20

fsf-thumb
"Jangan pernah berpikir untuk marah padaku," desisku. "Panggil Claude Bastille dan pukuli dia, atau temui Flynn."

Mulutnya ternganga; ia benar-benar terkejut dengan kemarahanku, dan sekali lagi alisnya kembali mengerut.

"Kau sudah berjanji untuk tidak akan melakukan hal ini." Kini suaranya terdengar menuduh.

"Lakukan apa?"

"Menentangku."

"Tidak, aku tidak melakukannya. Aku sudah mengatakan padamu dia ada di sini. Aku juga sudah memerintahkan Prescott untuk menggeledahnya, dan juga teman kecilmu yang lainnya. Prescott ada bersamaku sepanjang waktu. Dan sekarang kau malah memecat wanita itu ketika dia hanya melakukan apa yang kuminta. Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak khawatir, tapi nyatanya kau berada di sini sekarang. Aku tidak ingat menerima papal bull (pernyataan resmi dikeluarkan oleh Paus) yang menyatakan untuk tidak menemui Leila. Aku bahkan tidak tahu jika aku mempunyai daftar terlarang," suaraku meninggi karena kemarahan ketika aku kembali mengingat penyebabnya. Christian memandangku, ekpresinya tidak terbaca. Setelah beberapa saat mulutnya berkerut.

"Papal bull?" tanyanya geli dan tampak lebih santai. Aku tidak berniat untuk meringankan percakapan kami, hingga ketika ia menyeringai padaku, itu hanya membuatku semakin marah. Percakapan antara dia dan mantannya menyakitkanku. Bagaimana mungkin Christian bisa sedingin itu pada Leila?

"Apa?" tanyanya jengkel karena wajahku tetap tegas.

"Kau. Mengapa kau sangat tidak berperasaan padanya?"

Ia mendesah dan bergerak mendekatiku yang masih bersandar di atas meja.

"Anastasia," katanya seakan-akan bicara pada seorang anak kecil. "Kau tidak mengerti. Leila, Susannah—mereka semua adalah bagian dari pengalihan waktu luang. Tapi hanya itu. Kau adalah pusat dari semestaku. Dan terakhir kali kalian berdua berada di kamar itu, dia menodongkan senjata padamu. Aku tidak ingin ia berada di sekitarmu."

"Tapi Christian, saat itu dia sedang sakit."

"Aku tahu, dan aku juga tahu jika dia sudah lebih baik sekarang. Tapi aku tak ingin memberikannya kesempatan lagi. Apa yang ia lakukan tidak bisa dimaafkan."

"Tapi kau baru saja jatuh dalam permainannya. Ia ingin bertemu denganmu lagi, dan ia tahu kau akan datang jika dia menemuiku."

Christian mengangkat bahunya seolah-olah ia tidak peduli. "Aku tidak ingin tercemar dengan kehidupan lamaku."

Apa?

"Christian, kau menjadi seperti sekarang ini karena kehidupan lamamu, kehidupan barumu, atau apa pun. Apa yang menyentuhmu, itu juga menyentuhku. Ketika aku setuju untuk menikah denganmu, itu karena aku mencintaimu."

Ia terdiam. Aku tahu sangat sulit baginya untuk mendengar hal ini.

"Dia tidak melukaiku. Dia juga mencintaimu."

"Aku tidak peduli."

Aku ternganga menatapnya, terkejut. Dan aku benar-benar terkejut jika ia masih memiliki kesempatan untuk kembali mengejutkanku. Ini adalah Christian Grey yang kukenal. Kata-kata Leila kembali terngiang-ngiang di telingaku.

Reaksinya terhadap Leila begitu dingin, begitu bertentangan dengan pria yang kukenal dan kucintai. Aku mengernyit, mengingat kembali penyesalan yang Christian rasakan ketika Leila mengalami gangguan jiwa, ketika ia pikir ia bertanggung jawab dari rasa sakit yang di rasakan wanita itu. Aku menelan ludah, mengingat saat ia memandikannya. Perutku terasa terpilin perih karena pemikiran itu, dan rasanya empeduku naik ke tenggorokan. Bagaimana mungkin ia mengatakan tidak peduli pada wanita itu? tapi dulu ia begitu peduli padanya. Apa yang berubah? Terkadang, seperti saat ini, aku sama sekali tidak bisa memahaminya. Pemikirannya berada begitu jauh, jauh dari batas pemikiranku.

"Kenapa tiba-tiba kau malah membelanya?" tanyanya, bingung dan kesal.

