10

bb3-thumb
Aku mencengkeram tangan Shane begitu keras hingga buku jariku memutih.

Kami diterbangkan kembali ke Detroit pada hari berikutnya memakai jet pribadi Sorrenson, dan kami sekarang berada dalam limo sewaan. Gerald mengemudi, duduk di depan rumah John. Yang pernah menjadi rumahku. John ada di dalamnya, aku bisa melihat dia di jendela, menonton.

"Aku akan pergi denganmu, jika kau mau," kata Shane. "Kau tahu, menemuinya dengan bersatu."

Aku menggeleng. "Tidak, aku akan baik-baik saja."

Aku membungkuk dan menciumnya, mendalam, penuh gairah. Hasrat berkobar, dan untuk sesaat aku membiarkan hal ini menyala, tepat di belakang limusin, hanya untuk keluar melihat John. Shane menarik diri, membuat keputusan bagiku.

"Nanti," katanya, suaranya terdengar bagai sebuah janji gairah di telingaku. "Selesaikan ini dan kembalilah padaku."

Aku membuka pintu dan menyelinap keluar. Ketika aku melakukannya, aku melirik kembali pada Shane. Sebuah kilatan atau sesuatu seperti khawatir, atau kecemburuan berkilauan di matanya, kemudian dikuburkan. Aku tersenyum padanya, menutup pintu, dan berjalan ke pintu depan. Aku sadar saat aku membunyikan bel bahwa ia khawatir bukan hanya untukku, tetapi entah bagaimana aku akan memutuskan untuk kembali ke John. Aku berharap aku mengambil waktu untuk meyakinkannya yang tidak kulakukan, tapi sudah terlambat.

John membuka pintu dan mempersilakanku masuk. Kami berdiri di serambi, canggung dan tegang. Aku tahu John tidak yakin apakah ia harus memelukku atau menjabat tanganku. Aku tidak ingin menyentuhnya, tapi aku diam untuk sebuah pelukan, yang singkat dan canggung, dilakukan dari kakinya yang jauh, dua tepukan di punggung dan kemudian menarik diri. Dia tidak ingin melepaskan.

Aku melangkah ke ruang tamu, merasakan sesuatu yang pedih dan tajam di dadaku. Tidak ada yang berubah. Sofa yang kami beli bersama-sama, di tempat yang sama. TV kami, kursi malas kami dan miliknya, semua karya seni yang kupilih di Ann Arbor Art Fair, semua gambar kami yang bersama-sama. Dia tidak membuang apa pun, tidak mengubah apa-apa. Ketika aku berpindah ragu-ragu ke ruang tamu, aku bisa melihatnya, menyusuri lorong ke kamar tidur utama, dan aku tahu ia tidak mengubah apapun di sana.

Selendang leher dari wol dan selimut yang sama, gambar yang sama dalam bingkai foto yang sama: aku dan John di perahu layar berlibur ke Kepulauan Virgin, kami di pesta pernikahan sepupunya, sebuah foto buram yang kami ambil dari ponselku di bar hampir sebulan sebelum aku melompat keluar dari mobilnya.

John menatapku, menjilat tipis, bibirnya yang pucat. "Dapatkah aku ambilkan sesuatu, Leo? kopi? Teh?"

Aku menahan napas. Aku tidak pernah minum teh di sepanjang waktu ia mengenalku. "Tidak, terima kasih, aku baik-baik saja."

"Jadi...terima kasih untuk datang," kata John, duduk di kursi malasnya, yang satunya, yang lebih besar, yang lebih gelap. "Aku ingin menemuimu di suatu tempat, tapi karena ini adalah satu-satunya waktumu bisa bertemu denganku, maka aku memiliki rencana dalam beberapa menit..."

