20

enigma-ego-thumb
"Mana yang namanya Helena Djody disini???" seorang laki-laki berteriak keras ke arah bartender, berusaha mengalahkan dentuman lagu lawas Made In Thailand yang di remix cantik oleh Dj Sonny.

Si Bartender menggelengkan kepalanya. Dia tahu, tapi dia nggak akan pernah memberi tahu ke orang yang masih asing baginya.

Thomas Slavi – laki laki itu mengucek rambutnya kesal.

Dia harus menemukan Helena, wanita yang meninggalkan dia begitu saja di hotel, kabur membawa semua uang dia berikut ATM dan Credit Card-nya!. Dia harus menebalkan wibawanya, menelepon sekretaris pribadinya untuk mengirimkan seseorang ke hotel membawa uang tunai. Saat itu Thomas hanya tersenyum getir, masih terselip khayalan dia saat itu "andai dia sudah beristri – habislah dia!"

Thomas menyalakan rokoknya. Sebenarnya dia tidak begitu memikirkan masalah uang dan kartu hilang.

Tapi one night stand relationship – salah, four hours relationship itu sudah membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari ini.

Wajah Helena dan gayanya di ranjang membuatnya bertekuk lutut!

Thomas yakin, seyakin bahwa Bumi itu bulat – bahwa Helena bukan seorang pelacur…. Dia menerka-nerka dan sedikit memaksakan pikirannya bahwa mungkin Helena sedang dalam masalah hingga tega melakukan hal itu.

Dia menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Dinyalakannya seperti robot berusaha tidak kehilangan sedetikpun pandangan dari sekitar ruangan itu.

Tiba-tiba sesuatu merebut dari belakang rokok yang baru sekali dihisapnya.

"Berhentilah merokok! Elo mau paru-paru elo penuh blackhole?" Helena menghempaskan dirinya ke dekat Thomas seperti biasa, menghancurkan rokok yang barusan direbutnya dari tangan Thomas.

"Elo nyari gua? Bartender kasi tahu gua barusan. Kebetulan, gua juga mau balikin ini ke elo." Helena masih nyerosos sambil menyodorkan 3 buah kartu Thomas yang raib.

Thomas menerima dengan pandangan seribu tanya.

"Gua nggak pake – sekalipun! Suer! Gua emang matre – tapi gua bukan pencuri." Helena menjelaskan tanpa rasa bersalah.

Thomas memegang wajah Helena dengan dua tangannya, menatap lurus, mencari-cari dalam mata Helena, apa yang telah dilakukan Helena padanya?

Helena mengernyitkan dahinya tapi tidak berusaha melepaskan tangan Thomas, otaknya membeku memandang ke dalam mata Thomas yang seperti telaga biru yang tenang…..

Ketika Thomas mendekatkan wajahnya, Helena tersadar. Berhubungan dengan orang yang sama lebih dari satu kali bukanlah cara kerjanya. Dia tidak mau terikat dengan siapapun, dimanapun.

Helena menjauhkan wajahnya dari Thomas.

"Nama elo Thomas Slavi kan? Gua baca kartu kredit elo. Sekarang gua harus pergi." Helena berdiri hendak beranjak menghindari Thomas.

Thomas menangkap pergelangan tangan Helena, memegang erat, menariknya keras hingga Helena terjerembab kesisinya.

Helena melongo, bibirnya yang dipulas lipstick merah maroon terbuka.

Thomas langsung menanamkan bibirnya ke bibir Helena. Dipanggutnya keras-keras. Di hisapnya kencang bibir bawah Helena. Helena melenguh dan mendesah. Tangannya merenggut rambut Thomas kencang. Dia sudah naik!

Lidah Thomas menyusuri seluruh rongga mulut Helena, tidak memberikan kesempatan sedetikpun buat Helena menyerang balik ciumannya.

Lidah Helena di hisapnya keras, digigitnya penuh kelembutan….Helena menyerah. Badannya lemas menginginkan hal itu lagi dari Thomas.

Sebelah otak Helena mengatakan perbuatannya salah, jangan terjebak oleh ikatan Thomas. Tapi otak sebelahnya lagi sudah mengirimkan sinyal panas ke pusatnya yang membengkak!

