22

fsf-thumb
"Apa kau ingin aku menyuruhnya pergi?" Tanya Hannah menanggapi ekspresiku.

"Um, tidak. Di mana dia?"

"Di ruang resepsionis. Dia tidak sendiri. Dia ditemani oleh seorang wanita muda,"

Oh!

"Dan Miss Prescott ingin bicara denganmu," tambahnya.

Ya aku yakin itu. "Bawa dia masuk."

Hannah sedikit bergeser, dan Prescott masuk ke dalam kantorku. Dia dalam tugasnya, tampak sedikit tegang dengan gaya professionalnya.

"Tinggalkan kami sebentar, Hannah. Prescott silahkan duduk."

Hannah menutup pintu, meninggalkangku dengan Prescott.

"Mrs. Grey, nama Leila Williams termasuk kedalam daftar tamu yang dilarang."

"Apa?" aku punya daftar terlarang?

"Dalam daftar pengawasan kami, ma'am. Taylor dan Welch telah mengatakan pada kami dengan tegas untuk tidak membiarkannya masuk dan menemui anda."

Aku mengernyit, tidak mengerti. "Apa dia berbahaya?"

"Saya tidak bisa mengatakannya seperti itu, ma'am."

"Jadi kenapa aku harus tahu jika dia ada di sini?"

Prescott menelan ludahnya dan untuk sesaat ia tampak canggung. "Aku sedang beristirahat di toilet ketika ia masuk, bicara langsung kepada Claire dan Claire menghubungi Hannah."

"Oh, aku mengerti." aku sadar bahwa Prescott juga harus buang air kecil, dan aku tertawa. "Oh dear."

"Ya, ma'am." Prescott tersenyum dengan malu, dan untuk pertama kalinya aku melihat celah dari pertahanannya. Dia memiliki senyuman yang manis.

"Saya harus berbicara dengan Claire lagi mengenai protokol itu," katanya, suaranya terdengar lelah.

"Tentu. Apakah Taylor tahu dia disini?" tanpa sadar aku berdoa, berharap ia belum mengatakannya pada Christian.

"Saya meninggalkan pesan singkat untuknya."

Oh. "Jadi aku hanya memiliki waktu sebentar. Aku ingin tahu apa yang Leila inginkan."

Prescott menatapku sejenak. "Saya sangat menyarankan untuk tidak melakukannya, ma'am."

"Dia datang kesini karena sebuah alasan."

"Saya tidak bisa membiarkannya, ma'am." Suaranya lembut namun membantah.

"Aku benar-benar ingin mendengarkan apa yang akan dia katakan." Suaraku terdengar lebih kuat dari pada yang aku harapkan.

Prescott menahan nafasnya, "Saya akan menggeledah mereka berdua sebelum anda menemuinya."

"Oke. Bisakah kau melakukan itu?"

"Saya disini untuk melindungi anda Mrs. Grey. Tentu saja ya, saya bisa. Saya juga akan menemani anda ketika menemui mereka."

"Oke." Aku akan membiarkannya. Lagi pula, terakhir kali aku bertemu Leila, ia membawa senjata. "Pergilah."

Prescott beranjak dari kursinya.

"Hannah," panggilku. Hannah membuka pintunya dengan sangat cepat. Dia pasti berdiri di depan pintu sejak tadi.

"Bisakah kau melihat apakah ruangan rapat itu kosong atau tidak?"

"Aku sudah melihatnya, dan ruangan itu kosong."

"Prescott, bisakah kau membawa mereka kesana? Apakah itu cukup?"

"Ya, ma'am."

"Aku akan kesana lima menit lagi. Hannah, bawa Leila Williams dan siapa pun yang bersamanya ke ruang rapat."

"Baik." Hannah menatapku dan Prescott dengan gelisah. "Apakah kau harus membatalkan pertemuanmu yang selanjutnya? Pukul empat, tetapi di luar kota."

"Ya." Bisikku. Hannah mengangguk kemudian berlalu pergi.

Apa yang sebenarnya Leila inginkan? Kurasa dia datang ke sini tidak untuk membahayakanku. Dulu ia pernah melakukannya ketika ia memiliki kesempatan. Dan Christian hampir gila karenanya. Dewi batinku melengkungkan bibirnya, dengan kaku menyilangkan kakinya dan mengangguk. Aku harus mengatakan padanya tentang ini. Dengan cepat ku ketik sebuah email, kemudian berhenti sejenak untuk memeriksa waktu. Aku sejenak merasakan keraguan yang tiba-tiba datang. Semuanya tampak sudah berjalan dengan sangat baik setelah kejadian di Aspen. kemudian aku menekan tombol kirim.


