11

fim-thumb
Krystal tidak ada di flat ketika aku pulang. Dia tidak mengatakannya di telepon sebelumnya, tapi aku menduga ia harus bekerja.

Itu hampir jam 5 sore jadi aku memutuskan untuk melakukan tugas regulerku di hari Minggu seperti biasanya yaitu menelpon orang tuaku. Ibu menjawab telponku pada dering pertama. Ayah menerimanya di ekstensi lain. Mereka bertanya bagaimana aku menghabiskan seminggu ini dan aku mengatakan aku mengisinya dengan kegiatan seperti biasanya, tanpa menceritakan pesiar kecil ke pantai dengan Max Dalton, tentu saja.

Dapur di rumah orangtuaku akan direnovasi, jadi aku harus mendengarkan sekitar sepuluh menit ketika Ibu menggambarkan persis apa yang harus kontraktor kerjakan, dan lengkingan ayahku setiap tiga puluh detik atau lebih yang mengeluh tentang biaya counter baru, lemari, dan segala sesuatu yang lainnya. Sebuah pertengkaran kecil pun terjadi dan ibu pun akhirnya berkata mereka harus berdiskusi tapi tidak disini ketika ditelepon denganku. Terima kasih Tuhan.

"Apa Grace ada?"

"Dia baru saja menidurkan bayinya. Sebentar aku panggilkan," kata Ibu.

Aku benar-benar harus bicara dengan kakak perempuanku. Aku sudah menundanya sepanjang akhir pekan. Aku tahu jika aku menelponnya Jumat malam, aku pasti sudah sangat marah, aku mungkin akan mengatakan sesuatu yang akan membuatku menyesal. Tapi sekarang, waktunya telah berlalu di mana aku mungkin bisa bercakap-cakap dengan lebih rasional dengan dia.

Ketika Ibu dan ayah memberikan telpon pada Grace, aku berkata, "Apakah kau memberitahu Chris di mana aku berada?"

"Apa? Tidak! Aku hanya bilang LA."

"Lalu ia menguntitku."

"Dia apa?"

Aku berkata, "Chris muncul di pintu apartemenku Jumat malam."

"Astaga." Rasa terkejut muncul dalam suaranya dan benar-benar takut kemudian berubah menjadi menyesal. "Aku sangat menyesal."

"Ya."

"Ini salahku. Oh ya tuhan. Aku sangat menyesal."

Dan selanjutnya selama dua menit atau lebih, ia terus meminta maaf belasan kali setelah aku menjelaskan apa yang terjadi. Aku tahu dia benar-benar menyesal, tapi aku mengatakan padanya untuk berhenti meminta maaf. Aku sampai ke bagian tentang bagaimana seseorang menyelamatkanku, tapi aku tidak mengatakan padanya siapa orang itu. Aku hanya mengatakan orang itu adalah tetangga.

"Aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku," kataku, berusaha untuk membawa percakapan ini lebih akrab lagi.

"Apa saja. Aku akan melakukan apa pun."

***
 
Senin pagi. Aku sampai ke mejaku tanpa melihat Kevin, terima kasih Tuhan. Hal terakhir yang kubutuhkan adalah bosku bertanya tentang akhir pekanku dan mendeteksi dari wajahku yang merona atau bahasa tubuhku bahwa aku telah merencanakan sesuatu. Tentu saja, ia tidak tahu aku telah berkencan dengan Max. Tapi konsekuensi dari kencanku dan tidur dengan seseorang yang mempunyai hubungan kerja denga kita bisa menjadi bencana bagiku dan masa depanku.

Aku akhirnya melihat Kevin sekitar jam 11 pagi. Dia berhenti di mejaku dan berkata aku harus mengemasi barang-barangku.

Hatiku mencelos. Apakah dia tahu? Apakah dia tahu aku telah melanggar kepercayaannya dengan berkencan dengan Max? Aku merasa tenggorokanku kering dan menjadi awal dari rasa yang sedikit menyengat yang kau dapatkan sebelum kau menangis, saat air mata menggenang.

"Kau tampak seperti akan pingsan," katanya. "Jangan khawatir. Aku sedang bercanda. Tapi kau perlu membereskan barang-barangmu dan ikut aku."

Aku berdiri. "Apa yang terjadi?"

"Lakukan saja."

Dia menaruh kotak di mejaku dan mulai memasukkan barang-barangku di dalamnya. Aku bergabung dengannya, dan tak lama kemudian kami selesai. Tak banyak yang ada di mejaku. Aku pastikan untuk membereskan laciku yang kugunakan untuk menyimpan banyak bungkus biji bunga matahari—kebiasaan ngemilku yang menyebabkan Kevin menjulukiku seperti burung.

