28

fsf-thumb
Air mata mengalir di wajahku. Dia kembali. Ayahku kembali.

"Jangan menangis, Annie." Suara Ray serak. "Apa yang terjadi?"

Aku mengambil tangannya lalu menggenggamnya dengan kedua tanganku dan kusandarkan di wajahku. "Kau mengalami kecelakaan. Kau berada di rumah sakit di Portland."

Ray mengerutkan kening, dan aku tak tahu apakah itu karena dia tidak nyaman dengan caraku yang tidak biasa dalam menunjukkan perhatianku, atau bahwa ia tidak dapat mengingat kecelakaan itu.

"Apa kau mau minum?” tanyaku, meskipun aku tidak yakin apakah aku diizinkan untuk memberikan dia pun. Dia mengangguk, bingung. Hatiku mengembang. Aku berdiri dan bersandar di atasnya, mencium keningnya. "Aku mencintaimu, Daddy. Selamat datang kembali."

Dia melambaikan tangannya, malu. "Aku juga, Annie. Air." Aku menghampiri ruang perawat terdekat.

"Ayahku—dia sudah bangun!" Ujarku berseri-seri pada suster Kellie, yang membalas dengan tersenyum.

"Panggil Dr. Sluder," katanya pada koleganya dan buru-buru mengambil jalan mengitari meja.

"Dia ingin air."

"Aku akan membawakannya."

Aku melompat kembali ke tempat tidur ayahku, hatiku terasa begitu ringan. Matanya tertutup saat aku menghampirinya, dan aku langsung khawatir dia kembali koma.

"Daddy?"

"Aku di sini," gumamnya dan matanya berkedip terbuka saat suster Kellie muncul dengan sebuah teko air dingin dan sebuah gelas.

"Halo, Mr. Steele. Aku Kellie, perawat anda. Putrimu mengatakan padaku bahwa anda haus."

Di ruang tunggu, Christian menatap tajam pada laptop-nya, tenggelam dalam konsentrasi. Dia mendongak ketika aku menutup pintu.

"Dia sudah bangun," Aku memberitahu. Dia tersenyum, dan ketegangan di sekitar matanya hilang. Oh...Aku tidak melihat sebelumnya. Apakah dia sudah tegang selama ini? Dia meletakkan laptop kesamping, berdiri, dan memelukku.

"Bagaimana dia?" Tanyanya saat aku membungkus lenganku di tubuhnya.

"Berbicara, haus, bingung. Dia tidak ingat kecelakaan itu sama sekali."

"Itu bisa dimengerti. Sekarang dia sudah bangun, aku ingin membawanya pindah ke Seattle. Lalu kita bisa pulang, dan ibuku bisa mengawasinya."

Sudah diurus?

"Aku tidak yakin dia cukup sehat untuk dipindahkan."

"Aku akan bicara dengan Dr. Sluder. Meminta pendapatnya."

"Kau merindukan rumah?"

"Ya."

"Oke."

***

"Kau belum berhenti tersenyum," kata Christian saat aku berhenti diluar the Heathman.

"Aku sangat lega. Dan bahagia."

Christian menyeringai. "Bagus."

Cahaya memudar, dan aku menggigil saat aku melangkah keluar memasuki malam yang dingin bersalju dan menyerahkan kunci kepada valet parkir. Dia mengamati mobilku dengan bernafsu, dan aku tidak menyalahkan dia. Christian menempatkan lengannya di sekitarku.

"Bagaimana kalau kita merayakannya?" Dia bertanya ketika kita memasuki foyer.

"Merayakan?"

"Ayahmu."

Aku tertawa. "Oh, dia."

"Aku merindukan suara itu." Christian mencium rambutku.

"Bisakah kita makan di kamar kita saja? Kau tahu, merasakan malam yang tenang?"

"Tentu. Ayo." Mengambil tanganku, Ia membawaku ke lift.

"Ini lezat," gumamku dengan kepuasan saat aku menyingkirkan piringku, untuk pertama kalinya merasa kenyang selama bertahun-tahun. "Mereka pasti tahu bagaimana membuat kue Tatin yang enak di sini."

Aku baru saja mandi dan hanya mengenakan kaos Christian dan celanaku. Dilatarbelakangi musik dari iPod Christian yang memutar lagu secara acak dan Dido sedang menyanyikan White Flag.

