17

bh-thumb
Aku menyeret diriku keluar dari tempat tidur lebih awal pagi ini untuk pergi ke gym bersama Dante, meskipun ototku masih terasa memanas karena latihan dansa kemarin malam.

Dante tetap merasa gelisah setelah kemarin pagi. Tidak ada yang khusus yang bisa aku katakan, tapi dia terlihat…berbeda dari biasanya. Aku mendapati dia menatapku setidaknya lusinan kali, benar-benar tenggelam dalam pikiran. Aku tidak yakin semua itu tentang apa, tapi sangat berharap dia berhenti khawatir saat aku datang ke gym pagi ini.

Memakai tank top, celana pendek lari dan sneakers, aku mengambil tas garmen yang sudah kuisi dengan pakaian kerjaku untuk hari ini, tas penuh dengan pakaian untuk malam ini, dan kemudian aku berangkat.

Aku sampai di klub kesehatan (gym) pukul enam tiga puluh, dan aku tidak melihat Dante, jadi aku mendaftar dan menaruh pakaianku di ruang ganti, menghabiskan beberapa menit menata lokerku sehingga aku siap untuk pergi saat aku selesai latihan.

Keluar dari ruang ganti, aku menemukan Dante berdiri di luar ruangan menunggu di pintu.

Sambil tersenyum, aku berjalan ke arahnya. Dia betul-betul terlihat lega saat melihatku, aneh.

Berjalan kearah Dante aku tersenyum dan bertanya apakah dia siap untuk lari. Dante mengangguk setuju dan kami naik tangga ke lantai tiga dan kemudian menemukan tempat treadmill yang bersebelahan. Mengatur kecepatan kami untuk pemanasan, kami berdua mulai berjalan.

Sepuluh menit berikutnya, kami menyelesaikan pemanasan kami untuk jogging dan kemudian kami berdua mengatur kecepatan lebih tinggi dan mulai berlari. Pikiranku jernih saat aku berlari, yang mana aku menikmatinya. Ini juga menyenangkan meskipun merasa bersalah melihat tubuh Dante bergerak. Dia cenderung panas untuk memulainya, tapi saat dia berkeringat dan ototnya bergerak…oh wow. Ini adalah daya tarik seks yang paling ampuh dan itu selalu mengganggu pikiranku setiap waktu.

Setelah empat puluh lima menit, kami berdua selesai. Berjalan keluar dari daerah cardio, kami turun ke lantai dua dan kemudian berjalan ke kafe. Dante memesankan yang biasanya untuk kami - kopi panas dan bacon, telur dan bagel keju untuk dia, dan jus jeruk dengan telur dan bagel keju untukku.

Aku memilih meja dan kemudian duduk dan menunggu dia membawa makanan. Pelayanan disini cepat, dan dia kembali kembali beberapa menit dengan pesanan kami. Mengambil kursi dia membagikan makanan, dan kami memakannya.

Kami menghabiskan beberapa menit bicara tentang isu politik lokal yang membuat kami tertarik dan dia membawa percakapan kami ke rencana untuk malam ini karena kami akan menonton Keith Urban.

Kami memutuskan akan meninggalkan tempat kerja sekitar pukul setengah enam, pergi ke tempat burger favorit kami untuk makan malam dan kemudian menuju ke Staples Center untuk menonton konser. Ini akan jadi hari yang panjang, tapi aku senang dengan pertunjukkan malam ini, dan begitu juga dia.

Setelah kami selesai makan, kami menuju ke ruang ganti dan berjalan terpisah. Aku mandi dan berpakaian untuk bekerja dalam waktu singkat dan tepat dibelakang Dante saat sampai di kantor. Kami berdua berada di meja pukul setengah sembilan.

***

Hari ini berlalu dengan tidak jelas dan hari ini terasa seolah aku hanya duduk saat Dante memanggilku pukul lima lima belas. Meraih tasku, aku berjalan ke kamar mandi dikantornya untuk berganti pakaian, muncul beberapa menit kemudian memakai celana jeans pendek, tank top dan sepasang sandal. Menata rambutku kebelakang menjadi kepang rambut ala Prancis dan aku siap pergi.

Kantor kami sepi, jadi kupikir Dante ganti baju di kamar mandi Damien. Aku duduk disofa di ruang duduk kecil dikantor Dante dan meneguk pemandangan mengagumkan dari Los Angeles.

Ruangan ini dan pemandangan Los Angeles adalah salah satu daya tarik saat Dante meeting dengan kliennya dikantornya. Ini menyenangkan untuk dilakukan, memberikanmu perasaan seolah melayang di atas kota. Banyak kesepakatan bisnis yang telah selesai setelah klien melihat jangkauan yang bisa dibangun oleh Hart International.

Aku mendengar langkah kaki dan berbalik dan melihat Dante berjalan masuk ke kantor. Dia memakai celana jeans yang mempertontonan dia di semua wilayah yang tepat dan t-shirt yang merentang disepanjang dada yang mengagumkan, lengan baju membungkus lengan berototnya.

