23

thb-thumb
Bosku, Bruce Davies, CEO dari Davis and Birch Advertising, berdiri di ambang pintu dengan mulut terbuka karena terkejut. Aku tidak mengatakan apa-apa. Tidak bisa. Alex membungkukkan tubuhku diatas meja, rok pensil hitam pendekku dinaikkan hingga ke pinggul, payudaraku tumpah keluar dari jaket yang ku kenakan, putingku meninggalkan jejak di atas kertas penghisap tinta, dan penis besarnya mendorong kedalam vaginaku, membuatku merasa seperti penyanyi opera.

Alex terengah-engah di belakangku, ia mencengkram erat pinggulku. “Jangan bergerak.” Bentaknya sambil meningkatkan kecepatannya. Pantatku mengejang terhadap pangkal pahanya ketika ia mengisiku lagi. Bagian bawah kemejanya menggelitik punggungku. “Oh, Glory.” Suaranya berupa bisikan yang serak ketika kemaluannya semakin mengeras di dalam diriku. Aku menggeliat dan mendekat, untuk bisa merasakannya lebih banyak lagi.

“Aku tidak bisa berhenti, Babe, tidak bisa.” Aku menegakan otot-ototku, membelai kemaluannya untuk menunjukan bahwa aku baik-baik saja, bahwa aku ingin ia meneruskannya, bahwa aku merasakannya. Tangannya yang licin meluncur disepanjang pantatku ketika ia berusaha mempertahankan cengkramannya. Dan kemudian ia datang, tubuhnya menyentak melawan pantatku ketika ia memuntahkan benihnya. Aku senang karena telah memperingatkannya untuk menggunakan kondom. Ini terasa seperti ia membuka tutup hydran dan dia tidak bisa menutupnya kembali. Akhirnya, ia masih sedikit bergetar, kemudian diam. Tangannya beristirahat di atas punggungku.

“Ketika kau sudah selesai di sini Ms. James, aku ingin kau menemuiku di ruanganku.” Ujar Mr. Davies sebelum mundur dan menutup pintu.

“Maafkan aku soal itu,” ujar Alex sambil menarik keluar miliknya, menarik rokku menutupi pantatku yang terekspos, dan mulai memperbaiki pakaiannya.

“Hey, apa mau dikata?” kataku, bukan hanya untuk menenangkannya, tetapi memang karena tidak ada yang bisa di katakan. Aku adalah Glory James, akunting junior, tetapi sebagian besar diriku, atau memang diriku, adalah asisten Mr. Davies. Aku tidak menulis berkasnya, atau mengetik korespondensiya, atau melakukan sesuatu seperti itu. Ia mempunyai asisten lain untuk melakukan semua hal itu. Aku menangani hal-hal yang tidak bisa ia lakukan karena tidak memiliki waktu lebih, seperti penelitian pendahuluan latar belakang klien, dan angka penjualan atau produksi yang ia butuhkan atau sentilan kontrak sebelum hukum mengakhiri mereka. kadang-kadang aku menjemput klien dari airport dan memastikan mereka untuk tinggal dengan baik, dan terkadang aku membawa mereka makan malam atau minum ketika Mr. Davies ada keperluan mendadak. Itulah yang terjadi dengan Alex di sini. Alex dan mantan istrinya mendesain dan membuat sepatu, mereka bekerja di bidang fashion dan baru-baru ini merambah ke jalur furnitur. Mereka mencari biro iklan.

Disitulah aku masuk. Ada beberapa permainan kata-kata dengannya, tetapi bercinta dengan Alex bukanlah sebuah kesengajaan. Maksudku, itu tidak termasuk dalam deskripsi pekerjaanku. Hanya saja aku menyukainya. Dia adalah pria besar yang merawat tubuhnya, ia cerdas, membaca buku, bukan hanya majalah perdagangan dan surat kabar.