Dari: Anatasia Grey

Perihal: Pengunjung

Tanggal: 6 September 2011 15:27

Kepada: Christian Grey

Christian
Leila ada di sini untuk menemuiku. Aku akan bicara dengannya bersama Prescott.
Aku akan menggunakan keterampilan menamparku yang baru dengan tanganku yang sekarang sudah benar-benar sembuh, jika di perlukan.
Cobalah, dan maksudku, cobalah untuk tidak khawatir.
Aku wanita dewasa.
Aku akan meneleponmu setelah kami bertemu.
A x

Anastasia Grey
Commissoning Editor, SIP


Dengan cepat kusembunyikan BlackBerry-ku di dalam laci kemudian berdiri, sedikit merapihkan rok pensil abu-abuku, mencubit pelan kedua pipiku untuk memberikan sedikit warna, dan membuka kancing atas kemeja sutra abu-abuku. Oke, aku siap. Setelah menarik nafas dalam-dalam aku berjalan keluar kantorku untuk menemui Leila, mengabaikan nada sambung "Your Love is King" dari dalam mejaku.

Leila terlihat jauh lebih baik. Lebih dari sekedar baik—dia tampak sangat menarik. Ada rona kemerahan di kedua pipinya, mata coklatnya berbinar cerah, rambutnya bersih dan mengkilap. Ia mengenakan blus pink pucat dengan celana putih. Ia langsung berdiri ketika aku memasuki ruang rapat, begitu pula dengan temannya—yang juga memiliki rambut gelap dengan mata berwarna coklat lembut, seperti warna brandy. Prescott berdiri di sudut, matanya fokus menatap Leila.

"Mrs. Grey, terima kasih banyak karena mau menemuiku," suara Leila terdengar lembut namun begitu jernih.

"Um…maaf tentang keamanannya." Gumamku, tak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Aku melambaikan tangan tak acuh terhadap Prescott.

"Ini adalah temanku, Susi."

"Hai." Aku mengangguk pada Susi. Ia terlihat seperti Leila, terlihat sepertiku. Oh tidak, seorang sub yang lainnya.

"Ya," ujar Leila seakan bisa membaca pikiranku. "Susi juga mengenal Mr. Grey."

Apa yang harus kukatakan untuk menanggapinya? Aku tersenyum sopan.

"Silakan duduk," kataku. Kemudian ada sebuah ketukan di pintu. Itu Hannah. Aku mengisyaratkannya untuk masuk, dengan jelas mengetahui alasannya berada di sini.

"Maaf mengganggu, Ana. Mr. Grey ingin berbicara denganmu,"

"Katakan padanya aku sedang sibuk."

"Dia benar-benar ingin berbicara denganmu," katanya penuh ketakutan.

"Ya, aku tahu. Bisakah kau menyampaikan maafku padanya, dan katakan aku akan meneleponnya sebentar lagi?"

Hannah tampak ragu.

"Hannah, Please." Ia mengangguk dan dengan perlahan keluar dari ruangan itu. Aku kembali membalikkan tubuhku dan menatap dua wanita yang duduk di hadapanku. Mereka berdua menatapku dengan kagum. Dan ini membuatku merasa tidak nyaman.

"Apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanyaku.

Susi mulai bicara. "Aku tahu ini terdengar aneh, tapi aku juga ingin menemuimu. Menemui wanita yang merebut Chris—"

Aku mengangkat tanganku, menghentikannya di tengah perkataannya. Aku tak ingin mendengar ini. "Um… aku mengerti." gumamku.

"Kami menyebut diri kami dengan the sub club." Ia tersenyum padaku, matanya berbinar dengan kegembiraan.

Ya Tuhan.

Leila tercekat, ia melongo menatap Susi, tampak geli dan terkejut. Susi mengernyit. Aku menduga Leila menendangnya di bawah meja. Apa yang harus kukatakan? Aku melirik gugup pada Prescott yang tetap berdiri tanpa ekspresi, matanya tidak pernah meninggalkan Leila.

