15

WARNING: This story contains explicit sex and erotic scenes, for adults only.


thb-thumb
Keesokan paginya, semuanya tampak normal, seakan-akan tidak ada yang terjadi diantara kami. Pagi itu ada pertemuan general staff di ruang rapat. Dengan seloyang croissant panas dengan mentega, iced danish, kopi, cranberry dan jus jeruk, dan irisan mangga, melon, nanas dan stoberi.

"Seseorang menambah makanannya," salah satu account executive berkata pada koleganya ketika ia mengisi piringnya. "Dimana mereka menyimpan donat dan bagel?" pernyataan itu meledakan tawa dari kerumunan itu.

"Kau pantas menambah," kata Bruce ketika memasuki ruangan. "Dua klien baru, dan promosi Sereal Blake berkinerja baik di pasaran,"

Ia tersenyum simpul, senyuman yang sama seperti yang ia berikan pada seluruh orang di tempat itu. Aku pikir ia akan marah atau jengkel, tapi nyatanya tidak. ia tampak gembira, bahkan tampak bersemangat ketika ia mengambil tempat duduknya di ujung meja. Aku duduk di sisi kanannya, menggigit sepotong melon dan menyesap kopiku. Aku pikir itu adalah tempat yang baik, karena saat ia membutuhkanku, aku ada didekatnya, di luar misi lainnya. Dengan cepat meja itu dipenuhi oleh orang-orang yang tadi berdiri di dekat dinding. Kemudian orang-orang grafis naik dari basement. Hanya ada ruangan untuk berdiri, dan buah-buahan mulai menipis. Mereka mengambil kopi, roll, iced Danish, dan bersandar di dinding.

Davies tampaknya terlihat sedikit berbeda. Ia mendengarkan laporan dengan seksama, menawarkan saran dan memuji pada waktu yang tepat, perselisihan diselesaikan dengan bijaksana dan gurauan yang dilontarkannya seperti stand-up komedi yang berpengalaman. Birch yang duduk di ujung meja yang lain hanya menimpali sesekali. Dia juga menyadari bahwa Davies sedang baik dan lebih dari sekedar mengambil keuntungan dari hal ini. Semua orang keluar dari meeting itu dengan perasaan senang, dan ketika mereka hampir keluar semua, Davies menoleh kearahku dengan senyuman ceria sebelum mengumpulkan catatan dan file foldernya, dan berjalan mengikuti kerumunan.

Aku berdiri membeku selama lima menit penuh, sebelum akhirnya berjalan kembali keruanganku. Selingan kecil kami kemarin malam sepertinya sudah membuatnya senang. Aku harus berpikir apa yang akan kulakukan dengan kenyataan ini. Aku harus berpikir apakah aku akan melanjutkannya atau tidak. sangat jelas bahwa ia melihat kejadian kemarin sebagai permulaan, tapi aku tidak yakin bahwa itu adalah sesuatu yang akan kulakukan atau bahkan yang kuinginkan. Aku mengambil tasku dan berkata pada Claire, asisten Davies sekaligus sekretarisnya, bahwa aku sedang tidak enak badan dan akan pulang untuk sisa sore itu.

Davies menelepon, tapi aku tidak mengangkatnya hingga akhirnya ia meninggalkan pesan yang mengungkapkan perhatiannya dan berharap aku baik-baik saja.

***

keesokan paginya aku membuat sebuah keputusan. Aku menyerahkan key card kamar yang ku sewa di Super 8 di I-75 south kepada Bruce. Kamar itu bersih, dan melayani keluarga-keluarga yang dalam perjalanan ke Six Flags atau Disneyland. Aku tinggal disana malam sebelumnya dan menyaksikan ibu-ibu duduk di bawah payung besar yang menutupi meja dan menyesap soda kalengan, sementara anak mereka bermain di kolam renang kecil berbentuk ginjal tidak jauh dari tempat parkir. Para ayah menghabiskan waktu mereka untuk membongkar muatan SUV dan Volvo station wagon.