“Apa kau akan baik-baik saja?” tanyanya ketika kami berdua sudah merapihkan pakaian dan menghabiskan tisu basah yang ku letakan di dalam laci mejaku. “Kau mau aku berbicara kepadanya?”

“Tidak. aku baik-baik saja,” kataku, tersenyum tulus kepadanya. Aku sudah bekerja dengan Davies selama dua tahun tanpa komplain apapun. Aku selalu menyelesaikan seluruh perintahnya dengan baik, dan ia akan terus memberikanku lebih banyak tanggung jawab. Itu berarti ia suka caraku menangani pekerjaanku. Jika ia tidak memaafkan kesembronoanku kali ini, itu berarti ia berada di bisnis yang salah. Lagi pula, ini diluar jam kerja, dan bercinta dengan klien bukanlah sesuatu yang buruk.

Alex menarik tubuhku mendekat, menawarkan sebuah kenyamanan. Dia mencium bagian atas kepalaku. “Aku tidak yakin, tetapi jika ia memecatmu, kau bisa bekerja bersamaku, dan aku akan memindahkan bisnis periklanan ini kepada biro iklan yang lain,”

Aku menyandarkan kepalaku ke kemeja biru mudanya, menghirup aroma maskulinnya dan kehangatan yang terpancar dari dadanya.

“Dan jangan biarkan dia menggertakmu untuk melakukan apapun yang kau tidak inginkan,” Ia menarik tubuhku sedikit dari dadanya, hingga ia bisa melihat wajahku, dan aku bisa melihat makna perkataannya dari matanya. Aku mengangguk.

“Aku akan menunggu di sini,” katanya, kemudian membalikan tubuhku menghadap pintu.

“Tidak,” kataku. “Kau kembalilah ke hotel, aku akan menghubungimu nanti,”

Ia berdiri disana, tidak bergerak.

 “Sungguh,” aku meyakinkannya. “Aku bisa menangani masalah ini,”

“Glory,” ia memulai.

“Aku bisa menangani ini Alex, sungguh.” Kataku, kemudian mengambil berkas yang membuat kami di sini. “Dan bawalah ini. Bacalah semuanya, dan katakan padaku apa pendapatmu. Aku akan menghubungimu. Paling lambat besok pagi menjelang siang.” Aku mendorongnya dan berkas itu keluar pintu.

“Aku bisa menunggu, dan kau bisa pergi ke hotel bersamaku,” bujuknya.

Aku tertawa. “Terima kasih, tapi sungguh, aku harus meluruskan ini dan aku membutuhkan waktu sejenak. Aku ingin kau pergi, oke?” kau harus tegas dan jelas kepada beberapa pria. Alex menyenangkan, tetapi aku sedang tidak ingin menjalin sebuah hubungan. Meskipun sebenarnya kau harus memberikannya penghargaan. Dia tidak seperti bajingan lain yang langsung lari seperti tikus ketika melihat tanda kesulitan.

Aku berjinjit dan menekan bibirku ke bibirnya. Aku bisa merasakannya melembut dan menyatu dengan bibirku. “Itu bagus,” kataku di bibirnya, dan itu memang benar, meskipun aku tidak sampai datang. Mungkin itu berkaitan dengan intrupsi kedatangan Davies. “Kau sangat baik,” kataku, dan menyelipkan ujung lidahku diantara bibirnya. Ia menangkup pantatku dan meremasnya.

“Sekarang pergilah,” kataku tegas kemudian mendorongnya keluar pintu.

Aku menatapnya untuk beberapa saat, memastikannya berjalan ke lift bukan berbalik keruangan Davies. Ketika aku mendengar suara ding dari lift, aku menutup pintu ruanganku dan bersandar pada permukaannya yang keras untuk menenangkan nafas dan kegelisahanku. Kemudian aku berjalan menuju pintu lain di sisi ruanganku, yang mengarah langsung keruangan Davies.