Tempat mereka duduk cukup gelap, di sudut ruangan dan tertutup oleh pohon plastik besar yang menjadi hiasan.

Tangan Thomas meraba-raba paha Helena yang terbungkus rok pendek - kali ini berwarna merah gelap. Di elusnya perlahan dari betis hingga paha bagian dalamnya. Helena menyandarkan kepalanya ke dada Thomas. Orang-orang yang melihat mereka hanya akan melihat kepala seorang perempuan yang bersandar di dada seorang laki-laki.

Helena membuka pahanya lebar-lebar ketika Thomas menemukan tepi celana dalamnya yang mini.

Thomas menelan ludah berkali-kali, masih teringat dia betapa rambut pubis Helena yang hitam dicukur rapi segitiga, bukan gundul, tapi cukup pendek hingga dia bisa melihat clit-nya yang menantang tegak dari luar.

Tangan Thomas dengan cekatan menarik ke bawah celana dalam warna merah itu, tepat sampai di pertengahan paha. Dia memeluk Helena yang masih terkulai di dadanya dengan lengan kirinya, sedikit menyandarkan kepala Helena di punggung sofa agar Helena bisa meluruskan kakinya.

Dengan posisi yang nyaman itu Thomas mulai membelai selangkangan Helena. Cairan sudah melimpah keluar dari lubangnya. Dengan jari tengah tangan kanannya dia mulai memainkan lubang licin itu, dengan sekali dorong jarinya sudah tenggelam di dalam. Jempolnya sibuk mengelus clit yang makin membengkak.

Hanya perlu beberapa menit bagi Helena untuk mendapatkan klimaksnya. Helena merangkul leher Thomas dan menggigitnya, menggeram penuh kenikmatan. Thomas tersenyum puas, mengeluarkan jarinya, meyodorkan ke mulut Helena dan memasukkan jari itu ke mulutnya.

Thomas memejamkan matanya tergelitik gerakan lidah Helena di ujung jarinya.

Helena meringsuk berjongkok di bawah meja, tangannya dengan cekatan membuka resleting celana panjang Thomas, mengeluarkan batangnya yang sudah sejak tadi berdiri siap tempur.

Dia langung mengulum keseluruhan batang itu, membasahi permukaannya yang berurat dengan cairan mulutnya. Thomas mendorong kepala Helena lebih dalam lagi hingga bola-bolanya menyentuh dagu Helena. Dalam hitungan menit berikutnya Thomas sudah menyemburkan kepuasannya dalam mulut Helena.

Ini pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini di tempat terbuka seperti ini. Sensasi nya jauh berbeda daripada yang sering dia dapatkan di kamar-kamar hotel.

Helena merapikan celana dan roknya, duduk disisi Thomas lagi. Mereka terdiam menikmati denyutan yang tersisa.

###

Ryo bolak-balik keluar masuk ruang pribadinya ke beranda outdoor, melihat ke arah pojok. Masih kosong. Dia sudah memerintahkan ke seluruh karyawannya, bahwa kursi dan meja di pojok itu tidak boleh ditempati oleh siapa pun juga!

Harus dalam keadaaan bersih! Harus buka mata 24 jam! Harus meletakkan tambulampot yang terbagus - yang paling lebat buahnya! Harus segera memberitahu dia apabila wanita yang bisu yang biasanya duduk disana telah tiba!

Tapi sudah hampir seminggu ini wanita itu tidak datang juga.

Dengan lemas Ryo menghempaskan dirinya ke kursi kerja dia yang nyaman. Baru saja dia hampir terlelap, pintu ruangannya diketuk pelan.

Ryo berteriak kencang.

"Kalau kamu hanya mau ngasi tahu kalau cewek itu belum datang, pergi saja! Tungguin di dekat meja dia!"

Pintu ruangannya dibuka perlahan. Hampir saja dia melempar sebungkus rokok ke arah pintu. Budeg apa ya karyawannya?? Benaknya bersumpah serapah.

Sebuah senyuman manis tersungging di wajah cantik yang nongol dari balik pintu.

Katarina!

Ryo terlonjak kaget, berdiri tiba-tiba membuat dia limbung, berusaha duduk lagi dengan menahan rasa malu, malah membuat dia terpeleset jatuh ke lantai.

