29

ee-thumb
Bastian memulai terapi pertamanya hari ini. Silvia melangkah masuk ke dalam ruang praktek Bastian di rumahnya.

Ruangan itu sangat nyaman, dindingnya memakai wallpaper polos warna krem, perabotannya berwarna coklat muda. Penerangan ruangan itu diatur sedemikian rupa hingga tidak menyilaukan dimata.

Di ruangan itu ada sebuah sofa panjang berwarna coklat tua, kelihatan "gemuk", empuk dan nyaman diduduki. Di sebelah sofa itu ada meja kecil. Di sebelah meja ada sebuah kursi sederhana tempat Bastian duduk.

Beberapa bunga ditempatkan di vas sederhana di rak yang menempel di dinding. Beberapa lukisan kecil tentang alam tertata di beberapa sisi.

Bastian menyuruh Silvia berbaring di sofa panjang.

Dia menyalakan musik instrumental Kitaro, mengalun sangat pelan melalui speaker yang di tanam di sisi pojok ruangan hingga terdengar sangat lembut di telinga.

Bastian menyalakan audio recordernya.

"Pejamkan mata kamu Silvia, tarik nafas pelan, apa yang biasanya kamu pikirkan kalau menjelang tidur malam?"

"Berbaring di bawah rumpun bambu dengan semilir angin yang berhembus pelan…." Silvia menjawab.

"Kamu rasakan saat ini sedang berbaring di bawah rumpun bambu, anginnya terasa sejuk dingin….kamu merasakan sangat nyaman hingga merasa ngantuk…."

Badan dan wajah Silvia terlihat rileks…perlahan dia sudah memasuki hypnotic trance, saat dimana alam bawah sadarnya mulai terbuka, saatnya seorang therapist memberi sugesti dan menggali ingatan-ingatan terdalam seseorang sebagai bagian dari proses terapi penyembuhan.

Silvia terbaring tenang. Bastian menunggu beberapa saat. Walaupun Silvia berada dalam hypnotic trance, tetapi dia masih sadar sepenuhnya, bahkan bisa mendengarkan suara-suara disekitarnya.

Tiba-tiba mata Silvia terbuka, bola matanya berputar mengawasi setiap sudut ruangan sebelum menatap ke arah Bastian. Roman mukanya berubah drastis. Silvia yang wajahnya terlihat tidak percaya diri, sekarang terlihat sangat pe-de! Alisnya melengkung lebih tajam, ujung matanya terangkat ke atas. Ujung bibirnya terangkat terlihat selalu membuat wajah yang tersenyum sinis.

Ini dia! Bastian mulai bersiap. Alter Ego ke satu keluar.

"Halo, saya Bastian psikiater Silvia…kamu adalah…?" Bastian membuka percakapan.

"Alaaaaahh bilang aja elo pacar Silvia, susah amat! Gua Helena. Helena Djody." suara sedikit serak dan keras terdengar dari mulut Silvia.

Gadis yang meng-upload puisi 'Mistake' di blog-nya Silvia, Bastian teringat puisi itu, puisi yang menggambarkan sosok liar.

"Helena, senang berkenalan dengan kamu…" Bastian memancing Helena agar mau berteman baik dengannya. Menjalin pertemanan yang baik dengan para alter ego adalah bagian dari proses yang Bastian harus jalani, agar proses penyembuhan Silvia bisa lancar.

"Hmmm…gua juga senang berkenalan ma elo Bastian…." mata Helena turun naik menilai Bastian. Dan setiap kali berhenti di selangkangannya….

Bastian berusaha tenang, walaupun dia sudah sangat mengetahui arti tatapan mata alter Helena Djody ini.

"Berapa umur kamu sekarang Helena?"

"23 tahun. Masih sangat kuat untuk melayani elo Bastian…hmmm Bastian, nama kamu enak disebut di mulut gua..."

"Coba kamu ceritakan masa kecil kamu Helena…" Bastian tidak menghiraukan jawaban melenceng dari Helena.

"Well, gua lahir ketika Silvia cengeng itu menangisi ibunya yang mati digorok maling! Gua gak punya orang tua, gua tumbuh liar di jalanan. Elo mau tahu apa lagi, honey?"

"Kamu punya hobby Helena?"

"Hobby? Gua hobby nge-seks. Kalau gua nggak orgasme setiap hari, kepala gua rasanya pusing, cekot-cekot kayak dicubitin tang! Hmmmm….I think you are hot, babe!"

Bastian tidak merespon jawaban nakal Helena.

