10

Penulis: +Mitha Pratiwi


salahkah-aku
Salahkah bila ku menyukainya?

Sang itik kecil...

Yang selalu berada ditengah gelap malam

Yang selalu berharap sang bintang akan melihat dan merasakan apa yang sedang dirasakannya  sekarang...

***

“Puisi lo bagus-bagus ya Dann. Copas dari mana lo?”

“Beuh! Sotoy lo Marr. Su’udzon banget sih jadi manusia. ckckck...“

“Hehee .. kalau nggak su’udzon, nggak bakalan jadi manusia Dann.”

“Kalimat gila aliran mana tuh yang lo comot. Kita tuh, sebagai manusia yang baik dan benar, harus menghargai karya orang lain tau nggak. Bukannya ngejatuhin gitu.”

“Hohoho mulai deh mbak-mbak jamu ngasih ceramah. Biasa aja kali’ neng.”

“Iiiiihh!!! Lo tuh ya Merr. Dari dulu nggak berubah-berubah! Nyolot terus kalau gue nasihatin.”

“Iya iya deeehh...Gue dengerin...Jangan cemberut dong chay.”

“Chay Chay. Emangnya gue Capchay apa lo panggil chay-chay. ckckckck”

“Iya iya deh. Ih, salah mulu ah gue. Jangan marah dong Danne sayaaaanggg...”

“Hehe Sejak kapan gue bisa marah sama lo Marry jeleeekk...Weekk!!! Hahahaha.”

“Ih! Gila lo Dann! Air susu dibalas air tuba! gue muji lo eh lo kok malah balik ngatain gue ! sini kepala lo ya . Gue jitak baru tau rasa lo! Hahahaha.”

“Ya udah nih kepala gue. Jitak aja kalo lo bisa nangkep gue Marry Jeleeeekkkk Hahaha…”

“Ya ampun nih anak. Nantang lo ya! Siap-siap aja lo babak belur ditangan gue!”

“Waaaaaaa…Jangan Marry!!! Aqika Atuuttttt…Hahahaha Kabur duluuuuu.”

“Kurang ajar lo Dann! woi tunggu! Jangan Kabur lo ya! Hahaha…”

***

Danne dan Marry.

Dua anak manusia yang berteman sejak mereka baru dilahirkan kedunia ini hingga sekarang, saat umur mereka telah mencapai 23 tahun .

Danne yang lembut dan rapuh sangat berkebalikan dengan Marry yang tomboy dan kuat.

Nama mereka diambil dari dua nama bunga. Dua bunga yang indah. Dua bunga yang cantik.

Bunga Matahari. Dan Bunga Dandelion.

***

“Marry, anginnya lembut ya.” Begitulah kata-kata Danne saat kami sedang berbaring dipadang rumput dibelakang villa nenekku. Kami saat ini sedang cuti, kabur dari tumpukan berkas-berkas mengerikan dikantor. Sebenarnya yang cuti hanya aku saja. sedangkan Danne, dia kan anak pemilik saham terbesar dikantorku bekerja. Jadi dia tidak bekerja. Apalagi ditambah dengan kondisi tubuhnya yang rapuh itu. Benar-benar tidak memungkinkan untuk bekerja. Danne mengusulkan untuk liburan ke villa nenekku saja. Aku sih setuju-setuju saja asal Danne senang.

Dari kecil tubuh Danne memang sangat rapuh, berkebalikan dengan tubuhku yang montok dan sehat. Bahkan saat dia baru dilahirkan saja Danne langsung dimasukkan ke Inkubator. Sedangkan aku, kata mama saat baru dilahirkan saja aku langsung minta susu. ckckck...memalukan memang kadang-kadang. hehe...

“Marry, anginnya lembut ya. lo lagi mikirin apa sih? sampai-sampai nggak denger gue ngomong dari tadi.” Omelan Danne mengintrupsi lamunan memalukanku yang aneh.

“Nggak ah, Cuma lagi inget waktu kita masih kecil aja.”

“Oo .. Eh Marr, kapan ya kita punya suami??”

“Ih, kejauhan neng . Boro-boro suami. pacar aja nggak punya. Ckck...“

“Hehee iya ya Merr. lo juga nggak pernah punya pacarkan? Ma’afin gue yah. Karena selalu jagain gue, lo jadi nggak pernah punya pacar.”