"Dengar Christian, aku tidak berpikir jika aku dan Leila akan bertukar resep atau merajut bersama dalam waktu dekat ini. Tapi kurasa seharusnya kau lebih berperasaan padanya."

Matanya membeku. "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu. Aku tidak punya hati." Gumamnya.

Aku memutar mataku padanya—oh, sekarang dia bersikap seperti remaja.

"Itu tidak benar Christian. Kau sangat konyol. Kau peduli padanya. Kau tidak akan membayar kursus seni dan hal-hal lainnya untuk Leila jika kau tidak peduli padanya."

Tiba-tiba, aku merasa jika ini adalah ambisi seumur hidupku untuk membuatnya menyadari hal ini. Kenyataan bahwa ia peduli. Tapi mengapa ia menyangkalnya? Ini seperti sikapnya terhadap ibu kandungnya. Oh sial—tentu saja. perasaannya kepada Leila dan mantan submisifnya yang lain terbelit dengan perasaannya terhadap ibunya. Aku ingin menyambuk wanita berambut coklat sepertimu, karena kalian semua terlihat seperti pelacur itu. Tidak heran dia begitu marah. Aku menghela nafas dan menggeleng. Bagaimana mungkin Dr. Flynn tidak menyadari hal ini?

Hatiku sejenak mengembang padanya. my lost boy… mengapa begitu sulit baginya untuk kembali menjadi sosok yang berperasaan, dengan kasih sayang yang dulu ia tunjukan ketika Leila mengalami gangguan emosional.

Ia melotot padaku, matanya berkilauan karena marah. "Diskusi ini sudah berakhir, ayo pulang."

Aku melirik jam tanganku. Saat ini baru pukul 4.23. Aku masih punya pekerjaan yang harus kulakukan. "Masih terlalu cepat," gumamku.

"Rumah," ia menegaskan.

"Christian." Suaraku terdengar lelah. "Aku lelah berdebat denganmu." Ia mengerutkan keningnya seolah-olah tidak mengerti.

"Kau tahu," kataku menjelaskan. "Jika aku melakukan hal yang tidak kau sukai, dan kau akan memikirkan jalan untuk mendapatkan balasannya padaku. Biasanya melibatkan seks anehmu, yang terkadang sangat luar biasa atau sangat kejam." Aku mengangkat bahu tak acuh. Hal ini benar-benar melelahkan dan membingungkan.

"Luar biasa?" tanyanya.

Apa?

"Biasanya, Ya."

"Seperti apa yang luar biasa itu?" tanyanya, matanya berkilauan dengan rasa ingin tahu dan geli yang sensual. Dan aku tahu dia sedang berusaha mengalihkan perhatianku.

Sial! Aku tak ingin membahas masalah ini di ruang rapat SIP. Dewi batinku menatap kuku-kukunya yang terawat dengan baik dengan penuh penghinaan. Tidak seharusnya kau mengungkit topik itu.

"Kau tahu," aku memerah, kesal pada dirinya dan pada diriku sendiri.

"Aku bisa menebak," bisiknya.

Sialan. Aku sedang berusaha mengkritiknya dan ia malah mengacaukanku. "Christian, aku—"

"Aku ingin membahagiakanmu," dengan hati-hati ia menelusuri bibir bawahku dengan ibu jarinya.

"Kau sudah melakukannya," aku mengakui, suaraku berupa bisikan.

"Aku tahu," bisiknya pelan. Ia bergerak maju dan berbisik di telingaku. "Satu hal yang kau tidak tahu." Oh, aromanya begitu menyenangkan. Ia kembali mundur dan menatap kearahku, bibirnya melengkung dengan arogan, dengan senyuman yang menyiratkan kata-kata,  Aku-memiliki-mu.

Aku mengerutkan bibirku, dan berusaha sebisa mungkin untuk tampak tidak terpengaruh dengan sentuhannya. Ia benar-benar tahu bagaimana caranya untuk mengalihkan perhatianku dari segala sesuatu yang menyakitkan, atau dari apapun yang ia tidak sukai. Dan kau membiarkannya, dewi batinku berteriak tidak senang, menatap buku Jane Eyre-nya.

"Apa yang luar biasa itu Anastasia?" tuntutnya, matanya berkilau jahat.

"Kau ingin daftarnya?" tanyaku.

"Ada daftarnya?" Tanyanya senang.

Oh, pria ini benar-benar melelahkan. "Well, borgol itu," gumamku, pikiranku kembali berputar ke masa bulan madu kami. Ia mengerutkan keningnya dan menggenggam tanganku, menelusuri denyut nadi di pergelangan tanganku dengan ibu jarinya.