"Aku sudah lihat lemari baju di paviliun, kamu suka banget baju dari bahan kulit ya?"

Helena tertawa.

"Itu baru baju, nggak kayak Silvia, kuno, saban hari yang dipake kaos, jins, kemeja, kaos, jins, kemeja! Membosankan."

"Kamu punya pacar saat ini Helena?"

Tidak ada jawaban.

"Helena?"

"Namanya Thomas Slavi, wuih, seks dia hebat. Tapi gua depak dia."

"Kenapa?" tanya Bastian.

"Dia mau ngiket gua kayak anjing piaraan, mana bisa????"

"Helena, apakah kamu bisa melihat apa yang dikerjakan Silvia setiap harinya?"

"Tentu saja gua bisa. Elo sok suci banget ya Bas, sampe sekarang si Silvia belum juga elo ‘kerjain’."

Bastian tersenyum.

"Baik Helena, kita berpisah dulu di sini, waktunya sudah habis…"

"Bye Bastian, I want that thing from you some day!"

Helena menghilang meninggalkan seringai dan kerlingan nakal.

Perlahan mata liarnya meredup, alis, mata dan ujung bibirnya kembali ke sisi semula. Silvia kembali.

Bastian memegang jemari Silvia, memanggil namanya.

Silvia melihat kearah Bastian dengan bingung.

"Aku ngapain aja dari tadi Bas?"

Bastian menghampiri Silvia, mencium rambut Silvia dan membantunya berdiri.

"Nanti setelah aku selesai dengan terapi diagnosa ini, aku akan jelaskan semua." kata Bastian singkat.

"Silvia, kamu mendengar pembicaraan tadi gak?"

Silvia menggelengkan kepalanya.

###

Terapi berikutnya. Silvia berbaring di sofa empuk itu lagi. Dipejamkannya matanya membayangkan dirinya terbaring diatas rumput, di bawah serumpun bambu, semilir angin berhembus……

Ketika matanya terbuka, sebuah sorot penuh ketenangan, senyuman manis datar dan memandang sekitar ruangan dengan sorot mata yang susah ditebak maknanya.

"Hai! Saya Bastian. Bisa menyebutkan nama kamu?"

Alter kedua ini hanya tersenyum memandang Bastian. Menggerakkan tangannya membentuk bahasa isyarat.

Bastian teringat sesuatu, kalau diagnosanya benar, alter ego kedua ini pasti Katarina. Seorang yang bisu dan tuli.

Bastian mempertahankan roman wajahnya, dia mengambil pad-nya, menulis kan pertanyaannya, lalu menyodorkan pad itu.

Bastian:
HAI, SAYA BASTIAN. PSIKIATER  SILVIA. BISA MENYEBUTKAN NAMA KAMU?

Katarina:
SAYA KATARINA LIM.

Bastian:
SENANG BERKENALAN DENGAN KAMU KATARINA.

Katarina:
TERIMA KASIH. SENANG BERKENALAN DENGAN KAMU JUGA. RUANGAN KAMU MENYENANGKAN. RASANYA BETAH SEKALI DISINI.

Bastian:
TERIMA KASIH KATARINA. MEMANG DIBUAT NYAMAN. BERAPA USIA KAMU SEKARANG KATARINA?

Katarina:
21 TAHUN

Bastian:
KAMU PUNYA KELUARGA?

Katarina:
SEMUA SUDAH MENINGGAL DUNIA, PAPA – MAMA SAYA MENINGGAL PADA WAKTU SAYA KECIL. KAKAK SAYA MENINGGAL 10 TAHUN YANG LALU.

Bastian melirik catatan percakapannya dengan Ryo waktu itu di Café. Sinkron.

Bastian:
SIAPA NAMA KAKAK KAMU YANG MENINGGAL ITU KATARINA?
   
Katarina: (memperlihatkan wajah berduka)
EDWIN LIM   

Bastian:
KAMU TERLIHAT SANGAT MENYAYANGI KAKAK KAMU.   

Katarina:
IYA, DIA SANGAT MENYAYANGI SAYA JUGA. SEKARANG SAYA NGGAK PUNYA SIAPA-SIAPA LAGI, HANYA RYO…

Bastian:
RYO? CERITAKAN TENTANG RYO KEPADA SAYA KATARINA

Katarina: (wajahnya tersipu malu, semburat merah keluar di pipinya, matanya tiba-tiba memancarkan rasa cinta yang begitu dalam)
RYO ADALAH PRIA PERTAMA YANG MAU MENGERTI SAYA, YANG MAU MENERIMA SAYA APA ADANYA. KAMI AKAN MENIKAH SEGERA.

