23

1h3s-thumb
Pertama kali bertemu Sandy, 32 tahun yang lalu. Lho, kok bisa? Iya. Karena orang tua kami bertetangga satu dinding. Maksudnya rumah kami benar-benar bersebelahan, rumah orang tua Sandy nomer 88, rumah orang tuaku 89.

Dan kami lahir di bulan yang sama, di rumah sakit bersalin yang sama, tapi untungnya jenis kelamin kami nggak sama…

Sejak Taman Kanak-Kanak, sampai kuliah pun kami selalu bersama-sama, mulai langganan becak berdua, naik sepeda mini, bonceng motor Sandy ketika SMA hingga nebeng Starlet abu-abunya selama kuliah. Kami seperti kembar siam, dimana ada Sandy, disitu ada Aline.

Kelas 1 SMA, Sandy menyatakan cintanya padaku. Dan aku, yang sudah terlanjur hanya mengenal segelintir makhluk adam, menerima dengan malu-malu pernyataan cintanya.

Tapi setelah resmi pacaran pun, nggak banyak perubahan dalam hubungan kami. Masih saling melemparkan candaan konyol, tertawa terbahak-bahak tanpa sebab yang jelas, membahas topik yang lagi nge trend, hang out di suatu tempat, main monopoli……

Mau romantisan?? Ga mungkin bisa! Paling sebatas pegangan tangan dan ciuman. Nggak ada yang namanya penjelajahan sekwilda apalagi sekwilpa. Lah wong tempat paling sepi yang pernah kami pakai buat duduk berduaan yaaaaa di teras rumahku atau teras rumah dia. Dan kami sepakat nggak melakukan yang macem-macem kalau nggak mau mengalami "Pernikahan Dini" alias langsung dikawinkan hari itu juga oleh orangtua kami.

Ibaratkan air, aku adalah air murni, 12 kali proses penyulingan. Ibaratkan emas, aku masih emas 24 karat. Pure. Anatomi manusia hanya aku ketahui dari pelajaran Biologi di sekolah. That's all! Zero contamination. Blank. Real Virgin.

Kami akhirnya menikah juga setelah gelar sarjana kami kantongi. Restu 1000% kami kantongi dari kedua keluarga besar. Nggak pake periksa yang namanya bibit-bobot-bebet-nyocokin tanggal-nyocokin shio-ngitung tai lalat-bla bla bla!

Kamar pengantin kami bernuansa merah, putih dan keemasan. Di beberapa titik dihiasi bunga mawar merah import dan wangi kamar yang lembut memberi kesan romantis. Tulisan kanji mandarin terbuat dari kertas merah yang berarti 'bahagia' di tempel di cermin hias, dan selembar lagi diletakkan pas di tengah-tengah ranjang pengantin kami.

Everything just pureeefect!

"Lin, ng….kita kan udah sah suami istri….boleh dong….." Sandy terdengar ragu mengatakan kalimat itu, sembari mengganti Tuxedo-nya dengan piyama  garis-garis, mirip punya engkong almarhum….

"Hah, boleh apaan?!?" teriakku dari dalam kamar mandi sehabis membuka semua atribut pengantin yang super ribet. Kaos belel tipis dan celana pendek katun lebih nyaman rasanya.

Sandy terlihat duduk di ranjang pengantin kami, bengong, garuk-garuk kepala……

Aku duduk sebelah Sandy, mmm…well, suamiku…..sambil memijat-mijat betis yang terasa nyut-nyut an gara-gara high heel 8 cm yang aku pakai sepanjang pemberkatan nikah dan resepsi hari ini.

"Pegel San, pijitin dong…." pintaku.

Dong! Inilah saatnya seharusnya hal itu dimulai!

Sandy mengangkat betisku ke pangkuannya, memijit-mijit lebut betisku, tapi lama-lama nggak cuma betis aja yang dia pencet-pencet, makin lama makin naik ke atas…

Celana pendekku tergulung ke atas dengan sukses, jari Sandy mulai membelai belai pangkal pahaku. Tatapan mata nya terlihat….seperti kucing tetangga sebelah yang lagi pengen kawin…. Sendu sekaligus garang! Nggak pernah aku melihat Sandy seperti ini.

Berkali-kali dia terlihat menelan ludah. Aku merasakan wajahku panas. Aku hanya bisa menatap dia dengan tangan yang memegang sprei erat-erat. Aku sudah terbaring di ranjang, dengan tangan Sandy yang akhirnya sampai ke bagian perutku.

