7

fim-thumb
Aku berdiri dengan punggung menempel ke dinding, dan dia telah membuatku terjebak. Dia terpapar cahaya di punggungnya, dan yang bisa kulihat hanyalah siluet, berdiri sekitar dua meter di depanku. Aku tak bisa melarikan diri. Tubuhku bergetar dengan rasa takut. Adrenalin yang mengalir melalui pembuluh darahku. Aku bisa mencoba untuk berlari, tapi aku tahu dia akan menangkapku. Aku bisa melihat siluet bahu kanannya yang tertarik kebelakang. Kemudian terjadi hal yang lebih menakutkan dari yang pernah kulihat: dia telah mengepalkan tangannya dan terangkat keatas untuk memukul, di wajahku.

Aku terbangun dari mimpi dengan keringat dingin. Aku basah kuyup, begitu pula spreiku. Aku gemetar. Takut. Jantungku berdebar-debar. Mulutku terasa kering seperti kapas.

Itu adalah mimpi yang sama tentang Chris yang sering kualami. Tidak pernah bervariasi. Selalu seratus persen sama, hampir tidak seperti mimpi sama sekali, seperti memori yang dibakar ke alam bawah sadarku dan muncul sesekali untuk menghantuiku.

Tapi kali ini ada perbedaan. Tidak dalam pengaturan. Tidak dalam pencahayaan. Tidak dalam urutan peristiwa. Kali ini, orang yang mengepalkan tangannya adalah Max.

Apa itu artinya?

Jam menunjukan pukul 03:38 pagi. Tidak ada tempat yang lebih sepi daripada terjaga tengah malam, sendiri dan takut, sedih atau keduanya.

Aku keluar dari tempat tidur, menarik sprei dan melemparkannya ke lantai. Pada titik tertentu aku telah melemparkan selimut, sehingga benda itu tak terpapar keringat. Aku menarik t-shirt di atas kepalaku, melepaskan celanaku, melemparkannya ke dalam keranjang dan pergi ke kamar mandi untuk mengelap dengan handuk karena tubuhku yang basah oleh keringat. Aku kembali ketempat tidur, dan kasurnya kasar dan tidak nyaman -dan menutupi diri dengan selimut saat aku menggigil.

Entah bagaimana aku berhasil tidur kembali setelah sekitar tiga puluh menit merasa takut akan jatuh ke dalam mimpi itu lagi.

Kenapa Max? Kenapa otakku memperbolehkan hal itu terjadi?

***

6:45, alarm membangunkanku. Terima kasih Tuhan mimpiku yang menakutkan tidak berlanjut. Meskipun itu masih menghantuiku, dan aku berpikir tentang hal itu terlalu banyak saat aku harus mandi dan bersiap-siap untuk kekantor hari ini.

Pada saat aku meninggalkan kamarku dan berjalan ke dapur untuk mengambil jus dan buah, Krystal ada di pintu. Dia tampak mengerikan. Rambutnya awut-awutan. Kulitnya pucat berdebu. Dia memiliki kantong di bawah matanya. Dia tampak seperti berusia lima belas tahun.

"Apakah kau baik-baik saja?" Tanyaku.

Dia menguap dan berkata, "Baik, ya, kenapa?"

"Hanya memastikan." Aku bahkan nyaris tak bisa melihatnya. Bukan hanya karena penampilan, tapi juga karena video pornonya yang berputar-putar dalam pikiranku.

Dalam perjalanan ke kantor, aku tidak mendengarkan musik apapun. Aku menghabiskan seluruh waktuku mencoba untuk memproses mengapa aku bermimpi buruk tentang Max.

Dia tidak pernah melakukan apa-apa yang membuatku merasa sedikit terancam.

Secara fisik sih...

Mungkin kekerasan dalam mimpi adalah manifestasi dari rasa takutku kalau-kalau dia menyakiti ku dengan cara lain. Kami telah menghabiskan banyak waktu untuk melihat satu sama lain, aku pernah berpikir berlama-lama bahwa aku tidak cocok untuk dekat dengan seseorang seperti Max.

Kemudian, saat makan siang, kami berbicara di telepon tapi aku tidak berani bercerita tentang mimpi. Itu mungkin akan membuka segala macam konflik, dan aku tidak ingin melakukan itu. Setelah semua yang terjadi, aku cukup banyak tahu sumber dari mimpi itu, jadi mengapa membebaninya dengan masalah yang terjadi atas diriku sendiri?

