25

bh-thumb
Aku baru saja santai ketika sadar bahwa lampu bensin menyala. Sekarang aku tahu mengapa Brooke membawa mobilku. Sial, hari ini tidak akan menjadi lebih baik. Aku meneriakkan satu umpatan keras, tapi tak punya pilihan selain menuju ke pintu keluar berikutnya untuk mengisi bensin.

Di pom bensin, aku menarik pompa dan meraih dompetku...kemudian menyadari bahwa aku terburu-buru saat keluar dari rumah, aku meninggalkannya dimeja dapur. Aku bertanya-tanya apakah hari ini ingin mencoba membunuhku, dan aku mempertimbangkan untuk menelepon Dante dan mengabari kalau aku sakit dan menyewa tukang kunci agar aku bisa masuk kembali ke dalam rumahku sehingga aku bisa bersembunyi dari dunia ini sampai besok pagi.

Aku mendesah, aku tahu kalau aku tidak memiliki pilihan itu. Dante bersikeras mengajakku setiap kali dia pergi untuk memeriksa lokasi gedung, dan itu merupakan bangunan terbesar di Amerika yang dibangun oleh perusahaan pada tahun ini, gedung bertingkat sangat eksklusif di Century City yang berarti dia tidak akan pergi apabila aku tidak berada di sana. Harga minimal untuk sebuah kondominium di gedung itu empat juta dolar, dan ada banyak urusan yang harus dikerjakan karena pembeli semakin banyak yang datang bergabung dengan permintaan yang berbeda-beda.

Dia sama sekali tidak akan pergi jika aku tidak datang ke kantor, ini berarti ia akan menjadwal ulang sambil melihat waktu yang kosong - sesuatu yang tidak ingin aku lakukan. Hal ini akan menjadi tidak sopan sampai semua orang ikut terganggu karena aku mengalami hari yang buruk.

Aku melihat jarum bensin dan memutuskan aku harus mengambil risiko itu dan melanjutkan perjalananku, mengatakan pada diri sendiri bahwa setelah bensin habis, paling tidak aku sudah berjalan sampai lima belas mil sebelum aku benar-benar kehabisan bensin, dan tinggal enam mil lagi untuk sampai ke kantor. Aku mengabaikan pikiranku yang mengganggu karena aku tidak yakin sampai berapa mil Brooke mengemudi setelah lampu menyala. Berdoa bahwa dia tidak mengemudikannya telalu jauh, aku keluar dari pom bensin dan menuju kembali ke jalan bebas hambatan.

Hari ini menjadi apa adanya, Aku mengendarai sekitar empat mil sebelum mobil mulai bergoncang. Ini benar-benar waktu yang tidak baik. Aku menepi, menurunkan kaca jendela kebawah sehingga aku tidak berkeringat sampai membuatku mati, menyalakan lampu hazards-ku, dan mematikan mesin mobil. Sambil mendesah aku bersandar, Aku mengambil iPhone-ku dan menekan nomor untuk menelepon Dante.

Dia mengangkatnya sebelum dering pertama berakhir. Aku heran mendengar nadanya saat dia menggeram ditelepon "Ya Tuhan Rina! Kau dimana?" Untuk sesaat, aku merasa bingung.

Aku sedikit tergagap saat aku melibatkan dirinya di pagi hariku, yang akhirnya mengatakan kepadanya bahwa saat ini aku menepi di sisi jalan bebas hambatan. Aku memberinya gambaran tempat lokasiku dan bertanya apakah ia bisa mengirimkan seseorang untuk datang menjemputku. Aku terkejut ketika dia membentakku dan mengatakan bahwa dia sendiri yang akan menjemput dan akan berada disana dalam sepuluh menit.

Aku mengangkat bahu mendengar kejengkelannya. Dante tak pernah berteriak padaku, dan aku tidak berpikir dia akan memulai itu karena aku mengalami pagi yang buruk.

Aku bergeser untuk duduk di kursi penumpang sehingga aku tidak perlu berjalan melewati jalan lalu lintas begitu Dante tiba. Aku lelah, frustrasi dengan peristiwa pagi ini, dan sekarang keringatku mengucur karena cuaca yang panas. Dan ini tidak akan membantu karena mobilku berwarna hitam dengan kursi kulit hitam. Aku merasa seperti dipanggang jadi aku membuka dua kancing teratas di bajuku dan mulai mengipasi diriku sendiri dengan kipas mobil manual yang kuambil dari laci dasbor.

