12

ee-thumb
Bastian langsung mengarahkan mobilnya ke tempat Silvia. Disuruhnya Windy menunggu di mobil.

Ketika dia mengetok pintu kamar Silvia, seorang wanita paruh baya mendekati Bastian. Induk semang. Pemilik kos-kos an.

"Cari Silvia ya?"

Bastian tersenyum sopan.

"Iya, tapi kayaknya lagi pergi, pintunya dikunci…"

"Iya, Silvia emang dari kemaren pergi." lanjut Ibu itu.

Bastian kaget. Kemaren??

"Anak ini siapanya Silvia ya?"

"Aduh maaf saya tidak sopan Ibu, saya Bastian, tunangan Silvia…." jelas Bastian sambil mengulurkan tangannya.

"Oooo tunangannya Silvia. Ibu pikir dia tidak punya teman, bahkan selama 4 tahun disini, Silvia tidak pernah membawa seseorang pun kesini. Maaf ya nak Bastian, Silvia terkenal kuper disini, jarang bergaul…"

Bastian tersenyum.

"Tapi dia gadis yang baik dan ramah…." Ibu itu berbalik dan meninggalkan Bastian.

Tiba-tiba dia membalikkan badan dambil menepuk jidatnya sendiri.

"Aduh, hampir saya lupa, Silvia selalu menitipkan kunci paviliun ini ke saya. Ini dia."

Bastian menerima kunci itu dan berterima kasih.

"Dan ini kunci paviliun yang satu lagi." Ibu itu menyerahkan anak kunci kedua.

Bastian reflek melongo.

2 paviliun???

"Paviliun satu lagi yang sebelah mana ya Bu? Saya lupa kanan atau kiri…." Bastian menutupi keterkejutannya.

Ibu kos itu menunjuk ke paviliun yang selama ini selalu tertutup, Silvia pernah menjelaskan bahwa paviliun itu kosong.

"Nak Silvia selalu membayar tepat waktu loh, nggak pernah nunggak dia. Cuma kalo paviliun ini dia selalu bayar tanggal 2, tapi kalau yang satunya lagi dia selalu bayar tanggal 15 an tiap bulannya. Ya udah, ibu serahkan ke nak Bastian ya. Kalau sudah selesai jangan lupa pintu ditutup lagi, kuncinya kasi ke ibu lagi."

Bastian mengucapkan terima kasih sekali lagi.

Dibukanya pintu kamar Silvia, Silvia tidak disana. Hpnya tergeletak di meja dia dekat laptopnya.

Dengan cepat Bastian keluar, mengunci pintunya dan melangkah ke paviliun ke 2.

Dadanya merasa berdegup lebih kencang karena rasa ingin tahu. Dibukanya perlahan paviliun itu.

Tidak ada Silvia di sana.

Ruangannya bersih, hanya ada 2 lemari berjejer di situ, tidak ada barang-barang bekas beraktifitas. Kasurnya pun tidak memakai sprei.

Bastian membuka lemari pertama, isinya membuat matanya membulat kaget! Baju-baju katun panjang berjejer rapi, dan belasan cardigan berwarna kalem di gantung disampingnya!

Beberapa pasang sepatu datar dan berhak tinggi ada di dasar lemari. Sebuah kotak kecil menarik perhatiannya, ternyata berisi dua kacamata minus, underwear wanita dan beberapa ikat rambut warna warni!

Tiga buah tas wanita tergeletak kosong.

Bastian mundur, otaknya berputar keras! Satu kepingan puzzle telah ia temukan lagi!

Lemari kedua dibukanya perlahan, bertolak belakang dengan isi lemari pertama. Yang kedua ini berisi beberapa rok mini dari bahan kulit sintetis, beberapa tanktop, jaket kulit hitam, setengah lusin stocking hitam, sepatu boot rendah dan tinggi  berjejer. Lingerie seksi berwarna warni tergantung rapi.

Ada 2 kotak kecil juga disana, yang satu berisi wig-rambut palsu warna ungu, kecoklatan dan merah mahgony.

Yang satunya lagi berisi alat kosmetika, parfum aroma vanilla dan beberapa kondom! Ada tas wanita yang isinya adalah pil KB yang sudah terpakai…..

Bastian terduduk, memandang kedua lemari itu dengan takjub!

###

Helena menunggu Thomas di Diversity. Dia harus menegaskan sesuatu.

"Hai sweety..." Thomas datang dan langsung mengecup bibir Helena.

Helena melengos. Dia sudah bertekad dalam hati untuk memutuskan hubungannya dengan Thomas selamanya!

"Thomas, gua to the point aja. Ini adalah terakhir kita bertemu. Gua merasa terikat, nggak bebas bersama elo. Gua mengakui, gua suka nge-seks sama elo, tapi gua pengen bebas! Gua akan pergi dari kota ini, jauh. Lebih baik kita berteman saja."

Thomas terpana, belum sempat dia mencerna semua kata-kata Helena, Helena melenggang pergi meninggalkan dia sendirian.