Christian menatapku dengan spekulatif. Rambutnya masih basah dari mandi bersama tadi, dan dia hanya mengenakan T-shirt hitam dan celana jins. "Itu makanan yang paling banyak kau makan selama kita berada disini." katanya.

"Aku lapar."

Dia bersandar di kursinya dengan seringai berpuas-diri dan menyesap anggur putihnya. "Apa yang akan lakukan sekarang?" tanyanya dengan suara lembut.

"Apa yang ingin kau lakukan?"

Dia mengangkat alis, geli. "Apa yang selalu ingin kulakukan."

"Dan itu adalah?"

"Mrs. Grey, jangan pura-pura malu."

Menggapai ke seberang meja makan, aku memegang tangannya, membaliknya, dan meluncurkan jari telunjukku di atas telapak tangannya. "Aku ingin kau menyentuhku dengan ini." Aku menelusuri jariku pada jari telunjuknya.

Dia bergeser di kursinya. "Hanya itu?" Matanya gelap dan sekaligus panas.

"Mungkin ini?" Aku menjalankan jariku keatas jari tengahnya dan kembali ke telapak tangannya.

"Dan ini." Kukuku menjejaki jari manisnya. "Yang pasti ini." Jariku berhenti pada cincin kawinnya. "Ini sangat seksi."

"begitukah, sekarang?"

"Sudah pasti. Ini menjelaskan pria ini adalah milikku." Dan aku memyusuri kapalan kecil di bawah cincin yang sudah terbentuk pada telapak tangannya. Ia mencondongkan tubuh dan menangkup daguku dengan tangannya yang lain.

"Mrs. Grey, apa kau merayuku?"

"Kuharap begitu."

"Anastasia, aku sepakat." Suaranya rendah. "Kemarilah." Dia merenggut tanganku, menarikku ke pangkuannya. "Aku suka memiliki akses yang tak terbatas padamu." Dia menjalankan tangannya ke pahaku menuju ke pantatku. Dia menggenggam pangkal leherku dengan tangannya yang lain dan menciumku, memegangku tetap di tempatnya.

Dia memiliki rasa anggur putih dan pai apel dan Christian. Aku menjalankan jariku ke dalam rambutnya, memegang dia untukku sementara lidah kami mengeksplorasi dan bergulung dan berputar satu sama lain, darah memanas dalam pembuluh darahku. Kami terengah-engah ketika Christian menarik dirinya.

"Ayo kita ke kamar," gumamnya di bibirku.

"Kasur?"

Dia menarikku lebih dekat dan menarik rambutku sehingga aku melihat ke arahnya. “Kau suka dimana, Mrs. Grey?"

Dewi batinku berhenti mengisi wajahnya dengan Tatin tarte. Aku mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli.

"Buat kejutan untukku."

Dia menyeringai. "Kau penuh gairah malam ini." Dia menjalankan hidungnya di sepanjang hidungku.

"Mungkin aku harus diikat."

"Mungkin. Kau menjadi terlalu suka memerintah di usia tuamu." Dia menyipitkan matanya, tapi tidak bisa menyamarkan humor di dalamnya.

"Apa yang akan kau lakukan tentang hal itu?" Tantangku.

Matanya berkilat-kilat. "Aku tahu apa yang ingin kulakukan. Tergantung apa kau mampu mengatasinya."

"Oh, Mr. Grey, kau sudah sangat lembut denganku beberapa hari terakhir ini. Aku tidak terbuat dari kaca, kau tahu."

"Kau tidak suka lembut?"

"Denganmu, tentu saja. Tapi kau tahu...variasi merupakan bumbu kehidupan." Aku mengepakkan bulu mataku padanya.

"Kau mencari sesuatu yang kurang lembut?"

"Sesuatu yang membuat kita merasa positif tentang kehidupan."

Dia mengangkat alisnya karena terkejut. "Positif tentang kehidupan," ulangnya, humor dan takjub dalam suaranya.

Aku mengangguk. Dia menatap padaku sejenak. "Jangan menggigit bibirmu," bisiknya kemudian tiba-tiba bangkit berdiri bersamaku dalam pelukannya. Aku terkesiap dan menggenggam lengan berototnya, takut dia akan menjatuhkanku. Dia berjalan melewati tiga sofa terkecil dan menaruhku disana.