Tepat sepuluh menit kemudian, Dante menepi dibelakangku dengan mengendarai Range Rover hitamnya. Aku keluar dari mobil, mengunci mobil dengan remote dan berjalan dengan cepat kemobilnya dan duduk kekursi. Untung mobilnya memiliki udara yang sangat dingin dan aku berpaling kepadanya dengan senyum yang lebar dan berkata, "Terima kasih Tuhan untuk AC ini! Kau adalah pahlawanku Dante. Terima kasih untuk datang menjemp..."

Aku berhenti tiba-tiba dan tidak menyelesaikan kalimatku saat aku mendengar Dante menarik napas dengan keras. Aku terkejut melihat matanya terpaku kearah bagian blusku yang terbuka.

Aku melihat ke bawah untuk melihat apa yang dia lihat. Oh wow. Karena kancingku terbuka, payudaraku benar-benar muncul keluar dari blusku. Aku terkejut karena bagian atas bra sutra putihku terlihat. Saat aku melihat, tetesan keringat mengalir ke dadaku, dan menghilang ke dalam bra itu.

Sambil tertawa kecil dengan gelisah, Aku menutup dua kancingku yang telah kulepaskan. Aku melihat kembali kearah Dante dan alisku naik ketika aku melihat matanya tertutup dan aku bisa mendengar bahwa ia menghitung mundur dari angka sepuluh dengan sangat pelan.

Aku benar-benar bingung dengan sikapnya. Aku bertanya-tanya apa yang bisa kukatakan untuk meredakan ketegangannya ketika mata hijaunya terbuka dan mengunci ke mataku. Dia menarik napas dalam-dalam masuk dan keluar, dan aku berasumsi bahwa dia sedang menenangkan dirinya sendiri. Aku tersenyum padanya, tapi itu berubah dengan cepat menjadi cemberut ketika ia melotot kearahku.

"Sabrina, apa yang sedang terjadi denganmu? Kau tidak pernah terlambat. Bahkan, kau biasanya datang dua puluh menit lebih awal. Ini yang kedua kalinya kau terlambat dalam satu bulan ini! Dan Ya Tuhan! Kehabisan bensin dijalan tol? Kau bisa saja terbunuh!" Dia  menghentikan omelannya dan kembali menatapku, yang menyiratkan padaku kalau aku lebih baik mengatakan sesuatu, tapi aku benar-benar shock oleh kemarahannya.

"Dante...aku...aku baik-baik saja. Aku minta maaf karena aku sudah terlambat dua kali. Aku panik pagi ini karena sudah terlambat dan aku meninggalkan rumah tanpa membawa tasku. Maaf aku sudah mengganggumu, tapi..."

Dante mengepalkan tangannya dan menghantam ke dashboard. Aku melompat dari kursiku. "Mengganggu? Kau tidak pernah mengganggu. Jangan bersikap bodoh!"

Aku ternganga menatapnya, terkejut dengan semburan kemarahannya, tapi aku tetap diam, menunggu sampai ia selesai.

"Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi denganmu. Ada sesuatu yang berbeda. Mengapa kau terlambat? Mengapa kau kehilangan berat badan begitu banyak? Kenapa kau tidak datang untuk jogging di gym seperti yang biasa kita lakukan pada pagi hari? Dan...rambutmu terurai. Rambutmu tidak pernah terurai ditempat kerja. Pasti ada sesuatu yang aneh!

Aku tergagap, akan mulai untuk menjawab pertanyaannya saat ia mengulurkan tangannya untuk membungkam mulutku.

"Yang lebih penting lagi...Dimana kau sebenarnya tadi malam? Brooke datang untuk makan malam tanpa kau dan mengatakan dia tak tahu dimana kau berada, dan kau menghabiskan waktu dengan seorang pria misterius. Dia tampak khawatir. Apa yang terjadi?"

Mukaku sedikit berkerut karena kebingungan. Aku hampir yakin Brooke tahu persis dimana aku berada. Dia pernah bertemu dengan Marcus, dan aku telah mengirim email ke Brooke Minggu sore dan mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa pergi makan malam ke rumah Dante pada hari Minggu karena Marcus dan aku akan berlatih. Mungkin dia belum membukanya. Tapi tentu saja tidak ada alasan baginya untuk khawatir mengenai Marcus. Dia pernah bertemu dengannya, dan Marcus bukan pria misterius untuknya. Dante benar-benar gila karena over protektif, jadi dia mungkin hanya salah paham atas apa yang dikatakan Brooke.