Bruce memegang kunci di telapak tangannya seolah-olah dia tidak yakin benda apa itu sebenarnya. Tatapannya ketika menilaiku tampak ragu sejenak, tapi itu segera menghilang dan kembali kosong. Aku memintanya untuk datang pukul sembilan, mandi dengan baik dan mengenakan kaus polo, jeans dan sandal, tidak lebih. Ia mengangguk dan memasukan kuncinya kedalam saku. Dia tidak menanyakan apapun, dan kami melanjutkan hari itu seperti biasa, seakan-akan aku tidak pernah membicarakan tentang malam yang akan datang.

Kami duduk dalam sesi brainstorming dengan tim yang ditugaskan untuk menyelesaikan bagian furnitur milik Alex, makan siang dengan klien potensial, bertemu dengan klien yang kurang senang dengan biaya produksi untuk serangkaian spot iklan tiga puluh detik. Hari itu berakhir sebelum jam lima, setelah kami bertemu dengan Claire dan memperbaharui jadwal kami dan memberikan instruksi pada Claire mengenai surat dan kontrak yang harus ia buat. Selama itu, ia tidak pernah menyentuhku atau menatapku dengan pandangan tidak biasa. aku mengikuti langkahnya, tapi harus kuakui, bahwa aku sedikit gugup dan tidak fokus, namun sepertinya tidak ada yang memperhatikan.

***

Ketika aku mendengar suara klik pintu dan akhirnya terbuka, aku masih di kamar mandi. "Glory," panggilnya tampak seperti sebuah bisikan.

"Di sini," jawabku. "Duduklah di tempat tidur, aku hampir selesai," aku mendengar pintu ditutup, suara klik dari kunci keamanan, diikuti oleh suara desir lembut kasur ketika ia duduk. Aku mengenakan stoking tinggi hingga ke paha, celana dalam thong hitam, dan jubah sutra hitam sepaha dengan bordiran naga merah muda di bagian belakangnya. Aku sudah menghias mataku, menggunakan shading dan garis mata berwarna gelap, dan menyisir rambutku hingga tampak lebih penuh dan liar. Aku menyelesaikan rangkaian make up itu dengan sedikit perona pipi, lipstick dan sedikit perona pada putingku. OK. Aku sudah siap.

Yang kubutuhkan saat ini adalah keberanian. Dia bisa menunggu. Menunggu akan menjadi hal yang baik untuknya. Aku menyelipkan tanganku ke balik thong dan mengelus klitorisku dan bibir vaginaku hingga terasa lembab. Aliran darah langsung mengalir ke inti kecil itu dan menyebabkannya menonjol diantara bibir vaginaku. Aku berpegangan pada sisi westafel untuk menjaga keseimbangan kakiku. Semburan memerah mulai menghiasi wajahku, dan mataku berubah-rubah dari gelap ke terang, aku membasahi bibirku dengan lidahku, dan tersenyum pada wanita panas di cermin. Aku menarik celana dalam thong itu kembali ketempatnya, berdiri, dengan cepat mengusap handuk kecil kebawah payudaraku untuk menghilangkan kelembapan dan memutuskan, bahwa aku siap untuk bermain.

Aku membuka pintu dan berdiri di ruang sempit antara lemari dan tempat tidur. Matanya tampak tak teralihkan dari tempat itu. payudaraku yang memerah, perut datar dan segitiga hitam tipisku terasa terbakar dan tergelitik ketika matanya, yang seperti jari-jari, menelusuri bagian-bagian itu. pada awalnya, sulit untuk menutupi bagian kulit yang terlihat, menarik-narik kimono hitam itu hingga menutup, untuk menyembunyikan dari matanya yang kelaparan, tapi ini juga menyenangkan. Ini sangat menyenangkan untuk membiarkan matanya menghanguskan kulitku, untuk mengetahui bahwa ia menginginkanku, untuk melihat keliaran di wajahnya, dari cara ia memegang bibirnya.