Perutku berdenyut dan jantungku melompat lebih kencang saat aku melihat dia menuju kearahku. Ini adalah dosa besar betapa seksinya dia. Menggelengkan kepala dalam hati, aku berdiri dan berjalan melintasi ruangan kearahnya.

Melihat pakaianku, dia meletakkan tangannya di sepanjang rambutnya dan menghembuskan nafas. "Sial Rina. Aku harus menjaga untuk tetap berada disekitarmu malam ini. Kakimu terlihat mengagumkan memakai celana pendek itu."

Aku menyeringai dan menggelengkan kepalaku padanya. Dia benar-benar seorang perayu. "Kau penyanjung, tapi kupikir aku aman Dante. Ini hanya kaki."

Menggelengkan kepalanya, dia tertawa tersedak. "Oh tentu saja itu hanya kaki. Aku tidak berpikir kau melihat dirimu dengan sangat baik Sabrina. Kau mungkin ingin mengetahuinya."

Aku mengangkat bahu dan menggelengkan kepalaku. Aku tentunya bukanlah glamazon (model tinggi cantik berkaki panjang) seperti Dante bot, jadi aku yakin dia hanya bersikap baik.

Berjalan turun ke garasi parkir kami masuk ke Range Rover Dante dan menuju ke restoran burger favorit kami. Kesibukan makan malam dimulai, tapi kami dengan cepat dapat tempat duduk karena aku telah memesan tempat. Tanpa melihat menu kami berdua memesan burger keju deluxe dengan ekstra acar, kentang goreng dan onion ring, dan milk shake hitam dan putih untuk kami berdua.

Duduk sambil menunggu makanan, kami mulai ngobrol. Aku melihat Dante gelisah, tidak seperti biasanya, tapi aku tidak tahu apakah aku harus membicarakannya atau tidak. Dia bersikap aneh sejak kemarin dan aku tidak ingin merusak suasana hatinya.

Aku masih berpikir tentang betapa anehnya dia saat dia berkata tanpa berpikir dulu, "Jadi, siapa pria yang berdansa bersamamu?"

Ah. Sekarang aku yang gelisah. Dia sedang dalam mode detektif/pelindung. Aku tersenyum dan menjawab pertanyaannya. "Namanya Marcus. Dia partner berhenti dan pelatihku bertanya apakah aku mau ikut dan membantunya, jadi aku melakukannya."

"Seperti apa dia, Marcus ini? Muda? Tua? Tampan? Apa pekerjaannya? Apakah kau bertemu dia disamping menari? Apakah kau tertarik padanya? Apakah dia suka kamu?"

Wow. Ini benar benar pertanyaan beruntun. Kupikir ini yang dia lakukan saat Dominique dan Delilah berkencan.

"Dia sedikit lebih muda dariku, dia pelatih pribadi dan menari hanya hobinya. Kami pergi makan malam setelah berdansa, tapi selain itu kami tidak punya hubungan sosial lainnya. Dia sangat tampan, tapi tidak, kupikir aku tidak tertarik padanya."

Menjalankan tangannya ke rambutnya, dia mempertimbangkan jawabanku selama beberapa saat. "Jadi, kau belum pergi keluar….tapi kau mungkin? Dan apa maksudmu kau tidak tertarik padanya? Terdengar seolah kau memagari diri. Apakah pria ini layak dipertimbangkan?"

Aku berhenti pada gigitan terakhir. "Um, apa maksud 'layak dipertimbangkan'?"

Mengerutkan dahi padaku dia berkata. "Maksudnya, apakah kau cukup tertarik untuk mempertimbangkan dia sebagai pria yang potensial dalam hidupmu?"

Mengangkat bahu, aku bermain-main dengan sedotan sodaku. Aku malu membicarakan hal ini dengan Dante, jadi aku menghindar untuk menatapnya. "Aku tak tahu. Dia menarik. Tapi aku tidak tertarik padanya. Tapi ini sudah lewat setahun sejak aku berkencan dengan seseorang, dan tiga tahun sejak aku dalam suatu hubungan. Kupikir sekarang waktunya memikirkan masa depan. Aku berpikir tentang menerima ajakan kencannya, aku hanya tidak bisa melihat ini akan menuju kearah manapun. Tapi siapa tahu? Mungkin dia akan mengejutkanku. Malah, mungkin aku yang mengejutkan diriku sendiri. Sekarang waktunya untuk mencoba tertarik pada seseorang yang bisa kumiliki bukannya tergila-gila pada…"

Aku berhenti mendadak, malu oleh apa yang hampir saja kuucapkan. Ini adalah kelemahan dari betapa dekatnya kami. Aku berbagi hampir segalanya dengan Dante, kecuali fakta bahwa aku dilanda masalah nafsu yang parah untuknya. Aku hampir saja membiarkan kucing keluar dari karung.

Dia terlihat tidak terlalu senang saat aku balik menatapnya, dan membutuhkan waktu beberapa detik hingga dia bicara.

"Jadi ada seseorang yang membuatmu tertarik. Menilai dari apa yang baru saja kau katakan, kupikir ini tentang seseorang yang kau rasa tidak bisa kau miliki. Tolong bilang padaku kau tidak tertarik pada seseorang yang sudah menikah."

