13

allin-thumb
"Itu pasti Bibi Marie! Ethan, bisakah kau mempersilahkan dia masuk? Aku sangat sibuk di sini." Brynne menunjukkan persiapan paniknya pada menit-menit terakhir untuk makan malam dari dapur.

"Aku lakukan." Aku memberinya sebuah ciuman udara dan berkata, "Waktunya pertunjukan, ya?"

Dia mengangguk kembali, tampak cantik seperti biasanya dengan rok panjang hitam dan atasan ungu. Warna itu indah pada dirinya dan karena aku sekarang tahu itu kesukaannya, aku harus percaya pada keberuntunganku saat pertama kali ketika aku mengirim dia bunga ungu.

All in, baby.

Aku membuka pintu untuk wanita cantik yang aku pikir sudah jelas dia pasti bibi besar Brynne itu. Adik neneknya dari sebelah ibunya. Tapi orang yang tersenyum di depan pintuku tidak seperti sosok seorang nenek yang bisa kau bayangkan. Dengan kulit tanpa keriput dan rambut merah gelap dia tampak muda dan stylish dan agak ... seksi untuk seorang wanita yang pastinya tidak mungkin berumur di atas lima puluh lima tahun.

"Kau pasti Ethan yang sering aku dengar dibicarakan," katanya dalam logat yang kental.

"Dan Anda pasti Bibi Brynne, Marie?" Aku ragu-ragu takut jika aku salah, tapi benar-benar, para perempuan di keluarganya semua menakjubkan. Aku bertanya-tanya lagi jenis kecantikan seperti apa yang ibu Brynne punyai.

Dia tertawa anggun. "Kau terdengar sedikit tidak yakin di sana."

Aku mengantar dia masuk dan menutup pintu. "Tidak sama sekali. Aku mengharapkan bertemu bibi, bukan kakak perempuannya. Dia sangat sibuk di dapur dan mengirimku untuk menyambut Anda." Aku mengulurkan tanganku. "Ethan Blackstone. Aku sangat senang bertemu dengan Anda, Bibi Marie. Aku mendengar Brynne selalu menyanyikan pujian tentang Anda sepanjang waktu dan aku sangat berharap untuk bertemu dengan Anda."

"Oh please, panggil aku Marie," katanya, mengambil tanganku, "Kau perayu yang cukup lihai, Ethan. Kakak perempuannya, hmmmm?"

Aku tertawa dan mengangkat bahu. "Terlalu menyanjung? Aku tidak berpikir begitu, dan selamat datang, Marie. Aku menghargai Anda meluangkan waktu untuk bergabung dengan kami malam ini."

"Terima kasih atas undangan ke rumahmu yang indah ini. Aku tidak cukup sering melihat keponakanku jadi ini adalah bonus. Dan komentarmu itu indah bahkan jika itu terlalu menyanjung. Kau mendapatkan suaraku, Ethan." Dia mengedipkan mata padaku dan aku pikir aku jatuh cinta dengannya saat itu juga.

Brynne keluar dari dapur dan memeluk bibinya. Aku mendapatkan senyuman yang sangat bahagia dari Brynne dari atas bahu Marie. Itu jelas bahwa apa pun masalah dia dengan ibunya, dia tidak memiliki masalah apapun dengan Marie dan itu membuatku sangat senang. Semua orang membutuhkan seseorang untuk memberikannya cinta tanpa syarat. Mereka pergi ke dapur dan aku pergi untuk mengatur minuman sebelum bel berdering lagi. Aku menyeringai pada diriku sendiri akan apa yang Ayah akan pikirkan tentang Marie ketika ia memandangnya. Aku tahu dia adalah seorang janda tanpa anak tetapi dengan kecantikannya, harusnya ada antrian panjang pria berteriak-teriak meminta waktunya. Aku tidak sabar untuk mendapatkan cerita itu dari Brynne.

Clarkson dan Gabrielle tiba berikutnya dan karena mereka sudah kenal baik dengan Marie semua yang aku harus lakukan adalah hanya membuat minuman dan mengedarkan pada mereka. Clarkson dan aku punya semacam gencatan senjata, sepanjang baris yang sama seperti hubunganku dengan Gabrielle. Kita semua peduli pada Brynne dan ingin dia bahagia. Aku tidak senang dia memotret Brynne, tapi kemudian kami hanya mampu untuk bersikap ramah satu sama lain karena dia gay. Serius, aku tahu itu masalahku, tetapi jika ia pria normal dan mengambil gambar telanjang Brynne? Dia tidak akan berada di rumahku sekarang.

Setelah Neil dan Elaina muncul, aku merasa sedikit lebih nyaman di rumahku sendiri. Clarkson masuk untuk membantu Brynne dan Marie di dapur sementara Gabrielle dan Elaina tampaknya langsung akrab dengan berbicara tentang buku-sesuatu yang sedang hangat tentang miliarder sangat muda dan obsesinya dengan wanita yang jauh lebih muda ... dan seks. Banyak adegan seks erotis dalam buku itu, sepertinya pada setiap halaman.

Neil dan aku melihat dengan penuh simpati satu sama lain dan sama sekali tidak bisa menambahkan percakapan itu. Maksudku, siapa yang membaca buku sial itu? Siapa yang punya waktu? Mengapa sempat membaca tentang seks di sebuah buku ketika kau bisa melakukannya? Aku tidak bisa memahami itu. Dan miliarder di usia dua puluhan? Aku menggelengkan kepala dalam hati dan pura-pura peduli. Aku seperti bajingan.

Aku melihat jamku dan seperti sebuah perintah, bel berbunyi. Ayahku, akhirnya. Aku melompat keluar dari kursiku untuk membuka pintu. Kasihan Neil tampak seperti ia berharap bisa ikut denganku.

"Ayah. Aku mulai khawatir. Masukklah dan bertemu dengan gadisku, mau kan?"

"Anakku." Dia menepuk punggungku yang merupakan sapaan standar kami dan tersenyum. "Kau tampak lebih bahagia daripada saat terakhir kali aku melihatmu. Hannah bilang kau akan ke Somerset untuk berkunjung. Membawa Brynne bersamamu."

"Ya. Aku ingin mereka mengenal satu sama lain. Berbicara tentang pertemuan, ayolah, Ayah, dia disebelah sini." Aku membawanya ke dapur dan disambut oleh cahaya yang paling bersinar di wajah Brynne saat ia melihat ayahku. Hal itu membuat hatiku melompat. Ini adalah hal penting. Pertemuan keluarga dan membuat kesan. Ingin mereka untuk bisa akrab tiba-tiba sangat penting bagiku.

"Nah, ini pastinya Brynne yang manis dan ... kakak perempuannya?" Kata Ayah ke Brynne dan Marie.

"Hei! Kau mencuri kata-kataku, Ayah!"