Aku bingung, harus ngapain aku?

Aiyaaa! Seharusnya aku ikuti ajakan Yuni buat nonton BF di rumah dia bulan lalu…… Menurut dia, aku terlalu polos, harus diperkenalkan dengan apa yang dia sebut dengan "Kamasutra : great sex for everyday"

Sandy mencium bibirku mesra, lalu turun ke arah leher……. Aku tersenyum, leher adalah area yang paling sering dijelajah oleh Sandy.

"Lin, aku buka baju kamu ya……" Sandy menatap aku penuh harap.

Otomatis aku pegang erat – erat kaos tidurku. Aduh! Buka baju? Telanjang??

Sandy menyingkirkan tanganku, menarik pelan kaosku ke atas kepala. Celana pendekku pun dia pelorotin. Ya ampunnnn, aku hampir telanjang!

Sandy membelai bra ku, mencium puncak gunungku bergantian. Tangannya mengelus wajah, leher dan perutku.

"Kamu tahu Lin, aku udah lama banget memimpikan kamu begini…." Sandy tersenyum padaku, memberikan kecupan dalam.

Perlahan tangannya ke balik punggungku, melepaskan kaitan bra-ku.

Nggak buang waktu Sandy langsung meremas kedua payudaraku, memilin-milin putingku dengan jarinya.

Ketika Sandy mulai mengulum putingku, aku mulai merasakan geli menjalar dari sana ke seluruh tubuhku.

"Aw….kok sakit San?" aku mengeluh perlahan ketika kurasakan miss V ku  terasa 'peret' kering seperti mengkerut tiba-tiba.

Sandy menghentikan aksinya, menatap wajahku cemas.

"Apanya yang sakit Lin?"

Aku menunjuk area pangkalku. Sandy langsung nyengir. Dia buka celana dalamku, melemparnya ke lantai. Aku otomatis merapatkan kedua kakiku.

Rasa malu menjalar kencang, pertama kalinya aku telanjang bulat di hadapan seorang laki-laki, well, biarpun dia suamiku.

Sandy memegang kedua kakiku, memaksa membuka lebar.

Dia membelai rambut pubisku yang lebat hitam, dan dengan dua tangannnya dia membuka lebar liang miss V ku.  Rasa 'sakit' seperti mengkerut makin aku rasakan disana.

"Kamu….kamu sempurna Lin……Aku akan buat kamu bahagia……aku akan buat kamu merasakan nikmatnya ini Lin….." Sandy membisikkan kata-kata yang membuat aku terasa melayang.

Jempolnya mulai mengelus clit ku perlahan, jemari nya yang lain mengelus liangku seakan-akan mengorek-ngorek sesuatu.

"Kamu merasakan enak Lin…?"

Aku mengangguk, rasa sakit mulai berkurang digantikan rasa basah yang tiba-tiba terasa keluar dari liangku.

Sandy menghentikan kegiatannya, dia membuka bajunya sendiri secepat kilat.

Saat Sandy membuka celana dalamnya, petaka itu datang!

Mister Dick nya seakan – akan melompat keluar, panjang, merah, dan karena ini pertama kalinya aku melihat mister Dick secara live, aku spontan bengong berat. Melongo dan penasaran aku dekati Sandy, mengamati dari dekat.

"Kok begini bentuknya San? Kamu sakit?"

Sandy gantian melongo melihat aku, menggelengkan kepalanya takjub.

"Ha ha ha ha…. Lucu banget ya San, kayak karet…." Aku spontan ngakak.

Buk! Sebuah bantal sukses mendarat di kepalaku. Sandy menepuk jidatnya. Aku gantian melempar dia. Perang bantal nggak bisa dicegah lagi….

Malam itu, yang seharusnya jadi malam pertama yang romantis, berakhir dengan perang bantal. Setelah kecapean, kami berdua tertidur, bertelanjang berdua di bawah selimut tebal….

The truly romance terjadi pagi harinya. Aku terbangun karena usapan dan kecupan Sandy di sepanjang punggungku. Tangannya  membelai tiada henti sampai ke perut, paha dan pantatku.

Aku membalikkan badan, berhadapan dengan Sandy.