Gelisah dikursiku, aku mengembuskan nafas frustasi. "Ini jelas bukan pria yang sudah menikah. Aku tidak pernah melakukannya…Ini adalah…well, ini bukanlah sesuatu yang ingin kubicarakan. Jadi tolong, bisakah kita berhenti?"

Aku terselamatkan oleh kedatangan makan malam kami. Sayang sekali percakapan ini telah membunuh selera makanku jadi aku hanya memakan burgerku. Dante pasti tidak lapar, karena dia juga makan sedikit.

Melegakan saat piring kami diambil dan kami berdiri untuk pergi. Berjalan ke mobil, kami menuju ke Staples Center. Aku menaruh Keith Urban di iPod Dante dan menyetelnya di stereo mobil terlalu keras sehingga kita sulit ngobrol, dan perjalanan terlewat tanpa obrolan lebih lanjut.

Suasan hati membaik saat kami tiba di Staples Center. Salah satu hal favoritku pergi ke konser bersama Dante adalah bahwa dia selalu memegang tanganku saat kami melangkah di keramaian agar kami tidak terpisah.

Bertepatan dengan waktu kami masuk dia meraih tanganku dan kami berjalan melewati kerumunan orang dan membeli bir bersama, kemudian menuju ke lantai tempat duduk kami. Tanganku menggelenyar oleh sentuhannya dan aku merasa sangat gugup.

Ini adalah pertama kali kami berdua pergi menonton konser Keith Urbah, dan itu mengagumkan. Dia benar benar seorang penghibur, dan dia memainkan semua lagu favoritku. Kami menghabiskan dua setengah jam berikutnya menari, tersenyum dan bernyanyi terus, menikmati pertunjukkan itu secara keseluruhan.

Setelah pertunjukkan dia meraih tanganku lagi dan kami berjalan ke mobil. Kami membicarakan konser sepanjang jalan kembali ke garasi kantor, kami setuju menempatkan Keith Urban dalam daftar "harus ditonton" untuk turnya mendatang.

Kami berada di parkiran tempat kerja lewat tengah malam dan setelah mengatakan salam perpisahan aku masuk ke  mobil dan pulang, tetap menyanyikan lagu Keith favoritku, "Long Hot Summer."

Aku sampai dirumah lewat jam satu, dan setelah mencuci muka dan berganti pakaian tidur, aku naik ke ranjang. Meskipun kelelahan, aku menghabiskan satu jam berikutnya berbaring dengan gelisah, berpikir tentang Dante dan percakapan kami saat makan malam.

Aku tahu aku menari sedikit terlalu dekat dengan batas saat ini. Aku akan sangat malu jika dia tahu perasaanku, karena aku juga tahu dia akan merasa kurang nyaman, atau lebih buruk lagi, bahwa dia merasa kasihan padaku. Aku perlu mengingatnya bahwa mungkin ini akan menghancurkan persahabatan kami jika dia tahu bagaimana perasaanku padanya, karena perasaanku padanya ditakdirkan hanya sepihak dan tidak pernah terbalas.

Dengan pikiran yang menyedihkan itu, aku tertidur.

***

Penerjemah: +Wulan Sasongko
Editor: Yana

Poskan Komentar

17 comments

makasih mbak wulan sasongko n mbak yans

Dikitt bgtt sihhhhh.. Gimme moreeeee...

makasih mbk wulan dan mbk yana dan mas yudi..
^_^

penasaran ama warning di sinopsis. ga sabar nunggu bagian yang itu hehehe
thanks ya all :*

kok dikit mba Wulan bab nya??
Lgi doong ???

kasiaaaan Sabrina.. Cinta terpendam :'(
Thanks mba Wulan, mba Yana dan Mas Yudi..

Hmmm...penasaran klo ini diceritain dr POV si dante pasti dlm hatinya doi tuh sebenernya jg udh tergila2 abieshh sama rina tp blm pny nyali buat nyatain..wkwkwk #sotoy mode on# novel ini...aku suka...aku suka...thx very much for the tl angels n mr boz mimin.

wulan,,,,makasiiih,,
Bu RT,,makasiih,,
P' RT,,makaassiihh,,

mb wulan n mb yana n mas mimin..tararenkyu
love dante n rina..

Enjoy all,maaf telat xixixixixi......deg degan nunggu komen teman teman.

aiiihh... si dante klu suka mah bilang ajahh...
sabar ya rina^^ *pukpuk

makasii mba wulan dan portalnovel tentunyah~~ :)

Kya Πγª malah Dante Ɣªήğ kliatan bgt klo tergila2 sma Sabrina...

Makasih mba wulan n mas yudi... aku penasaraaaan. Bs minta epubnya, mba. Or anyone, email ke aku. diena.rosse@yahoo.com
Tengkyuu

kalo gak bilang, bisa2 sabrina disambar marcus tuh. kalo dah disambar baru nyaho ^^

Dante mulai kepanasaaan..
*nyalain kompor lagi, biar makin panaaass..
hahahaha...
makasih mbak Wulan, makasih Mas Yudi, makasih mbak Yana

Makasih mbak wulan
gak sabar nunggu percikan listrik danta vs rina

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top