Aku berjalan kearahnya dan berdiri di hadapannya, bibirnya membentuk sebuah garis tipis, membiarkan ia mencium aromaku dan merasakan panasku. Ketika ia menutup matanya untuk menguasai kontrol akan dirinya lagi, aku bergerak kedepan dan mengusapkan putingku di bibirnya. Bibir dan lidahnya mencari putingku seperti anak anjing yang masih baru dan buta, menghisap dan menjilat, tetapi tangannya tidak menyentuhku. Aku membiarkannya menghisap untuk beberapa saat kemudian menarik diriku lagi.

"Aku ingin kau membuatku orgasme memakai mulut dan tanganmu," kataku sambil pindah ketempat tidur dan duduk di seberangnya. Aku meluruskan tanganku, bersandar dan membuka kakiku. Dalam hitungan detik ia sudah berlutut diantara kakiku, mulutnya dipayudaraku lagi, membuat putingku semakin mengeras dan basah, tangannya mencengkram dan memijat pantatku. Ia menarik turun celana dalam thongku sampai kepaha, dan menjalarkan lidahnya ke garis rambut disana.

Aku membuka kakiku lebih lebar untuknya dan ia mulai menekan lidahnya terhadap bibir vaginaku, sementara jari-jarinya masih menarik-narik putingku dan mempermainkannya. Aku menggeliat di bawah serangannya dan lidahnya meluncur lebih dalam ke bibir yang lembut itu, dan menekan inti yang menonjol. Ia menusuk-nusuk lidahnya kepada inti itu, mendorongnya maju mundur, sementara itu ia memasukan dua jari besarnya ke  bagian tubuhku yang sudah menetes. Jari-jarinya membuat alur yang kontra dengan lidahnya, dan tubuhku mulai bergetar, menyentak ketika aku orgasme, tapi ia menahanku dengan mulutnya, dan ia terus mencium dan menghisap bibir vaginaku yang bergetar. Aku harus mendorong kepalanya menjauh, sebelum aku berteriak dan mengejutkan keluarga lain yang berada di kamar sebelah. Aku mendorong kepalanya, tetapi ia menolak.

"Aku ingin…" katanya seraya mencengkram pahaku. "Bolehkah… ?" tanyanya, ia menekan pipinya di paha dalamku, seolah-olah takut untuk melihatku.

"Tidak." kataku, kemudian mendorongnya lebih keras lagi. "Tidak," kataku lebih keras dan mendorongnya. Ia jatuh kebelakang dan mendarat tergeletak di atas karpet.

"Tidak," kataku sambil menarik Thongku dan kembali berdiri. "Jangan menyentuhku kecuali aku memberikanmu izin," tegurku sambil menekankan tumit sepatuku ke pahanya. Sesuatu dalam diriku ingin tertawa dan mengatakan "anjing nakal" dan memukulnya dengan koran, tapi aku tidak punya koran, dan aku senang karena aku takut hal itu akan terlalu berlebihan dan aku akan merusak karakterku sendiri.

"Bangun." Perintahku. "Duduk di tempat tidur."

Dia melakukan apa yang diperintahkan. Aku berdiri di hadapannya, vaginaku berada sejajar dengan wajahnya. Dia mencondongkan tubuhnya kedepan. "Jangan sentuh aku."

Ia kembali mundur dan menunggu.

"Apakah kau pernah disetubuhi di pantat?" tanyaku.

Ia memalingkan wajahnya. Aku mencengkram wajahnya dan mendongkakkan wajahnya keatas dengan kasar. Matanya menghindari mataku. "Aku bertanya padamu,"

Dia tidak mengatakan apapun. Aku melepaskan dagunya dan menampar keras wajahnya. Jari-jariku meninggalkan tanda merah terbakar. Dia tersentak sejenak, matanya berkelebat marah. Perutku menegang. Apa aku kelewatan? Hey, kau belajar dari praktik.

Aku mendongkakkan wajahnya lagi dan mengunci matanya dengan mataku, memastikan bahwa mataku keras, tak teralih. Ia mengangguk. Aku tersenyum. "Apakah kau homo?" tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya. "Apa sebutanmu ketika kau membiarkan pria bercinta denganmu?"