"Dia benar," kata Marie, "Anak anda menggunakan kata yang sama pada saya ketika saya tiba."

"Seperti ayah, seperti anak," kata Dad, menyeringai gembira di antara Brynne, Marie dan Clarkson.

"Ayahku, Jonathan Blackstone." Aku tersentak keluar dari keterkejutanku untuk melakukan perkenalan dan mengusap perlahan naik dan turun punggung Brynne. Aku bertanya-tanya bagaimana dia menerima semua ini. Kami telah sampai sejauh ini, begitu cepat, lebih dari sedikit gila, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, tidak ada perubahan jalan untuk kami sekarang. Kami melaju dan tidak berhenti untuk apa pun. Dia bersandar ke sisiku dan aku memberinya sedikit pelukan.

Ayahku mengambil tangan Brynne dan menciumnya, seperti cara dia menyapa wanita-wanita lain sepanjang hidupku. Dia mengatakan betapa indahnya untuk akhirnya bertemu dengan wanita yang telah mendapatkan hatiku, dan betapa cantiknya dia. Dia tersipu dan memperkenalkan Marie dan Clarkson. Sial jika pria perayu tua itu tidak mencium tangan Marie juga. Aku menggelengkan kepala, tahu dia akan membuat putaran untuk setiap wanita di sini malam ini. Jika mereka memiliki tangan, dia harus meletakkan bibirnya di atas tangannya itu. Oh yeah, dan, pasti dia berpikir Marie seksi. Hal yang mudah untuk mengetahuinya dan aku sangat yakin.

"Aku tidak akan mencium tanganmu," kata Dad ke Clarkson saat mereka berjabat tangan.

"Jika kau benar-benar ingin kau boleh melakukannya," Clarkson menawarkan, yang merupakan pemecahan kekakuan suasana yang manjur.

"Terima kasih untuk itu, sobat. Aku pikir kau sudah mengejutkannya sehingga tak bisa berkata-kata," kataku pada Clarkson.

Brynne menatapku dan kemudian pada Ayah. "Aku tahu sekarang darimana Ethan belajar untuk melakukan mencium tangan itu yang sangat aku sukai, Mr. Blackstone. Aku bisa melihat dia telah dilatih oleh seorang master," Katanya dengan senyuman yang indah. Senyum dengan kekuatan untuk menerangi seluruh ruangan.

"Silahkan panggil aku Jonathan, dan bersabar padaku lebih sedikit lagi, sayangku, karena aku akan  mengambil kebebasan lebih lanjut." Ayahku merunduk dan mencium pipinya! Dia tersipu lagi dan menjadi sedikit pemalu, tapi masih tampak bahagia. Aku terus membelai punggungnya dan benar-benar berharap ini tidak berlebihan ... untuk segala sesuatunya.

"Santai, orang tua," kataku sambil menggelengkan kepala. "Gadisku. Milikku." Aku menarik Brynne mendekatiku sampai aku mendengar dia menjerit pelan.

"Aku pikir mereka paham, Ethan," katanya, menekan tangannya di dadaku.

"Oke, asalkan tidak ada yang lupa."

"Agak mustahil itu terjadi, sayang."

Dia memanggilku sayang. Semuanya baik sekarang, aku pikir, senang aku bisa menertawakan diriku sendiri saat kami semua santai untuk tujuan berkumpul pada malam ini.

"Ayam bumbu Marsala ... mmmm. Brynne Sayang, apa itu yang ada dalam ini?" Tanya Ayah di sela gigitan. "Ini benar-benar enak."

"Aku menggunakan anggur cokelat untuk menumis ayamnya."

"Menarik. Aku suka apa yang diperbuat wine coklat untuk rasa makanan." Ayah mengedipkan mata pada Brynne. "Jadi kau ahli dalam mencicipi makanan?"

"Terima kasih, tapi aku bukanlah ahli pencicip makanan yang sebenarnya. Aku menikmatinya dan belajar untuk memasak untuk ayahku ketika orang tuaku berpisah. Aku memiliki buku masak ini yang luar biasa oleh Rhonda Plumhoff pada e-reader-ku. Dia menghubungkan resepnya ke buku-buku populer. Dia terkenal di daerah asalku. Aku memuja resep-resepnya."

Ayah memiringkan kepalanya ke arahku. "Betapa pintarnya anak yang aku besarkan."

"Aku bukan idiot, Ayah, dan dia bisa memasak, tapi aku tidak tahu tentang itu di awal pertemuan kami. Makan pertamanya denganku adalah Bar Power, jadi bayangkan betapa terkejutnya aku ketika dia mulai memutar-mutar panci dan melambaikan pisau tajam di dapurku. Aku hanya mundur dan segera keluar dari jalannya!"

"Sekali lagi, kau selalu seorang pemuda yang cepat," kata Ayah dengan mengedipkan mata.

Semua orang tertawa dan tampak sangat nyaman satu sama lain yang mana sangat membantuku, tapi aku masih gugup tentang apa yang aku akan beritahu mereka. Bukan untuk sisi keamanannya, hal itu aku tahu bagaimana melakukannya dan aku lakukan dengan sangat baik juga, tapi hal tentang berbagi informasi dengan kehadiran Brynne yang membingungkanku.

Jadi kami membuat suatu kesepakatan. Aku memberi pengarahan singkat Clarkson dan Gabrielle bersama-sama di kantorku sementara Brynne menjamu tamu lain, dan kemudian beralih dengan Marie dan ayahku. Dengan cara ini Brynne tidak harus berada di sana merasa tidak nyaman menonton PowerPoint yang aku buat dengan jadwal dan foto sehingga semua orang tahu wajah-wajah dan nama-nama yang penting. Itu penting bagi orang-orang terdekat Brynne mengetahui semua rincian tentang siapa, apa, di mana, dan kemungkinan motivasi apa yang akan datang. Kau tidak bisa mendapatkan motif politik lebih tinggi lagi dari pemilihan presiden di Amerika Serikat. Dan sisi ingin mengeksploitasi Brynne akan bekerja sama kerasnya dengan sisi yang tidak ingin keberadaannya diketahui. Aku tidak tahu bagaimana lagi untuk melindungi dirinya dan memperoleh informasi untuk orang-orang yang penting. Elaina dan Neil sudah mulai dengan cepat dan Brynne mengatakan dia nyaman dengan mereka dan ayahku tahu masalahnya. Yang lain tentu saja sudah tahu sejarahnya.

