14

Penulis: Felix P.S


winter-in-downsville
Sekawanan burung melintas kejauhan di langit saat Milla Tucson mengendarai mobil menuju pemukiman downsville di daerah Louisiana. Perjalanan ber jam-jam membuat Milla merasa terlalu lelah untuk memperhatikan sekawanan burung tersebut. Apabila ia tidak sedang mengerjakan penelitian terhadap sebuah tanaman demi tugas akhir di kampusnya, Milla tidak akan terjebak dalam mobilnya selama ber jam-jam. Rumah neneknya berada di pemukiman downsville.

Setahun yang lalu ketika Milla sedang berlibur di tempat neneknya merupakan liburan yang paling membosankan ketika terjadi gangguan penerangan di daerah tersebut. Yang Milla dapat kerjakan saat itu hanyalah mendengarkan berbagai cerita dari neneknya selama satu bulan dan menunggu sampai jalan menuju kota sudah tidak ditumpuki oleh gunungan salju sehingga ia bisa kembali ke rumahnya. Tetapi Milla sangat bersyukur karena dari setiap orang yang pernah dikenalnya, neneknya adalah orang yang paling tepat untuk ditanyai soal tanaman. Karena itulah Milla rela untuk mengemudi selama ber jam-jam demi tugas nya di kampus. Hari itu adalah tanggal 1 di bulan Desember dimana jalanan belum sepenuhnya ditutupi oleh salju.

Milla sampai ketika hari sudah hampir gelap. Neneknya telah menunggu di taman depan untuk menyambut Milla dengan sebuah mangkuk sup hangat di tangannya. Milla sangat menyukai sup buatan neneknya yang dianggapnya adalah yang terbaik dan dapat memenuhi seleranya. Dan anehnya tidak ada seorangpun di keluarganya selain Milla sendiri yang menyukai sup tersebut.

Milla dan neneknya memang memiliki banyak sekali persamaan selera dalam berbagai hal. Banyak sekali yang berkata Milla merupakan kloningan dari neneknya saat neneknya berusia muda. Mereka berdua sama-sama berkulit hitam layaknya orang kulit hitam pada umumnya meskipun kakek dari Milla dan suami dari sang nenek merupakan seorang lelaki yang berkulit putih. Karena berbagai kemiripan itulah yang membuat Milla merasa sangat menyayangi neneknya sejak ibunya meninggal saat ia berusia lima tahun. Tetapi di samping itu sang nenek bisa sangat membosankan ketika ia sering bercerita kepada Milla mengenai kehidupannya saat muda. Setiap detail dari kehidupan sang nenek telah Milla ketahui kecuali mengenai kakeknya yang sangat jarang sekali diceritakan oleh neneknya. Ayah Milla berkata bahwa sang nenek akan merasa sedih ketika harus mengingat sang kakek.

Kamar Milla terletak di lantai dua. Kamar tersebut merupakan kamar sang nenek ketika masih muda. Berbagai peralatan dan perabot jaman dulu ada disana. Milla hendak menyimpan bajunya pada lemari ketika ia menemukan berbagai benda yang menarik yang belum pernah dilihat oleh Milla. Mulai dari album foto, diary, sampai pada ijazah sekolah neneknya pada jaman dahulu. Milla sibuk melihat-lihat barang-barang “antik” tersebut.

***

Esok harinya Milla terbangun ketika matahari terbit menembus melalui jendela kamarnya. Saatnya bangun dan membantu neneknya pikirnya. Setiap pagi neneknya selalu merawat berbagai macam tanaman di kebunnya. Ternyata sang nenek tidak mengajaknya ke kebun pada hari itu. Mereka hanya pergi ke pusat desa dimana nenek ingin membeli bahan makanan untuk malam nanti. Dalam perjalanan sekumpulan wanita berkulit putih menyeringai kepada mereka dan berbisik-bisik.