“Ih, nggak apa-apa kali. gue sih seneng-seneng aja,  yang penting lo nggak apa-apa aja itu udah buat gue seneng kok . jadi, jangan ngerasa bersalah ya Danne sayang” Jawabku sambil tersenyum lembut menatap wajah rapuhnya yang cantik . Diapun hanya tersenyum mendengar jawabanku.

“O iya Marr. Lo udah denger belom. Besok CEO kita bakalan ganti lho!”

“Iya gue udah denger kok. Bakalan diganti sama anaknya yang baru pulang dari Inggris itu kan.” Jawabku tidak terlalu antusias. tetapi saat kuperhatikan wajah Danne, terlihat dia begitu antusias. Matanya saja sampai berbinar-binar gitu.

“Iya iya! Bener lo Marr! Lo tau nggak, kata papa gue, Tuan Relon itu guanteng banget lho! Hidungnya mancung, bibirnya tipis, matanya biru, biruuu banget! Trus trus lagi tuh ya,”

“Aaaaahh .. udah-udah! Males banget deh dengerin lo ngomong gitu tau nggak. Lo mah dibohongin kali sama papa lo. Lo nggak lihat apa, bapak nya aja jelek gitu. Masa anaknya ganteng kayak malaikat, ada-ada aja deh lo ah...“

“Iiiihh .. lo kok nggak percaya sama gue sih Marr!!! Ih, ga seru lo ah.”

“Terserah gue doooonnkkk...Trus, kalau gue nggak seru, gue harus bilang wuoooww gitu?! Weekk!! Hahaha.”

“IIiiiiihhhhhhhh!!!!!!!! Marry nyebelin banget deh ! Sini lo gue jitak!”

“Jitak aja kalau bisa ! Gue mah mau kabur dulu ! Hahaha”

“Marry Nyebeliiinnnnn!!!!!!!!!!”

Dan, topik tentang Tuan Relon yang gantengnya selangitpun terlupakan .

***

Beberapa hari kemudian, aku pun masuk kerja lagi seperti biasa.

Hari ini aku berangkat ke kantorku lebih pagi. Karena ada sesuatu yang harus ku kerjakan. Karena itulah saat aku memarkirkan mobilku, parkiran masih tampak lengang. Hingga tanpa sengaja wajahku tertoleh ke arah kanan, dan tubuhku langsung terpaku saat dihadapkan dengan pemandangan yang benar-benar bagus didepanku.

Tampak seorang laki-laki yang bersetelan jas sedang turun dari mobil sport hitamnya. Alisnya yang tebal serta bulu matanya yang lentik menaungi bola matanya yang indah berwarna biru. benar-benar sebiru lautan yang dalam. Dan hidungnya yang mancung serta bibirnya yang tipis sangat proposional dengan bentuk wajahnya yang benar-benar bagus. Aku benar-benar merasa seperti melihat malaikat yang baru keluar dari peraduannya. Hingga matanya tiba-tiba berserobok dengan mataku dan membuatku hanyut kedalam matanya yang tenang dan dalam. Iapun mengeluarkan seulas senyum dibibirnya. Ya Tuhan. Cukup sudah. Tidak kuat lagi rasanya kakiku menahan berat tubuhku yang langsug limbung ini saat menatap senyum malaikatnya. Hingga tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dibelakangku. ternyata dari tadi aku telah menghalangi jalan di tempat parkir itu dan sekarang sibuk meminta maaf pada sopir mobil yang mengklaksonku tadi. Saat mataku melihat lagi kearah dimana ‘Malaikat’ tadi berdiri, ia sudah hilang dari situ.

***

“Nona Marry, Tuan Relon ingin bertemu dengan anda sekarang dikantornya,” Begitulah kata sekretarisku tadi. Tanpa membuang-buang banyak waktu, akupun langsung melesat kedalam lift dan menekan lantai nomor 50. Lantai teratas kantor ini. Gugup benar-benar telah menyerangku. Telapak tangan ku bahkan telah berkeringat.