Kami memiliki sesi yang dijadwalkan dengan Dr Roswell untuk membahas beberapa hal sebagai pasangan. Aku setuju untuk itu ketika ia bertanya padaku. Brynne masih memiliki ide ini di kepalanya bahwa aku tidak bisa benar-benar cukup mencintainya untuk mengabaikan masa lalu dia yang berada bersama dengan orang-orang di video itu. Seperti waktunya sudah dilabeli cap selamanya sebagai pelacur di usia tujuh belas tahun. Itu membuatku benar-benar sedih dia menyalahkan dirinya sendiri. Itu pastinya masalah untuknya, bukan untukku, tapi hal itu lalu membuat dia percaya bahwa aku tidak mencintainya kurang dari apapun karena itu serangan busuk itu yang dia alami, adalah rintangan nyata. Kami memiliki hal-hal yang harus diatasi dan bahkan belum menggores sisi gelapku sama sekali. Dan lebih dari saat pertama kalinya aku bertanya-tanya apakah aku perlu berbicara dengan seseorang tentang detil dan potongan masa laluku. Pikiran tentang mimpi buruk yang lain benar-benar menakutkanku. Lebih takut lagi jika Brynne akan melihatku seperti itu lagi.

Aku mengamati Brynne dengan cermat sepanjang malam. Secara lahiriah dia tampak cantik dan menarik, tapi di dalam aku menduga dia sedang berjuang ketika malam berlanjut. Begitu aku selesai dengan Ayahku dan Marie aku langsung menemukannya di dapur di mana dia menyiapkan  kopi dan makanan penutup untuk para tamu. Dia terus menundukkan kepala meskipun dia tahu aku ada di sana. Aku melingkarkan lenganku di sekeliling tubuhnya dari belakang dan menyandarkan daguku di atas kepalanya. Dia terasa lembut di tubuhku dan rambutnya harum seperti bunga.

"Apa yang kita punya disini, Sayang?"

"Brownies dengan es krim vanila. Makanan penutup terbaik di planet ini." Suaranya datar.

"Ini terlihat dekaden. Hampir lezat seperti penampilanmu malam ini."

Dia membuat suara dan kemudian dia terdiam. Aku melihatnya menyeka matanya dan kemudian aku tahu. Aku berbalik dan mengambil wajahnya di tanganku. Aku benci ketika ia menangis. Bukan karena air matanya, tetapi kesedihan di belakang itu. "Ayahmu-" Dia tidak bisa menyelesaikan tapi dia mengatakan hal yang cukup. Aku menariknya ke dadaku dan menariknya lebih masuk ke dapur sehingga orang tidak bisa melihat kami dan hanya memeluknya selama semenit.

"Kau khawatir apa yang dia pikirkan?"

Dia mengangguk padaku.

"Dia memujamu, seperti juga yang lain. Ayahku bukan orang yang suka menghakimi. Itu bukan cara dia memandang masalah. Dia hanya senang melihat aku bahagia. Dan dia tahu apa yang membuatku bahagia adalah dirimu." Aku meletakkan tanganku di setiap sisi wajahnya lagi.

"Kau membuatku bahagia, sayang."

Dia menatapku melalui mata indah sedihnya yang berkilau dan berbinar saat ia memahami kata-kataku. "Aku mencintaimu," bisiknya.

"Lihatkan?" Aku menunjuk dadaku dengan jari. "Pria yang sangat bahagia."

Dia mencium bibirku dan membuat hatiku berdegup keras di dalam.

"Makanan penutupnya ..." katanya, menunjuk ke arah meja, "es krimnya akan mencair."

Hal yang bagus ia ingat karena aku yakin aku tidak akan ingat. "Biarkan aku membantumu dengan itu," kataku, "semakin cepat kita melayani mereka, semakin cepat mereka bisa pulang, ya?" Aku mulai mengambil piring makanan penutup dan memindahkan mereka keluar kepada orang-orang yang menunggu. Jika tidak ada yang lain, aku adalah seorang pria yang suka bertindak.

***

Aku terbangun karena begitu banyak suara ribut dan gerakan gelisah di sampingku. Brynne mengalami mimpi. Sepertinya, bukan mimpi buruk, tapi sebuah mimpi itu. Setidaknya aku yakin tampak seperti itu. Dia menggeliat di seluruh tempat dan melingkarkan kakinya. Meraih t-shirtnya dan melengkungkan tubuhnya. Dia pastinya mengalami mimpi bercinta yang sangat indah. Dan sebaiknya aku yang dia ajak bercinta di mimpinya!

"Baby." Aku meletakkan tanganku di bahunya dan mengguncang sedikit. "Kau bermimpi ... jangan takut. Hanya aku."

Matanya langsung terbuka dan dia duduk segera, melihat sekeliling ruangan sampai tatapannya terpaku padaku. Tuhan, dia begitu cantik liar dengan seluruh rambutnya jatuh di bahunya dan dadanya naik-turun. "Ethan?" Dia mengulurkan tangan.

"Aku di sini, Sayang." Aku mengambil tangannya di salah satu tanganku. "Apakah kau bermimpi?"

"Ya ... ini aneh." Dia meninggalkan tempat tidur dan pergi ke toilet. Aku mendengar air mengalir dan gelas yang diletakkan di atas meja. Aku menunggunya di tempat tidur untuk datang kembali dan setelah beberapa menit dia datang.

Boy. Apakah. Dia.

Dia menyelinap keluar telanjang dengan sorot matanya yang pernah kulihat sebelumnya. Sebuah tatapan yang mengatakan, "Aku ingin seks dan aku ingin SEKARANG."

"Brynne? Apa yang terjadi?"

"Aku pikir kau tahu," katanya dengan suara serak saat ia naik di atasku dan menunduk, rambutnya tergerai ke depan seperti seorang dewi kenikmatan yang ingin bercinta denganku.

Oh, ya!

Tanganku langsung naik ke payudaranya tanpa berpikir. Tuhan! Aku menangkupkan semua daging yang lembut itu di tanganku dan menarik mereka ke arah mulutku. Dia melengkung dan mulai menggelinjang diatas penisku yang sekarang terjaga seperti juga otakku. Aku lupa tentang dia yang sudah selesai menstruasi karena dia yakin tidak bertindak seperti dia baru saja selesai.

Mulutku di putingnya dan mengisapnya dalam-dalam. Aku menyukai rasa kulitnya dan bisa bermain selama berabad-abad sebelum aku siap untuk melepaskan payudara indah tubuhnya itu. Aku mengambil puting lainnya dan mengigit sedikit, ingin membawanya ke tepi yang mana sedikit rasa sakit membuat kenikmatan jauh lebih baik. Dia berteriak dan mendorong lebih keras pada mulutku.

Aku merasakan tangannya menyelinap di bawah boxerku yang aku pakai untuk tidur dan membungkus penisku.

"Aku ingin ini, Ethan."