"Aku tidak ingin menandaimu."

Oh…

Bibirnya kembali melengkung dalam senyuman yang bergairah. "Ayo pulang," katanya dengan nada menggoda.

"Aku harus bekerja."

"Rumah," katanya, lebih mendesak.

Kami saling bersitatap, menguji satu sama lain, menguji batasan dan keinginan kami. Aku mencoba memahami tatapannya, mencoba memahami bagaimana caranya pria ini bisa berubah dari sosok yang gila kontrol menjadi sosok yang sangat menggoda dalam satu tarikan nafas. Matanya tampak melebar dan lebih gelap, niatnya begitu jelas. Dengan lembut ia membelai pipiku.

"Kita bisa tinggal disini," suaranya rendah dan serak.

Oh tidak. dewi batinku menatap penuh kerinduan pada meja kayu itu. Tidak. Tidak.

Tidak. tidak didalam kantor. "Christian, aku tak ingin berhubungan seks di sini. Simpananmu baru saja berada di ruangan ini."

"Dia tidak pernah menjadi simpananku." Geramnya, mulutnya langsung menjadi garis muram.

"Itu hanya secara semantik Christian."

Ia mengernyit, ekspresinya tampak bingung. kekasih penggodaku sepertinya sudah pergi. "Jangan berlebihan Ana. Dia hanya masa lalu." Katanya tak acuh.

Aku mendesah… mungkin ia benar. Aku hanya ingin ia mengakui pada dirinya sendiri, bahwa ia peduli pada wanita itu. Hatiku mendadak membeku. Oh tidak. itulah mengapa hal ini begitu penting bagiku. Jika suatu hari nanti aku melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan, jika aku melakukan hal yang tidak sesuai dengannya. Apakah aku akan menjadi sekedar masa lalu juga? Jika ia bisa berubah secepat ini, ketika ia begitu khawatir dan marah saat Leila sakit…

Apakah ia juga akan meninggalkanku? Aku terkesiap, mengingat potongan-potongan mimpi itu: cermin emas dan suara langkah kakinya diatas lantai marmer ketika ia meninggalkan aku berdiri sendirian diantara kemegahan itu.

"Tidak…" kata-kataku terdengar seperti bisikan horor sebelum aku bisa menghentikannya.

"Ya." Katanya sambil memegang daguku, ia membungkuk dan mencium bibirku.

"Oh Christian, terkadang kau membuatku takut." Aku mencengkram kepalanya dengan ganganku, memutar rambutnya dengan jari-jariku, dan menarik bibirnya lebih dalam lagi. Ia terdiam sejenak ketika tangannya melingkari tubuhku.

"Kenapa?"

"Kau bisa berpaling darinya dengan begitu mudah…"

Ia mengernyit. "Dan kau pikir aku akan berpaling darimu Ana? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Apa yang membuatmu memikirkan itu?"

"Tidak ada. Cium aku. Bawa aku pulang," aku memohon, dan ketika bibirnya menyentuh bibirku, aku tersesat.

***

"Oh please," bisikku memohon ketika ia meniup lembut organ seksku.

"Semua ada waktunya," gumamnya.

Aku menarik pengekangku dan mengerang keras, protes terhadap serangannya. Aku terikat dengan sebuah pengekang kulit yang lembut, setiap siku terikat pada lutut, dan kepala Christian turun naik diantara kedua kakiku, lidah ahlinya menggodaku tanpa henti. Aku membuka mataku dan menatap kosong pada langit-langit kamar kami yang bermandikan cahaya lembut sore hari. Lidahnya berputar-putar, membentuk pusaran dan melingar di sekitar intiku. Aku ingin meluruskan kakiku dan berusaha untuk mengontrol kenikmatan itu. Tapi aku tak bisa. Jemariku menggenggam rambutnya dan aku menariknya dengan keras untuk melawan penyiksaannya.

"Jangan klimaks," gumamnya memperingatkanku, ia bernafas lembut di atas daging hangatku yang basah ketika ia menahan jariku. "Aku akan memukulmu jika kau klimaks."

Aku mengerang.

"Kontrol Ana. Semua ini tentang kontrol." Lidahnya memperbaharui serangan erotisnya.

Oh, dia tahu apa yang ia lakukan. Aku tak berdaya untuk menolak atau menghentikan reaksiku, dan aku mencoba—benar-benar mencoba—tapi tubuhku meledak tanpa ampun di bawah sentuhannya, dan lidahnya tidak juga berhenti seakan-akan meremas setiap tetes kenikmatan yang melemahkanku.