Bukankah Tuan Relon baru diangkat menjadi CEO disini?? Kenapa dia langsung memanggilku?? Berjuta pertanyaan berkecamuk dikepalaku hingga kudengar suara ‘Ting’ dan akupun sampai dilantai atas tepat didepan kantor CEO kami. Sekretarisnya yang cantik langsung mempersilahkanku masuk. Akupun menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu kantor yang sangat besar dan mewah itu.  Tatapanku langsung terpana saat melihat isi dalam kantornya. Benar-benar sangat mewah dan Elegan. seumur-umur bekerja disini, baru kali inilah aku masuk ke kantor CEO ku ini.

“Nona Merry Selamat datang dan silahkan duduk.” Perintah suara dingin dari seberang ruangan tempatku berdiri. Mataku yang sedang asik-asiknya menjelajah setiap detail ruangan tersebut langsung terfokus pada sesosok makhluk indah didepanku itu. Bagaimana mungkin mataku tadi melewatkannya? Itukan ‘Malaikat’ yang kulihat di parkiran tadi?? Wajahku pun memanas dan aku pun tersadar dan langsung tergagap menjawab panggilannya.

“Y-ya .Te...Terimakasih Tuan,” Lalu aku pun memaksa kaki ku untuk berjalan mendekat ke arahnya. Saat aku sudah duduk didepannya, akupun langsung menanyakan maksudnya memanggilku kesini.

“Apakah Tuan ada perlu dengan saya?”

“Ya, tentu saja . Kalau tidak, untuk apa aku memanggilmu kesini.”

Aku langsung merasa seperti orang bodoh.

“Nona Marry Riania. Maksudku memanggilmu kesini hanyalah ingin mengetahui sejauh mana perkembangan pekerjaanmu saat ini saja. Kau tahu kan, aku baru saja menjadi CEO disini. Jadi aku hanya ingin mengetahui bagaimana kepiawaian orang-orang yang ku pimpin.” Ucapnya dengan seulas senyum. Aku yang mendengarnya hanya bisa melongo saja. Lalu setelah itu akupun mulai menjelaskan pekerjaanku selama ini. Saat aku menjelaskan, ku lihat ia mendengarkanku dengan penuh perhatian, dan kadang-kadang tersenyum menanggapi. Setelah selesai, Ia pun tersenyum lagi dan berkata.

“Sejauh ini pekerjaanmu bagus nona Marry. Baiklah, sepertinya sudah cukup. Kau boleh pergi sekarang,” Ucapnya sambil bangkit dan mengulurkan tangan. Akupun spontan bangkit berdiri juga dan langsung menjabat tangannya yang benar-benar besar bagi tanganku yang kecil mungil. Jabatannya hangat dan tegas. Setelah itu akupun keluar dari kantornya dan melanjutkan pekerjaanku yang tertunda tadi .

***

Jam makan siangku kupakai untuk bertemu dengan Danne. Dia bilang ada yang ingin dibicarakannya tadi, dan telah menungguku di restoran favorit kami dekat kantor, jadi akupun langsung kesana. Saat baru memasuki restoran, akupun mengedarkan pandangan ku dan menemukan Danne yang duduk membelakangiku. Hari ini ia memakai gaun terusan berwarna putih. Danne sangat menyukai warna putih. Dan ia selalu kelihatan cantik. Aku pun tersenyum saat melihatnya dan bergegas menghampirinya.

“Danne! Lama nungguin gue??” Sapaku dengan sayang. Danne yang melihatku pun langsung tersenyum lembut dan manis.

“Marry, nggak juga. Gue baru sampai kok,”

“Oooo .. udah pesan makanan belum? Gue pesenin ya.” Kataku bersemangat. Danne pun mengangguk menyetujui perkataanku.

Setelah memesan makanan, akupun langsung bertanya kepada Danne. “Lo mau ngomongin apa?? Kayaknya penting banget ya.”

Sebelum menjawab, Danne pun tersenyum dulu dengan wajah memerah. Kalau kuperhatikan, sepertinya Danne sedang senang. Habis dari tadi senyum-senyum terus.

“Bentar dulu... lo sabar aja kenapa. minum dulu tuh minuman lo. Baru gue bilangin.”

“Iya deehh...” Saat aku sedang menyedot minumanku itulah Danne tiba-tiba mengeluarkan bom atomnya.

“Gue udah tunangan Marr,” Hampir saja aku tersedak dan hanya bisa terdiam melihatnya. “Ya ampuunn ...yang bener dong minumnya Marr. Tumpah-tumpah nih!” Omel Danne tanpa menyadari wajahku yang pucat pasi. Aku pun cepat-cepat bertanya.