"Itu hanya sekali," kata-katanya nyaris tak terdengar. "Aku penasaran,"

"Apa kau menyukainya?"

"Awalnya terasa sakit," ia mengakui.

Aku mundur dan mempelajarinya.

"Lepaskan celanamu," perintahku. "Aku ingin bercinta denganmu,"

Ia berdiri, dengan sangat perlahan bahkan tampak enggan, ia membuka resleting celananya dan melepaskannya, untuk sementara aku pergi untuk membuka strap-on dildo yang sengaja ku beli untuk acara ini. Ketika aku berbalik padanya, kemaluannya sudah berdiri penuh dan keras. Dia tampak begitu besar, tebal dan panjang, dan untuk sesaat aku menyesali atas keterbatasan yang kutempatkan pada perayaan malam ini.

"Kemarilah," perintahku. "Pasangkan ini padaku,"

Dia berjalan kearahku dan berlutut untuk mencapai antara kedua kakiku dan memasangkan tali dildo itu. satu set ikat pinggang dan Velcro dengan bagian bawah yang lembut dan mirip seperti bantal, sesuatu yang membuatnya menggantung nyaman diantara kedua pahaku. Jari dan tangannya berlama-lama tinggal di paha dalamku, meninggalkan jejak dimanapun mereka menyentuh. Aku membiarkannya. Ketika ia selesai, ia kembali berjongkok dan memandang kearahku, bagian tubuhnya yang besar dan tegang menonjol di balik celana katun polonya. Dildoku sendiri menonjol keluar tepat di atas klitorisku. Ini adalah sepotong karet keras tumpul, hanya sekitar 5 inchi atau lebih. Aku tidak ingin menyakitinya.

"Aku ingin kau dilantai antara tempat tidur, wajahmu di karpet, pantatmu keatas." Kataku.

Ia tampak ragu-ragu.

"Sekarang." Perintahku.

Ia melakukan apa yang ku perintahkan.

Aku berlutut di belakangnya dan memegang bolanya dengan tanganku. Lalu aku membungkuk dan menghisap sebanyak mungkin yang mampu kulakukan. Mereka asam dan asin. Aku meluncurkan lidahku keatas dan kebawah, dan membelai dengan jilatan basah yang luas. Bagian yang tidak bisa ku rasakan dengan mulutku, kubelai dengan jemariku. Ia mengerang dan mengangkat pantatnya lebih tinggi lagi. Aku menganggap itu adalah petunjuk untukku bahwa ia siap dengan langkah selanjutnya.

Aku memasukan tiga jariku kedalam botol cream yang aku beli bersamaan dengan dildo itu. penjaga toko itu mengatakan, bahwa ini bagus untuk pemula. "Membuat segala sesuatu masuk dengan mudah dan ini rasanya enak." Katanya menyeringai sambil mengambil uangku. Aku menyelipkan jariku kesepanjang pantatnya, melewati bola-bolanya dan keatas melalui celahnya. Pantatnya bergetar. Ia merintih. Aku meluncurkan satu, kemudian dua jariku ke dalam lubangnya yang mengerut, dan ia mengerang.

Aku memasukan satu jariku lagi, dan ia menggigil bagai anjing besar. Aku menekankan bibirku ke pantatnya dan menggigit perlahan, kemudian menggigit sisi lainnya. Ia menekankan tubuhnya lebih dekat ke wajahku. Aku meraih bagian bawahnya untuk menunda dan membelainya, tanganku menelusuri sepanjang penisnya. Itu sangat panas, ketat dan mulai menetes. Ia terengah-engah dan aku bisa merasakan antisipasinya. Aku mencengkram dildoku dengan telapak tangan yang sudah dilumasi, menarik-nariknya beberapa kali untuk meratakan krim di permukaannya, menambahkan setetes lagi untuk ujungnya.

Aku bergerak di belakangnya, menekan penisku kelubangnya yang mengkerut, dan mulai mendorong perlahan pada awalnya, tapi kemudian ia mendorong kembali kearahku hingga aku masuk lebih jauh. Ada tonjolan pada sabuk dildo itu yang menekan klitorisku setiap kali aku mendorong penisku pada Bruce. Dan itu membuatku ketagihan.