Pemukiman downsville memang memiliki populasi orang berkulit hitam yang sangat sedikit. Tercatat keluarga kulit hitam di daerah tersebut hanya tinggal tersisa 3 buah keluarga termasuk sang nenek. Sebuah diskriminasi warna kulit memang ternyata masih belum dapat diatasi pada daerah-daerah desa kecil seperti downsville meskipun dengan jaman yang sudah modern dan seorang presiden yang juga berkulit hitam. Meskipun begitu almarhum kakek Milla dan suami sang nenek merupakan seorang lelaki berkulit putih. Tetapi Milla memiliki lebih banyak gen dari sang nenek sehingga warna kulitnya tidak dapat membuat lelaki kulit putih di sekelilingnya merasa tertarik kepadanya.

Sang nenek telah dibujuk beberapa kali untuk ikut ke kota bersama orang tua dari Milla. Di kota besar diskriminasi warna kulit merupakan suatu pelanggaran sosial dalam masyarakat. Namun sang nenek tidak mau untuk pindah kota dengan alasan ia tidak tahu kebun yang dimilikinya akan dirawat oleh siapa. Malamn harinya Milla kembali sibuk melihat-lihat album foto sang nenek. Sekilas Milla juga membaca buku diary sang nenek yang ternyata dalam isinya terdapat lebih banyak cerita mengenai tanaman-tanaman dan kebunnya daripada cerita dari kehidupan sang nenek.

Esoknya Milla terbangun dengan melihat jam di tangannya menampilkan tanggal hari itu. 3 Desember. Milla kemudian turun dan membuka kamar tidur neneknya. Sang nenek masih tertidur dengan pulas. Milla berusaha membangunkan neneknya sampai ketika neneknya terbangun dan berkata bahwa ia merasa tidak enak badan. Setelah yakin neneknya telah tertidur kembali, Milla pergi untuk merawat kebun neneknya sekaligus ingin mengamati tanaman-tanaman yang dimiliki oleh neneknya sebagai bagian dari tugasnya. Kebun neneknya terletak agak jauh dari rumah sang nenek. Sesampainya di kebun, Milla terpesona dengan berbagai tanaman milik neneknya.

Milla meneliti setiap tanaman dengan teliti sampai ketika perhatiannya teralihkan oleh seorang pria yang berjalan menuju ke arahnya. Pria tersebut tinggi, berkulit putih, bermata biru dan memakai pakaian yang membuat Milla semakin menganggap downsville sebagai sebuah desa yang kuno.

Pria tersebut berjalan santai ke arahnya dengan menunjukkan ketertarikan juga terhadap tanaman di tempat tersebut. Milla merasa pernah bertemu dengan pria tersebut. Milla menyikapi kedatangan pria tersebut dengan hati-hati. Pria itu berkata bahwa bahwa ia mengenal sang nenek dan ia merupakan orang yang dibayar oleh neneknya untuk merawat kebun tersebut. Mulanya Milla merasa aneh karena ia baru tahu neneknya menyewa seseorang untuk merawat kebunnya sendiri. Pria itu bernama Garrett. Menurut pengakuannya, ia telah bekerja selama setahun terakhir untuk mengurus kebun yang dimiliki oleh sang nenek. Menurutnya sang nenek sudah semakin tua dan tidak dapat berjalan jauh untuk mengunjungi kebunnya setiap hari. Garrett ternyata memiliki pengetahuan yang tidak kalah luas dibandingkan dengan sang nenek mengenai tanaman. Dengan kondisi sang nenek yang ternyata tidak membaik setiap harinya, Milla terpaksa menanyakan berbagai keingintahuannya kepada Garrett.

***

Semakin hari hubungan Milla semakin dekat. Setiap hari Milla memiliki kesan tersendiri saat ia bersama dengan Garrett. Setiap harinya Garrett akan mengenalkan satu buah jenis tanaman yang akan sangat membantu dalam tugas Milla. Seiring berjalannya waktu, hubungan yang tadinya hanya sebatas pegawai dan majikan menjadi semakin mendalam. Setiap malam Milla akan menuliskan detail dari informasi tanaman yang ia telah pelajari dari Garrett beserta dengan tanggal penulisan penelitian tersebut untuk memudahkan penulisan pada tugas akhirnya. Tak jarang pula Milla memikirkan Garrett setiap malam. Sebelumnya belum pernah ada pria berkulit putih yang baik terhadapnya. Garrett sangatlah perhatian dan memiliki semua kriteria untuk dijadikan sebagai pria idaman oleh wanita manapun. Tidak terkecuali wanita berkulit hitam pikir Milla.