Susi tampak menyadari posisinya. Ia tersipu ketika mengangguk dan berdiri. "Aku akan menunggu di ruang resepsionis. Ini adalah acaranya Lulu." Aku tahu dia merasa malu.

Lulu?

"Kau akan baik baik saja?" tanyanya pada Leila yang tersenyum padanya. Susi tersenyum lebar dengan tulus kemudian keluar dari ruangan itu.

Susi and Christian…ini bukanlah hal yang ingin kupikirkan. Prescott mengambil ponsel dari sakunya dan menjawabnya. Aku bahkan tidak mendengarnya berdering.

"Mr. Grey," katanya. Aku dan Leila langsung berbalik kearahnya. Prescott menutup matanya seakan-akan tengah terluka. "Ya sir," katanya lagi, kemudian melangkah maju dan memberikanku ponselnya.

Aku memutar mataku. "Christian." Gumamku, berusaha untuk menahan kekesalanku. Aku berdiri dan melangkah dengan cepat keluar ruangan.

"Apa yang sedang kau lakukan?" teriaknya. Dia marah besar.

"Jangan berteriak padaku."

"Apa maksudmu, Jangan berteriak padamu?" teriaknya lagi, kali ini terdengar lebih keras. "Aku sudah memberikan instruksi yang spesifik yang sepenuhnya kau abaikan—lagi. Sialan Ana, aku marah besar!"

"Ketika kau lebih tenang, kita akan membicarakan masalah ini."

"Jangan tutup teleponku." Ia mendesis.

"Sampai jumpa Christian." Ujarku sebelum menutup teleponnya dan mematikan ponsel Prescott.

Sial. Aku tak punya banyak waktu lagi bersama Leila. Setelah menarik nafas dalam-dalam aku kembali memasuki ruang rapat. Leila dan Prescott menatapku penuh harap, dan aku langsung mengembalikan ponsel Prescott.

"Sampai di mana tadi?" tanyaku ketika duduk di hadapannya. Matanya sedikit melebar.

Ya. Tampaknya aku bisa menangani Christian, aku ingin mengatakan hal itu pada Leila. Tapi kurasa ia tak ingin mendengar hal itu.

Leila memainkan ujung rambutnya dengan gugup. "Pertama-tama, aku ingin meminta maaf." Katanya lembut.

Oh…

Ia mendongkak dan melihat keterkejutanku. "Ya," katanya dengan cepat. "Dan untuk berterima kasih karena kau tidak mengajukan tuntutan. kau tahu—untuk mobil dan apartemenmu."

"Aku tahu kau sedang tidak… um, baik," bisikku sedikit terguncang. Aku tak pernah mengharapkan permintaan maaf.

"Ya, aku sedang tidak baik."

"Apa kau merasa lebih baik sekarang?" tanyaku dengan lembut.

"Ya, jauh lebih baik. Terima kasih."

"Apakah dokter di sana tahu kau pergi kesini?"

Ia menggelengkan kepalanya.

Oh.

Ia terlihat merasa bersalah. "Aku tahu, aku akan berurusan dengan imbasnya setelah ini. Tapi aku harus melakukan beberapa hal. Dan aku ingin bertemu Susi, dan kau, dan…Mr. Grey."

"Kau ingin menemui Christian?" aku bisa merasakan perutku jatuh begitu saja ke lantai. Itulah mengapa ia di sini.

"Ya. Dan aku ingin meminta persetujuanmu,"

Sialan. Aku menganga kearahnya, dan aku ingin mengatakan padanya bahwa itu sama sekali tidak baik. Aku tak ingin ia berada dekat dengan suamiku. Mengapa ia berada di sini? Apakah untuk menilai lawannya? Atau untuk mengacaukan ketenanganku? Atau mungkin ia membutuhkan ini sebagai semacam penutupan?

"Leila." Ujarku jengkel. "Ini tidak memerlukan persetujuanku, tapi terserah pada Christian. Kau perlu bertanya padanya. Ia tidak membutuhkan izinku. Ia adalah pria dewasa…sepenuhnya." Ia menatapku sesaat, tampak terkejut dengan reaksiku, kemudian tertawa pelan, dengan gugup ia kembali memutar-mutar ujung rambutnya.

"Dia sudah berulang kali menolak permintaanku untuk bertemu dengannya." Katanya pelan.