***

Aku mengetuk sekali. “Masuk,” suaranya teredam dari balik pintu, tapi cukup jelas. Aku berdiri diambang pintu untuk merenungi apa yang harus ku lakukan selanjutnya, merasa tidak yakin bagaimana cara menangani masalah seperti ini. “Duduk,” katanya, dan menunjuk salah satu kursi dari tiga kursi kulit yang membentuk setengah lingkaran di depan meja kerjanya. Aku memilih yang tengah, mengahadapkan diriku langsung kepadanya ketika ia duduk di belakang meja kerjanya yang besar dan kokoh. Ia meletakan sikunya di tepi meja, menahan bobot tubuhnya. Ia mempelajari wajahku untuk sejenak, membiarkan kesunyian berbicara sambil mengatupkan kedua tangannya. salah satu jarinya memainkan bibirnya.

“Alex Rodriquez?” katanya, atau itu berupa sebuah pertanyaan.

“Sir?” aku balik bertanya.

“Mengapa?”

“Aku menyukainya,” sebuah kebenaran. Ia mengangguk.

“Kenapa disini?”

“Itu terjadi begitu saja. kami kembali kesini untuk mengambil bahan iklan. Dia tidak ingin menunggu sampai besok,”

“Apa dia satu-satunya?”

“Sir?” apa yang sebenarnya ia tanyakan?

“Klien kita?”

“Ya,”

“Harus ku katakan – “ ia bersandar ke kursinya. “—aku terkejut dengan…apa yang kau lakukan,”

Aku menunggu.

“Tentu saja, aku tau kau adalah wanita yang sangat sensual. Semua orang bisa melihat itu, tapi kau selalu bersikap sangat…sangat...baik.”

Aku tidak bisa menahannya. Aku menertawakan perkataannya. Bersikap baik, bagaimana mungkin ia bisa beranggapan seperti itu?

“Tidak,” ia sedikit memerah. “Maksudku, kau selalu bersikap cekatan ketika berhadapan denganku,”

Mengapa ia mengatakan itu? aku mengangguk, dan aku yakin alisku naik dan berkerut sebagaimana yang selalu kulakukan ketika sesorang mengatakan hal yang jelas atau menjengkelkan.

“Maksudku, aku selalu melihatmu menarik.” Jari-jarinya menggosok dagunya sambil berpikir sebagaimana yang kerap ia lakukan ketika berdiskusi tentang klien dan kontrak dan strategi terbaik untuk untuk menarik mereka.

Oh tidak, pikirku, aku benar-benar menyukai pekerjaan ini. Aku menyukai Davies. Dia adalah bos yang baik, bagus dalam melakukan pekerjaannya, dan percaya padaku untuk melakukan pekerjaanku, tidak ada tebakan lain. Ia tampaknya tau batas kemampuanku dan memastikan bahwa aku menguntukan mereka. kemudian ia masih terus menggenggam tanganya sendiri. Kami sudah sering keluar untuk minum dengan banyak klien hingga larut malam, dan ia bahkan tidak pernah membiarkan satu tanganpun menyentuh payudaraku, dan jika seorang klien tampak terlalu dekat, dia tidak pernah gagal untuk menarik perhatian mereka. aku menghormati Bruce Davies. Gadis kecil dalam diriku ingin menutup telinganya dan mengklik sepatunya.

“Dan kau wanita yang pandai,”

Dalam hal apa? Aku ingin bertanya.

“Aku suka wanita yang pandai,” katanya.

Alisku kembali mengerut. Dua tahun, aku mulai berpikir, dua tahun melakukan berbagai persiapan, perencanaan dan bekerja keras. Aku pikir aku bisa merasakan kehangatan rumah di sini, kemudian aku bisa tumbuh. Aku menegakan tubuhku dan beranjak ke sisi kursi, bersiap untuk pergi. Aku bagus dalam pekerjaanku, aku tidak perlu bercinta dengan bosku atau siapapun untuk menjaga pekerjaanku.