Helena tidak perduli perasaan Thomas, dia melihat seseorang di café Lentera, yang membuatnya bergairah, membuatnya ingin memiliki laki-laki itu seutuhnya, hanya buat dia sendiri!

###

Ketika Silvia berhasil dihubunginya, Bastian langsung mendatangi Silvia. Sudah seminggu berlalu sejak penemuannya di paviliun sebelah. Dia belum bercerita ke Silvia. Dia sibuk menggali informasi dari internet, dari rekan sejawatnya, dari buku-buku, bahkan dari beberapa film.

Hal pertama yang ditunjukkannya kepada Silvia adalah paviliun sebelah. Silvia bingung melihat kenyataan itu. Tubuhnya limbung. Tidak ada ingatan sedikitpun tentang ruangan ini. Bastian melihat ke dalam mata Silvia, dan dia tidak melihat kebohongan disana.

Hal kedua, dia menceritakan tentang Katarina, di café Lentera. Silvia membelalakkan matanya.

Dia meraba bekas lukanya waktu tergores pagar depan, di lengan kanannya. Tapi wanita yang bernama Katarina itu tidak memiliki bekas luka itu….

Silvia mulai menangis di dada Bastian, dia semakin bingung.

"Silvia, ijin kan aku memberi kamu terapi ya…." Bastian berbisik.

Silvia menatap mata Bastian. Terapi??

"Terapi ini untuk menyembuhkan dan mencari tahu semua penyebab mengapa kamu seperti ini Silvia…."

"Aku ikuti apapun rencana kamu Bastian….aku nggak tahu harus bagaimana….. aku sudah menyerahkan hidupku buat kamu……"

"Besok aku akan jemput kamu, aku akan terapi kamu di rumah, ok?"

Silvia mengangguk. Bastian mencium mesra bibir calon istrinya ini.

###

Ryo mondar mandir di kantornya, sendirian. Katarina menghilang lagi. Dia sudah mengirim pesan singkat tapi belum dijawab juga.

Pertemuan dia dengan laki-laki bernama Bastian itu mengguncang hatinya. Ada rasa penasaran, rasa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ryo meraih handphonenya, menekan nomer handphone Bastian!

"Halo Bastian? Saya Ryo, café Lentera…..saya terusik dengan cerita kamu kemarin. Beberapa hari ini Katarina saya nggak datang ke tempat saya……(Ryo berkata dengan hati-hati) apakah Silvia kamu bersama kamu beberapa hari ini?"

Ryo mendengar Bastian berkata IYA. Ryo terduduk lemas. Dia mengharapkan Bastian berkata tidak.

Ketika dia mendengar cerita Bastian tentang penemuannya di paviliun dekat paviliun Silvia, Ryo menarik-narik rambut dia merasa panik.

Apakah Katarina dan Silvia adalah orang yang sama? Bagaimana mungkin???

Ryo menarik nafas panjang sebelum mengatakan hal ini.

"Saya berbohong waktu kamu menanyakan apakah Katarina memiliki luka goresan di lengannya. IYA, Katarina memiliki luka goresan itu, dia sendiri bingung bagaimana dia bisa terluka seperti itu…..tolong kabari saya perkembangan terapi Silvia."

Selesailah sudah……!

Ryo terjatuh di lantai, bahunya bergerak naik turun karena tangis yang tiba-tiba keluar tidak terkontrol….dia sudah kehilangan Katarina–nya……

###

Bastian melirik Silvia yang sedang bercanda bersama Windy, dia merasa bersyukur dalam hati adiknya mau menerima kehadiran Silvia dengan baik.

Bastian sedang membaca blog yang dibuat Silvia. Berusaha menemukan kepingan puzzle yang lain.

Dia kagum akan koleksi puisi Silvia dan beberapa advice untuk para pengunjung yang galau membuatnya tersenyum. Salah satu sisi yang tidak dia ketahui tentang Silvia selama ini.

Sebuah posting menarik perhatiannya, seseorang yang menamakan dirinya Helena Djody  meng-unggah sebuah puisi berbahasa Inggris "Mistake" yang diunduh dari crackyhead.blogspot.com

This is fucking sucks, one mistake, lead to another
No one will understand, we just nothing but dust
Trying to find a solid ground, but no one seems notice
Smile is the weapon, wher we can hide the tears

Drag myself into my coffin, I need to lay my self for a while
Thy, locked my self with his desire
Dinner with morbid wine, red lipstick woke me up as seduction
Thy, chain my lust with his anger

The sound of simplicity, will you dance with me?
His finger dance with me, giving a pleasure in my skin
Ohh, it’s just an illusion, none of my dreams is a real
It’s just a dream

Now let me close my eyes for a while
Don’t take my hand when I’m gone
Keep your tears when I’m disappear
From dust to dust. It’s just me


Sebuah puisi dengan seribu makna. Gairah. Penyerahan. Kekecewaan. Kehampaaan. Dan di atas semua itu orang yang bernama Helena Djody ini terkesan mengumbar ekspresi sebuah kebebasan yang sebenar-benarnya - yang nyata - dalam hidupnya!