“Sama siapa Dann?? Lo kan nggak pernah dekat sama cowok?!”

“Heheee .. tau tuh papa . Lo tau kan papa sayang banget sama gue, karena dia lihat gue belum punya pacar sampai sekarang, jadi dia malah jodohin aku sama ..” Danne sengaja menggantung kata-katanya. Sengaja membuatku makin penasaran. Jantungku makin deg-deng an menunggunya .

“Sama siapa Dann?!” Tanyaku hampir histeris.

“Sama Relon Marry…!!!! Itu lho, CEO kamu ituu!!!” Hatiku langsung mencelos mendengarnya. Benar-benar sangat mencelos.

“Ya Ampun...Kemarin keluarga gue makan malam sama keluarga dia. Lo tau nggak, gue hampir pingsan tau nggak waktu pertama kali lihat Relon! Sumpah ganteng banget!” Ucap Danne menggebu-gebu tanpa memperhatikan wajahku yang sudah benar-benar pucat pasi.

Kurasakan air mata mulai menggenang dimataku. Sebelum Danne melihat air mataku, aku harus kabur dulu. begitulah pikiran ku saat itu dan langsung memotong cerita Danne serta lari ke toilet dan mengurung diri disana.

Hatiku benar-benar hancur. pupus sudah harapanku untuk memilikinya. sesak yang kurasakan benar-benar membuatku sulit bernafas. Tubuhku terasa tercabik-cabik dari dalam. Tega. hanya itulah pikiran yang terlintas diotakku saat itu. Tega sekali Danne melakukan itu padaku. Hingga tiba-tiba ku dengar suara Danne menggedor pintu toilet, menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku tak mampu menjawab lagi. Suara ku seperti hilang entah kemana. Lalu kudengar ia mengangkat telepon dan berbicara dengan seseorang disana. Setelah itu ia memangilku lagi dan berkata ia akan pergi karena dipanggil papanya. Sekali lagi aku hanya diam membisu mendengar suara sepatunya yang semakin menjauh.

***

Setelah pertemuanku dengan Danne yang mengerikan itu, aku langsung kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku. Walaupun aku tidak yakin apakah bisa berkonsentrasi setelah mendengar berita yang benar-benar telah membuatku sesak nafas.

Hari-hari yang kulalui benar-benar seperti berada dineraka sekarang. Semakin hari, luka yang tertoreh dihatiku terasa semakin besar dan sakit. Benar-benar sakit hingga kupikir takkan sanggup lagi menanggungnya. Relon dan Danne. Saat ini, dua nama itu adalah nama terakhir didunia ini yang ingin kudengar .

Dimalam hari, yang ku lakukan hanyalah menangis. Mengenang kenangan-kenangan yang kulalui bersama Danne. Saat-saat dimana ku bisa menatap wajahnya yang tertawa bahagia.

Setiap panggilan masuk dari Danne selalu ku reject. Sms nya tak pernah ku balas lagi. Saat ini aku benar-benar tidak mau berhubungan dengannya . Kupikir sekarang hatiku belum sanggup untuk melihat wajah rapuhnya lagi.

***

Hari ini tepat seminggu kami tidak berhubungan. Saat aku sedang menyibukkan diri dengan layar komputer didepanku, Sekretarisku pun datang menghadap.

“Nona Marry, saya lihat anda sekarang makin kurus. Apakah nona sedang ada masalah?” Tanya sekretarisku lembut. Aku yang mendengar pertanyaan nya hanya tersenyum saja.

“Benarkah? Mungkin aku sedang stress karena proyek baru kita ini. Apakah kau kesini hanya untuk mengatakan itu saja Nina?”

“Oh, tidak Nona. Sebenarnya saya hanya ingin menyebutkan bahwa Tuan Relon meminta anda untuk keruangannya sekarang. Saya permisi Nona.”

Aku menjawabnya dengan mengangguk saja. Alisku berkerut saat mendengar Relon memanggilku. Ada apa lagi sekarang. Hatiku benar-benar enggan untuk menemui Relon saat ini. Sakit hati yang kurasakan seminggu ini terasa makin menjadi saja sekarang. Akhirnya, dengan langkah kaki yang kupaksakan, akupun berjalan ke lift dan menuju kantornya.