Kesan pertama yang nggak menggoda banget….Ryo tersenyum grogi, tangannya menyentuh kupingnya 'salting'….

Katarina tertawa renyah. Dia mengepalkan tangan kananya di dadanya dan memutarnya.

Ryo nyengir, yang itu sih dia hapal. Cepat-cepat dia berdiri, mengangguk di depan Katarina. Permintaan maaf diterima.

Katarina membuat menempelkan tangan dengan jari terbuka di keningnya, seperti gerakan menghormat kepada bendera, dan menggerakkan tangannya beberapa kali.

Mulutnya membentuk kata "HALO"

"Halo juga…." Ryo menirukan gerakan Katarina dengan canggung.

Matanya tidak lepas dari sosok wanita yang berdiri di depannya ini. Masih dengan gaun katun tanpa lengan warna hijau muda-memperlihatkan kulit mulusnya- dengan wedges warna coklat di kakinya. Tas berukuran besar warna krem dan rambut yang dikepang asal membuat Katarina terlihat anggun….mempesona….

Ryo menunjuk ke sofa yang ada di pojok untuk mempersilahkan Katarina duduk. Ryo bergegas ke meja dia, menekan nomer extension dapurnya, menyebutkan makanan dan minuman yang biasa Katarina pesan.

Katarina tersenyum manis.

Tadinya dia nggak berniat bertemu dengan Ryo seperti ini. Dia hanya perlu mengambil bolpen dan notesnya yang ketinggalan waktu itu, tapi seorang karyawan tadi terlihat memelas, dan dari gerakan bibir karyawan itu yang berbicara pelan-pelan begitu menyadari Katarina nggak bisa mendengar suara dia.

Katarina menangkap omongan: "Bos saya marah-marah, menunggu Ibu nggak datang-datang. Kalau Ibu sekarang datang, tapi nggak bertemu Bapak, mampuslah saya…..saya bisa dipecat Bu…."

Karyawan itu mempersilahkan Katarina mengikuti langkahnya setelah melihat senyuman memaklumi tersungging di bibirnya.

Sebentar kemudian seorang karyawan masuk ke ruangan Ryo membawa makanan dan minuman yang tadi dipesan khusus oleh bos-nya: Nggak pake lama!

"Rus, lo bilang ke bagian kasir dan pintu depan ya, gua nggak mau diganggu siapapun, biarpun pak es-be-ye yang datang, gua nggak mau diganggu selama gua masih bareng dia. Ngerti?!" Ryo berkata dengan tegas ke karyawannya.

Karyawannya mengangguk berkali-kali. Baru kali ini dia melihat bos-nya aneh seperti ini setelah tiga tahun kerja di tempat ini.

Bagi dia, Pak Ryo Reinhart Toshi, seorang bos yang masih berusia muda, adalah bos paling baik - paling gaul - paling memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Bukan hanya dia yang beranggapan seperti itu, semua temannya juga mengagumi bos mereka.

Ryo menutup pintu pelan, menuju mejanya sendiri dan meraih tablet 10 inch-nya.

Dia duduk di seberang Katarina. Ryo tersenyum melihat Katarina tanpa sungkan melahap makanan dia.

Ryo mengetikkan sesuatu di tab nya:

SAYA PIKIR LEBIH BAIK KITA KOMUNIKASI DENGAN INI SAJA YA. SAYA LEBIH CEPAT NGETIK DARIPADA NULIS PAKAI BOLPEN.

Ryo menyodorkan Tab-nya ke Katarina.

Katarina:
NGGAK MASALAH, SAYA KESINI MAU AMBIL BOLPEN DAN NOTES SAYA. MAAF MEREPOTKAN.

Ryo:
OH NGGAK, NGGAK NGEREPOTIN KOK. SAYA SENANG BERTEMU KAMU LAGI KATARINA.
HABIS KAMU MAKAN, KAMU MAU SAYA AJAK KELILING MELIHAT KEBUN TAMBULAMPOT DI BELAKANG GEDUNG INI?

Katarina:
MAU BANGET! TAPI KALAU KAMU SIBUK JANGAN DIPAKSA YAAAA. SAYA NGGAK MAU GANGGU KAMU, LEBIH BAIK SAYA PULANG DULU. MUNGKIN LAIN KALI.