Aku duduk di tepi sofa, menggenggam tasku. "Tidak apa-apa. Dengar, Aku kira aku harus minta maaf karena aku berlari seperti yang aku lakukan. Aku seharusnya...Aku tidak tahu, menanganinya secara berbeda—"

John memotong pembicaraanku. "Leo, tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku brengsek, seluruhnya. Aku tidak pernah benar-benar memperlakukanmu dengan benar, dan aku menyadarinya sekarang." Dia menatapku, mata lebar dan nyaris...penuh harapan. "Aku tahu banyak hal-hal yang tidak optimal...sebelumnya, tapi jika kita bisa—"

"Tidak, John. Itu tidak akan terjadi. Tidak pernah," potongku, agak kasar. "Aku hanya di sini karena...jujur, karena ibuku bilang kau akan memanggil mereka. Dia tampak berpikir kau memerlukan penutupan atau sesuatu."

"Penutupan?" John mengatakan sambil tertawa, tak percaya. "Penutupan? Dia pikir aku butuh penutupan?"

"Ya, John. Penutupan. Mari kita katakan itu beberapa kali lagi, hanya untuk membuat benar kenyataaannya."

Aku tahu aku menjadi judes, dan dia tidak cukup pantas mendapatkannya, tapi aku tidak bisa membuat diriku berhenti.

"Aku tidak ingin penutupan, Leo Aku ingin kau kembali."

"Tidak akan terjadi."

"Itu adalah pertengkaran bodoh kita. Kita bisa memperbaikinya." Dia tampaknya mencoba untuk menekan banyak kemarahan dan banyak terluka. Anehnya, jika ia tidak menekannya, jika ia mengekspresikannya, dia mungkin memiliki kesempatan yang lebih baik. "Kau bahkan tidak pernah mengatakan kepadaku jika kau sedang hamil atau tidak."

"Tidak, Dan itu bukan pertengkaran. Itu bukan penyebab mengapa aku pergi. Pertengkaran adalah apa yang membuat aku menyadari betapa...Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya."

Kata-kata yang datang ke pikiranku sangat buruk dan jelek, aku mencoba untuk menguasainya dan gagal.

"...pertengkaran membuatku menyadari betapa bosannya aku dengan kita...denganmu. Maaf jika itu kasar. Tapi itu kebenaran. Bukan hanya kebosanan. Mencekikku...Kau tidak pernah bereaksi, kau tak pernah...ya Tuhan, kau tak pernah melakukan apapun. Kau....ya Tuhan, ini tidak akan kemana-mana. aku akan berhenti menjadi pengertian, dan tak ada gunanya."

John tampak benar-benar tertegun. "Kau...merasa bosan? Kau keluar dan meninggalkan aku karena kau bosan. Serius?? Kita bisa...Aku tidak tahu, pergi skydiving atau sesuatu. Mencoba beberapa bondage atau...aku tidak tahu."

Aku tertawa. "Ya Tuhan, John lihat? Kau benar-benar kehilangan intinya. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini tanpa menjadi kejam. Skydiving? Bondage? Kita bercinta berdasarkan jadwal dengan lampu mati. Dan kau ingin mengikatku? Kau tidak akan tahu apa yang harus dilakukan denganku jika kamu memang telah mengikatku, John. Kau akan melakukan apa yang selalu kau lakukan: menusukkan milikmu dan selesai, kemudian pergi tidur."

John secara fisik tersentak saat itu, dan aku tahu itu sudah terlalu jauh. "Aku minta maaf. Itu tidak beralasan. Memang, tapi tidak pada tempatnya." Aku bangkit berdiri dan pergi ke pintu. "Ini tidak akan membawa kita ke mana-mana. aku sudah selesai. Kita sudah selesai. Kita selesai pada saat aku melompat keluar dari mobil dan kau lebih mengkhawatirkan kursi kulit bodohmu daripada aku. Sialan, kita selesai jauh sebelum itu, aku hanya tidak menyadari itu. Tampaknya kau belum menyadarinya. Selamat tinggal, John."

"Tunggu, Leo, ku mohon."

"Kenapa? Ini sudah selesai. Selamanya. Lanjutkan hidupmu, cari seseorang yang lebih cocok untukmu. Atur ulang rumahmu, dicat, menyingkirkan foto-fotoku? menyingkirkan kursiku, seprei kita, semuanya. Lanjutkan hidupmu."

"Tapi aku...aku tidak bisa, aku tidak tahu bagaimana." Oh Tuhan, dia berubah menyedihkan. Rasanya sakit, itu membuatku sakit, dan sebagian besar dari seluruhnya, menyedihkan.