Oh sial. Sepertinya masalahku lebih besar dari pada yang kukira.

"Mengapa sangat penting bagimu untuk menemuinya?" tanyaku dengan lembut.

"Untuk berterima kasih padanya. Aku pasti akan membusuk di penjara kejiwaan yang menjijikan itu jika bukan karena bantuannya." Ia menunduk, menatap jemarinya di ujung meja. "Aku menderita gangguan kejiwaan yang serius, dan tanpa Mr.Grey dan John—Dr. Flynn…" ia mengangkat bahunya, kemudian menatapku sekali lagi penuh dengan rasa syukur.

Sekali lagi aku merasa kehilangan kata-kata. Apa yang ia harapkan untuk kukatakan padanya? Seharusnya ia mengatakan semua ini kepada Christian, bukan padaku.

"Dan untuk sekolah seni itu. Aku tidak bisa berhenti berterima kasih padanya untuk itu."

Aku tahu itu! Christian membiayai sekolahnya. Aku masih menatapnya tanpa ekspresi, ragu untuk menunjukan ekspresiku, terlebih ketika ia menkonfirmasi kecurigaanku terhadap kebaikan hati Christian. Dan yang mengejutkan adalah, aku tidak merasa sakit hati pada Leila. Ini adalah pencerahan, dan aku senang ia merasa lebih baik sekarang. Jadi aku berharap, ia bisa melanjutkan hidupnya dan keluar dari kehidupan kami.

"Apa kau meninggalkan kelasmu saat ini?" tanyaku mulai tertarik.

"Hanya dua. Aku akan pulang besok."

Oh bagus. "Apa rencanamu selama kau di sini?"

"Mengambil barang-barangku dari tempat Susi, kembali ke Hamden. Melanjutkan melukis dan belajar. Mr. Grey sudah memiliki beberapa lukisanku."

Apa! Perutku sekali lagi terasa jatuh ke basement. Apakah lukisan itu tergantung di ruang tamuku? Aku menahan pemikiran itu.

"Lukisan seperti apa yang kau buat?"

"Kebanyakan abstrak."

"Oh, Ya aku tahu." Pikiranku melayang kepada sebuah lukisan yang familiar di ruang besar. Dua lukisan karya mantan submisifnya…mungkin. Astaga.

"Mrs. Grey bisakah aku mengatakan kepadamu secara blak-blakan?" tanyanya, tampak benar-benar khawatir terhadap emosiku.

"Tentu saja," gumamku, melirik pada Prescott yang tampak terlihat sedikit santai. Leila mencondongkan tubuhnya kedepan, seakan-akan ingin memberitahukan sebuah rahasia yang panjang.

"Aku mencintai Geoff, kekasihku yang tewas di awal tahun ini." Suaranya tampak seperti bisikan yang menyedihkan.

Ya ampun. Ia mulai menceritakan masalah pribadinya.

"Aku turut menyesal," gumamku langsung, namun ia terus bicara seakan-akan tidak mendengarkanku.

"Aku mencintai suamiku… dan satu orang lagi," bisiknya.

"Suamiku." Kata-kata itu keluar begitu saja sebelum aku bisa menghentikannya.

"Ya." Jawabnya.

Ini bukanlah hal baru untukku. ketika ia mengangkat mata coklatnya, aku bisa melihatnya penuh dengan perseteruan emosi, dan yang paling jelas terlihat adalah sebuah ketakutan… terhadap reaksiku, mungkin? Tapi tanggapanku terhadap wanita muda yang lemah ini adalah sebuah rasa iba. Secara mental aku mengingat-ingat kembali semua literatur klasik yang berhubungan dengan cinta tak terbalas. Menelan ludah dengan susah payah, aku berpegang kuat pada landasan moral yang tinggi.

"Aku tahu. Dia memang sangat mudah dicintai," bisikku.

Mata coklatnya melebar karena terkejut, kemudian ia tersenyum. "Ya, dia memang sangat mudah dicintai—dulu." Ia membetulkan kata-katanya sendiri dengan cepat dan tersipu malu. Kemudian ia terkikik begitu manis, hingga aku tak bisa menahan diriku sendiri. Aku tertawa juga. Ya, Christian Grey membuat kami terkekeh. Dewi batinku memutar matanya dengan putus asa kemudian kembali membaca buku Jane Eyre. Aku melirik jam tanganku. Dalam hati aku sadar ia akan segera datang.