Ryo (membayangkan setumpuk faktur, nota dan paper work yang harus dia selesaikan hari ini):
NGGAK NGEREPOTIN SAMA SEKALI, SUER!  UDAH SAYA SURUH KARYAWAN YANG NGERJAIN KOK. SAYA NGGAK ADA KERJAAN LAGI HARI INI.

Katarina:
BAIKLAH. SAYA HABISKAN DULU INI YA. MAKANAN DI SINI ENAK BANGET! SAYA INGIN TAHU BAGAIMANA AWALNYA KAMU BISA BUAT TEMPAT SEPERTI INI.

Ryo tersenyum lagi, mengetik di Tab nya panjang lebar, bagaimana kecintaannya bertanam pohon yang berbuah, memikirkan konsep Café yang di tempat lain belum ada, sampai tentang hobby-nya di bidang kuliner.

Katarina membelalakkan matanya.

Katarina:
JADI YANG MENCIPTAKAN SEMUA MAKANAN DISINI ITU, KAMU?

Ryo mengangguk puas.

Katarina:   
WAHHH HEBAT! DARI DULU SAYA INGIN BISA BELAJAR MASAK, TAPI KELIHATANNYA SUSAH YA?

Ryo:
NGGAK SUSAH KOK! KAMU BISA BELAJAR DISINI KALAU MAU.

Kesempatan….pikir Ryo.

Katarina:
AH, NGGAK MAU, KAMU PASTI REPOT.

Ryo (Tiba-tiba melintas ide aneh di otaknya – menarik nafas dalam – mereka reka skenario buat wanita yang berhasil membuatnya gelisah siang malam):
KATA SIAPA SAYA REPOT? ATAU GINI SAJA, KEBETULAN SAYA BUTUH ASISTEN. KAMU MAU KERJA DI SINI?

Katarina:
ASISTEN KAMU? NGAPAIN?

Ryo (Memutar otaknya keras):
YAA BANTUIN SAYA NGERJAIN APAPUN YANG SAYA NGGAK KEPEGANG. MISALNYA NGUPAS KENTANG, NGUPAS BAWANG, BELANJA BAHAN MAKANAN, MENGATUR SUASANA KAFE INI, BIKININ SAYA KOPI DAN LAIN-LAIN
(Kok mirip tugas seorang istri ya? – Ryo menahan senyum takut ketahuan belangnya)

Katarina memutar bola matanya, waktu membaca penjelasan Ryo.  Terlihat tertarik. Ryo menggabungkan kedua telapak tangannya, terwujud doa dalam hati nya…...

Katarina:
TAPI SAYA HANYA BISA KERJA MMMMM….PALING 2 HARI DALAM SEMINGGU. NGGAK APA APA? HARI NYA PUN TERGANTUNG SITUASI, MASALAH NGGAK?

Ryo:  (Yes!! Thanks God, I knew that you are always giving me Your blessing…….)
SAYA RASA BISA DI ATUR KATARINA. KAMU BISA KERJA MULAI HARI INI KALAU KAMU MAU. SAYA BOLEH TAHU KENAPA HANYA 2 HARI?

Katarina:
SAYA ADA KERJAAN LAIN YANG NGGAK BISA DITINGGALKAN. BOLEH HARI INI. TAPI SERAGAMNYA?  

Ryo: (tersenyum lebar – membayangkan Katarina dalam balutan seragam karyawan – dengan tulisan di dada "ISTRI BOS")
ASISTEN SAYA NGGAK PERNAH PAKE SERAGAM. PAKAI BAJU INI JUGA NGGAK APA-APA. NANTI KAMU KOMUNIKASI DENGAN SAYA SAJA. NGGAK PERLU KE KARYAWAN LAIN. JELAS?

Katarina:
JELAS. ASISTEN KAMU YANG SEBELUMNYA KENAPA BERHENTI?

Ryo: 
DIA CUTI MELAHIRKAN TRUS JAGAIN BABY DIA, NGGAK MAU KERJA LAGI.
(Ryo ngembat alasan yang pertama kali nongol di benaknya)
   
Katarina:
BABY KAMU YAAAA

Ryo: (senyum sendirian, girang sendirian, mendengar Katarina mulai terlihat santai dan bisa bercanda, bisa menbuat Ryo ejakulasi –sendirian…)
SEMBARANGAN…BEGINI-BEGINI MASIH JEJAKA TULEN…..