"Yah, aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Aku minta maaf." Aku membuka pintu dan berjalan keluar, berusaha keras untuk mengabaikan kesunyian, dan permainannya yang mencoba untuk menyembunyikan luka tersebut.

"Leo, kumohon." Tenang, putus asa, tapi masih dari tengah ruangan.

Aku memutuskan untuk bersikap jujur. "Kau tahu alasan terbesar aku meninggalkanmu sebelumnya dan mengapa aku meninggalkanmu sekarang? Itu karena kau hanya berdiri di sana, menunggu. Berharap, Memohon, tetapi tidak melakukan apapun untuk mencoba dan mengubahnya." Aku berbalik dan melihat ke arahnya. "Kau baik, John. Kau dapat diandalkan. Kau dapat diprediksi. Bagi sebagian gadis, yang mungkin akan cukup, dan bisa menjadi hal yang baik. Tetapi tidaklah cukup untukku lagi."

Aku menutup pintu di belakangku, ingin berlari ke limo. Aku memaksakan diri untuk berjalan, karena aku tahu bahwa John sedang mengamati.

Aku belum pernah lebih bahagia, ketika melihat Shane. Aku meluncur ke dalam mobil dan pindah dekat dengannya. Aku duduk tanpa benar-benar duduk di pangkuannya. Dia merasakan suasana hatiku dan diam sampai kami kembali ke kondominiumnya.

Ketika kami akhirnya berada di balik pintu yang tertutup, berdua saja, aku melepaskannya. Aku tidak menangis. Aku berteriak ke bantal dan kemudian melemparkannya ke seberang ruangan.

"Berjalan dengan baik, ya?" Shane berkata.

"Ya.Dengan baik. Menyedihkan Dia pikir aku datang kembali, seperti...untuk kembali bersama-sama. Tapi dia tidak melakukan apa pun untuk mencoba untuk membuat hal itu terjadi" Aku mengambil tangan Shane dan menatap matanya untuk membuat titik yang jelas. "Bukan berarti itu akan berhasil. Itu menyedihkan. Aku tidak tahu, bagaimana aku tidak melihatnya sepanjang waktu aku bersamanya. Dia benar-benar memohon."

Shane dengan reputasinya, tidak menunjukkan tanda-tanda kesombongan. "Yah, beberapa orang tidak..."

"Apakah kau tidak."

"Yah,  itu bukan apa yang akan aku katakan, tapi pasti aku akan mengambil itu."

"Apa yang kau lakukan jika kita bertengkar dan aku berjalan keluar?"

Shane berpikir sejenak sebelum menjawab. "Aku kira itu tergantung keadaan. Kadang-kadang seorang wanita perlu waktu untuk menenangkan diri, dan kadang-kadang ia harus dikejar setelahnya dan diyakinkan.. Mengetahui mana yang merupakan pilihan tepat dalam situasi tertentu adalah bagian yang sulit. Aku tidak akan membiarkan kau pergi. Aku akan berjuang untuk mendapatkanmu kembali, aku tidak akan berhenti untuk apapun. Aku akan memberimu waktu untuk menenangkan diri jika itu adalah apa yang kau butuhkan, tapi aku akan kembali kehadapanmu begitu aku merasa itu aman."

Dia menarikku padanya dan membungkus lengannya di pinggangku. "Tapi aku akan sekuat tenaga untuk memastikan pertengkaran tidak terjadi sejak awal."

Aku tertawa. "Semoga beruntung. Membuatku marah tidaklah terlalu sulit."

Shane tersenyum dan melengkungkan sebelah alisnya. "Ya, tapi ada perbedaan antara membuatmu marah dan membuat kau sangat marah sehingga kau siap untuk pergi. Satu hal aku bisa menanganinya. Yang lain, aku tidak bisa."

Aku bersandar kepadanya, mendengar apa yang dia katakan tidaklah cukup. "Tidak?. Lalu aku kira kau harus memastikan bahwa aku tidak pergi kemana-mana, huh?"