"Oh Ana," tegurnya. "Kau klimaks." Suaranya lembut dengan rasa kemenangannya. Ia membalikan tubuhku ke depan, dan aku merasa gemetar menahan tubuhku sendiri dengan lenganku.

Ia memukulku dengan keras.

"Ah!" aku berteriak.

"Kontrol," ia mengingatkan, ia meraih pinggulku dan mendorong dirinya ke dalam diriku. Aku berteriak lagi, intiku masih bergetar dari serangan orgasmeku. Ia terdiam di dalam diriku, kemudian sedikit membungkuk, dan membuka kedua ikatanku. Ia melingkarkan lengannya di sekitar tubuhku dan menarikku ke pangkuannya, dadanya menempel dengan punggungku, dan salah satu tangannya melingkari dagu dan tenggorokanku. Aku mulai merasa senang karena perasaan penuh itu.

"Bergerak," perintahnya.

Aku mengerang dan naik turun dipangkuannya.

"Lebih cepat," bisiknya.

Dan aku bergerak lebih cepat dan lebih cepat lagi. Ia mengerang dan tangannya menekan punggungku ketika ia menggigit leherku. Tangannya yang lain menelusuri tubuhku dengan santai, dari pinggulku, turun ke organ seksku, turun ke klitorisku…yang masih sensitif karena sentuhan tangannya. aku mengerang ketika jari-jarinya mendekat di sekitarnya, menggodaku sekali lagi.

"Ya Ana." Ia berbisik lembut di telingaku. "Kau milikku. Hanya kau."

"Ya," Nafasku tersenggal-senggal ketika tubuhku kembali tegang, menutupi dirinya, mendekapnya dengan cara yang paling intim.

"Klimakslah untukku." pintanya.

Dan aku membiarkan tubuhku patuh atas perintahnya. Ia masih memegangku ketika klimaks itu datang dan aku meneriakkan namanya.

"Oh Ana, aku mencintaimu," ia mengerang diikuti dengan dorongan kedalam diriku, menemukan klimaksnya sendiri.

Ia mencium leherku dan merapukan rambutku dari wajahku. "Apa itu termasuk dalam daftarmu, Mrs. Grey?" gumamnya. Aku berbaring, hampir tidak sadar. Christian meremas lembut pantatku. Ia bersandar di sampingku pada satu siku.

"Hmm."

"Apakah itu berarti ya?"

"Hmm." Aku tersenyum.

Ia menyeringai dan menciumku lagi, dengan enggan aku memutar tubuhku untuk berhadapan dengannya.

"Well?" tanyanya.

"Ya. Itu termasuk dalam daftar. Tapi itu adalah daftar yang panjang."

Wajahnya sampir terbagi dua, dan ia mencondongkan tubuhnya untuk kembali menciumku dengan lembut. "Bagus. Bagaimana kalau sekarang kita makan malam?" matanya bersinar penuh humor dan cinta.

Aku mengangguk. Aku lapar. Kuulurkan tanganku untuk menarik bulu-bulu kecil di dadanya. "Aku ingin kau mengatakan sesuatu padaku," bisikku.

"Apa?"

"Jangan marah,"

"Ada apa Ana?"

"Kau peduli." Matanya melebar, semua jejak humornya menghilang. "Aku ingin kau mengakui bahwa kau memang peduli. Karena Christian yang kukenal dan kucintai akan peduli,"

Ia terdiam, matanya menatap lurus mataku, dan aku adalah saksi atas perseteruan di dalam dirinya jika ia akan mengatakan sebuah penilaian yang bijaksana. Ia membuka mulutnya seakan-akan hendak mengatakan sesuatu, namun segera menutupnya kembali, beberapa emosi tampak melintasi wajahnya… dan mungkin, sebuah kepedihan.

Katakanlah, aku mendorongnya.

"Ya. Ya, aku peduli. Puas?" suaranya nyaris berbisik.

Oh terima kasih untuk itu. itu membuatku lega. "Ya, sangat."

Ia mengernyit. "Aku tak percaya kita membicarakan hal ini sekarang, diatas tempat tidur kita, tentang—"

Aku meletakan jariku di bibirnya. "Kita tidak membicarakannya. Ayo makan, aku lapar."

Ia mendesah da menggelengkan kepalanya. " kau memperdaya dan membingungkanku Mrs.Grey,"

"Bagus." Aku membungkuk dan menciumnya.

***

Dari: Anastasia Grey

Perihal: daftar itu.