Belum lagi percakapan kami sangat baik. Dia bilang dia memiliki waktu yang tepat di NYC dan aku mengatakan kepadanya itu menakjubkan.

"Tapi," kataku, "mungkin akhir pekan ini kita harus tetap menjaga kaki kita di tanah."

"Apakah itu artinya menyingkirkanku untuk membawamu ke tempat tidurku?"

"Aku tidak pernah mengesampingkan itu. Kau tahu itu."

"Oke, jadi kita tetap tinggal di kota. Tapi aku ingin memiliki kau sendiri sepanjang akhir pekan. Tidak akan keluar. Aku akan masak, kita akan bicara, menonton film..." Suaranya menghilang.

"Dan?"

"Dan apa?"

"Itu saja?" Kataku bercanda, dan aku tahu ia mungkin bisa mendengar senyum dalam suaraku.

"Beberapa hal tersirat tanpa berkata," jawabnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya berpikir tentang apa yang telah kita lakukan dalam kamar hotel pada Sabtu malam, dan komentar Max tentangku untuk menunggu untuk melihat apa yang terjadi berikutnya...baik, dan itu telah membuatku membisu.

Aku menghindari Krystal sepanjang hari dan besoknya pun begitu, dan itu tidak sulit. Dia tidak ada di flat. Aku mendengar dia datang dan pergi larut malam, tapi tidak pernah melihatnya karena aku berada di kamarku sepanjang waktu.

Max meneleponku pagi Rabu pagi dan mengatakan ia akan harus membatalkan rencana makan malam kami. Aku kecewa, tetapi kupikir mungkin akan lebih baik. Untuk satu hal, aku agak menyukai gagasan untuk membangun antisipasi. Di atas semua itu, ia menjadi sesuatu gangguan, menghabiskan semua pikiranku yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Sebenarnya, ia membuatku berpikir tentang pekerjaan juga, setiap kali aku berbicara dengan Jacqueline Mathers, yang berubah menjadi klien yang menyebalkan.

Jacqueline meneleponku dua kali pada hari Senin. Telpon pertama adalah untuk mengetahui apa pendapatku jika dia akan diminta untuk tampil di acara talk show larut malam, dan jika demikian, aku harus memastikan bahwa dia akan tampil di Letterman show? "Kalau saya akan tampil di acara Howard Stern, saya lebih baik tidak tampil di Leno."

"Kenapa begitu?"

"Karena Howard membenci Leno!"

Rupanya dia pikir dia akan tampil diacara dengan nama Howard Stern. Dia bercerita tentang permusuhan, dan aku melakukan semuaya aku tidak bisa mengangguk selama cerita yang membosankan itu.

Aku bilang aku tidak yakin ini sudah waktunya atau belum memikirkan tentang diacara tersebut, dan ketika waktu itu datang, kita harus bertanya pada Kevin tentang ide Howard Stern.

"Tapi menurutmu ada kemungkinan di Letterman?"

Aku benar-benar tidak tahu, tapi aku berkata, "Tentu. Tentu saja. "

Kedua kalinya ia menelepon, sore hari, dia bertanya apakah dia punya supir untuk kestudio dan ke berbagai lokasi set saat pengambilan gambar dimulai.

Aku berbicara dengan Kevin, yang mengatakan kepadaku: "Biasakan untuk itu. Mereka mendapatkan satu film dan mereka pikir mereka adalah hal ter’panas’ di kota. Dan demi kita, kita berharap yang terbaik untuk Jacqueline. Katakan padanya kita akan mewujudkannya." Dia menutup laptop dan menggelengkan kepalanya. "Ya Tuhan."

Aku merasa lebih baik sekarang karena aku tahu Kevin memiliki pikiran yang sama tentang Jacqueline.

***

Penerjemah: Miss Voldermort
Editor: +Helda Ayu

Poskan Komentar

7 comments

Wah...kok cuma dikit? Tapi makasih PN :)

Tx miss vouldemort n mas yudi

Sikit nye bab ne.but °˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºhelda n mas yudi

Sikit nye bab ne.but °˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºhelda n mas yudi

ga ngerti sama bab ini, terasa membingungkan^^

ditunggu bab selanjutnya xD makasii miss V n PN :D
muaaaachh~~~

sedikit bgt huuhuuhuu..
Muacih mz yudi, mbk helda, miss voldermort :)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top