"Kurasa aku akan melakukannya." Shane mengikat pergelangan tanganku di belakang punggungku, di salah satu tangannya yang kuat, mendorongku lebih ketat terhadap tubuhnya sehingga lekuk tubuhku tertahan terhadap sudutnya.

Aku melawan, mataku terpaku padanya, menggeliatkan pergelangan tanganku untuk mencoba dan membebaskannya, tapi cengkeramannya mengeras, lembut tapi tak bisa dilepaskan. Dia menyeringai ke arahku, mengambil daguku dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, mengangkat wajahku padanya.

Aku meronta-rontakan lengan dan tanganku lagi, mataku bersinar geli dengan permainan baru, ini perjuangan baru untuk kekuasaan. Aku menciumnya, masih berjuang melawan jari-jarinya di sekitar pergelangan tanganku.

Dia mendorongku mundur ke kamarnya, menggerakanku menuju tepi tempat tidur dan kemudian merogoh lemari pakaiannya, menarik dasi dari gantungan dan mengikat pergelangan tanganku di belakang punggungku. Aku duduk di tempat tidur dan menunggu, mengawasi. Ia mengambil remote hitam kecil dari meja dan mengklik sebuah tombol, menyalakan stereo. Sebuah lagu klub populer dansa sedang didendangkan, dan Shane menggunakannya untuk memulai tari, menggeliatkan pinggul dan dada di depanku dengan sensual.

Aku membiarkan senyum meringkuk di bibirku saat ia menari-nari di depanku, perlahan-lahan mengangkat kemejanya di atas kepalanya, bergerak ke tubuhku, menggosok perutnya ke wajahku. Aku membungkuk dan mencium dadanya, menggigit dengan lembut ke samping. Dia pindah lagi, dan membuka ritsleting celana jinsnya, mendorongnya perlahan-lahan turun dan kemudian mendorong bahan katun yang membalut kejantanannya ke arahku. Aku mengambil karet pinggang celana pendeknya di gigiku dan mencoba untuk membebeskan ereksinya, merasakan rasa kulitnya saat aku menarik katun itu turun dengan gigiku. Dia membantu, menyatukan mereka di pergelangan kakinya. Ia berdiri terpaku di tempatnya saat aku menjilat kejantanannya, menelusuri lekuk di bawah bagian kepalanya, lalu menariknya ke dalam mulutku. Dia membiarkan aku turun naik beberapa kali, kemudian mendesis dan beranjak.

"Belum," katanya.

Dia menarikku ke kakiku dan berlutut di depanku, membuka ikatan sepatuku dan menyelipkan mereka keluar, kemudian kaus kakiku, dan kemudian mengulurkan tangan untuk membuka kancing celanaku, membuka ritsleting dan menarik mereka turun, mencium pahaku ketika mereka terungkap. Thong-ku selanjutnya, menarik bebas dalam satu gerakan halus. Itu aneh, telanjang dari pinggang ke bawah, biasanya aku telanjang dan berpakaian dengan cara lain, dimulai dengan celanaku dan memakai kemejaku terakhir. Dia menjalankan telapak tangannya sampai kakiku, menangkup pantatku dan menarikku lebih dekat kepadanya. Ia menelusuri jari tengahnya di sepanjang milikku yang basah, lipatan merah muda, dicelupkan ke dalam, menarik keluar, dicelupkan ke dalam lagi. Ketiga kalinya dia pindahkan jari-jarinya ke dalam diriku, dan kemudian ia bergelung untuk menemukan G-spotku dan membelai dalam lingkaran kecil.

Aku berfokus pada terbentuknya sensasi yang berasal dari jarinya, dan mendapati diriku begitu terkejut ketika lidahnya melesat ke dalam diriku, menusuk clitku dan menarik erangan dariku. Aku ingin meletakkan tanganku di pundaknya untuk berpegangan saat ia memanipulasiku  dengan lidah dan jarinya, tapi aku tidak bisa, yang bisa aku lakukan adalah berdiri dan berharap aku tidak runtuh ketika aku datang, dan aku sangat dekat, begitu dekat...

