asli yang sekarang sudah sulit ditemukan. Tadi saya terlalu asyik membaca dan bahkan sempat ketiduran." pipi Sharin merona.

Darren menoleh dan menatap Sharin,"Tapi tidak ada sesuatu yang aneh terjadi padamu kan?"

Sharin termangu, pertanyaan macam apa itu? Yang aneh malahan pertanyaan yang diajukan Darren padanya ini. "Aneh?" ulangnya bingung.

Darren mengalihkan tatapannya. "Sudahlah, lupakan." lelaki itu lalu melangkah mendahului Sharin. Meninggalkan Sharin termangu kebingungan.

Aneh? Apa maksud Darren?

***

Tengah malam dan ruangan itu gelap gulita. Darren memasuki ruang kerjanya dan menghempaskan jasnya di kursi dengan jengkel. Rencananya berhasil tentu saja. Dia sudah berhasil membujuk Cathy dan Sharin menginap di rumahnya selama akhir pekan ini.

Yang tidak diduganya adalah sikap pantang menyerah Cathy. Begitu Sharin berpamitan untuk tidur di kamarnya, Cathy langsung berusaha mati-matian untuk merayunya. Perempuan itu terang-terangan menunjukkan kalau dia tidak keberatan tidur bersama Darren sebelum pernikahan mereka.

Tentu saja rayuannya tidak berhasil. Darren menggunakan alasan kelelahan untuk mengusir Cathy agar kembali ke kamarnya sendiri. Dia memang lelah, tapi seandainya dia tidak lelahpun, dia tidak pernah berminat tidur dengan Cathy.

Bukan Cathy yang diinginkannya....

"Sampai kapan kau tahan dengan wanita murahan itu?" suara itu terdengar begitu sinis penuh ejekan. Dan Darren langsung berhadapan dengan sosok di kegelapan yang menatapnya.

"Bukan urusanmu," balas Darren dingin, "Lagipula, bukan saatnya membahas tentang Cathy, aku meminta penjelasanmu tentang apa yang kau lakukan pada Sharin tadi siang.”

Sosok di kegelapan itu tertawa mengejek, sengaja membuat Darren marah. "Kau tidak bisa menyalahkanku, aku sudah menanti begitu lama untuk melihatnya,” sanggahnya tidak peduli.

"Kau tidak cuma melihatnya, kau menciumnya", geram Darren marah, "Kau benar-benar tidak punya otak ya?"

"Aku memang tidak punya otak. Kau selalu bilang aku lebih mirip binatang,” sosok di kegelapan itu mengacuhkan kemarahan Darren, "Aku menginginkan Sharin, jadi aku akan memilikinya, sesederhana itu."

"Kau harus menunggu sampai rencanaku membuahkan hasil!" sela Darren tak sabar.

Lagi, sebuah tawa mengejek menggema di ruangan yang gelap pekat itu.

"Kau bilang itu rencana? Merayu ibu gadis itu untuk kau nikahi? Kau bilang itu rencana? Kau tahu tidak, aku harus menahan jijik ketika melihat kau harus mencium perempuan murahan itu, berpura-pura menikmati mencumbunya,” sosok di kegelapan itu menyeringai marah, "Cathy adalah perempuan murahan yang menjijikkan, membayangkan dia ada di rumah ini membuatku muak.”

"Kau harus tahan. Rencanaku ini sudah berhasil menggiring Sharin masuk ke rumah ini."

"Lalu bagaimana kau menyingkirkan Cathy? Kau harus segera melakukan sesuatu Darren sebelum aku mulai kehilangan kesabaran, cara Cathy meremehkan dan menghina Sharin secara tersirat seharian tadi benar-benar mengusik kemarahanku, dan kau tahu kan bagaimana kalau aku marah?" sosok di kegelapan itu mulai terlihat mengancam.

Darren mengernyitkan kening, "Tak akan kuizinkan kau bertindak semaumu sendiri."

"Kalau begitu sebaiknya rencanamu segera membuahkan hasil! Kau tahu sendiri kan akibatnya kalau aku sampai turun tangan? Aku tidak suka ada yang menyakiti gadisku, aku akan melakukan apapun untuk membalaskannya."

"Sharin bukan gadismu.”

"Dia akan menjadi gadisku, milikku. Aku sudah mengatakan janji itu.Sharin adalah milikku,” sosok di kegelapan itu berucap penuh keyakinan.

Darren menggeram marah, "Kau harus menunggu. Aku tidak mau kau berbuat seperti siang tadi, mendatangi Sharin dan menciumnya. Menciumnya!! Apa kau sadar semuanya akan berantakan kalau saat itu Sharin terbangun??"

Sosok di kegelapan itu terkekeh, "Aku hanya mengucapkan selamat datang."