Dia membawaku menyusuri lorong menuju ruang penyimpanan. Dia membuka pintu. Semua barang-barang yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan yang telah ia simpan sudah tak ada, dan sekarang di tempatnya ada sebuah meja, sebuah kursi kulit besar di baliknya, dan dua kursi tamu yang bagus di sisi lain dari meja.

"Kupikir kau berhak mendapatkan ruang kantor sendiri," katanya, berdiri di samping sehingga aku bisa berjalan masuk. Kantor untukku sendiri. Dengan jendela! Dan keluar dari jendela itu adalah pemandangan yang indah dari Los Angeles. Ada gumpalan di tenggorokanku ketika kesadaran menerpaku bahwa aku sudah bergerak naik di dunia bisnis pertunjukan. Hanya beberapa bulan yang lalu, aku tak pernah bermimpi melakukan hal-hal yang sudah kulakukan, dan sekarang, dengan kantor baru, aku merasa seperti sedang berada dijalanku sendiri.

"Wow. Terima kasih, Kevin." Aku meletakkan kotak kecil yang berisi barang-barangku di meja baruku.

"Kau layak mendapatkannya. Sekarang tetaplah disini dan kembali bekerja." Dia tersenyum dan berbalik menyusuri lorong.

***

Satu jam kemudian yang kulakukan adalah wawancara seorang aktris yang sedang mencari representasi. Nama aslinya adalah Madeline Ostrosvky, tapi seperti banyak orang lain dengan nama yang sulit untuk diucapkan, dia berencana untuk menggunakan nama belakang yang berbeda secara profesional.

"Redford," katanya.

"Redford," aku mengulang dengan datar.

"Kedengarannya elegan. Seperti namanya, kaya dan terdengar sukses."

Aku menanganinya seramah yang aku bisa. "Orang-orang akan berpikir Anda sedang mencoba untuk memanfaatkan nama Robert Redford."

"Siapa?"

Oh, Tuhan. Apakah dia benar-benar tidak kenal siapa Robert Redford itu? Maksudku, tentu, dia adalah dari generasi yang berbeda dan itu sangat mungkin bahwa dia tidak melihat adanya film itu, bahkan yang lebih baru. Tapi calon aktor atau aktris macam apa bahkan belum pernah mendengar nama "Robert Redford"?

Jadi aku mengatakan padanya siapa dia, betapa besar nama itu di Hollywood, dan mengulangi lagi ucapan peringatanku sebelumnya—orang akan melihatnya sebagai taktik murahan dengan menggunakan nama Robert Redford untuk membuatnya lebih dikenal.

"Kita harus mencari nama lain," simpulku, dan mulai mencari lebih banyak lagi melalui resume dan fotonya.

"Kita? Apakah itu berarti Anda mengambil saya sebagai klien?"

Aku berhenti. Ini bukan yang kita biasa lakukan di agensi milik Kevin.

Dia tidak menyukai jeda itu dan melihatnya sebagai berita buruk, dan berkata, "Saya benar-benar membutuhkan ini. Saya hanya punya ini." Dia mulai mengangkat blusnya. "Masih agak sakit—"

"Tidak, tidak," kataku cepat. "Kau tak perlu melakukan itu. Sungguh."

Itulah sore yang kualami. Oh well. Setidaknya aku mengalaminya di kantor baruku yang mewah.

***

"Aku harus pergi ke luar kota selama beberapa hari."

Max menelponku dan membuatku kecewa. Itu sebelum pukul lima sore dan aku sedang duduk di mejaku, melihat-lihat kantor baruku dan bertanya-tanya apa yang bisa kulakukan untuk menghias dindingnya.

Aku menjadi terbiasa untuk sering bertemu Max, atau setidaknya bicara dengannya setiap hari, aku tahu aku akan merindukannya dan itu hanya akan membuat hari kerjaku semakin berlarut-larut sampai aku bertemu dengannya lagi.

"Kapan?"

"Aku akan berangkat dalam beberapa jam. Harus mengantar beberapa orang ke lokasi untuk syuting dan mereka tidak sepakat jadi aku akan melakukannya sendiri."

"Oh, dasar pria pengambil tanggung jawab.”

"Apakah aku merasakan sedikit sarkasme dalam suaramu?"

Aku tertawa. "Tidak, kau punya selera rasa yang banyak." Aku suka ketika kami berolok-olok, dan memutuskan untuk bermain-main demi meringankan kekecewaanku.

"Dan kau," katanya, "lebih baik jaga mulutmu atau aku mungkin aku memukul pantatmu."

Alis didahiku terangkat. Syukurlah dia tidak bisa melihatnya. "Sudah saatnya kau membahas ini."

"Kau suka itu, ya?"