Ia menegang. “Tunggu.” Katanya, mengulurkan tangannya seolah-olah ia bisa menahanku di tempat dengan gerakan tubuhnya.

“Glory, aku tidak memerintahkan apapun padamu. Kita bisa melanjutkan seperti sebelumnya. Hanya saja ketika aku melihatmu bersama Rodriquez…”

“Kau pikir ini adalah permainan yang adil?” aku menyelesaikan perkataanya.

“Tidak,” katanya, dan menatap langsung kearahku, seakan-akan ia ingin aku melihat kebenarannya. “Aku baru menyadari betapa besar aku menginginkanmu,”

Kegamblangan dari pernyataannya menghentikanku sejenak.

“Apa kau memiliki seseorang yang spesial?” tanyanya.

Aku menggeleng. Sangat sulit untuk menatapnya, karena matanya tengah membakar ke dalam diriku.

“Begitupula denganku,” katanya. “Semenjak bercerai, tidak ada satu orang pun yang bisa ku percayai. Dan tanpa kepercayaan, aku lebih suka tidak pergi,”

Aku menatapnya, mencoba memahaminya.

Aku ingin diberitahu apa yang harus kulakukan,” jawabnya singkat.

Aku mengangguk seolah-olah aku mengerti, tetapi sebenarnya aku tidak terlalu mengerti, tidak sepenuhnya. Aku tengah melihat sisi lain dari pria ini, sisi yang sangat jarang ia perlihatkan kepada orang lain. Ia duduk disana dengan stelan gelap rapih yang begitu sesuai, dasinya agak sedikit longgar, tetapi masih terikat ditempatnya. Rambutnya sudah sedikit menipis, tetapi gaya potongannya membuat itu tidak terlihat. Potongannya begitu cocok karena dengan tegas menunjukan tulang pipi dan mata abu-abunya. Sebagai seorang pria 40 tahun dengan aku 27 tahun, dia bisa saja…setidaknya menjadi pamanku. Aku bisa merasakan tarikannya. Dia mengatakan bahwa ia membutuhkanku, tetapi ia tidak bergerak. Dia duduk diam dan menunggu keputusanku.

“Aku akan memikirkannya,” kataku akhirnya.

Ia mengangguk, jemarinya menggosok bibir bawahnya ketika mempelajari wajahku.

Aku berdiri.

“Glory,” ia memanggil namaku dengan lembut. “Hanya jika kau ingin. Tidak ada paksaan,”

“Sampai jumpa besok,” kataku ketika berjalan kembali kepintu yang mengarah ke ruanganku.

***

Setelah beberapa hari, semuanya kembali normal, kurang lebih begitu. Alex menandatangani kontrak dengan kami. Dia menelepon beberapa kali dan aku pergi bersamanya, biasanya pergi makan malam, dengan dessert di kamar hotelnya, tetapi aku senang ketika akhirnya ia pulang ke rumah. Pria yang menyenangkan, tetapi aku tau dia memiliki pacar di rumahnya di Madison, Wisconsin, dan aku tidak tertarik untuk mengambil tempatnya.

Begitu pula dengan Mr. Davies. Dia tidak menatap aneh kepadaku, dan dia juga tidak mengurangi pekerjaan. Dia hanya tersenyum ketika aku menyapanya di pagi hari dan memperlakukanku dengan baik ketika kita makan siang bersama klien atau ketika kami tinggal di ruangannya untuk membahas masalah promosi. Itulah mengapa aku merasa sangat terkejut pada suatu malam sekitar tiga minggu kemudian, aku menoleh untuk melihatnya berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruangan kami. Yang pertama, dia tidak pernah menggunakan pintu itu, dan yang kedua, dia tampak tidak yakin, seperti tengah terluka.

“Apa kau sudah memikirkan tentang itu Glory?” tanyanya.