"Kau akan mendapatkan kesempatan untuk menemui Christian."

"Kurasa juga begitu. Aku tahu bagaimana protektifnya dia," ia tersenyum.

Jadi ini adalah rencananya. Ia benar-benar cerdas. Atau manipulatif, bisik dewi batinku. "Itukah alasanmu menemuiku?"

"Ya."

"Aku mengerti." dan Christian dengan mudah masuk kedalam permainannya. Dengan enggan aku harus mengakui bahwa ia mengetahui suamiku dengan baik.

"Ia  tampak sangat bahagia. Denganmu." Katanya.

Apa? "Bagaimana kau tahu?"

"Dari semenjak aku berada di apartemen." Tambahnya hati-hati.

Oh sial… bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal itu?

"Apakah kau sering ke sana?"

"Tidak. tapi ia tampak sangat berbeda ketika bersamamu."

Apakah aku ingin mendengarkan semua ini? Tubuhku mulai gemetar. Kulit kepalaku terasa berdenyut-denyut ketika aku mengingat kembali ketakutan saat melihat bayangannya di apartemen kami.

"Kau tahu itu melanggar hukum. Masuk tanpa izin."

Ia mengangguk, menunduk menatap meja. Ia menjalankan kukunya di sepanjang tepi meja. "Itu hanya beberapa kali, dan aku sangat beruntung karena tidak tertangkap. Sekali lagi aku harus berterima kasih kepada Mr.Grey. dia bisa saja memasukanku kedalam penjara."

"Kurasa dia tidak akan melakukan hal itu," kataku.

Tiba-tiba aku mendengar ada keributan di luar ruang rapat, dan secara naluriah aku tahu bahwa Christian sudah berada di dalam gedung. Sesaat kemudan ia membuka pintu, dan sebelum ia menutupnya, aku bisa melihat mata Taylor yang berdiri dengan sabar di luar ruangan. Mulut Taylor diatur dalam garis muram, dan ia tidak membalas senyumanku. Oh sialan, bahkan ia juga marah padaku.

Tatapan membakar Christian langsung tertuju padaku, kemudian ke arah Laila. Sikapnya begitu kaku dan tenang, tapi aku sudah sangat mengenalnya, dan kurasa Leila juga menyadarinya. Kilatan kemarahan di matanya mengungkapkan sebuah kebenaran—bahwa ia benar-benar marah, meskipun ia menyembunyikannya dengan sangat baik. Dalam setelan abu-abunya, dengan dasi yang ikatannya mengendur dan kancing atasnya terbuka, ia tampak resmi dan kasual… dan panas. Rambutnya berantakan—tidak diragukan lagi, ia pasti menyapukan tangannya ketika ia merasa kesal.

Leila menunduk, menatap gugup sisi meja, kembali menelusuri pinggiran meja itu dengan jemarinya ketika Christian menatapku, kemudian kearahnya, lalu kea rah Prescott.

"Kau," katanya pada Prescott dengan nada tenang. "Kau dipecat. Keluar sekarang."

Aku tercekat. Oh tidak—ini tidak adil.

"Christian—" aku langsung berdiri.

Ia mengangkat jari telunjuknya kearahku. "Tidak." katanya. Suaranya begitu dingin dan menakutkan, hingga aku langsung kembali diam dan merosot ke tempat dudukku. Prescot menundukkan kepalanya kemudian berjalan dengan cepat keluar ruangan untuk bergabung dengan Taylor. Christian menutup pintu di belakangnya kemudian berjalan ketepi meja. Sial! Sial! Sial! Ini adalah kesalahanku. Christian berdiri di seberang Leila, meletakkan kedua tangannya di atas permukaan kayu meja itu, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini?" geramnya pada Leila.

"Christian!" aku terkesiap. Tapi ia mengabaikanku.

"Well?" tuntutnya.

Leila mengintip dari balik bulu matanya, matanya melebar, wajahnya pucat, rona kemerahan di kedua pipinya itu mendadak hilang.

"Aku ingin menemuimu, dan kau tak pernah mengizinkanku," bisiknya.

"Kau kesini untuk mengganggu istriku?" suaranya terdengar begitu tenang, bahkan terlalu tenang.