Katarina tertawa lagi.

Ryo melihat semua makanan dan minuman Katarina ludes, habis!  Dengan membawa tab nya, dia mengulurkan tangan, mengajak "asisten barunya" ke kebun buahnya.

Katarina menyambut tangan Ryo, membiarkan tas nya tergeletak di sofa ruang itu.

Lahan kecil yang disebut kebun oleh Ryo adalah hamparan perkebunan khusus tambulampot seluas satu hektar.

Lahan itu terbagi menjadi beberapa area kecil, seperti bagian pencangkokan, bagian membuat pupuk kompos, pemeliharaan tambulampot yang berpenyakit, gudang pot-pot berukuran besar dan showroom tambulampot yang sudah jadi. Pengunjung café pun bisa membeli tambulampot dari tempat ini.

Katarina sangat mengagumi tempat itu, dengan bangga Ryo memperlihatkan tambulampot Duku, varietas yang tergolong susah untuk dijadikan tambulampot.

Katarina:
KALO DUREN ADA GA?

Ryo:
BELUM ADA YANG BISA BUAT TAMBULAMPOT DUREN. SUSAH BANGET.

Katarina:
JADI ADA BERAPA BUAH YANG SUDAH KAMU BUAT?

Ryo tampak menghitung dalam hati.

Ryo:
KITA PUNYA 18 AN VARIETAS DISINI.

Katarina membelalakkan matanya, bibirnya terbuka lebar.

Sial!

 Jakun Ryo naik turun tiap kali melihat bibir Katarina yang merah alami….ranum…segar…..

Sabar Ryo…sabar…. Ryo menekan nafsunya  sekuat mungkin. Nafsu beberapa menit nggak setara dengan kemungkinan kehilangan Katarina selamanya….

Ryo mengajak Katarina berkeliling lagi. Disepanjang perjalanan mereka, Katarina selalu mendekap erat lengan Ryo yang kekar ke dadanya. Tanah setengah basah yang mereka lintasi membuatnya kesulitan berjalan cepat.

Katarina berjanji dalam hati akan selalu memakai sepatu sandalnya yang datar. Wedges ternyata nggak cocok buat berjalan di tengah kebun seperti ini – keluh Katarina.

Dahi Katarina sudah basah oleh keringat panas terik matahari siang itu. Ryo menyekanya dengan tangannya. Katarina hanya tersipu mendapatkan perlakuan lembut dari Ryo – bos barunya…..

Sesekali jari-jemari mereka melekat erat seakan tidak bisa dilepaskan lagi…..

###

Dua minggu berlalu sejak kejadian ciuman dari orang asing bernama Bastian Margo itu. Silvia gelisah setiap kali mengingat ciuman Bastian yang kuat dan liar…

Tapi Silvia tidak pernah bercerita ke Renny atau siapapun, apa yang terjadi antara Bastian dan dia.

Laki-laki itu mungkin hanya iseng, dia nggak pernah datang kesini lagi sejak kejadian itu…..Silvia mengeluh dalam hati.

"Silvia…."

Silvia mendongak, matanya bertemu mata Bastian. BASTIAN!

"Bastian….." Silvia memanggil perlahan. Wajahnya langsung memerah panas, tanpa dia sengaja untuk mengingat, memory ciuman itu langsung berkelebat begitu saja.

Bastian tersenyum, dia juga punya pikiran yang sama. Semalam dia sudah memutuskan untuk menemui Silvia lagi, setelah dua minggu terombang-ambing perasaan yang tidak menentu. Ada ketakutan Silvia tidak mau menemuinya lagi, dia harus memperbaiki hubungan yang baginya dimulai dengan cara yang tidak wajar….

Silvia memperhatikan wajah Bastian yang macho, bekas cukuran kumis dan janggutnya terlihat samar. Kelimis.

"Boleh kita berkenalan sekali lagi Silvia? Nama saya Bastian Margo." Bastian mengulurkan tangannya.