Aku ingin mengatakan, “Apa?” sebagian dari diriku ingin berpura-pura tidak mengerti apa yang yang sedang dibicarakannya, tetapi selama ini semuanya berjalan baik-baik saja.

“Ya,” aku mengatakannya karena dia menginginkanku untuk mengatakan itu, dan aku memang sudah memikirkan tentang itu. aku sudah memikirkan tentang apa yang ia inginkan. Aku mengerti jika ia ingin aku membuat sebuah perintah, mengatakan apa yang harus ia lakukan, tapi aku takut menghadapi kelanjutan dari semua ini. Tapi jika aku boleh jujur pada diriku sendiri, aku harus mengakui jika tawarannya sangat menakutkan dan memikat diriku.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.

“Apapun,” bisiknya misterius.

“Apa batasanmu?” aku membutuhkan lebih banyak informasi.

Ia berpikir sejenak. “Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku tidak ingin menyakitimu,” dia berhenti sebentar, kemudian menambahkan, “Kau bisa… menyakitiku, kau bisa menghukumku jika aku berkelakuan buruk,”

Aku mengangguk.

“Ini hanya di antara kita,” ia mengingatkanku.

“Aku tahu,” kataku. “Kau bisa mempercayaiku Bruce.”

Ia tersenyum, begitu menawan, senyuman yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Aku berjalan kepintu di ruanganku dan menguncinya. Ia mengunggu, tangannya berada di kedua sisi tubuhnya.

“Yang ku suka,” kataku ketika aku berdiri di belakang meja kerjaku dan menggeser pantatku ke bagian halus penghisap tinta. “Adalah kau, berlutut di hadapanku,”

Ia bergerak kaku pada awalnya. “Tutup pintu.” Kataku ketika ia berjalan mendekat. “Kunci,” perintahku. Ia melakukan apa yang ku katakan dan kemudian ia berlutut di hadapanku, masih dengan jas dan dasinya. Tangannya yang panas menyentuh pahaku, hidungnya menekan vaginaku, mengosok bagian lembab celana dalamku.

“Tidak,” kataku. “Tunggu dulu,”

Ia berhenti dan duduk diatas lututnya.

“Lepaskan celanaku,”

Tangannya bergerak kebawah rokku, menuju pahaku, dan menarik pita elastis dari bahan sutra itu di sepanjang kakiku, membukanya. Kemudian ia duduk kembali diatas kakinya, kepalanya tertunduk, dengan celanaku ditangannya.

“Aku mau mulutmu pada diriku, lidahmu masuk ke dalam klitorisku, menyelinap diantara bibir vaginaku,” kataku sambil duduk kembali keatas meja.

Dia, dengan hati-hati dan penuh kelembutan, mendorong rokku lebih atas sampai kepinggul, menyandarkan kakiku diatas bahunya, dan menekan mulutnya ke pusatku. Aku senang karena melakukan wax pagi ini, dan menunjukan pada Bruce sebuah garis yang lebih baik dari pada semak yang kadang susah diatur.

Ia menekan hidungnya melalui celah itu, menghirupnya seakan-akan itu adalah sebuah mawar, dengan kelopak lembut dan aroma yang manis. Kemudian ia menjilati celah itu, menggigitnya sedikit dan menciuminya sampai aku menarik rambutnya dan mendorong keningnya. Tetapi ia terus melakukannya hingga aku gemetar, menekan tubuhku ke mulutnya, dan menggigit bibirku untuk menahan tangis.

Ia menekan wajahnya ke paha dalamku, dan kemudian membiarkan pipinya di sana sampai gemetarku mereda. “Bolehkah aku…”

“Tidak,” kataku.

