19
1h3s-thumb
Kata-kata orang tuaku terngiang di kepala:

"Kamu harus memilih dengan hati-hati calon pendamping kamu nantinya Aline. Pilihlah seseorang yang bisa membuat kamu tersenyum dan tertawa bahagia. Yang bisa menghormati kamu, yang bisa melindungi kamu. Harta kekayaan hanyalah bonus dalam hidup ini."

Sandy memiliki itu semua. Dibandingkan Magnus, kakaknya. Magnus sangat pendiam, aku jarang melihat Magnus tertawa lepas, terlalu serius.

Kadang Magnus terlihat aneh malah. Sering tertangkap basah sedang menatapku tanpa kedip. Tapi Magnus selalu siap apabila aku membutuhkan pertolongan. Selalu ada untukku. Ketika Mora lahir, Magnus sendirian menemaniku di rumah sakit. Sandy diluar kota saat itu.
   
Pertengkaran demi pertengkaran dengan Sandy aku lalui selama setahun ini. Sebagai wanita normal, istri yang normal, aku merasa sangat membutuhkan perhatian suamiku. Bukan hanya sekedar hubungan intim yang aku mau, tapi perhatian-perhatian dia yang aku butuhkan.

Sandy begitu keras kepala apabila menyangkut pekerjaannya.

Keintiman yang aku dapatkan dari Magnus membuatku secara nggak sadar membandingkan keduanya.

Mengapa aku merasakan kenyamanan bersama Magnus? Aku selalu bergairah kalau mengingat Magnus mampu mengendalikan aku, dia begitu possessive, aggressive, liar, jantan………

Otakku masih bekerja baik, aku masih menyadari bahwa aku hanya menjadikan Magnus sebagai pelarian saja. Aku nggak pernah menyesali pernikahanku dengan Sandy.

Benarkah?

Nggak terasa air mata mulai menetes…..Memang benar kata Mama almarhum dulu, perjalanan biduk rumah tangga nggak akan selamanya mulus. Ada yang terjungkal dan menyerah, ada yang bertahan dan melalui semuanya dengan tenang. Semua ditentukan oleh nahkoda dan navigatornya, yakni Suami dan Istri.

Badai yang menyerang biduk rumah tangga bisa beragam macamnya, tapi akar permasalahan sebenarnya hanya satu: Komunikasi. Bicarakan dengan kepala dingin, dengan hati dingin, apa yang mengganjal. Cari jalan tengah dan pemecahan, bukan mencari kesalahan atau kambing hitam, bukan pula mencari pembenaran diri.

Malam sebelum Sandy berangkat, mereka bercinta, bukan, bukan bercinta. Sandy hanya menjadikanku alat kepuasannya.

"Lin….mau dong….." Sandy berkata dalam keremangan kamar tidur kami.

Aku berbalik menghadap dia, tersenyum memberi restu. Aku pegang wajahnya, mendekatkan bibirku di bibirnya. Sandy mencium bibirku sekilas sebelum dia menggulung piyama atas dan bra-ku. Menciumi kedua payudaraku.

Aku baru mulai terasa "panas" ketika Sandy membuka celanaku hingga telanjang dan menanamkan dirinya keras. Sandy memejamkan mata ketika akhirnya dia menyemburkan benihnya di rahimku.

Mencium keningku sekilas, Sandy langsung tertidur….

Aku merapikan bajuku, ke kamar mandi, membelai-belai sendiri pusatku dengan jari mencari kepuasan. Wajah dan tubuh Magnus berkelebat menemani…..

Telepon dari Sandy membuyarkan lamunanku. Dia sekarang ada di Palembang. Baru 2 hari  di rumah, Sandy sudah pergi lagi.

"Mora sehat, Lin?" tanya Sandy tanpa kata halo.

"Iya, Mora sehat, San. Sekarang lagi di rumah Oma Lingga, mbak Diah yang nemenin Mora. Besok aku jemput."

"Mau jemput pakai apa kamu? Jangan naik umum atau taksi Lin, kasihan Mora. Suruh Magnus anterin kamu aja."

Deg!

"Nggak usahlah San, tar aku telepon Yuni buat nganterin…." elakku.

"Jangan bandel Lin. Mana Magnus? Aku mau ngomong!" Sandy mulai ketus.

Dengan langkah diseret-seret, aku ke kamar Magnus. Mengetuk pelan pintu kamarnya. Magnus membuka pintu dan terkesiap melihatku. Aku merasa panas menjalar tiba-tiba di wajahku, Magnus bertelanjang dada……

"Sandy mau ngomong Mag…." Aku menyerahkan telepon wireless rumah.

Magnus terlihat menyimak omongan Sandy disana.

"Nggak masalah San, gue jemput Mora di mama, besok. Ok. Dah."

Magnus meletakkan telpon di meja.

Magnus menghampiri aku yang sedang bersandar di tembok dekat pintu kamarnya. Tiba-tiba tungkaiku berasa lemas.

Tangannya mengusap pipiku perlahan.