"Kalau begitu jangan sampai kau ulangi lagi. Biarkan aku menangani semuanya dulu. Setiap kau ikut campur hasilnya malah berantakan karena kau mahluk kejam yang tidak pernah memakai perasaan. Aku tidak mau terpaksa menyembunyikan kejahatanmu lagi, mengerti?? Jadi tahan dirimu," geram Darren mengancam.

Sosok di kegelapan itu mengangkat bahu, "Baik. Aku akan kembali ke tempatku, duduk di kegelapan dan mengamati semuanya dalam diam. Tapi kesabaranku ada batasnya Darren, kau tahu itu kan? Kau pasti tahu apa yang akan terjadi kalau aku kehilangan kesabaran.”

Darren mengernyit mendengar kekejaman yang tidak disembunyikan itu, lalu memegang pangkal hidungnya yang terasa nyeri. Ini harus segera di selesaikan. Segera! Sebelum dia, mahluk kejam itu,  turun tangan dan mengacaukan semuanya ....


Poskan Komentar

65 comments

makasih mbak santhy... makasih mbak cherry :D
yey di posting! :)

Yeeeeaaaay,,
Zia dear,,,makasih so much,,
Makasih bangetz mbak Santh,,,we loph u,,,
Makasih PortNov,,,,
Mmmuuuaaacchhhh,,,

Aish~sereem
*bergidik ngeri*
Keren2, ga sabar nunggu kelanjutannya :D
Makasih mb santhy, mb cherry

makasih cherry
makasih mba meyy dan mendy jane yang membantuku selalu membuat novel2ku semakin sempurna dengan masukan2 dan perbaikan2nya hehehe

@all enjoy yaaah ini novelnya gelap dan thriller meski romance nya kental juga heee :))

trio mbk santhy, mbk meyke dan zia syng trims yaa *cium atu2*

makaci uda posting..
btw mb santhy ceritanya si darren ngomong sm sp penasaran nie???

mahluk apa si? bingung,heheh beda bgt ya,keren :)

Punya dua kepribadian ya :o

mksh y mba santhy,aq sneng bgt loh.mksh jg zia,mas mimin,smw crew deh.heheh loph u

apakah Darren punya kepribadian ganda???? >_<

Wow double personality kah atau "mahluk" sereeemm
Kereeen mba shanty *ak merinding

Thanks mba cheryy

thank u mba santhy ,,, and zia,,,peyukkkkk
Also mas yudi :)

oke bab 1 pertama sudah membuat penasaran tingkat tinggi.

Darren sang sosok kegelapan.

Darren berkepribadian ganda ya..btw makasih mb santy dan tim admin

Woooooow ASEEEEK Novel ini juga di post .
Bener sinopsisnya banyak teka teki , aku kira Darren yang punya sisi gelap ternyata emang ada makhluk gelap *eh* pusing euy hehe

hellooo tth santhy sista2 pd pnsran nie mohon pncerahan dunk.... mr darren brkepribadian ganda yaaa..???
kereeen laen dr yg laen.. cemungud tth n TL2.. luv u more guys..

hellooo tth santhy sista2 pd pnsran nie mohon pncerahan dunk.... mr darren brkepribadian ganda yaaa..???
kereeen laen dr yg laen.. cemungud tth n TL2.. luv u more guys..

mksh..mksh..save dl..

Jangan2 Darren ini memiliki dua kepribadian ya? Hmmm...penasaran nich :)

Oh. My. God! Siapakah makluk dibalik bayang2 gelap itu??Penasaraaaan..
Thank u so much all, mba santhy, cherry, mba meyke, mas yudi :))

@all : selamat menikmati FTDS yaaah selingan yang berbeda dari novel2ku yang lain semoga ga mengecewakan yaa :)

heeeee semoga penasarannya terjawab nanti di bab2 selanjutnya, nanti akan makin jelas yaaa semoga mau mengikuti di bab2 selanjutnyaa :D *senyum2 misterius*

makin penasaran nih...kyak cerita misteri deh...

wow akhirnya d post jg..:)
thx mimin..mbk santhy..

sapa ya tu makhluk kegelapan?
makin penasaran deh..huft

wow akhirnya d post jg..:)
thx mimin..mbk santhy..

sapa ya tu makhluk kegelapan?
makin penasaran deh..huft

Seremmm..†ђąηk ўσυ cherry n mba santhy

@mbak santhy : ga bkalan bosen deh mbak..=D.. Btw.. G ssh jga kok editny..:D.. Ak ska.. Hihihi.. Mlah pngen ngedit trus.. Jdi ktagihan..:p

wow..jangan2 sakit schizophrenia nih si Darren...

bingung, penasaran campur jadi satu, Makasih Mb Santhy, Cherry & Ms Yudi. Ditunggu bab 2 slanjutna;-)

waduh..siapa tuch yg d kegelapan jd penasarn..aQ kira darren yg ciumin sharin ternyata org lain....next sist..:D