Leila kembali menunduk menatap meja.

Christian menegakan tubuhnya, menatap tajam kearah Leila. "Leila, kalau kau mendekati istriku lagi, aku akan menghentikan semua bantuan itu. dokter, sekolah seni, asuransi kesehatan—semuanya—hilang. Kau mengerti?"

"Christian—" aku kembali mencoba, tapi ia hanya membalasku dengan tatapan dinginnya. Mengapa ia menjadi benar-benar tidak masuk akal? Rasa ibaku pada wanita ini mulai muncul.

"Ya," katanya pelan.

"Apa yang Susannah lakukan di ruang resepsionis?"

"Dia datang bersamaku."

Ia menyisir rambutnya dengan jemarinya, menatap tajam kearah Leila.

"Christian, please," bujukku. "Leila hanya ingin mengucapkan terima kasih. Itu saja." ia kembali tidak memperdulikanku, kemarahannya terfokus pada Leila.

"Apa kau tinggal bersama Susannah ketika dulu kau sakit?"

"Ya."

"Apa dia tahu apa yang sudah kau lakukan ketika tinggal bersamanya?"

"Tidak. dia sedang pergi berlibur ketika itu,"

Ia mengusapkan jari telunjuknya pada bibir bawahnya. "Mengapa kau ingin menemuiku? Kau tahu, kau bisa mengirimkan permintaan melalui Flynn. Apa kau membutuhkan sesuatu?" suaranya melembut. Leila menjalankan jemarinya ke sepanjang tepi meja lagi.

Berhenti menghakiminya Christian!

"Aku harus tahu." Dan untuk pertama kalinya ia menatap langsung wajah Christian.

"Tahu apa?" tukasnya.

"Bahwa kau baik-baik saja."

Ia ternganga menatap Leila. "Bahwa aku baik-baik saja?" cemoohnya tidak percaya.

"Ya."

"Aku baik-baik saja. Nah pertanyaanmu sudah terjawab. Sekarang Taylor akan mengantarkanmu ke Sea-Tac jadi kau bisa kembali ke East Coast. Dan jika kau kembali melangkahkan kakimu ke bagian barat Mississipi, semuanya akan hilang. Kau mengerti?"

Astaga… Christian! Aku ternganga menatapnya. Apa sebenarnya yang tengah merasukinya? Ia tidak bisa membatasi Leila untuk tidak pergi ke sisi lain negaranya sendiri.

"Ya. Aku mengerti," katanya pelan.

"Bagus," suara Christian terdengar lebih lunak.

"Christian, mungkin Leila tidak bisa pergi sekarang. Dia memiliki beberapa rencana." Aku mengutarakan keberatanku, mulai merasa jengkel atas nama Leila.

Christian melotot padaku. "Anastasia," tegurnya, suaranya begitu dingin. "Itu bukan urusanmu."

Aku merengut terhadapnya. Tentu saja ini juga urusanku. Dia ada di kantorku. Pasti ada hal lain selain ini yang aku tak tahu. Christian benar-benar tidak rasional.

Fifty shades, dewi batinku mendesis padaku.

"Leila datang untuk menemuiku, bukan kau." Gumamku kesal. Leila menoleh padaku, matanya melebar tidak percaya.

"Aku memiliki peraturan Mrs. Grey. Dan aku sudah melanggarnya." Ia melirik gugup pada suamiku, kemudian kembali menatapku.

"Ini adalah Christian Grey yang kukenal," katanya, suaranya begitu sedih dan lirih. Christian mengernyit kearahnya, sementara itu seluruh udara terasa menguap begitu saja dari paru-paruku. Aku tidak bisa bernafas. Apakah Christian selalu seperti ini ketika bersamanya? Apakah pada awalnya ia pun seperti ini kepadaku? Aku tidak bisa mengingatnya. Leila tersenyum sedih padaku, kemudian beranjak dari duduknya.

"Aku akan tinggal sampai besok. Penerbanganku besok siang." Katanya dengan tenang pada Christian.

"Aku akan mengirim seseorang untuk mengantarmu ke airport besok jam 10."

"Terima kasih."

"Kau tinggal di tempat Susannah?"

"Ya."

"Oke."

Aku menatap Christian. Ia tidak bisa memutuskan apa yang harus di lakukan Leila… dan bagaimana dia tahu tempat tinggal Susannah?