Bastian menutup pad nya.

"Ayo kita berangkat sekarang, Windy-Silvia!" Bastian memanggil. Mereka berdua berlari menghampiri Bastian.

"Emang kita mau kemana Bas?" tanya Windy.

"Ke panti asuhan tempat Silvia dulu…." Windy memandang Silvia, tidak pernah menyangka bahwa Silvia adalah yatim piatu.

Panti Asuhan yang mereka datangi adalah sebuah panti yang sudah lama berdiri. Dari bangunannya saja sudah terlihat panti ini berdiri hampir 50 tahun yang lalu.

Bastian tidak membiarkan Silvia dan Windy ikut masuk ke dalam panti.

Dia merasa harus menggali – mencari cari potongan puzzle itu sendirian. Dan terumata dia tidak mau kalau Silvia nantinya terjebak dalam kenangan kelam masa lalu.

Kepala Panti adalah seorang wanita tua, berumur sekitar  65 tahun. Walaupun sudah manula, gerakan nya masih gesit, giginya masih terlihat lengkap dan ingatannya masih tajam.

Bastian mengisi buku tamu, dan menyerahkan amplop coklat yang diisinya dengan uang sejumlah 8 digit.

Ibu Kusmini, tersenyum, menyuruh Bastian duduk.

"Ibu Kusmini, apakah ibu pernah punya anak asuh bernama Silvia disini?"

Ibu itu terlihat mengernyitkan dahinya, dia lalu berdiri, membuka lemari arsip tua di belakang kursinya.

Sebuah map biru usang dibukanya.

"Iya, saya masih ingat Silvia……23 tahun yang lalu, kepolisian menyerahkan seorang gadis kecil kepada saya. Namanya Silvia. Polisi menceritakan mereka menemukan Silvia meringkuk di bawah ranjang, ketika 3 orang kawanan pencuri mendobrak masuk dan membunuh ayah ibunya seketika malam itu juga, tepat di depan ranjang tempat Silvia bersembunyi. Silvia terlihat sangat syok saat itu. Polisi menitipkan Silvia sampai keluarganya ada yang datang menjemput. Tapi sampai hari ini pun tidak ada yang mencari Silvia."

Ibu Kusmini menghela nafas panjang.

"Kasihan sekali anak itu. Dia tumbuh sebagai gadis yang sangat pendiam dan aneh. Terkadang dia ceria. Terkadang dia terlihat nakal sekali. Terkadang berhari-hari dia hanya diam membisu tidak mengeluarkan suara sedikitpun."

Bastian meresapi informasi penting ini dalam otaknya. Potongan puzzle lagi.

"Ngomong-ngomong, mas ini apanya Silvia ya?"

"Saya calon suaminya Bu….saya hanya ingin mengetahui latar belakang dia. Saya seorang psikiater."

Ibu Kusmini mengangguk angguk memaklumi.

Bastian melangkah keluar dari panti itu. Di otaknya sudah ada pra-diagnosa kondisi Silvia.

Besok dia akan mulai terapinya.

Poskan Komentar

12 comments

makin seru...
4jempol buat mbak KY
thx mas yudi

Makasih makasih Mas Yudi mbak KY
Btw triple ego mengerikan juga yach... Slain itU kasian bgt yang menjalaninya...
Aku ikut perihatin... Wadaeh...kebawa suasana jadinya....

Gila... Keren bangettt mba KY .. Triple ego yg kerenn... Ngga sabar nunggu bab selanjutnya.

mkin penasaran mksh mbak kaye n mas yudi

Makin tambah penasaran :D

Triple personality????

Setuju ...kereNnnnn

Yach... kesian cowo' nya ya mba' ky.. maw nich ganti'in...he..he... gak sabar nunggu bab berikutnya...!!!

bundaaaaaaa,,,awesome,,,
Keyen puisinya,,
ijk ga nyangka dirimu bisa buat puisi,,,mw donk dbuatin satu,,, #wink,,

Mbak KaYe,,,like this so much,, >te-o-pe be-ge-te<
Mas Yudi,,makaasiihhh,,,

wow crtanya bner2 surprise 3 orang 1 raga ?ko bisa ?bner2 bikin pnasaran mba ky ...tanks yah

aku penasaraaaann~~~ kenapa bisa triple kepribadian? o.O bisa bicara tapi yg satu bisu o.O
aku bingung~~
sangat ditunggu banget penjelasannya si bastian, bastian Foghting!!
ayo ungkap kebenaran, aku menunggumu~~
tetep ngebayangin bastian si deni sumargo^^V *pluk*
kekekekee...

makasii mba KY n PN :* :*
Great xD

Bastian, q mnunggu diagnosa mu... Emang benar2 ada Ɣªήğ triple gitu ya ???? ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Ky dn mas Yudi.

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top