"Saya Silvia…" Silvia menerima uluran tangan Bastian. Getaran listrik menyambar lagi ketika telapak tangan mereka bersentuhan. Silvia dan Bastian  sama-sama menarik tangan mereka secepat kilat.

"Saya mau mengembalikan buku, Silvia….dan bentar lagi jam makan siang, kamu mau makan bareng saya?" Bastian menatap cemas..dan penuh harap.

Silvia tersenyum dan mengangguk kecil.

Bastian menyerahkan buku dan duduk di kursi khusus untuk tamu yang datang membaca di tempat.

Bastian mengambil koran harian dari tempat koran dan mulai membaca, mencoba menghabiskan 40 menit waktu menunggu Silvia makan siang.

Sepanjang 40 menit berikutnya Silvia merasa susah berkonsentrasi. Punggung Bastian yang menghadap ke arahnya tampak lebar dan kokoh, aroma maskulinnya masih terendus di hidungnya. Silvia membayangkan alangkah nyamannya membaringkan kepalanya di punggung itu…..

Ketika waktu pas jam 12 siang, Bastian sudah berdiri siap di depan meja Silvia.

Berdua mereka ke kantin di dekat perpustakaan.

Bastian makan dengan lahap, sementara Silvia merasa perutnya melilit tegang, makanan di depannya hanya diaduk-aduknya perlahan. Perasaannya  kacau.

"Makanan kamu nggak enak Sil? Coba ini…" Bastian mengambil sesendok makanan dari piringnya dan menyodorkannya ke mulut Silvia. Silvia terlalu gugup untuk menolak.

"Enak kan?" Silvia mengangguk,  bukan makanannya yang enak Bas, tapi cara kamu memperlakukan aku, itu yang membuat enak….batin Silvia berkata malu…

Sesedok demi sesendok Bastian menyuapi Silvia, bergantian dengan dirinya sendiri.

Ketika makanannya habis, dia tarik piring Silvia, dan mulai lagi menyuapi buat mereka berdua.

Silvia merasa tersanjung, beberapa mata wanita di tempat itu melirik dengan tatapan iri. Ohhh Bastian memang sanggup membuat wanita bertekuk lutut dengan sekali senyuman saja!

"Kamu bilang tadi kamu hanya  3 hari dalam seminggu  kerja di sini? Sisa hari yang lain?"

"Ng….Saya di rumah aja….. Ada Blog yang saya kelola Bas. Blog kecil, tempat saya menuangkan hobby menulis. Atau melayani teman-teman yang mau curhat disana."

"Apa nama Blog kamu?" tanya Bastian lagi.

"Rumah Hati dot com"

Bastian tersenyum, berjanji dalam hati akan mejelajah blog Silvia segera.

"Kamu kerja dimana Bas?"

"Aku psikiater Sil. Praktek di rumah sakit 2 hari, sisa hari yang lain aku praktek di rumah" jelas Bastian.

"Seperti Psikolog?"

"Bukan psikolog, tapi Psikiater. Dokter spesialis kejiwaan. Ada perbedaan antara psikolog dan psikiater. Psikolog….mmm…dalam dunia kedokteran itu semacam dokter umum, tapi kalau psikiater semacam dokter spesialis. Psikolog nggak boleh memberikan resep obat, sedangkan psikiater boleh memberikan resep obat." Bastian berusaha menjelaskan dengan bahasa awam.

Silvia mengangguk mengerti.

"Aku pengen ke tempat kamu boleh nggak?" Bastian bertanya tiba-tiba.

Silvia terhenyak, berpikir sebentar lalu mengiyakan.

"Tapi berjanjilah kalau kamu akan datang ke tempat kostku dengan perjanjian Bas. Telpon aku dulu sebelum kamu berangkat."

"Aku janji Sil…." Bastian tersenyum, menggenggam jemari lentik Silvia dalam tangannya.

"Sore ini aku antar pulang kamu ya?" 

Silvia mengangguk lagi, rona panas terasa menjalar di wajahnya.

Jam 5 sore tepat, Bastian sudah nongkrong di tempat parkir, di dalam mobil Jazz abu abu tuanya. Sesuai permintaan Silvia, Bastian nunggu di mobil, dia tidak mau terjadi  kehebohan di dalam perpus karena godaan Renny.