Dia melompat turun dari pinggulku dan putingnya meninggalkan mulutku dengan bunyi pop. Aku tidak punya waktu untuk memprotes kehilangan itu sebelumnya karena dia sudah bekerja melepas celana pendekku yang menjengkelkan itu dan menurunkan bibirnya di sekitar ujung penisku. "Ahhh, Tuhan!" Aku melemparkan kepalaku kebelakang dan membiarkan dia bekerja padaku. Itu begitu nikmat sampai-sampai bolaku sakit. Dia benar-benar pandai dalam hal ini. Aku mendapat segenggam rambutnya dan memegang kepalanya sambil dia mengisapku ke jurang orgasme. Aku begitu berharap aku bisa terlepas dalam dirinya, bukan di mulutnya. Aku lebih suka berada di dalamnya ketika aku datang, dengan mataku terkunci pada matanya.

Well, gadisku memiliki lebih banyak kejutan yang disimpan untukku karena dia berkata, "Aku ingin kau dalam diriku ketika kau datang."

Bagaimana mungkin dia baru saja melakukan itu?

"Apakah tidak apa-apa?" Aku berhasil terkesiap saat ia pindah untuk memposisikan dirinya.

"Umm hmm," dia mendesah, berlutut mengangkangiku dan mundur untuk menelan seluruh penisku sampai ke bolaku.

Aku tidak tahu bagaimana hal itu tidak menyakitinya. Mungkin iya, tapi itu bukan aku melakukannya, itu adalah dia yang mengambil apa yang dia paling jelas inginkan. Jika kau bersikeras!

“Ohhhh, sialannn!” Aku berteriak, bertahan pada kedua sisi pinggulnya and membantunya bergerak.

Brynne bergerak liar, menunggangiku dengan keras, menggosok-gosok vaginanya dimana dia merasa paling nikmat. Degupan ritme meledak di antara kami, dan ketika orgasme datang, aku tahu rasanya akan seperti meledak. Aku mulai merasa kejang tetapi aku sangat ingin untuk membawa dia orgasme bersamaku. Tidak mungkin aku datang tanpa dia setidaknya bergabung denganku dalam kegembiraan itu. Aku tidak beroperasi seperti itu.

Aku merasa inti dalamnya meremasku erat-erat dan panas saat ia bekerja sendiri naik keatas dan ke bawah. Aku membelitkan tanganku di antara kedua kakinya untuk menemukan titik di mana tubuh kami bergabung dan menemukan klitorisnya basah dan licin. Aku berharap itu lidahku yang melakukannya, tapi cukuplah dengan jariku dan aku mulai membelainya.

"Aku datang..." katanya terengah-engah.

Dia pernah mengatakan seperti itu sebelumnya, begitu lembut dan halus. Dua kata itu. Itu membuatku gila ingin mendengar itu darinya lagi. Itu karena aku yang membuanya terbang nya, dan ia menyerahkan segalanya kepadaku dalam sekejap ketika itu terjadi.

Kata-kata lembut itu juga juga mengirimku jatuh di tepian orgasme.

"Ya sayangku. Ayo. Sekarang. Datang diseluruh tubuhku!"

Aku melihatnya terlepas dan mengikuti perintahku seperti seorang ahli. Dia meremasku dan berteriak dan mencengkeram dan bergidik.

"Ohhhhhh, Ethaaaaan! Ya. Ya. Ya!"

Datang sesuai perintah. Itulah gadisku, yang melakukannya ketika aku yang memberitahu dia. Aku bajingan yang sangat, sangat beruntung.

Aku menyukai setiap sisi sewaktu mengawasinya. Merasakan kenikmatannya. Dan ketika aku merasa diriku mulai terlepas, aku membanting dia ke bawah saat terakhir kali sementara aku menghujam dalam dirinya sejauh yang aku bisa dan membiarkan diriku terbang.

Banjir panas sperma memancar keluar dan masuk ke kedalaman dirinya. Aku merasakan setiap aliran itu dalam semburan tajam dan menaiki gelombang kenikmatan dengan pusaran yang memabukkan, hampir tidak sadar di mana tanganku mencengkeram lagi atau apa yang tubuhku lakukan. Walaupun begitu aku masih bisa melihat ke dalam matanya yang indah.

Beberapa waktu kemudian-Aku tidak tahu berapa lama, ia bergerak di dadaku dan mengangkat kepalanya. Matanya bersinar dalam gelap dan dia tersenyum padaku.

"Apa itu?"

"Sebuah percintaan tengah malam yang hebat?" Canda dia.

Aku tertawa. "Sebuah percintaan tengah malam yang benar-benar menakjubkan."

Aku mencium bibirnya dan memegang kepalanya sampai aku siap untuk membiarkan dia pergi. Aku begitu posesif seperti ini setelah kami berhubungan seks. Aku tidak ingin dia segera pergi, dan karena dia berada di atasku, aku tidak perlu khawatir membebaninya dan bisa tinggal sedikit lebih lama.

Aku menghunjam mendalam lagi dan membuatnya mengeluarkan suara mengerang yang seksi di bibirku.

"Kau ingin lebih?" Tanya dia dengan suara yang bercampur antara nikmat dan terkejut.

"Hanya jika kau mau melakukannya," kataku. "Aku tidak akan pernah menolakmu dan aku suka ketika kau menerjangku, tapi aku pikir kau sedang menstruasi-"

"Tidak. Tidak seperti itu bagiku karena aku minum pil. Ini tidak apa-apa, sehari mungkin, jika iya ... kadang-kadang aku bahkan tidak mengalami..." Dia mulai mencium dadaku dan menyerempet putingku dengan giginya.

Tuhan, rasanya begitu nikmat. Perhatiannya itu menyentakku kembali ke keinginan yang sehat untuk seks putaran dua.

"Aku pikir kau akan membunuhku, perempuan...dengan cara sialan yang benar-benar nikmat," aku berhasil berkata, tapi itu adalah hal terakhir yang kami berdua bicarakan untuk sementara waktu. Medusaku baru saja berubah menjadi Aphrodite yang menyembah di altar Eros. Keberuntunganku rupanya tidak mengenal batas.

***

"Koran-koran AS," kata Frances, mengatur tumpukan itu di mejaku. "Ada sebuah artikel menarik tentang anggota Kongres dengan anak-anak mereka di dinas militer aktif di Los Angeles Times. Tebak siapa yang mereka wawancarai?"

"Dia pastinya menjadi salah satu dari sedikit orang yang dibicarakan. Oakley akan memeras semua yang dia bisa. Terima kasih untuk ini. " Aku mengetuk tumpukan kertas itu. "Bagaimana dengan hal lainnya?"

Frances tampak sangat senang dengan dirinya sendiri. "Membawa itu ketika aku pergi keluar untuk makan siang. Mr Morris mengatakan itu dijual kembali dengan indah setelah bertahun-tahun dalam lemari besi. "

"Terima kasih telah mencarikan ini untukku." Frances adalah seorang asisten yang berharga. Dia menjalankan kantor perusahaanku seperti kapal kencang. Aku mungkin mengatur keamanan, tapi wanita ini yang membuat bisnisku  teratur dan aku tidak pernah meremehkan nilainya sedikit pun.