Dia menuntun tanganku ke mister Dick nya yang sudah siaga penuh. Tanganku ber-explore, memainkan batang dan bola-bolanya perlahan. Sandy menggigit dan menjilat putingku. Kasar lidahnya memberikan efek menggelinjang. Aku mulai merasakan lagi aliran panas hingga ke pangkalku. Awalnya sakit juga, tapi dengan cepat berubah menjadi seperti bengkak dan lembab.

Sandy mengelus lagi liangku, menyentuh cairan basahku.

"Kamu sudah siap Lin….. Aku akan kasi kamu kenikmatan itu….."

Sandy menindihku, menggesek-gesekkan batangnya di clit-ku. Aku mulai menikmati sensasi yang timbul, menggelenyar indah, seakan-akan berlari ke arah satu tujuan yang memuncak.

"Aku masukkan sekarang ya Lin…."

Dengan memegang batangnya, Sandy mengarahkan kepala kejantanannya ke liangku. Usaha pertama terasa sulit, aku mengerang merasa sedikit kesakitan.  Sandy terus menjilati putingku.

Ketika akhirnya batangnya amblas masuk semuanya, aku menjerit perlahan. Sandy menggerak-gerakkan pinggulnya pelan, menarik batangnya keluar, melihat noda merah virginity-ku.

Tangannya tiada henti mejelajah kedua payudaraku, lidah dan mulutnya pun nggak kalah aktif.

Aku mulai semakin tenggelam dalam suasana erotis.

Sandy mulai memasukkan lagi batangnya. Memutar perlahan, batangnya terasa menyentuh clit-ku dan secara intens membuatku semakin naik.

"Sandy….enak kalo begini San….terusin….." aku mulai meracau, tanganku menjambak rambutnya perlahan.

Dengan tetap mempertahankan iramanya, Sandy  terlihat berusaha keras untuk mengikuti kemauanku.

"San…aku…..aku….!!" aku menggelinjang keras merasakan klimaks pertama.

Sandy tiba-tiba merubah kecepatannya, sekarang dia mengeluarkan dan memasukkan kejantanannya dengan irama cepat. Sandy memejamkan matanya ketika aku rasakan ada denyutan dan aliran cairan didalamku.

Tanpa melepaskan dirinya, Sandy terkulai lemas, menciumi bibirku dan memelukku erat.

Entah berapa lama kami hanya berdiam diri menikmati saat pertama kami.

Ketika aku mengajaknya untuk mandi bersama, Sandy hanya tersenyum mesum, mengangkat tubuh telanjangku ke kamar mandi.

Tiada hari tanpa bercumbu dan bercinta sepanjang tahun itu. Yuni – sahabatku – menjadi konsultan seks yang terbaik bagiku. Dalam setahun, aku bukan lagi Aline yang polos, tapi Aline yang penuh imajinasi dan liar…..

Terkadang Sandy agak kewalahan menghadapi libidoku. Sangat berlawanan denganku, Sandy type konvensional, dimana foreplay dan sex toys adalah kata asing dalam pikirannya. Selama ini hanya Missionaris dan doggy style yang sering kami lakukan.

Tahun kedua perkawinan kami, Sandy memutuskan untuk memulai usahanya sendiri, membuka kantor Finance and Accounting Consultant. Aku di dakwa untuk tinggal di rumah saja, bersiap siap menjadi ibu rumah tangga tulen, resign dari jabatan Marketing di perusahaan Textile.

Ketika bayi kami lahir – Amora Princess Dinata – usahanya melambung pesat. Tapi yahhh kesuksesan terkadang membutuhkan pengorbanan.

Sandy mulai sering keluar kota atau keluar pulau. Apabila anak buahnya membutuhkan pertolongannya, dia nggak pernah segan untuk terjun turun tangan mengatasinya.

Perjalanan Sandy ke Kalimantan adalah yang terlama. Saat itu Mora berusia 4 tahun. Satu bulan lebih! Terbayang kan rasanya sebulan lebih nggak tersalurkan?

Pada saat Sandy pulang dari Kalimantan itu……………………………………………

Aku sedang di kamar, duduk di depan kaca rias, memakai lingerie merah maroon kehitaman yang baru aku beli khusus menyambut kedatangan Sandy pulang.

Menghitung mundur dalam hati, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1, yak!

Sandy masuk kamar, melemparkan tas kerjanya ke sudut ruangan, mendekati ku, mendekap aku dari belakang.

"Lin, aku kangen banget sama kamu….." Sandy berbisik, membuatku terlena. Aku membalikkan badan, bibir kami langsung berpagutan mesra.