Sepanjang jalan selama 1 jam 15 menit, Bastian berusaha tidak melepaskan genggaman tangannya dari Silvia.

Alunan lagu slow rock Forever Love XJapan terlantun merdu mengiringi hati mereka berdua yang kasmaran……


Oh tell me why

All I see is blue in my heart

Will you stay with me

Kaze ga sugisaru made

Mata afuredasu all my tears

Forever love 

Forever dream


Perenungannya selama beberapa hari ini sudah memantapkan hatinya bahwa Silvia adalah wanita yang selama ini dia cari-cari…..

Ada sesuatu di dalam diri Silvia yang membuat Bastian penasaran, ingin mengenal lebih dalam lagi-lagi-lagi dan lagi….

Silvia mempersilahkan Bastian masuk ke dalam kamar kostnya, sebenarnya berupa Paviliun.

Ruangan 4 x 4 meter.  Kamar mandi pribadi di dalam. Ber – AC.

Bastian menilai kamar Silvia cukup nyaman, 1 tempat tidur single, 1 meja kecil dengan kursi yang serasi, ada laptop terbuka di atasnya, sebuah lemari baju kecil bercermin segiempat dan sebuah kulkas. Ada rak mungil dekat tempat tidurnya, diatas rak tersusun rapi semua alat kosmetika nya.

"Aku mandi dulu sebentar Bas.... anggap rumah sendiri, kalau mau minum ambil di kulkas.

Bastian mengangguk.

Selagi Silvia di kamar mandi, dia membuka kulkas. Kulkas satu pintu yang bersih dan rapi. Beberapa jenis buah ada di sana. Susu rasa vanilla yang sudah tersisa sedikit, es krim rasa coklat strawberry, bolu gulung, minuman soda kalengan dan berbotol-botol air putih dingin.

Bastian mengambil gelas tumbler milik Silvia di meja yang tadi dia bawa ke perpustakaan. Menuang air dingin dan menegaknya segera.

Dia berencana mengajak Silvia nonton malam ini.

"Bas, kalau kamu lapar, ada roti keju dan bolu gulung di kulkas!" Silvia berteriak dari kamar mandi.

Bastian meng iya kan, tapi agak kebingungan dia karena seingat dia tidak ada roti keju di dalam kulkas. Mungkin Silvia lupa.

Silvia keluar kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap, celana jeans dan T shirt putihnya.

Bastian mengagumi wajah Silvia yang putih bersih bersinar segar. Silvia duduk di  sebelah Bastian, di kasurnya. Menyisir cepat rambut dan mengikatnya ke belakang. Bastian menghirup dalam-dalam aroma yang keluar dari badan Silvia. Memabukkan.

Jari telunjuknya menyentuh leher Silvia, dari belakang telinga, menyusuri leher putihnya, berhenti di pangkal bahu. Silvia mengejang seketika, diam kaku tidak bergerak.

Bastian menelan ludah. Dia menyadari baru saja menekan tombol 'berbahaya'. Dilanjutkan atau tidak?

Nafas Bastian terdengar berat terengah-engah. Silvia tetap membeku. Pikirannya kacau. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain.

Tapi Bastian sudah mampu membuat benteng pertahanannya runtuh seketika.

Bastian mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Silvia yang tanpa anting. Menggigit perlahan. Silvia memejamkan matanya. Bastian  menjulurkan lidahnya, membelai ujung telinga yang terasa dingin, mengecup dengan bibirnya sesekali. Lidahnya turun ke bawah, leher jenjang Silvia dijelajahinya perlahan…..Silvia menggelinjang kuat.

Bastian merengkuh wajah Silvia dengan kedua tangannya, menatap kedua matanya dengan mesra,  menciumi kening, pelipis, pipi, hidung dan bibir Silvia.

Lidah Bastian menjilati bibir Silvia yang gemetar.

Silvia begitu polos…..dia nggak punya banyak pengalaman dalam hal begini, Bastian menilai dalam hati.

Perlahan dia membuka bibir Silvia dengan lidahnya. Lembut. Silvia membuka bibirnya perlahan. Bastian merasakan penerimaan Silvia, dia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Silvia, berputar-putar dan membelit lidah Silvia.