"Tunggu di sini. Jangan bergerak." Dia memberiku tatapan singkat nan panas dan intens, dan membalikkan tubuhnya, berjalan menuju kamar tidur. Oh...Christian bertelanjang kaki. Mengapa kakinya begitu seksi? Dia kembali beberapa saat kemudian, membuatku terkejut saat ia mencondongkan tubuhnya padaku dari belakang.

"Kupikir kita akan membuang ini." Dia meraih T-shirt dan menariknya ke atas kepalaku, membiarkanku telanjang hanya mengenakan celana dalam. Dia menarik kuncirku lagi dan menciumku.

"Berdiri," perintahnya di depan bibirku dan melepaskanku. Aku segera mematuhinya. Dia meletakkan handuk di sofa.

Handuk?

"Lepas celana dalammu."

Aku menelan ludah tapi melakukan apa yang ia katakan padaku, membuang celana dalamku ke sofa.

"Duduk." Dia mengambil kucirku lagi dan menarik kepalaku kebelakang. "Kau akan memberitahuku untuk berhenti jika hal ini terlalu berlebihan, ya?"

Aku mengangguk.

"Katakan." Suaranya tegas.

"Ya," lengkingku.

Dia menyeringai. "Bagus. Jadi, Mrs. Grey...dengan permintaan yang paling disukai, aku akan mengekangmu." Suaranya turun dalam bisikan terengah-engah. Gairah berlari cepat melalui tubuhku seperti kilatan hanya dari kata-katanya. Oh, Fiftyku yang manis —di sofa?

"Tarik lututmu ke atas," perintahnya lembut. "Dan duduk kembali."

Aku meletakkan kakiku di tepi sofa, lutut terlipat didepan tubuhku. Dia menggapai kaki kiriku, dan mengambil sabuk dari salah satu jubah mandi, ia mengikat salah satu ujungnya di atas lututku.

"Jubah?"

"Aku berimprovisasi." Dia menyeringai lagi dan mengikatkan simpul di atas lututku dan mengikat ujung sabuk lembut yang lain sekitar kepala sudut belakang sofa dengan efektif memisahkan kakiku.

"Jangan bergerak," Dia memperingatkan dan mengulangi proses itu pada kaki kananku, mengikat kedua tali ke kepala sofa lainnya.

Oh my...Aku duduk, terhampar di sofa, kaki terbuka lebar.

"Oke?" Tanya Christian lembut, menatap ke arahku dari balik sofa.

Aku mengangguk, berharap dia untuk mengikat tanganku juga. Tapi dia menahan diri. Dia membungkuk dan menciumku.

"Kau tak tahu betapa seksinya kau terlihat saat ini," gumamnya dan menggosokkan hidungnya pada hidungku. "Mengganti musiknya, menurutku." Dia berdiri dan berjalan santai ke arah tempat penyimpanan iPod.

Bagaimana dia melakukan ini? Disinilah aku, sampai terikat dan benar-benar terangsang, sementara dia begitu dingin dan tenang. Dia baru saja masuk dalam sudut pandanganku, dan aku melihat otot-otot punggung di bawah T-shirt-nya yang melentur dan megencang saat ia mengganti lagunya. Dengan segera, sebuah suara manis, suara perempuan yang nyaris seperti anak kecil mulai bernyanyi tentang watching me.

Oh, aku suka lagu ini.

Christian berbalik dan matanya mengunci pada mataku saat ia bergerak memutar ke depan sofa dan berlutut dengan anggun di hadapanku.

Tiba-tiba, aku merasa sangat terbuka.

"Terbuka? Rentan?" Tanyanya dengan kemampuan luar biasa untuk menyuarakan kata-kataku yang tak terucap. Tangannya berada di lututnya. Aku mengangguk.

Mengapa dia tidak menyentuhku?

"Bagus," gumamnya. "Ulurkan tanganmu." Aku tidak bisa berpaling dari matanya yang memukau saat aku melakukan apa yang dia minta. Christian menuangkan cairan yang agak berminyak dari botol bening kecil ke setiap telapak tangan. Ini beraroma—musky, kaya akan aroma sensual yang tidak aku kenali.

"Gosok tanganmu." Aku menggeliat di bawah tatapan berat dan panasnya. "Tetap diam," katanya memperingatkan.