Dia menjilatku dengan lapar, lidah yang gesit, mengadukku menjadi gairah, dan kemudian ledakan mengguncang melaluiku dan meninggalkan aku terhuyung dan menekuk. Dia menangkapku, memelukku sampai aku kembali pada keseimbanganku.

Dia membuka kancing kemejaku, satu per satu, dan membiarkannya jatuh ke bawah lenganku untuk bergelantungan di pergelangan tanganku yang diikat. Braku adalah jepit di bagian depan, dan ia melepaskan begitu juga menurunkannya menjauh, dan kemudian aku telanjang di depannya. Dengan dia, bibirnya di leherku dan kemudian payudaraku, dan aku ingin memeluknya, merabanya, menyentuhnya.

Dia beranjak, membawa kehangatan dengannya, dan aku memprotes. Dia telentang di tempat tidur dan memberi isyarat padaku. Aku merangkak ke tempat tidur dengan canggung, tertangkap olehnya lagi dan ditegakkan. Dia membantuku merangkak di atas tubuhnya, tangannya menetapkanku ke pinggulnya. Salah satu tangannya mencengkeram kejantanannya, yang lain menyelami bagian intimku dan menuntunnya masuk. Lalu aku terisi penuh dengan dengannya, membentang lebar sambil mendorong perlahan ke dalam diriku, aku dengan pergelangan tanganku diikat di belakang punggung, tidak seimbang pada dirinya, ditahan di tempat hanya dengan tangannya di pinggangku. Aku dipaksa untuk percaya padanya, mengandalkan kekuatannya untuk menahanku pada tempatnya.

Aku bergerak perlahan pada awalnya, eksplorasi yang bisa aku jangkau dengan gerakan seimbang. Shane memegang pinggulku, mengangkatku, menarikku kembali ke bawah. Ketergantungan total pada dirinya adalah menyenangkan, memabukkan. Aku menemukan ritmeku, mengangkat dan tenggelam, angkat dan tenggelam, kembali terangkat, mengisi dengannya dan kemudian menjauhkan diri untuk terjun kembali, turun lagi. Aku lupa dia yang menahanku seimbang, kehilangan diriku dalam gelombang pasang kenikmatan yang mengayun melaluiku, berdenyut dalam diriku. Aku bergerak dengan kebebasan, percaya padanya sekarang untuk menahanku stabil.

Aku merasakan kebangkitan klimaks dalam dirinya, merasakan di perutnya, merasakannya di tangannya meremas saat ia mendorong dengan kekuatan yang lebih liar. Dia datang, dan merasakan pembebasannya, dengan erangan namaku, "Leo, ya Tuhan, Leo," mengantarkanku ke serangan kegembiraan yang hebat. Aku meledak berikutnya, lemas ketika gelombang demi gelombang mendorong melaluiku, tangan Shane menahanku tegak dan menarikku kepadanya, menggambarkan setiap tetesan kenikmatan dariku dan dari dirinya sendiri.

Dia membisikkan namaku sekali lagi, dan kemudian membuka ikatanku, tapi dia hangat, lengan yang kuat mengikatku sedekat mungkin, mengeras tak bisa dilepaskan. Aku tidak ingin merasakannya dengan cara lain.

***

Penerjemah: +Ayu Aja
Editor: +Meyke AD

Poskan Komentar

10 comments

Pasangan ini selalu hot~
*kipas-kipas*
Hihihihi
Makasih mb ayu, mb meyke, mas yudi :D

Mbak Jasinda ini emang selalu HOT, moga aja series Big Girl Do It juga di posting :)

tetep......
selalu panas.....
thanks ya guys :)

†ђąηk ўσυ mbaa ayu n mba meyke n mas yudi

kasian si john sebenernya~~~
tapi dy terlalu pengecut ==" *berharap ga nemu cowo kaya gt* eerr....

makasih PN :D

muacih mbk meyke. Mbk ayu n mz yudi

wwheeww,,,,bener2 typeless,,,-->ngutip Kata Tikaa,,hehheheheehheee
Makasih Ayu,,mbak Mey,,mas Yudi,,,

Aq g dpt notif yg nie,,,:(

Dari awal selalu panas PASANGAN ini .llhehehe

pasangan yang paling hot

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top