Saat berada didepan kantornya, kurasakan gugup mulai menyerangku lagi. tetapi kali ini berbeda dari gugupku yang pertama. gugup ku sekarang disertai dengan patah hati dan terluka yang sangat dalam. Ingin sekali tubuhku untuk berlari turun dari sini, tetapi hatiku melarangnya.

Saat tangan ku membuka pintu kantornya, serasa ada petir yang menghantam kepala ku. Menghanguskan hatiku dan membuatku linglung. Sebelum akhirnya ku banting pintu itu agar menutup kembali dan langsung berlari keluar dari lantai kantor Relon. Tanpa kusadar air mata telah tumpah wajahku, saat mataku tadi melihat adegan ciuman Relon dan Danne yang menghantamku seperti palu. Membuatku jatuh terpuruk dilantai lift yang kosog ini. Sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya, kulihat wajah Relon dan Danne keluar mengejarku dan putus asa saat melihat pintu lift yang telah tertutup.

Setelah sampai dilantai dasar, kaki ku pun dengan cepat berlari menyusuri koridor dan keluar menuju mobilku. Membuka pintu mobil, membantingnya, memasukkan kunci, dan langsung ngebut pergi dari parkiran menuju bar tempatku sering minum saat stress. Menghabiskan waktuku dengan minum tanpa memikirkan kejadian hari ini. Hingga saat aku telah sampai ke apartemenku, kulihat dibawah pintuku terselip dua buah surat. Surat undangan dan kartu permintaan maaf. Kututup pintu apartemenku dan membaca kartu undangan itu. Saat ku balik surat itu, wajahku langsung pucat. terlihat disitu foto Relon dan Danne yang berpelukan sambil tersenyum. Dengan tangan gemetar, kuberanikan untuk membuka surat undangan tersebut dan membaca isinya sampai habis. Undangan Pernikahan. Pernikahan antara Relon dan Danne. Pernikahan yang kuharapkan tak pernah terjadi. Tubuhku langsung lemas dan berusaha mencari tumpuan dengan bersandar dipintu. Mencoba dengan sekuat tenaga untuk membuka kartu permintaan maaf itu .


To    : Marry
From: Danne

Dear Marry,

Kuharap kau membaca suratku ini sampai selesai. Maafkan lah sikap sahabatmu ini yang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri tanpa memperdulikan dirimu. Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti hatimu. Bahkan, aku sama sekali tidak mengetahui apakah yang telah membuatmu menjauh dariku belakangan ini. Kau tahu? Aku rindu sekali kepadamu. Aku sangat ingin melewati saat-saat membahagiakan ini bersamamu sahabatku. Hanya satu permohonanku. Tolong kau maafkan lah diriku ini dan kumohon, datanglah ke pernikahanku minggu depan. Kumohon...
               
Sahabatmu, Danne

***

Satu Minggu kemudian.

Tubuhku dibalut gaun putih yang simpel tapi elegan. Dengan langkah yang kaku kaki ku memasuki ruangan indah yang telah dirias sedemikian rupa itu. Merasa asing di tengah orang-orang ramai yang tidak kukenal, akupun berjalan menuju sudut ruangan dan menyendiri disitu. Hingga tiba-tiba telingaku tiba-tiba mendengar suara yang memanggil-manggil nama ku. Saat wajahku menoleh, kulihat Nina, sekretarisku juga hadir disitu dan memanggilku menyuruh mengikutinya. Saat aku mengikuti langkahnya, ternyata Nina membawaku ke ruangan dalam. Mataku benar-benar terpaku kepada sosok wanita cantik yang membelakangiku dan terlihat sedang bersiap-siap dan sibuk membereskan letak gaunnya dibantu seorang perempuan lain. Perhatianku teralih saat Relon memanggilku dan mengajak ke balkon.

“Selamat ya.” ucapku kaku memecah keheningan. Kulihat ia tersenyum dan ada senyum lega disana .

“Kupikir kau tak akan datang.” Sekarang giliranku yang tersenyum. walaupun terlihat mura . Dia tidak tahu betapa malam tadi aku sama sekali tidak tidur karena mempertimbangkan apakah aku akan hadir atau tidak. Hingga akhirnya, subuh tadi akupun memutuskan untuk hadir ke acara pernikahan Relon dan Danne ini.