"Kamu menangis Aline?...."

Aku mengangguk perlahan,  memejamkan mata, menikmati belaian jemari kekarnya.

Magnus menggerakkan jarinya sepanjang kening, pipi dan daguku. Berhenti di bibirku, mengusap perlahan.

"Jangan khawatir Aline, semua akan baik-baik saja, aku jamin itu….."

Matanya perlahan menggelap. Oh no…oh YES!.....

Bibirku bergetar ketika Magnus mendekatkan bibirnya , mengecup ringan. Menyusuri seluruh wajahku, menjilat air mata di ujung mataku.

Tanganku mulai menyentuh dadanya yang terbuka. Keras. Ototnya tampak mengejang.

Aku telusuri wajahnya, hidungnya yang bangir, matanya yang dalam, dagunya yang kasar, rambutnya yang setengah basah…….

Tangan Magnus menelusup ke balik baju kaosku. Mengelus punggungku dengan pelan. Sesekali dia menyelipkan jempolnya dibalik tali bra.

Aku melenguh. Pikiranku sudah tertutup oleh agresi nya.

Magnus semakin mendekatkan dirinya. Kejantananya terasa keras menempel di perutku.

Dengan gerakan mendadak, aku turunkan celana dia, hal yang sudah lama ingin aku lakukan!

Magnus tersentak. Magnus telanjang bulat. Kejantananya yang kemerahan dan panjang, menantang penuh!

Aku jongkok, mengeluarkan kakinya dari timbunan celananya sendiri. Aku pegang batangnya yang berurat, menyelipkan kepalanya diantara bibirku, ujung lidahku membentuk lingkaran-lingkaran kecil membelai kepalanya. Merasakan asin cairannya.

Tangan kiriku menyentuh daerah perineum antara anus dan batangnya. Magnus makin menggelinjang.

"Damn it Aline! F*ck me!" Magnus mendorongkan seluruh batangnya ke dalam mulutku.

Aku hisap perlahan maju mundur, Magnus menengadah dan menggeram perlahan.

Magnus menjenggut rambut panjangku. Dia menarik batangnya keluar dari mulutku, membimbing diriku berdiri, memaksa kepalaku mendekati wajahnya.

"Aku mau keluar di dalam kamu Aline…..bersama kamu…...kamu bersiaplah…."  suara Magnus serak di telingaku, merangsang…… nadanya adalah perintah bagiku. Aku menjadi budaknya sekarang…..

"Buka bajumu sekarang Aline….."  Magnus memberi perintah dengan tatapannya yang sehitam malam.

Aku mengangkat kaosku keatas, menjatuhkannya persis di dekat kakiku.

Magnus menelan ludah.

"Dan celanamu….."

Aku memelorotkan celanaku dan melangkah keluar.

"Kamu sempurna Aline…..sangat sempurna…..impianku……"

Aku menatap mata Magnus, ada binar kepuasan disana. Bibirnya menekuk puas ke atas.

"Buka bra dan cd-mu Aline….."

Perlahan aku buka bra dan celana dalam ku, aku lempar ke lantai.

Magnus mendekati aku, mencium bibirku dalam, mencucuk-cucukkan lidahnya ke dalam mulutku. Tangannya membelai payudara dan putingku, lalu makin turun ke perut dan pinggang. Aku membuka kakiku, memberi akses lebih luas pada Magnus untuk menjelajah daerah sensitifku.

Telapak tangannya mengusap lembut lalu membelai-belai liangku yang sudah penuh dengan cairan pelumas….

"Kamu sudah sangat siap Aline……"

Dengan mahir Magnus menjentikkan jemarinya ke clit-ku yang sedari tadi mengeras.

"Mag!" aku melenguh, memeluk leher dia untuk menahan badanku yang seakan akan menjadi makhluk invertebrate.

Magnus membopong aku ke ranjangnya.

Hawa panas tubuhnya menyatu denganku, aku sudah lupa segalanya.

Magnus membaringkan aku. Tiba-tiba dia meraih laci kecil dekat ranjangnya, mengeluarkan sebuah benda, bulat kenyal, lebih kecil dari bola pingpong, di seluruh permukaannya ada benjolan benjolan kecil merata.

"Buka kakimu lebar…." perintahnya.

Aku membuka kakiku lebar, penasaran apa yang akan dilakukannya dengan bola itu.

Magnus membuka labiaku, menyelipkan bola itu diantaranya pas diatas clit-ku.

"Menelungkup Aline, di atas guling!"

Aku mengikuti perintahnya. Oh my! Begitu daerah sensitifku menyentuh gulingnya, bola itu berguling menekan clit-ku secara intens.

"Bergeraklah Aline, rasakan bola itu menuntun kamu….."

Aku menggerak-gerakkan pinggulku di atas guling, Magnus benar, aku mulai terengah-engah mendapatkan stimulasi itu. Sesekali dia mengelus anusku, memasukkan kedua jarinya ke liangku, membelai pantat dan pahaku. Nggak lama kemudian aku terkulai….klimaks dengan memeluk guling dengan erat.