“Aku hanya ingin merasakanmu,”

“Tidak,” aku tidak tahu dari mana asalnya itu, tapi tiba-tiba aku merasa perlu menjauh. Aku mengkat kakiku melewati kepalanya dan turun dari meja. “Aku harus pergi,” aku membetulkan rokku, mengambil dompetku, dan tanpa sepatah katapun berjalan melewatinya.  Ia kembali duduk diatas pantatnya, mendorong kursiku hingga membentur dinding. Ia menatap kedua tangannya, dan sutra pink yang berada di genggamannya ketika aku berjalan keluar.

***

Penerjemah: +Cherry Ashlyn 
cherryashlyn.blogspot.com

Poskan Komentar

23 comments

peluk kecup bebeb Cherry Ashlyn, miss u much. Thank you
makasih Mas Yudi...

thank you mas admin dan mba cherry

ah yaaa ampuunnnnn Cherryyyyyy pntesan kmrn blg keringet dinginnn yg di TL inihhhh... hahaahaaa... wanita dominan.. eemmmm....
mksh Cherry n Mas Yudi

ahhahaha mantab.. makasi Cherryy...makasi mas mimin.. ceritanya seruuu buangetzz... lol..

Maknyossss..hehe
sensasi yg BEDA ;)

WOW..
Biasa baca cerita dg tokoh pria yg dominan.. Kemudian baca cerita yg berbanding terbalik rasanya..hmm.. WOW.. Speechless :D

thanks mbak cheryy and mas mimin :D

ampyuuuunnn,,,, Mrs. Robinson is in d'house,,,,
hohohohohooh,,,
Danke Zia,,,makasih mas Yudi,,

mgkin krna dah bysa cwo xg dom,truz baca ne rasanya gimanaaa gtu. Salut buat cherry n mkci byak. Mas yudi, fsf ada g y mlam ne?

Manteppp zia!!
Seruuuu, haha sekali2 donk cewe jual mahal hihi..
Makasi zia n mas yudi ;)

Wow...langsung hot nich ceritax, makasih PN :)

baru pembukanya aja udah wawwwww.....
bagus juga cara pandang sex nya...semangat mbak cherry.
mas minmin juga...thanks

hahaha..... jarang2 perempuan jdi pihak dominan. makasih mbak cherry n mas mimin. mbak cherry n mas yudi aq minta ebooknya dong please...
hmm... mas mimin punya ebooknya the challenge na megan hart 'g? aq minta dong ebook nya... aq udh nyari tpi 'g ketemu..... big hug 4 u 2....

Yg beda emang enak mksh cherry

Yg beda emang enak mksh cherry

uwoooo ms.james kenapa tiba tiba berhenti?
ini ht pake banget ><
makasih, lanjut yaaa~~~

Speechless banget baca yg ini...
Makacih mas mimin,
Makacih juga buat TL cherry
Ce'mungud ya ...

wahhh ternyata panas yah ceritanya... hihihihi
padahal akunya baru 17 tahun, tapi pembacanya harus diatas 18 taunnn, hehehhehehe
*toyor jidat sendiri*

makasii mas miminnn sebagai editor terbaik... :) :) :)

oh seperti ini cewek dominan....
geleng2 kepala ampek guling2....
makasih mbak cheryyyyyyy mas yudi

waduh, kipas2 bacanya hehehehe aww tipikal ceweknya keren, lebih dominan dan menguasai ;)
itu yg terjemahin mba cherry yg imut itu?
heeeee makasih cherry makasih mas Yudi :D

baru pertama langsung hot gini ckckckckc...
suka nih ceritanya, apalagi ceweknya dominan..jadi penasaran juga cewek kalo dominan kek gimana? hahahaha...
ditunggu next chapternya..

Klo suami dperintah2 gitu ntar dkirain kesambet lgi.... Hehhe. ☺•.•ŤћªªŇќķ•.•ўººU•.•☺ mba cherry & mas Yudi.

Iya bner mbak nira ntar bisa" d rukiah lagi...
Hahaha..
Padahal seru juga ya...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top