"Selamat tinggal, Mrs. Grey. Terima kasih karena sudah mau menemuiku."

Aku berdiri dan mengulurkan tanganku. Ia tersenyum penuh terima kasih dan menjabat tanganku.

"Um….Selamat tinggal, dan semoga berhasil," gumamku, tidak terlalu yakin dengan apa yang harus kukatakan pada mantan submisif suamiku.

Ia mengangguk dan berbalik kearahnya. "Selamat tinggal, Christian."

Mata Christian tampak sedikit melembut. "Selamat tinggal, Leila." Bisiknya pelan. "Dr. Flynn, ingat."

"Ya, sir."

Christian membukakan pintu untuk mengantarkannya keluar, tapi Leila malah menghentikan langkahnya di hadapannya dan mendongkak menatapnya. Christian mengawasinya dengan waspada.

"Aku senang kau bahagia, kau pantas mendapatkannya." Katanya sebelum berlalu pergi tanpa memberikan kesempatan untuk Christian menanggapinya. Ia mengerutkan keningnya pada Leila, kemudian mengangguk pada Taylor, yang mengikuti Leila kearah ruang resepsionis. Ia menutup pintu, Christian menatap ragu kearahku.

***

Penerjemah: +Cherry Ashlyn
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

22 comments

my fifty's back...
anna sotoy bgt ak klo ktemu mantan hubby ngambek ini malah dkasi lampu ijo...

thx cherry n mas yudi

mksh mbak cherry n mas yudi

whoaa.. thx PN.. selalu q tunggu novel2nya. smangat mas n jeng mimin..b^^d

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

Wow mr grey ngamuk ™Ќîiîk.·:::D Ќîiîk :D::·. Ќîiîk™ ..
♥☆‎​••♣°˚ThǎΩk♡¥oU˚°♣••☆♥ mas yudi and mba cherry

ooohhh My,,, Abang Christian,, *melting*
galak2 tapi ngangeniiinnn....
mksh Cherry n Mas Yudi

Gila. Cristian grey.... diotak gw cm 1 kt ganteng

Astagaa~
Anna ini ada2 aja lah
Christian bisa kalem dikit napa
Haiiishh~
Geregetan
Makasih mb cherry, mas yudi :D

º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya smuanya
D tgu

Makasiih portal novel

aaaaaahhhhh penasaraaaaannnnnn lagiiiiiii....bsok lanjutin doooooonnng

yah..bang ian marah lg..

Wah...selalu sukaaaa...sama pasangan Grey :)

ngakak.. waktu baca kata2 ini :D

("Kau ingin menemui Christian?" aku bisa merasakan perutku jatuh begitu saja ke lantai)

(Apa! Perutku sekali lagi terasa jatuh ke basement. Apakah lukisan itu tergantung di ruang tamuku? Aku menahan pemikiran itu)

mrs. james sepertinya orang yang humoris banget.. hehe.
makasih mamas dan mbak cherry.. ditunggu bab2 selanjutnya.. ^_~

Ternyata…
Bener kan?! Pemikiran Anastasia jauh lebih dewasa ketimbang Christian…

Okay mbak #Cherry {http://bit.ly/V2uL60} … hasil TL-nya sangat bagus… nikmat ngebacanya… hehe…kutunggu kelanjutannya yaa … trims …

Dan mas #Yudi {http://bit.ly/U928jW} … trm kasih telah bantu ngisi wiken-ku dg FSF … hehehe …

My Christian Grey *.*

Cherry thanks TL'an nya..
Mas yudi mksih :)

bakala ada perang lagi nih,,seruuu,,,,,
besuk di lanjutin ya,,,#ngareppp :D

perang di mulai .. aduuh slalu saja emosi yang mledak2 mr grey .. !!tp aku suka di ga brpaling dari ana !!!mkasih udaj di posting mba

setiap baca khususnya FST pasti nemu komennya mas Dwi , ternyata mas Dwi ini fans sejatinya FST !!
hidup mas Dwi !!

Ditunggu kelanjutannya ya mas dan mbak hihii

Kerren....!!! Ana bikin christian frustasi lagi... hah... sayang cuma satu bab, selalu gak sabar nunggu bab berikutnya...

Wah seru nih!
Abis ini perang kasur apa perang red room!?!

Di tunggu TL berikutnya miss cheery

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top