Pada suatu malam hujan yang turun sangat deras. Milla tidak dapat pulang ke rumah sang nenek dan menetap di pondok Garrett. Garrett tinggal sendiri di pondok tersebut. Pondok tersebut sangatlah kuno menurut Milla. Dan terlalu kuno untuk desa Downsville sendiri. Entah apa yang terjadi saat itu. Milla sangatlah merasa nyaman bersama Garrett malam itu, dan tidak berpikir apa yang akan ditanyakan oleh sang nenek melihat cucunya baru pulang pada pagi keesokan harinya.

Esoknya, sesampainya di rumah, sang nenek pun bertanya kemana Milla pergi. Selama ini Milla tidak bercerita kepada sang nenek mengenai kebersamaannya dengan Garrett. Ia takut sang nenek akan marah apabila mengetahui cucunya bersama-sama terlalu lama dengan seorang kulit putih apalagi seseorang tersebut adalah penjaga kebun. Sang nenek memiliki aturan keras dimana ia telah berprinsip untuk tidak terlalu berteman dekat dengan seorang kulit putih setelah meninggalnya sang kakek. Setidaknya itulah yang diceritakan oleh ayah Milla kepada Milla. Alasannya tidak pernah diketahui secara baik oleh Milla. Tetapi menurut ayah Milla, hal tersebut ada hubungannya dengan sang kakek yang telah meninggal sebelum melihat ayah Milla lahir. Sang nenek tidak pernah bercerita kepada siapapun mengenai kenapa ia begitu tidak suka dengan orang berkulit putih padahal suaminya sendiri adalah pria berkulit putih. Mungkin itu adalah satu-satunya pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab oleh sang nenek menurut Milla.

Sang nenek terus mendesak Milla mengenai keberadaan Milla semalaman. Setiap jawaban sudah Milla berikan, dan sang nenek selalu dapat mengetahui rekaan cerita yang telah dibuat oleh Milla. Selama ini Milla bercerita kepada sang nenek bahwa selama sang nenek sakit, ia berminggu-minggu di luar bermain bersama tetangga-tetangga yang berkulit hitam. Tetapi nyatanya sang nenek telah melakukan “observasi” kepada tetangga-tetangganya dan mengetahui bahwa Milla telah berbohong.

Setelah beberapa saat Milla terdiam dan akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mencoba mengaku kepada sang nenek. “Aku bersama dengan Garrett seharian,” ucap Milla dengan ragu-ragu. Sang nenek tiba-tiba kaget dan langsung turun dari tempat tidurnya. Milla tahu sang nenek akan sangat marah ketika mendengarnya. Namun sang nenek terlihat masih terkejut akibat pengakuan dari Milla.

Kemudian sang nenek bertanya mengenai Garrett ini dan tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Milla. Dengan perasaan aneh Milla menjelaskan bahwa Garrett adalah tukang kebun yang disewa oleh neneknya dan berkata, “Kami sudah berkenalan sejak dua minggu yang lalu ketika sedang merawat kebunmu nek.”

Sang nenek sangat terkejut dan tiba-tiba terduduk pada tempat tidurnya. Kemudian dengan keras sang nenek berteriak, “Apa yang kau katakan Milla sungguh tidak masuk akal dan darimana kau mengetahui Garrett adalah tukang kebun?” Milla merasa kebingungan dan berusaha menjelaskan kembali bahwa mereka telah berkenalan di kebun milik sang nenek dua minggu yang lalu.

Sang nenek dengan nada tersengal sengal berkata, “Mana mungkin kau bisa berkenalan dengan seseorang bernama Garrett ketika kebunku bahkan tidak akan dapat kau kunjungi di tengah salju turun seperti di saat bulan Desember ini??? Kebunku tidak pernah bertahan hidup di saat musim dingin!”.  Seketika sang nenek terjatuh dan pingsan. Milla berdiri tertegun dan terkesiap. Ia menoleh keluar memandangi jendela. Hari ini adalah 13 Desember, dan salju sedang turun menyelimuti seisi desa. Sekarang ia telah dapat mencerna apa yang baru saja neneknya katakan.