Aku mengulurkan tanganku dan meletakkannya dilengan Dante untuk menenangkannya saat aku mengatakan, "Ya Tuhan! Dante,aku baik-baik saja. Aku minta maaf telah membuatmu khawatir." Tampilan wajahnya menunjukkan bahwa mukanya masih menatap dengan tajam, dengan rahang terkatup.

Aku menarik tanganku kembali dari lengan Dante, menjalankan kerambutku. Aku tahu ini berarti aku benar-benar kacau dengan gaya rambut lurusku, tapi aku bereaksi terhadap kekesalannya. Perutku terasa seperti aku sedang berada didalam lingkaran roller coaster paling besar.

"Dengar Dante. Aku minta maaf karena tidak bisa datang untuk makan malam. Aku sudah mengirim email ke Brooke dan mengatakan padanya dimana aku berada, tapi jelas dia tidak memeriksa email-nya. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk khawatir. Dan aku sudah mengatakan akhir pekan lalu bahwa aku tidak tahu apakah aku bisa datang untuk makan malam pada hari Minggu. Tidakkah kau ingat itu?"

Aku memohon padanya dengan mataku untuk tetap tenang. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kepala dan membiarkan napasnya keluar dengan keras. "Ya Rina, aku ingat kau pernah mengatakankan bahwa kau tak yakin apakah kau bisa datang. Tapi kau tak pernah mengatakan dengan pasti bahwa kau tidak bisa datang. Dan ketika kau tidak pernah mengatakan tidak, aku mengharapkan kau datang. Kami semua menantikanmu."

Ketika ia berbalik dan menatap mataku lagi, aku terkejut melihat bagaimana ia terlihat begitu terluka...atau bahkan ketakutan di matanya. Tapi kemudian itu menghilang dan ia hanya terlihat kesal.

"Dante, aku minta maaf. Aku tak pernah bermaksud untuk menjadi tidak sopan. Kupikir kau sudah menganggap aku tidak akan datang. Kau tahu aku tak pernah secara sengaja mengingkari janji pada teman-temanku."

Dante fokus pada kata-kataku dengan cara yang aneh ketika aku bicara. Aku tahu arti tatapan ini. Ini yang dia lakukan ketika dia mencoba untuk memecahkan sesuatu yang rumit. Mengapa dia menatapku seperti ini?

"Teman-teman...benar. Ok. Aku kira itu menjelaskan tentang makan malam," katanya," tapi bisakah kau katakan padaku apa yang terjadi dengan penurunan berat badan dan keterlambatanmu? Kau tidak berolah raga denganku, tapi berat badanmu turun seperti kau mengalami sakit parah. Haruskah aku mengkhawatirkanmu?"

Aku menggelengkan kepalaku. Dia pikir apa yang kulakukan? "Tidak! Ingat aku pernah mengatakan padamu kalau aku ingin mengikuti kursus dansa? Aku sudah berlatih sesering mungkin selama tiga minggu terakhir untuk mengikuti kompetisi dengan seorang partner dansa. Itulah pria yang Brooke bicarakan. Kami berlatih selama enam jam kemarin, sampai pukul sebelas lewat. Aku bangun kesiangan karena aku kelelahan akibat latihan itu. Alasan yang sama ketika aku terlambat beberapa minggu yang lalu."

Aku tersenyum padanya sebelum melanjutkan. "Itu juga penjelasan mengenai penurunan berat badanku. Ketika kau berdansa selama berjam-jam setiap minggu, kau pasti kehilangan berat badan! Sedangkan untuk rambutku, semua ini karena kekacauan tadi pagi, aku menjatuhkan jepit rambutku ke toilet. Jadi, misteri terpecahkan! Tidak perlu khawatir."

Aku yakin penjelasan ini akan menenangkannya, tapi sebaliknya, ia terlihat lebih marah. Sebelum ia bisa mengatakan apa-apa lagi, sebuah mobil berhenti di belakang kami dengan Damien dibelakang kemudi dan Spencer di kursi penumpang. Seperti biasa, frick dan Frack (dua orang yang bersahabat) telah datang untuk melakukan penyelamatan. Dante mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku menyerahkan kunci mobil Brooke.

Dante melompat keluar untuk bicara dengan Damien dan Spencer, memberi mereka kunci mobil Brooke dan kemudian naik kembali ke kursi pengemudi. "Damien dan Spencer akan mengurus semuanya. Mercedes akan berada di tempat parkir garasimu dengan bensin penuh dalam waktu yang singkat."