“Yahh...tidak mungkin kan kau tidak datang ke acara pernikahan sahabatmu sendiri.” Jawabku sambil menghembuskan nafas. Hati ku semakin sakit saat melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Relon. Cepat-cepat ku alihkan pandangan mataku.

“Kau tahu, Danne sedih sekali saat kau menjauh darinya. Bahkan dia sempat berpikir bahwa kau tidak akan datang. Pasti dia senang sekali mengetahui kau telah hadir disini.” Hatiku sekali lagi seperti tertusuk saat melihat ekspresi wajah Relon ketika ia menyebutkan nama Danne. Ia menyebutkannya dengan lembut dan dengan wajah yang penuh kasih sayang. Aku hanya bisa menyeringai saja melihatnya.

“Yah...yang penting sekarang aku sudah hadir kan. Ngomong-ngomong, aneh sekali memanggilmu dengan panggilan Kau. Bukan Tuan.” Jawabku mencoba mengalihkan topik.

“Benarkah? Kau pasti akan cepat terbiasa.” Jawabnya sambil tertawa senang. Aku pun ikut tertawa mendengarnya. Dan kami berdua pun tertawa bersama di balkon itu .

Seperti yang telah kami duga sebelumnya, Danne benar-benar terlihat sangat senang saat melihat kehadiranku. Bahkan kami berdua sempat berpelukan dan menangis bersama. Hal ini membuat Sang Pengantin Wanita pun harus dibereskan lagi riasannya. Aku yang melihatnya tertawa bahagia pun hanya bisa tersenyum dan berharap semoga dengan berjalannya waktu, aku bisa melupakan nya. Bagiku, melihat Danne tertawa bahagia saja telah membuatku benar-benar senang. Mungkin, sekarang lah saatnya aku melupakan dirimu.

Salahkah bila diriku mencintai dirimu, Danne?

***

Poem For Danne

Salahkah bila ku mengingat dirimu ?

Mengingat lagi masa-masa dimana kau tersenyum padaku

Mengingat lagi masa-masa dimana kau tertawa bersamaku

Mengingat lagi masa-masa dimana kau menyapaku

Memanggil namaku dengan senyummu

Kini diriku sendiri

Tanpa suaramu

Tanpa Tawamu

Tanpa senyummu

Kau pergi meninggalkanku dibelakangmu

Meninggalkanku sendiri dengan hati yang terluka

Meninggalkanku sendiri disudut malam

Hingga ku tahu hanya kegelapanlah yang tersisa disisiku

Salahkah Aku?

***

Poskan Komentar

10 comments

makasih mas Yudi,,,
congratz buat Mitha,,,,keep writing & b'imajinasi yagh.... ^__^

issshhhh,, udh duga klo dy sk sm tmenny tp bnr2 gnygka bneran sukaaa... hahaha...
mksh Mas Yudi n Mba Mitha

aih sedih e... nyesek. T__T ini cerita lesbi kah?

haduh ..
Hatur nuhun semuanya udah di baca ..
Debut pertama saya ini .. Masih ancur2an .. :D
Iya ..
Lesbi itu ..
Ga tau dah dapt dr mna ide ceritanya .
Rencana mah ga' kayak gitu .
Tp ga tau kenapa pas ngetik jadi ngelenceng ke situ .
Hihihi :D
s'x lagi terimakasih ..
O iya, buat mas yudi juga terimakasih dah di posting ! ^^

Ya ampyun,,,,,ku pikir si Marry beneran suka ma Relon,,,
Aah,,,,sial,,,
Ceritanya kyk novelny Alberthiene Endah,,,
Benar2 surprise endingny,,,
Great job, Mithaaaaa,,,

mbak vie :
hihihi
iya, temen" aku yang aku paksa supaya baca cerpen ku ini juga nyangkanya si Marry suka nya ma Relon .
Ternyataaaa
hihihihi
o iya, skdr share aj, puisi aneh itu emang puisi buatan aku yang lagi patah hati lho .
Hihihihi :D
mkasih dah mau baca mbak . ^^

mas Yudi & Mitha,,,,,,,izin share ke FB yagh cerita ini,,
makasih sebelumnya,,,

waaahh ..
FB mbak apaa ??
Boleh mintk nggak ??
^^

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top