Tak lama kemudian aku mendorong penisku ke pantat ketat Bruce, dan setiap sodokan mengirimkan serangkaian gelombang dan membuat inti kecilku kembali bergetar. Tampak semakin menegang karena dorongan itu. aku menegangkan otot-otot pantatku untuk mendorong dengan keras. Aku memegang pinggulnya dan membiarkan dorongan dan gelombang itu mengalir melalui tubuhku; itu adalah gelombang murni dari kekuatan dan kenikmatan, tetapi aku tidak menyerah padanya secara keseluruhan. Bruce mengerang, menyerah dengan suara keras, dan hampir bangkit dari posisinya. Aku meraih kebawah, mencengkram miliknya, dan menarik ereksinya menggunakan jemariku yang licin. Tubuhnya tersentak dan menyemprotkan sperma ke karpet. Aku menarik keluar darinya dan ia jatuh kedepan, menutupi semua cairannya.

Aku meninggalkannya disana, dengan genangan air maninya sendiri, dan berjalan ke kamar mandi, membereskan seluruh mainanku kedalam tas dan kembali mengenakan jeans dan T-shirtku. Ketika aku keluar dari kamar mandi, ia tengah duduk diatas tempat tidur, masih tidak mengenakan celana, kemaluannya tampak tenang di antara kedua pahanya. Aku mengambil tasku dari lemari dan berjalan ke pintu.

"Bersihkan semua kekacauan ini sebelum kau pergi," ujarku ketika berdiri di samping pintu. Ia mengangguk tanpa menatapku. Aku berjalan keluar menyambut malam. Masih ada beberapa anak dan orang tua mereka di samping kolam renang. Aku bisa mendengar percikannya ketika seseorang masuk kedalam air, hening, kemudian seorang wanita tertawa dan disusul dentingan gelas. Aku menutup pintunya dan berjalan menuju kearah mobilku.

***

Penerjemah: +Cherry Ashlyn
cherryashlyn.blogspot.com

Poskan Komentar

15 comments

whuahahhahhahahhaaa,,,another warning,,,
makasih mas Yudi, *sun jauh,,,
makasih Ziaaaaaaaaaa,,,,,*kiss & hug untukmu,,,

Ogah banget jadi Bruce... wkwk..

Wow emang beda ya.mksh mas yudy.mbak cherry ashlyn

Haha...teruz terang ini agak beda ya...hmm

waw..ngeri jg kl cw yg dominan,haha

Sekarang aku tau kalo ada warningnya
ternyata jauh melampaui yang di bayangkan.
Menunggu warning2 berikutnya :D

wkwkwkwkw.. duhh kasian bgt Bruce nya.. eh tapi dia suka. nah yo.. aih.. makasi mas mimin n Cheryy...^^

Warningnya ga nahan...
Makasih Cecer cantik :D

hmm..bru nyadar Cherry bru cwuit cepentin..ck..ck..ck...bcaanñ anak jaman skrg *geleng2 mode on*..hee..peace Cherry dear..thank you n great job for the TL..mmuuaacchh:* n thank you very much to you too om miiinnn....^^

Bru kli ini mbca cerita sperti ini.... Smpe2 terlintas dpikiran pun ngga.. Heheh. Tpi deg deg jga mbca Πγª. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mas Yudi atas pilihan novel Πγª. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Jga buat mba cherry.

huaahhhh......ngak pernah terbayangkan warning nya seperti itu
bahaya juga kalo ce yang dominan....wkwkwkwkwkwk...
thx buat mbak cherry en mas yudi

whoaaa haaaahhahaaha
cewek jd dominan wow banget
oh Glory glory

Aaaaaw serem..
(tutup mulut tutup kuping)
Tp penasaran itu si bruce kok mau"nya d gituin..

ga tega deh ma si bruce. Keterlaluan tuh si glory. Wuuu

ini kok seperti yaoi yaa?O,Oa

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top