"Dia akan menyukainya.” Frances bediri ragu-ragu di pintu. "Dan kau masih ingin aku menghapus jadwalmu untuk hari Senin?"

"Ya, silakan. Acara Mallerton malam ini dan kemudian kami pergi di pagi hari untuk berangkat ke Somerset. Kami akan kembali Senin malam."

"Aku akan mengaturnya. Seharusnya tidak ada masalah."

Aku mengambil Koran Los Angeles Times saat Frances keluar dan melihat artikel dari sang senator. Aku rasa aku ingin mual. Ular licin itu gagal untuk menyebutkan bagaimana putranya yang sangat berharga itu stop-lossed baru-baru ini, tapi itu tidak mengherankan. Aku bertanya-tanya sebenarnya seperti apa pikiran putranya tentang ayahnya. Aku hanya bisa membayangkan disfungsi dalam keluarga itu, dan itu sedikitpun bukan hal yang bagus.

Aku meletakkan kembali koran itu pada tumpukan dan saat aku melakukannya, gerakan itu menyebabkan sesuatu mengintip di bawahnya. Amplop. Barang itu telah disimpan di antara tumpukan Koran-koran. Barang itu sendiri aneh, tapi kata-kata di amplop...UNTUK PERTIMBANGAN ANDA ... dan bahwa ada namaku dibawah itu, membuat hatiku berdebar.

"Frances, siapa yang menyerahkan Koran-koran AS pagi ini?" Teriakku di interkom.

"Muriel menyiapkan koran-koran itu setiap pagi. Dia meletakkan mereka ke samping sama seperti yang dia lakukan selama bulan lalu. Mereka hanya tergelatak disana menungguku membawanya." Dia terdengar ragu-ragu. "Apakah semuanya baik-baik saja?"

"Ya. Terima kasih."

Jantungku masih berdebar saat aku menatap amplop di mejaku. Apakah aku ingin melihat isianya? Aku meraih penutupnya dan membuka jalinan dari ikatan benang merah. Aku memasukkan tanganku dan mengeluarkan foto-foto it. Delapan sampai sepuluh foto hitam dan putih Ivan dan Brynne mengobrol di Gladstone. Dia mencium pipinya saat aku menunggunya untuk masuk ke dalam mobil. Ivan merunduk untuk berbicara kepadaku dan melambai pada kami. Ivan di jalan setelah kami telah pergi. Ivan menunggu di jalan untuk mobilnya sendiri untuk datang.

Fotografer itu yang pernah kulihat di luar restoran ada di sana khusus untuk Ivan? Dia pernah mendapat ancaman kematian sebelumnya...dan sekarang kami memiliki foto-foto dirinya dan Brynne dan aku bersama-sama? Bukan koneksi yang bagus untuknya. Ivan memiliki badai masalahnya sendiri, dan aku sangat yakin sekali tidak perlu komplikasi tambahan siapa pun yang mengganggu Ivan untuk menyeret Brynneku ke seluruh kekacauan itu. SIAL!

Aku membalik gambar itu satu per satu. Tidak ada. Hingga sampai yang terakhir. Jangan pernah mencoba untuk membunuh seorang pria yang pernah mencoba bunuh diri.

Aku pernah melihat hal seperti ini sepanjang karirku. Ini harus dianggap serius tentu saja, tetapi lebih sering daripada tidak, ini sebenarnya pekerjaan beberapa orang gila pinggiran yang memiliki kapak yang diayunkan di belakang seseorang yang terkenal yang mereka anggap telah menyebabkan pelanggaran untuk mereka secara pribadi dan dengan niat kejam. Tokoh olahraga terutama sering menderita omong kosong semacam ini. Ivan telah menyinggung satu ton orang di zamannya dan memiliki medali emas untuk membuktikannya. Seorang mantan pemanah Olimpiade mantan yang sekarang sudah pensiun dari olahraga, ia masih Anak Emas Inggris yang dipuja dan diburu oleh media. Fakta bahwa ia adalah saudara sedarahku akan otomatis memberikan dia perlindungan, tapi dia tentu membuatku sibuk.

Foto-foto itu telah diambil dua minggu lalu. Apakah fotografer itu di sana khusus untuk Ivan, atau dia hanya menjual gambar-gambar yang ia ambil dari Ivan Everley, pemanah Olimpiade, karena ia beruntung sudah mengambilnya dan bisa mendapatkan beberapa pound karena menjual itu? Paparazzi berkumpul di sekitar tempat-tempat yang biasa dilalu lalangi para selebriti, sehingga sulit untuk mengetahui apakah gambar itu telah diatur pengambilannya sebelumnya atau kebetulan belaka.

Dan jika kau adalah seorang gila yang berniat membunuh seseorang yang terkenal, mengapa kau repot-repot untuk menginformasikan hal itu pada pengamanan pribadinya detilnya bahwa kau berencana untuk melakukannya? Tidak masuk akal sama sekali. Mengapa mengirimkannya kepadaku? Siapa pun yang telah mendapatkan gambar ini jelas ingin aku melihatnya. Mereka berusaha dengan kesulitan untuk meyimpannya dalam tumpukan surat kabarku yang secara teratur aku pesan dari lapak Koran di jalan.

Muriel.

Aku membuat catatan mental untuk berbicara dengan Muriel saat berjalan keluar. Aku akan pergi lebih awal pula karena malam ini ada Acara Mallerton itu jadi aku harusnya bisa menangkapnya sebelum dia menutup tokonya untuk malam.

Aku membuka laci mejaku dan mengeluarkan rokok dan pemantik apiku. Aku melihat ponsel tua Brynne di sana dan menariknya keluar juga. Tidak banyak lalu lintas didalamnya selama dua minggu terakhir karena semua kontaknya pindah ke nomor barunya sekarang. Pria dari The Washington Review tak pernah menelepon kembali, kemungkinan besar dia pikir dia adalah pemimpin gelandangan, yang bekerja dengan sempurna dalam mendukung Brynne. Aku mengisi baterainya sehingga akan siap untuk dibawa olehku malam ini dan ke akhir pekan.

Aku menyalakan Djarum pertamaku hari ini. Tarikan napas yang sempurna. Aku merasa aku  melakukan cukup baik dengan mengurangi jatah rokokku. Brynne membantu memotivasiku, tapi ketika hal-hal mulai bermasalah diantara kami, aku lalu tidak putus-putus merokok. Mungkin aku harus mencoba patch nikotin.

Aku memutuskan untuk menikmati hisapan rokokku dan berpikir tentang akhir pekan mendatang. Perjalanan pertama kami bersama-sama. Aku berhasil menyisakan tiga hari dari waktuku jadi aku bisa membawa gadisku ke pantai Somerset untuk tinggal di rumah pedesaan kakak perempuanku. Tempat itu juga dioperasikan sebagai high end bed and breakfast dan aku sangat menyadari fakta aku tidak pernah meminta kakakku jika aku bisa membawa tamu bersama denganku pada kesempatan lain aku pergi ke sana sebelumnya.