Bastian:
KAMU TAHU KAMU LAHIR DIMANA KATARINA?

Katarina: (terlihat termenung)
SAYA NGGAK INGAT.

Bastian:
BAIKLAH, SAYA RASA CUKUP DULU PERTEMUAN KITA KATARINA. SELAMAT TINGGAL.

Katarina:   
SELAMAT TINGGAL BASTIAN.

Bastian menggenggam tangan Silvia dan memanggil namanya pelan.

Wajah Silvia mengendur. Senyuman menghilang perlahan. Sorot mata penuh rasa gugup dan minder terlihat jelas. Silvia kembali.

"Apa yang kamu rasakan Silvia?"

"Aku nggak ngerasain apa-apa Bas, tapi merasa baikan. Aku tertidur nyenyak barusan ya?"

Bastian tersenyum, memeluk bahu kekasihnya dengan kuat dan mengajaknya keluar.

###

Bastian menekan nomer telpon Ibu Kusmini, pimpinan Panti Asuhan yang pernah ditemuinya.

Setelah berbasa-basi sekedarnya Bastian mulai bertanya.

"Ibu Kusmini, adakah kejadian besar yang terjadi sejak Silvia tinggal dipanti?"

Tidak terdengar suara jawaban.

"Ibu nggak ingat nak Bastian. Coba ibu ingat-ingat dulu ya….."

Bastian berterima kasih dan menutup telponnya.

Ada sesuatu hal besar yang terjadi dalam kehidupan Silvia di masa lalu, karena ternyata ada alter ego kedua yang bernama Katarina Lim.

Tidak sampai satu jam, deringan telpon dari Ibu Kusmini membuat Bastian bersemangat.

"Ibu ingat nak, ibu bingung juga tadi bisa lupa kejadian besar ini."

"Apa yang terjadi Bu?"

"Sekitar setahunan lebih setelah Silvia masuk panti, tukang kebun panti waktu itu, seorang laki-laki sekitar umur 30an, meninggal tragis. Dia diduga bunuh diri dengan cara menyiramkan minyak tanah ke tubuhnya lalu membakar dirinya sendiri. Nggak jelas motifnya apa."

"Baiklah, terima kasih banyak informasinya Bu Kusmini."

Bastian mencatat sesuatu di  bukunya.

Kalau Silvia tidak ingat kejadian ini, mungkin Helena ingat beberapa hal.

###

Dalam terapi berikutnya.

Bastian memanggil Helena keluar.

"Apa kabar Helena?"

"Jelek! Gua perlu pelampiasan Bastian! Pusing kepala gua!" Helena berteriak, menarik-narik rambutnya sendiri.

"Sabar Helena, sebentar lagi selesai dan semua akan normal."

"Ayo cepetan, elo mau apa lagi?" Helena bertanya tidak sabar.

"Kamu tahu kejadian waktu di panti, seorang bapak, tukang kebun, bunuh diri dengan membakar diri?"

Helena mengernyitkan dahinya. Wajahnya menampakkan kekesalan.

"Gua tahu" Helena menjawab pendek.

"Ada dimana kamu waktu kejadian itu?" Bastian mengejar.

"Di depannya. Gua yang nyiram si Pedo itu pake minyak tanah. Salah sendiri dia nyentuh rokok nyala yang ada di meja dia!"

Itu dia! Bastian mencatat.

"Mengapa kamu nekat menyiram orang itu pake minyak tanah?"

"Si Pedofil goblok itu suka mempermainkan Silvia! Gua gemes liat Silvia cuma bisa nangis, nangis dan nangis! Silvia benci banget sama si tolol itu. Silvia sering menangis sendirian kalau lubang dia kesakitan akibat penis si bego itu! Seharusnya gua gunting doang biar menderita seumur hidup!"

Bastian menahan diri untuk tidak memperlihatkan reaksi apapun mendengar cerita Helena. Rasa cintanya semakin besar membayangkan Silvia kecil yang ternyata begitu sangat menderita….

"Saat itu Katarina lahir…tapi Katarina terlalu shock untuk berbicara. Jadi nambah kerjaan gua aja, dua bayi cengeng harus gua jaga! Sampe sekarang."

"Apa maksud kamu menjaga Silvia dan Katarina sampe sekarang?"

Helena menyibak-nyibakkan rambutnya.