Oh my.

"Sekarang, Anastasia, aku ingin kau menyentuh dirimu sendiri."

Astaga.

"Mulai dari tenggorokan dan meluncur ke bawah."

Aku ragu-ragu.

"Jangan malu-malu, Ana. Ayo. Lakukanlah." Rasa humor dan menantang dalam ekspresinya jelas terlihat bersama dengan keinginannya.

Suara manis bernyanyi there’s nothing sweet about her. Aku menempatkan tanganku di tenggorokanku dan membiarkan mereka bergeser ke atas payudaraku. Minyak membuat tanganku meluncur dengan mudah di atas kulitku. Tanganku hangat.

"Lebih ke bawah," Christian berbisik, matanya gelap. Dia tidak menyentuhku.

Tanganku menangkup payudaraku.

"Rangsanglah dirimu sendiri."

Oh my. Aku menariknya lembut putting payudaraku.

"Lebih keras," desak Christian. Ia duduk tak bergerak di antara pahaku, hanya menontonku. "Seperti yang kulakukan," tambahnya, matanya bersinar gelap. Otot-ototku mengepal keras di perutku. Aku merintih menanggapi sentuhanku dan menarik putingku lebih keras, merasa putingku mengeras dan memanjang di bawah sentuhanku.

"Ya. Seperti itu. Lagi."

Dengan menutup mata, aku menarik lebih keras, memutar dan memelintir mereka di antara jari-jariku. Aku mengerang.

"Buka matamu."

Aku berkedip ke arahnya.

"Sekali lagi. Aku ingin melihatmu. Melihatmu menikmati sentuhanmu."

Oh sial. Aku mengulangi proses itu. Ini begitu...erotis.

"Tangan. Lebih ke bawah."

Aku menggeliat.

"Jangan bergerak, Ana. Serap kenikmatan itu. Lebih ke bawah." Suaranya rendah dan serak, menggoda dan sekaligus memperdaya.

"Kau yang melakukannya," bisikku.

"Oh, aku akan melakukannya—segera. Kau. Turunkan lagi tanganmu. Sekarang." Christian, dengan memancarkan sensualitas, menyapukan lidahnya di sepanjang giginya, astaga...Aku menggeliat, menarik ikatan itu.

Dia menggelengkan kepalanya, perlahan-lahan. "Jangan bergerak." Dia meletakkan tangannya di lututku, memegangku agar tidak bergerak. "Ayolah, Ana—lebih ke bawah."

Tanganku meluncur di atas perutku turun ke bagian perut bawahku.

"Ke bawah lagi," rapalnya, dan dia adalah perwujudan dari hawa nafsu.

"Christian, kumohon."

Tangannya meluncur turun dari lututku, membelai pahaku, menuju seksku. "Ayolah, Ana. Sentuh dirimu."

tangan kiriku meluncur ke organ seksku, dan aku menggosoknya dalam lingkaran lambat, mulutku membentuk huruf O saat aku terengah-engah.

"Sekali lagi," bisiknya.

Aku mengerang lebih keras dan mengulangi langkah tadi dan mendongakkan kepalaku, terengah-engah.

"Lagi."

Aku mengerang keras, dan Christian menghirup tajam. Meraih tanganku, ia membungkuk turun, menjalankan hidungnya kemudian lidahnya bolak-balik di puncak pahaku.

"Ah!"

Aku ingin menyentuhnya, tapi ketika aku mencoba untuk memindahkan tanganku, jari-jarinya mengencang di sekitar pergelangan tanganku.

"Aku akan mengikat tangan ini juga. Diam."

Aku mengerang. Dia melepaskanku kemudian memasukkan dua jarinya ke dalam diriku, telapak tangannya bersandar pada clitorisku.

"Aku akan membuat kau orgasme dengan cepat, Ana. Siap?"

"Ya." Aku terengah-engah.

Dia mulai menggerakkan jari-jarinya, tangannya, ke atas dan ke bawah, dengan cepat, menyerang baik titik kenikmatan didalam diriku dan klitorisku pada saat yang sama. Ah! Rasanya intens—benar-benar intens. Kenikmatan terbangun dan meningkat dengan cepat di sepanjang bagian bawah tubuhku. Aku ingin meluruskan kakiku, tapi aku tidak bisa. Tanganku mencakar handuk di bawahku.