Brynne berbeda untuk begitu banyak alasan dan jika aku belum cukup siap untuk memiliki perasaan itu secara publik, aku menyadari perasaan itu seperti apa adanya. Aku ingin berbicara dengannya tentang kemana kita akan menuju, dan bertanya apa yang dia inginkan. Satu-satunya alasan aku belum mengumumkannya adalah karena jawaban potensial dirinya membuatku benar-benar sialan gugup. Bagaimana kalau dia tidak ingin seperti apa yang aku inginkan? Bagaimana jika aku hanya hubungan serius pertamanya sehingga dia bisa mencoba memahami caranya? Bagaimana jika ia bertemu orang lain?

Daftarku kekhawatiranku bisa terus dan terus bertambah. Aku hanya harus terus mengingatkan diri bahwa Brynne adalah orang yang sangat jujur dan ketika dia mengatakan kepadaku bagaimana perasaannya tentang aku, maka itu adalah kebenaran. Gadisku bukan seorang pembohong. Dia bilang dia mencintaimu.

Rencananya adalah pergi lebih awal di pagi hari setelah malam gala untuk menghindari kepadatan lalu lintas, dan aku tak sabar menunggu untuk membawa Brynne kesana. Aku ingin beberapa waktu romantis bepergian dengan gadisku, dan juga hanya perlu untuk keluar dari kota dan ke udara segar pedesaan. Aku mencintai London, tetapi meskipun demikian, keinginan untuk memiliki waktu jauh dari kekacaun perkotaan untuk menjaga kewarasanku, selalu muncul secara teratur.

Sebuah panggilan telepon datang kemudian, menarikku keluar dari momen khayalanku dan kembali ke situasi sekarang yang sangat menuntut dan sangat mendesak yaitu tanggung jawab pekerjaanku. Hari pun berlalu dan sebelum aku tahu, saatnya untuk bergerak.

Aku menelepon Brynne saat aku meninggalkan kantor untuk memberitahu aku sedang dalam perjalanan dan berharap untuk mendapatkan ikhtisar spontan tentang segala sesuatu yang perlu dilakukan sebelum malam ini dan perjalanan kami yang akan datang. Aku mendapat pesan suara sebagai gantinya. Jadi aku mengirimnya teks singkat: Aku dalam perjalanan pulang. Perlu sesuatu? Dan tidak mendapat respon.

Aku tidak menyukainya dan menyadari saat itu juga, aku akan selalu khawatir tentang dia. Kehawatiran itu tidak akan pernah pergi. Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan hal-hal seperti itu tentang anak-anak mereka. Bahwa mereka tidak tahu apa itu khawatir yang nyata sampai mereka memiliki seseorang yang cukup penting dalam kehidupan mereka yang mengukur esensi sejati dari apa artinya untuk mencintai orang lain. Dengan cinta datang pula beban potensi kehilangan-prospek yang terlalu tidak nyaman bagiku untuk berpikir tentang itu terlalu banyak.

Mengingat tentang amplop dari tumpukan surat kabar, aku menuju ke kios Muriel dalam perjalanan menuju ke mobilku. Dia melihat saya mendekat dan memperhatikanku dengan mata penuh jiwanya. Dia mungkin punya kehidupan yang keras dan kasar, tetapi mereka kebenaran tidak mengubah fakta bahwa dia sangat cerdas. Mata tajam kehilangan tidak melewatkan apapun.

"Halo, Muriel."

"'Ello, Bung. Apa yang bisa aku lakukan untuk kamu? Aku punya setiap Koran Amerika seperti yang kau inginkan, eh?"

"Ya. Bagus sekali." Aku tersenyum padanya. "Pertanyaan, Muriel." Aku mengamati bahasa tubuhnya saat aku berbicara, mencari petunjuk untuk melihat apakah dia tahu apa yang aku minta atau tidak. Aku mengeluarkan amplop dengan foto-foto Ivan dan mengangkatnya. "Apa yang kau tahu tentang ini ditempatkan dalam tumpukan koran hari ini?"

"Tidak Ada." Dia tidak melihat ke arah kiri. Dia tidak kehilangan kontak mata juga. Kedua hal itu mendukung dia memberiku kebenaran. Aku hanya bisa menebak dan menggunakan intuisiku, dan ingat dengan siapa aku berurusan.

Aku meletakkan sepuluh pound di meja. "Aku butuh bantuanmu, Muriel. Jika kau melihat seseorang atau sesuatu yang mencurigakan Aku ingin kau ceritakan tentang hal itu. Ini penting. Kehidupan seseorang bisa dipertaruhkan." Aku memberinya anggukan. "Apakah kau mau mengawasinya?"

Dia menatap sepuluh pound itu dan kemudian kembali ke padaku. Dia menyeringaikan gigi mengerikan itu dengan senyum tulus dan berkata, "Untuk kamu, tampan, aku akan melakukannya." Muriel menyambar sepuluh pound itu dan memasukkannya ke dalam saku.

"Ethan Blackstone, Lantai empat puluh empat," kataku, menunjuk ke gedungku.

"Aku tahu namamu dan aku tidak akan lupa."

Aku menduga kita punya kesepakatan yang sebaik mungkin mengingat dengan siapa aku membuatnya. Aku menuju ke mobilku, ingin pulang dan melihat gadisku.

Aku menelepon Brynne kedua kalinya dan sekali lagi mendapat pesan suara, jadi aku meninggalkan pesan yang mengatakan aku sedang dalam perjalanan. Aku bertanya-tanya apa yang ia lakukan sehingga tidak menjawab dan mencoba untuk membayangkan sesuatu seperti mandi, berolahraga dengan memakai headphone, atau mengeset telponnya hening.

Aku berjuang dengan kekhawatiranku. Terutama, emosi ini masih asing, namun pada saat yang sama bukan sesuatu yang aku bisa sisihkan juga. Aku khawatir pada Brynne terus-menerus. Dan hanya karena ini semua baru bagi aku yakin sekali tidak membuatnya lebih mudah untuk dipahami. Aku adalah seorang pemula total yang belajar jalan.

Apartemenku sunyi seperti kuburan ketika aku melangkah masuk. Aku merasa lonjakan kecemasanku ke tingkat yang sangat tidak menyenangkan dan mulai mencari. "Brynne?"

Hanya keheningan lagi. Dia tidak berolahraga dan dia pasti tidak berada di kantorku. Tidak di luar di balkon. Kamar mandi adalah harapan terakhirku. Hatiku berdebar di dadaku ketika aku membuka pintu. Dan berhenti saat dia tidak berada di sana juga.

Persetan! Brynne, kau dimana?