Matanya terbelalak kagum dan menyala garang melihat aku berdandan seksi.

Dengan tidak sabar Sandy buru buru membuka lingerie ku, dan langsung membuka bajunya juga.

Dengan sekali gendong, Sandy membawaku ke ranjang kami.

Bercinta dengannya setelah sekian lama terasa nikmat sekali!

GUBRAK!

Suara pintu dibanting membuyarkan lamunanku. Nah, begitulah yang semestinya dan yang aku harapkan akan terjadi.

Kenyataannya?

Sandy tersenyum padaku, meletakkan tasnya di lantai. Mencium keningku sekilas.

Nggak ada tatapan garang, nggak ada pelukan mesra, nggak ada pertanyaan tentang lingerie seksiku.

"Mora mana Lin?" Sandy membuka bajunya, menggantinya dengan kaos rumah kebanggaan dia, dan celana pendek yang nyaman.

Aku mengkerutkan bibirku. Selalu Mora….bukannya aku iri atau cemburu, tapi aku juga masih seorang wanita – yang masih hidup – yang masih normal.

"Di kamarnya lah. Masih tidur San. Jangan ganggu." jelasku, masih mengharapkan konsentrasinya akan beralih kepadaku.

"Kangen banget ma Mora, Lin. Aku  tengok dia dulu deh…" Sandy ngeloyor keluar kamar, ninggalin aku yang akhirnya bengong kedinginan dengan baju yang minim begini.

!$@#$@&@+)*(%#!!!$&@!%^_)*%$!!!!  SEBELLLL!!!


Poskan Komentar

23 comments

hi hi hi *jadi ingat
Wkwkwk ;)

Hahahahaa..."Kaya karet"sumpah ngakak
Jiaahh bru aj mw kangen2an...
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba kaye n mamas..xixixi

wah kocak,ky gt y nikah kalo udh pny ank? *mikir thx mba KY mas mimin :*

hahahaa,,, jadiii inget sama cerpen yang menang kenari ntuh,, cwo kadag g ngerti klo qt g ngmg lngsung,, xixixi...
sabar Lin... *pukpuk Lin*
Mksh Mba KY n Mas Yudi

Wkwkwkwkwk, kasian bgt si aline

jd mirip sapa disblhkuuu ...?:P

hahahaha.. Kocak... seru...
Great mba KY...
Thanks... :D
Mas yudi mksih..

funny as hell! ;D
thanks mbak Kaye and mas minin~

Akhirrrrnaaaa.. Bisa koment jugaaaa.. Sumpahhh ngakak abis, hihihihi...merci alot mas min2 n cipok buasahhh tu mbak Kaye * ga sabar menantiiiii selanjotna ^_^*

hahaha...ngakak dah, jdi ingat hmmm....

apa???
wah ternyata cuma angannya si Aline.
wkwkwwk
poor si Aline, gmna ngak sama Aline dia. kekekekekke

hahahahaa... mba KY ini koq mirip kisah nyata yaaaa hahahaaaa

Astaga mb kayeee, hahahah
Konyol banget
Hihihiihih
Makasih mas mimin

Hihihi keren bgt mbak KY, seru....
Makasih mas Yudi ... Pak pos yg baik hati hehehe
Muah... Muach..... Big kiss

Malam pertama Ɣªήğ lucu.. Cerita Πγª keren mba. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Ya

Whuahahahhaaaa,,,,
Bener2 podu--polos & dungu-- si Aline,,,
Kocak gilaaa,,,
Ntar klo MP gitu juga kali ya???wkwkwkwkwkkkkk

hhha kasian aline yah .... mkasih mba Ky

Tks komen nya....*bungkuk dalam dalam* :-)

puahahah ngakak inih..
ampunnn ntar klo aku nikah MP nya kya gtu jg gak yah *bayangin*

mksh mb KY n.mas mimin...

kkk~~~
polos banget~
klu otaknya udah yadong kek ginih MP nya gimana yee *ngayal^^'

seru mba KY xD Next bab ditunggu~
jgn malama ya mba n mas yudi makasii =D

Hahaha.....mbak Ky ceritanya kocak abis...
Gak berenti ngakak bacanya..
Jangan" si sandy tuh punya gacoan baru mbak!
Masa dah pisah lama ma istri g ad hot hot nya..
Kasian si aline gigit jari!

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top