Aku menghela napas lega saat ia kembali ke jalanan lalu lintas dan kami menuju ke tempat kerja. Pagi ini benar-benar kacau dan aku membutuh segalanya untuk menenangkan diri. Biasanya akan menyenangkan saat menghabiskan beberapa menit didalam mobil dalam keheningan sambil mendengarkan musik dengan Dante, tapi ketegangan terlalu kental untuk itu.

Aku merasa lega ketika kami sampai ditempat parkir Hart International. Mudah-mudahan hari ini bisa di putar ulang dan menjadi hari yang normal. Dante keluar dari mobil dalam sekejap, membanting pintu begitu keras, sampai mobil bergetar.

Tentu saja! Aku mengerti itu sekarang. Dia mengalami hari yang buruk juga.

Aku membuka pintu dan keluar dari mobil, terkesiap saat aku melangkah menabrak dada Dante. "Ya Tuhan Dante! Sialan kau menakutiku!"

Aku tertawa tertawa terengah-engah dan berjalan memutarinya, tapi ia mengangkat satu tangannya untuk menghentikanku, mendorongku hingga punggungku menempel dimobil dengan tangannya dikedua sisi kepalaku, membuatku susah untuk keluar.

Dia begitu dekat denganku dan aku merasa ada aliran listrik mengalir ke dalam tubuhku seperti aku tersambung ke generator. Aku mengambil napas dalam-dalam dan berharap diriku menjadi stabil, tapi itu bukanlah tindakan yang benar karena aku sekarang menghirup aroma lezat dan kuat dari tubuh Dante. Ini adalah campuran dari sabun mandi, parfum dan aroma alami tubuhnya, dan itu mengacaukan otakku.

"Rina...Kenapa aku tak tahu bahwa kau berlatih dansa dengan seorang pria? Aku merasa sepertinya kau tidak menceritakan padaku lagi. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Sekarang dia membuatku jengkel. "Dante, aku tak perlu memberitahumu semua yang kulakukan. Aku sudah dewasa, dan kau bukan pengasuhku. Kau benar-benar terlalu berlebihan. Tidak ada yang terjadi. Aku menjalani hidupku. Aku bersenang-senang. Ini bukan seperti aku dengan sengaja tidak memberitahumu. Itu hanyalah masalah waktu yang belum pas. Kau tentu tidak menceritakan padaku semua yang KAU lakukan."

Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali, seolah-olah ia sedang mencari kata-kata. Ini pertama kalinya, karena aku belum pernah melihat Dante terdiam. Dia mengambil langkah mundur lalu menggelengkan kepalanya.

"Sabrina, sebenarnya aku selalu memberitahumu hampir semua yang kulakukan. Selain Damien, kau mengenalku lebih baik dari siapapun. Kau sahabatku. Kupikir kau juga mau berbagi semua hal yang kau lakukan. Aku minta maaf kalau kau merasa aku sudah mencampuri urusanmu."

Sambil memelotot kearahnya aku berteriak, "Oh ya ampun Dante! Hentikan itu. Aku tidak berpikir kau mencampuri urusanku. Jujur, ini bukanlah seolah-olah aku mencoba untuk menyembunyikan sesuatu. Hal seperti ini tidak pernah terjadi padaku, fakta bahwa aku punya partner dansa bukanlah hal yang menarik untukmu."

"Well. Kukira jika itulah yang kau pikirkan," katanya sambil menggelengkan kepala. "Maaf."

"Semuanya baik-baik saja," kataku. "Sebenarnya, kompetisi dimana aku sudah berlatih untuk ini akan berlangsung pada hari Sabtu sore nanti. Kau, Damien dan cewek-cewek itu kuundang...jika kau mau duduk menonton pertunjukan semacam itu."

Sebenarnya aku mengundangnya hanya untuk berbasa-basi. Aku tahu dia tak akan datang. Ide mengenai Dante duduk dan menonton dansa di ballroom sangatlah tidak masuk akal. Aku menyeringai padanya saat aku menunggu dia untuk membuat alasan dan aku benar-benar tak menduga ketika ia mengangguk dan berkata, "Oke. Jam berapa dan di mana? Aku akan mengirimkan email pada yang lainnya dan melihat apakah mereka ada waktu untuk datang denganku. Apakah Brooke akan datang?"