Gaun indahnya tergantung di lemari. Gaun periwinkle yang dia beli di toko vintage dengan Gabrielle pada hari kami bertemu untuk makan siang di Gladstone. Ada bukti-bukti kemasan-kosmetik keluar dan tas kecil setengah selesai dirapikan. Jadi ia telah di sini bersiap-siap untuk malam ini dan akhir pekan kami.

Aku ingin memberinya manfaat dari keraguan, tapi dia sudah pernah pergi sendirian sebelumnya dan bagaimana jika dia pergi lagi? Setelah foto-foto dari orang gila hari ini, perutku terasa melilit dan aku hanya perlu tahu di mana dia!

Aku masuk sampai ke kamar tidur, menghubungkan panggilan telepon ke Neil dengan perasaan setengah-panik ketika aku melihatnya. Visi yang paling indah di dunia. Di tengah semua hamburan pakaian dan tas setengah dikemas adalah Brynne, meringkuk di tempat tidur ... tidur.

"Ya?" Jawab Neil. Aku membeku, aku masih memiliki ponsel terangkat di telingaku.

"Umm ... alarm palsu. Maaf. Kami akan menemuimu di National dalam beberapa jam." Aku menutup telepon sebelum dia bisa merespon. Kasian sobatku harus berpikir aku sudah kehilangan pikiran.

Kau memang telah benar-benar kehilangan pikiran!

Bergerak sangat pelan, aku melepas jaketku, membuang sepatuku, dan hati-hati merangkak ke tempat tidur dan meringkuk di sekitar tubuh tidurnya. Aku menghirup aromanya yang indah dan membiarkan detak jantungku melambat. Dorongan untuk menyalakan rokok begitu intens tapi aku fokus pada kehangatannya padaku dan pikiranku pada kecanduan untuk merokok berkurang akhirnya.

Brynne tidur nyenyak-tidur sangat mendalam, dan aku bertanya-tanya mengapa dia begitu lelah tetapi tidak ingin mengganggu dirinya juga. Aku bisa menonton dan menunggu dengan baik-baik saja dengan dia disampingku dan berpikir tentang pelajaran yang aku baru saja belajar. Brynne bukan satu-satunya dengan masalah kepercayaan rupanya. Aku perlu juga menguasai masalah kepercayaanku juga sedikit lebih lagi. Ketika dia mengatakan dia tidak akan lari dariku, maka aku harus percaya dia menjaga kata-katanya. 

Aku membuka mataku untuk menemukan mata miliknya menatapku. Dia tersenyum, tampak bahagia dan cantik dan puas. "Aku suka menontonmu tidur."

"Jam berapa sekarang?" Aku memandang di langit untuk melihat siang hari masih menempel. "Aku tertidur? Aku pulang dan menemukan kau di tempat tidur dan tidak bisa menolak bergabung denganmu. Kurasa aku tertidur juga, tukang tidur."

"Sekitar jam setengah enam dan waktunya untuk bergerak." Dia menggeliat seperti kucing, sensual dan erotis saat ia meregangkan tubuh. "Aku tidak tahu mengapa aku begitu lelah. Aku hanya meletakkan diri satu menit dan ketika aku membuka mataku ... kau ada di sini." Dia mulai berguling dari tempat tidur.

Aku menarik bahunya dan menggulingkan tubuhnya, dia terjepit dibawahku dan aku menetap di antara kedua kakinya. "Jangan buru-buru, cantikku. Aku butuh waktu berdua dulu. Ini akan menjadi malam yang panjang dan aku harus berbagi dirimu dengan jutaan pria idiot."

Dia mengulurkan tangan dan memegang wajahku dan tersenyum. "Apa jenis waktu berduaan yang kau bayangkan?"

Aku menciumnya perlahan dan menyeluruh, mejelajahi lidahku atas setiap inci dari mulutnya sebelum aku menjawab. "Jenis dimana kau telanjang dan meneriakkan namaku." Aku dorong pinggulku perlahan-lahan ke dalam tubuh lembutnya. "Jenis ini."

"Mmmmm, kau sangat meyakinkan, Mr Blackstone," katanya, masih memegang wajahku, "tapi kita harus mulai bersiap-siap untuk malam ini. Seberapa bagus kau dalam multi-tasking?"

"Aku hebat  di banyak hal," jawabku sebelum aku menciumnya lagi. "Berikan aku petunjuk."

"Well, aku sangat menyukai pancuran mandiku hampir sama seperti bak mandimu," katanya malu-malu.

"Ahhh, jadi kau hanya menggunakanku untuk fasilitas mandiku yang hebat kalau begitu?"

Dia terkikik dan memindahkan tangannya ke bawah diantara kami untuk memegang ereksiku yang mengeras. "Fasilitasnya sangat bagus seperti yang aku lihat selama ini."

Aku tertawa dan mengerang pada saat yang sama, mengendongnya dan masuk ke kamar mandi. "Aku akan menyiapkan air panas ... dan aku akan menunggumu di sana."

Aku tidak perlu menunggu lama sebelum ia bergabung denganku telanjang dan seksi seperti biasa, aku benar-benar tertawan dan membara untuk mengklaim tubuhnya dengan seks dominan yang aku tidak bisa mengontronya ketika kami bersama-sama. Hadiah utamaku dan ketakutan terbesarku semua bergulung menjadi satu. Aku bercanda tentang gala malam ini dan berbagi dia dengan orang lain, namun pernyataan itu memegang kebenaran jauh lebih banyak daripada yang aku ingin mengakui. Aku benci berbagi dia dengan pria lain yang mengaguminya-terlalu banyak menurut pendapatku.

Tapi, itu adalah realitas dari seorang Brynne, dan jika dia adalah gadisku maka aku harus belajar untuk menghadapinya sebagai pria.

Kami mempergunakan dengan sangat baik waktu yang ada dalam air sabun panas itu. Ya ... multi-tasking adalah salah satu poin kuatku dan aku tidak akan meniup setiap peluang yang aku ditawarkan.

***

"Kau tampak luar biasa cantik, kau tahu."

Dia tersipu ke cermin, bersemu merah yang menggelap bergerak turun ke lehernya dan bahkan pada gundukan payudaranya pada belahan dada dari gaun dekaden ini yang dia temukan. Gaun itu berenda dan sangat cocok untuk bentuk tubuhnya, rok pendek yang agak berbusa dari beberapa bahan lain yang aku tidak tahu namanya. Tidak peduli apapun itu, gaun itu akan menjadi penyebab kematianku malam ini. Aku sangat kacau.

"Kau tampak keren juga, Ethan. Kita serasi. Apakah kau memilih dasi itu karena warna gaunku?"

"Tentu saja. Aku memiliki tumpukan dasi." Aku melihat dia melakukan riasan dan menyelesaikan detil-detil terakhir, bersyukur bahwa dia tidak keberatan aku mengintai, dan gugup untuk apa yang aku akan lakukan.