Bastian mengambil kedua tangan Silvia, meletakkannya di kedua bahunya, sedangkan kedua tangannya meraba-raba bahu, punggung, pinggang dan pinggul Silvia. Silvia merebahkan kepalanya di dada Bastian, mendengarkan suara jantung yang berdetak kencang, mencium aroma maskulinnya. Kedua tangannya memeluk leher Bastian, memainkan rambut belakangnya yang tercukur rapi…..

"Kita berangkat sekarang Silvia?" suara serak Bastian terdengar.

Silvia mengangguk, tapi dia enggan melepaskan pelukannya. Dia ingin selamanya begini.

Bastian melepaskan lengan Silvia dari lehernya, mengecup telapak tangan Silvia dengan mesra.

Silvia meraih tas tangannya bersiap pergi.

"Tunggu bentar Sil…." pinta Bastian yang masih duduk di kasur.

"Kenapa Bas?" tanya Silvia bingung.

Bastian menunjuk dengan jarinya ke arah selangkangannya sendiri yang terlihat menggelembung besar.

Silvia tersipu.

"Harus dibuat tidur dulu Sil, daripada orang-orang gempar melihat aku begini…"

Silvia tertawa geli, panas di wajahnya makin menjadi.

Butuh beberapa saat bagi Bastian untuk menenangkan 'adiknya' dengan berusaha membayangkan wajah Eko teman karibnya yang seratus persen pasti akan membuat gairahnya merosot ke titik nol sampai minus seratus!

Poskan Komentar

20 comments

Hihihi
Keren mb kaye
Ga sabar nunggu kelanjutannya ☺
Makasih mas yudi :D

˚°º≈<3Sîþ(y)<3Sîþ(y)<3Sîþ(y)≈º°˚

ahaaaa.... ryo so sweet xD aw :p

kenapa aku ngebayangin bastian ama deni sumargo yakk dari kemaren? #plaakk^^V

suka suka suka xxD
ditunggu lanjutannya segera mba KY ;D ahahahhaaa...
Makasii :)

suka bgt sama ryo...

gak sabar nunggu kelanjutanna..
thx ma Yudi n mbak KY

Haaaa,,bisa gt yah.. Bastian..bastian...
Ummm galau sk sm yg mn,,hehehe
Mksh Mba KY n Mas Yudi

Makasih. Mba KY n mas admin

Hahahaa..kasian eko jd korban
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya smuanya

Salam ya mba buat eko :p

mb kaye bagus critanya.. dpt ide dr mn sih mb??
suka tiga2nya.. bsk posting lg ya om mimin.. *peyuk erat mb kaye*
mas mimin cup2 :* mùάçĥº°ºmùάçĥº°ºmùάçĥ :*

mb kaye bagus critanya.. dpt ide dr mn sih mb??
suka tiga2nya.. bsk posting lg ya om mimin.. *peyuk erat mb kaye*
mas mimin cup2 :* mùάçĥº°ºmùάçĥº°ºmùάçĥ :*

mb kaye bagus critanya.. dpt ide dr mn sih mb??
suka tiga2nya.. bsk posting lg ya om mimin.. *peyuk erat mb kaye*
mas mimin cup2 :* mùάçĥº°ºmùάçĥº°ºmùάçĥ :*

Ceritañ baguuussss...lucuuu...sukaaa..^^

Kya kya kya...bagian bastian paling lucu...haha..bagus semua ceritanya...4 thumbs up...

Kya kya kya...bagian bastian paling lucu...haha..bagus semua ceritanya...4 thumbs up...

whuahahahahahaaa,,,
TRB ~ Thomas + Ryo + Bastian ~ yang sungguh beruntung,,,hhehehehhhhehee

Maakaasih mbak Kaye & mas Yudi,,

hihi... kenapa bayangin eko? ahhh aku suka sama ryo ^^

Dri ke 3 cewek ... Kya Πγª Silvia nich Ɣªήğ blm muncul problem Πγª ...

Waaaa ad lagunya xjapan nongol d sini..kyaaa galau deh..
Makasih mb KY n para admin..

Yo... semoga neh cerita gak berakhir seperti yang saia kira....... jadi curiga
#bakar menyan nyari wangsit

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top