Milla kembali ke kamarnya dan mulai tidak percaya akan apa yang ia alami selama dua minggu terakhir. Ia membolak balik catatannya mengenai jenis tanaman yang telah ia tulis di buku tersebut. Semuanya masih ada. Andaikan memang kebun neneknya tidak pernah ada selama musim dingin, lalu tanaman apa yang ia pelajari selama dua minggu ini? Dan pertanyaan berikutnya adalah siapa Garrett? Milla berpikir apakah selama ini memang ia telah bermimpi atau tidak. Kemudian Milla melihat buku diary neneknya tergeletak dan terbuka di atas ranjangnya. Dalam diary neneknya tersebut tertulis tanggal 13 Juni. Secara tidak sengaja Milla sekilas membacanya. Tulisan dalam diary tersebut berkata,

“Kemarin malam hujan sangatlah deras. Aku tidak dapat pulang ke rumah. Pria itu menawarkan pondoknya untuk menunggu sampai hujan reda. Aku tidak dapat menolaknya. Dan entah kenapa aku tidak bisa pergi darinya.” Milla membalik buku diary tersebut dan pada halaman-halaman sebelumnya ia membaca satu per satu tulisan dalam setiap tanggalnya. Dan sungguh mengejutkan, setiap tulisan dalam halaman tersebut merupakan penjelasan mengenai tanaman yang sedang diamati oleh Milla. Dan seluruh tanggalnya pun sesuai. Terkecuali dengan nama bulan dan tahunnya. Kemudian Milla membalik diary tersebut dan pada akhir halaman tersebut tertulis tanggal 14 Juni, “Ia telah tiada. Aku tidak dapat melupakan semuanya. Setiap kenangan bersamanya. Selamat jalan Henry Garrett Tucson.”

Milla terkejut. Ia mengetahui nama kakeknya adalah Henry. Tapi Henry Garret? Milla kebingungan dan entah harus berbuat apa ketika menerima semua informasi yang tiba-tiba datang ini. Kemudian ia teringat akan foto album neneknya. Milla mengingat semuanya. Ia sadar kenapa ia seakan-akan pernah melihat wajah Garrett si tukang kebun sebelumnya. Ia membolak-balik semua foto di album tersebut. Tetapi ia tidak menemukannya. Milla teringat bahwa ia pernah melihat foto kakeknya di album foto tersebut bersama dengan neneknya dengan latar belakang suatu kebun. Milla teringat bahwa foto kakeknya tersebut sangatlah mirip dengan wajah Garrett yang ia temui. Milla sadar bahwa selama ini ia telah bersama dengan Henry Garrett Tucson. Kakeknya sendiri. Ia telah jatuh cinta dengan kakeknya sendiri.

Setelah beberapa penjelasan yang sangat memakan waktu yang panjang akhirnya sang nenek percaya akan apa yang Milla katakan mengenai perjalanannya ke masa lalu. Sang nenek akhirnya bercerita mengenai sang kakek kepada Milla. Sang nenek bercerita mengenai Garrett yang dulunya adalah seorang tukang kebun dan akhirnya berkenalan dengan sang nenek sampai pada akhirnya mereka pun saling jatuh cinta. Garrett lah yang membuat sang nenek begitu mencintai kebun dan tanamannya. Namun hal yang tidak diinginkan telah terjadi.

***

Pada tanggal 13 Juni malam hari, Garrett telah dibakar oleh penduduk downsville karena telah tidur bersama dengan wanita berkulit hitam. Sejak saat itu sang nenek membenci orang berkulit putih. Dan sejak saat itu pula ternyata sang nenek telah mengandung ayah Milla dan harus membesarkannya seorang diri di tengah-tengah penduduk desa yang marah kepadanya. Tetapi berkat dukungan dari tetangga-tetangganya yang berkulit hitam yang saat itu jumlahnya masih banyak, akhirnya sang nenek tetap dapat tinggal di desa tersebut. Begitu banyak kenangan pada kebun yang dimiliki oleh sang nenek sehingga sang nenek tidak akan pernah bisa meninggalkan desa tersebut.