Penasaran, aduhhhhh degdeg serrr

wah itu sosok dalam kegelapan jangan2 sisi lainnya si darren ya mbak? dua pribadi dalam 1 raga. hauhauha asikk... makasi mbak Shanty.. makasi PortNov :D

thanks mas yudi dan mba santy

aku penasaran, kayanya si darren ini kepibradain ganda ya.. Hmm

unforgiven heronya gak ada ya? di postnya itu dua hari sekali ya? :(

Hooorrraayy...novel baruñ mba shanty...:) eh..tp novelnyaaa..hiiiyyy..seeyyammm.. tp kyañ seru bgt...love thriller soooo much... makasiy mba shan... n mba2 n mas admin..^^

oh nooo Darren Leonidas punya penyakit kejiwaan? apa rumah itu ada hantu? thanks Mba Santhy Mas Yudi dan Mba Cherry

hip,,hip,,hore,,,ada cerita baru dari k shanty,,,,penacaran akan cerita selanjutnya,,,,,,!!!

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

Dear Darren Leonidas.. Hey! I just met you and this is crazy but here's my number so call me maybe *Carly Rae Jepsen style* hahahahaaa...

Ummm,,msti bc 2x ru mudeng.. Hahaha...
Pnsrn euyy sm 'sang makhluk kgelapan'
Mksh Mba Santhy,Mba Meyke,,Zia n Mas Yudi

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

penasaran......thanks mb santhi,mas yudi & mb cherry

penasaran....lanjutannya donk... :)

Makasih mb shanty n zia n mas mimin n mb meyke...
Ini s daren punya kepribadian ganda...atau kakak nya s daren???pan td d fotonya ad 2 org..atau s daren pny kembaran???
Haaaa penasaran...

Thanks mbak santhy n cherry.

Engh...jidatku sampek berkerut. part 1 udah misterius maksimal ini mah. Konflik mulai keliatan. Bnyak bgt prtanyaan yg mampir di otak.
Di sinopsis dibilangnya kan 'cinta segitiga tp pelakunya 2'. Nah brarti Darren pnya 2 sisi gt ya mbak santhy? *semogabener* Ngeri ih kalo ada makhluk2 anehnya.
Trus Darren kenal Sharin drmn?

Okeh...siap2 makin penasaran ini. Semoga part selanjutnya cepet dipublish.
Ah, sama unforgiven hero jg ding, kekeke

Aku suka gemes baca novel seru sedikit sedikit. Mbak Santi.. Segera rilis buku novelnya doong...

yang bicara sama Darren itu siapa yak?

seru bgt awal'y...
G sbr tuk bab slnjut'y

Muacin mbk shanty, mbk cherry
Mz yudi

Keren nih ,, penasaran bgt,,,

sumpah,,, penasaran bngt..... benar2 g sabar nunggu lanjutan'y.. makasih buat mas yudi portal novel, mbk santhy, cherry...

penasaran akut nich.... salam kenal semua... saya selama ini cm silent reader... uda gatal pngn komen... hehehe.... big hug all

penasaran akut nich.... salam kenal semua... saya selama ini cm silent reader... uda gatal pngn komen... hehehe.... big hug all

Hum... jangan - jangan Darren yang muncul pertama itu bukan yang asli dan yang bayang - bayang itu yang asli...

yup ... sepertinya darren sudah mengincar sharin dari lama. bayangan gelap itu juga :) dan mereka menggunakan cathy untuk memerangkap sharin di rumah itu :)
heeeee seperti quote from the darkest side dimana darren mengatakan :

"Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai dia – dan dia sangat sulit untuk dicintai"
-Darren Leonidas

heeeee *kedip2 habis kasih spoiler*
peluk sayang semuanyaaa

Beda bgt sma novel sbelum Πγª .... Jdi penasaran nunggu lanjutan Πγª.

cukup satu kata "keren" !!!haduu ssok byangan itu siapa yah mba ???mksih yah udah di postingn crta nya kereeen banget ga monoton dan bkin pnasaran !!ttap sehat yah mba cantik biar bsa lnjut crtanya hhe

Keren... Menanti kelanjutannya..
Makasih makasih

Sukaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget ama thriller! Dan ini thriller yg keren :O
mba san, zia, mba meyke.. makasih ya *kecups* ga sabar nunggu lanjutannya

aku masih penasaran sama makhluk kegelapan itu, ini keren banget serius aseli gak bohong suer /kebanyakan XDD ahhh updte kilat dong mba yg cantik mas yg manis ^^~ semangat yaa :*

wowwwww.. fresh banget ceritanya.. 2 kepribadian kayaknya ya.. menanti cerita selanjutnya.. Makasih mbk shanty, mbk cherry, Mas yudi .. muaaaaaccchhhh..muaaacchhh..

Dgn siapa Daren bicara? Bikn penasaran aza

Penasaran O.o lanjutin dooongs hehe~

Penasaran!!!!! Keren abis ceritanya. Genre'nya beda dari novel2 sebelumnya.
(•ˆ⌣ˆ•)

penasran..
seru crtanya.. ,^^

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top