"Favoritku," kataku dengan suara berbisik, berusaha terdengar seksi. Faktanya adalah, aku tidak pernah dipukul pantatnya. Bahkan tak pernah benar-benar berpikir tentang hal itu. Tapi ada sesuatu tentang ide Max untuk melakukannya yang membuat isi perutku sedikit teraduk. Oke, banyak.

"Aku akan mengingatnya. Kau harus ikut denganku."

"Apa?"

"Pada perjalananku ke New York."

Aku belum pernah ke New York City sebelumnya. Aku sangat ingin pergi. Tapi aku tahu aku tidak bisa. "AKu harus bekerja."

"Keluarlah."

"Aku tidak bisa, Max. Terutama karena aku punya kantor sendiri sekarang."

Dia bersiul sinis. "Sekarang siapa yang big-shot (orang penting) di kota ini?"

"Masih kau," kataku. Aku bercerita tentang kantornya dan bagaimana Kevin telah mempersembahkannya untukku. "Jadi tidak mungkin aku bisa melepaskan seluruh sisa minggu ini. Itu akan terlihat sangat buruk."

"Baiklah. Kita akan pergi akhir pekan ini. Aku akan menjemputmu dan kita akan pergi. Aku menikmati akhir pekan kita dengan keluar kota. Indah, tenang—"

"Tidak begitu tenang di kamar tidur."

"Aku baru mau menjelaskan." Dia terkekeh. "Jadi kita pernah memiliki liburan yang tenang. Sekarang kita akan memiliki liburan yang tidak-begitu-tenang."

***

Max dan aku saling mengirim sms dan bicara di telepon selama beberapa hari kedepan. Dia bercerita tentang perjalanannya dan aku bercerita hari-hariku selama seminggu ini. Tapi kebanyakan kita bicara dan saling menggoda tentang akhir pekan kami yang akan datang di New York.

Grace menelpon Rabu pagi ketika aku sedang mengendarai mobil ke kantor. Ia telah melakukan apa yang aku minta untuk dia lakukan.

"Dia sudah bekerja dua hari terakhir ini," katanya.

Beberapa hari yang lalu ketika aku bilang aku punya sesuatu untuk dia lakukan, itulah apa yang kubicarakan. Yang kuinginkan dari Grace adalah mengetahui apakah Chris kembali ke rumah, membuatku merasa aman mengetahui ia tidak lagi di LA, dan itulah yang aku rasakan setelah mendengar berita itu.

"Terima kasih Tuhan," kataku.

"Kurasa maksudmu 'terima kasih Grace'."

"Eh, aku tak akan memaksanya jika aku jadi kau," kataku. "Kau ada diurutan pertama dan alasan utama ketika ini terjadi."

Nadanya bergeser menjadi meminta maaf lagi, tapi aku menyuruhnya untuk melupakannya.

"Terima kasih karena telah memeriksanya," kataku. "Kau masih belum mengatakan ke ibu dan ayah, kan?"

"Tidak mungkin."

"Baik."

"Jadi," katanya, mengubah topik pembicaraan, "Apa kau sudah bertemu seseorang?"

Aku ingin bercerita tentang Max. Aku benar-benar ingin. Aku hanya belum siap untuk mengungkapkan kepada dunia. Dan aku tidak ingin dia khawatir, seperti aku tahu dia pasti akan khawatir. Dia sama skeptisnya terhadap kehidupan baruku di LA sama juga seperti orang tuaku. Sementara orang tuaku sebagian besar tidak setuju denganku, Grace malah khawatir tentangku. Semua itu adalah alasan tambahan untuk tidak memberitahunya dulu.

***


Penerjemah: Miss Voldermort
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

11 comments

†ђąηk ўσυ miss voldemort n mas yudi

Thanks miss voldemort, mas yudi :D

Hatiku mencelos. Itu apa ya artinya ?
Btw thanks MV and mas Yudi

Betulll.....apa itu mencelos!? Ga sabar baca bab selanjutnya..

ternyata pada teliti ya, makasih mb Marry & diidam, kl mau tau coba translate dr indo ke inggris "hatiku mencelos" nanti tau apa artinya. emg kynya kosa kata lama yg dah jarang dipake tapi ttp msh valid

Mencelos...qiqiqiqiqiqi...kayak ples...gitu kali ya..kaget setengah mati..yah pokoknya gt lah ..gk nyangka banget...halaaah !!!...malah bingung nantinya..kira2 gt mbak2 yg nanya...

ikhh..c krystal pst d culik ma cwo i2..

Thanks Miss voldermort n mz yudi

oh i see, heheh tp br kali ini aku tahu lho mas @yudi

Thanks... FiTM nya..
Mas yudi fsf nya dong. Udah lama bgt ga diposting :(

Tengkyu..... Tengkyu
:)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top