Setelah mendengar cerita tersebut Milla merasa lemas dan tidak dapat berkata apa-apa. Sampai pada akhirnya ia sadar akan sesuatu. “Kami tidak pernah berfoto pada saat di kebun, dan sekarang foto tersebut hilang. Artinya kita dapat merubah masa lalu nek. Nenek berkata bahwa malam ini tanggal 13 Garrett akan dibunuh oleh penduduk Downsville. Kita dapat mencegahnya. Semua yang tertulis di buku diary nenek terjadi padaku. Tetapi ada dimana suatu hari dalam 2 minggu ini aku tidak bertemu dengan Garrett dan tidak pergi ke kebun. Hari itu adalah tanggal 6 Desember. Dan dalam diary nenek pun, nenek tidak pernah menuliskan sesuatu pada tanggal tersebut.

“Artinya aku akan kembali ke masa lalu apabila nenek menuliskan sebuah hari pada buku diary tersebut. Sebaliknya apabila suatu hari tidak tertulis dalam diary tersebut, maka aku tidak akan kembali ke masa lalu. Sekarang apabila nenek membuang tanggal 14 dimana hari itu merupakan kematian Garrett dari buku diary tersebut, mungkin sesuatu akan berubah. Nenek harus menuliskan sesuatu di diary tersebut untuk tanggal 13 sehingga aku dapat mencegah Garrett terbunuh. Setidaknya kita harus mencoba nek.” Sang nenek mencoba untuk mengerti apa yang Milla katakan, sambil menulis apa yang Milla diktekan padanya untuk ditulis di dalam buku diary.

“13 Juni. Malam itu terdengar suara teriakan penduduk kulit putih. Ketika semua orang hendak membakar pondok pria itu. Ketika mereka hendak membakar Garrett hidup-hidup. Tetapi dalam pondok itu tidak terdapat Garrett. Aku bersamanya. Aku menyelamatkannya. Aku bersama dengannya bersembunyi dalam kebunku. Dan ketika penduduk menyangka Garrett telah terbakar hidup-hidup kami pun lari menembus malam.”

Sesaat tidak ada yang terjadi. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Milla berada dalam kebun neneknya dan sedang bersembunyi. Di sebelahnya terdapat Garrett. Kemudian mereka berlari. Berlari menjauh dari downsville.

Milla tiba-tiba kembali sadar dan berada dalam mobilnya sedang menyetir. Dan ia telah sampai di depan rumah neneknya. Tertulis di alamat rumah nenek tersebut adalah Minnesota. Bukan downsville. Milla merasa lega ketika sekarang nenek dan kakeknya berdiri di depan rumah memegang dua buah mangkok sup besar kesukaannya. Milla juga mengerti kenapa neneknya begitu mencintai kakeknya. Karena Milla juga pernah mencintai orang yang sama. Lagi-lagi, Milla dan sang nenek memiliki kesamaan yang baru.

THE END

Poskan Komentar

14 comments

Ih wauuuww
Ngga masuk akal tapi bagus :D

Menarik :)
Berani beda ...

science-fiction...
aq suka genre2 bgni tp kdang2 sulit di pahami krna tak masuk akal klo di pkir scra logika.. But two tumbs up for you..

buku diarynya kaya mesin waktu doraemon ya.... :-)

Refreshing.
Sedikit susah buat dimengerti.
But thumbs up nonetheless

ide ceritanya beda dari yang lain.... b(^^)d

Bingung aku,,,,
But,,ini bagus,,,

Ceritax Agak beda dari yg lain. Muantaaap gebrakanx. Ceritax jg bagus, semangat berkarya!!!

Ini....asli apa terjemahan?...
Mudah" orisinil buatan sendiri...
Anyway oke

KEREN ABIZZ!
100 NILAINYA..
:-)

beneran asli kok orisinil =)

Wowww.. ceritanya.. unik.. n cool.. keep writing..

Critanya bgus.. :)
ngingetin aq sma salah satu film yg klu gak salah main castnya si ashton kutcher, judulnya ada butterfly2 nya gt (hehehh lupaa) :D .. trus ada jg drama korea yg jdlnya bla bla bla proposal (lupa lg) :D smua critanya beda sih, tp scara garis besar pemerannya bisa ngulang ke masa lalu.. unik yahh , kyk crita ini..jd pengen.. ^^

bagus ceritanya...aku suka cerita kayak SF....

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top