"Oh Mag!" jeritku.

Aku lirik Magnus yang sedang tersenyum puas. Dia menjulurkan tangannnya mengeluarkan bola kecil itu yang sudah basah kuyup, memindahkan gulingnya yang sebagian permukaannya terlihat basah.

Magnus membalikkan badanku, menindihku, dia mencium bibirku lagi dengan agresif, menggigit dan mengulum kedua putingku. Kedua lututnya membuka kakiku lebar. Dengan geraman keras dia memasukkan batangnya penuh ke dalam diriku.

Aku memekik pelan, menggigit bahu dia, mendorong pantatnya masuk lebih dalam, kakiku membungkus pinggang dia dengan ketat.

Magnus mulai memutar-mutar pinggulnya, aku mulai "naik" lagi.

Gerakan Magnus terasa intens, dia mulai mengatur batangnya keluar masuk.

Aku menjepit keras….

"Mag….aku mau keluar lagi….." aku makin mendorong pinggulku ke atas. Magnus menggeram lagi, dan tiba-tiba aku rasakan denyut dan semburan mengucur deras di dalamku. Dan aku menyusul Magnus mendapatkan yang kedua.

Kami terkulai lemas berpelukan.

Magnus memelukku erat, membiarkan dirinya masih di dalam diriku. Mencium keningku. Mengeringkan bulir-bulir keringat yang mengucur.

Kami menyadari ini nggak benar. Nggak ada "tapi". Memang nggak benar.

"Aku mencintai kamu Aline, dari dulu…aku ingin kamu bahagia..." Magnus berbisik pelan di rambutku.

Aku tersentak kaget. Memandang kearah mata hitamnya.

Aku benar-benar nggak pernah menyangka Magnus memiliki perasaan itu untukku. Dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya selama ini.

"Kamu nggak perlu ngomong apapun Aline, aku tahu kamu sangat mencintai Sandy….Aku nggak mungkin bisa menggantikan tempat dia di hatimu." Magnus berbisik pelan, memeluk tubuhku erat.

"Ya, aku memang masih mencintai suamiku, tapi hubungan apakah yang sedang aku jalin bersama Mag?"

Aku menyerudukkan kepalaku di dadanya, mencium aroma favoritku yang bercampur aroma seks liar yang indah…

Aku menjadi ingin lagi, lagi dan lagi

Sepanjang hari itu, Magnus benar-benar memberiku kepuasan berkali-kali, hal yang nggak pernah sanggup Sandy berikan padaku.


Poskan Komentar

19 comments

Oh My,,,
Magnum eh Magnus knp g dr dlu ngmgny??knp hrs kduluan Sandhy??
mksh Mba KY n Mas Yudi

Makasih mb KY n mas mimin..
Vieeee...klo ngomong dr dulu..ceritax ga asik donggg..ga ad selingkuh2an...ekekekeek

Pengen liat pertengkaran antar saudara..uhhuuyyyy

Astagaaa~
*hoott* *kipas2*
Hahahhaa
Makasih mas yudi,mb kaye

kok unforgiven heronya gak di upload-upload ya?

Tks mba kaye n mamas...hmmm bner vie

Hayoooo aline pilih mana o.O #plakk
wow~~ Go magnus Go magnus xxD
ahh~~ magnusnya telat sih~~ makanya klu udah suka jgn ditahan" keduluan khan jadinya =="
Mankasii mba KY :* keren konflik ceritanya, poliandri heeemh~~ bisa bisa, wkwkwkwkk...
Mkasii PN :*

Aq mau MAGNUS eh salah MAGNUM buat ilangin gerah *elap keringet*

Mbk santhyny lgi skit..:(
Mngkin bsok klo udh baikan bsa d upload :d
Ksian bgt tu.. Ga smbuh2 dri bln llu..:(

Wow... thanks mimin

Hmm,,,ku pikir tadi bakal jadi 4some,,,wkwkwkwkw,,,
Trnyata hanya Magnum & Sandy,,
Then its gonna be 3some,,,hheheehheeee,,,
Makasih mbak KaYe Sunderland,,
Makasih mas Yudi,,,

Keeereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennn

Ada yang menelikung MAGNUM di perempatan jalan rupanya...
Mbak Kaye Sunderland? I must have missed the story...
Eitss, makasih ya Mas Yudi...
Makasih juga Mbak Kaye...

Kereeeeeeen dan bikin gerah *kipas2*
Thanks to admin & mbak KY :D
Ditunggu yang selanjutnya yaaaaaa....

Wow... Kederrrrr bacanya.....
Makasih makasih makasih....

Magnum sma Aline susah jga bersatu ya... Makasi mba KY dan mas Yudi.

wah, gak bener nih..
aduh, kok aku jadi pengen makan magnum.. mamas beliin donk

kok gak ada tanda panah lanjutannya mas?. ini lanjutannya kemana ya..

@melissa: kelupaan mel, skrng dah aku pasang. tq

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top