"Menyerah," bisik Christian.

Aku meledak di sekitar jari-jarinya, berteriak tak jelas. Dia menekan ujung tangannya pada clitorisku saat getaran berikutnya merasuk di sekujur tubuhku, memperpanjang penderitaan yang nikmat. Samar-samar, aku menyadari bahwa dia melepaskan kakiku.

"Giliranku," gumamnya, dan membalikkan tubuhku sehingga aku tertelungkup di sofa dengan lututku berada di lantai. Dia melebarkan kakiku dan menamparku dengan keras di pantat.

"Ah!" Teriakku dan dia masuk dengan kasar ke dalam diriku.

"Oh, Ana," Dia mendesis melalui gigi terkatup saat ia mulai bergerak. Jari-jarinya meremasku keras di sekitar pinggulku saaat ia memasuki berulang-ulang. Dan aku sedang terbangun lagi. Tidak...Ah...

"Ayo, Ana!" Teriak Christian, dan aku hancur berantakan lagi, berdenyut di sekitarnya dan berteriak saat aku orgasme.

"Cukup merasa positif tentang kehidupanmu?" Christian mencium rambutku.

"Oh, ya," gumamku, menatap langit-langit. Aku berbaring diatas suamiku, punggungku pada bagian depan tubuhnya, kami berdua di lantai di samping sofa. Dia masih berpakaian.

"Aku pikir kita harus melakukannya lagi. Tidak ada pakaian untukmu kali ini."

"Ya Tuhan, Ana. Beri aku waktu."

Aku tertawa dan dia terkekeh. "Aku senang Ray masih sadar. Sepertinya semua seleramu telah kembali," katanya, tidak menyamarkan senyum dalam suaranya.

Aku berbalik dan memberengut padanya. "Apakah Kau lupa tentang semalam dan pagi tadi?" Aku cemberut.

"Tidak ada yang bisa dilupakan dari keduanya." Dia menyeringai, dan ketika dia melakukannya, dia terlihat begitu muda dan riang dan bahagia. Dia menangkup pantatku. "Kau memiliki pantat yang fantastis, Mrs. Grey."

"Kau juga." Aku melengkungan alis padanya. "Meskipun Kau masih berpakaian."

"Dan apa yang akan kau lakukan tentang hal itu, Mrs. Grey?"

"Kenapa, aku akan menanggalkan pakaianmu, Mr. Grey. Semuanya."

Dia menyeringai.

"Dan kupikir ada banyak yang manis tentangmu," bisikku, mengacu pada lagu yang masih diputar berulang. Senyumnya memudar.

Oh tidak.

"Memang kau manis," bisikku. Aku menunduk dan mencium sudut mulutnya. Dia menutup matanya dan mengencangkan lengannya di sekitarku.

"Christian, kau manis. Kau membuat akhir pekan ini begitu istimewa—terlepas dari apa yang terjadi pada Ray. Terima kasih."

Dia membuka matanya sangat abu-abu dan besar, dan ekspresinya menyentak jantungku.

"Karena aku mencintaimu," gumamnya.

"Aku tahu. Aku juga mencintaimu." Aku membelai wajahnya. "Dan kau juga berharga bagiku.

Kau tahu itu, kan?"

Dia bergeming, tampak tersesat.

Oh, Christian...Fify-ku yang manis.

"Percayalah," bisikku.

"Ini tidak mudah." Suaranya nyaris tak terdengar.

"Cobalah. Berusaha keras, karena itu benar." Aku membelai wajahnya sekali lagi, jari-jariku menyisiri cambangnya. Mata abu-abunya menyiratkan lautan kehilangan dan luka dan rasa sakit. Aku ingin naik ke tubuhnya dan menahannya. Apa pun untuk menghentikan tatapan itu. Kapan ia menyadari bahwa ia sangat berarti bagiku? Bahwa dia lebih dari layak untuk cintaku, cinta dari orang tuanya—saudaranya? Aku telah mengatakan berulang kali padanya, namun di sinilah kami saat Christian memberiku tatapan kehilangan dan ditinggalkan miliknya. Waktu. Ini hanya membutuhkan waktu.