"Maukah kau pakai klip dasi perak antikmu? Yang sangat aku sukai?"

Pembuka arah pembicaraan yang Sempurna. "Tentu." Aku meraih kotak penyimpanannya di atas meja rias untuk mendapatkannya.

"Apakah itu warisan keluarga?" Tanyanya saat aku menyematkan klip itu pada dasiku.

"Sebenarnya ya. Keluarga ibuku. Kakek-nenekku adalah orang inggris antik yang kaya dan hanya memiliki dua putri-ibuku dan ibu Ivan. Ketika mereka meninggal, barang mereka diwariskan ke cucu-cucu, Hannah, aku, dan Ivan."

"Well, itu luar biasa dan aku sangat menyukai barang antik seperti itu. Barang Vintage begitu rapi dibuat dengan tangan dan juga memiliki beberapa makna sentimental, maka semua barang seperti itu bagus, kan?"

"Aku hanya punya beberapa kenangan tentang ibuku, aku sangat muda ketika ia meninggal. Tapi aku ingat nenekku. Dia menyuruh kami menginap selama liburan, mendongengkan kepada kami banyak cerita dan menunjukkan kepada kami foto-foto, dia mencoba untuk membantu kami mengenal ibu kami sebaik yang dia bisa karena dia selalu mengatakan itu apa yang ibuku pasti inginkan."

Brynne meletakkan kuas make-upnya dan datang kepadaku. Dia meletakkan tangannya ke lengan bajuku dan kemudian menyesuaikan dasiku sedikit, dan akhirnya merapikan klip perak dengan penuh hormat. "Nenekmu terdengar seperti wanita yang baik dan begitu juga ibumu."

"Keduanya akan senang bertemu denganmu." Aku menciumnya dengan hati-hati agar tidak menodai lipstiknya dan menarik sebuah kotak dari sakuku. "Aku punya sesuatu untukmu. Ini spesial ... hanya untukkmu." Aku menyodorkan itu padanya.

Matanya melebar pada kotak beludru hitam dan kemudian mendongak sedikit terkejut. "Apa itu?"

"Hanya hadiah untuk gadisku. Aku ingin kau memilikinya."

Tangannya gemetar saat ia membuka kotak itu dan kemudian sebelah tangan ditempelkan ke mulutnya yang terkesiap lembut. "Oh, Ethan ... ini -ini begitu indah-"

"Ini adalah sepotong barang vintage kecil dari ibuku dan itu sempurna untukmu ... dan sesuai dengan bagaimana perasaanku padamu."

"Tapi kau tidak seharusnya memberikan warisan keluarga ini padaku." Dia menggelengkan kepalanya. "Ini tidak tepat untuk-untuk kau diberikan pada orang-"

"Aku harus memberikannya kepadamu dan aku memberikannya sekarang," Aku berbicara lebih tegas. "Bolehkan aku mengenakannya padamu?"

Dia kembali menatap liontin itu dan kemudian tatapannya kembali padaku, dan mengulangi perbuatannya.

"Aku ingin kau memakainya malam ini dan menerima hadiah ini."

"Oh, Ethan..." bibir bawahnya bergetar. "Kenapa harus ini?"

Sejujurnya? Liontin ametis hati dengan berlian dan mutiara adalah hal kecil yang sangat cantik, tapi lebih dari itu, liontin ini menjeritkan nama Brynne. Ketika aku ingat itu ada sebagian dari banyak koleksiku dari estate ibuku, aku pergi ke lemari besi dan membukanya. Ada hal-hal lain di sana juga, tapi mungkin lebih banyak waktu yang dibutuhkan terlebih dahulu sebelum menggali lebih dalam hadiah perhiasan tambahan.

"Ini hanya kalung, Brynne. Sesuatu yang sangat indah yang mengingatkan aku padamu. Ini vintage dan itu warna favoritmu dan itu punya mata berbentuk hati. "Aku mengambil kotak itu dari tangannya dan mengambil liontinnya. "Aku harap kau akan menerimanya dan memakainya dan tahu bahwa aku mencintaimu. Itu saja." Aku menelengkan kepalaku dan memegang kedua ujungnya di jariku, menunggu dia setuju menerimanya.

Dia mengerutkan bibirnya, mengambil napas dalam-dalam dan matanya terlihat gemerlapan saat ia menatapku. "Kau akan membuatku menangis, Ethan. Itu begitu-begitu indah dan aku menyukainya-dan-dan aku sangat suka kau ingin aku memilikinya-dan aku juga mencintaimu." Dia berbalik kembali ke arah cermin dan mengangkat rambutnya dari lehernya.

Kemenangan terasa begitu luar biasa! Aku yakin wajahku berseri-seri, menikmati lebih banyak kebahagiaan pada saat ini daripada yang pernah aku rasakan selama ini ketika menggenggam rantai yang melingkari lehernya yang indah, melihat perhiasan hati berhiaskan berlian menetap ke kulitnya, menemukan tempatnya pada akhirnya, setelah beberapa dasawarsa dalam kegelapan.

Hampir sama seperti hatiku.

***

Penerjemah: +Ertika Sani
Edit: +Helda Ayu 

Poskan Komentar

13 comments

Aiihhhh Ethaannn...
Mksh Mba Tika,,Helda n Mas Yudi

†ђąηk ўσυ mba tika sayang n helda..

Uwooooh ethan so sweeet
Heeemmm....
Makasih mas yudi,mb tika, mb helda :D

makasih mbk +tika, +helda dan mas +yudi... ;)

ahh udah tayang
makasih helda n mimin >̴̴̴̴̴͡.̮O̴͡ >̴̴̴̴̴͡.̮O̴͡
enjoy all

ahh udah tayang
makasih helda n mimin >̴̴̴̴̴͡.̮O̴͡ >̴̴̴̴̴͡.̮O̴͡
enjoy all

Mas mimin makasih...MAkasih mb tika juga mba helda..*hihihi* makasih yah...

Akang ethan..aku jg mau dong d ksh kalung...apalge klo ngasih cincin..suka bgt..

muacihh mz yudi,mbk helda n mbk tika..
Woooowww so sweet ethan,, next with me yuaaa

uuuhh~~ so sweet xD
keluarga yg harmonis :D
endingnya romantiiiiiis..... >///<
jadi lupa ama ketegangan dari foto yg dikirim ke ethan^^

makasiii mba tika :)
maksii PN :* :*

Tikaaaaa,,Heldaaaa,,,makaaaassiiihh,,,,,
*peluk erat,,,

Makaasih mas Yudi,,,,,

Wahhh...Ethan romantisss :)

Ehem... mau jg dpt liontin hati
So sweet........

itu buku yg dibicarain gabrielle dan elaina kayaknya 50 shades of grey ya??
kok tentang milyuner muda yg berumur 20 tahunan dan buku yg berisi adegan2 seks..
maybe :)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top