Omong-omong tentang perkembangan yang tak terduga. Aku benar-benar tidak mengantisipasinya ketika dia mengatakan akan datang, tapi aku sudah membuat tawaran itu dan sekarang aku harus menindaklanjutinya. "Tempatnya di ballroom Beverly Wilshire pada hari Sabtu jam tiga dan ya, Brooke akan datang."

"Aku akan datang." Dia memberiku senyuman seribu watt-nya dan ketegangan telah mereda. Dia menggandeng tanganku dan kami mulai berjalan menuju lift. Hari itu akhirnya berhenti melemparkan sebuah kejutan padaku, dan aku lega karena pagi yang gila telah berlalu.

***

Penerjemah: +Saiya Henny
Editor: Yana

Poskan Komentar

25 comments

uuuhhh yeeeeeeeeeaaaaaaaah !!
makasih mama Henny, bu RT Yana,,P' RT Yudi..

makaaasiiihhh

Dante cintrong sama sabrina itu
​​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ŧђąηk.{^⌣^}.¥ou•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶.

aku suka bgt pasangan ini.sama2 vulagar dialognya saat "itu". haha

bab awal walau agak lambat tapi seru bgt.karakternya benar2 digambarin jelas jdi enak ngikut alur ceritanya.

kisah kekeluargaanya juga ngena banget.

thanks tuk para angles translator jg king of pornov. om yudi :D

Dante, cemburu...ayolah ngaku sama Sabrina :)

wah seru juga ternyata!
Thanks

Seru nih ceritanya
Hihihi
Makasih mb henny, mb yana, mas yudi :D

ahhh makasih mba hen :) mas yud and mba yana :)

wowww...menarikkk...,,makasih smuaa :)
suka..sukaa bangetttt

thank u mbak henny, mbak yana and mas mimin :D

Udh mulai seruuu..†ђąηk ўσυ mbaa henny,mba yana n mas yudi

kyaaaa... Seru..! Crta'y menarik...
Thanks mba Heny, mba Yana n Mas Yudi...

wahhh kereen bgt yahh....

bruu abiss bcaa versi aslinyaa bener2 bkinn kebakarannn....

agakk vulgar tpii lucu...

thx adminnn..

yeay. . Aku jadi peran utama,hehehe. . Mksh ya. .

yeeyy,,, horeeeyy... si dante muncul lagiii...
udah mulai panas nih, tersulut esmoni..
ayo dante, aku tunggu aksimu..
makasih mbak Henny, Mbak RT dan Pak RT :D

thanks ya uda di PoSTiNG Xixixi.. wouww ky nya dante suka sabrina tuh....

thanks ya uda di PoSTiNG Xixixi.. wouww ky nya dante suka sabrina tuh....

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

Tengkyu mbak henny n mbak Yana .. Oh ya Pak posnya juga Mas Yudi ... Thanks a lot

Soreee.... newbie di portnov ney (baru nyasar kesini soale, heheee). Ini baru bab 2 ya. Kalo bab selanjutnya udah diposting, taunya gimana ya? Atau ada notifikasinya ya? Maaf yaa nanya2, ^_^

Ma kasih semua....

hai Nonie,,,bantu jawab yaaa,,,
Biasany mas Admin kita yang baek hati, tidak sombong & rajin menabung akan m'bagi notif di akun G+,,
Jadi,,silahkn bikin akun G+,,trus tambahkn ke circlemu +Portal Novel : Baca Cerita Online..dijamin pasti dapat notifny,,
Atw ga,,silahkn rajin2 ngrefresh blog nie,,

@ least,,salam kenal yaaa,,,

makasih mb henny mb yana makasih mas mimin..

penasaran kompetisi dansanya kaya apa..
babang dante calm down..jgn ngomel2 terus yah darl..

@Nonie Han aku bantu jwb ya, coba add G+nya PN : Portal Novel: Baca Cerita Online dan twitternya PN : @portalnovel.
Klo ada postingan br pasti selalu ada notifnya ,smg membantu.

dante, kerenn..
Sabrina..hemmm..mnyenagkn sX.. :)
Thankz mbk yana, mbk saiya n mz yudi

dante, kerenn..
Sabrina..hemmm..mnyenagkn sX.. :)
Thankz mbk yana, mbk saiya n mz yudi

Udah...bilang I lope u aj ma rina, pake sebut" tmen baek segala jaim nih si dante!
Jd inget three musketters yak dante

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top