"Halloowww, elo ga liat betapa Silvia gampang panik begitu? Katarina bisu tuli begitu? Gua harus menangani sendiri kalau ada yang menganggu mereka! Katarina bisa kerja apa coba? Nggak kerja apa-apa lah! Dia hanya suka maen ke café, duduk berlama-lama, baca buku, makan makanan yang nggak jelas!"

"Makanan nggak jelas?"

"Iya, elo bayangin, setiap kali yang dimakan Katarina hanya roti bakar keju, eskrim coklat strawberry lalu ice lemon tea! Aneh kan?"

Bastian tersenyum sekilas, mengingat masalah eskrim coklat strawaberry  dan roti keju di kulkas Silvia.

"Elo pikir siapa yang selama ini selalu belanja untuk kebutuhan mereka berdua?? Ya gua lah! Emang kuntilanak yang ngasi mereka makan? Gua selalu isi kulkas Silvia, penuh!"

Kabar sedikit menggembirakan, tidak ada penyusup yang masuk ke dalam kamar Silvia…Bastian mencatat lagi.

"Kamu doyannya apa Helena?"

"Selain seks? Mmmm minuman bersoda dan bolu gulung."

Persis! Bastian mencatat lagi.

"Gua harus dapat duit banyak untuk kita bertiga. Jadi sehabis nge seks, gua embat aja duitnya!"

"Untung ada kamu ya Helena." Bastian mencoba mengambil hati Helena, sebagian dari trik terapinya kali ini.

Di sesi terapi yang berikutnya Bastian memanggil alter–alter lain yang mungkin masih terbentuk, tetapi ternyata hanya 2 alter ego di dalam Silvia.

###

Kesimpulan diagnosa sudah di tangannya.

Ryo Reinhart Toshi datang ke rumah Bastian juga untuk mendengarkan diagnosa hasil terapi awal Bastian terhadap Silvia.

Bastian merasa perlu memanggil Ryo karena Katarina sebagai alter ego nya Silvia, memiliki ikatan erat dengan Ryo.

Ryo terlihat sangat berbeda dari 3 minggu yang lalu. "Kehilangan" Katarina menghancurkan hatinya.

Penampilannya kusut masai. Tidak ada lagi cahaya di wajahnya.

Begitu tiba di rumah Bastian, Ryo sempat terbelalak kaget melihat Silvia. Mulutnya kelu, matanya langsung memancarkan rasa rindu yang mendalam.

Silvia tidak mengacuhkan Ryo sama sekali karena dia merasa tidak mengenal Ryo.

Dengan resmi Bastian memperkenalnya Silvia sebagai calon istrinya.

Suara sapaan yang keluar dari mulut Silvia menyadarkan Ryo kalau pribadi di hadapannya ini sebenarnya bukan Katarinanya.

Bertiga mereka duduk di dalam ruang praktek Bastian.

"Saya langsung saja Ryo, Silvia…Berdasarkan hasil wawancara terapi dan penggalian informasi dari panti asuhan tempat Silvia tumbuh, saya menyimpulkan Silvia mengidap DID, Dissociative Identity Disorder, dalam kata lain Silvia memiliki kepribadian ganda.

Silvia adalah pribadi utamanya, dia memiliki 2 alter ego, yang bernama Helena Djody dan Katarina Lim.

Kedua alter ini saling mengenal satu sama lain, dan mereka tahu tentang Silvia. Sedangkan Silvia tidak pernah tahu tentang mereka."

"Apa yang harus sekarang dilakukan Bas?" Ryo bertanya tidak sabar.

"Sebentar nanti saya jelaskan. Saya sekarang akan ceritakan bagaimana alter ego ini bisa hadir dalam diri Silvia. Seorang anak kecil dibawah usia 7 tahun, belum memiliki karakter dan kepribadian yang kuat untuk menghadapi masalah. Anak kecil yang mendapat masalah sangat besar dan dia merasa tidak kuat menanggung masalah itu, dia akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap trauma itu. Dia bisa membuat pikiran sadarnya lepas dari pengalaman trauma yang mengerikan itu.

Pada saat usia Silvia hampir 4 tahun, orang tuanya di bunuh di depan mata dia oleh kawanan perampok. Silvia mencoba membangun penghalang memori, hingga "lahirlah" Helena Djody, seorang gadis yang kuat dan tangguh.

Oleh pihak kepolisian Silvia dititipkan ke panti asuhan. Ternyata selama di panti asuhan, dia mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya untuk anak di bawah umur oleh seorang tukang kebun di panti itu."