Tanggal: 9 september 2011. 09:33

Kepada: Christian Grey

Itu pasti di bagian teratas.
:D
A x

Anastasia Grey
Commissioning Editor, SIP


Dari: Christian Grey

Perihal: katakan padaku sesuatu yang baru.

Tanggal: 9 september 2011. 09:42

Kepada: Anastasia Grey

Kau sudah mengatakan hal itu selama tiga hari belakangan ini.
Pikirkan hal lain. Atau… kita akan mencoba sesuatu yang lain.
;)

Christian Grey
CEO, menikmati permainan ini, Grey Enterprises Holdings Inc.


Aku menyeringai menatap layarku. Beberapa malam terakhir ini memang… sangat menghibur. Kami sudah kembali santai. Gangguan singkat Leila sudah terlupakan. Namun aku masih tidak memiliki keberanian untuk menanyakan apakah salah satu lukisan yang tergantung itu adalah buatannya, tapi aku tidak terlalu peduli. Tiba-tiba Blackberry-ku berdering, dan aku menjawabnya, mengharapkan bahwa itu adalah Christian.

"Ana?"

"Ya?"

"Ana, sayang. Ini Jose Senior."

"Mr.Rodriguez, hai!" kulit kepalaku terasa seperti tertusuk. Apa yang diinginkan ayah Jose denganku?

"Sayang, aku minta maaf karena meneleponmu pada jam kerja. Tapi ini Ray," suaranya terputus-putus.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" jantungku terasa melompat ke tenggorokan.

"Ray mengalami kecelakaan."

Oh tidak. Ayah. Aku tercekat.

"Dia di rumah sakit. Sebaiknya kau segera kesana."

***

Penerjemah: +Cherry Ashlyn
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

20 comments

Waaww,,,Abang Christian marah...
Mksh Cherry n Mas Yudi

♡̷̴̬̩̃̊ тзήº♥ºĸўυ ♡̷̴̬̩̃̊
⇨ kakak #Cherry {http://bit.ly/V2uL60}
⇨ mas #Yudi {http://bit.ly/U928jW}

*teuteup nunggu kelanjutannya*

Yaaah~ depannya udah senyum2 seneng
Eh belakangnya ray kecelakaan aduuh~
Makasih mas yudi, mb cherry :D

Oh darling... mr grey awesome....

Ana dpt cobaan.. Yg sabar ya ana..

Thx u PN,mb cherry n ms yudi..

aaa...senangnya udah muncul 16b...
lanjut donk..hhi ^_^
makasih Portal Novel...

Emosi Mr.Grey yg ga stabil...tp still sexy :)

Wadech... Aku sukaaaaaa...
Makasih mbak cherry n mas Yudi ...
Ttp semangat 45 :)

Akhirnya 16b muncul juga! Makasih banyak portal novel! :D
Semoga nanti film nya bisa cepet dibikin udah gasabar, henry cavill as christian grey puhleaseee hihihihi

fifty shades selalu jd my favorit xxD
ga sabar nunggu klanjutannyah xxD

Mkasii utk semua angel tl dan PN =D
Semangkaaaaa~~~~^^<

waw.. jantungku pun ikut melompat ke tenggorokan..
oh tidakkk.. apa yang telah terjadi dengan ray.. *lebay

mamas dan mbak cherry makasih ya.. selalu dinantikan kelanjutannya ^_~

Makasihhhhh ya... Buat admin and translator nya

Wah bentar lg menurut bocoran ana hamil..
Horaai..
Eh tp turut prihatin dulu buat ray ya anna, don't be sad kan ad mas chris yg serba bisa

Ntar lagi klimaks omigod >,< thanks yaa mas Yudi & mbak Cherry :3

"Kontrol ana, semua ini tentang kontrol".... oh my god christian...!!! Kesian ana...!!! Bab brkutnya secepatnya ya mba' gak sabar neh... makasih....!!!

"Kontrol ana, semua ini tentang kontrol".... oh my god christian...!!! Kesian ana...!!! Bab brkutnya secepatnya ya mba' gak sabar neh... makasih....!!!

selalu nunggu Mr grey & mrs grey :D
wahhh penasaran,,,

@Lutfi : haha iyaa .. ditunggu sajah . gak lama lagi .
selesai ulang tahun Ana , baru ntar bagian Ana yg hamil .

akhirnya baikan jga !!mr grey si gila kontrol .. hmmm !!!
mdah2n ray gppa tnang yah anna !!

Aduhhh kok jd pembaca yg deg2an yak,,,,
Mbk cherry luph u,,,

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top