"Kau akan kedinginan. Sini." Dia bangkit dengan anggun dan menarikku sampai berdiri di sampingnya. Aku menyelipkan lenganku di pinggangnya saat kami berjalan kembali ke kamar tidur. Aku tidak akan memaksanya, tapi karena kecelakaan Ray, itu menjadi lebih penting untukku bahwa dia tahu betapa aku mencintainya.

Ketika kita memasuki kamar tidur, aku mengerutkan kening, putus asa untuk memulihkan mood yang sangat bagus yang berlangsung hanya beberapa saat yang lalu.

"Bagaimana kalau kita nonton TV?" Aku bertanya.

Christian mendengus. "Aku mengharapkan ronde ke dua." Dan Fifty-ku yang berubah-ubah mood telah kembali. Aku melengkungkan alisku dan berhenti di tempat tidur.

"Well, kali ini, kupikir aku yang akan memegang kendali."

Dia melongo padaku, dan aku mendorongnya ke tempat tidur dan dengan cepat mengangkanginya, menyematkan tangannya di samping kepalanya.

Dia menyeringai ke arahku. "Well, Mrs. Grey, sekarang kau sudah mendapatkanku, apa yang akan kau lakukan padaku?"

Aku membungkuk dan berbisik di telinganya, "Aku akan menyetubuhimu dengan mulutku."

Dia menutup matanya, menghirup tajam, dan aku membelai lembut di sepanjang rahangnya dengan gigiku.

***

Penerjemah: +Aphrodite Cherie
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

28 comments

Adys darling.....makaasiihh~~
mas Yudi..makaasiih......

mbk +adys mas +yudi makasih.....

selalu menarik ....
terimakasih smuaa :)

Makasih untuk semua...
Tetap keren seperti biasa

Oh yeaah~ pasangan favoritku
Christian semakin jatuh cinta sama dirimu ituu~ aaaa
Makasih mas yudi, mb cherie

thank u all
*lope* :D

Wow...Mr.Grey...banyak ide :p

"Aku akan menyetubuhimu dengan mulutku".. oh my... pasti seru nih...!!! Mks udh diposting skg ya mas, mba'... selalu menunggu...

"Aku akan menyetubuhimu dengan mulutku".. oh my... pasti seru nih...!!! Mks udh diposting skg ya mas, mba'... selalu menunggu...

Always hot!!
Tq mba adys, mas yudi
#kecubkecub

Thanks Mas Yudi ...

Aku suka bgt kata2 ini...

"Mrs. Grey, jangan pura-pura malu."...ya ampunnnn merasa terbuka hehehe

mba Adys n mas Yudi, mkasih....

My Fifty <3

hmmm..
"variasi adalah bumbu kehidupan", tapi bila terlalu banyak kau bisa keracuna..

Aihh.. Ada yg suka "variasi" rupanya.. ◦°◦◦°◦нзнзнзнз◦°◦◦°

PN luph you,,, btw, info dong kpn tayangnya fsog nya,,,,

mksh mami adys n mas mimin :)

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

"Bersetubuh dengan mulut ???"

Hmm,,another tips,,
Segera diCatet,,di Garisbawahi tebal2..

Makasih Mrs. Grey atas tipsny,, *wink

Woow....
Thank mb chery n ms adm...

wow erotis banget !!mkasih mba chery mas yudi ...

All --> very welcome and enjoy everyone :)

Mbak dedex @ musim panas ini sist... Tunggu Ajah ... Tinggal bbrp bulan lagi hihihiiii

Ya ampun mbak Riska ... Segitunya.. LANGSUNG DI catet di diary ya...? Hahahaa
Wadaw... Nggak sengaja manggil mbak... Sorry ya CinTA hehehe

hihihiihihiii,,,iya cyiin,,
Kudu dicatet,,ntar klo kurang lengkap,,aq mw minjem di catatnny MJ,,

Punya dy lengkap cyiin,,hasil diskusi ama suhu & master di PN,,,

Huaaaa,,ktggln..ktggln...
Abang Christian emg sllu pny ide..xixixi
Mksh Mba Adys n Mas Yudi

Riska nova @ aku pinjem catetanya yach dear... Klo suatu Saat Lupa ... Ane buka2 lg hhiihii
Wow OM suhu kan rajanya hahahha

makasiih mas yudi .....dah kasih novel yg alur ceritanya bagus, tokohnya bisa nancap dihati, Ana n Christian..gak bisa dilupakan.....

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top