Silvia membelalakkan matanya, terkejut! Dia tidak ingat sama sekali masalah itu.

"Helena Djody yang akhirnya melawan tukang kebun itu. Pada saat Silvia sudah tidak tahan mendapat perlakuan tidak senonoh itu, Katarina Lim muncul."

Ryo menarik nafas berat. Bingung musti berkata apa lagi.

"Selanjutnya yang bisa dilakukan adalah menyatukan atau melebur semua karakter menjadi satu masuk ke Silvia. Akibat yang timbul dari penyatuan ini adalah Silvia akhirnya akan teringat semua kejadian kelam di masa lalu dan Silvia akan mampu melakukan hal hal yang hanya bisa dilakukan oleh kedua alter ego ini. Misalnya Silvia akan bisa berbahasa isyarat…"

"Selain penyatuan semua menjadi satu, ada cara lain yaitu, meminta kepada alter-alter untuk pergi. Tapi proses ini nggak gampang, ego tiap alter pasti sudah ada."

Ryo menarik nafas panjang lagi. Pakai cara yang manapun tidak akan membuat Katarinanya kembali.

"Saya akan lihat situasi dulu mana yang paling memungkinkan. Meminta para alter untuk menghilang mungkin lebih baik bagi Silvia, dia nggak perlu terbebani oleh ingatan trauma masa kecilnya…"


Poskan Komentar

29 comments

Aduhhh... Lagi2 pelecehan thdp anak2... In bs jd bahan renungan untuk orang tua agar bs lebih dekat dgn anak2x. Btw, Mkasih mas yudi... Nba KY
Big hug...

wow jdi itu alasan silvia punya kepribadian lain?
Thank u mbak KY and mas mimin :D *lope u all*

mantabbbb... aihhh... gak bs ngomong apa selain 4 jempol buat mbak KY. makasi banyak mbak, mas Yudi n PN :)

Huaaa ntar jadi nya gimana yak
Trus silvia ama siapa jadinya?
Hihihi
Keren mb kaye
Makasih mas yudi

Bengong liat critanya "keyen banget mba kaye"
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya smuanya

5 Thumbs up
(jempol yg satu pinjem mba Shin)

Makasih PN...

Gila yah mba kaye, ini beneran keren banget. Q Jd melihat topik alter ego ini bener2 menarik.....
Thank you mba kaye
Thank you mas yudi

keren bgt,thx mba KY mas mimin

Merinding disco, keyeennnnn thanks mba Kaye and mimin

Mba KY kerennnn critannya..†ђąηk ўσυ mas yudi

hiksss kasian sm ryo... klo alter egonya nyatu, dia akan kehilangan katarina... tp yah gmn lagi aslinya cm 1 org...

thanks mba KY..asli keren bgt ceritanya...

Awsome..
Thats fuckin' Good story mba KY
Ga sabar nunggu lanjutanya

Makasih mbak KY mas Yudi

ngakak banget baca Bag.ini --> "Hobby? Gua hobby....... Kalau gua nggak ......setiap hari, kepala gua rasanya pusing, cekot-cekot kayak dicubitin tang! Hmmmm….I think you are hot, babe!"

Keren bangetttttt aku sukaaaaaaaaa poll

Mbak KY u are so briliant! Gak ketebak ceritanya,cerdas!

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Mbak KY u are so briliant! Gak ketebak ceritanya,cerdas!

Mbak KY u are so briliant! Gak ketebak ceritanya,cerdas!

Mbak KY u are so briliant! Gak ketebak ceritanya,cerdas!

Uh... ngeri ya kalo salah satu keluarga kita ada yg punya kepribadian ganda gitu.
mbak KY T.O.P BGT dech

yaampunn crta'y amazing bgt mbk KY..gilaaa kereeennn
Thankz mbk KY, mz yudi

Waaah Bastian bisa jadi ahli terapinya darren dan lucas juga nih.

Mbak KY u are so briliant! Gak ketebak ceritanya,cerdas!

Bagus ini jalan ceritanyaaaa thanks semua :3

wwoooowww keeyyeennnn....

makasih mba KY
makasih mimin
tetap semangat buat postingan berikutnya,,,

Ini nih, kisah yg menambah ilmu pengetahuan.
Tq mba ky..,

wow kereeen mba !!tanks mba ky wlau ga trlalu ngerti ttng alter ego .. tp q suka trnyta helena baek jga yah hihihihi

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top